From: "Alliq Mc Gellnow" <alliq.geo@yahoo.com>
To: "babat" <bgongso@yahoo.com>
Subject: Re: komentar artikel Newsweek ttg kitab
Date: Fri, 8 Feb 2002 22:54:04 +0700
Isi tulisan e apik (walaupun rada2 kering dan simplistis - khas artikel
jurnal/majalah), Ki! Lek jare kanca2 buleku - pas aku cerita rada2
'milosofi' - "It's really a deep shit, man!" karo nepuk2 pundakku ...
hahaha! Maksud e ya "deep thought" gitu ... :-)
Cuman aku kadang2 heran juga dgn "perilaku" Tuhan - not in context of any
God's will - dari kronologis historis turunnya kitab suci, kok seakan2
'tuhan' membiarkan terjadinya penyelewengan makna kitabiyah wahyu yang
'beliau' turunkan, sehingga sampe perlu2nya membuat 'revisi' yang berakhir
di al-Qur'an - yang umumnya diklaim sbg penutup/penyempurna kitab2
sebelumnya. Ada memang yang berpendapat bahwa turunnya wahyu ini
disesuaikan dgn kondisi umat saat itu. Intinya, jaman semakin ke sini,
umat makin pinter ... dan wahyu yang turun juga kudu semakin 'cerdas'. In
this context, Qur'an memang paling lengkap diantara kitab2 sebelumnya ...
Lebih ekstrim lagi, ide antropomorfis (?) ini diadopt sama orang2 sekuler
yang antara lain diawali sama Nietsche dengan "God is dead!"-nya.
Ujung2nya, semakin jaman ini maju dan modern ... agama dgn sendirinya
"harus" ditinggalkan dan "tuhan" harus 'dimatikan', sebab fungsi agama
(dan pemahaman akan 'keberadaan' tuhan) adalah sbg 'pengantar' umat
manusia menuju pemikiran modern (versi Barat)! Pengganti agama adalah ilmu
(science). Lha tapi "terbukti", jaman semakin modern, 'kegelisahan'
teologis kejiwaan kok ndak ilang2 di benak manusia pada umumnya, Ki? Arek2
sing kuliah ning negara2 sekuler-kafir-rasional, kok sembahyang e malah
ndadi ...
Penolakan 'tuhan' ini sebenarnya disebabkan oleh trauma-teologis yang
dialami orang Eropah di abad pertengahan pas jamannya gereja punya power
sing powerful. Sebenarnya, gara2 teologi dogmatik mereka juga makanya
timbul komunisme atheis. Amerika yang relatif awalnya dihuni oleh 'orang
pelarian' dari Eropah akibat: penyakit, ekonomi suram, agama dogmatik,
etc, setidaknya lebih 'tanpa beban' dalam menyuarakan humanisme universal.
Terbukti belakangan mereka lebih 'maju dan modern' ketimbang Eropah itu
sendiri, padahal mulai dari nol. Ditambah dgn kemajuan ekonomi dan
teknologinya Amerika ya bener2 powerful dan dominant di segala bidang ...
saat ini!
Mundur lagi sithik. Kolonialisme setidak2nya memang membawa misi agama -
sebagian 'kecil' - dan ekonomi sebagian besarnya lagi. Nah, agama
kolonialisme ini justru agama yang dogmatik tadi, yang belakangan
melahirkan generasi anti-tuhan. Agama yang di-inject ke negara kolonial
saat itu memang bukan agama welas-asih spt model paling mutakhir akhir2
ini (Konsili Vatikan II kan kejadiannya tahun 60-an, Ki .. tahun2 dimana
perang dingin sedang pada tahap2 awal). Disamping agama non-welas-asih,
agama kolonial ini memiliki tekanan pada "kepasrahan mutlak" penganutnya
(baca : negara jajahan). Kondisi iki memang menguntungkan penguasa
kolonial. Agama kolonial ini akhirnya lebih cocok disamakan dgn "agama
penguasa" atau "agama penjajah" memang.
Dunia Islam yang saat itu memang lagi kelenger, yang sejak runtuhnya
Utsmani memang ndak bangkit2 lagi, mengalami keterusikan yang mulanya dari
keterusikan segi ekonomi-politis para pemimpinnya: raja, sultan, dan
keterusikan model pangeran Diponegoro. Di tanah air, perang2 yang membawa2
agama saat itu sebenarnya lebih kepada masalah geo-politik-ekonomi drpd
masalah perlawanan akidah teologis. Pada mulanya begitu - spt kejadian
yang sudah2 baik di Islam maupun Yahudi. Gereja Kristen lama aja yang
memang ngawur, pertentangannya lebih langsung dibawa ke urusan akidah:
Galileo, Darwin, etc shg reaksi baliknya juga lebih keras, lantas nongol:
Nietsche, Marx, bahkan Luther. Jadinya kebenaran ilmiah Eropah bener2
bersifat obsessive ... dan mulai nongol gejala rationalisme mutlak2an dan
anti-tuhan (lha iki kan ndak beda dgn perilaku model agama dogmatik jugak
toh, Ki!)
Dgn pola perlawanan dan penindasan yang diadopsi dari model Eropah (agama
vs science), Islam muncul sbg "alternatif pembebasan" - tidak saja
geo-pol-ek, tapi juga teologis bagi para umat terjajah. Pemahaman 'modern'
orang Eropah - yang emoh Kristen, dijiplak penerapannya ke Islam - tanpa
mereka punya modal pemahaman yang memadai kecuali modal bacaan2
orientalist yang stereotype-apologetik dan 'semangat perang salib'.
Akibatnya Islam dipandang tidak lebih sbg "Kristen lain" oleh Eropah:
'kristen' yang dogmatik, yang mengungkung kebebasan, dan anti-ilmu, yang
sudah pernah dihajar habis2an oleh para ilmuwan rasionalis! So,
sekaranglah saatnya menghajar Islam habis2an spt yang pernah mereka
lakukan dulu kpd kristen.
Jadinya memang ndak nyambung: yang satu maunya menghajar agama dan
membebaskannya dari benak umat terjajah (tentunya dgn keuntungan ekonomi
jugak - lha wong jamannya rationalisme dan kapitalisme kok!), lha yang
satunya lagi ngelawan karena pingin bebas yang mulanya tidak berbau
teologi-apologetik. Ini buah kesalahpahaman saja ... tapi akibatnya ya
muncul fundamentalisme, karena Islam sbg alat - memang menyediakan
segalanya: "tool" buat perang, maupun "tool" buat damai! Klop dah ... Cara
Islam menghadapi "rasionalisme" Barat-pun ndak jauh beda dgn cara gereja
menghadapi science masa pencerahan Eropah: apologetik! Berbeda dikit dgn
gereja yang kalah-mutung dan ditinggalin dan akhirnya minta maap, Islam
sebaliknya justru "ingin" membuktikan bahwa agama (baca: Islam) tidak
bertentangan dgn science. Awal dan pertengahan abad 20, kebangkitan Islam
ditandai dgn munculnya sarjana2 didikan Barat, tulisan2 menyanggah
orientalis, emansipasi wanita dan revolusi kemerdekaan negara2 jajahan ...
Di Indonesia, kemenangan Jepang atas Rusia membangkitkan semangat
kebangsaan yang agak berbau rasial.
Di saat dunia Islam sedang berperang dan didera kemiskinan (baik materi
maupun intelektual), dunia kristen di Eropah justru melakukan redefinisi
dan reposisi teologis (yang ujung2nya ya Konsili Vatikan itu!). Tuhan
kristen 'baru' ini tidak lagi didefinisikan sbg yang mutlak sbg penyelamat
- Roma ngomong: ada jalan penyelamatan lain, selain jalan kristus ...
produk generiknya jadi toleransi! Kredo toleransi ala Roma ini langsung
diadopsi dan diinjeksikan kembali! Toleransi model Roma ini memang hasil
"negosiasi dan konsesi" atas kekalahan teologis ketuhanan kristen yang
dogmatik yang mereka alami. Gampangnya, toleransi begini ini harus
memberikan konsesi2 akidah agar bisa selamat ... terakhir malah, embuh
kapan lali aku, Paus - embuh piro, minta maap kepada - embuh sapa, atas
kesalahan2 masa lampau - embuh apa, yang pernah gereja - embuh sing endhi,
lakukan. Dari segi akidah, ini benar2 kekalahan telak tuhan kristen lama.
Tapi tuhan kristen 'baru' menampilkan 'wajah'nya dalam bentuk lain yang
lebih "modern dan canggih": kasih sayang dan toleransi dgn tekanan pada
humanisme universal. Iki blas ndak ada hubungannya sama kemajuan modern
Barat, Barat maju karena ninggalin kristen malah! Ini pulak yang suka
kadang2 ditangkap sbg kebanggaan hasil kreasi "kristiani" oleh lasykar2
kristen ning Apakabar ... hehehe! Sebaliknya, ilmu pengetahuan maju
dijaman Islam sebelum abad pertengahan - krn agama menginspirasikan
kemajuan itu!
Lha ini bedanya terminologi kasih sayang dan toleransi ala kristen-Roma
dan Islam, sebab dunia Islam menyumbangkan kasih-sayang dan toleransi
bukan sbg hasil akibat dari suatu kekalahan dan negosiasi akidah, tapi
justru hasil dari sebuah kemenangan yang diraih! Islam lama justru
melindungi kristen dan yahudi di Eropah dan diabadikan dgn indah di
Spanyol - sebelum adanya inquisisi. Toleransi 'kemenangan' ini justru
ditangkap sebaliknya oleh Eropah, yg akhirnya - melalui Roma - membuahkan
toleransi 'kekalahan'. Ndak heran dunia Islam 'ngotot' banget kalo mereka
dikatakan intolerant, kasarnya Islam mau mengatakan "tolerance is my
nick-name!", "toleransi itu gawan-bayiku!" ... ndak usah ente ngajar2in
kite toleransi, ngaca sono, liat sejarah sono! Gitu lah kira2 ...
Eropah sebaliknya tidak nangkep spirit toleransi dunia Islam - lha wong
capaian2 budaya dan science-nya diobong kabeh ning Kordoba karo Isabella
kemplo kuwi sampe2 orang2 Yahudi sendiri pada nangis bombay - tapi ngotot
meng-inject spirit toleransi model Roma ke dunia Islam. Wrong time-nya,
injeksi ini dilakukan pada saat dunia Islam habis2an babak belur didera
kolonialisme, pada saat dunia Islam mulai bangkit melawan - tentunya dgn
kekerasan - kolonialisme Eropah. Ibarat e, habis dikepruki entek2an, terus
sing ngepruki njaluk sepura dan ngajak damai - dgn menyodorkan toleransi!
Kejadian pembantaian umat Islam di India semasa kolonialisme Inggris,
memicu kemarahan teologis umat Islam - ya karena Islam yg saat itu
dipahami sbg 'kristen lain' oleh Eropah dilecehkan habis2an ketika urusan
akidah anti-babinya dicolek2. Ibarat bekas wong sugih, terus dikuya2
dielek2 ... ngelawanlah! Yang tadinya urusan geo-pol-ek, dadi merambah
urusan teologis ... Perang pun bukan lagi sekedar pertaruhan daerah
geografis dan status merdeka, tapi lebih jauh lagi adalah perang
pembebasan kemanusiaan dan agama (baca: Islam as agama terjajah). Makanya,
dunia Islam sejak itu menghadirkan "tuhan" yang keras tanpa kompromi, sbg
antitesa.
Tidak heran saat ini Eropah plus Amerika (baca: dunia Barat) begitu
berharap Islam "kadung athos" ini toleran spt halnya kristen "baru" saat
ini. Selama dunia Barat masih memahami Islam sbg "kristen lain" dan
menerapkan kredo "toleransi" model Roma-nya, selama itu pula Islam akan
terus keras dan galak! Qur'an sekali lagi menyediakan segalanya: mau keras
bisa, mau lembut juga oke! Pada situasi begini, posisi Islam jelas elek
tur underdog ... "wong sekarang musim toleransi, kok sampiyan mau ngajak
berkelahi!" ... kira2 gitu orang non-islam ngomong. Jadilah seakan2
toleransi itu semata2 hasil produk humanisme Barat (baca: Roma) yang mana
Islam justru dinilai belum dapat menyerap 'produk' tadi dgn baik! Dan ini
dipahami sbg akibat dari ajaran2 Islam itu sendiri yang kayak "kristen
lama": dogmatik, mengungkung kebebasan, anti-kemajuan dan ilmu
pengetahuan, mendukung (dan menganjurkan?) kekerasan, etc.
Timbullah pertanyaan: disaat tuhan Kristen menampilkan "wajah
terbaik"-nya, dimana tuhan Islam saat ini? Saya kok belum menangkap
gejala2 frustasi ketuhanan yang dialami umat Islam secara massive, sbgmana
halnya dgn frustrasi ketuhanan yang pernah dialami oleh umat Yahudi saat
diaspora dan akibat holocaust dulu - yang berujung pada munculnya Zionisme
yang sebenarnya anti-tuhan. Sebaliknya tuhan Islam saat ini tetap tampil
independen, dan yang jelas tidak lemah ... terbukti ayat2 kekerasan lebih
banyak dikutip di paruh akhir abad 20 dan awal abad 21 ini. Dan persis spt
awal mulanya Islam dikembangkan di jaman Nabi, "tuhan" Islam ini mewakili
perasaan ketertindasan, perlawanan, dan semangat sosialisme dan
keadilan/kesetaraan yang tinggi, melawan kemapanan njahiliyyah dan
ketidakadilan! (Syi'ah Iran dgn revolusi Islam-nya dalam konteks ini
adalah the original Islam) Ini corak awal Islam, yang bahkan Marx-pun
belum pernah tahu kalo Das Kapital-nya itu dalam hal2 fundamental tertentu
adalah "gawan bayine Islam" .... Nilai "tambahan" dari corak "baru" ini,
tuhan Islam ini diwarnai dan dilengkapi dgn kebanggaan prestasi masa
lampau yang pernah menampilkan puncak kejayaan umat manusia yang pernah
diraih dalam sejarah, dgn watak toleransi hasil kemenangan tadi, yang
menciptakan harapan baru bagi masa depan dunia Islam.
Islam inilah yang saat ini ditangkap oleh Barat dan "kebanyakan" kita di
Indonesia. Islam yang keras, yang "intolerant" dan "tidak bersahabat"
(dengan Barat). Islam (baca : tuhan) seperti ini rentan terhadap tindakan2
manipulatif oleh para pemimpinnya, dgn produk generiknya: lasykar njiat,
ngef-pe-i, GPK, jundullah, etc. Bukti paling mutakhir "manipulasi" ini
adalah dilaksanakannya hukum rajam oleh lasykar njiat. Hukum rajam ini
betul membuat kita bertanya: seperti apa sih 'tuhan' Islam itu sebenarnya?
Ini memang pertanyaan yang lebih personal sifatnya: kontemplatif, tapi
dapat membawa kita ke pemahaman baru yang lebih segar dan membebaskan
(bukan pemahaman negosiasi akidah model wong kristen lama). Tuhan yang ini
tidak bisa dimaknai pake rasionalisme Barat atau rasionalisme awur2an
model Jusfiq kemplo dan lasykar2 kemaruk "jihad pembela
rasionalisme-tanggung" model milis proletar. Selain ndak nyambung, juga
ndak bakal nangkep ... wong sing digawe mikir kuwi utek ndhas sebelah
ngisor thok! Hahaha ... tuhan e wong2 kuwi pancen model tuhan
personal-antropomorfis spt disebut sama mbak Karen ... kalo pun mereka
ndak percaya sama tuhan, ya tuhan "yang itu" yang sebenarnya mereka tolak
'eksistensi'-nya! Ibarat ngelawan tapi sing digepuki angin ...
Dalam semangat pembebasan (baca: perlawanan) di dunia Islam seperti
inilah, Islam dilihat dan diamati, "dipegang-pegang" dan "diraba-raba"
oleh Barat - yang sejak lama membuta dan alergi dgn agama (baca: Islam) -
yang saat ini mereka lagi gandrung sama "toleransi lingkungan hidup" <--
sebagiannya akibat perilaku kapitalisme mereka sendiri yang memang
ngerusak. Berlubangnya ozone dan kerusakan lingkungan yang massive,
perubahan iklim, virus AIDS, rekayasa genetik, teknologi nuklir dan
variannya, internet dan teknologi informasi/komputer, serta teleskop
Hubble, adalah prestasi kapitalisme (dan rasionalisme) dalam arti
harafiah. Ini menimbulkan kesadaran baru yang lebih meng-global, yang
intinya mengembalikan kesadaran manusia pada pertanyaan fundamental: siapa
kita dan mau kemana kita semua? Ujung2-nya kita akan (dan tampaknya pasti)
dibawa kembali kepada kesadaran keberagamaan kita (bagi umat beragama) ke
titik paling dasar dan hakiki sekali: makna tuhan dalam diri kita. (Dalam
konteks demikian, aku percaya bahwa dunia "modern" di masa depan bukanlah
dunia yang meninggalkan "agama", spt halnya Eropah modern meninggalkan
kristen ... Agama (dan Tuhan) tetap relevan bagi umat manusia!)
Ini bukan kesadaran individual sbgmana pernah melanda Eropah dgn
Protestanisme-nya. Kesadaran ini lebih bersifat kolektif yang menekankan
peran kesadaran setiap individu - sbg akibat dari terpaan bencana alam,
penyakit, perang tak berkesudahan, kerusakan lingkungan dsb yang memang
bisa menimpa siapa saja secara kolektif - ndak orang beragama, ndak orang
ndak beragama, baik orang yang percaya Tuhan maupun tidak. Sekarang2 ini,
tampaknya generasi baru Islam mulai memahami agamanya dgn kesadaran
individual yang kolektif. Tuhan "baru" ini tidak dipahami dalam konteks
"tuhan" akibat ketidakberdayaan abad kolonialisme - walaupun fakta Osama
justru membuktikan sebaliknya yang menurutku merupakan fakta paling tidak
representatip blas - sbgmana tuhan Barat yang obsolete di Eropah, tapi
justru tuhan yang inspiring - Tuhan monoteisme-nya Ibrahim: Tuhan hasil
pencarian dalam kesadaran paling individu. Tuhan yang lebih dimaknai
kehadiran-Nya melalui tanda-tanda kreasi-Nya (Qur'an dgn tepat menekankan
pencarian "tuhan yang Ini"!). Secara sederhana, bencana alam dan
sebagainya adalah buah hukum kolektif sebab-akibat, yang dipahami sbg
akibat polah manusia yang melanggar hukum2-Nya - lagi2 Qur'an
mengungkapkan makna simbolik hukum2 Tuhan dgn tepat. Dari sini dapat
dipahami bahwa hukum alam pada dasarnya bergerak ke arah positif (dalam
makna agama = menuju surga, pahala, anugerah Tuhan, dsb) - sepanjang tidak
"diganggu2" atau "dicolek2" seenaknya. Untuk mengembalikan arah pada poros
yang seharusnya yang selaras dgn hukumNya ini, semua kesadaran manusia
diarahkan (dan harus) kepada kesadaran kolektif pentingnya menjaga
kebersamaan.
Dalam semangat "kebersamaan" ini, menjadi terlihat ganjil banget ketika
"islam" di banyak belahan dunia masih mengobarkan "perang suci", "jihad",
etc, yang terkesan lebih bersifat individual-kolektif. Sebenarnya keadaan
"anomali islam" ini lebih disebabkan oleh adanya (atau masih dirasakannya)
"gangguan2" dan "colekan2" dari berbagai kepentingan, disamping juga
menurunnya kadar kreatifitas keagamaan umat sendiri. Kesadaran kolektif
umat Islam, pada akhirnya memang gampang dimanipulasi (makanya demokrasi
Islam menekankan pentingnya kepemimpinan yang amanah), sbgmana halnya dgn
kesadaran kolektif HAM, demokrasi, lingkungan hidup, etc "dimanipulasi"
oleh Barat dgn menerapkan al: eco-labelling, peradilan HAM, dsb dalam
artinya yang paling 'negatif'. Islam dalam makna core fundamental-nya -
sebagaimana halnya dgn alam - akan selalu bergerak ke arah positif. Selama
kesadaran kolektif ini ditekan2, dicolek2 ... ia akan tetap menampilkan
wajah galaknya kpd kita semua. Persis spt alam itu sendiri!
Gampangnya, banjir di Jakarta tidak akan pernah selesai urusannya
sepanjang wilayah2 Puncak, Bogor, pantai utara, dirambah dan digerayangi
traktor - sepanjang tidak ada kerjasama terpadu antar Pemda. Seperti itu
pula kesadaran kolektif umat Islam ... sepanjang konflik Israel-Palestina
dan di belahan lainnya yang mengoyak kesadaran umat Islam tidak
terselesaikan, dia tidak akan pernah selesai! Islam akan tetap seperti
yang kita lihat dan kita pahami hari2 ini ... keras, intolerant, sensitif
dan gampang dimanipulasi (contoh MUI)!
Dalam spirit kebersamaan ini pula, sakitnya (dan disakitinya) dunia Islam
tetap akan membuat dunia kita kelam, suram, dan bisa sewaktu2 meledak ...
padahal kita semua berada di dalamnya: baik Islam maupun non-Islam! In
this context, Barat bertanggung-jawab atas semua ini! Dan Islam dalam
setiap konflik agama hanya ibarat melawan angin .... kristen lama memang
sudah lama mati sejak di Eropah sono, dan melawannya adalah sebuah
kesia-siaan: ibarat nggepuki watu kali! Again, in this context, Kristen
yang hidup saat ini, lebih islami drpd "islam" itu sendiri ...
Pahamkah Barat dengan "their dangerous game" ini? Wallohu a'lam ....
Salam,
Alliq
----- End of forwarded message from Alliq Mc Gellnow -----
*****
REMINDER - This list _definitely_ closes Friday, Feb. 8. Other parts of
the site, such as the 1990 through 2002 databases and the research links
page, will remain _OPEN_. There will also be some helpful _new_ features
accessible from the indopubs.com homepage beginning about Monday, Feb. 11
or Tuesday, Feb 12. The links page and the new features will be regularly
updated in a phased manner _throughout each week_. Please watch this
list till Friday for a more complete announcement, and later, visit the
indopubs.com homepage to see the new site evolve.
*****