[L] KISAH SERBA-SERBI ( 370 ) PEREK dan LAKEK

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Wed Dec 19 2001 - 12:25:21 EST


Date: Wed, 19 Dec 2001 10:28:43 -0800

Sobron Aidit :

                                         KISAH SERBA-SERBI ( 370 )
                                           ( Perek dan Lakek )

Banyak sekali yang kutemui jenis ragam kehidupan ketika aku pulang ke
Nusantara pada tahun 1995. Banyak yang baik, dan ada juga yang mungkin
tidak begitu baik. Atau dapat dikatakan agak miring. Tahun itu bagi kami
sangat penting, lalu kenapa? Pertama saya membawa anak saya yang pertama
yang lahirnya di RS Tjikini tahun 1962. Lalu ketika dia umur satu tahun,
kami pindah ke Tiongkok, dan begitu dia pertama kali ke Nusantara, dia
sudah berkeluarga dengan dua anak. Jadi kami pulang boleh dikatakan tiga
genera si. Anak saya dan dua anaknya serta suaminya, orang Perancis, dan
saya. Jadi dari cucu - anak-mantu dan kakek! Lalu point penting lainnya,
ketika itu RI genap 50 tahun.

Dan saya sempat menghadiri dan menonton pertandingan sepakbola di Senayan
ketika perebutan juara Liga Nasional persepakbolaan Indonesia. Dan saya
sempat menghadiri peluncuran buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul ARUS
BALIK di rumahnyanya sendiri. Keti ka itu banyak dihadiri tokoh-tokoh
penting dan orang-orang ternama, seperti Gus Dur, ada juga jenderal yang
berhaluan maju, karena tidak suka Suharto, dan perfilem CNN bahkan. Kalau
tak salah juga ada Geem = Gunawan Mohamad. Saya ke sana dengan Joebaar Ay
oeb dan Mas Oyik = Satyagraha Hoerip. Dua-duanya sudah meninggal. Ini
cerita yang mendingan dan baikan. Tapi ada cerita lain, agar dalam
bercerita ada keseimbangan antara baik dan tidak begitu baik. Dan yang
tidak baik, tentu saja, saya ini bukan yang mem baca.

Kami sekeluarga rombongan tanjidor yang dari Paris plus ponakan saya, mau
mengunjungi Pekan Raya Jakarta-faire di Kemayoran. Bulan Juni adalah
ulangtahun kota Jakarta-Raya, hampir setiap tahun Pekan Raya itu diadakan,
sejak masih di dekat Benhil dulu itu, jalan ke Kebayoran. Bukan main
ramainya orang. Penuh sesak. Karena itu kami saling janji, terutama saya
dengan rombongan keluarga plus ponakan saya itu. Agar kalau sudah lewat
jam-tunggunya masing-masing, bisa ditinggalkan saja. Nantinya kan bisa
naik ke ndaraan lain.

Cukup menarik, banyak yang bisa dilihat. Hasil perekonomian daerah. Dan
industri kecil, industri rumah-tangga. Maksudnya juga mau memperagakan apa
saja yang kita sudah punya kemajuan selama merdeka 50 tahun ini! Penilaian
dan hasilnya tentu saja sangat re lative, tergantung dari segi apa melihat
dan memperhitungkannya. Sesudah keliling, agak terasa capek. Dan bagi
kami, bagi sayalah, Jakarta terlalu panas. Mungkin karena belum terbiasa
saja. Apa sih panasnya, lahirnya juga kan di Nusantara ini! Ya, selama 33
tahun hidup di negeri 4 musim, jadi perlu lagi adaptasi ringan.

Sambil kelelahan dengan keringat mengucur, saya mencari tempat buat duduk.
Ada sebuah bangku panjang tak jauh dari pompa bensin. Enak rasanya, ada
kelaluan angin, dan bagaikan dikipasi. Sedap dan segar rasanya. Sambil
melihat orang lalulalang. Tak lama ke mudian datang seorang wanita dan
lalu duduk dekat saya. Saya perhatikan sekilas. Waw, cantik juga. Masih
muda. Bibir merah menyala, dengan baju ketat, sehingga dua bukit itu
sangat bagus bentuknya. Kulitnya halus, dan agak kehitaman, tidak putih
sebagai g adis Minahasa. Gadis muda ini tampaknya lincah dan bebas sekali.
Sering kami bertemu senyum. Dan begitu senyum, terasa yang ada dalam dada
saya berdegup agak kencang. Bibirnya yang selalu basah dan mengkilat dan
matanya, dan alis matanya, dan hidungnya. S udah, saya merasa sudah cukup
buat memperagakan dan menunjukkan keberadaan saya, siapa tahu melepas
jerat dan pancing bisa mengena. Ini gadis bangsa saya, bukan yang biasa
saya hadapi di Perancis atau Belanda.

"Adik sendirian, atau memang jalan-jalan lalu tertinggal dengan teman dan
rombongannya barangkali?" "Oo tidak Oom. Saya bekerja di sini, di stand
bagian Aceh". "Lalu sekarang?" "Sedang giliran istirahat. Nanti masuk
lagi sesudah jam 17.00. Daripada pulang lebih baik menunggu jam-kerjanya
di sini saja. Tokh saya sudah bilang sama mama tadi ketika mau berangkat,
siapa tahu saya langsung saja kerja".

Saya sudah mulai agak naik ampernya. Dan semangatnya jadi meninggi dan
sedikit ada kobarnya. Api yang tadinya kecil, lalu baranya sudah terasa
menyala. "Di mana tinggalnya dik?" Gila! Dia malah senyum entah tanda
senang entah tanda mengejek! "Nanti juga Oom tahu sendiri, tidak
sekarang, tidak hari ini siapa tahu nanti-nantinya", katanya dengan bibir
basah merekah itu dan sambil sedikit tertawa dengan gigi teratur rapi dan
putihbersih. Lalu amper yang tadi sudah cukup tinggi, kami berkelakar b
erkelanjutan. Dan enak sekali. Dia lincah dalam berkata-kata. Saya,
barangkali punya pengalaman banyak buat mencerna kata dan bahasa, yang
mana yang baik buat diumpankan.

"Dik, bagaimana kalau kita cari warung minum yuk!". "Ya, saya dengan
senang hati Oom. Bisa menemani Oom yang datang dari jauh sekali. Tapi saya
bilang dulu kepada teman saya yang jaga agar siapa tahu terlambat, mereka
akan mencarikan gantinya", katanya sambil dia pergi mencari teman yang
dikatakannya itu. Kami menuju ke sebuah resto kecil, dan mencari tempat
duduk yang enak, santai. "Adik dari mana asalnya. Eh, eh, saya sampai
lupa menanyakan namanya. Padahal kita sudah banyak omong-omong, hanya
pakai adik dan Oom saja", kataku memulai pembukaan jalannya catur
perkecanan. Dan dia tertawa renyah yang bikin saya agak kelimpungan
sedikit. "Nama saya Lestari Damayanti. Saya dari Aceh. Saya masih kuliah
di............saya belum mau menyebutkannya buat Oom. Lagi-lagi dan
kapan-kapan Oom juga akan tahu pada akhirnya. Jadi Oom di mana tinggalnya
selama masih belum pulang ke Paris ini?" "Saya tinggal di Kayu Putih
Utara menumpang di ponakan saya. Nantinya kan Damayanti juga pada akhirnya
akan tahu juga", kata saya. "Idih Oom kok kayaknya balas dendam ya dengan
yang tadi saya katakan, lha kok sama saja kita ini"!

Dan kami ngobrol ngalor ngidul. Tertawa, bergurau, dan terkadang saya
pegang tangan dan jarinya. Dan dia diam saja. Agaknya tak ada reaksi
menolak. Di mata saya dia bertambah cantik. Dan saya semakin asyik.
Lama-lama kami ke luar dan dia mau saja saya aja k ke sesuatu tempat.
Malah dia memberikan jalan, di mana baiknya kalau mau ngobrol yang sangat
santai. Dalam hati saya yang jauh terdalam, ada pertanyaan, lha kok dia
tahu semua itu?

Pendek kata, apakah semua yang terjadi ini sudah jalannya "nasib
peruntungan saya atau kami?" Masakbodo, reguklah kehidupan walau secercah
dengan bangsamu sendiri! Rasakanlah dan nikmatilah apa yang kamu rasakan
ada kenikmatan dan kelegaan. Hari itu saya tidak pulang ke keponakan saya.
Dan anak saya tadinya agak gelisah juga. Tapi saya katakan, saya di rumah
teman saya menginap. Dan kami berdua Damayanti sangat merasakan ada
sesuatu yang kami dapatkan, tetapi kami segera menyadari sesuatu itu
mungkin akan segera hilang. Atau akan segera berlalu lewat begitu saja.

"Oom saya mau ngomong ya, terusterang nih", katanya ketika dia sedang
duduk santai di atas pangkuan saya. "Harap Oom memahami dan jangan sampai
dendam kepada saya, Saya kan sama-sama orang Aceh dengan isteri Oom alm,
yang kemaren malam Oom cerita kepada saya. Kenapa saya begini Oom? Saya
sangat perlu membayar uang kuliah dan buku-buku. Kami tidak mampu. Mama
tidak bisa membelanjai saya secara penuh. Ayah sudah lama meninggal
semasih saya di SMA. Tapi saya harap benar-benar agar Oom tahu dan
memahami betul keadaan saya. Saya samasekali bukan pelacur, bukan Oom,
jauh dari itu!", katanya sambil membenamkan kepal anya ke dadaku. Dan aku
mulai menyayanginya, mulai membentuk dan membangun pengertian secara
kemanusiaan.

Jauh dalam hati saya, inikah yang dinamakan perek itu? Perempuan
eksperimen itu. Lalu saya tak berani lagi melanjutkan pertanyaan hati saya
yang tak selesai dan menggantung. Tapi dalam berpelukan, ada terdengar dan
memang saya berusaha memainkan pancing s aya. "Sorry Oom ya........Yanti
mau terusterang nih. Barangkali antara kita sudah ada pancang-pancang dan
patok-patok pengertian. Tadinya Oom, sorry lagi deh ya. Yanti ada sedikit
anggapan, barangkali Yanti akan menghadapi Oom seperti banyak teman Yanti
berbua t kepada Oom-Oom lainnya. Eh ternyata Oom saya yang ini bukan
seperti Oom-Oom yang mereka banyak temui. Oom masih cukup baik ya!",
katanya sambil mencubit sakit dadaku. "Saya jadi pikir-pikir dan berulang
kali tanya pada diri sendiri", sambil dia menahan gelinya. "Kamu mau
bilang ini kan, antara kita yang mau diekperimenkan itu siapa dan siapa
terhadap siapa, itu kan kira-kira yang Yanti mau omongkan. Sorry kalau
salah dan meleset", kataku. Dan dia menenggelamkan kepalanya lagi
kepadaku. "Bayangin sudah berkepala enam! Kayak apa ketika mudanya ya Oom
ya!", katanya lagi, lagi-lagi sambil mecubit lenganku. Dan apakah saya ini
sudah bisa dikatakan lawan dari perek menjadi lakek, laki-laki
eksperimen?! Entahlah, emangnya gue pikiran.

Dan aku mengerti dan memahami apa yang dikatakannya dengan keperluan uang
kuliah dan uang bukunya. Dan aku serambutpun tidak segan buat menyerahkan
seberapalah keperluan dan kebutuhannya dalam mengejar cita-citanya. Dan
seperti apa yang dia katakan dan ap a yang kami berdua duga, tahun-tahun
itu surat-menyurat dan pertilpunan bersilang siur antara Jakarta dan
Paris. Tapi syukurlah, akal sehat saya, penalaran jernih saya, mengatakan,
sudahlah, akhirilah petualangan begini. Mana sih ada cinta bertemu dalam k
eadaan begitu!? Mana sih akan terpatri rasa kasihsayang dalam petualangan
yang begituan, yang dasarnya sudah sangat tidak kuat. Yang hanya bermula
dari rasa coba-coba dan kehausan semata, yang bahkan dalam rangka
eksperimen, yang walaupun siapa kepada sia pa.

Tapi bagaimanapun, antara kami tetap ada rasa perkenalan dan persahabatan
sampai kini, tetapi hanya berkala tahunan. Seperti mau mengucapkan selamat
lebaran, tahun baru. Dan syukur alhamdullillah Yanti sudah berkeluarga
secara baik-baik dan saling berseti a. Dan saya dalam hati mendoakan agar
mereka selalu dalam keadaan bahagia, sehat dan sejahtera. Dosa dulu itu
tentu saja sayalah yang menanggung lebih banyak darinya, dan saya rela
dengan penuh keikhlasan,- Barangkali inilah sebagian puisi saya yang saya
sebutkan, bahwa saya ini adalah bagaikan sebuah novel dan roman hidup,
bisa dibaca dan terbuka begitu melihat dan mengamati saya,-

---------------------------------------------Holland, des 01-------------------------------------------------------------

----- End of forwarded message from simonsobron -----