[NEWS] KT - Bulan Madu Itu Sudah Berlalu ...

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Wed Oct 31 2001 - 18:32:46 EST


X-URL: http://www.korantempo.com/news/2001/10/30/Nasional/146.html

   
   Nasional
   
   Bulan Madu itu Sudah Berlalu
   
   Seratus hari sudah Presiden Megawati Soekarnoputeri menjalankan
   pemerintahan. Namun kinerja pemerintahannya belum memberikan perbaikan
   nyata untuk perbaikan ekonomi Indonesia. Indikatornya antara lain bisa
   terlihat dari indeks di bursa saham dan rupiah di pasar uang.
   
   Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Jakarta mengalami
   penurunan sebesar 19,54 persen (91,87 poin) dari level 470,229 saat
   Mega dilantik menjadi Presiden RI ke-5 menjadi 377,36 pada transaksi
   30 Oktober 2001. Dalam periode yang sama, nilai tukar rupiah terhadap
   dolar AS juga sudah terpangkas 170 poin (1,63 persen) dari posisi Rp
   10.230 per dolar AS menjadi di level Rp 10.400 per dolar AS (30/10).
   
   Jika dibandingkan dengan 100 hari pemerintahan Abdurrahman Wahid, IHSG
   di bursa Jakarta trennya menguat sebesar 8,60 persen atau naik 50,24
   poin dari level 584,425 (20/10/99) menjadi 634,669 (28/01/00).
   Sedangkan kurs rupiah terhadap dolar mengalami penurunan tipis 0,03
   persen (2 poin) dari posisi Rp 7.413 per dolar AS menjadi Rp 7.415 per
   dolar AS.
   
   Sementara, jika dibandingkan dengan 100 hari kepemerintahan BJ
   Habibie, IHSG mengalami penurunan 23,07 persen (102,71 poin) dari
   level 445,143 (22/5/98) menjadi 342,436 (31/8/98). Pada rentang waktu
   yang sama, kurs rupiah melorot 168 poin (1,52 persen) dari posisi Rp
   10.900 per dolar AS menjadi Rp 11.068 per dolar AS.
   
   Melihat grafik kedua indikator itu, masa pemerintahan Wahid memberikan
   gambaran terbaik. Iklim investasi di pemerintahannya memang sedang
   bersahabat. Bursa global dan regional sedang mengalami tren menguat
   menyusul euforia pasar datangnya abad teknologi. Dari dalam negeri
   pasar masih merasa optimis duet Wahid - Megawati bisa membawa
   Indonesia keluar dari krisis.
   
   Namun gaya kepemimpinan Wahid yang gemar menciptakan konflik politik
   membuat kinerja bursa saham dan pasar uang kembali menjadi berantakan.
   Kendati berhasil memberi kemerdekaan demokrasi, dia gagal memberikan
   'angin surga' bagi pasar hingga akhir masa lengsernya.
   
   Selanjutnya, di masa BJ Habibie, bursa buruk karena investor masih
   trauma insiden 'Mei Kelabu', saat kota Jakarta dan kota besar lainnya
   mengalami pembakaran, penjarahan, bahkan perkosaan. Risiko investasi
   negara saat itu dinilai sangat tinggi dan investor belum berani
   melakukan investasi. IHSG dan kurs rupiah pun tumbang.
   
   Di bawah kepemimpinan Megawati dengan Kabinet Gotong Royong terdiri
   dari orang profesional, pasar berharap pemulihan ekonomi dari krisis
   cepat selesai.
   
   Namun, sikap Megawati yang pendiam dan lamban dalam mengambil
   keputusan mengakibatkan masa bulan madunya dengan pasar menjadi
   relatif singkat. Pelaku bursa melakukan profit taking (ambil untung)
   terhadap saham-saham unggulan yang sudah naik signifikan dan membuat
   indeks BEJ terus melorot hingga ke level 430,81 (6 Agustus) dari
   posisi tertinggi di level 470,23 (23 Juli).
   
   Begitu juga dengan rupiah di pasar uang, pelaku valas melakukan stop
   loss terhadap dolar setelah rupiah sudah mengalami penguatan
   spektakuler 20 persen di level Rp 8.525 per dolar AS dari posisi Rp
   10.230 per dolar AS saat Mega dilantik menjadi presiden. Rupiah bahkan
   terus terpukul menyusul maraknya pembelian dolar dari kalangan
   korporat guna pembayaran utang yang jatuh tempo.
   
   Belum lagi Megawati memberikan harapan terbaik buat pasar, terjadi
   serangan teroris di AS pada 11 September yang menghancurkan gedung
   World Trade Center New York dan Pentagon Washinton. Tragedi ini
   membuat pelaku bursa dan valas dunia panik. Mereka mengkhawatirkan
   ekonomi AS yang terpuruk menyeret resesi global.
   
   Akibatnya, sehari setelah tragedi nasional AS terjadi, bursa regional
   dan Eropa berguguran. Hal ini membawa imbas negatif pula bagi indeks
   BEJ sendiri mengalami kejatuhan cukup dalam, yakni 15,630 poin (3,51
   persen) menjadi 429,847. Sentimen makin buruk menyusul rencana
   pemerintah AS melakukan pembalasan serangan militer ke Afganistan.
   Begitu AS merealisasikan serangan udara ke Afghanistan, rupiah
   langsung terjun bebas tembus level Rp 10.200 per dolar AS, dan IHSG
   jeblok 14,515 poin di posisi 367,073 menyusul maraknya demo anti AS di
   dalam negeri.
   
   Secara umum, pasar tampaknya belum cukup puas terhadap kinerja
   pemerintahan Megawati. Mereka masih menanti gebrakan tim ekonomi untuk
   bisa memenuhi komitmen dengan IMF dalam letter of intent untuk
   mempercepat proses pemulihan ekonomi. Kita tunggu. muchtar widjaya