X-URL: http://www.korantempo.com/news/2001/10/30/Nasional/146.html
Nasional
Bulan Madu itu Sudah Berlalu
Seratus hari sudah Presiden Megawati Soekarnoputeri menjalankan
pemerintahan. Namun kinerja pemerintahannya belum memberikan perbaikan
nyata untuk perbaikan ekonomi Indonesia. Indikatornya antara lain bisa
terlihat dari indeks di bursa saham dan rupiah di pasar uang.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Jakarta mengalami
penurunan sebesar 19,54 persen (91,87 poin) dari level 470,229 saat
Mega dilantik menjadi Presiden RI ke-5 menjadi 377,36 pada transaksi
30 Oktober 2001. Dalam periode yang sama, nilai tukar rupiah terhadap
dolar AS juga sudah terpangkas 170 poin (1,63 persen) dari posisi Rp
10.230 per dolar AS menjadi di level Rp 10.400 per dolar AS (30/10).
Jika dibandingkan dengan 100 hari pemerintahan Abdurrahman Wahid, IHSG
di bursa Jakarta trennya menguat sebesar 8,60 persen atau naik 50,24
poin dari level 584,425 (20/10/99) menjadi 634,669 (28/01/00).
Sedangkan kurs rupiah terhadap dolar mengalami penurunan tipis 0,03
persen (2 poin) dari posisi Rp 7.413 per dolar AS menjadi Rp 7.415 per
dolar AS.
Sementara, jika dibandingkan dengan 100 hari kepemerintahan BJ
Habibie, IHSG mengalami penurunan 23,07 persen (102,71 poin) dari
level 445,143 (22/5/98) menjadi 342,436 (31/8/98). Pada rentang waktu
yang sama, kurs rupiah melorot 168 poin (1,52 persen) dari posisi Rp
10.900 per dolar AS menjadi Rp 11.068 per dolar AS.
Melihat grafik kedua indikator itu, masa pemerintahan Wahid memberikan
gambaran terbaik. Iklim investasi di pemerintahannya memang sedang
bersahabat. Bursa global dan regional sedang mengalami tren menguat
menyusul euforia pasar datangnya abad teknologi. Dari dalam negeri
pasar masih merasa optimis duet Wahid - Megawati bisa membawa
Indonesia keluar dari krisis.
Namun gaya kepemimpinan Wahid yang gemar menciptakan konflik politik
membuat kinerja bursa saham dan pasar uang kembali menjadi berantakan.
Kendati berhasil memberi kemerdekaan demokrasi, dia gagal memberikan
'angin surga' bagi pasar hingga akhir masa lengsernya.
Selanjutnya, di masa BJ Habibie, bursa buruk karena investor masih
trauma insiden 'Mei Kelabu', saat kota Jakarta dan kota besar lainnya
mengalami pembakaran, penjarahan, bahkan perkosaan. Risiko investasi
negara saat itu dinilai sangat tinggi dan investor belum berani
melakukan investasi. IHSG dan kurs rupiah pun tumbang.
Di bawah kepemimpinan Megawati dengan Kabinet Gotong Royong terdiri
dari orang profesional, pasar berharap pemulihan ekonomi dari krisis
cepat selesai.
Namun, sikap Megawati yang pendiam dan lamban dalam mengambil
keputusan mengakibatkan masa bulan madunya dengan pasar menjadi
relatif singkat. Pelaku bursa melakukan profit taking (ambil untung)
terhadap saham-saham unggulan yang sudah naik signifikan dan membuat
indeks BEJ terus melorot hingga ke level 430,81 (6 Agustus) dari
posisi tertinggi di level 470,23 (23 Juli).
Begitu juga dengan rupiah di pasar uang, pelaku valas melakukan stop
loss terhadap dolar setelah rupiah sudah mengalami penguatan
spektakuler 20 persen di level Rp 8.525 per dolar AS dari posisi Rp
10.230 per dolar AS saat Mega dilantik menjadi presiden. Rupiah bahkan
terus terpukul menyusul maraknya pembelian dolar dari kalangan
korporat guna pembayaran utang yang jatuh tempo.
Belum lagi Megawati memberikan harapan terbaik buat pasar, terjadi
serangan teroris di AS pada 11 September yang menghancurkan gedung
World Trade Center New York dan Pentagon Washinton. Tragedi ini
membuat pelaku bursa dan valas dunia panik. Mereka mengkhawatirkan
ekonomi AS yang terpuruk menyeret resesi global.
Akibatnya, sehari setelah tragedi nasional AS terjadi, bursa regional
dan Eropa berguguran. Hal ini membawa imbas negatif pula bagi indeks
BEJ sendiri mengalami kejatuhan cukup dalam, yakni 15,630 poin (3,51
persen) menjadi 429,847. Sentimen makin buruk menyusul rencana
pemerintah AS melakukan pembalasan serangan militer ke Afganistan.
Begitu AS merealisasikan serangan udara ke Afghanistan, rupiah
langsung terjun bebas tembus level Rp 10.200 per dolar AS, dan IHSG
jeblok 14,515 poin di posisi 367,073 menyusul maraknya demo anti AS di
dalam negeri.
Secara umum, pasar tampaknya belum cukup puas terhadap kinerja
pemerintahan Megawati. Mereka masih menanti gebrakan tim ekonomi untuk
bisa memenuhi komitmen dengan IMF dalam letter of intent untuk
mempercepat proses pemulihan ekonomi. Kita tunggu. muchtar widjaya