X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0108/11/ln/dina32.htm
>Sabtu, 11 Agustus 2001
Dinasti Politik: Negara Itu adalah Keluargaku
SETELAH Sri Lanka, India, Pakistan, Banglades, apakah akan disusul
Filipina, Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan? Sri Lanka menempatkan
diri sebagai "pelopor" hidupnya dinasti politik di Asia di zaman
modern ini.
Belum pernah terjadi dalam sejarah kekuasaan modern bahwa dua orang
wanita, pun pula mereka anak-ibu, menduduki jabatan presiden dan PM.
Itulah yang terjadi pada tahun 1994. Saat itu, Chandrika
Bandaranaike-Kumaratunga menjadi Presiden Sri Lanka sedangkan ibunya,
Sirimavo Bandaranaike diangkat menjadi perdana menteri.
Reputasi klan Bandaranaike dalam dunia politik harus diakui memang
luar biasa. Dinasti ini sudah menghasilkan tiga PM dan seorang
presiden sejak kemerdekaan Sri Lanka tahun 1948. Solomon Bandaranaike,
suami Sirimavo, terpilih menjadi PM tahun 1956, tapi tewas dibunuh
tahun 1959. Jandanya, Ny Sirimavo, terpilih menjadi PM tahun
berikutnya. Ia kalah dalam pemilihan tahun 1965, tapi kembali lagi ke
pentas kekuasaan tahun 1970 sampai tahun 1977.
Sebagaimana ibunya, Chandrika juga menjadi janda tahun 1988 ketika
suaminya Vijaya, seorang bintang film yang menjadi politisi, ditembak
mati di depan matanya sendiri dan dua anak mereka yang menanjak
remaja, Yasodara (14 tahun) dan Vimukti (12 tahun).
Chandrika (49 tahun) terpilih menjadi PM hasil Pemilu Agustus 1994 dan
menjadi wanita presiden pertama di dunia.
Selain memperlihatkan bukti kehebatan Dinasti Bandaranaike, sisi lain
dari penampilan duet Chandrika-Sirimavo tentu mudah ditafsirkan
sebagai nepotisme. Setelah terpilih menjadi PM, Chandrika dalam sebuah
wawancara menyatakan tidak terlalu suka dengan jabatan tinggi, tapi ia
justru menggambarkan pemerintahan sebuah negara ibarat urusan
keluarga.
Kekhawatiran utama yang muncul di kalangan masyarakat ketika itu
adalah apakah Pemerintahan Chandrika bisa membedakan secara tegas
antara urusan pribadi, keluarga, atau kelompok dengan kepentingan umum
dan negara? Jika tidak dilakukan pembedaan secara tegas, dikhawatirkan
kepentingan pribadi, keluarga atau kelompok bisa mengorbankan
kepentingan umum dan negara. Itu yang terjadi dalam banyak kasus.
***
TIDAK jauh berbeda dengan Sri Lanka, panggung politik di India pun
memberikan tempat bagi berkiprahnya sebuah dinasti. Dinasti
Nehru-Gandhi. Sepak terjang Dinasti Nehru-Gandhi, diawali dengan
tampilnya Jawaharlal Nehru menjadi perdana menteri pertama India
(1947-27 Mei 1964). Indira Gandhi, "meneruskan" kursi ayahnya menjadi
perdana menteri (19 Januari 1966-1977; 14 Januari 1980-31 Oktober
1984). Rajiv Gandhi menggantikan Indira Gandhi, ibunya, sebagai
perdana menteri (31 Oktober 1984 - 1988). Kini Sonia Gandhi terjun ke
panggung politik meneruskan kiprah suaminya.
Era dinasti ini melintasi dimensi waktu begitu panjang. Kebesaran
keluarga Gandhi tidak lepas dari pasang surutnya Partai Kongres yang
aslinya dibentuk tahun 1885. Para pemimpin besarnya seperti Mahatma
Gandhi dan Jawaharlal Nehru menghiasi sejarah politik modern India.
Partai Kongres menjadi legenda di India. Kehadirannya tidak lepas dari
Dinasti Nehru-Gandhi yang mendominasi negeri ini. India seolah-olah
tidak bisa lepas dari nama besar dinasti politik yang satu ini. Dengan
kata lain, India adalah Gandhi dan Gandhi adalah India.
Panggung politik di Bangledes tidak berbeda jauh dengan panggung
politik di India. Bahkan ada yang dengan berlebihan menyatakan, nasib
Banglades di tangan kaum ibu (wanita). Pertama, komposisi jumlah
rakyat Banglades yang berhak memberikan suara dalam Pemilu 1996. Dari
56 juta rakyat yang berhak memilih, 60 persen di antaranya adalah
wanita. Selain itu, ada dua wanita yang menjadi simbol politik negeri
itu: Begum Khaleda Zia dan Sheik Hasina Wajed.
Kedua wanita ini pun, seperti Indira Gandhi atau Chandrika
Bandaranaike-Kumaratunga, "mewarisi" tongkat politik orangtuanya atau
suaminya. Khaleda mewarisi mantel politik mendiang suaminya, Presiden
Ziaur Rahman (1975-1981). Sementara, Sheik Hasina Wajed adalah putri
presiden pertama Banglades Sheik Mujibur Rahman.
Kedua wanita ini, sama-sama menjadi korban kekejaman politik suami
Begum Khaleda Zia dan ayah Hasina Wajed, disingkirkan oleh militer. Di
bawah naungan dendam politik, kedua wanita itu bergabung menggalang
kekuatan menggulingkan penguasa militer Jenderal Hossain Mohammad
Ershad tahun 1990. Khaleda saat itu bergerak dengan mengibarkan
bendera Partai Nasionalis Banglades (BNP) sedangkan Hasina berdiri
dengan bendera Liga Awami.
Namun, rumus dalam dunia politik tetaplah berlaku: kepentingan tetap
di atas segala-galanya. Ketika Ershad sudah jatuh, kedua wanita dari
keluarga bekas orang pertama Banglades itu segera berseteru. Mereka
pun saling mencakar memperebutkan kekuasaan. Dan, hingga kini,
permusuhan antara dua wanita yang sama-sama hendak menegakkan
dinastinya sendiri-sendiri itu, terus berlangsung.
Sementara itu, usaha Benazir Bhutto untuk meneruskan Dinasti Bhutto
terhenti di tengah jalan. Benazir Bhutto yang hendak meneruskan api
Dinasti Bhutto tersingkir karena terbelit kasus korupsi, kolusi dan
nepotisme. Ketika Benazir berkuasa, tersebar kabar bahwa ia mengangkat
sanak saudaranya masuk pemerintahan. Bahkan, suaminya, Asif Ali
Zardari sebagai Menteri Investasi. Inilah akhir dari perjalanan
Dinasti Bhutto.
***
KEBANGKITAN dinasti politik juga mulai tampak di beberapa negara di
Asia Tenggara dan Timur. Di Filipina, misalnya, Gloria
Macapagal-Arroyo-putri Presiden Diosdado Macapagal, yang menjabat
tahun 1961 sampai 1965-tampil sebagai orang pertama negerinya. Ia naik
ke panggung politik dengan membawa nama besar ayahnya. Dimulai dari
menjadi senator, lalu wakil presiden, kemudian presiden, Gloria
Macapagal-Arroyo menambah panjang deretan hidupnya dinasti politik di
Asia.
Hal yang hampir sama tejadi pula di Indonesia, dengan tampilnya
Megawati Soekarnoputri sebagai presiden. Jalan yang dilalui Megawati
tak jauh berbeda dengan yang ditapaki Gloria Macapagal-Arroyo. Dari
parlemen, lalu menjadi wakil presiden, dan akhirnya presiden. Mereka
menjadi orang pertama setelah tergusurnya presiden pendahulunya: yang
satu lewat "aksi rakyat" yang diteguhkan Mahkamah Agung, dan yang
satunya lagi lewat kesepakatan di parlemen.
Memang, untuk waktu sekarang ini, belum bisa memberikan penilaian,
apakah Gloria Macapagal-Arroyo dan Megawati Soekarnoputri akan seperti
Bandaranaike atau Indira Gandhi atau Benazir Bhutto. Jalan di depan
mereka masih panjang, dan berbagai kemungkinan masih bisa terjadi.
Sama halnya dengan Makiko Tanaka yang kini diangkat sebagai Menteri
Luar Negeri Jepang di bawah kepemimpinan PM Kaizumi. Tampilnya Makiko
Tanaka menambah panjang deretan dinasti politik di Asia. Ia adalah
putri Kakuei Tanaka (1918-1993) yang selama 29 tahun (1947-1976)
merupakan penentu warna tingkah laku para politikus Jepang. Kakuei
Tanaka dikenal sebagai dikenal sebagai pencipta sistem kinken seiji
atau politik kekuasaan uang. Uang dijadikan unsur utama dalam politik.
Ini artinya hanya dengan uang segala macam kebijakan yang menyangkut
kepentingan umum, dapat direncanakan, diputuskan, serta dilaksanakan.
Itu menurut Kakuei Tanaka yang pernah menjadi PM Jepang (1972-1974).
Apakah Makiko Tanaka akan mengikuti jejak ayahnya? Pertanyaan serupa
dapat diajukan kepada Park Geun-hye (49), putri mendiang Presiden
Korea Selatan Park Chung-hee. Park Geun-hye kini diyakini berbagai
kalangan di negeri akan meneruskan jejak ayahnya. Bahkan, ada yang
memiliki keyakinan, Park Geun-hye berpeluang besar memenangkan pemilu
tahun 2002 nanti. Mungkinkah Park Geun-hye akan menjadi presiden
Korsel?
PERTANYAANNYA sekarang adalah apakah tampilnya putri presiden atau
perdana menteri dan janda presiden atau perdana menteri akan
memberikan keamanan, stabilitas, dan menciptakan pemerintahan yang
baik dan bersih? Kasus di Asia Selatan memberikan jawaban tegas,
Tidak!
Apa yang terjadi di panggung politik negara-negara di Asia Selatan,
seakan memelesetkan apa yang pernah diucapkan oleh Louis XIV: l''etat
c''est moi (negara adalah saya) menjadi l''etat c''est ma famille
(negara itu adalah keluargaku). Ujungnya adalah terjadi pembunuhan
politik, kebangkrutan negara, dan konflik politik berkepanjangan.
Indira Gandhi, misalnya, menjadi salah satu korbannya. Sementara Sri
Lanka masih tetap digerogoti konflik etnis. Banglades, tak pula sepi
dari konflik dan pembunuhan politik. Pakistan bahkan melahirkan
pemerintahan yang tidak bersih. Lalu bagaimana di Asia Tenggara
(Filipina dan Indonesia) dan Asia Timur (Jepang dan Korea Selatan)?
Itu yang harus dibuktikan kelak kemudian hari.
Manakah yang akan menang, apakah l''etat c''est moi atau l''etat
c''est ma famille atau res republica? (ias)
--- The site now carries 10 lists! REGIONS is quite popular. It carries news from provinces outside Jakarta. You may post to REGIONS just as you post to the other lists. Send ascii postings without attachments to the site moderator at apakabar@radix.net. Visit REGIONS today! HOMEPAGE: Lists, Databases, & Links Center - <http://www.indopubs.com> ---