[INDONESIA-L] IBRAHIM ISA - Sekitar 'Sweeping Toko Buku' dan Peranan 'Gramedia'

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Wed May 09 2001 - 12:54:50 EDT


From: "Ibrahim Isa" <herri@worldonline.nl>
To: <Undisclosed-Recipient:;@pandora.worldonline.nl;;>
Subject: IBRAHIM ISA: SEKITAR 'SWEEPING TOKO BUKU' DAN PERANAN "GRAMEDIA"
Date: Wed, 9 May 2001 18:19:49 +0200

Gramedia dan Penarikan Buku
'SWEEPING' TOKO-TOKO BUKU DAN PERANAN 'GRAMEDIA'
---------------------------------------------------------------------------------------
9 Mei 2001

Untuk membagi-bagi informasi, saya forwardkan bersama ini 'kiriman'dari
Sdr, Joesoef Isak. Tahu 'kan? Sdr. Joesoef, saya selalu memanggilnya
Oecoep, ia, bersama mendiang Hasyim Rakhman adalah pimpinan penerbit
'Hasta Mitra' , yaitu penerbit yang di era O rba, telah berani tampil
menerbitkan novel Pramoedia yang terkenal, dimulai dengan "Bumi Manusia",
dsl. Oecoep juga editor dari buku-buku Pram. Seperti diketahui buku itu
kemudian dilarang oleh Kejaksaan Agung-nya Orba. Bagaimana dengan nasib
buku-bukunya Pram selanjutnya? Sesudah Orba gulung tikar <mudah-mudahan
betul-betul sudah gulung tikar> saya fikir tindakan pelarangan buku di
negeri kita tercinta, sudah merupakan 'masa lampau' yang tak akan kembali
lagi.

Ternyata memang tidak ada buku yang dilarang, tapi yang terjadi lebih dari
itu. Sejumlah buku D I B A K A R ! ! ! Syukur Alhamdulillan bahwa
pembakaran buku itu bukan pemerintah yang melakukannya. Tetapi bila
pemerintah m e n d i a m k a n saja tindakan biadab itu, apa artinya?

Yang unik dari bahan yang diforwardkan Sdr. Oecoep kepada saya, ialah
gugatan yang diajukan kepada penerbit Gramedia. Yang dianggap lebih edan
lagi dari para pembakar buku. Kiranya, gugatan terhadap Gramedia tidak
berkelebihan. Memang, kalau kita sungguh -sungguh hendak menegakkan hukum,
hendak menciptakan suatu suasana 'rule of law' , hendak menjadikan
Indonesia suatu 'rechtsstaat', maka siapapun tidak boleh tinggal diam.
Setiap orang harus memberikan iurannya dalam perjuangan untuk hak
berbicara dan ha k untuk menerbitkan, besar atau kecil. Apalagi pemerintah
dan aparatnya. Apa artinya bicara dan menulis tentang demokrasi, hak-hak
azasi manusia, tentang reformasi, tetapi berpeluk tangan saja sedangkan di
depan mata sendiri, terjadi pelanggaran yang be gitu blak--blakkan
terhadap hak-hak demokrasi.

Bagaimana dengan himpunan penerbit 'kita'<kalau itu ada>. Bagaimana dengan
perkumpulan sastrawan atau penulis <bila itu memang ada dan melakukan
kegiatan>. Bagaimana dengan perkumpulan jurnalis? Semoga tidakl tinggal
diam saja.

Kalau masyarakat bersikap acuh-tidak acuh terhadap pelanggaran demokrasi
yang paling mendasar dan amat berbahaya bila didiamkan saja, maka sulit
untuk mengharapkan pemerintah untuk bertindak.

Disinilah peranan Gramedia yang amat negatif. Tadinya saya hanya melihat
tindakan Gramedia itu dari segi yang sederhana saja. Gramedia takut, tidak
mau ribut-ribut. Tidak mau rugi. Tetapi ada dampak lain dari sikap
Gramedia yang 'kapitulasionis'itu. Deng an tindakannya membersihkan
toko-tokonya dari buku-buku 'Kiri' atau yang dinilai 'Kiri'. Hanyalah
memberikan dorongan kepada pelanggar-pelanggar hukum itu untuk bertindak
lebih beringas lagi. Di lain fihak memberikan contoh yang amat buruk
terhadap pener bit-penerbit dan toko-toko buku lainnya. Maka kritik
terhadap Gramedia sepenuhnya pada tempatnya.

Di sini sekali lagi saya menghimbau kepada setiap warganegara, setiap
demokrat dan setiap reformis, untuk berbuat sesuatu. Lakukanlah sesuatu.
Nyatakan protes anda. Saya juga khusus menghimbau para 'kuli tinta' kita,
jangan hanya menyibukkan diri dengan menyiarkan satu statemen ke statemen
lainnya yang dikeluarkan oleh para elit , mengenai Memo II DPR, mengenai
SI MPR, mengenai penggulingan Gus Dur dan penggantiannya dengan Mega.

Jangan hanya memberitakan kesibukan kaum elite politik yang begitu
bergairah memperrebutkan kekuasaan politik. Beritakanlah perlawanan
masyrakat terhadap tindakan gila-gilaan membakar buku dengan tujuan
memasung hak elementer manusia untuk berbicara, me nulis dan
menerbitkannya dengan bebas.

Salam sejahtera,

IBRAHIM ISA
----------------------------------

----- Original Message -----
From: Joesoef Isak
To: patrick lumumba
Cc: wahana@centrin.net.id ; advokasi@rad.net.id
Sent: Wednesday, May 09, 2001 11:18 AM
Subject: Gramedia dan Penarikan Buku

Sdr. Patrick Lumumba,
Terimakasih atas email sdr. mengenai soal penarikan buku-buku.
Selain email dari sdr., juga masuk dalam email-box saya
antara lain email dari Jerman <sugondo.darmono@freenet.de>
mengenai topik yang sama. Juga dari San Francisco.
Di bawah ini saya teruskan email-email itu.
Silakan bila sdr. mau berbagi informasi in dengan rekan-rekan
lain yang peduli.

--------------------------------------------------------------------

ex-Amerika Serikat

first letter

<It is a damn shame that a great, original writer of Pramoedya's
<stature and political history is published by these cowardly
<opportunistic bastards!! I loathe and detest Gramedia.

second letter

<The threat of violence by a group of thugs just makes it all the
<easier for Gramedia to do what they did all during the Suharto years:
<pull the great works of Pramoedya off their shelves. As a powerful
<and mighty book chain, they have a unique opportunity to show a
<strong united front against censorship of any kind, but as usual,
<they take the coward's way out. When we spoke about them before, (we
<were talking about the so-called "new post-Suharto Gramedia) I told
<you that "painting wings on a pig doesn't turn the pig into an
<eagle!" They don't deserve the privilege to publish to Pramoedya!
<<mletterii@igc.org>

------------------------------------------------------------------------

<From: "Marco Kusumawijaya" <marcokw@c...>
<Date: Thu May 3, 2001 3:21 pm
<Subject: Fw: AFP: Indon's largest book chain takes Pramoedya,
<communist titles off shelves]

<Bagaimana Gramedia (dan lembaga-lembaga lainnya) bisa 'mengalah'
<kepada tekanan fasis yang primitiv seperti ini? Meskipun kita
<bersimpati kepada kekhawatiran sebuah 'toko buku biasa yang cuma
<ingin menjual buku', caranya 'mengalah' kepada tekanan demikian
<bukanlah sesuatu yang baik di depan ketololan para fasis itu.
<Mereka seharusnya dengan tegas meminta perlindungan polisi.
<Marco
------------------------------------------------------------
< To : (yusak@ ...
< From : <sugondo.darmono@freenet.de>
< Subject : Sikap Gramedia
< Cc : Mas Har <wahana@centrin.net.id>
< Bcc :
<X-Attachments :

<Sikap Gramedia lebih parah
<daripada Aliansi Anti Komunis

<Niat sekelompok orang-orang Islam yang menamakan diri "Aliansi Anti-Komunis" <untuk menyatroni toko-toko buku dan membakar buku-buku yang mereka anggap <"kiri", ditinjau dari segi apa pun adalah salah besar, malah bertentangan <dengan agama mereka sendir

i yang katanya perlu mereka jaga dan selamatkan. <Kelompok ini berpamrih paling mengerti Islam, tetapi bersikap musyrik karena <sadar atau tidak sadar mereka terlalu sering lancang merebut wewenang dan <hak-hak yang sebenarnya hanya Tuhan Yang Maha Esa bo

leh melakukannya. Seperti <misalnya mengambil nyawa orang dengan berdalih-dalih "jihad", juga menilai <siapa boleh masuk surga dan siapa harus dikirim ke neraka.
<Sekarang mereka mau jadi malaekat yang mau menjaga fikiran dan rohani umat <Islam agar tidak dipengaruhi oleh racun buku-buku kiri. Jelas di sini mereka <berpretensi menjadi orang paling suci bagaikan malaekat, tetapi di lain pihak <mereka menghina umat

Islam yang rupanya disangka semua kambing-kambing bodoh <yang tidak punya otak. Umat Islam dianggap tidak bisa memilah-milih mana yang <baik dan mana yang jelek - apa yang harus dibaca dan apa yang tidak boleh <dibaca, merekalah yang punya otak untuk mene

ntukan apa yang baik.
<Dilihat lebih jauh : kita bertanya apa beda kelompok ini dengan fasis-fasis <militer Orde Baru yang memang biasa memberangus pikiran dan kebebasan orang, bahkan juga menghilangkan jiwa manusia siapa saja yang mereka tidak sukai. (Ingat Tanjung Priuk! Ing

at Lampung! Ingat Aceh!).
<Apa beda "Aliansi Anti Komunis" ini dengan rejim Orde Baru?? Barangkali hal ini <tidak perlu ditanyakan, karena gerakan itu dalam jiwa, semangat dan bentuknya <memang gerakan Orde Baru!!!

<Tetapi ada satu aspek dari masalah yang kotor dan memalukan ini hendaknya <jangan dilupakan, yakni: Gramedia ternyata lebih parah sikapnya daripada <"Aliansi Anti Komunis" itu.
<Gramedia malah mendahului "Aliansi Anti Komunis" memberangus Pramoedya Ananta <Toer. Rupanya Gramedia sejalan dengan Kejaksaan Agung rejim Orde Baru yang a <priori menetapkan buku-buku Pramoedya adalah literatur komunis.
<Grup Kompas/Gramedia ini mau serba enaknya saja - di jaman rejim Suharto mereka <kiprah menjadi besar dan ikut memberangus semua buku yang diberangus Kejaksaan <Agung Orde Baru. Di jaman reformasi, buku Dr Subandrio pun mereka berangus. <Sikap pengecut g

rup Kompas Gramedia inilah yang justru membikin berhasil <gerakan fasis dulu di jaman rejim Orde Barunya jendral Suharto, dan kampanye <yang sekarang diluncurkan oleh penerus-penerus Orde Baru seperti "Aliansi Anti <Komunis" itu!
<Sekarang belum apa-apa, lagi-lagi grup Gramedia mendemokan filsafat dagangnya <yang menjijikkan, cepat-cepat duluan memberangus buku-buku kiri, termasuk <buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Mereka rupanya mau terima segalanya serba <bersih, biar orang lain

yang memperjuangkan demokrasi dan hak-hak azasi manusia <dengan memikul segala risikonya. Biar orang lain yang berkorban, mempertaruhkan <jiwa-raga, keluarkan keringat dan tenaga, kalau sudah berhasil ..... mereka <tinggal memetik hasilnya. Moral apa ini?

<- Kalau Kompas/Gramedia menyuarakan Katolik, saya bertanya mana
< moral Katolik mu?
<- Kalau Kompas/Gramedia Islam, saya bertanya mana moral Islam mu?
<- Kalau Kompas/Gramedia patriot, mana moral nasionalisme mu?
<- Atau Kompas/Gramedia memang kapitalis tanpa moral, sebab kapitalis pun
< punya moral! <sugondo.darmono@freenet.de>

----- End of forwarded message from Ibrahim Isa -----