From: "kbtki di malaysia" <kbtki@hotmail.com>
To: apakabar@radix.net
Cc: kbrikl@po.jaring.my, guestbook@deplu-dfa.go.id, presiden@ri.go.id,
balitbang@pdk.go.id, kbtki@hotmail.com
Subject: Raden Mas Djawa, seseorang LS,yang sedang terbakar jenggotnya ....Kesihaaan (1)
Date: Tue, 24 Apr 2001 13:19:16 +0800
Subject : Raden Mas Djawa, seseorang yang LS, yang sedang terbakar
jenggotnya ..... Kesihaaan (1)
Mari kita ngobrol dengan judul tulisan di atas.
Begini. Beberapa hari yang lalu ada member (istilah keren Melayu utk nyebut
"kawan") menyampaikan kepada kami kalau ada seorang LS di KBRI Kuala Lumpur
yaitu yang kali ini kami juluki saja Raden Mas Djawa atau kami singkat RMD
(Lha kepriben sich .. .. koq miki aku bae saiki sing kenak - Gimana nich
kenapa gua saja yang kali ini kena nich).
Bukan apa RMD ini mempunyai inisiatif atau barangkali ada itu sang
pembisiknya dari HS untuk melapor saja ke Polis(i) di Malaysia dan atau
lapor Polisi di Indonesia mengenai tulisan-tulisan berupa "serangan" (?)
bertubi-tubi kearah KBRI Kuala Lumpur. Atas alasan apa RMD ini ingin melapor
ke Polis(i) kami tidak perlu tahu, mengapa justru bahkan bukan para HS-nya
yang terkena serangan yang akan melapor ke Polisi tetapi malah LS-nya.
Ini yang namanya LS, orang Melayu bilang "kepoh". Yang terkena tidak
bereaksi tetapi yang tidak terkena malah "busy-body". Atau mungkin
persepsinya RMD ini lain. Kenapa mesti boss gua yang ditembaki melulu. Gua
belain donk denk. Gendenk apa! Baguuus. Baguuus. Good! Ini yang namanya
kalau di Indonesia ada laskar jihad pembela Gus Dur, yang membela kebenaran
(?)tetapi yang di Kuala Lumpur mungkin, sekali lagi mungkin akan ada cikal
bakal "Laskar Jihad" style KBRI KL, pembela kemungkaran. Tepat nggak
judulnya ini hai para Ustadz KBRI ? Bukan apa hanya nanya saja. Saluuut dech
atas style status quo orde lama yang diper"baharu"i di zaman orde baru dan
dipermak wajahnya dizaman pasca Soeharto yaitu "pejah gesang derek" (mati
atau hidup ikut …). Haaa tinggal ikut siapa sekarang. Ikut bossnya. Mati
atau hidup ikut "uang" (karena dibayar untuk membela) atau yang bagaimana,
tinggal milih saja.
Begitulah sekarang nampaknya ada trend baru (dengan cap lama) diantara para
LS di KBRI. Lho apa salahnya. Memang tokh D(ikau) syah sah sah saja. Jadi
ada tendensi di KBRI ada bibit-bibit kearah "laskar Jihad" tadi. Paling
tidak antara mereka ini satu atau dua orang sudah menjadi "body guard". Gua
nggak terima donk boss gua difitnah, dicaci maki, diapa-apakan
kasarannya-begitulah.
Betulkah demikian boss-boss di KBRI selama ini telah difitnah melalui
internet ? Yang jelas setahu kami yang disampaikan di internet semuanya
fakta. Ada boss yang doyan kawinan (katanya ZA), ada yang nidurin
LS-perempuan nya (Sdw dach balik dach nggak usah diinget-inget lagi cuma
beraknya masih ditinggal, katanya di TU alias si LS-nya , ada yang
berhentiin LS tanpa prosedur yang bener hanya ikut nyali bengis dan sok "aku
kuasa" (seperti si Menakbengis DN, caraka gendenk alias ANH yang juga suka
numbukin orang kecil) dan seribu satu macam ceritera lainnya lagi. Tapi yang
heran dan tidak mengeherankan justru oleh si member (kawan) diatas malah
"ditantang" . OK mari kalau mau dijadikan perkara. Mari sama-sama ke
pengadilan. Kita-kita semua siap untuk menghadapinya. Begitulah konon
ceriteranya …… Hebat juga si member ini. Tapi memang betul.
Sebetulnya kalau mau buka-bukaan siapa yang malu sich. Kami kami atau
boss,para HS di KBRI. Coba bilang! Dengan syarat para HS ini masih harus
punya ke-"malu"-an. Kalau sudah itu malu tidak ada lalu bagaimana bah. Yang
jelas kalau seseorang mau membawa perkara ke pengadilan setahu kami-kami
walaupun kami ini orang kecil, sekali lagi setahu kami yaitu bisa atau layak
tidak sesuatu "laporan polisi" dibawa ke pengadilan. Layak atau tidak? Untuk
kepentingan siapa? Apa dampaknya bagi kepentingan masyarakat (yaitu jelasnya
masyarakat Indonesia di Malaysia). Jelas donk. Bukan untuk masyarakat
Malaysia. Itu "tak ada kena mengena" kata kawan Melayu. Kalaupun semua sudah
diteliti dan ternyata layak untuk dibawa ke pengadilan masalahnya sekarang
siap atau tidak dengan dampak-dampak yang disebutkan diatas. Katakanlah
kalau ceritera sumbang HS yang masuk internet mau dilaporkan ke polisi
kemudian diadakan sidang pengadilan tiap hari dan setelah setiap persidangan
selesai para wartawan Malaysia nunggu di luar persidangan dengan mereka
semua siap dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, belum lagi jeprat jepret itu
si kamera wartawan, kamera yang digital lagi, yang gambarnya boleh
dimanipulasi di computer. Kemudian keesokan harinya akan keluar di surat
kabar Malaysia dengan ceritera si HS polan kawin lagi, si HS dadap nidurin
istri orang Melayu dan ada sindikat HS yang suka kalau ngabisin riwayat anak
buahnya yang tidak bisa KKN, dsb. dst. Dari pihak HS dan LS ada kesiapan
menghadapi dampak-dampak yang beginian atau tidak? Kalau memang siap, apa
salahnya. Go ahead. Itulah paling tidak masukan yang disampaikan oleh
seorang anggota kami yang SH dan pada waktu ini tengah mengambil Barrister
at Law (Lincoln's Inn, UK ). Kalau kami sebagai penulis ini yang hanya
mampu meramu orang ngomong apa tahunya. Jadi kalau siap teruskan saja. Namun
kalau tidak, masih berpikir-pikir akan dampaknya ya…....juga .....up to
you, sebaiknya hentikan saja niat itu. Bukan apa menurut istilah populer
mBak yang manis di Imigrasi KBRI, yang putri-putrinya "comel-comel", dia
bilang kalau "malu-malu" nggak apa-apa tapi kalau "malu-maluin" saja itu
yang berat.. (Jangan marah ya mBak lama kita nggak ngobrol ya?) Setiap hari
koran akan muncul dengan ceritera diplomat-diplomat KBRI yang mempunyai
kelakuan sumbang. Gila meck. Tahu saja koran Malaysia yang terutama koran
Melayu sekarang ini kalau dengan pemberitaan Indonesia waaah bukan main.
Dibuat sensasionil, didramatisir dan macam-macam lagi dach. Maklum saja
mereka ini sentimennya dengan orang Indonesia wuuuah bukan main. Apalagi di
zaman sekarang dimana di negara kita sedang "gonjang-ganjing", kalang kabut.
Tidak ada yang dibuat andalan. Semuanya terpuruk. Agen kami yang baru-baru
ini menghadiri sidang parlemen Malaysia yang membicarakan masalah hadirnya
utusan KBRI ke pertemuan "sulit" Partai Keadilan Malaysia, wah habiiis kita
dibuatnya. Mereka "wakil rakyat" meng-condemn, membantai dan membabat
habis-habisan orang Indonesia. Pada hal yang ngomong itu semua orang Melayu
baik yang dari beckbencher alias anggota parlemen dari partai "kerajaan" dan
dari partai oposisi. Ditambah lagi kalau mau jujur semua orang Melayu di
Malaysia mesti berasal dari Indonesia. Paling tidak keturunan nenek
moyangnya. Siapapun. Sedangkan suku terasing-nyapun, yang Melayu bilang
"Sakai" juga berasal dari Indonesia yaitu Baduy di Banten atau Kubu di
Jambi. Kalau ada pembaca di ruangan Om John Mc Douglas ini yang bilang ada
orang Melayu yang bukan dari Indon tolong tunjukkan kepada kami biar kami
yang "nyusur-galur". Mereka-mereka ini hanya tidak mau saja mengaku bahwa
dia-dia ini keturunan orang Indonesia. Karena Indon sedang terpuruk. Coba
kalau kita gagah, makmur dan tidak ada bunuh-bunuhan, mereka akan ngantri
untuk ngaku.
Mereka yang bersidang di parlemen ini sekarang sedang membicarakan
ke-tidak-tahu-diri-an orang-orang dari "kerajaan" Indonesia. Kita-kita semua
dikatakannya tidak tahu diuntung, disuapi tiap hari diberikan rejeki tiap
hari eeeech masih lawan tauke, katanya. Tapi apa boleh buat. Kata orang
Palembang, tahi kambing bulat-bulat. Resiko yang harus ditanggung oleh
orang-orang Indonesia yang jumlahnya 1 juta manusia. Disinggung, ditusuk
dikerjain, digebukin, disiksa, ditindas dan seribu "di" yang lain. Itu sudah
merupakan makanan biasa yang tersaji setiap hari terutama di surat kabarnya
yang berbahasa Melayu. Dan ini bukan resiko itu HS KBRI karena orang-orang
ini khan numpang sementara untuk ngumpulin itu kertas ijo gambarnya George
Washington alias duwit Dollar, Dollar Amerika lagi meck.
Kemudian lagi, mereka ini koran-koran Melayu malah suka. Walaupun tidak
menyangka kalau dampak "phenomena" Indonesia sedikit banyak, lambat cepat
merembes ke Malaysia. Itu fakta.
Biasa itu sesuatu koran pemberitannya mesti berdasarkan agenda mereka
masing-masing. Tanya itu Pak Kabidpen WG yang nggantikan si caraka gendenk
alias ANH, dia mesti tahu itu. (Kami mau nanya Mang Udel yang juga sering
nulis di Internet . Kalau di Deplu jenis caraka gendenk yang ANH itu masuk
kategori apa Mang. Karena si mamang bilang ada caraka muda, madya dlsb. dst.
Tapi yang si ANH nyamar caraka gendenk atau mahesa gendenk ini lalu masuk
kategori yang mana Mang?). Walaupun selama kami di Malaysia kami belum
pernah ngedenger itu dia, WG ngomong di koran Malaysia, Apakah itu yang
berbahasa Inggris atau yang berbahasa Melayu atau mungkin kami yang miss
artinya pernah juga ngomong di surat kabar tapi tidak kami baca. Masih
mending Konsuler KBRI yg pernah dipegang si gendut FS yang pernah nulis di
surat kabar Melayu, walaupun dalam ruang Surat Pembaca sekalipun. Paling
tidak nunjukkan ke-PR-an KBRI Kuala Lumpur. Itu penting donk.
Ngomong-ngomong ini masukan dari mantan dedengkot LS yang punya visi intel
dan yang intelligensianya memang tinggi. Tapi sayangnya satu ….. sayang dia
tidak pernah mau KKN .... akibatnya seenaknya diberhentikan oleh si bengis
DN. Buktinya apa? Kami mengamati yang betul-betul kelakuannya bobrok, bejat
tokh karena bisa KKN masih dipertahankan sampai sekarang. Fakta dooonk.
Yang lebih memalukan lagi diwaktu-waktu belakangan ini aplikasi purel KBRI
di surat-surat kabar Malaysia berbahasa Inggris tidak ada sama sekali. Itu
lho counter-attack terhadap pemberitaan-pemberitaan yang minir mengenai
Indonesia tidak ada. Lalu apa kerja orang KBRI. Goblog. Jangan-jangan
kemampauannya berdiplomasi berbahasa Inggris masih hanya sekadar "not bad"
alias belum bisa diandalkan.
Hach sekarang kalau katakan itu kawan-kawan LS berinisiatif untuk membawa
perkara ini ke pengadilan di Indonesia atas apa yang terjadi didunia maya
'cyber" ini, bukan hanya si member diatas yang akan mewakili kami-kami yang
nulis ini untuk berjumpa di salah satu pengadilan di Indonesia justru
kami-kami yang akan memprakarsai agar perkara itu dibawa ke pengadilan.
Jadi kembali ke ceritera di atas. Bukan para HS yang seperti cacing
kepanasan menghadapi tulisan-tulisan di internet namun sekarang malah LS
sendiri yang sedang kebakaran jenggot. Berlebihankah apa yang kami katakan.
Acch pada kami tidak, wajar-wajar saja memang sekarang LS yang seperti RMD
ini sedang kebakaran jenggot. Cuma belum habis itu jenggotnya yang sedang
terbakar. Jadi sedang nyari-nyari itu, kalau perlu, petugas brandweer. Itu
lho Dinas Pemadam Kebakaran.
Bersambung
----- End of forwarded message from kbtki di malaysia -----