[INDONESIA-NEWS] FORUM - Kisah Dua Saudara

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Fri Feb 23 2001 - 18:40:28 EST


X-URL: http://www.forum.co.id/arsip/0946/Fokus1.htm

                  Edisi No. 46 Tahun IX, 19 Februari 2001
   fokus1.jpg (2957 bytes) Kisah Dua Saudara
   
   Politik kadang-kadang menyatukan. Tapi, tak jarang malah membuat
   anggota satu keluarga jadi saling bertengkar. Perbedaan-perbedaan
   kecil yang tak pokok dalam masalah keagamaan pun bisa kelihatan besar.
   Inilah kisah NU-Muhammadiyah, "dua yang sejatinya satu" itu.
   Ketika itu Abdurrahman Wahid terbaring lemah di Rumah Sakit Cipto
   Mangunkusumo, Jakarta. Ia terserang stroke dan harus menjalani
   perawatan intensif selama beberapa hari. Saat itu, 23 Januari 1999, ia
   masih Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Tapi, ia juga
   sudah ditabalkan sebagai "bidan" Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
   
   Dengan wajah ramah dan bersahabat, Amien Rais, Ketua Umum Partai
   Amanat Nasional (PAN) dan masih memangku jabatan Ketua Umum Pimpinan
   Pusat (PP) Muhammadiyah, datang menjenguk. Ia memandang Gus Dur yang
   sedang tidur lelap dalam jarak yang amat dekat. Walau tanpa kata,
   pandang mata sedih Amien seolah menceritakan bahwa ia datang sebagai
   seorang saudara yang prihatin. "Saya tak berbicara karena tak ingin
   mengganggu tidurnya," ujar Amien ketika itu, sebagaimana dikutip media
   massa.
   
   Di ruang perawatan itu, "persaingan" Amien dan Gus Dur untuk
   memperebutkan pengaruh politik tersapu oleh perasaan ukhuwah Islamiah
   (persaudaraan antarumat Islam) yang hangat. Dan, pers menerjemahkannya
   sebagai bentuk "rekonsiliasi" tak langsung antara dua tokoh nasional
   proreformasi yang ketika itu memegang posisi kunci untuk menyejukkan
   cuaca politik. Maklumlah, keduanya memimpin organisasi Islam terbesar
   di Indonesia. Hanya Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai
   Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang dapat mengimbangi pengaruh
   mereka.
   
   Hilanglah jarak antara Gus Dur dan Amien. Di bawah sana, warga NU dan
   Muhammadiyah bertambah akur saja, setelah sebelumnya bersama-sama
   mengutuk aksi "ninja" yang membunuh ratusan ulama di Jawa Timur. Dan,
   kepentingan politik "nasionalis religius"--Poros Tengah--menyatukan
   wakil-wakil rakyat dari PKB dan PAN bersama-sama dengan wakil rakyat
   dari partai Islam lain, plus Golongan Karya yang dipimpin oleh seorang
   mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
   
   Mereka kompak menyunggi Gus Dur sebagai Presiden RI dalam Sidang Umum
   MPR. Seperti kata sejumlah tokoh partai Islam ketika itu--seperti
   Hartono Mardjono dari Partai Bulan Bintang--Gus Dur dianggap figur
   paling potensial untuk menjegal kubu "nasionalis sekuler"--PDIP dan
   kawan-kawannya--yang menginginkan Megawati memimpin negara.
   
   Ilustrasi tadi menggambarkan bahwa kesamaan agama dan kepentingan
   politik telah mempertemukan pemimpin elite Muhammadiyah dan NU dalam
   satu langkah. Terlebih bila mereka menganggap ada "musuh" bersama yang
   hanya bisa dikalahkan secara bersama-sama. Tapi, tentu saja, Megawati
   dan PDIP bukanlah musuh dalam arti sebenarnya, baik dalam konteks
   hubungan antarumat beragama maupun berbangsa.
   
   Sesungguhnya, kata Nurcholish Madjid saat diwawancarai Surabaya Post
   pada 16 Juli 1989, sejarah menulis bahwa kesamaan kepentingan politik
   dan kultural telah berkali-kali membuat hubungan mesra antara
   Muhammadiyah dan NU terjalin. Mereka pernah bersama-sama memprakarsai
   terbentuknya forum Majlisul Islam A'la Indonesia (MIAI)--Majelis
   Tinggi Islam Indonesia--pada 1937 dan Majelis Syuro Muslimin Indonesia
   (Masyumi) pada 1945. Mereka juga bahu-membahu saat menghadapi Partai
   Komunis Indonesia (PKI) dan kelompok sekuler dalam sidang Konstituante
   antara tahun 1957-1959. Lebih spesifik lagi, NU dan Muhammadiyah telah
   mempelopori terwujudnya persatuan dan kesatuan sesama umat Islam untuk
   menghadapi gerakan PKI menjelang tragedi berdarah 1965.
   
   Tapi, politik juga yang membuat persaudaraan antarumat Islam jadi
   runyam. Rangkaian ketegangan antara Muhammadiyah dan NU di masa lalu
   adalah gara-gara politik. "Ketegangan saat ini juga hanya karena
   politik," ujar Prof. Dr. Syafi'i Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah.
   
   Sejarah berkata, kata Izzul Muslim, Wakil Ketua Pengurus Wilayah
   Pemuda Muhammadiyah Yogyakarta, konflik NU-Muhammadiyah yang kini
   menajam adalah lantaran politik, yakni tatkala NU keluar dari Masyumi
   pada 1951.
   
   Titik pangkal ketegangan itu, tulis Khoirul Fathoni dan Muhammad Zen
   dalam NU Pasca Khittah, berawal dari Muktamar Masyumi ke-4 pada 1951
   yang skenarionya diatur oleh tokoh-tokoh dari unsur non-NU. Muktamar
   memutuskan untuk mengurangi kewenangan Majelis Syuro (semacam dewan
   pertimbangan), yang semula menentukan kebijakan partai, menjadi hanya
   sebagai "penasihat" dewan pimpinan partai. Padahal, mayoritas anggota
   Majelis Syuro adalah kiai-kiai NU.
   
   Lebih tak enak lagi, tokoh-tokoh NU di Masyumi sering mendengar
   sindiran bahwa mereka hanyalah "insan sarungan", insan yang cuma layak
   mengurus pesantren atau masjid. Politik itu urusan para intelektual
   lulusan Eropa, Amerika Serikat, atau lembaga-lembaga pendidikan umum.
   Bisa ditebak, dari mana sumber olok-olok itu. Warga NU pun "amit
   mundur", menyulap NU sebagai partai. "Masyumi pun diidentikkan dengan
   Muhammadiyah. Pimpinan Muhammadiyah mengumandangkan jargon: kalau
   beramal di Muhammadiyah, berpolitik di Masyumi," ujar Izzul Muslim.
   
   Keduanya menjadi peserta Pemilu 1955, dan sama-sama menempati posisi
   empat besar, sepapan dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan PKI.
   Dalam hasil penghitungan suara, PNI mendapat sekitar 8,4 juta suara
   (22,3 persen), Masyumi 7,9 juta (20,9 persen), NU 6,9 juta (18,4
   persen), dan PKI 6,1 juta (16 persen). Terlihat bahwa Masyumi dan NU
   hampir berimbang, dan bila perolehan suara mereka digabung dapat
   mengalahkan PNI plus PKI yang sama-sama partai sekuler.
   
   Tahun berjalan, masa berganti. Bung Karno membubarkan Masyumi pada
   1960 gara-gara tokoh-tokohnya dicurigai terlibat pemberontakan
   Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Warga NU
   sesungguhnya tak suka. Namun, akhirnya NU terbujuk untuk mendukung
   impian Bung Karno tentang Nasionalisme, Agama, Komunis (Nasakom) yang
   ditolak mentah-mentah oleh Muhammadiyah. Orang NU pun--terutama para
   pemimpinnya--dianggap oportunis dan suka mencari selamat dalam
   berpolitik.
   
   Selain suka mencari selamat, orang NU dianggap mencla-mencle alias
   tidak konsisten. Izzul Muslim menunjuk kisah tahun 1990-an, saat
   Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) lahir atas prakarsa B.J.
   Habibie dan dukungan Presiden Soeharto. "Orde Baru merangkul
   orang-orang Islam moderat. Amien Rais masuk di dalamnya. Tapi, Gus Dur
   menuduh ICMI sektarian. Nuansa panas mulai menyentuh hubungan baik
   NU-Muhammadiyah," kata Izzul mengenang. Ketika itu, hubungan Gus Dur
   dengan keluarga Cendana pun tegang. Terlebih setelah Gus Dur berkata
   bahwa "Soeharto goblok" dalam buku A Nation in Waiting: Indonesia in
   1990's karya Adam Schwarz.
   
   Eh, menjelang Pemilu 1997, kata Izzul, saat Amien Rais menghajar
   habis-habisan keluarga Cendana, Gus Dur malah menyebut "Tutut tokoh
   masa depan". Tutut (Siti Hardiyanti Rukmana) adalah anak sulung
   Soeharto. Nuansa hubungan NU-Muhammadiyah dari tingkat atas sampai
   lapisan bawah bertambah panas, sampai akhirnya mempertemukan mereka
   dalam Poros Tengah.
   
   Izzul makin tak mengerti manakala setelah didukung habis-habisan oleh
   Amien Rais untuk menjadi Presiden, Gus Dur malah berseteru dengan
   Amien dan terkesan akur dengan Megawati. Dengan kata lain, sang Ketua
   MPR tak jarang menyebut Gus Dur inkonsisten-- istilah lain dari
   mencla-mencle. Tentu, Izzul tak mengatakan bahwa Amien oportunis atau
   mencla-mencle, walaupun pernah berubah sikap: dari mendukung ICMI yang
   beraroma Soeharto lalu berbalik menghantam Cendana. Atau, dari
   mendukung Gus Dur tiba-tiba belakangan malah menyikatnya.
   
   Sebaliknya, orang NU tak mau organisasinya disebut oportunis, apalagi
   mencla-mencle. "Orang yang menilai begitu adalah orang yang kurang
   paham terhadap eksistensi NU. Sebetulnya, NU adalah organisasi yang
   fleksibel. Dan, justru karena fleksibilitas itu, NU memiliki banyak
   alternatif dalam menyelesaikan masalah yang referensinya diambil dari
   Kitab Kuning," kata Nurcholish Madjid, orang NU yang pernah menjadi
   kader Masyumi.
   
   Pembelaan buat jejak langkah politik NU itu, khususnya untuk mendukung
   pemikiran serta sepak terjang Gus Dur, ditawarkan oleh M. Ishom
   Hadzik, lewat tulisannya yang berjudul "Gus Dur di Antara Dua Partai".
   Menurut Ishom yang juga seorang nahdliyin--sebutan untuk warga NU--
   itu, ide-ide dan apa yang dilakukan Gus Dur selama ini sejalan dengan
   watak dasar NU. Warga NU berpedoman ahlu as-sunnah wa al-jamaah, yang
   menjunjung tinggi sikap-sikap tawassuth (moderat), tawazun
   (proporsional) dan tasamuh (toleran). Tatanan sosial, politik, dan
   ekonomi pun didasarkan pada prinsip-prinsip adalah (keadilan), syura
   (permusyawaratan), dan musawah (persamaan).
   
   Jauh sebelum reformasi, warga NU dan Muhammadiyah sebenarnya sudah
   menyadari bahwa politik lebih banyak mendatangkan sakit hati. Itulah
   sebabnya ketika Achmad Dahlan (1868-1923) mendirikan Muhammadiyah di
   Yogyakarta pada 12 November 1912, ia membatasi gerak organisasinya di
   bidang dakwah, pendidikan, dan pelayanan masyarakat. Politik praktis
   no karena dianggap malah akan mempersempit ruang gerak organisasi.
   Namun, faktanya, para pelanjutnya membidani partai-partai politik.
   
   Semula, NU yang lahir pada 31 Januari 1926 juga cuma ingin bergerak di
   bidang budaya, pendidikan, dan sosial, sama dengan Muhammadiyah.
   Bedanya, "cuma" terletak pada kategori pendukung dan "sedikit"
   perbedaan pandangan tentang masalah keagamaan (khilafiyah atau
   furu'iyah) yang tak begitu penting, semisal perbedaan soal jumlah
   rakaat salat Tarawih (versi NU 20 rakaat plus tiga rakaat witir,
   sedangkan versi Muhammadiyah delapan rakaat ditambah tiga rakaat
   witir). Orang-orang NU, kata Nurcholish, dianggap sebagai kelompok
   Islam tradisional yang tenggelam dalam Kitab Kuning dan hidup di
   pedesaan. Sementara, warga Muhammadiyah termasuk ke dalam golongan
   Islam modern yang berlatar pendidikan modern, tak pandai memahami
   Kitab Kuning, dan umumnya hidup di perkotaan.
   
   Politik, ujar Syafi'i Maarif, mempertajam perbedaan itu sampai ke
   lapisan bawah. Warga NU pun menyadari hal tersebut. Maka, pada
   Muktamar NU ke-27 di Situbondo yang berlangsung pada 8-12 Desember
   1984, mereka memutuskan kembali ke Khittah 1926, meninggalkan Partai
   Persatuan Pembangunan (PPP) untuk kembali ke gerakan sosial-budaya.
   
   Sejak saat itu pula, hubungan NU-Muhammadiyah mulai akur, setelah
   sebelumnya lumayan tegang karena banyak warga Muhammadiyah juga
   menjadi kader PPP. Ukhuwah atau rujuk antara kedua organisasi itu
   pertama kali dilontarkan oleh Rais Aam PBNU, K.H. Achmad Siddiq.
   Seusai muktamar di Situbondo itu, ia mengumandangkan ajakan kepada
   warga NU untuk bergandengan tangan dengan "saudara-saudara seiman"
   dari Muhammadiyah. "Pada prinsipnya, antara NU dan Muhammadiyah tidak
   ada perbedaan yang pokok. Maka, dengan hati tulus, saya dan segenap
   warga NU ingin menjalin kerja sama dengan saudara-saudara seiman di
   Muhammadiyah. Tekad ini sama sekali bukan main-main, tapi betul-betul
   dilandasi keikhlasan untuk memperjuangkan ajaran Islam," katanya kala
   itu.
   
   Gayung bersambut. Para pemimpin Muhammadiyah menjawab ajakan itu
   dengan tangan terbuka. Rais Aam PBNU itu beberapa kali bersilaturahmi
   ke kediaman Ketua Umum PP Muhammadiyah K.H. A.R. Fachruddin di
   Yogyakarta. Sebaliknya, A.R. Fachruddin juga berkali-kali berkunjung
   ke Jember, ke rumah Achmad Siddiq.
   
   Pada acara-acara formal yang diadakan oleh Muhammadiyah, banyak tokoh
   NU hadir. Anggota Syuriah NU, K.H. Yusuf Hasyim, umpamanya, berulang
   kali tampil sebagai narasumber dalam Muktamar Tajrih Muhammadiyah
   tahun 1989 yang berlangsung di Malang, Jawa Timur. Dalam Musyawarah
   Nasional (Munas) dan Konferensi Besar NU di Cilacap tahun 1987, A.R.
   Fachruddin tampak demikian akrab berbincang-bincang dengan K.H. Achmad
   Siddiq.
   
   Persahabatan itu bertambah kental ketika NU akan melangsungkan
   muktamar ke-28 di Yogyakarta, akhir November 1989. Menjelang muktamar,
   Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta, K.H. Muchlas Abror,
   menawarkan fasilitas gedung Muhammadiyah untuk dijadikan tempat
   berlangsungnya acara tersebut. Bukan hanya itu, Muhammadiyah juga
   meminjamkan sarana pelayanan kesehatan, konsultasi medis, dan
   poliklinik untuk disiagakan selama berlangsungnya muktamar.
   
   Tawaran simpatik itu disambut gembira oleh H. Attabik Ali, salah
   seorang anggota panitia penyelenggara muktamar. Apalagi, saat itu NU
   memang membutuhkan banyak tempat untuk akomodasi para peserta selama
   muktamar, berhubung jumlah peserta mencapai ribuan orang.
   
   Malah, K.H. Yusuf Hasyim, paman Gus Dur yang memimpin Pondok Pesantren
   Tebu Ireng, Jombang, pernah melontarkan gagasan kontroversial:
   keanggotaan ganda bagi anggota Muhammadiyah dan NU. Maksudnya, anggota
   NU boleh merangkap sebagai warga Muhammadiyah. Begitu pula sebaliknya.
   Sebab, alasan Yusuf waktu itu, selain untuk mempererat tali
   persaudaraan, faktanya perbedaan yang ada di antara orang NU dan
   Muhammadiyah semakin tipis. Tak sedikit orang NU yang berpendidikan
   modern, seperti Nurcholish Madjid.
   
   Sementara itu, tak sedikit pula warga Muhammadiyah yang pola
   keagamaannya ala NU. Lebih dari itu, keduanya berpegang pada Alquran
   dan hadis. "Jadi, selama ini, antara NU dan Muhammadiyah hanya
   dipisahkan oleh masalah administrasi dan organisasi semata-mata, yang
   tak ada hubungannya dengan Alquran dan hadis," kata Yusuf Hasyim
   melontarkan argumennya dalam seminar "Menuju Satu Umat, Potensi dan
   Kendalanya" yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Surabaya pada
   Juli 1989.
   
   Lalu, mengapa kemesraan itu kini remuk, dan warga NU dan Muhammadiyah
   yang sama-sama berpedoman pada Alquran dan hadis Nabi Muhammad saw.
   harus berhadap-hadapan? Sampai-sampai terjadi perusakan kantor-kantor
   Muhammadiyah di Jawa Timur? "Apalah lagi, kalau bukan karena
   pertarungan elite yang melibatkan Presiden Abdurrahman Wahid, Amien
   Rais, Akbar Tandjung, dan lain-lain itu," kata Syafi'i Maarif.
   
   Syafi'i pun meminta agar Gus Dur dan Amien saling menjaga kata, agar
   tak berimbas kepada para pendukung mereka di lapisan bawah.
   Barangkali, kalau diterjemahkan dalam kalimat perintah seorang kawan
   kepada kawannya, kalimat Syafi'i itu jadi begini: "Gus dan engkau
   Amien, silakan berpolitik. Tapi, jangan bawel. Di sana, rakyat kecil
   saling mengasah golok."
   
   Priyono B. Sumbogo, Lutfi Yusniar, dan Sumanto