[INDONESIA-VIEWS] LSSPI - Sang Penggugat (2)

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Sat Feb 17 2001 - 14:09:05 EST


Date: Sat, 17 Feb 2001 03:43:20 -0800 (PST)
From: Lab Studi <lsspi@kotakpos.com>
To: apakabar@radix.net dll
Subject: SANGPENGGUGAT (2)

Onderwerp:
           SANG PENGGUGAT (2)
     Datum:
           Sat, 17 Feb 2001 10:30:04 +0100
       Van:
           sasoni@worldonline.nl (S.A. Soni)
       Aan:
           K.Prawira@wanadoo.nl
------------------------------------------------------

Hakim: Saya persilakan Tuan Sukarno.

Sukarno (membawa map besar menuju ke mimbar): Maaflah Tuan- tuan Hakim,
kalau kami di dalam pidato ini minta Tuan- tuan punya perhatian sampai
berjam-jam lamanya.

Atas salah satu pertanyaan Tuan Hakim Ketua kami menjawab bahwa, dengan
sikap tengah yang bagaimanapun juga, kami sebagai kaum kiri melihat lebih
banyak kejelekan daripada kebagusan di dalam nasib negeri dan rakyat
Indonesia sekarang ini. Kami terkenal sebagai pengeritik keadaan negeri dan
nasib rakyat yang buruk itu. Tetapi kami tidak pernah mengucapkan
kritik yang palsu. Kami tidak pernah meninggalkan sikap yang adil.

Tuan-tuan Hakim yang terhormat.

Di dalam aksi-aksi kami sering terdengar perkataan kapitalisme dan
imperialisme. Juga di dalam proses ini, kata-kata ini pun menjadi
penyelidikan. Kami antara lain dituduh memaksudkan bangsa Belanda dan
bangsa asing lain, kalau umpamanya kami berkata "kapitalisme
harus dilenyapkan". Kami dituduh membahayakan pemerintah, kalau umpamanya
kami berseru "rubuhkanlah imperialisme". Ya, kami dituduh berkata, bahwa
kapitalisme sama dengan bangsa Belanda serta bangsa asing lain, dan
bahwa imperialisme sama dengan pemerintah yang sekarang!

(Ia diam sesaat, menatap hadirin sebelum meneruskan): Apakah bisa jadi
benar tuduhan itu? Tidak, tidak benar. Kami tidak pernah mengatakan, bahwa
kapitalisme sama dengan bangsa asing, dan bahwa imperialisme sama
dengan pemerintah. Kami memaksudkan kapitalisme kalau kami berkata
kapitalisme, dan kami memaksudkan imperialisme kalau kami berkata
imperialisme! Haruskah kami di dalam pidato ini masih lebih panjang lebar
lagi menguraikan, bahwa kapitalisme itu bukan suatu badan, bukan
manusia, bukan suatu bangsa - melainkan ialah suatu paham,
suatu pengertian, suatu sitem? Haruskah kami menunjukkan lebih lanjut,
bahwa kapitalisme itu ialah sistem cara produksi? Ah, Tuan-tuan Hakim,
kami rasa tidak. Sebab tidak ada satu intelektual yang tidak
mengetahui artinya kata itu.

Tuan-tuan Hakim yang terhormat.

Apa arti imperialisme? Imperialisme juga suatu paham, suatu pengertian. Ia
bukan seperti yang dituduhkan pada kami itu. Ia bukan amtenar BB, bukan
pemerintah, bukan otoritas, bukan badan apa pun juga. Ia adalah
suatu nafsu, suatu sistem menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa atau
negeri lain. Suatu sistem merajai atau mengendalikan ekonomi atau negeri
bangsa lain. Imperialisme bisa juga hanya nafsu atau sistem mempengaruhi
ekonomi negeri atau bangsa lain. Ia tak usah dijalankan dengan pedang
atau bedil atau meriam atau kapal perang. Ia tak usah berupa
"perluasan negeri atau daerah dengan kekerasan senjata", sebagai yang
diartikan oleh Van Kol, melainkan bisa juga berjalan hanya dengan "putar
lidah" atau secara "halus-halusan". Ia bisa berjalan dengan cara
"penetration pacifique".

Tuan-tuan Hakim.

Imperialisme tua sekarang ini makin lama makin layu, dan imperialisme
modern telah menggantikan tempatnya. Cara pengedukan harta yang menggali
untung untuk Negeri Belanda, juga makin lama makin berubah terdesak
cara-cara pengedukan baru yang memperkaya modal partikulir.
Cara pengedukannya berubah. Tetapi banyakkah perubahan bagi rakyat
Indonesia? Tidak, Tuan-tuan Hakim yang terhormat, tidak. Sekali lagi
tidak! Banjir harta yang keluar dari Indonesia malahan
makin besar, "pengurasan" Indonesia malahan makin menjadi-jadi ...

suara-suara (gema orang banyak membenarkan, tapi ada juga yang meneriakkan
kata-kata): Betul! Itu betul! Hidup Bung Karno!

Sukarno: O, Tuan-tuan Hakim. Memang. Memang zaman modern- imperialisme
mendatangkan "beschaving". Zaman modern- imperialisme mendatangkan peri
kehidupan "damai dan tenteram". Zaman modern imperialisme memang
mendatangkan jalan-jalan yang menggampangkan perhubungan, lampu listrik,
telegraf, kedokteran, keteknikan ..., ya kepandaian
barang apa saja sampai yang mendekati kepandaiannya jin peri perayangan
pun. O, Tuan-tuan Hakim. Memang, sareatnya
memang memperdayakan. Bayangannya memang membeliakkan mata. Tetapi adakah
semua hal itu didatangkan buat keperluan Kang Marhaen? Tuan- tuan Hakim.
Dengar kata-kata Brailsford ini: Anugerah-anugerah pendidikan, kemajuan
dan aturan-aturan- bagus yang ia bawa itu hanyalah rontogan-rontogan
saja dari ia punya keasyikan cari rezeki yang angkara murka itu!

suara, gemuruh orang bertepuk tangan.

Sukarno beberapa saat menatap hadirin, menyeka bibirnya dengan sapu tangan,
sambil membiarkan tepuk tangan mereka mereda.

Hakim Ketua berulang-ulang mengetukkan palunya pada meja.

Sukarno: Tuan-tuan Hakim. Prof. van Gelderen dari Centraal Kantoor van de
Statistiek menulis: "Perkembangan perusahaan asing dengan sendirinya
cenderung kepada usaha untuk senantiasa, dan berangsur-angsur secara lebih
besar-besaran melaksanakan perbandingan pokok ini: majikan dan kapital,
jadi juga keuntungan, untuk bangsa asing; dan kaum buruh, jadi
juga upah, untuk bangsa bumiputera. Zij maakt de inheemsche bevolking tot
een natie van loontrekkers en darmee van Indië een loontrekker onder de
naties."

Bangsa yang terdiri dari kaum buruh belaka, dan menjadi buruh antara
bangsa-bangsa, Tuan-tuan Hakim, itu bukan nyaman! Itu bukan memberi
perspektif pada hari kemudian jika terus-terusan begitu! Tidakkah hal ini
saja sudah cukup buat membenarkan kami punya pergerakan? Bangsa
yang terdiri dari kaum buruh belaka. Amboi! Dan berapa besarkah upah
yang biasanya diterima oleh Kang Kromo atau Kang Marhaen?! Menurut
Statistisch Jaaroverzicht rata-rata hanya 45 sen sehari bagi buruh
laki-laki dan 35 sen bagi buruh perempuan.

Tuan-tuan Hakim. Marilah sekali lagi kita bertanya dengan hati yang
tenang dan tulus: Adakah di sini bagi bangsaku kemerdekaan cetak-mencetak
dan hak berserikat dan berkumpul, di mana menjalankan "kemerdekaan"
dan "hak" itu dihalang-halangi oleh macam-macam halangan, diranjaui oleh
macam-macam ranjau yang demikian itu?

Tidak! Di sini tidak ada hak-hak itu! Dengan macam- macam halangan dan
macam-macam ranjau demikian itu, maka "kemerdekaan" itu tinggal namanya
saja "kemerdekaan", "hak" itu tinggal namanya saja "hak". Dengan
macam-macam serimpatan yang demikian, maka "kemerdekaan cetak-
mencetak"
dan "hak berserikat dan berkumpul" itu lantas menjadi suatu omong kosong,
suatu paskwil!

suara-suara: Betul! Betul!

Sukarno: Toh ... diberi hak-hak atau tidak diberi hak-hak, tiap-tiap
makhluk, tiap-tiap ummat, tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti
akhirnya berbangkit, kalau ia sudah terlalu sekali merasakan celakanya diri
teraniaya oleh suatu daya angkara murka! Jangankan lagi manusia,
jangankan lagi bangsa - walau cacing pun tentu bergerak
berkeluget-keluget kalau merasakan sakit!

suara, gemuruh orang-orang membenarkan sambil bertepuk tangan.

Hakim, mengetukkan palunya berkali-kali, sementara Sukarno sengaja diam
sementara lamanya, membiarkan orang berseru- seru.

Sukarno: Seluruh riwayat dunia, menurut perkataan Herbert Spencer, adalah
riwayat "reactief verzet van verdrukte elementen!"

suara, gemuruh tepuk tangan orang banyak; kali ini Sukarno yang menenangkan
mereka dengan isyarat.

Sukarno: Tuan-tuan Hakim. Seluruh dunia yang tulus hati mengertilah bahwa
pergerakan ini ialah antithese imperialisme yang terbikin oleh imperialisme
sendiri. Bukan bikinan "penghasut", bukan bikinan "opruiers", bukan
bikinan "raddraaiers", bukan bikinan "ophitsers"
- pergerakan ini ialah bikinan kesengsaraan dan
kemelaratan rakyat! Pergerakan lahir karena di dalam
hakekatnya dilahirkan oleh tenaga-tenaga pergaulan hidup
sendiri. Pempimpin pun bergerak karena hakekatnya
tenaga-tenaga pergaulan hidup itu membikin ia bergerak. Bukan fajar
menyingsing karena ayam jantan berkokok, tetapi ayam jantan berkokok karena
fajar menyingsing ...

suara, orang banyak bertepuk tangan.

Sukarno: Tuan-tuan Hakim. Apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan
menunggu-nunggu datangnya 'Ratu Adil'? Apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya
sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat? Apakah sebabnya
seringkali kita mendengar di desa ini atau di desa itu telah
muncul seorang 'Imam Mahdi', atau 'Heru Cakra', atau turunan seorang dari
Wali Sanga? Tak lain tak bukan ialah oleh karena hati rakyat yang
menangis
itu tak habis-habisnya menunggu-nunggu datangnya pertolongan, sebagaimana
orang yang berada dalam kegelapan tak henti-hentinya pula saban jam,
saban menit, saban detik menunggu-nunggu dan mengharap-harap: kapankah
matahari terbit?

Oleh karena itulah, Tuan-tuan Hakim, tidak ada satu rakyat negeri jajahan
yang tidak ingin merdeka. Tidak ada satu rakyat jajahan yang tak
mengharap-harapkan datangnya hari kebebasan. Ya, kemerdekaan adalah syarat
yang amat penting bagi kesempurnaan rumah tangga tiap-tiap
negeri, tiap-tiap bangsa, baik bangsa Timur maupun bangsa Barat, baik
bangsa kulit berwarna, maupun bangsa kulit putih.

suara (orang-orang berseru-seru menyahut): Betul! Merdeka! Hidup Bung
Karno!

Sukarno: Jadi buat apa pembentukan kekuasaan? Buat apa machtsvorming,
mungkin Tuan Hakim bertanya-tanya. Machtsvorming, pembentukan
kekuasaan,
oleh karena soal jajahan adalah soal kekuasaan, soal macht!
Seluruh riwayat dunia adalah riwayat pergerakan-pergerakan kekuasaan ini,
Tuan-tuan Hakim. Seluruh riwayat dunia, terutama sesudah lahirnya paham
demokrasi pada fajar abad ke-19, menunjukkan pembentukan
kekuasaan ini.
Tiap-tiap partai politik, tiap-tiap serikat sekerja,
tiap-tiap perkumpulan adalah suatu pembentukan kekuasaan,
suatu pembentukan tenaga.

Sukarno (mengusap wajahnya dengan saputangan, terasa ia sampai pada akhir
pidatonya): Tuan-tuan Hakim. Sekarang Tuan- tuanlah yang akan mengangkat
kata. Sekarang Tuan-tuanlah, penjabat pengadilan dan penjunjung keadilan
yang akan mengambil putusan. Kami tidak memajukan hal-hal
yang meringankan, kami tidak memajukan alasan-alasan buat mengentengkan
kesalahan. Kami hanyalah membuktikan bahwa kami tidak bersalah.

Kami berdiri di hadapan Mahkamah Tuan-tuan ini bukanlah sebagai Sukarno,
bukanlah sebagai Gatot Mangkupradja, bukanlah sebagai Maskun atau
Supriadinata. Kami berdiri di sini ialah sebagai bagian-bagian dari
rakyat
Indonesia yang berkeluh-kesah itu, sebagai putra-putra Ibu
Indonesia yang
setia dan bakti kepadanya. Putusan Tuan- tuan Hakim atas usaha kami
adalah
putusan atas usaha rakyat Indonesia sendiri, atas usaha Ibu
Indonesia sendiri. Putusan bebas, rakyat Indonesia akan
bersukur; putusan tidak bebas, rakyat Indonesia akan
tafakur. 'Barangkali sudah kemauan Yang Maha Suci' kata pemimpin India
Bal Gangadhar Tilak yang besar itu di depan mahkamah, 'bahwa
pergerakan
yang kami pimpin itu akan lebih maju dengan kesengsaraan kami daripada
dengan kemerdekaan kami'. Tetapi Tuan-tuan hakim. Saya yakin, jikalau kelak
Banteng Indonesia sudah bekerja bersama- sama dengan Sphink dari negeri
Mesir, dengan Lembu Nandi dari negeri India, dengan Gajah Putih
dari negeri Siam, dengan Liong Barongsai dari negeri Tiongkok,
dengan kampiun-kampiun kemerdekaan dari negeri-negeri lain - wahai, tentu
hari-harinya internasional imperialisme itu segera terbilang!

suara-suara pengunjung bertepuk tangan disertai yel-yel: Hidup Bung Karno!
Hidup Bung Karno! Merdeka! Merdeka!

lagu: refrein "Indonesia Raya"

(lampu perlahan padam)

Bahan:

1. Indonesia Menggugat, Departemen Penerangan Penerbitan Chusus No.168;
tanpa tahun.

2. Ramadhan K.H., Kuantar ke Gerbang; Pustaka Sinar Harapan 1988.

3. Ir. Soekarno, Mentjapai Indonesia Merdeka; Penerbit "Pentja",
1957.X-Sender: setiawan@pop3-2.worldonline.nl (Unverified) Date: Thu, 15
Feb

----- End of forwarded message from Lab Studi -----