[INDONESIA-NEWS] KMP - Asal Usul: Harry Roesli

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Sat Dec 16 2000 - 17:32:27 EST


X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0012/17/naper/asal04.htm

>Minggu, 17 Desember 2000
   
                              A S A L U S U L
                                      
   Harry Roesli
   SEPERTI kita ketahui, Bumi mengelilingi Matahari selama 365 hari
   dengan kecepatan sekitar 900 juta km. Jadi per hari/24 jam Bumi
   menempuh + 2,5 km, atau per menit 800 km, atau per detik 30 km.
   
   Kalau saja tiba-tiba para elite politik kita lewat DPR, mencoba
   mengamandemen dalil tadi. Misalnya dengan tekanan lewat lobi-lobi,
   lewat demo bayaran, lewat kaukus-kaukus, lewat pansus-pansus, bahkan
   lewat impeachment Bumi diharuskan mengelilingi matahari 10 X lipat
   lebih cepat !! Boleh jadi para politikus ini tidak merasa terganggu,
   malahan tambah bersemangat!!!
   
   Akan tetapi, tanpa mereka sadari kecepatan Bumi per detik untuk
   mengelilingi Matahari menjadi 300 km. Sehingga jarak tempuh Bumi
   mengelilingi Matahari cukup 36,5 hari saja, tidak perlu 365 hari.
   Artinya, satu tahun, kita hanya punya 36,5 hari saja. Artinya lagi,
   sehari-semalam hanya 2,4 jam, atau 2 jam 12 menit, siang 1 jam 6
   menit, malam 1 jam 6 menit. Sampai sini para elite politik belum
   merasa terganggu!
   
   Tapi pola tidur kita terganggu, hanya 1 jam 6 menit! Satpam/jaga malam
   di PHK. Cucian, perlu 3 bulan untuk bisa kering. Pub atau klab malam
   mati kutu, karena live music baru main 3 lagu harus buru-buru tutup,
   sebab sudah adzan subuh. Hostes pun beralih profesi jadi tukang serabi
   gejrot! Hanya saja untuk berpuasa cukup 1 jam 6 menit, berarti orang
   durhaka-pun bisa tahan berpuasa. Sampai sini, para elite politik tidak
   merasa ada gangguan malahan hanya tertawa-tawa geli.
   
   Akan tetapi, waktu seorang elite partai baru saja jatuh tertidur
   karena mendengarkan sidang, dan sudah harus bangun lagi, karena sidang
   sudah selesai, barulah para elite ini terganggu: "Ini tidak benar!!
   Masa baru saja saya tertidur untuk mencari ilham menginterupsi sidang,
   eh, sudah harus bangun!! Bagaimana ini?" Mereka baru merasa terganggu
   karena gangguan jarak Bumi-Matahari tadi.
   
   Atau seperti cerita legenda Sangkuriang. Ketika eksekutif sedang
   serius menyusun "gerendel" (catenaccio), untuk menangkis pansus,
   tiba-tiba ayam berkokok sebelum "gerendel" selesai disusun, karena
   gangguan jarak Bumi-Matahari tadi. Akhirnya sang Boss marah "gerendel"
   pun ditendang, seperti Sangkuriang menendang perahu yang belum
   selesai. Tapi kabarnya "gerendel" tadi bukan jadi gunung, tapi jadi
   gerbang, yang terjemahan bebasnya dalam bahasa Inggris "Gate". Barulah
   mereka terganggu.
   
   Jadi, percuma saja rakyat berteriak-teriak, menyumpah serapah, mencaci
   maki, memprotes keras, mengimbau, memberi solusi, menulis di koran,
   membuat seminar, diskusi, talkshow, dan sebagainya, dengan maksud
   mendapat perhatian para elite ini. Toh, tetap legislatif dan eksekutif
   ini tenang-tenang saja terus bertikai, tanpa terganggu Sementara
   rakyat hidupnya sudah amat sangat berat terganggu.. Mungkin mereka
   harus dibuat terganggu dulu, baru mereka mau mendengar. Sayangnya kita
   tidak bisa memohon bumi dan matahari menggangu mereka seperti di awal
   tulisan ini. Jadi kita harus berbuat apa untuk mengganggu konflik
   mereka yang semakin garang!!!?
   
                                    ***
                                      
   KEGARANGAN mereka itu, disebabkan dulu (zaman Pak Harto) diharamkan
   menjadi orang garang. Sedangkan sekarang kalau tidak garang itu tidak
   elite namanya. Bahkan beberapa elite politik yang sekarang garangnya
   minta ampun, mungkin dulunya berbisik pun dia tidak berani. Benar juga
   kata Bapak Denis Goulet (1975, 66-82), manakala teknologi dan politik
   menjadi segala-galanya bagi faktor penentu dalam mengambil keputusan,
   maka kualitas-kualitas kemanusiaan seperti intuisi, empati, toleransi,
   solidaritas, sosial, citarasa, objektivitas, menjadi marjinal
   posisinya. Konyol sekali, coba Anda perhatikan! Dulu (zaman Orba),
   pengamat politik saat itu bisa dihitung dengan jari, dan yang
   statementnya obyektif bisa dihitung dengan sebelah tangan, sedang yang
   lain statement ala kadarnya. Tapi pasca otoriterisme, bisa dikatakan
   setiap RT punya dua orang pengamat politik. Dan, sah saja kalau
   pendapatnya berbeda. Bahkan harus diusahakan berbeda, kalau tidak
   berbeda, bukan pakar namanya.
   
   Lahirlah ribuan statement bertebaran di media massa. Doktor, profesor,
   memberi ribuan solusi untuk kemelut negeri ini. Pakar senior bersuara,
   pakar baru pun lahir dengan teori-teori baru. Paradigma-paradigma baru
   lahir, baik yang bernas ataupun tidak. Bahkan karena bingungnya saya
   mencoba menyusun sebuah tulisan berjudul; "Membentuk wacana dengan
   paradigma yang signifikan, guna membicarakan secara substansial krisis
   multi dimensional yang krusial". Padahal saya tidak tahu apa itu
   artinya paradigma, signifikan, krusial, substansial. Saya hanya senang
   saja dengan kata-kata itu, senang menyebutnya, serasa pakar.
   
   Pendek kata, seluruh pakar mencoba memberi sumbang saran. Gus Dur
   harus begitu, Akbar harus begini, Amien jangan begitu, Mega sebaiknya
   begini , Aceh harus dibeginikan, Irian harus dibegitukan, Ambon jangan
   dibegitukan dan sebagainya. Ternyata berita yang nyata hanya.... Topan
   dan Leysus dipecat oleh Pak Timbul.
   
   Kondisi carut marut seperti ini, sebenarnya dibenarkan oleh tulisan
   Bapak Valvac Havel, dalam judul buku The Post Communist Nightmare (
   The New York review of books, 1993:8-10). Dia bilang, bahwa
   keberhasilan gerakan prodemokrasi menumbangkan rezim totaliter
   ternyata tidak selalu berarti jalan mulus bagi suatu rekonstruksi
   sosial politik pada masa sesudahnya. Dia menambahkan, kondisi
   masyarakat pasca revolusi selalu dipenuhi kontradiksi, ironi, dan
   permasalahan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Konflik etnis,
   agama, faksi politik, dan tumbuhnya populisme berlebihan sebagai hasil
   frustrasi berkepanjangan. Vavlac, penyair, dan kemudian menjadi
   Presiden Cekoslovakia, adalah saksi mata jatuhnya rezim
   totaliter-komunis di Eropa Timur.
   
   Pertanyaannya, apakah pengalaman Vavlac Havel ini mau kita jadikan
   pembenaran, "Tuh, negara orang lain juga gitu". Atau sebaliknya kita
   jadikan pelajaran untuk tidak jadi "begitu". Ada satu orang lagi,
   Miroslav, pekerja teater asal Bosnia, bercerita langsung kepada saya
   bahwa sudah 10 tahun antara mereka bertikai. Dan saat ini mulai tampak
   wajah senyum dari rekonsiliasi, tapi setelah 10 tahun negara ini
   diobok-obok, dan sudah babak belur, carut marut, centang perentang,
   hancur lebur. Mereka mulai berhenti bertikai, karena bosan. Dan karena
   tidak ada lagi yang bisa dipertikaikan.
   
   Lagi-lagi pertanyaannya: "Maukah kita menunggu delapan tahun lagi,
   untuk terus bertikai, karena sekarang baru dua tahun ? Dan apakah kita
   bisa seperti mereka, setelah 10 tahun lalu bosan bertikai?
   Jangan-jangan kita tidak punya rasa bosan? Dan, jangan-jangan setelah
   10 tahun, "kita" tidak ada lagi?"
   
   Cerita di atas tadi, sengaja saya tulis untuk "mengganggu" para elite
   politik kita. Tapi cerita tadi mungkin terlalu "permukaan", jadi saya
   tidak tahu pasti akan hasilnya. Tapi yang jelas jika konflik
   horizontal multi dimensi ini tidak ditangani, maka lagu "Dari Sabang
   sampai Merauke" harus direvisi. Mungkin lirik awalnya diubah menjadi
   "Dari Medan sampai ke Ambon...." Tetapi celaka kita, kalau satu saat
   anak-anak kita menyanyikan lagu ini, dengan lirik: "Dari Merak sampai
   ke Banyuwangi..."
   
   Saya benar-benar serius ingin "mengganggu" para elite yang terhormat.
   Makanya, siap-siaplah kalau lagu di atas direvisi lagi dengan lirik
   awal. "Dari Daan Mogot sampai Taman Mini, menjajar warung-warung "
   (Daan Mogot, daerah Jakarta Barat. Taman Mini, daerah Jakarta Timur)
   
   Pak Elite menjawab: "Siapa takut !!" *

---
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---