[INDONESIA-NEWS] KMP - ICMI di Persimpangan Jalan

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Wed Nov 08 2000 - 17:58:59 EST


X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0011/09/nasional/icmi08.htm

>Kamis, 9 November 2000
   ICMI di Persimpangan Jalan
   Kompas/jb suratno
   [BUTTON]
   ADA secercah harapan dari Muktamar III Ikatan Cendekiawan Muslim
   se-Indonesia (ICMI) yang berlangsung di Padepokan Pencak Silat Taman
   Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, 9-12 November ini. Tentu
   saja harapan tersebut hendaknya bisa dijadikannya acara itu menjadi
   momentum untuk menentukan arah perjalanan ICMI ke masa depan. Ini
   mengingat, kegagalan merumuskan jati diri dan visi ke depan, membuat
   eksistensi ICMI semakin tidak jelas, wujuduhu ka adamih (keberadaannya
   sama dengan ketiadaannya). Dan pada akhirnya akan melegitimasi rumor
   bahwa nasib ICMI mengikuti suratan Soeharto dan garis nasib BJ
   Habibie.
   
   Rumor santer itu barangkali menyakitkan, memang. Khususnya bagi para
   insan di teras ICMI. Tetapi, kalau rumor itu dipergunakan sebagai kaca
   benggala untuk melihat posisinya sekarang secara jujur, adil dan
   jernih, akan menjadi salah satu pijakan kebangkitan yang kuat. Menjadi
   semacam alat mulat saliro hangroso wani (berani melihat diri sendiri
   secara jujur).
   
   Banyak organisasi besar yang akhirnya mengeriput atau bahkan tinggal
   menjadi fosil karena tidak berani melakukan refleksi evaluatif atas
   diri sendiri secara jujur. Sarekat Islam (SI) yang pernah berjaya
   menjadi organisasi terbesar di penghujung awal abad ke-20, pada
   akhirnya nyaris tinggal kenangan karena sulitnya proses refleksi
   evaluatif.
   
   Dalam hal ini ICMI bisa belajar dari Nahdlatul Ulama (NU). Di tahun
   1980-an, NU secara jam'iyah (organisatoris) berada di persimpangan
   yang tidak jelas. Terselimuti secara tumpang tindih antara misi
   politik dan kultural. NU nyaris tercabik-cabik oleh konflik yang carut
   marut dan tarik menarik kepentingan yang kacau.
   
   Adalah KH Abdurrahman Wahid yang berani melakukan kritik tajam ke
   dalam. Kalau saja Abdurrahman Wahid tidak memiliki kapasitas lebih,
   ditambah dukungan nasab (turunan) yang kuat-ia cucu pendiri NU KH
   Hasyim Asy'ari dan putra salah satu founding fathers Indonesia KH
   Wahid Hasyim-barangkali sudah terpental seperti Subchan ZE. Di
   internal NU, kritik Abdurrahman Wahid sangat menyakitkan. Tetapi ia
   jalan terus dengan prinsip qulil haqqa walau kana murran (sampaikanlah
   kebenaran sekalipun pahit). Hasilnya, setelah satu dekade, NU menjadi
   organisasi kaum tradisionalis yang dalam banyak hal mencerminkan
   modernisme.
   
   Bisa pula ICMI belajar kepada Muhammadiyah. Mantan Ketua Pimpinan
   Pusat (PP) Muhammadiyah KH AR Fachruddin pernah mengeluh, perjalanan
   Muhammadiyah godal-gadul alias lamban dan maju-mundur. Ia melakukan
   kritik amali (perbuatan) dengan menolak dipilih lagi menjadi Ketua PP
   Muhammadiyah di Muktamar Yogyakarta tahun 1990.
   
   AR Fachruddin sadar, jargon bahwa di Muhammadiyah tidak ada pensiun,
   bukan berarti harus menjadi pengurus atau pimpinan sampai mati. Jargon
   itu sering disalahgunakan untuk menjadi pengurus seumur-umur. Ini
   memacetkan regenerasi. Menjadikan persyarikatan seperti kumpulannya
   orang-orang pikun. AR Fachruddin pun menyerahkan tongkat kepemimpinan
   kepada KH Azhar Basyir yang kemudian wafat dan digantikan Amien Rais.
   
   Di tangan Amien Rais, Muhammadiyah mampu merumuskan tajdid di bidang
   politik dengan rumusan high politics (politik luhur) yang salah satu
   buahnya adalah melengserkan Orde Baru. Soal sepak terjang Amien Rais
   setelah tidak lagi memimpin Muhammadiyah, bukan dalam konteks high
   politics itu.
   
                                    ***
                                      
   MASALAH yang menjerumuskan ICMI harus berada di persimpangan jalan
   dimungkinkan oleh proses perjalanan sejarahnya. ICMI lahir dari
   gagasan sekelompok aktivis Muslim Kampus Fakultas Teknik Universitas
   Brawijaya (Unibraw) Malang. Dimaksudkan untuk mewadahi komunitas
   intelektual Muslim baru yang terserak dan tidak tertampung oleh wadah
   yang sudah ada dan mapan.
   
   ICMI akhirnya berdiri di Malang Desember tahun 1990. Yang membuka
   Muktamar pertama, Presiden Soeharto dan yang menutup Wapres
   Soedharmono. Yang menarik, tentulah sosok BJ Habibie yang terpilih
   menjadi ketua umum pertama. Di kalangan komunitas Muslim, Habibie
   dikategorikan muallaf dalam hal ilmu keislaman. Tetapi, ia menjadi
   representasi booming intelektual muslim muallaf yang berangkat bukan
   dari keluarga santri.
   
   Sosok lain adalah Sekjen ICMI, Wardiman Djojonegoro, seorang
   intelektual Muslim dari keluarga Madura abangan dan besar di Gerakan
   Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Ada juga dari keluarga Masyumi
   seperti Adi Sasono yang masih cucu Moh Roem. Ada yang berlatar
   belakang sosialis seperti Juwono Sudarsono.
   
   Tentu saja banyak pula intelektual Muslim dari keluarga santri baik
   modernis maupun tradisionalis. Amien Rais yang menduduki Ketua Dewan
   Pakar adalah Wakil Ketua PP Muhammadiyah (waktu itu). Ada juga KH Ali
   Yafie dan KH Yusuf Hasyim yang datang dari NU sekalipun Ketua PB NU
   Abdurrah-man Wahid tidak mau berga-bung, bahkan sering mengkritik ICMI
   secara tajam. Ada juga komunitas Muslim alternatif, bukan NU dan
   Muhammadiyah yang direpresentasikan Nurcholish Madjid, Nasir Tamara,
   Imaduddin Abdurrahim.
   
   Jadi dari segi keanggotaannya, ICMI mencerminkan pluralitas komunitas
   Muslim Indonesia baik mazhab, latar belakang keluarga maupun
   organisasi. ICMI tidak bisa dituduh sebagai gerakan Masyumi baru, atau
   triwikrama alumni HMI. Tidak berlebihan kalau Nasir Tamara, seperti
   ditulis Douglas E Ramaga dalam Democracy, Islam and the Ideology of
   Tolerance, mengatakan bahwa kelahiran ICMI merupakan babak yang sangat
   penting sejak kelahiran Sarekat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1912.
   Organisasi Islam yang lahir tanpa sekat mazhab.
   
   Persoalan yang muncul sejak kelahiran ICMI adalah tarik menarik antara
   kepentingan intelektual murni dengan kepentingan politik. Salah satu
   letupannya adalah soal siapa yang menjadi sekretaris jenderal pada
   muktamar pertama. Kalangan intelektual berbasis kampus dan lembaga
   swadaya masyarakat (LSM) menjagokan Dawam Rahardjo. Sedangkan kalangan
   birokrasi termasuk Habibie menjagokan Muslimin Nasution. Pada akhirnya
   muncul figur alternatif, Wardiman Djojonegoro.
   
   Pada tarik menarik ini, kelompok birokrasi cenderung di atas angin.
   Pengembangan struktur organisasi ICMI cenderung mengikuti jejak
   birokrasi. Hampir seluruh gubernur, bupati atau wali kota, dan rektor
   menjadi dewan pembina atau dewan penasihat. Tak pelak lagi, ICMI dan
   birokrasi menjadi berapat-rapatan.
   
   Buah pergerakan bandul lonceng ICMI ke kekuatan politik birokrasi,
   mengesankan ICMI menjadi instrumen penting politik birokrasi. ICMI
   seperti menjadi tunggangan Soeharto untuk mendekati umat Islam yang
   selama sekitar 20 tahun dipinggirkan secara politis maupun ekonomis.
   Tetapi, tidak banyak yang menyadari ini. Orang seperti Lukman Harun
   malah menganggap inilah saat bulan madu umat Islam dan pemerintah.
   
   Tarik menarik ini menjadi konflik yang merebak setelah Amien Rais
   melempar gagasan suksesi di Sidang Tanwir Muhammadiyah di Surabaya
   tahun 1993. Soeharto harus lengser pada tahun 1998. Pada akhirnya
   Amien Rais berhenti dari posisi Ketua Dewan Pakar ICMI setelah tidak
   mau mengendurkan kritiknya soal Busang, Freeport, KKN Soeharto, dan
   suksesi.
   
                                    ***
                                      
   TIDAK lama berkah yang diperoleh ICMI dengan kemesraannya bersama
   Soeharto karena penguasa Orde Baru lebih 30 tahun itu terjungkal oleh
   gerakan reformasi. Salah satu tokoh gerakan itu adalah Amien Rais yang
   dipecat dari ICMI.
   
   Pada saat Habibie naik menjadi Presiden menggantikan Soeharto,
   sebenarnya ICMI tahu posisinya tidak menguntungkan dalam pusaran arus
   besar kehidupan bangsa. Habibie ditempatkan sebagai simbol kekuatan
   status quo yang berhadapan dengan kekuatan reformasi.
   
   Tampaknya ICMI tak mau meninggalkan Habibie sendirian. Apalagi banyak
   kepentingan ICMI yang dipertaruhkan bersama nasib Habibie. Misalnya,
   banyak menteri yang dari ICMI seperti Muladi, Muslimin Nasution, Malik
   Fadjar, Juwono Sudarsono, Akbar Tandjung, Ali Alatas, Adi Sasono.
   
   Dipegang pelaksana harian Ketua Umum Achmad Tirtosudiro, ICMI sering
   ditampilkan sebagai pembela rezim Habibie. Dengan demikian ICMI
   semakin masuk pusaran besar politik praktis kepentingan sesaat. Tidak
   jarang orang yang menyindir, seharusnya ICMI menjadi partai politik
   saja bersama masa eforia kelahiran partai politik.
   
   Setelah Habibie gagal memperpanjang masa jabatannya, ICMI terkesan
   tidak tahu harus berbuat apa. Dari pendukung rezim yang berkuasa,
   seharusnya ICMI mengambil peran oposisi pada masa rezim Abdurrahman
   Wahid ini. Apalagi kenyataannya, Abdurrahman Wahid meneruskan aksi
   serangan dengan membabat habis orang-orang ICMI.
   
   Akan tetapi, bisa dipahami kalau ini sulit dilakukan ICMI. Karena
   tidak pernah punya pengalaman mengkritisi rezim yang berkuasa. Selama
   ini ICMI lebih menjadi legitimator kebijakan rezim Soeharto dan
   Habibie. Di samping itu, tampaknya juga dipengaruhi oleh garis Habibie
   yang tetap ingin memelihara hubungan baik dengan Abdurrahman Wahid
   agar tidak dijadikan sasaran tembak. Keterlibatan Habibie selama 25
   tahun di kabinet Soeharto, bukan mustahil ada celah untuk dijadikan
   sasaran tembak.
   
   Lantaran tidak tahu peran seperti apa yang harus dilakukan, menjadikan
   ICMI terdiam beku. Nyaris tidak terdengar, seolah ikut Habibie tetirah
   dan berobat di Jerman. Bergerak sedikit saja, ICMI akan dituduh
   sebagai kebangkitan status quo. Sama nasibnya dengan Habibie yang
   membuat Habibie Centre, langsung dicurigai sedang membuat kendaraan
   untuk come back pada tahun 2004.
   
   Tentu saja ICMI tidak akan mau bingung terus-menerus. Tidak mau
   layamutu fiha wala yahya (tidak mati dan tidak hidup). Untuk itu,
   semuanya kembali kepada para insan ICMI untuk keluar dari lorong
   kebingungan. Salah satunya adalah keberanian dan kemampuan memilih
   figur ketua umum yang bersih dari kooptasi rezim Orde Baru dan
   memiliki link dengan Habibie. Disamping itu, figur itu juga harus
   bebas politik praktis.
   
   Hanya figur ketua umum demikian yang memungkinkan publik tidak
   mencurigai setiap gerakan ICMI. Akan menumbuhkan persepsi bahwa ICMI
   benar-benar melakukan taubatan nasuha (pertobatan yang
   sungguh-sungguh) dan pencerahan. Insya Allah, figur demikian pula yang
   dapat diharapkan menggulirkan kemudi ICMI kembali kepada platform-nya
   sekaligus mengaktualisasikan dengan tuntutan jaman. (Anwar Hudijono)

---
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---