X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0010/14/daerah/bint19.htm
>Sabtu, 14 Oktober 2000
Bintang Kejora Dilarang Berkibar untuk Selamanya
- Di Jayawijaya
Jayapura,Kompas
Bendera bintang kejora yang berkibar di setiap kecamatan dan desa di
Kabupaten Jayawijaya telah diturunkan sejak kesepakatan damai antara
Pemda Jayawijaya, Kepolisian Resor (Polres), Presidium Dewan Papua
(PDP), Panel Papua, dan Satuan Tugas (Satgas) Papua tiga hari lalu.
Selanjutnya bintang kejora dilarang berkibar untuk selamanya di
Jayawijaya.
Kepala Polda Irja Brigjen (Pol) SY Wenas di Jayapura, Jumat (13/10),
mengatakan, di sekitar 28 kecamatan di Jayawijaya tidak lagi ditemukan
bendera bintang kejora. Ini atas hasil kesepakatan damai antara Bupati
Jayawijaya, Kepala Polres, Komandan Kodim, PDP, Panel Papua, dan
Satgas Papua beserta pendukung-pendukungnya.
Kesepakatan yang ditandatangani, Rabu, antara lain menyebutkan, Panel
Papua, PDP, dan Satgas Papua berkewajiban menurunkan semua bendera
bintang kejora di seluruh daerah Jayawijaya dan berusaha meyakinkan
para pendukungnya bahwa Jayawijaya adalah bagian dari negara kesatuan
RI. Karena, dalam sosialisasi Kongres II Papua di Wamena ada pembicara
yang keliru menyebutkan bahwa Jayawijaya telah merdeka.
Sementara itu, Kepala Polres Jayawijaya Asisten Superintendent Daniel
Suripaty mengatakan, jika masih ditemukan ada bendera bintang kejora
yang berkibar di pedalaman Jayawijaya, polisi akan bertindak secara
tegas. Sesuai kesepakatan, bendera itu diturunkan untuk selama-lamanya
bukan hanya beberapa hari.
Menurut Wenas, sebelum tanggal 1 Desember 2000 semua bendera bintang
kejora di Irja akan diturunkan sampai tuntas. "Kita tidak menoleransi
orang-orang yang melanggar hukum dan melanggar persatuan dan kesatuan
bangsa. Di seluruh Irja hanya ada satu bendera, yakni bendera Merah
Putih," kata Wenas.
Bendera bintang kejora saat ini masih berkibar di semua kecamatan dan
desa di Merauke, Serui, Paniai, dan di Kabupaten Mimika serta
Jayapura. Padahal, izin semula di setiap kabupaten hanya ada satu
bendera. Itu pun dikibarkan bersama-sama dengan bendera Merah Putih
dan posisinya lebih rendah 30 cm.
Timbulkan rasa takut
Sementara itu, upaya Polres Jayapura menurunkan bendera bintang
kejora, Kamis mendatang, sesuai kesepakatan PDP Jayapura, Panel Papua
dan Satgas Papua di Jayapura telah menimbulkan rasa takut dalam
masyarakat Jayapura terutama di kalangan pendatang.
Masyarakat sangat mengharapkan agar kejadian di Wamena tidak terulang
di Jayapura. Karena itu penurunan bendera bintang kejora di Jayapura
harus dikoordinasikan secara terbuka, dan saling menerima.
Ny Maria Goreti, seorang dokter di Jayapura mengatakan, kejadian di
Wamena hendaknya mengingatkan PDP dan Satgas Papua serta aparat
keamanan agar kejadian serupa tidak terulang di Jayapura. Pendatang di
Jayapura umumnya adalah pegawai negeri sipil (PNS), dokter, guru,
perawat, pedagang, pengusaha, dan tenaga-tenaga sosial lainnya.
Sementara itu, Bupati Jayawijaya David Hubi mengatakan, perekonomian
masyarakat di Jayawijaya mulai pulih, walau tidak seperti sebelum
kerusuhan. Masyarakat dari desa-desa sekitar Wamena membawa
sayur-mayur dan buah-buahan serta umbi-umbian berjualan di emperan
toko dan pasar-pasar.
Sebagian besar toko sudah dibuka, Kamis, tetapi dalam kewaspadaan
tinggi. Dua bank yakni Bank Pembangunan Daerah dan Bank Rakyat
Indonesia (BRI) telah melayani masyarakat sedangkan BankExim belum
beroperasi.
Maskapai penerbangan Trigana hari Kamis telah masuk Wamena membawa
bahan kebutuhan pokok. Penerbangan Trigana akan terus berlangsung
tetapi hanya membawa bahan makanan, tidak membawa penumpang.
Sebagian besar pengungsi masih bertahan di Markas Kodim, Polres,
masjid dan gereja karena takut. Mereka masih trauma atas kejadian
pekan lalu yang menimpa sanak keluarganya. "Bahan makanan di Wamena
masih mencukupi. Para pengungsi tidak kelaparan. Persediaan makanan di
Wamena kota masih banyak. Tidak benar kalau disebutkan bahwa para
pengungsi itu terancam kelaparan," katanya. (kor)
--- Lifetime _email_ subscription to all 5 (five) current 'apakabar' lists
are now available for a one-time donation of US$250 to support Indonesia
Publications' online projects. Email apakabar@radix.net to make all
arrangements. Payment should be via Visa or MasterCard. See
http://www.indopubs.com for info on these lists. ---