[INDONESIA-L] VELDY UMBAS - Ideologi Komunis, Senjata Gus Dur Lawan AS?

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Thu Sep 28 2000 - 14:50:15 EDT


Date: Thu, 28 Sep 2000 08:13:05 -0700 (PDT)
From: Gino Lorenzo <Gino_Lorenzo@manado.net>
To: apakabar@radix.net
Subject: Ideologi Komunis; Senjata Gus Dur Lawan AS?

Ideologi Komunis; Senjata Gus Dur Lawan AS?

Oleh: Veldy Reynold Umbas

Telah lebih hampir sepuluh tahun sejak George Bush berpidato tentang
"tatanan dunia baru", yang dinilai oleh kalangan penentang AS sebagai
agitasi kampanye neo imperialisme bagi sebuah negara adidaya Amerika. Dan
klaim polisi dunia memang telah terstiqma sejak AS hadir di perang teluk
dengan kampanye anti kekerasan, menghadirkan dunia tanpa peperangan, tanpa
kediktaktoran, dan tentuh saja, kata kaum penentangnya; dunia dibawah
kontrol Amerika Serikat.
        Tentang yang satu itupun sepertinya telah menjadi lagu temahnya
ketika AS melalui Menteri Pertahanannya Willian Cohen berkunjungan ke
Indonesia, khusus untuk memperingatkan Indonesia tentang pelanggaran
kemanusiaan oleh milisia pro Jakarta terhadap petug as UNHCR di Atambua,
melalui resolusi 1319 yang isinya mendesak Indonesia untuk membubarkan
milisia (bahasa pers barat terhadap kelompok prointegrasi). Cohen yang
oleh Amien Rais disebut tamu tak diundang memang sengaja datang khusus
untuk memperingatkan Indonesia, bahkan mewanti-wanti Indonesia bakal
diembargo kalau persoalan ini tidak segera ditindak lanjuti. Dan memang,
Indonesia pun segera melakukan amanat resolusi itu. Pelucutan senjatapun
dilakukan dengan disaksikan oleh Wapres Megawati.
        Acara yang diwarnai dengan intrik aparat yang tidak ingin
mempertemukan Eurico Guiteres dengan Wapres Megawati itu telah melucuti
senjata sebanyak 817 pucuk senjata standar dan rakitan, 19926 amunisi, 66
granat, sebagai bukti dan upaya untuk segera menun taskan kekisruhan
diplomasi internasional Indonesia. Namun demikian situasinya sudah
terlanjur memanas. Nasi sudah jadi bubur, Ancaman telah dikeluakan dan
diantar langsung oleh Menteri Pertahanan Willian Cohen. Sementara itu,
sekitar 600 anggota Korps Marinir AS bersama 3 kapal perangnya telah
berada di pe rbatasan perairan Indonesia dan Timor-Timur.
        Meski, Robert S Gerbard Duta Besar AS untuk Indonesia mengatakan
bahwa kehadiran mereka (Marinir, red) di bekas propinsi ke 27 Indonesia
itu adalah untuk melakukan pekerjaan kemanusiaan. Dan tak kurang dari
sejumlah elit pun naik pitam dengan ancaman C ohen itu. Amien Rais yang
malah menyebut, walaupun seribu Cohen pun dirinya tidak takut, lebih-lebih
mengatakan kalau perlu Indonesiapun akan menutup semua perusahan-perusahan
multinasional Amerika, termasuk Freeport. Amien juga mengatakan,
"Tinggalkan sa ja IMF, dan mulai saja berkerjasama dengan negara-negara G
-Seven (Forum Asean), EMF (East Monetary Fund). Begitu juga menyangkut
kerjasama pertahanan dan keamanan, kita bisa bekerjasama dengan
negara-negara Asia." Demikian usul Amien.
        Tentu saja sikap Amien ini dinilai oleh banyak pihak sebagai sikap
yang tidak bijak dari seorang pimpinan wakil rakyat. Yang sepertinya lebih
melibatkan emosi pribadi dari pada dampak negatif yang bakal dipikul oleh
rakyat banyak. "Apa ia Indonesia sudah
 siap konfronsi dengan Amerika,"kelakar seorang pengamat. Namun memang
sayangnya kasus ini lebih dipicu oleh persoalan tarik-ulur harkat dan
gengsi daripada menyelesaikannya secara diplomasi internasional,
ungkapnya.
        Lalu apakah karena itupulah, kemudian Gus Dur berniat membuka
hubungan kerjasama dengan Partai Komunis Cina (PCK)? Dai Bingguo, Ketua
Hubungan Internasional Partai Komunis Cina, saat bertandang ke Jakarta
mengatakan, Pihaknya sepakat untuk menjalin hubun gan dengan partai-partai
di Indonesia atas dasar prinsip bebas, mandiri, sama derajat dan saling
menghormati partai masing-masing. Meski demikian, pesan-pesan politis
didalam kerja-sama tersebut sangat kentara. Seperti Fachri Ali, pengamat
politik, memper tanyakan manfaat dari membuka hubungan dengan partai
komunis Cina tersebut. Kecuali, Gus Dur sangat tau kalau musuh idologis
negara kapitalis itu sejak runtuhnya raksasa Uni Soviet, sekarang Rusia,
praktis tidak ada lagi. Tak ayal kapitalisme merambah kes eluruh pelosok
dunia, seperti meruntuhkan tembok berlin dan menghancurkan Uni Soviet.
Namun RRC (negara komunis yang tetap eksis) menggelepar. Pun ditengah
krisis monetary crash, negara kunci Asia itu terus bergerak maju denga! n
mengusung komunisme, meskipun modifikasi idiologi membuat komunisme
mengadopsi sistem pasar, telah menunjukan kebangkitan salah satu macan
Asia itu.
        Sepertinya Gus Dur mengerti kalau hubungan kedua negara kurang
akur. Lihat saja bagaimana, AS telah menjadi pelarian para korban
Tiananmen atau juga tudingan CIA (badan intelegen Amerika) terhadap Cina
yang menyokong program peluru kendali Pakistan. Cina
 juga dituduh telah menyalurkan bahan-bahan balistik ke Korea Utara,
Libya, dan Iran. Seperti yang terungkap dalam laporan enam bulanan CIA
kepada Kongres. Selain itu, AS juga sangat getol menyoroti perluasan
penggunaan tehnologi nuklir yang dilakukan ole h Cina, Rusia dan Korea
Utara. Dan inilah pandangan para analis Asia; "Fakta bahwa Cina terus
tumbuh dengan kecepatan yang tinggi --sekitar 8%-- dianggap sebagai tanda
positif. Namun akibat over produksi di Cina telah menimbulkan masalah
tersendiri bagi p emerintah Cina, walaupun pada dua bulan terakhir ini
telah terjadi lonjakan ekspor. Kelihatannya hasilnya tak dapat dihindari.
Perselisihan dagang antara Cina dan Amerika semakin tajam, Mayoritas
Republikan sayap kanan konggre! s yang sangat cenderung pada
isolasionisme, bersih keras untuk menghalangi masuknya Cina dalam
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)." Tampaknya ini telah membuat Cina
semakin marah pada AS. Lalu seperti tesis para pengamat yang menilai
bahwa negara-negara kapitalis barat sangat waswas dengan kebangkitan
negara- negara Asia hingga kemudian ikut andil dalam krisis moneter
dinegara-negara Asia seolah terhenyak dengan bangkitnya lagi negara-nega
ra kunci asia tersebut. Seperti Jepang dan Cina dengan industri elektronik
dan otomotifnya, telah merampas pasar-pasar kapitalis barat (termasuk
Amerika) yang dinilai sangat bernafsu menguasai pasar. Jadilah ini suatu
babak baru pertarungan Kapitalisme ve rsus Komunisme. Menyadari hal ini,
demi untuk mencari dukungan internasional lalu Presiden kita bermain dalam
dua gajah idiologi itu? Mungkin bukan sekedar itu. Tapi, Gus Dur yang
dikenal sangat gemar membaca buku-buku Marx memang konsernis komunisme.
Misalnya saja ketika usulannya untuk mencabut Tap MPRS No 25/66. Walau
ditentang habis-habisan oleh garis keras. Atau mungkin juga sebaga i
bentuk maafnya atas insiden berdarah peristiwa 65/66 yang melibatkan
organisasi massa yang dipernah dipimpinnya itu, seperti yang selalu
diucapkannya dibeberapa kesempatan. Dan memang Presiden nampaknya sangat
obyektif tentang itu. "Saya ingin mendudukan masalahnya secara tepat,
bahwa UUD 1945 tidak pernah melarang komunisme. Kalau mau marah kepada
PKI, silahkan. Tetapi komunisme sebagai paham itu jangan digebyah uyah.
Kalau
 masyarakat tidak setuju dengan paham komunisme, maka didiklah warga
masyarakat melalui pendidikan dan berbagai hal yang bisa dilakukan,"kata
Gus Dur (kompas 22/4), yang juga mengaku masih keturunan Cina ketika
bertandang ke negeri tirai bambu Apil lalu.
 Atau lagi-lagi kebetulankah, juga ketika menghadiri KTT G-77 di Havana
Kuba, Fidel Catro yang sangat dibenci oleh AS itu dirangkul Abdurrahman
Wahid.
 Memang tampaknya Gus Dur sudah mulai kecewa pada Amerika dan sekutunya.
Pangkal soalnya adalah Dana Moneter Internasional yang dinilai terlalu
menyetir ekonomi Indonesia. Isu tak dipakainya Kwik Kian Gie oleh Gus Dur,
juga karena Kwik tidak berhasil men gatur IMF. Apalagi IMF menangguhkan
bantuannya sebesar 400 juta dolar AS yang menilai Indonesia gagal
melaksanakan agenda yang termaktub dalam Letter of Intent (LoI). Untuk
itukah lalu Presiden menggunakan idiologi untuk melawan idiologi.
Kapitalisme lawa n Komunisme?
        Tidak ada pilihan lain. Ungkap sumber Victorious. Pemerintahan
kini tengah mengalami tekanan-tekanan dari berbagai pihak. Di mata
internasional semakin buruk sejak kasus Atambua, dan di Indonesia teroris
makin ganas beraksi. Ancaman disintegrasi dimana-m ana, malah Gus Dur
sekarang dihadapkan pada kemungkinan diadakannya sidang istimewa. Jadi Gus
Dur harus cepat mengambil langkah guna memperkuat posisi di mata
internasional. Kalau tidak, maka bangsa ini akan kembali porak-poranda.
Namun dimata seorang Roh aniwan melihat, bahwa bangsa tidak akan dapat
keluar dari krisis kalau masyarakatnya masih intimdatif, tidak menghormati
HAM, saling bunuh dan bantai, serta melecehkan ajaran agama hanya untuk
kepentingan kelompoknya. Kecuali itu, dirinya yakin kalau Tuha n akan buka
jalan bagi bangsa Indonesia yang sangat majemuk ini. veldy umbas

----- End of forwarded message from Gino Lorenzo -----

---
Email all postings in plain text (ascii) to apakabar@radix.net
INDONESIA-L - <http://www.indopubs.com/archives>
INDONESIA-NEWS - <http://www.indopubs.com/parchives>
INDONESIA-VIEWS - <http://www.indopubs.com/varchives>
INDONESIA-POLICY - <http://www.indopubs.com/tarchives>
INDONESIA-DOCS - <http://www.indopubs.com/darchives>
SEARCH CURRENT POSTINGS - <http://www.indopubs.com/search.html>
SEARCH YEAR 2000 POSTINGS - <http://basisdata.esosoft.net>
SEARCH 1990-1999 POSTINGS - <http://basisdata.esosoft.net/search-all.html>
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---