X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0009/27/nasional/semu06.htm
>Rabu, 27 September 2000
Mohammad Yunus Yosfiah:
Semuanya Tergantung Keseriusan Pemerintah
jpe
Mohammad Yunus Yosfiah Jakarta, Kompas
Mantan Menteri Penerangan Mohammad Yunus Yosfiah-yang pernah bertugas
di Timor Timur pada awal wilayah itu berintegrasi dengan
Indonesia-mengaku kaget, sebab ternyata senjata di tangan milisi masih
banyak. Ini melemahkan diplomasi, terutama untuk menghindarkan
Indonesia dari ancaman embargo dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
yang dituangkan dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor
1319.
"Wajar, kecurigaan internasional kepada kita. Karena dulu senjata itu
sudah dikumpulkan, tetapi ternyata masih ada. Kini tergantung
keseriusan pemerintah," jelas Yunus, yang sempat dituduh terlibat
pembunuhan terhadap wartawan di Balibo, Timtim, tahun 1975, kepada
Kompas di Jakarta, akhir pekan lalu.
Berikut kutipan pendapat Yunus:
Apa pendapat Anda terhadap Resolusi PBB itu?
Itu risiko, sebab kita masuk dalam pergaulan internasional. Apa yang
dimasukkan dalam resolusi itu menyangkut masalah manusiawi. Bila PBB
akan memberlakukan sanksi embargo, ada atau tidaknya sanksi itu
tergantung kemampuan diplomasi kita. Diplomat kita harus berusaha
jangan sampai penderitaan akibat embargo itu akan dialami bangsa ini.
Yang disebutkan dalam resolusi itu, kan, sesuatu hal yang biasa dalam
pergaulan internasional.
Ancaman embargo terhadap Indonesia dikaitkan dengan aktivitas milisi
di Atambua. Anda percaya mereka yang melakukan?
Bisa terjadi bekas-bekas milisi yang melakukan, tetapi bukan dalam
konteks sebagai anggota milisi. Kekecewaan yang besar itu, kan, bukan
hanya dialami anggota milisi, tetapi juga oleh rakyat yang kini berada
di pengungsian. Karena kekecewaan itu, mereka bisa melakukan apa saja.
Pemerintah Indonesia sudah menyebutkan tidak membantu milisi, tetapi
mengapa masih harus menanggung ancaman PBB?
Itu memang terasa tidak fair. Ukuran mereka, kan, masih curiga, karena
seolah-olah Pemerintah Indonesia masih menyadari milisi ada, tetapi
tidak dibubarkan. Kecurigaan semacam itu wajar-wajar saja. Sebab,
kenyataan di lapangan memang menunjukkan, senjata-senjata itu masih
ada. Seperti kemarin, dilaporkan masih terkumpul lebih dari 600 pucuk
senjata. Buat saya, ini sangat mengagetkan. Dahulu sudah dikumpulkan,
kok, sekarang masih ada lagi. Karena itu, sangat wajar masyarakat
internasional masih curiga kepada Indonesia.
Jadi, sekarang nasib bangsa ini tergantung diplomasi...
Ya, tetapi kemampuan diplomasi itu harus ditingkatkan. Harus
diyakinkan kepada masyarakat internasional bahwa milisi itu tidak
mendapatkan dukungan dari Pemerintah Indonesia. Ini harus ditegaskan,
kecuali memang ada dukungan tersembunyi yang saya tidak tahu.
Diplomasi kita memang lemah, terutama dalam soal Timtim...
Kenyataannya demikian. Namun, reaksi masyarakat internasional bisa
terjadi karena adanya kelemahan dalam negeri. Misalnya, dulu sudah
dikumpulkan senjata milisi itu, tetapi kenyataannya masih ada. Ini
suatu kenyataan, sehingga kelihatan Indonesia tidak serius dulu
mengumpulkan senjata milisi. Ini mendorong tumbuhnya kecurigaan
internasional, sehingga melemahkan kemampuan diplomasi kita untuk
meng-counter efek persoalan Timtim ini. Karena itu, sekarang ini
tergantung pada keseriusan Indonesia dalam pengumpulan senjata dari
milisi tersebut.
Bila pemerintah serius mengumpulkan semua senjata dari milisi, Anda
yakin PBB tidak akan menjatuhkan embargo?
Saya tidak bisa menyatakan yakin atau tidak, karena saya tidak bisa
mengukur keseriusan pemerintah. Saya bilang yakin, tetapi ternyata
pemerintah tidak serius, bagaimana. Akan tetapi, jika pemerintah
serius, saya yakin tidak akan ada embargo.
Amerika mempunyai banyak kepentingan di Indonesia. Apa mungkin mereka
mensponsori embargo?
Amerika memang mempunyai banyak kepentingan di Indonesia. Namun, Anda
ingat, Amerika juga mempunyai kepentingan ekonomi yang banyak di Iran.
Toh, tetap diembargo juga. Jadi, karena ada kepentingan yang lebih
besar atau ada substansi persoalan yang lebih penting, ya, bisa saja
embargo itu dijatuhkan. Tetapi masalah Timtim yang selalu muncul dan
dikaitkan dengan Indonesia merupakan refleksi kelemahan diplomasi kita
dan penanganan persoalan itu dalam negeri. (tra)
*****************
Check out the now active INDONESIA-DOCS and INDONESIA-POLICY lists
available from Indonesia Publications' homepage: http://www.indopubs.com
*****************