X-URL: http://www.indomedia.com/serambi/image/200922.htm
[INLINE] Serambi Unlimit
[INLINE] 02.00 Wib Jum'at, 22 September 2000
[INLINE] GAM Gempur Pos BKO, 6 TNI Luka Posko gabungan TNI/Polri
BKO Aceh Utara di pusat Kota Lhokseumawe, Kamis (21/9) subuh, digempur
GAM dengan empat luncuran GLM dari arah pantai. Enam anggota TNI
dilaporkan luka-luka dan seorang di antaranya kritis.
[INLINE] Bom Rakitan Ciderai Brimob Ledakan bom rakitan yang
dipasang di jalan raya Banda Aceh-Medan, kawasan Lampakuk, Aceh Besar,
mencederai seorang anggota polisi, Baharada Suharto (Brimob Resimen-I
Jakarta), sekitar pukul 13.30 WIB, Kamis.
[INLINE] Polisi Lolos dari Sergapan Seorang anggota Polsek Sawang,
Aceh Utara, yang diperbantukan di Polsek Muara Batu, lolos dari
sergapan empat anggota kelompok sipil bersenjata ketika menjemput
istrinya di SD Manee Tunong, Kruengmane, Kamis (21/9).
[INLINE] Seorang Guru SMU Hilang
[INLINE] Setelah Hilang 27 Jam, Tiga Wanita Muda Kembali
[INLINE] Mahasiswa Sedekah Doa untuk Safwan
[INLINE] Korban Insiden Teumpen Dikubur di Stabat
[INLINE] Bila Presiden Terlibat, Pemerintah Jatuh
[INLINE] Mahasiswa Kecam Kerja Aparat
To Indek:
[INLINE]
GAM Gempur Pos BKO, 6 TNI Luka
LHOKSEUMAWE - Posko gabungan TNI/Polri BKO Aceh Utara di pusat Kota
Lhokseumawe, Kamis (21/9) subuh, digempur GAM dengan empat luncuran
GLM dari arah pantai. Enam anggota TNI dilaporkan luka-luka dan
seorang di antaranya kritis.
Peristiwa itu menjadi klimaks dari suasana mencekam yang menghantui
Kota Lhokseumawe sejak pukul 21.45 WIB, Rabu (20/9) malam. Terhitung
saat itu hingga pukul 22.00 WIB seantero kota gas tersebut dihujani
rentetan tembakan dan ledakan dahsyat.
Dari sejumlah kawasan tempat terdengarnya letusan, ledakan di bekas
pelabuhan yang dijadikan posko gabungan TNI/Polri, merupakan yang
terparah. Sementara ledakan yang tidak kalah mengejutkan warga,
terdeteksi di Desa Uteun Bayi, 1 Km barat Kota Lhokseumawe.
Granat tangan yang meledak di Jl Hijrah desa dimaksud jatuh di depan
rumah Tgk A Wahab Mahmudy S.Ag, pegawai Dinas Informasi dan Komunikasi
Aceh Utara, yang kebetulan berdekatan dengan dua unit rumah anggota
Polri.
Penggempuran base camp aparat BKO yang ditempati Brimob Resimen-I, Sat
Marinir, Linud 100/PS, Yonif 312/KH, terjadi sekitar pukul 04.30 WIB.
Saat penyerangan itu, Lhokseumawe bagaikan diguncang bom. Empat suara
ledakan dahsyat membuat warga kota panik.
Banyak warga mengaku terbangun dari tidurnya karena dentuman dahsyat
tersebut. Dalam keadaan panik mereka mencari tempat-tempat aman di
rumahnya untuk kemudian tiarap. Jerit tangis anak-anak yang
dibangunkan mendadak oleh ibunya sempat terdengar dari beberapa rumah
dekat lokasi kejadian.
Dandim Aceh Utara Letkol Inf Suyatno yang didampingi Kapenrem
011/Lilawangsa, Kapten Inf Abrori Abbas, kepada Serambi mengatakan,
posko gabungan aparat BKO itu GAM dengan empat tembakan GLM dari jarak
100 meter.
Menurut Dandim, tembakan GLM dilakukan dari arah selatan dan tenggara
posko. "Tembakan pertama disasarkan ke Pos Tinjau Yonif 312/KH di
pinggir laut. Tembakan itu diperkirakan sebagai pancingan agar anggota
yang sedang melaksanakan jaga dalam pos keluar ke halaman di pinggir
laut," jelasnya.
Satu menit kemudian, tambahnya, tembakan kedua jatuh 20 meter dari
titik ledak pertama yang berdekatan dengan posko Yonif 312/KH. Pada
waktu yang hampir bersamaan, tembakan granat GLM ketiga jatuh dua
meter di depan barak pos Yonif Linud-100/PS. "Dan pada saat terjadi
ledakan, sejumlah anggota Linud sedang keluar dari baraknya sehingga
enam orang terkena pecahan granat. Lima dari anggota Linud dan satu
dari Yonif 312/KH," jelasnya.
Mereka yang terluka tersebut masing-masing Sertu Andri (Yonif 312/KH),
Serda Ruhyan, Pratu Susastra, Pratu Heri Gunawan, Prada Arnen, dan
Kopda M Dakmi yang sampai saat ini masih kritis. Kelima nama terakhir
adalah anggota Linud-100/PS.
Wakil Panglima GAM Wilayah Pase, Abu Sofyan Daud, kepada Serambi
kemarin pagi menyatakan bertanggung jawab atas penggempuran markas
aparat BKO di Kota Lhokseumawe. "Tindakan itu kami lakukan sebagai
peringatan kepada Linud-100/PS yang sampai saat ini masih menduduki
perkampungan penduduk di SP-I, SP-II, dan lokasi PTP Satya Agung, di
kawasan Krueng Pase," katanya.
Akibat pendudukan aparat, menurutnya, sebanyak 4.945 jiwa penduduk
tujuh desa di Kecamatan Blang Mangat terpaksa mengungsi ke kampus
Politeknik Lhokseumawe. "Makanya, ketika TNI hendak ke SP-II dan III
sehari sebelumnya mereka kita hadang dan terjadi kontak senjata,"
ungkap Sofyan.
Sementara itu, Kapolres Aceh Utara Superintendent Drs Abadan Bangko,
juga mengakui bahwa pada malam itu, mess Satpol Air Aceh Utara di
samping Mapolsek Banda Sakti, juga menjadi sasaran penggranatan.
Namun, GLM yang ditembakkan dari arah barat mess jatuh di atas badan
Jalan T Hamzah Bendahara (jalan ke kantor bupati-red). (tim)
To Indek:
[INLINE]
Bom Rakitan Ciderai Brimob
BANDA ACEH-Ledakan bom rakitan yang dipasang di jalan raya Banda
Aceh-Medan, kawasan Lampakuk, Aceh Besar, mencederai seorang anggota
polisi, Baharada Suharto (Brimob Resimen-I Jakarta), sekitar pukul
13.30 WIB, Kamis.
Kapolres Aceh Besar Superintendent Sayed Hoesainy kepada wartawan di
Banda Aceh, menjelaskan, bom rakitan yang dipasang oleh Gerombolan
Bersenjata Pengacau Keamanan (GBPK) itu meledak saat dua unit mobil
aparat kepolisian melintasi jalan tersebut.
"Dua unit mobil yang ditumpangi dua regu aparat kepolisian dari Jantho
menuju Mapolres Aceh Besar di Banda Aceh itu, tiba-tiba dikejutkan
ledakan bom yang memang sudah dipasang di jalan raya, mengakibatkan
mobil terperosok ke dalam parit," katanya.
Bharada Suharto mengalami luka di bagian rahang dan pinggang saat
melompat dari truk yang telah terperosok ke dalam jurang dan korban
kini dalam perawatan di RSU Zainoel Abidin Banda Aceh, kata Sayed.
Menurut Kapolres, sepanjang jalan Banda Aceh-Medan, sekitar 30 Km
menuju perbatasan Kabupaten Pidie, telah dipasang sejumlah "ranjau"
rakitan yang dipasang kelompok sipil bersenjata. Bom rakitan itu
bertujuan untuk mencederai aparat keamanan.
Hingga saat ini aparat keamanan telah mengamankan sebanyak empat bom
rakitan yang dipasang di jalan raya, ucapnya. "Kami telah mendapat
informasi tentang adanya upaya mencelakakan mobil aparat keamanan
dengan memasang bom rakitan. Kita telah menurunkan tim untuk
menyelidiki dan membersihkan bom yang telah dipasang di pinggir jalan
raya itu," katanya.
Hingga berita ini diturunkan, sekitar pukul 14.00 WIB, aparat keamanan
yang dibantu prajurit TNI terus melakukan pembersihan untuk mencari
bom rakitan dan pelakunya di kawasan tersebut, kata Sayed.
Sebelumnya, aksi peledakan bangunan pemerintah dan instansi militer di
Banda Aceh dan Aceh Utara dengan menggunakan bahan peledak rakitan dan
granat, dalam sepekan terakhir terus meningkat, katanya.
Bela diri
Keumanda Operasi GAM Aceh Rayeuk, Ayah Muni melalui saluran telepon
memberitahu Serambi kemarin bahwa peledakan bom yang mencederai
sejumlah aparat dengan terpaksa dilakukan, karena mereka ingin
menyerang Markas GAM.
"Pihak kami ikut bersedih terhadap cederanya beberapa aparat keamanan,
tetapi kami terpaksa melakukan itu sebagai usaha membela diri," sebut
Ayah Muni. "Kami telah berkali-kali mengingatkan mereka agar tidak
masuk dan mengganggu penduduk desa."
Menurut Ayah Muni, meski pun kondisi daerah agak terganggu, tapi ia
meminta warga masyarakat agar tidak terpengaruh. Sebab, pihak GAM
tidak akan mengganggu masyarakat yang bergerak mencari rezeki baik
siang ataupun malam. *
To Indek:
[INLINE]
Polisi Lolos dari Sergapan
KRUENGMANE - Seorang anggota Polsek Sawang, Aceh Utara, yang
diperbantukan di Polsek Muara Batu, lolos dari sergapan empat anggota
kelompok sipil bersenjata ketika menjemput istrinya di SD Manee
Tunong, Kruengmane, Kamis (21/9).
Buntut dari penyergapan itu, sempat terjadi baku tembak dengan
sejumlah aparat keamanan yang kemudian datang ke lokasi. Namun, tidak
ada korban dari kedua pihak. Para pelaku penyergapan yang sudah
dikenali korban, dilaporkan, berhasil melarikan diri dengan sepeda
motor GL 100 BL 704 AR milik anggota Polsek dimaksud.
Kapolres Aceh Utara Superintendent Drs Abadan Bangko SH yang
didampingi Perwira Penghubung Penerangan Senior Inspektur Abdi
Darmawan SH, mengakui anggota Polsek Sawang, Bharutu M Jafar disergap
empat sipil bersenjata ketika menjemput istrinya di Desa Manee Tunong,
pukul 12.50 WIB, kemarin. "Pada saat itu, para pelaku menggunakan
pisau. Mereka sudah dikenal oleh Bharutu Jafar," kata Kapolres.
Namun, M Jafar bisa meloloskan diri dengan melompat pagar sekolah.
Kemudian ia melaporkan pada Polsek setempat hingga beberapa saat
kemudian, sejumlah aparat terjun ke lokasi.
Menurut Kapolres, kedatangan aparat disambut kelompok sipil bersenjata
dengan tembakan. Akibatnya, terjadi kontak tembak selama lebih kurang
lima menit. Begitupun, pelaku yang diduga hendak menculik M Jafar
berhasil melarikan diri dengan sepeda motor korban.
Situasi keamanan di Aceh Utara, dalam dua hari terakhir kian memanas.
Selain penyerangan terhadap markas aparat keamanan, juga terjadi
serangan terhadap tempat-tempat sipil. Sekitar pukul 19.00 WIB, Kamis
kemarin, sumber militer menyebutkan Point A Exxon Mobil, kembali
di-GLM. Sejauh ini belum ada laporan adanya korban dan kerusakan yang
terjadi. Sementara di Kandang Kecamatan Muara Dua, warga mengatakan
terdengar rentetan tembakan pukul 17.30 WIB. Tidak ada penjelasan
resmi dari pihak kepolisian tentang peristiwa tersebut.(juf/mad/ham)
To Indek:
[INLINE]
Ekses Truk TNI Terjungkal
Seorang Guru SMU Hilang
LHOKSEUMAWE - Seorang guru SMU Negeri Syamtalira Aron, Aceh Utara,
Muhammad Kamil S.pd (33), sampai Kamis (21/9) belum jelas nasipnya
setelah hilang Minggu (17/9) ketika sebuah truk TNI terjungkal di
kawasan Landing Lhoksukon.
Keluarga korban menduga Muhammad Kamil ditangkap aparat keamanan.
Namun berbagai pos aparat keamanan yang dihubungi, dilaporkan mereka
mengaku tidak menahan korban.
Keluarga korban juga sudah mengadukan kasus penangkapan itu ke Komite
Bersama Modalitas Keamanan (KBMK) RI Senior Superintendent Ridwan
Karim di Banda Aceh. Selain itu, dalam surat aduan tertanggal 20 sept
2000, ikut disampaikan kepada Komandan Korem 011/Lilawangsa, Bupati
Aceh Utara, Kapolres, Dandim, Ketua DPRD dan Kanin P & K Aceh Utara.
Dalam surat aduan yang ditandatangani isteri korban, Ny Aminah,
dijelaskan bahwa suaminya Muhammad Kamil, penduduk Matang Bayu
Kecamatan Baktia, ditangkap aparat keamanan ketika terjadi kecelakaan
truk aparat di Landing.
Menurut informasi yang diterima Ainah, korban Muhammad telah dibawa
bersama aparat keamanan, padahal ia tidak ada sangkut paut dengan
kelompok GAM.
Menurut Ny Aminah, suaminya pukul 10.00 WIB, berangkat dari rumah
hendak ke rumah kakaknya di Blang Jruen. Sampai ke Simpang Landing ia
turun. Secara kebetulan, ketika truk aparat keamanan melintas, bannya
pecah yang mengakibat beberapa aparat luka-luka.
Ekses dari pecahnya ban truk aparat, tulis Ny Aminah, suaminya
ditangkap dan dibawa bersama anggota aparat keamanan dan sampai
sekarang belum diketahui nasipnya. Ny Aminah sebagai seorang isteri
meminta bantuan dari KBMK, Danrem dan instansi terkait lainnya agar
dapat memberikan informasi keberadaan ayah anaknya.
Kepada Serambi, Kamis (21/9), Ny Aminah mengatakan sangat gelisah
sejak suaminya ditangkap aparat keamanan dan bahkan anak-anaknya terus
menangis menanyakan ayah. "Kami hanya ingin melihat dan mengetahui di
mana ia berada," ujar Ny Aminah dengan linangan air mata.
Ia berharap serta memohon kerendahan hati aparat melepaskan suaminya
yang berprofesi sebagai pendidik.
Sementara sumber lain yang direkam Serambi di lokasi kejadian
mengatakan, selain Muhammad, sedikitnya 30-an orang penduduk Desa Alue
Drin, Lhoksukon Barat Aceh Utara, pada hari itu menjadi korban
penganiaan aparat. Bahkan, lima di antara warga ditangkap dan belum
juga dikembalikan. Keluarga mereka, Senin (18/9), mengadukan ke Pos
Bantuan Hukum Aceh Utara.
Kelima korban yang ditangkap aparat keamanan dalam kecelakaan truk
aparat itu, kata sumber di Landing, masing-masing Sulaiman Abdullah
(30), Abdul Razak (25), Tarmizi (36), Syarifuddin (59) dan Usman
Abdullah (28). (tim)
To Indek:
[INLINE]
Setelah Hilang 27 Jam, Tiga Wanita Muda Kembali
* Dua Pemuda Ditahan
SIGLI - Setelah menghilang selama 27 jam, tiga wanita muda akhirnya
kembali ke rumah masing-masing dalam keadaan rambut digunduli. Mereka
diculik ketika baru saja pulang bertamu di Mapolsek Ulim Kabupaten
Pidie. Sementara, dua pemuda kini ditahan Mapolres dalam kasus
penemuan bom dan curanmor.
Tiga wanita yang hilang masing-masing Lastri (20), warga Kota Sigli,
Darmawati (25) warga Blang Mangki Simpangtiga, dan Nursiah (21) warga
Kecamatan Tiro Truseb. "Mereka sempat tidak berada di rumah semalaman.
Akhirnya, mereka kembali ke rumah, Selasa (19/9) sekitar pukul 19.30
petang," kata Kapolres Superintendent Endang Emiqail Bagus kepada
Serambi Kamis (21/9).
Sehari sebelumnya, jelas Bagus, tiga wanita itu bertamu ke Mapolsek
Ulim. Siangnya, mereka hendak kembali ke Sigli dengan menumpang Bus
Anugerah dari kota Ulim. Dalam perjalanan diduga wanita itu diambil
oleh sekelompok orang dalam bus yang mereka tumpangi. "Saat itulah
ketiga wanita itu hilang," kata Bagus.
Ketika mereka kembali ke rumahnya masing-masing, kata Bagus, rambutnya
sudah digunduli dan kondisi mereka masih trauma. "Saya sangat
menyesalkan sikap seperti itu. Aceh merupakan daerah yang sedang
menegakkan Syariat Islam, apalagi wanita muda itu digunduli dan
diperlakukan secara tak wajar," ungkap Bagus.
Dari tiga wanita yang sudah kembali, dua diantaranya sudah diketahui
secara jelas tentang kondisi mereka. Sedangkan Nursiah (21) warga
Tiro, hingga kemarin belum diketahui secara rinci tentang kondisinya.
Diharapkan, kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam kondisi situasi
yang tidak kondusif.
Sementara itu dua pemuda masing-masing Abdul Muthaleb (25) dan Samsul
Bahri (42) terpaksa ditahan untuk pemeriksaan dalam kasus bom dan
curian sepeda motor. "Kita bukan menahan mereka, karena belum tentu
bersalah. Tapi, dipinjam sementara untuk diminta keterangan menyangkut
dengan kasus penemuan bom," tambah Kapolres Bagus.
Pada Rabu (20/9) jajaran Mapolres menemukan satu bom yang sudah
ditanam di jalan raya Banda Aceh-Medan, persisnya di kawasan
Pesanggrahan Seulawah (perbatasan Aceh Besar-Kabupaten Pidie). Bom
yang sudah siap diledakkan berhasil dijinak oleh aparat sekitar pukul
08.00 pagi dan berhasil dijadikan sebagai barang bukti.
Sekitar pukul 10.45 Wib, aparat juga menemukan satu bom yang sudah
ditanam di jalan kawasan Teubeng Kecamatan Pidie. Bom itu hanya untuk
menjebak aparat yang akan melintasi kawasan tersebut. "Kedua pemuda
yang ditahan akan segera dilepas, kalau ia tidak terlibat kasus bom,"
kata Bagus.(tun)
To Indek:
[INLINE]
Mahasiswa Sedekah Doa untuk Safwan
SIGLI - Ratusan mahasiswa Perguruan Tinggi Al-Hilal Sigli Kabupaten
Pidie, secara massa menyedekahkan doa kepada almarhum Prof Safwan
Idris MA, yang meninggal karena ditembak di rumahnya beberapa hari
lalu. Doa bersama digelar di halaman Masjid Agung Al-Falah Kota Sigli,
Kamis (21/9).
Kegiatan itu, dalam rangka mengenang dan mengingatkan kembali kepada
seorang tokoh Aceh yang dibunuh secara sadis oleh musuh Allah.
"Kegiatan itu dalam rangka menyedekahkan doa kepada almarhum Tgk
Safwan," kata Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Al-Hilal, Zamzami SY.
Acara doa bersama, kata Zamzami, diikuti sekitar 200 mahaiswa dari
perguruan tinggi swasta tersebut. Selain itu, sejumlah dosen yang
mengajar di perguruan tinggi tersebut, juga bersama mahasiswa
melaksanakan doa untuk rektor IAIN Ar-Raniry tersebut. Para mamahiswa
dengan khusyu' dan ikhlas membaca tahlil dan samadiah.
Mulanya, tambah Zamzami, doa bersama itu akan digelar di dalam masjid.
Karena, adanya ratusan calon jamaah haji yang sedang mendengar
ceramah, maka kegiatan doa bersama terpaksa digelar di halaman masjid.
"Doa bersama di halaman masjid ternyata lebih khusyu'," tambah
Zamzami.
Di alam terbuka para mahasiswa dan dosen membaca doa untuk Safwan
Idris. Sekitar satu jam lebih mereka berada di halaman masjid
kebanggaan masyarakat Pidie. "Kegiatan ini hanya berlangsung secara
spontan dan hanya sebagai rasa solidaritas terhadap peristiwa yang
menimpa seorang tokoh," kata Zamzami.(tun)
To Indek:
[INLINE]
Korban Insiden Teumpen Dikubur di Stabat
LANGSA - Dua penduduk sipil yang ditangkap pasca kontak senjata antara
TNI/Polri dengan Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) di Desa Teumpen
Kecamatan Peureulak, Selasa (19/9) lalu, akhirnya tewas dan dikubur
dalam lubang tua di Stabat Lama Tanjung Beringin.
Hal itu dikemukakan Ketua FP HAM Aceh Timur, M Jusuf Puteh, mengutip
keterangan Ansarullah Hamid yang ikut dikuburkan dalam lubang yang
sama, tapi berhasil menyelamatkan diri.
Ekses dari peristiwa Teumpen itu menyebabkan kakek berusia 70 tahun,
Umar Thaib, penduduk desa Beringin Peureuak Barat, tertembak dan kini
masih dirawat di RSU Langsa.
Selepas kontak senjata, aparat menangkap empat warga sipil lainnya
masing-masing A Rani Rasyid (32), M Gade (35), dan Zulkifli (13),
penduduk Paya Gajah. Sedangkan satu orang lagi, Ansarullah Hamid (33)
berasal dari Desa Beringin.
Berdasarkan pengaduan keluarganya ke FP HAM, keempat warga sipil itu
ditahan aparat dan dibawa ke Idi Rayeuk. Namun informasi terkahir
diperoleh FP HAM dari Ansarullah Hami, dua rekannya masing-masing A
Rani Rasyid dan M Gade telah meninggal dunia. Kedua korban dikubur
dalam lubang tua di Stabat Lama Tanjung Beringin Dusun Sukajadi.
Sementara Zulkifli yang berusia 13 tahun itu belum diketahui nasibnya.
Ansarullah Hamid mengatakan ia bersama kedua rekannya, almarhum A Rani
Rasyid dan M Gade itu dikubur bareng di lubang tua itu. "Namum
Ansarullah berhasil selamat dan kini masih dirawat di sebuah rumah
sakit," kata Jusuf Puteh.
Mengenai ekses insiden Teumpen itu telah dilaporkan FP HAM kepada
Kapolres dan Dandim 0104 Aceh Timur secara tertulis yang ditindihkan
kepada Bupati Aceh Timur dan Ketua FP HAM Aceh di Banda Aceh.
FP HAM meminta kepada Kapolres dan Dandim agar memberikan perlindungan
dan keselamatan kepada Ansarullah Hamid dan mencari mayat kedua
rekannya di Stabat Lama untuk dikebumikan secara layak. "Begitu juga
mengenani nasib Zulkifli, hendaknya kedua penanggungjawab keamaman itu
patut mencari informasi keberadaan anak tak berdosa itu," ujar Nek
Suh, panggilan akrab Jusuf Puteh. M Jusuf Puteh juga menyatakan
keprihatiannya, konflik yang dibarengi kontak senjata antara aparat
keamanan dengan AGAM telah menimbulkan banyak korban. Terutama rakyat
tak berdosa. Jika konflik di antara kedua pihak ini terus berlanjut,
diperkirakan tidak ada lagi jaminan hidup rakyat Aceh di negerinya
sendiri.
Pada kesempatan ini, ia mengharapkan pada kedua pihak, baik TNI/Polri
maupun AGAM, bila terjadi kontak senjata hendaknya rakyat jangan
dikorbankan. "Rakyat itu tidak tahu apa-apa jangan terus dijadikan
korban," pintanya.(tim)
To Indek:
[INLINE]
DPR-RI akan Panggil Pimpinan Aswaja
Bila Presiden Terlibat, Pemerintah Jatuh
JAKARTA-Ketua Pansus Hak Angket DPR terhadap kasus Bulogate dan
Bruneigate, Bachtiar Chamsyah mengatakan, kalau Presiden Abdurrahman
Wahid terlibat dalam kasus tersebut, maka pemerintah akan jatuh.
"Kalau presiden mengetahui tetapi tidak mencegahnya berarti pidana.
Itulah konsekuensinya Pansus Hak Angket DPR terhadap presiden sesuai
UU Hak Angket," kata Bachtiar menjawab wartawan di Jakarta, Kamis
(21/9).
Menurut Bachtiar, persiapan pansus yang akan digelar pada masa sidang
DPR mendatang, tidak merasa mendapat beban berat sekalipun angket DPR
terkait dengan Presiden dalam kasus dana Yanatera Bulog Rp 35 milyar,
dan dana bantuan Sultan Brunei 2 juta dolar AS.
Ketua Komisi V DPR itu mengatakan, langkah awal Pansus adalah akan
memanggil pihak Bank Indonesia guna dimintai keterangan mengenai
aliran dana Bulogate dan Bruneigate.
Sedangkan pejabat-pejabat yang sudah pasti akan dipanggil pansus
diantaranya Gubernur Aceh, pimpinan Yayasan Aswaja Aceh dan sejumlah
LSM di Aceh, yang katanya menerima bantuan tersebut.
"Pokoknya siapa yang menerima bantuan itu kita panggil," kata
Bachtiar.
Perlunya Pansus DPR memanggil gubernur Aceh karena keluarnya dana
Yanatera Bulog dan bantuan Sultan Brunei, tidak terlepas dari alasan
mengatasnamakan untuk kepentingan rakyat Aceh.
"Selain itu pansus juga akan memanggil mantan Kapolri Roesdihardjo dan
Kapolri, serta penggantinya, guna menanyakan tindak lanjut aparat
mencari Suwondo yang sampai sekarang belum tertangkap," ujarnya.
Persiapan pansus hak angket, kata Bachtiar, juga akan mengundang pakar
hukum tata negara guna dimintai pendapatnya tentang sikap dewan untuk
memanggil Sapuan, yang kini sudah menjadi terdakwa, guna menyampaikan
penjelasannya soal Bulogate.
"Maksud mengundang para pakar hukum itu, agar pansus dapat membedakan
batas-batas wewenang pansus meminta penjelasan kepada Sapuan,"
ujarnya.
Selain itu, para pakar itu juga akan diminta pendapatnya tentang
batas-batas wewenang presiden yang bisa mengatakan menerima bantuan
dari negara luar atas nama pribadi presiden. (son)
To Indek:
[INLINE]
Mahasiswa Kecam Kerja Aparat
Banda Aceh - Mahasiswa dan aktivis NGO yang ada di Kota Banda Aceh
mengecam cara kerja aparat yang menculik dua aktivis SIRA, yakni
Muhammad Saleh dan Muzakkir. Sebab aparat hanya mengenakan baju sipil
serta tidak sesuai prosudur. Pernyataan sikap bersama itu
ditandatangani 14 kelompok mahasiswa dari berbagai organisasi dan LSM.
Di antaranya, Otto Syamsuddin Ishak (Cordova), Martunis Yahya
(Yadesa), De Ronnie (La-Kaspia) dan lainnya. Isi pernyataan sikap
bersama itu antara lain mengecam keras cara premanisme yang dilakukan
aparat kepolisian dalam menagkap warga sipil. Para aktivis kemanusiaan
itu menilai penangkapan tersebut adalah upaya sistematis aparat negara
untuk mempersempit ruang gerak masyarakat sipil di Aceh.(*)
----- End of forwarded message from John A MacDougall -----