X-URL: http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2000/9/18/n2.htm
Masyarakat jangan Terjebak ''Dokumen W''
Jakarta (Bali Post) -
Beredarnya ''Dokumen W'' yang memuat target-target kerusuhan dan
pengeboman di beberapa wilayah Tanah Air, tidak perlu dikhawatirkan
dan sampai meresahkan masyarakat. Sebab, dokumen itu tidak bisa
dipertanggungjawabkan kebenarannya, lantaran tak jelas dari mana
sumber dan siapa yang bertanggung jawab. Tidak terbongkarnya
kasus-kasus peredaran dokumen yang sangat tidak bisa dipercaya seperti
itu akibat lemahnya jaringan dan kualitas dari intelijen Indonesia.
Wakil Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Etika Politik dan
Pemerintahan Hamid Awaluddin, Ph.D. dan anggota DPR dari Fraksi PDI-P
Ni Gusti Ayu Eka Sukmadewi sepakat mengatakan hal itu ketika dihubungi
Bali Post di Jakarta, Minggu (17/9) kemarin. ''Saya amat tidak yakin
dengan kebenaran dokumen itu. Kemungkinan besar itu hanyalah umpan
yang diberikan agar memancing isu dan meresahkan masyarakat. Tujuannya
jelas, agar kepentingan politiknya bisa tercapai,'' kata Hamid.
Sukmadewi mengatakan, kelemahan intelijen yang menyebabkan kasus demi
kasus terus terjadi dan tak pernah tuntas. Selain itu, katanya, Gus
Dur harus menghemat komentar yang tak perlu. Sebab, katanya, ''Gus Dur
itu sekarang kapasitasnya sebagai presiden dan tiap ucapannya sangat
berimplikasi politik. Kalau beliau tidak mengerem ucapannya, kita bisa
susah keluar dari krisis.''
Lebih lanjut kata Hamid, banyaknya isu yang telah beredar selama ini
tak satu pun ada yang benar. Paling tidak, katanya, ''Tidak ada
institusi maupun lembaga yang mengakui atau secara nyata terbukti
bahwa mereka yang mengeluarkan dokumen itu.''
Pakar hukum ini juga menilai, tidak terbongkarnya kasus-kasus
peredaran dokumen yang sangat tidak bisa dipercaya itu disebabkan
lemahnya jaringan dan kualitas dari intelijen Indonesia. Lebih dari
itu, ia juga mengungkapkan, lemahnya intelijen kita bisa diukur
dari kasus-kasus kekerasan yang nyata-nyata terjadi dan semuanya tak
terungkap.
Hamid menyarankan, agar kasus-kasus serupa tak muncul lagi, intelijen
harus diperkuat dan untuk menghindari konflik yang terus
berkepanjangan elite politik harus menahan mengeluarkan statemen dan
komentar yang tidak perlu. ''Ini bisa dimulai dari Gus Dur, beliau
harus bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan komentar yang tidak
produktif. Sebab, itu bisa menimbulkan kontra produktif,'' ujarnya.
Sementara itu, seorang sumber di TNI-AD mengatakan, sebetulnya
selebaran-selebaran ''Dokumen W'' yang beredar belakangan ini dibuat
oleh kelompok yang tidak suka dengan W. Kelompok itu memang sangat
kental mengkristal di TNI-AD. Tetapi jenderal bintang dua yang
enggan disebut jati dirinya ini tidak mau mengatakan, kalau
friksi-friksi di TNI-AD telah begitu kuatnya, karena kelompok yang
selama ini membuat TNI terkotak-kotak adalah kelompok A tersebut.
Untuk itulah, salah satu asisten Kasad ini meminta masyarakat tidak
terjebak dengan isi-isi ''Dokumen W'' tersebut. (kmb2/032)
*****************
Check out the now active INDONESIA-DOCS and INDONESIA-POLICY lists
available from Indonesia Publications' homepage: http://www.indopubs.com
*****************