X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0009/18/iptek/bape10.htm
>Senin, 18 September 2000
Bapedalda: Pecemaran Kali Surabaya Disengaja
Surabaya, Kompas
Badan Pengendali Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Jawa Timur
menduga ada pihak yang sengaja mencemari air Kali Surabaya dengan
membuang limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Meski demikian,
sampai sejauh ini instansi tersebut belum memperoleh nama zat racun
penyebab mungut (mabuknya) ikan di kali tersebut beberapa waktu lalu.
Demikian Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Bapedalda Jatim,
Antoro HS di Surabaya, Sabtu (16/9). Adanya unsur kesengajaan itu
menguat setelah Bapedalda memperoleh hasil uji mutu air baku PDAM yang
dilakukan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Surabaya 5-7
September lalu.
Limbah B3 itu, kata Antoro, dibuang oleh pihak ketiga yang tidak
bertanggung jawab di alur Kali Marmoyo dekat Pabrik Gula (PG)
Gempolkerep Mojokerto. Lokasi tepatnya sebelum pabrik kertas Adiprima
Suraprinta Gresik.
Sangat kuat
Keterlibatan pihak ketiga ini sangat kuat, karena dari titik-titik
pengambilan sampel air, biological oxygen demand (BOD) dan disollved
oxygen (DO)-nya. Sebab, setelah arus Kali Marmoyo bertemu dengan arus
Kali Surabaya (anak Sungai Brantas), kadar BOD-nya naik drastis.
Padahal, tambah Antoro, air Kali Brantas yang masuk ke Kali Surabaya
debitnya lebih besar dibandingkan dari Kali Marmoyo. Seharusnya ia
mampu menetralisir racun yang berasal dari Kali Marmoyo, akan tetapi
hal itu ternyata tidak terjadi. "Kesimpulannya, proses pencemaran air
dengan cara meracuni dilakukan secara sistematis. Akibatnya banyak
ikan mati di sepanjang Kali Mas hingga Ngagel," katanya.
Menanggapi dugaan tersebut, Mirna Y selaku Koordinator Kelompok
Pemerhati Lingkungan Ecological Observation and Wetland Conservation
(Ecoton) mengatakan, mabuknya ribuan ikan di Kali Surabaya awal
September lalu merupakan kejadian terbesar sepanjang tahun 2000.
Distribusinya pun terpanjang, mulai dari Perning Mojokerto hingga Kali
Mas Surabaya. "Mabuknya ikan diindikasikan karena kegiatan industri di
sepanjang bantaran Kali Mas," kata Mirna.
Ecoton justru menyayangkan upaya pemerintah yang kurang serius dalam
menangani kasus pencemaran. Padahal Bapedalda Jatim telah mendapat
hibah dari Australia senilai Rp 45 milyar untuk menangani masalah
lingkungan. "Hibah itu tidak berarti apa-apa karena Bapedalda sama
sekali tidak ada action-nya," tegas Mirna. (eta)
*****************
Check out the now active INDONESIA-DOCS and INDONESIA-POLICY lists
available from Indonesia Publications' homepage: http://www.indopubs.com
*****************