[INDONESIA-L] CANADI - E Pluribus Unum dan Sydney 2000

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Sun Sep 17 2000 - 09:19:59 EDT


From: "gen chanady" <canadi01@hotmail.com>
To: apakabar@saltmine.radix.net
Subject: canadi : E Pluribus Unum dan Sydney 2000
Date: Sun, 17 Sep 2000 05:11:34 GMT

September 18, 2000

Canadi : E Pluribus Unum dan Sydney 2000

Semalam saya mengikuti acara TV NBC ttg pembukaan olimpiade 2000 di Sydney,
Australia. Apa yang menarik perhatian saya adalah pengakuan masyarakat
Australia terhadap kaum MINORITAS-nya, terutama suku asli Australia (
aborigin ). Dengan acara pembukaan yang merefleksikan impian sigadis cilik
NIKKI yang bertemu dgn suku minoritas Australia tsb sampai dengan pemberian
tempat yang terpenting thd atlit keturunan asli Australia untuk menyalakan
api olimpiade Sydney.

Catatan : di-olimpiade Atlanta yang lalu, boxer USA Muhamad Ali-lah yang
mendapat kedudukan kehormatan untuk menyalakan api olimpiade Atlanta di USA
th 1996 – harap dicatat Muhamad Ali adalah juga seorang MINORITAS, dia
seorang Black American yang juga beragama ISLAM ( Minoritas Etnis yang juga
Minoritas Agama ) – Tetapi toh, negara dan rakyat Amerika mempunyai
kebesaran HATI dan kebesaran JIWA untuk mengakui kaum MINORITAS-nya –
Bukannya malahan ditekan, di-intimidasi, dibunuh, di-takut2i, diancam,
difitnah spt apa yang dilakukan HITLER setengah abad yang lalu dan apa yang
sekarang sedang di-ulangi oleh mereka yang menamakan diri-nya LASKAR JIHAD
dan kaum Agama Fanatik terhadap kaum MINORITAS di Indonesia, baik Minoritas
Agama maupun Minoritas Etnis.

Apa yang ingin saya tekankan adalah perbedaan yang kontras antara
perkembangan dunia internasional dan perkembangan sosial budaya yang
menyangkut kaum minoritas di Indonesia. Apa yang saya perhatikan adalah
suatu perkembangan yang BERTENTANGAN, BERTOLAK-BELAKANG dan MELAWAN ARUS
perkembangan jaman dan perkembangan dunia di-abad ke-21 ini.
Saya akan mencontohkan didalam 3 topic : San Francisco 2000, Sydney 2000 dan
Indonesia 2000.

SAN FRANCISCO 2000

Minggu lalu saya ber-jalan2 ke China Town-nya San Francisco, kira2 40 menit
dari tempat saya tinggal. China Town di San Francisco adalah yang terbesar
di Amerika Utara, disusul oleh Toronto dan Vancouver di Canada (kalau tidak
salah). Toko2 dan restaurant terbentang sepanjang jalan Grant Ave., kira2
sepanjang 2 km.

Minggu lalu, jalan Grant Ave. tsb ditutup untuk kendaraan bermotor, dan
pedagang2 pun membuka stand di-tengah2 jalan Grant Ave. tsb., sepanjang
jalanpun digunakan oleh pedagang, pembeli dan turist untuk merayakan hari
tsb., saya tidak tau hari besar apa yang dirayakan hari itu, tapi saya
ngikut saja, sambil berbelanja, mengamati, merenung, dan berpikir.

Tiba2, dari ujung sana terdengar suara genderang (tambur) dan muncullah tiga
Barongsai (tarian Singa hari raya imlek) yang sambil bersilat, bergerak
sepanjang jalan Grant Ave. dari Utara ke Selatan. Belum habis rasa kekaguman
saya, juga secara tiba2 munculah si NAGA ( LIONG ) dari sebuah persimpangan
jalan. Naga ini ditarikan oleh kira2 8 s/d 10 orang. Ketika si Liong (Naga)
dan si Barongsai (Singa) bertemu diperempatan jalan, mereka berempat-pun
menari dan bersilat diperempatan jalan tsb. Kendaraan dan Tram kota pada
berhenti, para turis pada berebut memotret kejadian / event tsb. dan sayapun
begitu gembiranya spt kanak2.

Renungan saya flash back kemasa kanak2 saya ketika mengikuti si Naga di
pasar malam Sriwedari di Solo dulu. Waktu itu saya berlibur dari Surabaya ke
Solo, ikut emak (ibu dari ibu) saya, dan malam itu emak saya beserta
kakaknya (dari Semarang) dan saya ke Sriwedari. Ketika muncul si Naga,
saya begitu terpesonanya sehingga terus-menerus menarik tangan emak saya
mengikuti kemanapun si-Naga bergerak, sampai kakak emak saya ini habis
sabarnya dan sayapun dibentak : Koe bocah iki kok karepe dewek, sing tuo2
iki dikonkon melok terus ! (artinya : He, kamu anak kok maunya sendiri, yang
tua2 ini kok terus disuruh menurut maumu! ) – Maka, dgn rasa kecewa saya
terpaksa mengikuti kata2 sang diktatur, mau apa lagi?

Ketika saya bertemu dgn si Naga dan si Singa si San Francisco ini, tanpa
sadar saya mengikutinya sepanjang jalan, dari utara ke selatan, kembali ke
utara lagi, sedangkan kenangan saya kembali bernoltalgia ke-masa kanak2
saya, hidup di suatu Indonesia yang lain, Indonesia yang tidak membedakan
kaum MINORITAS-nya, Indonesia yang belum dikotori oleh ideologi2 “anti
minoritas”, Indonesia yang ber-BHINEKA TUNGGAL IKA”, Indonesia yang ber-E
PLURIBUS UNUM, suatu Indonesia yang manis untuk dikenang…

Dipinggir suatu jalan berdiri sederetan Chinese American mengenakan pakaian
adat kuno spt dalam cerita2 Sam Kok, Sie Jin Kui dsb. Saya berhenti dan
melihati pakaian adat tsb dgn rasa pesona, spt seorang desa yang baru datang
kekota – pikir saya, inikah pakaian yang dulu dikenakan nenek moyang saya?
Lucu juga!
Ada turis rupanya dari Greece (yunani), berhenti dan berpotret dgn mereka
ini, habis itu dia mengatakan thd sigadis chinese American dlm pakaian adat
tsb :”you are very beautiful” – Dan sayapun belajar mengenali “kekayaan
suatu budaya”, walaupun budaya tsb sudah lama sirna, “to learn to see beyond
what you see” ( belajar melihat menembus apa yang dilihat oleh mata
telanjang kita).

Disuatu persimpangan jalan yang lain saya lihat sebuah panggung yang sedang
mempresentasikan beberapa acara, dan sayapun berhenti untuk nonton. Acara
demi acara silih berganti, walaupun acaranya diselenggarakan oleh para
pedagang di china-town, tetapi para pembawa lagu datang berasal dari
berbagai etnis dan budaya, dari Filipina, Spanish American, dari Black
American, dari Hong Kong, dari Texas (lagu country music), si Filipino
membawakan lagu Elvis Presley ( Falling in Love with You ), si pengacara
Chinese American menutup acaranya dgn lagu “Time to say Good-bye” (?, saya
lupa). Acara selanjutnya adalah acara gendang /tambur dari Japanese
American, walaupun saya tidak mengerti arti atau makna dari seni-gendang
tsb, tetapi ada suatu yang menarik perhatian saya, yaitu setiap acara selalu
merefleksikan fungsi social / group / kebersamaan – yang ditonjolkan adalah
KITA-nya, bukan SAYA-nya, dan disini saya lihat perbedaan antara budaya
TIMUR dan BARAT. Ke-dua2nya mempunyai sisi2 plus dan minus-nya, jadi yang
terbaik adalah mengombinasikannya menjadi suatu harmoni.

Jam 5 sore saya harus pulang, walau acara belum selesai.
Saya belajar mengenali KEKAYAAN suatu BUDAYA, karena budaya adalah hasil
perkembangan suatu masyarakat dalam mengadaptasi perkembangan jamannya.
Saya belajar mengenali suatu SISTEM, dimana kaum MINORITAS dgn segala
BUDAYA-nya diberi KEBEBASAN untuk memeliharanya dan mengekspressikannya.
Amerika adalah negara pendatang (immigran) dan setiap pendatang membawa
BUDAYA-nya memperkaya budaya yang telah ada – Dan pendiri negara inipun
telah membangun fondasi atau KONSEP untuk mempersatukan para pendatang
/immigran tsb menjadi hanya SATU BANGSA. Fondasi tsb berbunyi E PLURIBUS
UNUM, yang artinya kira2 UNITY IN DIVERSITY ( persatuan didalam ke-majemukan
= Bhineka Tunggal Ika ), yang melindungi setiap BUDAYA MINORITAS membentuk
hanya SATU BANGSA.

SYDNEY 2000

Saya melihat TIGA hal didalam acara pembukaan olimpiade Sydney kemarin :

1) Pemerintahan Australia yang MULAI MENGHARGAI, MEMENTINGKAN dan
MEMBANGGAKAN BUDAYA dari SUKU asli Australia ( MINORITAS) dgn memberi ekspos
terpenting untuk atlit putri dari suku asli Australia (aborigin), yang
merupakan kaum MINORITAS dinegaranya sendiri.

2) Dunia abad ke-21 ini penuh dgn ANEKA RAGAM BANGSA dan BUDAYA, spt kita
lihat para atlit dari berbagai negara dgn berbagai pakaian adat mereka.
Dengan adanya PBB (Perserikatan Bangsa2) dll global organisasi, rasanya
dunia abad ke-21 ini mencerminkan “cara hidup bersama dari bangsa2 dgn
berbagai budaya”, artinya kehidupan bersama dengan menghargai berbagai
BUDAYA tetangganya.

Rasanya TIDAK AKAN ADA TEMPAT buat kelompok yang hanya mementingkan
GOLONGAN-nya sendiri, AGAMA-nya sendiri, dll.
Bangsa2 semacam itu akan dikucilkan oleh dunia Internasional, dan tidak ada
suatu bangsapun yang dapat SURVIVE seorang diri didunia ini.

INDONESIA 2000

Seperti saya refleksikan diatas, perkembangan bangsa2 didunia ditahun 2000
ini menuju kehidupan BERSAMA, BERTOLERAN satu dgn lainnya, artinya BELAJAR
MENGHARGAI BUDAYA ORANG LAIN, AGAMA ORANG LAIN, CARA HIDUP ORANG LAIN, dsb.
Juga, negara2 yang dahulunya mendiskriminasikan golongan MINORITAS-nya,
sekarang malahan kelihatan tendensinya MENGAKUI HAK2 KAUM MINORITAS-nya.

Menengok situasi di Indonesia, kita jadi prihatin, kok malahan kaum
minoritasnya, ditekan, di-intimidasi, dihasut, dibenci, dipojokan,
di-kambing-hitamkan, dsb.,dsb…
Melihat hal2 seperti ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Negara dan Bangsa
Indonesia bukan saja dilanda krisis EKONOMI, POLITIK tetapi juga krisis
SOSIAL dan BUDAYA, dan hal ini, kalau terus menerus dibiarkan, akan menuju
kearah perpecahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Saya heran, kenapa orang2 yang mengacau tsb tidak ada secumitpun rasa
sayangnya melihat Negara yang sebenarnya kaya dan sangat strategis ini
diambang pintu perpecahan? Apakah karena suatu harta / uang / bisnis ?
ataukah karena kepentingan kelompoknya ?

Tetapi yang harus diamati adalah kelompok ideologis yang mencoba merubah
negara Indonesia menjadi suatu negara lain, kelompok yang bertujuan merubah
IDENTITAS bangsa Indonesia yang bersifat MAJEMUK ini – karena menurut
pengamatan saya, kelompok ini TIDAK PEDULI apakah negara-nya jatuh bangun,
ekonominya kacau-balau, rakyatnya saling bunuh, dsb. – pokoknya tujuan akhir
kekuasaan jatuh ketangan mereka.

Masih untung kita mempunyai pemimpin2 spt Gus Dur dan Megawati, yang kita
tau dgn pasti bahwa mereka benar2 memperjuangkan rakyat Indonesia dari
Sabang sampai Merauke. Mereka melihat bangsa Indonesia dari
ke-MAJEMUK-annya, BUKAN dari ke-MAYORITAS-annya.
Maka tidaklah heran, bahwa banyak dari kalangan rakyat jelata, baik Islam
maupun bukan, dari kalangan kaum cendekiawannya ( Islam, Kristen, dll)
mendukung sang president kiai ini.

PENUTUP

Sebagai penutup saya ingin menekankan, bahwa perkembangan “menekan kaum
minoritas” adalah bertentangan dgn perkembangan dunia beradab dan dunia
Internasional yang hanya akan merusak nama baik Indonesia di-dunia
Internasional – Maka dari itu setiap warga bangsa, baik mayoritas maupun
minoritas harus berusaha memperbaiki hubungannya yang DIRUSAK oleh
sekelompok petualang politik dan petualang ideology dengan mengatas-namakan
golongan mayoritas.

Bahwa dasar negara pancasila dgn “Bhineka Tunggal Ika”-nya merupakan
IDENTITAS BANGSA INDONESIA yang bersifat MAJEMUK – tetapi membentuk HANYA
SATU BANGSA. Saya yakin pengelola slogan identitas tsb (Bung Karno) mungkin
terilhami oleh dasar negara Amerika Serikat yang bunyinya “E Pluribus Unum”
yang artinya sama, BERSATU DIDALAM KE-MAJEMUK-AN ( Unity in Diversity ), dan
kalau dasar negara (atau slogan?) tsb telah dipakai dgn berhasil oleh negara
Amerika Serikat untuk menyatukan kaum minoritas immigrannya selama 200 tahun
lebih, dan tetap ampuh memasuki abad ke-21, tentunya dasar negara / slogan
tsb juga akan ampuh menyatukan bangsa Indonesia dari ancaman perpecahan
BUDAYA dan IDENTITAS BANGSA saat2 ini.

Dan, buat mereka yang masih buta atau membutakan diri thd realitas
perkembangan bangsa2 diabad mendatang ini, silahkan menengok ke olimpiade
Sydney – terutama diacara pembukaan dan penutupannya. Marilah kita belajar
melihat kekuatan2 apa yang sedang membentuk tata struktur perkembangan
bangsa2 didunia diabad ke-21 ini.
Let us learn to see beyond what we see !

Canadi
Canadi01@hotmail.com

----- End of forwarded message from gen chanady -----

---
Email all postings in plain text (ascii) to apakabar@radix.net
INDONESIA-L - <http://www.indopubs.com/archives>
INDONESIA-NEWS - <http://www.indopubs.com/parchives>
INDONESIA-VIEWS - <http://www.indopubs.com/varchives>
INDONESIA-POLICY - <http://www.indopubs.com/tarchives>
INDONESIA-DOCS - <http://www.indopubs.com/darchives>
SEARCH CURRENT POSTINGS - <http://www.indopubs.com/search.html>
SEARCH YEAR 2000 POSTINGS - <http://basisdata.esosoft.net>
SEARCH 1990-1999 POSTINGS - <http://basisdata.esosoft.net/search-all.html>
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---