X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0009/16/UTAMA/pres01.htm
>Sabtu, 16 September 2000
Berkaitan dengan Bom di BEJ
Presiden: Periksa Tommy Soeharto
Jakarta, Kompas
Presiden KH Abdurrahman Wahid hari Jumat (15/9) kemarin memerintahkan
pihak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk segera memeriksa
Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) dan Habib Ali Baaqil.
"Saya sudah perintahkan dalam sidang kabinet kemarin (Kamis 14/9-Red)
untuk menangkap Tommy Soeharto," kata Presiden dalam dialog dengan
jemaah, seusai shalat Jumat di Masjid Al Musyawarah Kelapa Gading,
Jakarta Timur. Tepuk tangan jemaah terdengar ketika Presiden
memerintahkan untuk menangkap Tommy.
"Diperiksa, tetapi belum tentu salah lho, ya. Tetapi kami anggap cukup
alasan untuk menangkap. Untuk menghindari kejadian-kejadian seperti di
Bursa Efek Jakarta (BEJ). Kasihan rakyat kecil. Korbannya itu rakyat
kecil-kecil, bukan orang gede," tambah Presiden. Korban peledakan bom
di BEJ sebanyak 10 orang.
Sore harinya, Presiden mengulangi pernyataan itu, seusai menjenguk
para korban luka akibat ledakan bom di Gedung BEJ, yang dirawat di
Rumah Sakit Pusat Pertamina Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. "Kami
punya bukti-bukti untuk menangkap Tommy," ujar Presiden menjawab
wartawan asing.
Hingga pukul 22.30, suasana di Jalan Cendana sepi. Ruas Jalan Cendana
hingga pertigaan Jusuf Adiwinata ditutup. Kendaraan tak boleh masuk.
Sementara di depan rumah Tommy tampak dijaga oleh orang-orang
berpakaian preman. Mereka main kartu di depan rumah. Beberapa orang
ngobrol di warung. Mereka mengaku akan berjaga semalaman.
Jaksa Agung Marzuki Darusman kepada Kompas mengemukakan, dalam sidang
kabinet hari Kamis, Presiden memang menyebutkan kemungkinan terkaitnya
orang-orang tertentu dalam peledakan bom di BEJ. "Jadi, pernyataan
Presiden untuk menangkap Tommy harus dilihat dalam konteks itu," kata
Marzuki.
Persepsi publik selama ini, menurut Marzuki, juga mengarah kepada
kelompok-kelompok tertentu itu. "Pemeriksaan Tommy juga dalam rangka
investigasi lebih jauh, sejauh mana kebenarannya," demikian Marzuki.
Ketua PBHI Hendardi mendukung sikap tegas Presiden Wahid. "Dengan
menyebutkan nama, bisa diasumsikan Presiden memang telah memiliki
beberapa petunjuk awal yang mencukupi untuk melaksanakan proses hukum
kepada mereka. Polri tidak usah ragu-ragu," kata Hendardi.
Pernyataan terbuka Presiden Wahid terhadap seseorang yang terkait
kasus pidana sebelumnya pernah dilontarkan atas diri Tommy Winata
selaku pemilik kapal judi. Namun, pernyataan Presiden Wahid itu
kemudian dikoreksi pembantu-pembantunya.
Pertanyaan orang
Pernyataan Presiden soal penangkapan Tommy berawal dari pertanyaan
seorang pemuda yang mengaitkan soal sidang pengadilan Soeharto dengan
aksi pengeboman itu. Pemuda itu juga menyinggung soal demonstrasi
mahasiswa yang minta Soeharto diadili, tetapi mereka justru mendapat
hantaman dari para pendukung mantan pemimpin Orde Baru itu.
Menanggapi pertanyaan itu, Presiden secara tidak langsung mengingatkan
kekuatan Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) yang
bisa membantu para mahasiswa dan mereka yang mencari keadilan.
Presiden antara lain mengatakan, pendukung Soeharto memang masih
banyak.
"Dan mereka itu bukan kayak Anda gembel-gembel begini, tetapi mereka
adalah orang-orang yang punya duit. Coba lihat kemarin, mahasiswa
Famred digebukin. Karena itu, tadi, saya telepon kepada Saudara
Syaifullah Yusuf (Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor yang
membawahi Banser-Red). Ful, saya panggil begitu wong dia keponakan
saya, kalau orang lain bisa menjadi pendukung kelompok Soeharto, itu
ngapain Banser? Tidur saja," demikian Presiden, disambut tepuk riuh
jemaah.
"Ya, itulah contohnya. Saya tidak menganjurkan perkelahian. Tetapi
orang, kan, bebas menyatakan pendapat. Karena itu, jangan khawatir
para mahasiswa dan seluruh masyarakat di belakang upaya mencari
keadilan. Anda mau mendukung saya atau tidak, sama saja, Indonesia
akan tetap jaya," papar Presiden dalam dialog yang dipandu Kepala
Protokol Istana Wahyu Muryadi.
Sementara itu, Syaifullah Yusuf ketika dihubungi Jumat malam masih
belum bisa banyak berkomentar. Dikatakan, pihaknya masih melihat
perkembangan dan akan berkonsultasi dengan Presiden.
Belasungkawa
Presiden mengeluarkan pernyataan simpati kepada para korban dan
keluarganya serta menyatakan belasungkawa sedalam-dalamnya bagi
keluarga yang ditinggalkan para korban tewas akibat pengeboman di BEJ.
Pernyataan ini juga dikeluarkan Presiden, kemarin pagi, sesaat setelah
menjenguk Dubes Filipina Leonidas T Caday (70), korban peledakan bom
di depan tempat tinggalnya di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, 1
Agustus lalu, yang kini masih dirawat di RS Medistra.
Di RS Medistra, Presiden menyatakan, dalam waktu satu dua hari ini
pemerintah akan mengambil tindakan drastis dan tegas untuk mencegah
aksi pengeboman lagi. Menurut dia, aksi pengeboman itu juga tertuju ke
tempat-tempat lainnya. "Jadi, tunggu tanggal mainnya," ujarnya.
Presiden menduga keras pengeboman di Kejaksaan Agung, Gedung BEJ dan
tempat lainnya saling berkaitan. "Saya mau jujur saja. Terbuka saja
sama rakyat sendiri ini. Kenapa sih setiap kali Pak Harto mau dibawa
ke pengadilan, kok, ada ribut-ribut? Ini pertanyaan. Boleh-boleh saja,
kan. Kenapa? Karena kejadian itu lho. Perkara kita bisa cari bukti
atau tidak, itu soal lain. Sebab, itu sedang diupayakan. Kita harus
bersikap tegas dan keras membela hukum, terutama menjaga rakyat supaya
tidak panik," demikian katanya.
Jaksa Agung Marzuki Darusman mengemukakan, upaya penyelidikan Polri
dalam beberapa kali kasus bom selalu kandas. Ada persepsi publik,
setiap akan memasuki wilayah militer, pintu penyelidikan tertutup.
Dua bom
Soal peledakan bom di Gedung BEJ, sejauh ini polisi sudah meminta
keterangan dari 10 saksi yang pada saat kejadian berada di lokasi.
Pekan depan, polisi akan meminta keterangan dari 26 korban yang
terluka dan sempat dirawat di rumah sakit. Dari para saksi itu
diharapkan diperoleh informasi mengenai tersangka pelaku peledakan.
Berdasarkan saksi yang sudah dimintai keterangan, polisi memperkirakan
sumber ledakan berada di bawah sebuah sedan Toyota Mark II dan sebuah
Toyota Kijang. Karena itu, kata Kepala Direktorat Reserse Polda Metro
Jaya Senior Superintendent Harry Montolalu, saat itu diduga kuat ada
dua bom yang meledak bersamaan.
Selain menemukan serpihan bagian bom, petugas polisi juga menemukan
sejumlah selongsong peluru M16 dan sebuah topi militer di lokasi
peledakan bom di areal parkir lantai P2 gedung terkait. Namun, Kepala
Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri Brigjen (Pol) MA Erwin
Mappaseng meminta hal itu tidak diperbesar. "Kita belum tahu apakah
potongan selongsong peluru itu ada kaitannya dengan pengeboman,"
katanya.
Montolalu menambahkan, penemuan selongsong peluru itu tidak akan
mempengaruhi penyelidikan dan penyidikan. Sebab tidak tertutup
kemungkinan selongsong peluru itu sengaja dibuang untuk mengecoh
penyidikan polisi. "Malah bisa jadi itu sengaja ditaruh untuk mengadu
domba antara kami dengan TNI," katanya.
Sampai Jumat petang, petugas Puslabfor masih terus bekerja
mengumpulkan serpihan-serpihan di lokasi kejadian. Sementara itu,
sejumlah mobil di lantai P2 yang sehari sebelumnya belum boleh diambil
pemiliknya kemarin mulai dikeluarkan.
Datang ke Polda
Kemarin sore, Habib Ali Baaqil langsung menghubungi Kepolisian Daerah
(Polda) Metro Jaya. Ini berkaitan dengan perintah Presiden untuk
memeriksa dan menangkap dirinya. Sementara Tommy, hingga kemarin
malam, belum sempat dihubungi Polda Metro Jaya. Sebuah sumber
menyebut, Tommy sedang tidak berada di Jakarta.
Ketika keluar dari kantor Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya
Inspektur Jenderal Polisi Nurfaizi, Habib Ali menyatakan, ia datang
atas kemauan sendiri untuk memberikan klarifikasi seputar dirinya yang
disebut-sebut Presiden. Saat ledakan bom terjadi, ia mengaku berada di
Brebes, Jawa Tengah.
Tentang itu, Montolalu menyatakan, belum memeriksa Habib karena untuk
itu tetap harus memperhatikan indikasi dan bukti yang cukup. Habib,
tambahnya, berjanji akandatang ke Polda Metro jika diminta.
Soal Tommy, Montolalu menyatakan, belum akan menangkapnya.
Kontak-kontak yang dilakukan kepada Tommy dimaksudkan untuk
mengundangnya memberikan klarifikasi. "Presiden pun tidak meminta dia
ditangkap. Presiden cuma bilang, periksalah Tommy. Silakan tangkap
kalau memang ada bukti yang bersangkutan bersalah. Kami menangkap
seseorang memang harus berdasarkan bukti yang sah di depan hukum,
bukan hanya karena sebuah informasi," jelasnya.
Sementara itu, di dekat kediaman Habib Ali yang terletak di Jalan
Kramat Kwitang I/H Nomor 6, RT 03 RW 05, warga sekitar sudah mulai
berkumpul sejak sore . Menurut sejumlah warga Jalan Kramat Kwitang I/H
itu, kabar tentang perintah penangkapan Habib Ali sudah mereka ketahui
melalui televisi. "Makanya saya juga mau lihat, apa yang akan terjadi.
Ternyata sepi-sepi saja," tutur seorang warga.
(bdm/nic/osd/joe/p05/nic/xta/msh/rts)
*****************
Check out the now active INDONESIA-DOCS and INDONESIA-POLICY lists
available from Indonesia Publications' homepage: http://www.indopubs.com
*****************