[INDONESIA-NEWS] KMP - Presiden: Periksa Tommy Soeharto

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Fri Sep 15 2000 - 18:31:03 EDT


X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0009/16/UTAMA/pres01.htm

>Sabtu, 16 September 2000
   Berkaitan dengan Bom di BEJ
   Presiden: Periksa Tommy Soeharto
   Jakarta, Kompas
   
   Presiden KH Abdurrahman Wahid hari Jumat (15/9) kemarin memerintahkan
   pihak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk segera memeriksa
   Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) dan Habib Ali Baaqil.
   
   "Saya sudah perintahkan dalam sidang kabinet kemarin (Kamis 14/9-Red)
   untuk menangkap Tommy Soeharto," kata Presiden dalam dialog dengan
   jemaah, seusai shalat Jumat di Masjid Al Musyawarah Kelapa Gading,
   Jakarta Timur. Tepuk tangan jemaah terdengar ketika Presiden
   memerintahkan untuk menangkap Tommy.
   
   "Diperiksa, tetapi belum tentu salah lho, ya. Tetapi kami anggap cukup
   alasan untuk menangkap. Untuk menghindari kejadian-kejadian seperti di
   Bursa Efek Jakarta (BEJ). Kasihan rakyat kecil. Korbannya itu rakyat
   kecil-kecil, bukan orang gede," tambah Presiden. Korban peledakan bom
   di BEJ sebanyak 10 orang.
   
   Sore harinya, Presiden mengulangi pernyataan itu, seusai menjenguk
   para korban luka akibat ledakan bom di Gedung BEJ, yang dirawat di
   Rumah Sakit Pusat Pertamina Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. "Kami
   punya bukti-bukti untuk menangkap Tommy," ujar Presiden menjawab
   wartawan asing.
   
   Hingga pukul 22.30, suasana di Jalan Cendana sepi. Ruas Jalan Cendana
   hingga pertigaan Jusuf Adiwinata ditutup. Kendaraan tak boleh masuk.
   Sementara di depan rumah Tommy tampak dijaga oleh orang-orang
   berpakaian preman. Mereka main kartu di depan rumah. Beberapa orang
   ngobrol di warung. Mereka mengaku akan berjaga semalaman.
   
   Jaksa Agung Marzuki Darusman kepada Kompas mengemukakan, dalam sidang
   kabinet hari Kamis, Presiden memang menyebutkan kemungkinan terkaitnya
   orang-orang tertentu dalam peledakan bom di BEJ. "Jadi, pernyataan
   Presiden untuk menangkap Tommy harus dilihat dalam konteks itu," kata
   Marzuki.
   
   Persepsi publik selama ini, menurut Marzuki, juga mengarah kepada
   kelompok-kelompok tertentu itu. "Pemeriksaan Tommy juga dalam rangka
   investigasi lebih jauh, sejauh mana kebenarannya," demikian Marzuki.
   
   Ketua PBHI Hendardi mendukung sikap tegas Presiden Wahid. "Dengan
   menyebutkan nama, bisa diasumsikan Presiden memang telah memiliki
   beberapa petunjuk awal yang mencukupi untuk melaksanakan proses hukum
   kepada mereka. Polri tidak usah ragu-ragu," kata Hendardi.
   
   Pernyataan terbuka Presiden Wahid terhadap seseorang yang terkait
   kasus pidana sebelumnya pernah dilontarkan atas diri Tommy Winata
   selaku pemilik kapal judi. Namun, pernyataan Presiden Wahid itu
   kemudian dikoreksi pembantu-pembantunya.
   
   Pertanyaan orang
   
   Pernyataan Presiden soal penangkapan Tommy berawal dari pertanyaan
   seorang pemuda yang mengaitkan soal sidang pengadilan Soeharto dengan
   aksi pengeboman itu. Pemuda itu juga menyinggung soal demonstrasi
   mahasiswa yang minta Soeharto diadili, tetapi mereka justru mendapat
   hantaman dari para pendukung mantan pemimpin Orde Baru itu.
   
   Menanggapi pertanyaan itu, Presiden secara tidak langsung mengingatkan
   kekuatan Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) yang
   bisa membantu para mahasiswa dan mereka yang mencari keadilan.
   Presiden antara lain mengatakan, pendukung Soeharto memang masih
   banyak.
   
   "Dan mereka itu bukan kayak Anda gembel-gembel begini, tetapi mereka
   adalah orang-orang yang punya duit. Coba lihat kemarin, mahasiswa
   Famred digebukin. Karena itu, tadi, saya telepon kepada Saudara
   Syaifullah Yusuf (Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor yang
   membawahi Banser-Red). Ful, saya panggil begitu wong dia keponakan
   saya, kalau orang lain bisa menjadi pendukung kelompok Soeharto, itu
   ngapain Banser? Tidur saja," demikian Presiden, disambut tepuk riuh
   jemaah.
   
   "Ya, itulah contohnya. Saya tidak menganjurkan perkelahian. Tetapi
   orang, kan, bebas menyatakan pendapat. Karena itu, jangan khawatir
   para mahasiswa dan seluruh masyarakat di belakang upaya mencari
   keadilan. Anda mau mendukung saya atau tidak, sama saja, Indonesia
   akan tetap jaya," papar Presiden dalam dialog yang dipandu Kepala
   Protokol Istana Wahyu Muryadi.
   
   Sementara itu, Syaifullah Yusuf ketika dihubungi Jumat malam masih
   belum bisa banyak berkomentar. Dikatakan, pihaknya masih melihat
   perkembangan dan akan berkonsultasi dengan Presiden.
   
   Belasungkawa
   
   Presiden mengeluarkan pernyataan simpati kepada para korban dan
   keluarganya serta menyatakan belasungkawa sedalam-dalamnya bagi
   keluarga yang ditinggalkan para korban tewas akibat pengeboman di BEJ.
   Pernyataan ini juga dikeluarkan Presiden, kemarin pagi, sesaat setelah
   menjenguk Dubes Filipina Leonidas T Caday (70), korban peledakan bom
   di depan tempat tinggalnya di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, 1
   Agustus lalu, yang kini masih dirawat di RS Medistra.
   
   Di RS Medistra, Presiden menyatakan, dalam waktu satu dua hari ini
   pemerintah akan mengambil tindakan drastis dan tegas untuk mencegah
   aksi pengeboman lagi. Menurut dia, aksi pengeboman itu juga tertuju ke
   tempat-tempat lainnya. "Jadi, tunggu tanggal mainnya," ujarnya.
   
   Presiden menduga keras pengeboman di Kejaksaan Agung, Gedung BEJ dan
   tempat lainnya saling berkaitan. "Saya mau jujur saja. Terbuka saja
   sama rakyat sendiri ini. Kenapa sih setiap kali Pak Harto mau dibawa
   ke pengadilan, kok, ada ribut-ribut? Ini pertanyaan. Boleh-boleh saja,
   kan. Kenapa? Karena kejadian itu lho. Perkara kita bisa cari bukti
   atau tidak, itu soal lain. Sebab, itu sedang diupayakan. Kita harus
   bersikap tegas dan keras membela hukum, terutama menjaga rakyat supaya
   tidak panik," demikian katanya.
   
   Jaksa Agung Marzuki Darusman mengemukakan, upaya penyelidikan Polri
   dalam beberapa kali kasus bom selalu kandas. Ada persepsi publik,
   setiap akan memasuki wilayah militer, pintu penyelidikan tertutup.
   
   Dua bom
   
   Soal peledakan bom di Gedung BEJ, sejauh ini polisi sudah meminta
   keterangan dari 10 saksi yang pada saat kejadian berada di lokasi.
   Pekan depan, polisi akan meminta keterangan dari 26 korban yang
   terluka dan sempat dirawat di rumah sakit. Dari para saksi itu
   diharapkan diperoleh informasi mengenai tersangka pelaku peledakan.
   
   Berdasarkan saksi yang sudah dimintai keterangan, polisi memperkirakan
   sumber ledakan berada di bawah sebuah sedan Toyota Mark II dan sebuah
   Toyota Kijang. Karena itu, kata Kepala Direktorat Reserse Polda Metro
   Jaya Senior Superintendent Harry Montolalu, saat itu diduga kuat ada
   dua bom yang meledak bersamaan.
   
   Selain menemukan serpihan bagian bom, petugas polisi juga menemukan
   sejumlah selongsong peluru M16 dan sebuah topi militer di lokasi
   peledakan bom di areal parkir lantai P2 gedung terkait. Namun, Kepala
   Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri Brigjen (Pol) MA Erwin
   Mappaseng meminta hal itu tidak diperbesar. "Kita belum tahu apakah
   potongan selongsong peluru itu ada kaitannya dengan pengeboman,"
   katanya.
   
   Montolalu menambahkan, penemuan selongsong peluru itu tidak akan
   mempengaruhi penyelidikan dan penyidikan. Sebab tidak tertutup
   kemungkinan selongsong peluru itu sengaja dibuang untuk mengecoh
   penyidikan polisi. "Malah bisa jadi itu sengaja ditaruh untuk mengadu
   domba antara kami dengan TNI," katanya.
   
   Sampai Jumat petang, petugas Puslabfor masih terus bekerja
   mengumpulkan serpihan-serpihan di lokasi kejadian. Sementara itu,
   sejumlah mobil di lantai P2 yang sehari sebelumnya belum boleh diambil
   pemiliknya kemarin mulai dikeluarkan.
   
   Datang ke Polda
   
   Kemarin sore, Habib Ali Baaqil langsung menghubungi Kepolisian Daerah
   (Polda) Metro Jaya. Ini berkaitan dengan perintah Presiden untuk
   memeriksa dan menangkap dirinya. Sementara Tommy, hingga kemarin
   malam, belum sempat dihubungi Polda Metro Jaya. Sebuah sumber
   menyebut, Tommy sedang tidak berada di Jakarta.
   
   Ketika keluar dari kantor Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya
   Inspektur Jenderal Polisi Nurfaizi, Habib Ali menyatakan, ia datang
   atas kemauan sendiri untuk memberikan klarifikasi seputar dirinya yang
   disebut-sebut Presiden. Saat ledakan bom terjadi, ia mengaku berada di
   Brebes, Jawa Tengah.
   
   Tentang itu, Montolalu menyatakan, belum memeriksa Habib karena untuk
   itu tetap harus memperhatikan indikasi dan bukti yang cukup. Habib,
   tambahnya, berjanji akandatang ke Polda Metro jika diminta.
   
   Soal Tommy, Montolalu menyatakan, belum akan menangkapnya.
   Kontak-kontak yang dilakukan kepada Tommy dimaksudkan untuk
   mengundangnya memberikan klarifikasi. "Presiden pun tidak meminta dia
   ditangkap. Presiden cuma bilang, periksalah Tommy. Silakan tangkap
   kalau memang ada bukti yang bersangkutan bersalah. Kami menangkap
   seseorang memang harus berdasarkan bukti yang sah di depan hukum,
   bukan hanya karena sebuah informasi," jelasnya.
   
   Sementara itu, di dekat kediaman Habib Ali yang terletak di Jalan
   Kramat Kwitang I/H Nomor 6, RT 03 RW 05, warga sekitar sudah mulai
   berkumpul sejak sore . Menurut sejumlah warga Jalan Kramat Kwitang I/H
   itu, kabar tentang perintah penangkapan Habib Ali sudah mereka ketahui
   melalui televisi. "Makanya saya juga mau lihat, apa yang akan terjadi.
   Ternyata sepi-sepi saja," tutur seorang warga.
   (bdm/nic/osd/joe/p05/nic/xta/msh/rts)

*****************
Check out the now active INDONESIA-DOCS and INDONESIA-POLICY lists
available from Indonesia Publications' homepage: http://www.indopubs.com
*****************