APARAT KEAMANAN BANTAH TEMBAK WARGA DI ACEH BARAT
Tuesday, September 12, 2000/3:59:47 PM
Banda Aceh, 12/9 (ANTARA) - Aparat keamanan membantah telah menembak warga
di kawasan Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Barat, yang terjadi pada Minggu
(10/9), sementara masyarakat melaporkan empat penduduk tewas ditembak dan
seorang lagi, M Nasir(25), dikabarkan dibakar setelah ditembak.
"Tidak mungkin aparat keamanan melakukan penembakan terhadap penduduk sipil,
karena kehadiran aparat keamanan TNI/Polri justru untuk melindungi warga
masyarakat," kata Kasub Satgaspen Operasi Cinta Meunasah (OCM)-I Super
Intendant Kusbini Imbar kepada pers di Banda Aceh, Selasa.
Sementara itu, masyarakat di Desa Pangong Simpang Peut, Kecamatan Krueng
Sabee -- desa lokasi penembakan empat warga -- menjelaskan bahwa keempat
mayat tersebut tewas ditembak saat pasukan berseragam loreng melakukan
penyisiran di desa mereka.
Menurut versi masyarakat setempat, keempat warga sipil itu tewas ditembak
aparat keamanan saat dalam perjalanan pulang dari gunung, sekitar pukul
11.00 WIB, Minggu (10/9), di kawasan Desa Panggong Simpang Peut.
"Hingga saat ini kita belum mendapat informasi dari aparat keamanan dari
Aceh Barat, tentang adanya empat warga yang tewas ditembak itu. Itu tidak
benar, saya sudah cek berkali-kali ke Polres Aceh Barat dan tidak ada
laporannya. Mereka dapat data dari mana tentang kejadian itu," kata Kusbini
Imbar.
Seorang korban yang lolos dari penembakan itu, Jumar (24), menjelaskan,
Minggu (10/9), sekitar pukul 13.00 WIB, ia bersama Bang Adek (35), Herman
Yanif (22), dan Muri Thaleb (15), dalam perjalanan pulang menarik kayu dari
gunung, namun tiba-tiba berpapasan dengan puluhan aparat berbaju hijau.
"Kami berempat hendak pulang ke rumah dari menarik kayu di hutan dengan
kendaran Hardtop kanvas, namun secara tiba-tiba kami disergap oleh puluhan
pria berseragam hijau bersenjata lengkap, lalu digiring ke pinggir jurang
(sekitar 500 meter dari lokasi penangkapan), kemudian ditembak dari atas,"
kata Jumar.
Saat itu, kata saksi, terdengarlah rentetan tembakan yang dilepaskan dari
atas bukit.
"Ketika ditolak ke dalam jurang, dengan gerakan cepat saya terus
berguling-guling sampai ke dasar dalam posisi tidak bergerak. Dan saya
menyadari beberapa rentetan tembakan mengarah ke bagian kaki, kepala dan
kiri-kanan badan," ucapnya.
"Menjelang senja hari, saya tidak mendengar lagi adanya rentetan tembakan
dari tentara di atas bukit, lalu saya bangun dan lari ke perkampungan," kata
Jumar menceritakan kronologi kejadian itu.
Penyisiran
Sementara itu, sejumlah warga menjelaskan bahwa sejak Jumat (7/9), terlihat
sekitar puluhan tentara melakukan penyisiran mencari gerilyawan Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) di kawasan tersebut.
"Menyaksikan banyak aparat keamanan masuk ke kawasan dengan truk dan
berjalan kaki, maka sebagian masyarakat mulai merasa was-was kemungkinan
akan terjadi kontak senjata dengan gerilyawan GAM. Karena itu kami
berkesimpulan sementara untuk meninggalkan kampung mengungsi ke mesjid,"
kata Teugku Rahman.
Bersamaan dengan mengungsinya masyarakat itu delapan unit rumah penduduk
terbakar. "Karena merasa takut apabila terjadi insiden tersebut maka kami
memilih mengungsi mencari tempat yang lebih aman," katanya.
Di pihak lain, pada Senin (11/9), warga Simpang Peut, Krueng Sabee, secara
resmi menguburkan empat mayat penduduk setempat di perkuburan umum desa
mereka. (U.BDAPK01/BDA01/B/ND01)
----- End of forwarded message from koalisi-ham -----
*****************
Check out the now active INDONESIA-DOCS and INDONESIA-POLICY lists
available from Indonesia Publications' homepage: http://www.indopubs.com
*****************