[INDONESIA-L] ILYAS HUSEIN - Siapa Takut?

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Tue Sep 12 2000 - 11:04:55 EDT


From: "Ilyas Husein" <anti_fascis@hotmail.com>
To: apakabar@saltmine.radix.net
Subject: Siapa takut ?
Date: Tue, 12 Sep 2000 12:18:02 GMT

"Siapa takut ?"

Sebelum membaca tulisan ini, ada baiknya anda mencermati ke dua kutipan
berita dengan topik yang sama berikut ini :

Perkembangan terakhir, pada pukul 16.50, terjadi pelemparan batu terhadap
dua orang polisi. Menurut seorang saksi mata, Mahaputra D. SH , seorang
karyawan Kejagung melihat sepuluh aktivis Famred yang sedang berjalan di
depan Megaria, mendapat peringatan dari dua orang polisi yang naik sepeda
motor RX King D 4723 JS.

Kedua polisi tersebut mengingatkan Famred agar jangan bertindak anarkhis.
Merasa tersinggung, kemudian masa Famred mengeroyok dua petugas polisi
tersebut dan mengakibatkan satu orang polisi dilarikan ke RSCM, akibat
terluka parah dan seorang lagi melarikan diri.

("Satu Terluka Akibat Bentrokan Demonstran di Cendana", Kompas online
12/09/2000)

Menurut saksi mata, Mahaputra BD SH, aksi brutal massa itu terjadi sekitar
pukul 16.45 WIB, Selasa (12/9/2000). Saat demonstran berhamburan dari Jl
Suwiryo menuju Jl. Salemba, tiba-tiba mereka memergoki dua orang polisi yang
sedang memakai sepeda motor yang melintas di depan Megaria.

Melihat ada polisi, mereka langsung ringan tangan. Seorang polisi berhasil
mereka tangkap, dan seorang lainnya berhasil meloloskan diri. Massa yang
diduga mahasiswa ini akhirnya menghajar dan menghantam polisi yang saat itu
mengendarai sepeda motor RX King bernopol B 4723 JF itu dengan batu.

("Buntut Bentrokan di Dekat Cendana...", Detikcom 12/09/2000)

Berbicara tentang jurnalisme adalah berbicara tentang fakta. Itu merupakan
dasar yang bahkan seorang pembaca kanak-kanak pun memahaminya. Namun, yang
kemudian menjadi masalah adalah pengolahan fakta tersebut menjadi sebuah
berita. Memang pada dasarnya setiap jurnalis akan mengatakan bahwa apa yang
mereka tulis dan mereka ungkapkan adalah sebuah fakta. Entah melalui
penguatan lewat narasumber atau pun literatur yang sudah ada sebelumnya.
Sejauh ini semua jurnalis akan menggunakan cara yang sama, yaitu metode
kutip, artinya apa yang memang telah ada dalam literatur atau pun pernyataan
dari narasumber akan dikutip sebagai penguat fakta. Di sini tampaknya tidak
akan menjadi masalah, karena toh semua bersumber pada kejujuran, pada fakta
yang ada. Hal yang selanjutnyalah yang kemudian menjadi kunci pokok dari
jurnalisme. Pengolahan berita itu sendirilah yang kemudian akan menjadi akar
dari masalah dalam dunia jurnalistik.

Barangkali itu juga jawaban dari perlunya kuliah jurnalistik, artinya
seorang jurnalis pun harus menguasai teknik-teknik dalam dunia jurnalistik
itu sendiri. Bagaimana mengolah sebuah berita dari bahan mentah berupa
kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya hingga menjadi sebuah sajian
siap hidang, yaitu berupa berita maupun informasi bagi publik, juga
membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang tidak dapat dipandang sebelah
mata saja. Karena dengan pengetahuan dan ketrampilan ini seorang jurnalis
akan dapat membawa "interpretasi" atau pemahaman akan sebuah berita, tetap
pada "interpretasi" mula, yaitu dari fakta itu sendiri. Di sinilah
ketangguhan seorang jurnalis akan teruji, yaitu bagaimana mempertahankan
"interpretasi" mula itu sendiri. Dan dari sini publik sendiri pun akan
menilai media tersebut.

Seperti beberapa berita hangat yang muncul belakangan ini pun, tak lepas
dari peran seorang jurnalis, dalam hal ini adalah pengolahan fakta-fakta
yang memang terjadi dalam masyarakat. Dari sinilah lahir sebuah anggapan
yang bukannya tak beralasan, bahwa memang seorang jurnalis harus memihak.
Mengapa, jawabnya sederhana saja, yaitu bahwa ketika seseorang bersentuhan
dengan dunia riil, dengan kenyataan, maka mau tak mau keberpihakan harus
tetap ada. Secara pengertian umum keberpihakan seorang jurnalis adalah pada
kenyataan, artinya entah itu si A atau si B, pemikiran C atau pemikiran D,
jurnalis hanya akan berpegang pada kenyataan yang ada. Namun inipun masih
merupakan standar yang terkesan abstrak. Sejauh mana sih nilai keberpihakan
pada kenyataan itu sendiri.

Idealnya memang dunia jurnalistik menunjukkan secara jelas arah
keberpihakannya. Seperti yang terjadi di banyak negara demokrasi di dunia
ini. Paling tidak terdapat dua media besar (atau lebih) yang jelas-jelas
menunjukkan arah pemikiran media tersebut, seperti juga terdapatnya
perwakilan-perwakilan pemikiran tersebut di dalam parlemen. Ini merupakan
dua hal yang sulit dipisahkan. Setidaknya untuk standar sebuah negara
demokrasi. Keberpihakan adalah hal yang lumrah. Itu artinya bahwa terdapat
dinamisasi antara kehidupan sosial dan politik di negeri itu.

Jurnalisme di Indonesia yang terkesan malu-malu, kalau tidak bisa dibilang
takut-takut, untuk menunjukkan keberpihakan, adalah sebuah tanda dari masih
mampetnya demokratisasi di Indonesia. Perang opini pun adalah hal yang
wajar. Dan ini akan semakin memperjelas penilaian publik, sehingga publik
pun tahu, media mana yang sekiranya dapat menyalurkan aspirasinya, seperti
juga keterbukaan yang (sebenarnya harus) ada pada parlemen. Sejauh ini,
rasa-rasanya masih banyak media yang lebih suka memakai metode "lempar batu
sembunyi tangan" atau "tikam lawan dari belakang". Entah, namun, kalau kita
berbicara tentang demokrasi, maka keterbukaan adalah merupakan syarat
mutlak.

Mengapa perasaan "takut-takut" dan "malu-malu" itu perlu dipertahankan,
misalkan dengan klarifikasi yang sering diutarakan untuk melakukan "counter"
(sanggahan) balik. Dan sering kali, sanggahan tersebut terkesan membela diri
ke arah "tidak berpihak" atau "netral", sedang esensi yang perlu dibahas toh
hanya hal yang berkaitan dengan berita itu sendiri. Mungkin dua petikan
berita di atas dapat menjadi renungan kita, bagaimana "interpretasi" itu
adalah vital. Dan keraguan keberpihakan itu sudah seharusnya selesai sampai
di sini, bukankah negeri ini bukan sebuah negara totaliter ?

----- End of forwarded message from Ilyas Husein -----

*****************
Check out the now active INDONESIA-DOCS and INDONESIA-POLICY lists
available from Indonesia Publications' homepage: http://www.indopubs.com
*****************