[INDONESIA-NEWS] KMP - Pemerintah Soal Atambua, Tak Ada Insiden baru

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Mon Sep 11 2000 - 20:27:58 EDT


X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0009/12/UTAMA/taka01.htm

>Selasa, 12 September 2000
   Pemerintah Soal Atambua
   Tak Ada Insiden Baru
   Jakarta, Kompas
   
   Menteri Koordinator Politik, Sosial dan Keamanan (Menko Polsoskam)
   Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, tidak ada insiden baru yang
   menyebabkan sejumlah pengungsi tewas di Kamp Betun, selatan Atambua,
   Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti disebutkan dalam Resolusi Dewan
   Keamanan PBB Nomor 1319 Tahun 2000. Untuk itu, pemerintah telah
   memberikan klarifikasi melalui jalur diplomatik."Setelah kami cek
   berulang kali ke lapangan pada tingkat pimpinan daerah, Komando Daerah
   Militer, maupun pimpinan kepolisian di daerah, berita itu tidak benar.
   Soal ini telah disampaikan kepada PBB melalui jalur diplomatik, Sabtu
   dini hari lalu," kata Yudhoyono kepada wartawan di Istana Merdeka,
   Jakarta, Senin (11/9).
   
   Secara terpisah, Kepala Dinas Penerangan Kepolisian Republik Indonesia
   Brigjen (Pol) Dadang Garnida menjelaskan, situasi keamanan di Atambua
   semakin terkendali. Pihak kepolisian memastikan empat milisi menjadi
   tersangka dalam kasus penyerbuan Kantor Komisi Tinggi PBB untuk Urusan
   Pengungsi (UNHCR)-yang antara lain menewaskan tiga petugas sipil PBB.
   Namun, Dadang tidak bersedia mengungkapkan nama keempat tersangka
   tersebut. "Yang jelas mereka milisi," katanya.
   
   Jaminan keamanan
   
   Wakil Ketua Komisi I DPR-yang membidangi pertahanan keamanan-Ferry
   Tinggogoy mengimbau Pemerintahan Transisi PBB di Timor Timur (UNTAET)
   ikut memberi jaminan keamanan bagi pengungsi Timtim, termasuk para
   bekas anggota milisi Timtim pro-integrasi. Dengan demikian, para
   pengungsi Timtim dapat kembali ke tanah airnya dan hidup secara layak.
   
   Kepala Pusat Penerangan TNI Marsekal Muda Graito Usodo mengatakan,
   upaya perlucutan senjata terhadap para anggota bekas milisi memang
   tidak ada jaminan 100 persen bisa dilakukan. Sebab, kenyataannya,
   masih ada satu-dua senjata yang disembunyikan. Namun, tambahnya, di
   Timtim pun masih beredar senjata di tangan mereka yang tidak berhak
   dan bertanggung jawab.
   
   "Kami yakin keberadaan senjata sama sekali tidak menambah nilai
   tambah, justru nilai minus buat kita. Juga sama sekali tidak ada dalam
   ingatan kami untuk memasok (senjata) atau melindungi. Sebenarnya
   hubungan kami (TNI) dengan mereka (milisi) sudah berhenti bulan
   November tahun yang lalu," tegas Graito.
   
   Langsung rapat
   
   Presiden Abdurrahman Wahid setibanya di Tanah Air, Senin pagi-setelah
   melakukan lawatan ke Amerika Serikat selama sepekan-langsung
   mengadakan rapat bersama Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri. Rapat
   tersebut diikuti pula Menko Polsoskam, Menko Perekonomian Rizal Ramli,
   Panglima TNI Laksamana Widodo AS, Kepala Polri Jenderal (Pol)
   Rusdihardjo, Dirjen Politik Departemen Luar Negeri Hassan Wirayuda,
   Sekretaris Kabinet Marsillam Simanjuntak, dan Sekretaris Negara Djohan
   Efendi. Seperti diberitakan, bentrokan tanggal 5 September lalu antara
   pengungsi yang berasal dari Timtim dengan penduduk lokal (NTT)
   akhirnya menewaskan tokoh pro-integrasi, Olivio Mendosa Moruk. Tanggal
   6 September, terjadi aksi unjuk rasa yang berubah menjadi aksi
   kerusuhan dan kekerasan, yang mengakibatkan tewasnya tiga petugas
   sipil PBB.
   
   Tiga orang yang tewas dalam penyerbuan tersebut adalah Tero Simunsa
   (26), warga negara (WN) Kroasia; Samson (40), WN Etiopia; dan Carlos
   Caves, WN Puerto Riko (Amerika Serikat). Elias Ahmad, WN Malaysia yang
   diberitakan tewas, kata Dadang, ternyata masih hidup. Sedangkan yang
   menderita luka bacok adalah Tonny (WNI), bukan Ela Samuel.
   
   Menghapus
   
   Bicara soal Resolusi Dewan Keamanan PBB tentang peristiwa Atambua,
   Presiden mengatakan bahwa Menlu Alwi Shihab telah berhasil
   menghapuskan salah satu butir nomor dari resolusi yang bermaksud
   mengirimkan pasukan perdamaian ke wilayah perbatasan itu. Dengan ini,
   Presiden menilai, harga diri Indonesia tetap terjaga.
   
   Presiden juga mengatakan, tidaklah tepat bahwa dalam masalah ini dunia
   internasional menyalahkan Indonesia saja. Hal itu, katanya, telah
   dibicarakan pula dengan Perdana Menteri Jepang Yoshihiro Mori dan
   Perdana Menteri Australia John Howard.
   
   Menurut Presiden, masalah Atambua itu juga dilatarbelakangi pertikaian
   antarsuku di Timor Timur yang telah berjalan lama. Menurut Presiden,
   sebenarnya untuk menghentikan pertikaian itu adalah suatu yang tidak
   mudah. Akan tetapi, lanjutnya Indonesia telah berusaha mengatasinya
   walupun hasilnya tidak sempurna.
   
   Pemerintah Indonesia, kata Presiden lagi, akan segera mengungsikan
   orang-orang Timtim di wilayah pengungsian-terutama yang melakukan
   kerusuhan-ke tempat lain. "Karena pertentangan suku sehingga terjadi
   begitu. Maka, salah satu yang harus kita buat, kita pindahkan ke
   tempat lain, terutama di daerah NTT. Mereka akan dilepas secara formal
   oleh para komandan militer kita. Di daerah penerimaan, mereka juga
   harus diterima tokoh-tokoh adat dan tokoh agama setempat," urai
   Presiden.
   
   Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyatakan rasa ibanya pada
   orang-orang Timtim yang telah lama berjuang untuk Indonesia. "Mereka
   itu teman kita. Walaupun mereka salah, bukan berarti kita harus
   menghilangkan rasa pertemanan. Pendirian saya begitu," tegasnya.
   
   Tentang bantuan pemindahan para pengungsi itu, Presiden mengatakan,
   Pemerintah AS meminta agar Indonesia mengajukan usulan anggaran dalam
   bentuk dollar. Menteri Dalam Negeri Surjadi Soedirdja, demikian
   Presiden, telah membuat usulan itu dan dalam minggu ini diperkirakan
   selesai untuk diajukan melalui Kedutaan Besar AS di Jakarta. "Selama
   ini, dalam menangani masalah pengungsi Timtim, pemerintah memakai uang
   sendiri, bahkan mengambil dari anggaran bidang-bidang lainnya."
   
   Menjawab pertanyaan tentang menghadapi sidang Consultative Group on
   Indonesia (CGI) di Tokyo Oktober 2000, yang kemungkinan besar akan
   terpengaruh masalah Atambua, Presiden antara lain mengatakan, "Kita
   mengharapkan, menjelang sidang itu keadaan sudah tenang."
   
   Presiden mengatakan pula, SB Yudhoyono dan pimpinan UNTAET Sergio
   Viera de Mello telah mencapai kesepakatan untuk membuat action plans
   (rencana tindakan). "Mudah-mudahan pekan ini selesai dan CGI bisa
   diyakinkan," ujarnya.
   
   Tidak defensif
   
   Terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB sendiri, Yudhoyono mengemukakan,
   pemerintah akan memosisikan dan meresponsnya secara cerdas. Indonesia
   tidak akan bersikap defensif, tetapi ingin agar persoalan Atambua ini
   digelar secara kontekstual, jujur, dan obyektif.
   
   "Indonesia ingin apa yang dikonsumsi masyarakat internasional adalah
   fakta di lapangan. Karena itu, kita ingin mengajak semua pihak untuk
   duduk bersama, mengkaji, dan menganalisis masalah ini, kemudian
   melaksanakan langkah-langkah secara kolektif yang efektif," paparnya.
   
   Menjawab pertanyaan tentang upaya melucuti milisi, Yudhoyono
   menyebutkan, pengertian pelucutan senjata maupun pembubaran milisi
   sudah dijelaskan sejelas-jelasnya oleh Panglima TNI Laksamana Widodo
   AS. Dia menyebutkan bahwa milisi itu sebetulnya sudah dibubarkan tahun
   1999. Demikian juga senjata sudah dikumpulkan lebih dari 600 senjata.
   
   "Namun, masih ada berita yang menyebutkan milisi dan senjata masih
   eksis. Inilah yang harus kita posisikan dengan baik agar kita
   berbicara fakta di lapangan. Kemudian dari fakta itu apa yang dapat
   dilakukan ke depan," katanya.
   
   Dikemukakan pula bahwa pemerintah akan mengajak UNTAET dan Dewan
   Pertahanan Nasional Rakyat Timor (CNRT) untuk duduk bersama dalam
   rangka mencari kerangka penyelesaian yang harus ditempuh. "Mana yang
   menjadi komitmen moral UNTAET dan CNRT dan mana yang menjadi tanggung
   jawab dan kewajiban moral Pemerintah Indonesia," kata Yudhoyono.
   
   Sementara Wakil Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI)
   Munir dan Sekjen Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Asmara
   Nababan mengingatkan bahwa penuntasan masalah Timor Timur hanya
   mungkin ada bila masalah pengungsi asal Timtim bisa diselesaikan
   sepenuhnya.
   
   Oleh karena itu, kata keduanya, pemerintah harus segera menentukan
   sikap, bagaimana pola yang akan digunakan untuk menyelesaikan soal
   pengungsi Timtim itu. Meskipun pemerintah sudah menghentikan program
   transmigrasi, khusus untuk para pengungsi Timtim, sebaiknya program
   itu dibuka kembali-seandainya pengungsi Timtim menolak kembali ke
   Timtim.
   
   Keduanya juga berpendapat, ada baiknya bila pemerintah juga membentuk
   badan khusus untuk menangani masalah pengungsian yang terjadi di
   berbagai tempat di Indonesia. (gun/osd/bur/rts/oki)