X-URL: http://www.suaramerdeka.com/harian/0009/11/nas5.htm
Senin, 11 September 2000 Berita Utama
Lee: Anak-anak Soeharto Harus Mundur dari Bisnis
[INLINE]
Lee Kuan Yew - SM/rtr
SINGAPURA - Mantan perdana menteri Singapura Lee Kuan Yew yang kini
Menteri Senior Singapura mengatakan, kendati mantan presiden Soeharto
sekarang menjadi terdakwa dalam kasus korupsi, Lee tidak menganggap
dia sebagai penjahat. Lee mengungkapkan perasaannya itu dalam memoar
volume kedua, yang nukilannya dimuat harian Sunday Times.
Dalam memoarnya itu, Lee mengatakan, Soeharto bukanlah seorang
penjahat. ''Saya tidak bakal menganggap dia sebagai penjahat,'' kata
dia.
Sebaliknya, Lee mengatakan, Soeharto merasa anak-anaknya memang pantas
mendapat perlakuan istimewa seperti dinikmati pangeran-pangeran dan
putri-putri para sultan.
Berkaitan dengan krisis ekonomi yang masih menimpa Indonesia, Lee
memperingatkan, anak-anak Soeharto yang menjadi pengusaha hanya
memusatkan diri pada kekayaaan mereka sendiri. Dia menyarankan agar
mereka mundur dari pasar dan tidak perlu lagi terkait dalam proyek apa
pun. ''Menghakimi Soeharto atas dasar tindakan anak-anaknya tidak akan
berdampak apa pun pada mereka,'' ujarnya.
Lee dalam memoar terbarunya ini juga memaparkan pandangannya tentang
hubungan Singapura-Malaysia yang sering tegang. Kedua negara itu belum
memperoleh cara yang jelas untuk memperbaiki hubungan bilateral,
sementara kedua negara itu masih saja saling bertukar pandangan
tentang bagaimana menangani urusan dalam negeri mereka masing-masing.
''Hubungan Singapura-Malaysia akan terus mengalami pasang surut,''
tulis dia dalam memoarnya.
Pandangan Lee
Memoar itu memaparkan pandangan Lee dalam rentang waktu 1965-2000 dan
laporan menyangkut hubungan Singapura dan Lee dengan berbagai pemimpin
dunia selama periode itu. Lee menjabat perdana menteri Singapura
selama 31 tahun sampai 1990. Dia kini menjabat menteri senior.
Isi memoar itu sebagian besar menceritakan hubungan tak menyenangkan
antara Malaysia dan Singapura sejak kedua negara itu berpisah pada
1965. ''Akar masalah dalam hubungan Singapura-Malaysia adalah pada
pendekatan kami yang sangat bertolak belakang dalam menghadapi
masyarakat multirasial kami,'' kata tokoh pendiri negara Singapura
ini.
Singapura memiliki populasi sekitar empat juta, tiga perempatnya
adalah ras Cina. Penduduk Malaysia sekitar 22 juta jiwa yang sebagian
besar adalah suku Melayu, dan populasi suku Cina 35 persen.
Lee mengatakan dalam pidatonya tersebut, Singapura adalah masy rakat
sipil yang setara yang menjamin kesempatan sama bagi setiap warga
negaranya.
Dia mengatakan, para politikus di dalam partai Organisasi Nasional
Malaysia Bersatu ingin agar Singapura patuh dan akomodatif serta tidak
hanya mempertahankan hak-hak legalnya sendiri.
Para menteri Malaysia yang berasal dari etnik Cina dan India
mengatakan kepada para menteri Singapura, seperti ditulis Lee,
''Apabila kita taktis dan mempercayai ucapan para pemimpin Malaysia,
maka para pemimpin itu dapat sangat responsif.''
''Hal itu memperlihatkan perbedaan antara tanggung jawab kami terhadap
rakyat di negara kami masing-masing. Rakyat Singapura mengharapkan
pemerintahan mereka mewakili kepentingan mereka dalam hal kemitraan
sejajar dan negara independen,' kata Lee.
Lee terakhir kali berkunjung ke Malaysia pada Agustus lalu dalam
rangka misi menjalin persahabatan. Namun, lawatan itu dibayangi
pernyataan kritisnya yang secara terbuka mengomentari kasus Anwar
Ibrahim.
Dia mengatakan, pemecatan eks wakil PM Anwar Ibrahim merupakan bencana
tak kepalang tanggung.
Isu-isu paling mengemuka antara kedua negara itu antara lain suplai
air jangka panjang dari Malaysia untuk Singapura dan penarikan dana
Malaysia dari Bank Sentral Singapura, Fund Provident Central.
(rtr-gn-52t)
*****************
Check out the now active INDONESIA-DOCS and INDONESIA-POLICY lists
available from Indonesia Publications' homepage: http://www.indopubs.com
*****************