[INDONESIA-NEWS] KMP - Agama-agama dan Kemanusiaan

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Thu Sep 07 2000 - 18:16:04 EDT


X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0009/08/opini/agam04.htm

>Jumat, 8 September 2000
   Agama-agama dan Kemanusiaan
   * Persoalan Pengungsi sebagai Persoalan Bersama
   
                               Oleh Abd A'la
                                      
   MASALAH pengungsi-akibat kerusuhan yang melanda berbagai daerah di
   Indonesia-perlu disikapi sebagai persoalan berskala nasional;
   persoalan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Jumlahnya cukup besar
   dan kondisinya menyedihkan merupakan masalah yang tidak mustahil dapat
   memicu persoalan lain yang lebih serius dan kompleks. Harian Kompas
   (12 dan 14 Agustus) melaporkan jumlah dan kondisi pengungsi asal Poso,
   Aceh, Sambas, dan Ambon. Diperkirakan seluruh pengungsi Poso berjumlah
   14.949 kepala keluarga (KK) atau sekitar 69.210 jiwa. Pengungsi Aceh,
   sampai 8/8, sedikitnya 30.000 jiwa. Pengungsi Sambas 9.913 KK atau
   53.948 jiwa. Pengungsi Ambon sekitar 30.000 jiwa. Jumlah itu masih
   ditambah lebih dari 120.000 pengungsi asal Timor Timur yang masih
   bertahan di NTT.
   
   Angka yang terpampang dalam liputan itu merupakan jumlah yang tidak
   sedikit. Angka itu adalah jumlah yang amat memprihatinkan karena
   menunjuk kepada sejumlah besar manusia yang bergelut dengan
   penderitaan. Hidup di pengungsian identik dengan penderitaan.
   Pengungsi adalah manusia yang serba kekurangan, bahkan tidak memiliki
   apa yang seharusnya dimiliki. Mereka adalah manusia yang dilanda
   penderitaan, baik yang bersifat fisik maupun psikologis.
   
   Kompas mengungkapkan, makanan mereka jauh dari menu empat sehat lima
   sempurna. Contohnya, semangkuk mi instan plus sayuran daun pepaya muda
   dimakan untuk berempat. Itulah gambaran umum hidup di pengungsian.
   Pada gilirannya makanan yang tidak memenuhi-jumlah dan
   kualitasnya-membuat kondisi kesehatan mereka amat menyedihkan.
   Misalnya, Iwan asal Sambas yang baru berumur dua tahun dengan tubuh
   sangat kurus, lemas, loyo, terus-menerus berkeringat, menunjukkan
   kondisinya yang ringkih. (Iwan tentu bukan nama yang penting, tapi ia
   merepresentasikan penderitaan para pengungsi lainnya). Kondisi
   kesehatan semacam itu masih diperberat dengan sanitasi yang buruk dan
   kesadaran kesehatan yang sangat rendah sehingga pengobatan yang
   dilakukan para medis terkesan sia-sia. Lebih dari itu, kondisi mental
   mereka tentu mengalami degradasi yang tidak kalah parah.
   
   Mereka semua bertanya, kapan bisa keluar dari pengungsian, bagaimana
   kelanjutan hidup mereka nanti, serta bagaimana masa depan anak-anak
   yang kini terpaksa tidak bisa sekolah. Pertanyaan-pertanyaan seperti
   itu merupakan bagian hidup keseharian mereka yang menggoreskan
   kepedihan dan penderitaan cukup dalam. Itulah gambaran buram pengungsi
   di mana pun mereka berada.
   
                                    ***
                                      
   PENGUNGSI dengan segala derita yang disandangnya adalah persoalan
   kemanusiaan yang perlu mendapat perhatian setiap manusia, khususnya
   insan yang beragama. Secara teoretis, tiap manusia yang taat
   beragama-apa pun agama yang dianutnya-akan selalu peduli kepada
   persoalan kemanusiaan karena masalah itu merupakan isu universal yang
   menjadi bagian pokok ajaran agama-agama. Agama-menurut Th Sumartana
   (2000: 196)-selalu mencari rumusan lebih baik dan sempurna tentang
   manusia. Kehadiran agama adalah untuk menjaga dan memelihara kesucian
   manusia. Karena itu, pelaksanaan fungsi profetis agama sangat
   tergantung kepada intensitas kiprahnya menjaga dan mempertahankan
   martabat manusia yang kudus dari segala macam ancaman, khususnya
   ancaman yang muncul dari dirinya sendiri. Kehilangan fungsi profetis
   agama berarti agama telah kehilangan fungsinya yang hakiki di
   tengah-tengah masyarakat.
   
   Pandangan Sumartana yang Kristiani itu memiliki benang merah cukup
   kuat pada ajaran agama Islam. Agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini
   juga amat menekankan misinya kepada aspek kemanusiaan. Justru
   kelahiran agama ini terkait dengan upaya memanusiakan manusia. Misi
   pokok Islam adalah mengangkat manusia dari segala macam penindasan dan
   penderitaan, sehingga manusia melalui keberagamaannya yang benar
   diharapkan menjadi muslim yang kaffah; manusia bertuhan yang hidup
   sempurna dalam seluruh dimensinya. Tidak berlebihan jika Fazlur Rahman
   (1979: 12) menyatakan, monoteisme-sebagai ajaran pokok-yang diajarkan
   Muhammad SAW sejak awal sudah terkait dengan humanisme dan keadilan
   ekonomi (dan lain-lainnya-Red) yang memiliki intensitas tidak kurang
   dari intensitas ide monoteistik itu sendiri. Dengan de-mikian,
   pengabaian kepada persoalan kemanusiaan sama seperti dengan
   pengingkaran kepada ajaran monoteisme.
   
   Demikian pula ajaran agama-agama lain. Ajaran reinkarnasi dalam Hindu
   merupakan manifestasi dari upaya manusia untuk menuju kepada
   kesempurnaan kehidupan manusia. Sedang pada Buddha, misi kemanusiaan
   itu ditoreh secara jelas pada ungkapan sang Buddha sendiri yang
   menyatakan, ia dilahirkan ke dunia untuk kepentingan umat manusia,
   untuk kebahagiaan mereka, kemajuan, kepentingan, dan kebahagiaan para
   dewa dan manusia. Dalam tataran itu pula Konfusius melalui lima
   istilah kunci ajarannya menampakkan secara intens tentang komitmennya
   terhadap persoalan kemanusiaan. Misalnya, istilah jen-dalam istilah
   kunci ajaran itu-melambangkan kebaikan dan kemurah-hatian manusia
   kepada manusia lain, dan ajaran Chun-tzu merupakan ungkapan yang
   menunjuk kepada kemanusiaan yang benar, manusia yang sempurna, dan
   kemanusiaan yang terbaik (lihat Huston Smith, 1999: 89-90, 118,
   210-211). Konkretnya, agama-agama yang berkembang saat ini, semuanya
   memiliki misi universal yang hampir serupa, yaitu untuk menyempurnakan
   manusia dan kehidupannya. Agama berupaya mengantarkan manusia kepada
   kehidupan yang utuh, bebas dari segala penderitaan lahir dan batin
   sehingga eksistensi Tuhan yang Mahabaik, adil, pemaaf, dan sebagainya
   benar-benar "hadir" di bumi ini.
   
   Maka menjadi tugas manusia yang sadar akan hakikat eksistensinya, atau
   para penganut agama untuk merealisasikan misi agama-agama itu. Mereka
   wajib menerjemahkan nilai-nilai ajaran agama yang bersifat blue print
   ke dalam sikap dan perilaku nyata yang mencerminkan secara utuh ajaran
   agama mereka. Jika mereka mengklaim diri sebagai penganut agama yang
   taat, maka mereka tidak memiliki alasan sedikit pun untuk hanya
   mengambil sebagian ajaran dan membuang sebagian yang lain. Dalam
   konteks itu, kemanusiaan-karena merupakan misi dan ajaran substansial
   semua agama-perlu diangkat sebagai persoalan teologis dan dijadikan
   agenda yang tak terpisahkan dari ajaran-ajaran keagamaan yang lain.
   
   Karena dunia kontemporer adalah dunia yang sarat dengan krisis
   kemanusiaan, maka penyelesaian krisis ini merupakan ajang yang harus
   dijadikan titik temu dan kerja sama antarumat beragama. Menjadi tugas
   semua umat beragama untuk mengentas manusia dari penderitaan,
   keterbelakangan, penindasan, dan sebagainya. Hanya dengan demikian,
   ibadah dan perilaku keagamaan mereka akan menemukan arti yang
   sebenarnya di hadapan Tuhan Yang Mahaesa.
   
                                    ***
                                      
   SAAT ini Indonesia sedang menghadapi masalah pengungsi. Persoalan
   kemanusiaan ini tidak bisa hanya didasarkan sepenuhnya pada penanganan
   Pemerintah yang sangat terbatas. Apalagi sifatnya sekadar bersifat
   penampungan, relokasi, pengembalian ke tempat semula, atau bentuk
   penanganan lain yang bersifat belas kasih semata. Semua pihak perlu
   terlibat aktif untuk menyelesaian persoalan itu secara tuntas dan
   menyeluruh; dan kaum agama harus menjadi salah satu perintisnya.
   Mereka bukan sekadar dituntut melakukan aksi-aksi karitas yang
   bersifat sesaat, tapi mereka hendaknya mencari solusi yang lebih
   mendasar, suatu jalan penyelesaian yang tepat dan menyeluruh yang
   mampu memberi "bekal" yang memadai kepada para pengungsi sehingga
   mereka dapat kembali menjadi "manusia" dan bisa hidup di tengah-tengah
   masyarakat secara mandiri, hati yang bersih dan jiwa yang optimis.
   
   Karena itu, para agamawan, orang-orang yang terlibat dalam kegiatan
   sosial-keagamaan, dan bangsa Indonesia secara keseluruhan (sebagai
   umat beragama yang taat) hendaknya melakukan proses pengentasan para
   pengungsi atau orang-orang yang menderita dengan pola yang
   menitikberatkan kepada pemberian "kail" ketimbang "ikan" sebagaimana
   diajarkan Nabi Muhammad SAW (dan saya yakin juga oleh tokoh agama
   lain). Penyelesaian semacam itu bukan berarti harus menghentikan
   pemberian "ikan" kepada mereka. Bagaimanapun para pengungsi saat ini
   sedang kekurangan sandang-pangan serta tidak memiliki papan. Sebab itu
   pemberian yang bersifat karitas mesti dilakukan. Namun pemberian itu
   jangan sampai membuat mereka terbuai, enjoy dalam hidup belas-kasih
   orang lain. Selanjutnya, hendaknya mulai dipikirkan dan direncanakan
   langkah-langkah lebih sistematis, konkret, dan terarah untuk
   mengembalikan mereka ke dalam kehidupan yang normal, lepas dari segala
   trauma, serta bebas dari segala beban dan kepedihan sesuai harkat
   kemanusiaan sejati.
   
   Pada sisi ini ulang tahun Palang Merah Indonesia (PMI) tanggal 17
   September perlu ditekankan ke arah sana. Ulang tahun berdirinya PMI
   kali ini hendaknya dijadikan upaya pengembangan kesadaran kita yang
   lebih intens bahwa masalah kemanusiaan, seperti pengungsi, adalah
   persoalan kita bersama yang harus diselesaikan bersama-sama. Kesadaran
   ini memiliki pijakan teologis yang sangat kokoh. Sebab semua agama
   mendorong umatnya untuk menyebarkan kasih dan melepaskan manusia dari
   segala bentuk dehumanisasi, kesengsaraan dan sebagainya; tanpa perlu
   melihat agama yang dianut mereka. Pola dan penekanan seperti itu akan
   memiliki signifikansi yang cukup berarti bagi Indonesia dan
   kemanusiaan saat ini, serta di masa depan.
   
   * Abd A'la, pemerhati masalah sosial-keagamaan.