[INDONESIA-NEWS] Berita SERAMBI 6 Sept 2000

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Tue Sep 05 2000 - 16:28:30 EDT


X-URL: http://www.indomedia.com/serambi/image/200906.htm

                          [INLINE] Serambi Unlimit
                                      
   [INLINE] 00.30 Wib Rabu, 6 September 2000
   
      RUSAK - Badan jalan beraspal di kaki Gunung Kapur, Trumon, Aceh
     Selatan rusak. Sarana perhubungan tersebut rusak, akibat dilintasi
   truk HPH PT HII mengangkut kayu dari Singgersing, Simpang Kiri menuju
                           Lhok Jamin, Bakongan.
                                      
   
   
               Insiden Idi Terulang, Anggota Koramil Dibacok
                                      
   Masih segar dalam ingatan tentang insiden Idi Rayeuk, pembacokan
   anggota TNI hingga tewas oleh orang tak dikenal (OTK) Minggu (13/8).
   Namun belum sampai sebulan kasus serupa terulang lagi di Idi Rayeuk
   itu persisnya di tempat pendaratan ikan (TPI) Kuala Idi, Selasa (5/9)
   sekitar pukul 09.30 WIB, seorang anggota Koramil Idi Rayeuk, Kopda
   Muhammad Holomoan (32) dibacok dengan parang oleh orang tak dikenal
   (OTK). Baik insiden Idi yang pertama maupun yang kedua ini sama-sama
   berekses rakyat yang menjadi korban. Jika pada insiden pertama
   berekses "pembumihangusan" puluhan kedai di los pasar ikan, sehingga
   mengalami kerugian milyaran rupiah. Sedangkan pada insiden Idi kemarin
   tujuh boat nelayan dan bagunan-bangunan yang ada di TPI itu musnah
   dilalap si jago merah. Kerugian yang dialami belum diketahui, namun
   diperkirakan juga milyaran rupiah selanjutnya
   
                                      
                                      
                             Grafis Insiden Idi
                                      
                                  [INLINE]
                                      
                                      
                                      
                                      
                                      
   [INLINE] Mantan Suami Mengamuk, Dua Adik Ipar Ditebas Dua bersaudara
   jatuh berlumur darah setelah ditebas dengan parang oleh mantan abang
   iparnya sendiri, kemarin, di Jalan T Umar, Setui, Banda Aceh. Seorang
   diantaranya, Sahafuddin (27), meninggal di tempat. Sedangkan adiknya,
   Bustami (20) berada dalam kondisi kritis.Kejadian yang menggemparkan
   masyarakat pada siang bolong tersebut, sempat memacetkan arus
   lalu-lintas. Sebab, tubuh Sahafuddin yang berlumuri darah ambruk di
   trotoar jalan raya. Karena mengalami pendarahan hebat, korban
   menghembuskan nafas terakhir di ruang IGD RSU Zainoel Abidin
   
   [INLINE] Ancaman Bom Panikkan Pekerja Exxon Mobil Ancaman bom dari
   penelepon gelap, Selasa (5/9) sekitar pukul 10.30 WIB sempat membuat
   ratusan karyawan Exxon Mobil di Poin-A Kecamatan Tanah Luas, Aceh
   Utara, panik dan berhamburan keluar kantor
   
   [INLINE] Jafar Siddiq tak Ditemukan Hasil pemeriksaan tim dokter
   Kehakiman RS dr.Pirngadi Medan terhadap lima mayat yang ditemukan di
   Desa Nagalingga--83 km Barat daya Medan--tak satupun menunjukkan jati
   diri Ja'far Siddiq Hamzah, Ketua Intertional Forum for Aceh (IFA) yang
   hilang sejak sebulan lalu
   
   [INLINE] Calon Gubernur Membengkak, Dewan Panen Surak Tupee Jumlah
   calon gubernur sampai kemarin membengkak dua lusin lebih setelah DPRD
   'panen' surat dukungan yang juga dikenal sebagai surak tupee. Di luar
   dewan, masing-masing tim sukses terus memburu surak tupee dengan tarif
   bervariasi, untuk mengantisipasi kalau-kalau nanti DPRD membuat sistem
   rangking menurut ukuran banyaknya surat dukungan
   
   [INLINE] Dermaga Lanal Sabang Siap Layani Kapal Asing Dermaga
   Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Sabang siap melayani kehadiran
   kapal-kapal asing yang ingin singgah di daerah Kawasan Perdagangan
   Bebas dan Pelabuhan Bebas (Free Port) tersebut
   
   [INLINE] Kapal sudah Bisa Sandar di Dermaga AL Sabang
   
   [INLINE] Calhaj Aceh Singkil Ada Yang Menangis
   
   [INLINE] Mayat di Alue Liem Pengungsi Politeknik
   
   [INLINE] Karyawan PDAM Demo ke DPRD
   
   To Indek:
   
                                  [INLINE]
                                      
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   Insiden Idi Terulang, Anggota Koramil Dibacok
   
   LANGSA - Masih segar dalam ingatan tentang insiden Idi Rayeuk,
   pembacokan anggota TNI hingga tewas oleh orang tak dikenal (OTK)
   Minggu (13/8). Namun belum sampai sebulan kasus serupa terulang lagi
   di Idi Rayeuk itu persisnya di tempat pendaratan ikan (TPI) Kuala Idi,
   Selasa (5/9) sekitar pukul 09.30 WIB, seorang anggota Koramil Idi
   Rayeuk, Kopda Muhammad Holomoan (32) dibacok dengan parang oleh orang
   tak dikenal (OTK).
   Baik insiden Idi yang pertama maupun yang kedua ini sama-sama berekses
   rakyat yang menjadi korban. Jika pada insiden pertama berekses
   "pembumihangusan" puluhan kedai di los pasar ikan, sehingga mengalami
   kerugian milyaran rupiah. Sedangkan pada insiden Idi kemarin tujuh
   boat nelayan dan bagunan-bangunan yang ada di TPI itu musnah dilalap
   si jago merah. Kerugian yang dialami belum diketahui, namun
   diperkirakan juga milyaran rupiah.
   Korban Holomoan mengalami luka bacok yang sangat parah. Senjata laras
   panjang M.16 yang dibawa korban berhasil dirampas oleh OTK itu.
   Pasukan TNI/Polri setelah terjadi insiden pembacokan itu langsung
   melakukan sweeping di kawasan TKP.
   Kondisi korban, ketika dibawa ke Puskesmas Idi Rayeuk sangat kritis.
   Leher kanan luka koyak bacokan sepanjang 5 CM dengan kedalaman 1 CM.
   Lengan kiri dan sejumlah jari tangan juga mengalami luka koyak serius.
   Paha kiri bagian belakang mengalami luka parah.
   Karena kondisi korban sangat kritis, sehingga pihak medis di Puskesmas
   setempat hanya mampu memberikan pertolongan pertama. Selanjutnya
   korban dirujuk ke RSU Langsa (62 KM dari Idi Rayeuk). Namun setelah
   mendapat perawatan di RSU Langsa, korban pada hari itu juga dilarikan
   ke Rumah Sakit Puteri Hijau Medan, Sumatera Utara.
   Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun Serambi, setelah insiden
   pembacokan terhadap anggota Koramil itu, tak lama berselang
   serombongan aparat keamanan mendatangi TKP. Selanjutnya rentetan suara
   senjata terdengar menyalak di kawasan desa nelayan itu.
   Suara letusan senjata sahut menyahut itu berlangsung sekitar satu jam
   sehingga membuat suasana menjadi mencekam. Ratusan orang yang ada di
   kawasan TKP berlarian tidak tentu arah. Apalagi kawasan TKP tersebut,
   merupakan tempat transaksi penjualan ikan. Dan saat kejadian, persis
   ketika sejumlah boat nelayan pulang dari "melaut" membawa hasil
   tangkapan ikan yang hendak didaratkan ke dermaga TPI.
   Ekses dari peristiwa pembacokan anggota TNI itu seperti lazimnya,
   rakyat yang menjadi korban. Sedikitnya tujuh boat nelayan
   terbakar/dibakar. Di antaranya, boat Victory, Sejati dan Yuni Bahari.
   Lima rumah warga di kawasan radius TKP juga terbakar. Salah satu rumah
   yang terbakar itu, milik anggota FP HAM Aceh Timur, Jalalluddin.
   Masih ada lagi bangunan lain yang terpanggang api. Yakni sembilan
   gudang es, dua gudang ikan, dua galon minyak kecil, empat kios rokok
   dan 12 warung kecil. Sekitar 20-an sepeda, 25-an sepeda motor hangus
   terbakar. Kesemua benda yang terbakar berada di kawasan TKP. Paling
   jauh radius sekitar 200 M.
   Api yang marak cukup besar itu, tidak bisa dipastikan apa karena
   sengaja dibakar aparat keamanan. Bisa saja akibat rentetan peluru
   tembakan senjata api aparat keamanan yang terkena galon minyak,
   ataupun ada pihak-pihak lain yang sengaja melakukan aksi pembakaran
   itu.
   Upaya "pembumihangusan" dan api marak berlangsung sekitar tiga jam.
   Selanjutnya api mulai padam dan tidak sempat menjalar jauh ke rumah
   sejumlah warga lainnya. Api itu padam, setelah datangnya armada
   pemadam kebakaran yang dipimpin komandan regu pemadam kebakaran Idi,
   Zamhir A rauf.
   Menurut Zamhir, sedikitnya dua truk es, empat boat nelayan dan
   sejumlah kedai sempat diselamatkan anggota pemadam kebakaran dari
   "amukan" api. Begitupun armada pemadam kebakaran Idi, belakangan
   dibantu oleh satu unit pemadam kebakaran dari Langsa. Situasi kota
   Idi, akibat insiden yang terjadi, mendadak sepi. Toko-toko di kawasan
   kota Idi, tutup total. Orang lalu lalang bisa dihitung dengan jari.
   Kendati kota Idi sepi, tapi hubungan lalu lintas jalan negara Medan -
   Banda Aceh tidak terputus. Konsentrasi pasukan keamanan, baik dari
   Polri dan TNI, terpusat di kawasan TKP. Ada terlihat sejumlah aparat
   keamanan dari TNI dan Polri yang berjaga-jaga di kawasan Jalan Jendral
   Sudirman - Iskandar Muda.
   Tercatat hingga pukul 16.00 WIB kemarin, dua orang warga nelayan
   mendapat perawatan di Puskesmas Idi Rayeuk. Kedua korban, M Thaib (45)
   warga Tanouh Anou dan Mansur (29) warga Titi Baro mengaku korban
   pemukulan aparat keamanan.
   Sejumlah keterangan yang diperoleh Serambi di Idi, aparat keamanan
   yang sengaja membakar sejumlah bangunan di lokasi TPI dan boat-boat
   nelayan itu. Aksi pembakaran dilakukan sebagai pelampiasan amarah
   akibat seorang anggota TNI mengalami luka parah, korban pembacokan
   OTK.
   Kapolres Aceh Timur, Superintendent Drs Abdullah Hayati kepada Serambi
   kemarin menyatakan pihaknya ikut prihatinan terjadinya insiden Idi
   yang berekses rakyat ikut menjadi korban. Ia juga sesalkan setiap
   terjadi insiden, pihak aparat yang selalu dihujat melakukan tindakan
   kekerasan.
   Berdasarkan laporan yang diterimanya, setelah terjadi pembacokan
   anggota TNI itu semua aparat dikumpulkan di Mapolsek Idi. Suasana
   berkabung pada hari itu, terutama di Makoramil dan Mapolsek Idi,
   terlihat mengental. Setelah mendapatkan arahan barulah para petugas
   keamanan tersebut, kembali ke TKP, untuk melakukan penyisiran dan
   penjagaan.
   Tapi, menurutnya, sebelum aparat tiba di TKP, api telah marak membakar
   lokasi TPI dan boat-boat nelayan. Malah posko aparat yang ada di Kuala
   Idi itu juga ikut dibakar. "Jadi tidak mungkin aparat yang melakukan
   aksi pembakaran itu," kata Kapolres.
   Kapolsek Idi Rayeuk, Ipda Pol Basri SH, ketika dihubungi Serambi
   secara terpisah di Idi, membenarkan sejumlah rumah dan kedai warga
   Kuala Idi terbakar. Begitupun ia tidak menyebutkan siapa pelaku
   pembakaran dan pelaku pembacokan anggota Koramil Idi Rayeuk.
   Dikatakannya, semua kejadian akan diteliti terlebih dahulu. Secara
   hukum, apabila belum ada bukti yang jelas,tidak boleh menuduh
   sembarangan. Tapi dibenarkannya senjata api Kopda Muhammad Halomoan,
   hilang dan tidak diketahui siapa yang mengambilnya.
   Sementara Kepala Biro Penerangan AGAM Wilayah Peurelak, Abu Khalifah,
   melalui telepon juga menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas
   kejadian demi kejadian yang terjadi di Idi Rayeuk. "Kenapa rakyat yang
   menjadi korban. Jika-pun memang anggota GAM yang melakukan kesalahan.
   Seharusnya GAM yang dicari. Jangan rakyat," tandasnya.
   Dikatakan, GAM tidak ada melakukan pembacokan anggota TNI, baik yang
   terjadi beberapa waktu lalu di Idi, maupun insiden yang terjadi
   kemarin. Abu Khalifah, sangat yakin anggota GAM tidak melakukan
   penyerangan atau pembacokan terhadap anggota TNI, karena menghormati
   jeda kemanusiaan.(tim)
   
   To Indek:
   
                                  [INLINE]
                                      
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   Mantan Suami Mengamuk, Dua Adik Ipar Ditebas
   
   BANDA ACEH - Dua bersaudara jatuh berlumur darah setelah ditebas
   dengan parang oleh mantan abang iparnya sendiri, kemarin, di Jalan T
   Umar, Setui, Banda Aceh. Seorang diantaranya, Sahafuddin (27),
   meninggal di tempat. Sedangkan adiknya, Bustami (20) berada dalam
   kondisi kritis.
   Kejadian yang menggemparkan masyarakat pada siang bolong tersebut,
   sempat memacetkan arus lalu-lintas. Sebab, tubuh Sahafuddin yang
   berlumuri darah ambruk di trotoar jalan raya. Karena mengalami
   pendarahan hebat, korban menghembuskan nafas terakhir di ruang IGD RSU
   Zainoel Abidin.
   Setelah membacok kedua pemuda tersebut, tersangka pelaku, Hamdani
   (36), segera diamankan aparat. Kasusnya kini ditangani Polres Aceh
   Besar.
   Menurut hasil visum dokter, akibat tebasan parang Hamdani, Sahafuddin
   mengalami luka robek di tangan kiri ukuran 5 x 4 cm, serta betis
   lipatan lutut kaki kanan (popliter), dan punggung. Kecuali itu,
   kantung kemih korban juga dibacok. Sementara Bustami, dalam perawatan
   intensif di RS Kesdam, setelah ia juga mengalami tusukan di sekujur
   tangan kanan dan kaki kiri.
   Menurut sumber-sumber Serambi di IGD RSU, kejadian yang merenggut jiwa
   warga Desa Meunasah Lam Mee, Kecamatan Jaya, Aceh Barat, berawal dari
   pertengkaran antara Hamdani dengan mantan istrinya, Keumala Hayati, di
   sebuah warung nasi di Jln T Umar milik Hamdani. Sahafuddin dan Bustami
   adalah adik sepupu Keumala Hayati. Cek cok itu berkisar soal hak
   mengambil anak. Pasangan Hamdani dan Keumala Hayati, sebelum bercerai
   dikarunia dua anak.
   Siang itu, isteri pelaku bermaksud menyelesaikan perwalian anak tertua
   yang kini dalam asuhannya. Tapi entah bagaimana, Hamdani terlihat amat
   emosi lalu mengeluarkan parang yang disimpannya dalam toko, kemudian
   mengejar mantan istrinya.
   Dalam pengejaraan itulah, Syahbuddin dan Bustami yang melihat kondisi
   makciknya terdesak. Mereka lantas ingin menyelamatkan Keumala Hayati
   dari kejaran mantan abang iparnya.
   Karena dihalang kedua pemuda tersebut, Hamdani yang sudah kalap mata
   langsung mengalihkan buruannya, sehingga terjadilah aksi pembacokan
   terhadap Syahbuddin dan Bustami.
   Nada yang nyaris sama diutarakan oleh Hamdani (36) di Mapolres Aceh
   Besar, kemarin. Menurut tersangka, ia terpaksa menebas kedua korban
   karena tak tahan dengan ejekan dan caci maki kedua mantan adik iparnya
   itu.
   Kejadian itu sendiri, kata Hamdani, bermula ketika mantan istrinya
   datang ke warungnya dengan tujuan menjemput anaknya yang tertua. Anak
   tertua mereka berada di tempat usaha ayahnya itu sejak Senin (4/9).
   Namun oleh Kuemala Hayati, diminta agar anaknya itu pulang kembali ke
   rumahnya (warung nasi Malahayati) yang jaraknya sekitar 400 meter dari
   tempat usaha mantan suaminya itu.
   Permintaan Keumala Hayati tidak dilayani oleh Hamdani anak tertua
   mereka baru satu hari berada di tempat ayahnya. Lagi pula, ujar
   Hamdani, anaknya itu tak mau kembali ke rumah ibunya karena sering
   dimarahi.
   Akibat penolakan Hamdani, mantan istrinya itu menjadi marah-marah dan
   mencaci maki. Tak lama kemudian, datang Sahafuddin hingga pertengkaran
   itu bertambah ramai. Pertengkaran itu tambah seru karena Bustami
   kemudian juga muncul. Entah karena tak tahan akan makian, Hamdani lalu
   mengambil parang dan menyerang Sahafuddin dan Bustami.
   Kendati ditangan Hamdani parang terhunus, kedua adik mantan istrinya
   itu malah sempat memberikan perlawanan dengan melempar batu ke arah
   Hamdani. Akibat ditantang begitu, Hamdani menjadi kalap, lalu
   menghujamkan parang berkali-kali.
   Kapolres Aceh Besar, Superintendent Sayed Hoesainy di dampingi Kasat
   Reserse-nya Senior Inspektur Sutry Hamdani kepada Serambi kemarin
   membenarkan kejadian itu. Menurut Kapolres, pembacokan yang dilakukan
   tersangka Hamdani terhadap dua korban dari pihak mantan istrinya itu,
   merupakan tindakan melawan hukum. (ran/rid)
   
   To Indek:
   
                                  [INLINE]
                                      
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   Ancaman Bom Panikkan Pekerja Exxon Mobil
   
   LHOKSEUMAWE - Ancaman bom dari penelepon gelap, Selasa (5/9) sekitar
   pukul 10.30 WIB sempat membuat ratusan karyawan Exxon Mobil di Poin-A
   Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, panik dan berhamburan keluar kantor.
   Kepanikan bermula dari informasi petugas operator bahwa mereka
   menerima telepon dari seseorang yang mengancam akan mengebom beberapa
   bagian kantor perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) itu.
   Ratusan petugas keamanan segera melakukan penyisiran dan beberapa ruas
   jalan kawasan line pipa diblokir. Sekitar 30 menit kemudian, tim
   penjinak bom turun mengamati dan mendeteksi lingkungan tersebut.
   Menurut informasi yang dihimpun Serambi di perusahaan itu, suasana
   setempat sejak pukul 11.00 hingga 12.00 WIB sangat mencekam. Sejumlah
   karyawan tidak dibenarkan bergerak dari salah satu tempat yang telah
   ditentukan. Sementara petugas aparat keamanan terlihat sangat
   hati-hati menyisir tempat-tempat yang dicurigai telah ditanami bom.
   Sumber memperkirakan ancaman bom melalui telepon gelap datang dari
   para kontraktor yang tidak suka dengan aturan di perusahaan itu.
   Sebab, sejak Senin (4/9) semua kontraktor dilarang masuk komplek.
   Untuk mereka disiapkan tempat khusus di pintu gerbang Poin-A, padahal
   sebelumnya mereka bebas keluar masuk ke berbagai tempat di komplek
   poin A.
   Relation Manager Exxon Mobil, Muslem Basya kepada Serambi Selasa
   mengakui perusahaan itu menerima ancaman peledakan melalui telepon.
   Akibat ancaman itu, aktivitas karyawan terganggu karena ratusan di
   antaranya lari ke luar dan berkumpul di salah satu tempat.
   Sementara Gubernur GAM Wilayah Pase, Said Adnan Adami dan Wakil
   Panglima GAM Wilayah Pase, Abu Sofyan Daud melalui telepon ke redaksi
   Serambi mengatakan, pihak GAM tidak pernah berencana meledakkan
   provit.
   Sebaliknya, menurut Abu Said dan Abu Sofyan, perusahaan besar wajib
   dilindungi. "Musuh GAM pemerintah RI, bukan bangunan dan proyek
   vital," kata Abu Said.
   Ia meminta karyawan perusahaan bekerja optimal, karena ancaman
   peledakan hanya ulah provokator yang tidak menginginkan terciptanya
   suasana damai dan tenteram di Aceh. "Ada kelompok bagaikan menggiring
   Aceh menjadi daerah darurat sipil, sementara rakyat jelas menolak,"
   katanya.
   Mereka juga mengimbau aparat keamanan agar menghentikan kegiatan yang
   dapat merugikan Aceh. "Mari kita sama-sama mematuhi semua kesepakatan
   Jeda kemanusiaan," kata dua petinggi GAM di Wilayah Pase.(tim)
   
   To Indek:
   
                                  [INLINE]
                                      
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   Jafar Siddiq tak Ditemukan
   
   MEDAN - Hasil pemeriksaan tim dokter Kehakiman RS dr.Pirngadi Medan
   terhadap lima mayat yang ditemukan di Desa Nagalingga--83 km Barat
   daya Medan--tak satupun menunjukkan jati diri Ja'far Siddiq Hamzah,
   Ketua Intertional Forum for Aceh (IFA) yang hilang sejak sebulan lalu.
   Menurut Syarifuddin Hamzah SE--adik kandung Ja'far--tak satu mayat pun
   yang memiliki ciri-ciri kakaknya, Ja'far Siddiq Hamzah. Kepada
   sejumlah jurnalis di RS Pirngadi Medan sesaat usai tim dokter
   melakukan otopsi ke lima mayat yang ditemukan di Kecamatan Merek,
   Kabanjahe, Minggu (3/9) lalu.
   Sebelumnya, Syarifuddin memberitahu tim dokter, bahwa ciri-ciri Ja'far
   antara lain berusia 35 tahun, tinggi badan 162 centimeter, dan berat
   55 kilogram. Ciri khas Ja'far lainnya, tak memiliki usus panjang
   setelah dioperasi di Amerika Serikat dua tahun lalu, terdapat bekas
   jahitan akibat operasi di perut, serta tak lagi memiliki dua gigi
   geraham sebelah kiri.
   Hasil autopsi tim dokter yang dipimpin Prof.DR.dr.Amar Singh, ternyata
   tak satu ciri pun yang diterangkan keluarganya ditemukan pada ke lima
   mayat tersebut. Apalagi kelima mayat itu ditemukan sudah membusuk.
   Diperkirakan, mereka sudah di lempar ke dasar jurang itu antara 7
   sampai 10 hari.
   Kelima mayat itu ditemukan pada satu lokasi dengan jarak antara 5
   sampai 100 meter. Saat ditemukan, kondisi mayat cukup memprihatinkan.
   Tiga mayat tanpa pakaian, satu mengenakan celana jean, dan satu mayat
   lagi hanya mengenakan celana dalam saja, tangan dan kaki terikat
   kawat.
   Temuan lima mayat ini segera membuat heboh masyarakat di Aceh dan
   Sumut. Apalagi setelah dikaitkan dengan hilangnya Ja'far sejak sebulan
   lalu. Kini kelima mayat itu masih berada di RS Pringadi menunggu
   masyarakat yang kehilangan keluarganya. Jika dalam dua atau tiga hari
   ini tak ada yang mengambilnya, akan dikebumikan di pebukuran umum
   sebagai 'orang tak dikenal'.
   Kapolres Tanah Karo, Superintendent Murian Faizal mengatakan, pihaknya
   mulai menyelidiki latar belakang ditemukannya mayat-mayat tersebut.
   Dari penyelidikan di lokasi kejadian tak satupun petunjuk identitas
   maupun pelakunya. Menurut Polisi, selain Sungai Ular yang berada di
   Kabupaten Deliserdang, Desa Nagalingga yang memiliki jurang cukup
   curam, sering dipakai sebagai lokasi pembuangan mayat, korban
   pembunuhan, atau penculikan. (lau)
   
   To Indek:
   
                                  [INLINE]
                                      
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   Calon Gubernur Membengkak, Dewan Panen Surak Tupee
   
   BANDA ACEH - Jumlah calon gubernur sampai kemarin membengkak dua lusin
   lebih setelah DPRD 'panen' surat dukungan yang juga dikenal sebagai
   surak tupee. Di luar dewan, masing-masing tim sukses terus memburu
   surak tupee dengan tarif bervariasi, untuk mengantisipasi kalau-kalau
   nanti DPRD membuat sistem rangking menurut ukuran banyaknya surat
   dukungan.
   Sampai kemarin, juara pengumpul surat dukungan terbanyak yang
   sebelumnya dipegang HM Kaoy Syah (57), digeser oleh Ir Iskandar Husin
   yang sudah memperoleh 87 surat dukungan. Surat dukungan untuk
   Iskandar, sampai hari kelima masa penjaringan terus mengalir.
   Pantauan Serambi, hingga kemarin jumlah surat dukungan untuk calon
   gubernur yang diterima dewan sudah mencapai 180 buah, atau bertambah
   hampir tiga kali lipat sejak masa penjaringan dibuka 1 September lalu,
   yang hanya 65 surat.
   Banyak kalangan memastikan, tradisi Orba yang menjadikan surak tupee
   sebagai salah satu indikator dukungan, masih tetap dipakai untuk
   suksesi kali ini. Pada masa Orba pula, surak tupee dapat diperoleh
   secara gratis karena memang aspirasi murni, dapat juga ditukar dengan
   hanya dua kilogram gula, atau sekian rupiah, tergantung peran atau
   pengaruh 'produsen' surak tupee. Makin berbobot figur atau organisasi
   pembuat surak tupee, biasanya tarifnya makin tinggi.
   Pemberi surat dukungan juga tak perlu terikat dengan etika tertentu,
   misalnya. Ia dapat memberi hanya kepada satu calon, dua calon, atau
   seluruh calon, asal ada yang mau meminta.
   Kecuali kedua figur juara dan runner up pengumpul surat dukungan,
   posisi ketiga berturut-turut kemarin disabet oleh Drs Malik Raden
   (46), Ramli Ridwan SH (34), dan Abdullah Puteh (29). Sedangkan
   kandidat lainnya memperoleh dukungan dibawah 10 surat, bahkan beberapa
   diantaranya hanya mendapat satu surat dukungan.
   Surat dukungan itu umumnya datang dari berbagai organisasi dan
   lembaga, termasuk panti jompo, karang taruna, yayasan, bahkan
   perusahaan kontraktor.
   Total jumlah calon gubernur yang tertera dalam 180 surat dukungan yang
   sudah masuk ke dewan mencapai 26 orang. Mereka adalah H Ramli Ridwan
   SH (Penjabat Gubernur Aceh sekarang), Abdullah Puteh (mantan anggota
   DPR/MPR RI), Ir Iskandar Husin (mantan Sesjen Meneg HAM), Drs HA Malik
   Raden MM (Kakanwil Depdiknas Aceh), Drs HM Kaoy Syah (mantan anggota
   DPR/MPR RI), Dr Mucktar Azis (mantan anggota DPR/MPR RI), dan Prof Dr
   Safwan Idris MA (Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh).
   Sedangkan kemarin diusung dua kandidat lainnya yakni, Prof Dr Dayan
   Dawood (Rektor Unsyiah), dan M Nour Rasyid (Dosen Fak Hukum Unsyiah).
   Juga ada nama Andaman Ibrahim SE (Ketua KNPI Aceh), Ir Azwar Abubakar
   (Ketua PAN Aceh), T Bachrum Manyak (Ketua PDIP Aceh), Dr Alyasa' Abu
   Bakar (Purek I IAIN Arraniry), Prof Abidin Hasyim (Rektor Unida), Dr
   Farhan Hamid (Anggota DPR-RI), Prof Dr Burhanuddin Salim (Dosen Fak
   Kedokteran Hewan), Ir Usman Hasan (Mantan Dubes RI di Meksiko), Drs
   Tgk Muhammad Yus (Ketua DPW PPP Aceh), Drs Bustari Mansur (Wagub
   Aceh), HT Djohan (Ketua DPD Golkar Aceh), Prof Dr Abdullah Ali (Mantan
   Rektor Unsyiah), Prof Dr Ali Basyah Amin (Mantan Rektor Unsyiah), Dr
   Ahmad Humam Hamid (Tokoh LSM Aceh ), Dr Rusli Bintang (Ketua DPP
   Partai Abulyatama), Drs Zulkarnaen (Tugub Wilayah III), dan T Sauki
   Markam (Anak konglomerat Aceh pada Era pemerintahan Sukarno).
   Sedangkan untuk kandidat calon Wagub yang masuk melalui surat dukungan
   itu ialah, Drs H Muchtar Aziz, Drs A Malik Raden, Kaoy Syah, Ir H
   Azwar AB, Dr Ahmad Humam Hamid, T Bachrum Manyak.
   Pengamatan Serambi, isu suksesi gubernur dan wagub Aceh kini sudah
   semakin meriah dibicarakan di berbagai tempat, seperti di kedai- kedai
   kopi dan tempat-tempat pertemuan lainnya. Bahkan tim suksesi dari
   beberapa kandidat terlihat terus bekerja keras memburu surak tupee
   untuk calon unggulannya.
   Dalam mengumpulkan surat dukungan itu, tim suksesi kalau semula
   bekerja dengan sangat rahasia dan hati-hati, tapi belakangan ini sudah
   semakin terbuka. Bahkan ada tim sukses yang menempatkan beberapa agen
   (bukan dealer-red) di kabaupaten dan kecamatan, untuk mencari dukungan
   dari berbagai lembaga dan organisasi yang ada didaerah tesebut.
   Dalam mengumpulkan surat dukungan tersebut, tim suksesi tak segan-
   segan mengeluarkan dana dalam jumlah tertentu, yang disebutkan sebagai
   bantuan khusus dari calon yang didukung. (kan)
   
   To Indek:
   
                                  [INLINE]
                                      
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   Dermaga Lanal Sabang Siap Layani Kapal Asing
   
   BANDA ACEH- Dermaga Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Sabang siap
   melayani kehadiran kapal-kapal asing yang ingin singgah di daerah
   Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Free Port) tersebut.
   "Dermaga TNI-AL akan dipakai sementara sebelum pelabuhan teluk Sabang
   rampung," ujar Gubernur Aceh, Ramli Ridwan pada rapat tindak lanjut
   penetapan Kawasan Sabang sebagai Kawasan Pelabuhan bebas dan
   Perdagangan Bebas sesuai Perpu Nomor 2 Tahun 2000 tanggal 1 September
   2000.
   Pada rapat yang dihadiri Walikota Sabang Sofyan Haroen, Bupati Aceh
   Besar Sayuthi Is, para Kakanwil, Dan Lanal Sabang, di Banda Aceh,
   kemarin, gubernur mengatakan, penggunaan dermaga TNI-AL tersebut sudah
   dibicarakannya dengan Menhub Agum Gumelar di Jakarta belum lama ini.
   Sementara Dan Lanal Sabang, Syahrin AR menegaskan, dermaga tersebut
   boleh digunakan untuk keperluan sipil apalagi untuk mendukung
   merealisasikan free port Sabang. "Sejauh tidak digunakan oleh militer,
   dermaga itu terbuka untuk sipil. Silahkan dimanfaatkan," kata Syahrin.
   Menurut gubernur, saat ini dermaga representatif di Sabang untuk
   lokasi merapatnya kapal-kapal asing hanya dermaga TNI-AL. Selain telah
   memenuhi persayaratan dangkalannya yaitu 11 meter pasang surut dan 14
   meter pasang naik, juga fasilitas di dermaga tersebut sudah memenuhi
   syarat.
   Penggunaan dermaga AL untuk keperluan sipil, katanya, akan dituangkan
   dalam sebuah MoU antara Menhub dengan pejabat TNI-AL. "Hal itu akan
   dibahas dalam rapat dengan sejumlah menteri terkait di Jakarta 8
   September mendatang," katanya.
   Enam bulan
   Sementara Walikota Sabang kepada Serambi mengatakan, untuk
   merampungkan pembangunan pelabuhan teluk Sabang yang akan digunakan
   khusus untuk merapatnya kapal-kapal mancanegara dibutuhkan waktu
   sekitar enam bulan. Saat ini sudah tersedia dana sekitar Rp 20 milyar
   untuk pembangunan pelabuhan tersebut.
   Untuk tahap awal, katanya, panjang dermaga pelabuhan teluk Sabang
   direncanakan 180 meter, diperpanjang dari yang ada saat ini hanya 32
   meter. Program perpanjangan dermaga itu sampai 400 meter dibutuhkan
   dana sekitar Rp 112 milyar.
   Pelabuhan tersebut akan dilengkapi berbagai sarana pendukung seperti
   gudang dan terminal.
   Dermaga AL, katanya, sebelumnya pernah digunakan saat merapatnya kapal
   pesiar Victoria yang panjangnya 286 meter dan kapal Albatros sepanjang
   280 meter. "Kita harapkan September ini sudah ada kapal- kapal asing
   yang singgah di Sabang. Minimal untuk mengenal secara dekat wilayah
   ini," katanya.
   Dalam rapat tersebut, Gubernur Ramli minta semua Kakanwil agar pro
   aktif menyikapi Perpu Nomor 2 Tahun 2000, termasuk semua permasalahan
   yang ada sehingga saat rapat di Jakarta, hal itu bisa dibahas dan
   dicari titik temunya.
   Kakanwil Dephub Aceh Ahmad Usman Duni mengungkapkan, perlunya aturan
   yang jelas mengenai aturan perhubungan laut, termasuk masalah sandar
   dan tambat kapal serta pendaratan pesawat sipil di landasan udara
   TNI-AU. Perpu, yang lebih banyak dituangkan hanya soal perdagangan.
   Selain tentang pelabuhan, masalah keimigrasian, fiskal juga dibahas.
   Menurut Kakanwil Depkeh Aceh Abdullah Sani Damanik, masalah
   keimigrasian perlu dipertegas dalam sebuah keputusan menteri misalnya
   untuk pemberlakukan visa bebas, dan wewenang Kantor Imigrasi Sabang.
   Soal fiskal, katanya, belum ada kejelasan dalam Perpu, apakah
   bepergian ke mancanegara, bebas fiskal. "Kini fiskal hanya dibebaskan
   untuk negara tujuan IMT-GT saja," katanya.
   Hal itu juga perlu penegasan, jangan sampai kawasan tersebut telah
   Masukan-masukan tersebut, menurut gubernur, menjadi bahan penting
   dalam rapat dengan menteri terkait nantinya.
   Gubernur Ramli selaku Ketua Dewan Kawasan Sabang mengatakan, Rabu
   (6/9) hari ini akan ditetapkan anggota tidak tetap dewan tersebut.
   Selain itu juga ditetapkan pengurus Badan Pengusahaan Sabang yang
   diberi kewenangan penuh untuk mengatur semua teknis pelaksanaan.
   Ramli Ridwan kepada Serambi usai rapat tersebut mengungkapkan bahwa
   pihaknya berupaya untuk tidak salah dalam menempatkan orang dalam
   badan tersebut. "Dia tidak mesti dari Aceh dan juga tidak mesti dari
   jajaran birokrasi. Yang penting dia mampu mengakomodir, profesional,
   dan punya visi dan misi jelas untuk mengembangkan kawasan ini,"
   katanya.
   Ketika didesak Serambi apakah ia sudah punya figur calon Ketua Badan
   Pengusahaan Kawasan Sabang, Ramli enggan mengungkapkan. "Sudah, tetapi
   nanti saya beritahu," janjinya.
   Sementara Badan Kapet yang disebut-sebut bakal dileburkan, ternyata
   tetap dipertahankan. Hanya saja, fungsi dan tugasnya dipersempit. "BP
   Kapet hanya mengurusi pembangunan prasarana, sedangkan masalah
   perdagangan, investasi, perizinan dan lain-lain sepenuhnya tanggung
   jawab Badan Pengusahaan Kawasan Sabang," katanya.(ema)
   
   To Indek:
   
                                  [INLINE]
                                      
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   Kapal sudah Bisa Sandar di Dermaga AL Sabang
   
   BANDA ACEH- Kawasan Sabang yang sejak 1 September 2000 yang sah
   kembali menjadi daerah pelabuhan bebas dan perdagangan bebas sudah
   dapat disinggahi kapal asing. Dermaga TNI Angkatan Laut akan dipakai
   sementara untuk itu.
   "Dermaga TNI-AL akan dipakai sementara sebelum pelabuhan teluk Sabang
   dirampungkan," ujar Walikota Sabang, Sofyan Harun kepada Serambi,
   Senin (4/9).
   Penggunaan dermaga TNI-AL tersebut, katanya, sudah dibicarakan
   Gubernur Aceh Ramli Ridwan dengan Menhub Agum Gumelar di Jakarta belum
   lama ini.
   Saat ini dermaga representatif di Sabang untuk lokasi merapatnya
   kapal-kapal asing hanya dermaga TNI-AL. Selain telah memenuhi
   persayaratan dangkalannya yaitu 16 meter pasang surut dan 40 meter
   pasang naik, juga fasilitas di dermaga tersebut sudah memenuhi syarat.
   Penggunaan dermaga AL untuk keperluan sipil, katanya, akan dituangkan
   dalam sebuah MoU antara Menhub dengan pejabat TNI-AL.
   Untuk merampungkan pembangunan pelabuhan teluk Sabang yang akan
   digunakan khusus untuk merapatnya kapal-kapal mancanegara dibutuhkan
   waktu sekitar enam bulan. Saat ini sudah tersedia dana sekitar Rp 20
   milyar untuk pembangunan pelabuhan tersebut.
   Untuk tahap awal, katanya, panjang dermaga pelabuhan teluk Sabang
   direncanakan 180 meter, diperpanjang dari yang ada saat ini hanya 32
   meter. Program perpanjangan dermaga itu sampai 400 meter dibutuhkan
   dana sekitar Rp 112 milyar.
   Pelabuhan tersebut akan dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung
   seperti gudang, terminal, dan lain-lain).
   Dermaga Al, katanya, sebelumnya pernah digunakan saat merapatnya kapal
   pesiar Victoria yang panjangnya 286 meter dan kapal Albatros sepanjang
   280 meter. "Kita harapkan September ini sudah ada kapal- kapal asing
   yang masuk ke Sabang, minimal untuk mengenal secara dekat wilayah
   ini," katanya Tanpa aturan lain
   Menyinggung tentang peraturan-peraturan lain (per sektor) yang
   mendukung Perpu tersebut, menurut Sofyan, itu tidak akan ada lagi.
   Sebab, semuanya sudah tertuang dalam Peraturan Pengganti Undang-
   undang (Perpu) nomor 2 tahun 2000 tentang trade and free port Sabang.
   "Tidak akan ada peraturan-peraturan lainnya, karena semuanya sudah
   tercover dalam Perpu tersebut. Investor tidak perlu ragu dengan
   kemungkinan adanya peraturan ikutan," katanya.
   "Perpu dirancang selengkap mungkin, katanya, sehingga tidak ada lagi
   peraturan ikutan per sektor," tambahnya sehubungan dengan adanya
   pertanyaan dari kalangan pengusaha termasuk Kadinda Aceh.
   Sofyan mengatakan, dalam Perpu semua masalah sudah tertuang rinci.
   Disebutkan bahwa kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas Sabang
   terpisah dari daerah pabean sehingga bebas dari pengenaan bea masuk,
   pajak pertambahan nilai, pajak penjualan atas barang mewah dan cukai.
   Kawasan Sabang sebagai perdagangan bebas dan pelabuhan bebas
   ditetapkan untuk jangka waktu 70 (tujuh puluh) tahun sejak
   diberlakukannya Perpu ini.
   Di dalam Perpu ini, katanya dituangkan masalah kedudukan hukum,
   kelembagaan yang tercover dalam pasal 4, pasal 5 dan 6. Selain itu
   disebutkan juga berbagai fungsi kawasan, perizinan, lalulintas barang,
   karantina, devisa, keimigrasian, pelayaran dan penerbangan. "Kita
   diberi kewenangan mengeluarkan izin usaha yang diperlukan bagi para
   pengusaha yang mendirikan dan menjalankan usaha di kawasan Sabang,"
   katanya.
   Mengenai lalulintas barang, karantina, devisa, keimigrasian, pelayaran
   dan penerbangan, katanya, sudah dijelaskan bahwa semua pemasukan dan
   pengeluaran barang ke dan dari kawasan Sabang hanya dapat dilakukan
   pengusaha yang telah mendapat izin usaha dari Badan Pengusahaan
   Kawasan Sabang.
   Setiap pemasukan dan pengeluaran barang ke dan kawasan Sabang melalui
   pelabuhan dan bandar udara yang ditunjuk dan berada di bawah
   pengawasan pabean diberikan pembebasan bea masuk, pembebasan pajak
   pertambahan nilai, pembebasan pajak penjualan atas barang mewah dan
   pembebasan cukai.(ema)
   
   To Indek:
   
                                  [INLINE]
                                      
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   Calhaj Aceh Singkil Ada Yang Menangis
   
   TAPAKTUAN-Puluhan calon jamaah haji (calhaj) Kabupaten Aceh Singkil
   yang telah melunasi BPIH (biaya perjalanan ibadah haji) tahun 2001
   akhirnya kecewa berat, bahkan ada yang menangis. Karena nomor porsi
   yang keluar sampai 1 September lalu hanya 21 orang dari jatah 120
   orang (kuota) yang diberikan Pemda Tk I Aceh.
   Kemungkinan mereka menunaikan ibadah haji, tampaknya sangat tipis
   meskipun telah melunasi BPIH pada BRI Cabang Tapaktuan, sebagai bank
   penerima. Pasalnya, kuota yang diberikan pemerintah pusat untuk Daerah
   Istmewa Aceh sebanyak 5.850 orang telah penuh seluruhnya.
   Kabag Urusan Haji, Depag Aceh Selatan, H Syarbaini Jakfar SH, juga
   masih membawahi Kabupaten Aceh Singkil kepada Serambi, Selasa (5/9)
   menjelaskan, kekecewaan calhaj Aceh Singkil itu, karena nomor porsi
   yang keluar hanya 21 orang, dan tak sesuai kuota diberikan. "Berarti
   99 orang tak keluar porsi," katanya.
   Setelah berakhir masa pelunasan BPIH secara nasional 31 Agustus lalu,
   pihak BRI Cabang Tapaktuan pada saat perebutan kuota tingkat propinsi,
   yaitu 1 September lalu melakukan online dengan Siskohat Departemen
   Agama sejak pukul 6.00 WIB. "Tapi pada hari itu, tak satupun keluar
   porsi kuota Aceh Singkil, kecuali porsi 21 orang yang sudah keluar
   sebelumnya," kata Syarbaini.
   "Jadi tak ada sedikitpun kelalaian dari kita (BRI). Kita sudah
   melakukan online sejak pukul 6.00 WIB, karena sudah tahu nomor porsi
   berebut. Kendati sudah berulang kali kita kirim file, nomor porsi tak
   keluar (tercetak)," jelas staf BRI Firdaus. Pihaknya, juga telah
   menelpon depag di Jakarta mempertanyakan nomor porsi cahaj Aceh
   Singkil, tapi jawaban yang diberikan bahwa kuota utuk Aceh sudah
   penuh.
   Dalam upaya membantu calhaj Aceh Singkil, pihak depag Aceh Selatan
   akan meminta Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji di Jakarta agar
   mempertimbangkan penambahan kuota untuk Singkil ditambah. Usulan
   penambahan yang diajukan, untuk Aceh Singkil sedikit 99 orang, yaitu
   sisa kuota yang tak keluar porsi.
   Di Aceh Selatan, justru sebaliknya yang terjadi. Menurut, H Syarbaini
   Jakfar, calhaj yang berhasil keluar porsi mencapai 390 orang atau
   lebih 40 orang dari 350 kuota ang berikan oleh propinsi. Masing-masing
   cahal yang menyetor BPIH di BRI Cabang Tapaktuan sebanyak 262 orang,
   dan BRI Cabang Blangpidie 128 orang.
   Jumlah nomor porsi yang keluar 390 orang itu, 20 di antara keluar pada
   saat perebutan nomor porsi tingkat propinsi tanggal 1 September lalu.
   Entah bagaimana, kata Syarbaini, pada hari perebutan BRI Cabang
   Blangpidie yang melakukan online dengan siskohat Depag di Jakarta
   berhasil mendapat nomor porsi terbanyak mencapai 19 orang.
   Sedangkan BRI Cabang Tapaktuan, juga melakukan online pada hari yang
   sama secara berulang kali hanya berhasil mendapat satu nomor porsi.
   Calhal yang beruntung itu berasal dari Kecamatan Trumon.(nun)
   
   To Indek:
   
                                  [INLINE]
                                      
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   Mayat di Alue Liem Pengungsi Politeknik
   
   LHOKSEUMAWE - Mayat pria tanpa identitas yang ditemukan di Alue Liem
   Kecamatan Blang Mangat, Aceh Utara, Rabu (30/8), adalah A. Malek (38)
   pengungsi di kampus Politeknik Lhokseumawe.
   Warga Desa Peuridi Kemukiman Mbang, Kecamatan Syamtalira Bayu itu,
   pulang sebentar dari lokasi pengungsian ke rumahnya seminggu
   sebelumnya. Kemudian ia tak kembali ke kam pengungsian.
   Ayah korban, Tgk Abdussalam, kepada Serambi, Selasa (5/9), menjelaskan
   anaknya yang menderita kelainan jiwa akibat ditahan aparat keamanan
   saat DOM, pulang ke rumahnya untuk memberi makan kucing kesayangannya.
   "Ia minta pulang, kami dan beberapa warga di Politeknik menahannya
   untuk tidak pulang, karena kondisi di kampung belum aman. Malek
   berkeras, tahu-tahu sudah tidak ada lagi di Politeknik," cerita Teugku
   Salam sambil menangis terisak-isak.
   Setelah tidak pulang beberapa hari, sebutnya, beberapa warga
   berinisiatif mencari ke desa. Tapi, yang ditemukan di Desa Darussalam
   atau Keude Mbang, cuma baju dan celana, sedangkan korban menghilang
   sama sekali. "Kini ia ditemukan sudah menjadi mayat," kata Tgk
   Abdussalam.
   Sedikitnya 4.394 jiwa warga Mbang mengungsi ke Kampus Politeknik
   beberapa waktu lalu, ketika aparat keamanan melakukan operasi ke
   daerah mereka. Apa yang dialami Malek membuat pengungsi membuat
   pengungsi ragu-ragu pulang.
   Malek merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Selama mengungsi,
   korban tetap bersama keluarganya, karena menderita penyakit jiwa.
   Setelah diberitakan harian ini ada mayat tak dikenal, keluarga dan
   beberapa masyarakat mencoba melakukan pengecekan ke rumah sakit.
   Berdasarkan ciri mayat, dipastikan korban yang ditemukan di Alue Liem
   Mon Tujoh, adalah Malek yang hilang beberapa waktu lalu.
   Keluarga mengaku sudah melaporkan ke ICRC Lhokseumawe dan Asisten III
   Setda Aceh perihal Malek. Waktu ditemukan Malek terbungkus plastik dan
   kedua kaki terikat tali, saat itu belum ada yang mengenali korban yang
   dievakuasi relawan PMI.
   Mohon bantuan
   Ti Arfah, ibu dari Ismail Hasan, penduduk Kampung Teungoh, Kecamatan
   Sawang melalui Serambi Selasa (5/9) mengharapkan uluran tangan LSM dan
   dinas terkait untuk kesembuhan anaknya.
   Diceritakan wanita itu, Ismail saat ini menderita penyakit dan rusak
   bagian dalam setelah ditangkap aparat keamanan ketika warga Lhoksukon
   mengungsi satu hari 29 Juli lalu.
   Saat itu anaknya pergi ke tempat kakaknya di Desa Mampree Kecamatan
   Matangkuli dan ditangkap aparat keamanan. "Setelah 17 hari ditahan,
   Ismail kami ambil di Polsek Lhoksukon dalam kondisi mengenaskan," kata
   Arfah yang didampingi pengurus LSM Sahara Lhokseumawe.
   Ketika Ismail dibawa pulang, tubuhnya lembam-lembam dan salah satu
   jari kaki kanan (kelingking) terpotong, matanya bengkak. Hingga saat
   ini, sebut wanita itu, ia sudah mengeluarkan biaya sebesar Rp 700 ribu
   lebih.
   Untuk sementara ditangani dr Mufrizal Abubakar di Puskesmas Sawang. Ia
   dibawa ke Lhokseumawe untuk di-rotgen melihat kondisi fisiknya.
   "Puskesmas hanya dapat membantu sejauh peralatan yang ada pada
   mereka," ujar Drs Syamsul Bahri, ketua LSM Sahara.
   Ismail sampai sekarang belum dapat bergerak leluasa. Untuk mandi- pun
   harus disediakan air, bicaranya tidak jelas, dan sewaktu-waktu
   perutnya kembung dan kepalanya pusing.
   "Keluarga kami orang miskin, apalagi ayahnya sudah lama sakit.
   Karenanya mohon uluran tangan untuk membantu kesembuhan Ismail,
   apalagi kabar diperoleh dari tenaga medis, anak saya harus dioperasi,"
   katanya. (yus)
   
   To Indek:
   
                                  [INLINE]
                                      
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   Karyawan PDAM Demo ke DPRD
   
   BANDA ACEH - Ratusan karyawan PDAM Tirta Daroy, Selasa pagi kemarin
   melancarkan aksi demo ke DPRD Banda Aceh. Aspirasi paling mendasar
   yang mereka sampaikan kepada anggota dewan adalah menyangkut
   kepemimpinan Lukman Effendy yang menjabat Direktur
   Administrasi/Keuangan di perusahaan air bersih tersebut.
   Aksi unjukrasa karyawan PDAM Tirta Daroy ke DPRD Banda Aceh kemarin
   melibatkan hampir seluruh awak perusahaan itu. Kalau pun ada yang
   stand by di kantor hanya beberapa karyawan bagian pelayanan dan
   operator mesin pembangkit di Lambaro. "Sebenarnya semua karyawan mau
   ikut. Tapi mengingat pentingnya pelayanan terhadap masyarakat,
   beberapa di antaranya bersedia stand by di kantor dan di mesin
   pembangkit," kata seorang sumber karyawan.
   Rombongan karyawan PDAM Tirta Daroy tiba di DPRD Banda Aceh sekitar
   pukul 09.30 menggunakan bus milik Pemda Aceh dan beberapa pikap milik
   perusahaan tersebut. Malah ada yang datang dengan kendaraan pribadi.
   Mereka diterima oleh pimpinan dan anggota DPRD plus walikota diwakili
   Sekda Drs Idrus Hayat.
   Sekitar pukul 10.00, puluhan orang wakil pengunjukrasa berdialog
   dengan Pemda Banda Aceh di salah satu ruangan gedung DPRD setempat.
   Copot Lukman
   Dalam dialog yang berlangsung dua jam lebih itu, karyawan PDAM Tirta
   Daroy mengangkat sejumlah masalah yang mereka nilai menjadi akar
   persoalan selama ini. Salah satu akar persoalannya, menurut karyawan
   adalah Direktur Administrasi/Keuangan, Drs Lukman Effendy. "Lukman
   Effendy adalah biang kerok persoalan di PDAM. Kami menuntut agar
   Lukman segera dicopot dari jabatannya," kata seorang wakil
   pengunjukrasa.
   Sementara itu, Kabag Teknik PDAM Tirta Daroy, Ir Syamsul Bahri dalam
   forum dialog juga melaporkan, aksi unjukrasa yang mereka lancarkan
   bukan rekayasa apalagi dipaksa oleh pihak-pihak tertentu. Tetapi
   terjadi secara spontan mengingat kondisi PDAM cukup memprihatinkan.
   Selain terjadinya miskomunikasi antara pimpinan dan bawahan, juga
   ancaman perpecahan di tubuh perusahaan.
   Terhadap SK pemecatan atau dirumahkannya enam karyawan PDAM, Syamsul
   Bahri meminta agar pihak dewan maupun walikota meninjau ulang
   keputusan itu.
   Yang tak kalah pentingnya, karyawan meminta agar Direktur
   Administrasi/Keuangan, Drs Lukman Effendy yang ditempatkan ke PDAM
   sejak 1999 ditarik lagi ke posnya semula, yakni di sekretariat Pemda
   Kota Banda Aceh. "Jika Lukman ditarik, kami berjanji akan bekerja
   secara maksimal," tandas Syamsul dibenarkan rekan- rekannya.
   Kebijakan keuangan
   Sementara itu, Yuskan SE (Kasi Pembukuan PDAM Tirta Daroy) yang juga
   dipercayakan sebagai juru bicara pengunjukrasa mengungkapkan,
   kebijakan jajaran direksi dalam penetapan gaji membingungkan karyawan.
   Yuskan mencontohkan pemotongan gaji Rp 50.000/karyawan, serta
   tunjangan jajaran direksi yang mencapai Rp 1 juta/orang, dana pensiun
   yang tidak jelas, dan iuran Jamsostek yang tertunggak sejak 1,5 tahun
   lalu.
   Yang paling aneh, lanjut Yuskan, Direktur Administrasi/Keuangan
   menolak membuat anggaran biaya operasional perusahaan untuk tahun 2000
   ini. "Jadi bagaimana kita harus bekerja sementara anggaran tidak
   dibuat oleh direksi," kata Yuskan sembari membeberkan beberapa kasus
   penyimpangan keuangan yang dilakukan Lukman Effendy.
   Sedangkan Ilham Yacob, mantan Kabag Umum PDAM Tirta Daroy yang kini
   dibangkupanjangkan, menyoroti sikap atasannya (Lukman Efendy) yang
   terkesan terlalu berlindung di balik walikota.
   Menurut Ilham, Lukman sering mengaitkan restu walikota jika hendak
   berbuat suatu keputusan di PDAM. Bahkan, tindakan Lukman dinilai telah
   melampaui kewenangan Direktur Utama PDAM.
   Yang menyampaikan uneg-uneg bukan hanya jurubicara, tetapi beberapa
   karyawati juga mempersoalkan penghilangan tunjangan bagi anak dan
   suami mereka. Para karyawati diwakili antara lain Wardati SE dan
   Andawiyah.
   Terhadap semua aspirasi yang disampaikan karyawan PDAM, baik Ketua
   DPRD M Amin Said SH, Sekda Drs Idrus Hayat, serta Ketua Komisi D DPRD
   Dayeng Iskandar MM SE berjanji akan membahas secara serius. Begitu pun
   tuntutan penarikan Lukman Efendy dari jabatannya, Sekda berjanji akan
   membicarakan secara khusus dengan Walikota Banda Aceh.(rid)
   
   To Indek:
   
                                  [INLINE]

----- End of forwarded message from John A MacDougall -----