X-URL: http://www.indomedia.com/serambi/image/200906.htm
[INLINE] Serambi Unlimit
[INLINE] 00.30 Wib Rabu, 6 September 2000
RUSAK - Badan jalan beraspal di kaki Gunung Kapur, Trumon, Aceh
Selatan rusak. Sarana perhubungan tersebut rusak, akibat dilintasi
truk HPH PT HII mengangkut kayu dari Singgersing, Simpang Kiri menuju
Lhok Jamin, Bakongan.
Insiden Idi Terulang, Anggota Koramil Dibacok
Masih segar dalam ingatan tentang insiden Idi Rayeuk, pembacokan
anggota TNI hingga tewas oleh orang tak dikenal (OTK) Minggu (13/8).
Namun belum sampai sebulan kasus serupa terulang lagi di Idi Rayeuk
itu persisnya di tempat pendaratan ikan (TPI) Kuala Idi, Selasa (5/9)
sekitar pukul 09.30 WIB, seorang anggota Koramil Idi Rayeuk, Kopda
Muhammad Holomoan (32) dibacok dengan parang oleh orang tak dikenal
(OTK). Baik insiden Idi yang pertama maupun yang kedua ini sama-sama
berekses rakyat yang menjadi korban. Jika pada insiden pertama
berekses "pembumihangusan" puluhan kedai di los pasar ikan, sehingga
mengalami kerugian milyaran rupiah. Sedangkan pada insiden Idi kemarin
tujuh boat nelayan dan bagunan-bangunan yang ada di TPI itu musnah
dilalap si jago merah. Kerugian yang dialami belum diketahui, namun
diperkirakan juga milyaran rupiah selanjutnya
Grafis Insiden Idi
[INLINE]
[INLINE] Mantan Suami Mengamuk, Dua Adik Ipar Ditebas Dua bersaudara
jatuh berlumur darah setelah ditebas dengan parang oleh mantan abang
iparnya sendiri, kemarin, di Jalan T Umar, Setui, Banda Aceh. Seorang
diantaranya, Sahafuddin (27), meninggal di tempat. Sedangkan adiknya,
Bustami (20) berada dalam kondisi kritis.Kejadian yang menggemparkan
masyarakat pada siang bolong tersebut, sempat memacetkan arus
lalu-lintas. Sebab, tubuh Sahafuddin yang berlumuri darah ambruk di
trotoar jalan raya. Karena mengalami pendarahan hebat, korban
menghembuskan nafas terakhir di ruang IGD RSU Zainoel Abidin
[INLINE] Ancaman Bom Panikkan Pekerja Exxon Mobil Ancaman bom dari
penelepon gelap, Selasa (5/9) sekitar pukul 10.30 WIB sempat membuat
ratusan karyawan Exxon Mobil di Poin-A Kecamatan Tanah Luas, Aceh
Utara, panik dan berhamburan keluar kantor
[INLINE] Jafar Siddiq tak Ditemukan Hasil pemeriksaan tim dokter
Kehakiman RS dr.Pirngadi Medan terhadap lima mayat yang ditemukan di
Desa Nagalingga--83 km Barat daya Medan--tak satupun menunjukkan jati
diri Ja'far Siddiq Hamzah, Ketua Intertional Forum for Aceh (IFA) yang
hilang sejak sebulan lalu
[INLINE] Calon Gubernur Membengkak, Dewan Panen Surak Tupee Jumlah
calon gubernur sampai kemarin membengkak dua lusin lebih setelah DPRD
'panen' surat dukungan yang juga dikenal sebagai surak tupee. Di luar
dewan, masing-masing tim sukses terus memburu surak tupee dengan tarif
bervariasi, untuk mengantisipasi kalau-kalau nanti DPRD membuat sistem
rangking menurut ukuran banyaknya surat dukungan
[INLINE] Dermaga Lanal Sabang Siap Layani Kapal Asing Dermaga
Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Sabang siap melayani kehadiran
kapal-kapal asing yang ingin singgah di daerah Kawasan Perdagangan
Bebas dan Pelabuhan Bebas (Free Port) tersebut
[INLINE] Kapal sudah Bisa Sandar di Dermaga AL Sabang
[INLINE] Calhaj Aceh Singkil Ada Yang Menangis
[INLINE] Mayat di Alue Liem Pengungsi Politeknik
[INLINE] Karyawan PDAM Demo ke DPRD
To Indek:
[INLINE]
Insiden Idi Terulang, Anggota Koramil Dibacok
LANGSA - Masih segar dalam ingatan tentang insiden Idi Rayeuk,
pembacokan anggota TNI hingga tewas oleh orang tak dikenal (OTK)
Minggu (13/8). Namun belum sampai sebulan kasus serupa terulang lagi
di Idi Rayeuk itu persisnya di tempat pendaratan ikan (TPI) Kuala Idi,
Selasa (5/9) sekitar pukul 09.30 WIB, seorang anggota Koramil Idi
Rayeuk, Kopda Muhammad Holomoan (32) dibacok dengan parang oleh orang
tak dikenal (OTK).
Baik insiden Idi yang pertama maupun yang kedua ini sama-sama berekses
rakyat yang menjadi korban. Jika pada insiden pertama berekses
"pembumihangusan" puluhan kedai di los pasar ikan, sehingga mengalami
kerugian milyaran rupiah. Sedangkan pada insiden Idi kemarin tujuh
boat nelayan dan bagunan-bangunan yang ada di TPI itu musnah dilalap
si jago merah. Kerugian yang dialami belum diketahui, namun
diperkirakan juga milyaran rupiah.
Korban Holomoan mengalami luka bacok yang sangat parah. Senjata laras
panjang M.16 yang dibawa korban berhasil dirampas oleh OTK itu.
Pasukan TNI/Polri setelah terjadi insiden pembacokan itu langsung
melakukan sweeping di kawasan TKP.
Kondisi korban, ketika dibawa ke Puskesmas Idi Rayeuk sangat kritis.
Leher kanan luka koyak bacokan sepanjang 5 CM dengan kedalaman 1 CM.
Lengan kiri dan sejumlah jari tangan juga mengalami luka koyak serius.
Paha kiri bagian belakang mengalami luka parah.
Karena kondisi korban sangat kritis, sehingga pihak medis di Puskesmas
setempat hanya mampu memberikan pertolongan pertama. Selanjutnya
korban dirujuk ke RSU Langsa (62 KM dari Idi Rayeuk). Namun setelah
mendapat perawatan di RSU Langsa, korban pada hari itu juga dilarikan
ke Rumah Sakit Puteri Hijau Medan, Sumatera Utara.
Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun Serambi, setelah insiden
pembacokan terhadap anggota Koramil itu, tak lama berselang
serombongan aparat keamanan mendatangi TKP. Selanjutnya rentetan suara
senjata terdengar menyalak di kawasan desa nelayan itu.
Suara letusan senjata sahut menyahut itu berlangsung sekitar satu jam
sehingga membuat suasana menjadi mencekam. Ratusan orang yang ada di
kawasan TKP berlarian tidak tentu arah. Apalagi kawasan TKP tersebut,
merupakan tempat transaksi penjualan ikan. Dan saat kejadian, persis
ketika sejumlah boat nelayan pulang dari "melaut" membawa hasil
tangkapan ikan yang hendak didaratkan ke dermaga TPI.
Ekses dari peristiwa pembacokan anggota TNI itu seperti lazimnya,
rakyat yang menjadi korban. Sedikitnya tujuh boat nelayan
terbakar/dibakar. Di antaranya, boat Victory, Sejati dan Yuni Bahari.
Lima rumah warga di kawasan radius TKP juga terbakar. Salah satu rumah
yang terbakar itu, milik anggota FP HAM Aceh Timur, Jalalluddin.
Masih ada lagi bangunan lain yang terpanggang api. Yakni sembilan
gudang es, dua gudang ikan, dua galon minyak kecil, empat kios rokok
dan 12 warung kecil. Sekitar 20-an sepeda, 25-an sepeda motor hangus
terbakar. Kesemua benda yang terbakar berada di kawasan TKP. Paling
jauh radius sekitar 200 M.
Api yang marak cukup besar itu, tidak bisa dipastikan apa karena
sengaja dibakar aparat keamanan. Bisa saja akibat rentetan peluru
tembakan senjata api aparat keamanan yang terkena galon minyak,
ataupun ada pihak-pihak lain yang sengaja melakukan aksi pembakaran
itu.
Upaya "pembumihangusan" dan api marak berlangsung sekitar tiga jam.
Selanjutnya api mulai padam dan tidak sempat menjalar jauh ke rumah
sejumlah warga lainnya. Api itu padam, setelah datangnya armada
pemadam kebakaran yang dipimpin komandan regu pemadam kebakaran Idi,
Zamhir A rauf.
Menurut Zamhir, sedikitnya dua truk es, empat boat nelayan dan
sejumlah kedai sempat diselamatkan anggota pemadam kebakaran dari
"amukan" api. Begitupun armada pemadam kebakaran Idi, belakangan
dibantu oleh satu unit pemadam kebakaran dari Langsa. Situasi kota
Idi, akibat insiden yang terjadi, mendadak sepi. Toko-toko di kawasan
kota Idi, tutup total. Orang lalu lalang bisa dihitung dengan jari.
Kendati kota Idi sepi, tapi hubungan lalu lintas jalan negara Medan -
Banda Aceh tidak terputus. Konsentrasi pasukan keamanan, baik dari
Polri dan TNI, terpusat di kawasan TKP. Ada terlihat sejumlah aparat
keamanan dari TNI dan Polri yang berjaga-jaga di kawasan Jalan Jendral
Sudirman - Iskandar Muda.
Tercatat hingga pukul 16.00 WIB kemarin, dua orang warga nelayan
mendapat perawatan di Puskesmas Idi Rayeuk. Kedua korban, M Thaib (45)
warga Tanouh Anou dan Mansur (29) warga Titi Baro mengaku korban
pemukulan aparat keamanan.
Sejumlah keterangan yang diperoleh Serambi di Idi, aparat keamanan
yang sengaja membakar sejumlah bangunan di lokasi TPI dan boat-boat
nelayan itu. Aksi pembakaran dilakukan sebagai pelampiasan amarah
akibat seorang anggota TNI mengalami luka parah, korban pembacokan
OTK.
Kapolres Aceh Timur, Superintendent Drs Abdullah Hayati kepada Serambi
kemarin menyatakan pihaknya ikut prihatinan terjadinya insiden Idi
yang berekses rakyat ikut menjadi korban. Ia juga sesalkan setiap
terjadi insiden, pihak aparat yang selalu dihujat melakukan tindakan
kekerasan.
Berdasarkan laporan yang diterimanya, setelah terjadi pembacokan
anggota TNI itu semua aparat dikumpulkan di Mapolsek Idi. Suasana
berkabung pada hari itu, terutama di Makoramil dan Mapolsek Idi,
terlihat mengental. Setelah mendapatkan arahan barulah para petugas
keamanan tersebut, kembali ke TKP, untuk melakukan penyisiran dan
penjagaan.
Tapi, menurutnya, sebelum aparat tiba di TKP, api telah marak membakar
lokasi TPI dan boat-boat nelayan. Malah posko aparat yang ada di Kuala
Idi itu juga ikut dibakar. "Jadi tidak mungkin aparat yang melakukan
aksi pembakaran itu," kata Kapolres.
Kapolsek Idi Rayeuk, Ipda Pol Basri SH, ketika dihubungi Serambi
secara terpisah di Idi, membenarkan sejumlah rumah dan kedai warga
Kuala Idi terbakar. Begitupun ia tidak menyebutkan siapa pelaku
pembakaran dan pelaku pembacokan anggota Koramil Idi Rayeuk.
Dikatakannya, semua kejadian akan diteliti terlebih dahulu. Secara
hukum, apabila belum ada bukti yang jelas,tidak boleh menuduh
sembarangan. Tapi dibenarkannya senjata api Kopda Muhammad Halomoan,
hilang dan tidak diketahui siapa yang mengambilnya.
Sementara Kepala Biro Penerangan AGAM Wilayah Peurelak, Abu Khalifah,
melalui telepon juga menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas
kejadian demi kejadian yang terjadi di Idi Rayeuk. "Kenapa rakyat yang
menjadi korban. Jika-pun memang anggota GAM yang melakukan kesalahan.
Seharusnya GAM yang dicari. Jangan rakyat," tandasnya.
Dikatakan, GAM tidak ada melakukan pembacokan anggota TNI, baik yang
terjadi beberapa waktu lalu di Idi, maupun insiden yang terjadi
kemarin. Abu Khalifah, sangat yakin anggota GAM tidak melakukan
penyerangan atau pembacokan terhadap anggota TNI, karena menghormati
jeda kemanusiaan.(tim)
To Indek:
[INLINE]
Mantan Suami Mengamuk, Dua Adik Ipar Ditebas
BANDA ACEH - Dua bersaudara jatuh berlumur darah setelah ditebas
dengan parang oleh mantan abang iparnya sendiri, kemarin, di Jalan T
Umar, Setui, Banda Aceh. Seorang diantaranya, Sahafuddin (27),
meninggal di tempat. Sedangkan adiknya, Bustami (20) berada dalam
kondisi kritis.
Kejadian yang menggemparkan masyarakat pada siang bolong tersebut,
sempat memacetkan arus lalu-lintas. Sebab, tubuh Sahafuddin yang
berlumuri darah ambruk di trotoar jalan raya. Karena mengalami
pendarahan hebat, korban menghembuskan nafas terakhir di ruang IGD RSU
Zainoel Abidin.
Setelah membacok kedua pemuda tersebut, tersangka pelaku, Hamdani
(36), segera diamankan aparat. Kasusnya kini ditangani Polres Aceh
Besar.
Menurut hasil visum dokter, akibat tebasan parang Hamdani, Sahafuddin
mengalami luka robek di tangan kiri ukuran 5 x 4 cm, serta betis
lipatan lutut kaki kanan (popliter), dan punggung. Kecuali itu,
kantung kemih korban juga dibacok. Sementara Bustami, dalam perawatan
intensif di RS Kesdam, setelah ia juga mengalami tusukan di sekujur
tangan kanan dan kaki kiri.
Menurut sumber-sumber Serambi di IGD RSU, kejadian yang merenggut jiwa
warga Desa Meunasah Lam Mee, Kecamatan Jaya, Aceh Barat, berawal dari
pertengkaran antara Hamdani dengan mantan istrinya, Keumala Hayati, di
sebuah warung nasi di Jln T Umar milik Hamdani. Sahafuddin dan Bustami
adalah adik sepupu Keumala Hayati. Cek cok itu berkisar soal hak
mengambil anak. Pasangan Hamdani dan Keumala Hayati, sebelum bercerai
dikarunia dua anak.
Siang itu, isteri pelaku bermaksud menyelesaikan perwalian anak tertua
yang kini dalam asuhannya. Tapi entah bagaimana, Hamdani terlihat amat
emosi lalu mengeluarkan parang yang disimpannya dalam toko, kemudian
mengejar mantan istrinya.
Dalam pengejaraan itulah, Syahbuddin dan Bustami yang melihat kondisi
makciknya terdesak. Mereka lantas ingin menyelamatkan Keumala Hayati
dari kejaran mantan abang iparnya.
Karena dihalang kedua pemuda tersebut, Hamdani yang sudah kalap mata
langsung mengalihkan buruannya, sehingga terjadilah aksi pembacokan
terhadap Syahbuddin dan Bustami.
Nada yang nyaris sama diutarakan oleh Hamdani (36) di Mapolres Aceh
Besar, kemarin. Menurut tersangka, ia terpaksa menebas kedua korban
karena tak tahan dengan ejekan dan caci maki kedua mantan adik iparnya
itu.
Kejadian itu sendiri, kata Hamdani, bermula ketika mantan istrinya
datang ke warungnya dengan tujuan menjemput anaknya yang tertua. Anak
tertua mereka berada di tempat usaha ayahnya itu sejak Senin (4/9).
Namun oleh Kuemala Hayati, diminta agar anaknya itu pulang kembali ke
rumahnya (warung nasi Malahayati) yang jaraknya sekitar 400 meter dari
tempat usaha mantan suaminya itu.
Permintaan Keumala Hayati tidak dilayani oleh Hamdani anak tertua
mereka baru satu hari berada di tempat ayahnya. Lagi pula, ujar
Hamdani, anaknya itu tak mau kembali ke rumah ibunya karena sering
dimarahi.
Akibat penolakan Hamdani, mantan istrinya itu menjadi marah-marah dan
mencaci maki. Tak lama kemudian, datang Sahafuddin hingga pertengkaran
itu bertambah ramai. Pertengkaran itu tambah seru karena Bustami
kemudian juga muncul. Entah karena tak tahan akan makian, Hamdani lalu
mengambil parang dan menyerang Sahafuddin dan Bustami.
Kendati ditangan Hamdani parang terhunus, kedua adik mantan istrinya
itu malah sempat memberikan perlawanan dengan melempar batu ke arah
Hamdani. Akibat ditantang begitu, Hamdani menjadi kalap, lalu
menghujamkan parang berkali-kali.
Kapolres Aceh Besar, Superintendent Sayed Hoesainy di dampingi Kasat
Reserse-nya Senior Inspektur Sutry Hamdani kepada Serambi kemarin
membenarkan kejadian itu. Menurut Kapolres, pembacokan yang dilakukan
tersangka Hamdani terhadap dua korban dari pihak mantan istrinya itu,
merupakan tindakan melawan hukum. (ran/rid)
To Indek:
[INLINE]
Ancaman Bom Panikkan Pekerja Exxon Mobil
LHOKSEUMAWE - Ancaman bom dari penelepon gelap, Selasa (5/9) sekitar
pukul 10.30 WIB sempat membuat ratusan karyawan Exxon Mobil di Poin-A
Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, panik dan berhamburan keluar kantor.
Kepanikan bermula dari informasi petugas operator bahwa mereka
menerima telepon dari seseorang yang mengancam akan mengebom beberapa
bagian kantor perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) itu.
Ratusan petugas keamanan segera melakukan penyisiran dan beberapa ruas
jalan kawasan line pipa diblokir. Sekitar 30 menit kemudian, tim
penjinak bom turun mengamati dan mendeteksi lingkungan tersebut.
Menurut informasi yang dihimpun Serambi di perusahaan itu, suasana
setempat sejak pukul 11.00 hingga 12.00 WIB sangat mencekam. Sejumlah
karyawan tidak dibenarkan bergerak dari salah satu tempat yang telah
ditentukan. Sementara petugas aparat keamanan terlihat sangat
hati-hati menyisir tempat-tempat yang dicurigai telah ditanami bom.
Sumber memperkirakan ancaman bom melalui telepon gelap datang dari
para kontraktor yang tidak suka dengan aturan di perusahaan itu.
Sebab, sejak Senin (4/9) semua kontraktor dilarang masuk komplek.
Untuk mereka disiapkan tempat khusus di pintu gerbang Poin-A, padahal
sebelumnya mereka bebas keluar masuk ke berbagai tempat di komplek
poin A.
Relation Manager Exxon Mobil, Muslem Basya kepada Serambi Selasa
mengakui perusahaan itu menerima ancaman peledakan melalui telepon.
Akibat ancaman itu, aktivitas karyawan terganggu karena ratusan di
antaranya lari ke luar dan berkumpul di salah satu tempat.
Sementara Gubernur GAM Wilayah Pase, Said Adnan Adami dan Wakil
Panglima GAM Wilayah Pase, Abu Sofyan Daud melalui telepon ke redaksi
Serambi mengatakan, pihak GAM tidak pernah berencana meledakkan
provit.
Sebaliknya, menurut Abu Said dan Abu Sofyan, perusahaan besar wajib
dilindungi. "Musuh GAM pemerintah RI, bukan bangunan dan proyek
vital," kata Abu Said.
Ia meminta karyawan perusahaan bekerja optimal, karena ancaman
peledakan hanya ulah provokator yang tidak menginginkan terciptanya
suasana damai dan tenteram di Aceh. "Ada kelompok bagaikan menggiring
Aceh menjadi daerah darurat sipil, sementara rakyat jelas menolak,"
katanya.
Mereka juga mengimbau aparat keamanan agar menghentikan kegiatan yang
dapat merugikan Aceh. "Mari kita sama-sama mematuhi semua kesepakatan
Jeda kemanusiaan," kata dua petinggi GAM di Wilayah Pase.(tim)
To Indek:
[INLINE]
Jafar Siddiq tak Ditemukan
MEDAN - Hasil pemeriksaan tim dokter Kehakiman RS dr.Pirngadi Medan
terhadap lima mayat yang ditemukan di Desa Nagalingga--83 km Barat
daya Medan--tak satupun menunjukkan jati diri Ja'far Siddiq Hamzah,
Ketua Intertional Forum for Aceh (IFA) yang hilang sejak sebulan lalu.
Menurut Syarifuddin Hamzah SE--adik kandung Ja'far--tak satu mayat pun
yang memiliki ciri-ciri kakaknya, Ja'far Siddiq Hamzah. Kepada
sejumlah jurnalis di RS Pirngadi Medan sesaat usai tim dokter
melakukan otopsi ke lima mayat yang ditemukan di Kecamatan Merek,
Kabanjahe, Minggu (3/9) lalu.
Sebelumnya, Syarifuddin memberitahu tim dokter, bahwa ciri-ciri Ja'far
antara lain berusia 35 tahun, tinggi badan 162 centimeter, dan berat
55 kilogram. Ciri khas Ja'far lainnya, tak memiliki usus panjang
setelah dioperasi di Amerika Serikat dua tahun lalu, terdapat bekas
jahitan akibat operasi di perut, serta tak lagi memiliki dua gigi
geraham sebelah kiri.
Hasil autopsi tim dokter yang dipimpin Prof.DR.dr.Amar Singh, ternyata
tak satu ciri pun yang diterangkan keluarganya ditemukan pada ke lima
mayat tersebut. Apalagi kelima mayat itu ditemukan sudah membusuk.
Diperkirakan, mereka sudah di lempar ke dasar jurang itu antara 7
sampai 10 hari.
Kelima mayat itu ditemukan pada satu lokasi dengan jarak antara 5
sampai 100 meter. Saat ditemukan, kondisi mayat cukup memprihatinkan.
Tiga mayat tanpa pakaian, satu mengenakan celana jean, dan satu mayat
lagi hanya mengenakan celana dalam saja, tangan dan kaki terikat
kawat.
Temuan lima mayat ini segera membuat heboh masyarakat di Aceh dan
Sumut. Apalagi setelah dikaitkan dengan hilangnya Ja'far sejak sebulan
lalu. Kini kelima mayat itu masih berada di RS Pringadi menunggu
masyarakat yang kehilangan keluarganya. Jika dalam dua atau tiga hari
ini tak ada yang mengambilnya, akan dikebumikan di pebukuran umum
sebagai 'orang tak dikenal'.
Kapolres Tanah Karo, Superintendent Murian Faizal mengatakan, pihaknya
mulai menyelidiki latar belakang ditemukannya mayat-mayat tersebut.
Dari penyelidikan di lokasi kejadian tak satupun petunjuk identitas
maupun pelakunya. Menurut Polisi, selain Sungai Ular yang berada di
Kabupaten Deliserdang, Desa Nagalingga yang memiliki jurang cukup
curam, sering dipakai sebagai lokasi pembuangan mayat, korban
pembunuhan, atau penculikan. (lau)
To Indek:
[INLINE]
Calon Gubernur Membengkak, Dewan Panen Surak Tupee
BANDA ACEH - Jumlah calon gubernur sampai kemarin membengkak dua lusin
lebih setelah DPRD 'panen' surat dukungan yang juga dikenal sebagai
surak tupee. Di luar dewan, masing-masing tim sukses terus memburu
surak tupee dengan tarif bervariasi, untuk mengantisipasi kalau-kalau
nanti DPRD membuat sistem rangking menurut ukuran banyaknya surat
dukungan.
Sampai kemarin, juara pengumpul surat dukungan terbanyak yang
sebelumnya dipegang HM Kaoy Syah (57), digeser oleh Ir Iskandar Husin
yang sudah memperoleh 87 surat dukungan. Surat dukungan untuk
Iskandar, sampai hari kelima masa penjaringan terus mengalir.
Pantauan Serambi, hingga kemarin jumlah surat dukungan untuk calon
gubernur yang diterima dewan sudah mencapai 180 buah, atau bertambah
hampir tiga kali lipat sejak masa penjaringan dibuka 1 September lalu,
yang hanya 65 surat.
Banyak kalangan memastikan, tradisi Orba yang menjadikan surak tupee
sebagai salah satu indikator dukungan, masih tetap dipakai untuk
suksesi kali ini. Pada masa Orba pula, surak tupee dapat diperoleh
secara gratis karena memang aspirasi murni, dapat juga ditukar dengan
hanya dua kilogram gula, atau sekian rupiah, tergantung peran atau
pengaruh 'produsen' surak tupee. Makin berbobot figur atau organisasi
pembuat surak tupee, biasanya tarifnya makin tinggi.
Pemberi surat dukungan juga tak perlu terikat dengan etika tertentu,
misalnya. Ia dapat memberi hanya kepada satu calon, dua calon, atau
seluruh calon, asal ada yang mau meminta.
Kecuali kedua figur juara dan runner up pengumpul surat dukungan,
posisi ketiga berturut-turut kemarin disabet oleh Drs Malik Raden
(46), Ramli Ridwan SH (34), dan Abdullah Puteh (29). Sedangkan
kandidat lainnya memperoleh dukungan dibawah 10 surat, bahkan beberapa
diantaranya hanya mendapat satu surat dukungan.
Surat dukungan itu umumnya datang dari berbagai organisasi dan
lembaga, termasuk panti jompo, karang taruna, yayasan, bahkan
perusahaan kontraktor.
Total jumlah calon gubernur yang tertera dalam 180 surat dukungan yang
sudah masuk ke dewan mencapai 26 orang. Mereka adalah H Ramli Ridwan
SH (Penjabat Gubernur Aceh sekarang), Abdullah Puteh (mantan anggota
DPR/MPR RI), Ir Iskandar Husin (mantan Sesjen Meneg HAM), Drs HA Malik
Raden MM (Kakanwil Depdiknas Aceh), Drs HM Kaoy Syah (mantan anggota
DPR/MPR RI), Dr Mucktar Azis (mantan anggota DPR/MPR RI), dan Prof Dr
Safwan Idris MA (Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh).
Sedangkan kemarin diusung dua kandidat lainnya yakni, Prof Dr Dayan
Dawood (Rektor Unsyiah), dan M Nour Rasyid (Dosen Fak Hukum Unsyiah).
Juga ada nama Andaman Ibrahim SE (Ketua KNPI Aceh), Ir Azwar Abubakar
(Ketua PAN Aceh), T Bachrum Manyak (Ketua PDIP Aceh), Dr Alyasa' Abu
Bakar (Purek I IAIN Arraniry), Prof Abidin Hasyim (Rektor Unida), Dr
Farhan Hamid (Anggota DPR-RI), Prof Dr Burhanuddin Salim (Dosen Fak
Kedokteran Hewan), Ir Usman Hasan (Mantan Dubes RI di Meksiko), Drs
Tgk Muhammad Yus (Ketua DPW PPP Aceh), Drs Bustari Mansur (Wagub
Aceh), HT Djohan (Ketua DPD Golkar Aceh), Prof Dr Abdullah Ali (Mantan
Rektor Unsyiah), Prof Dr Ali Basyah Amin (Mantan Rektor Unsyiah), Dr
Ahmad Humam Hamid (Tokoh LSM Aceh ), Dr Rusli Bintang (Ketua DPP
Partai Abulyatama), Drs Zulkarnaen (Tugub Wilayah III), dan T Sauki
Markam (Anak konglomerat Aceh pada Era pemerintahan Sukarno).
Sedangkan untuk kandidat calon Wagub yang masuk melalui surat dukungan
itu ialah, Drs H Muchtar Aziz, Drs A Malik Raden, Kaoy Syah, Ir H
Azwar AB, Dr Ahmad Humam Hamid, T Bachrum Manyak.
Pengamatan Serambi, isu suksesi gubernur dan wagub Aceh kini sudah
semakin meriah dibicarakan di berbagai tempat, seperti di kedai- kedai
kopi dan tempat-tempat pertemuan lainnya. Bahkan tim suksesi dari
beberapa kandidat terlihat terus bekerja keras memburu surak tupee
untuk calon unggulannya.
Dalam mengumpulkan surat dukungan itu, tim suksesi kalau semula
bekerja dengan sangat rahasia dan hati-hati, tapi belakangan ini sudah
semakin terbuka. Bahkan ada tim sukses yang menempatkan beberapa agen
(bukan dealer-red) di kabaupaten dan kecamatan, untuk mencari dukungan
dari berbagai lembaga dan organisasi yang ada didaerah tesebut.
Dalam mengumpulkan surat dukungan tersebut, tim suksesi tak segan-
segan mengeluarkan dana dalam jumlah tertentu, yang disebutkan sebagai
bantuan khusus dari calon yang didukung. (kan)
To Indek:
[INLINE]
Dermaga Lanal Sabang Siap Layani Kapal Asing
BANDA ACEH- Dermaga Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Sabang siap
melayani kehadiran kapal-kapal asing yang ingin singgah di daerah
Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Free Port) tersebut.
"Dermaga TNI-AL akan dipakai sementara sebelum pelabuhan teluk Sabang
rampung," ujar Gubernur Aceh, Ramli Ridwan pada rapat tindak lanjut
penetapan Kawasan Sabang sebagai Kawasan Pelabuhan bebas dan
Perdagangan Bebas sesuai Perpu Nomor 2 Tahun 2000 tanggal 1 September
2000.
Pada rapat yang dihadiri Walikota Sabang Sofyan Haroen, Bupati Aceh
Besar Sayuthi Is, para Kakanwil, Dan Lanal Sabang, di Banda Aceh,
kemarin, gubernur mengatakan, penggunaan dermaga TNI-AL tersebut sudah
dibicarakannya dengan Menhub Agum Gumelar di Jakarta belum lama ini.
Sementara Dan Lanal Sabang, Syahrin AR menegaskan, dermaga tersebut
boleh digunakan untuk keperluan sipil apalagi untuk mendukung
merealisasikan free port Sabang. "Sejauh tidak digunakan oleh militer,
dermaga itu terbuka untuk sipil. Silahkan dimanfaatkan," kata Syahrin.
Menurut gubernur, saat ini dermaga representatif di Sabang untuk
lokasi merapatnya kapal-kapal asing hanya dermaga TNI-AL. Selain telah
memenuhi persayaratan dangkalannya yaitu 11 meter pasang surut dan 14
meter pasang naik, juga fasilitas di dermaga tersebut sudah memenuhi
syarat.
Penggunaan dermaga AL untuk keperluan sipil, katanya, akan dituangkan
dalam sebuah MoU antara Menhub dengan pejabat TNI-AL. "Hal itu akan
dibahas dalam rapat dengan sejumlah menteri terkait di Jakarta 8
September mendatang," katanya.
Enam bulan
Sementara Walikota Sabang kepada Serambi mengatakan, untuk
merampungkan pembangunan pelabuhan teluk Sabang yang akan digunakan
khusus untuk merapatnya kapal-kapal mancanegara dibutuhkan waktu
sekitar enam bulan. Saat ini sudah tersedia dana sekitar Rp 20 milyar
untuk pembangunan pelabuhan tersebut.
Untuk tahap awal, katanya, panjang dermaga pelabuhan teluk Sabang
direncanakan 180 meter, diperpanjang dari yang ada saat ini hanya 32
meter. Program perpanjangan dermaga itu sampai 400 meter dibutuhkan
dana sekitar Rp 112 milyar.
Pelabuhan tersebut akan dilengkapi berbagai sarana pendukung seperti
gudang dan terminal.
Dermaga AL, katanya, sebelumnya pernah digunakan saat merapatnya kapal
pesiar Victoria yang panjangnya 286 meter dan kapal Albatros sepanjang
280 meter. "Kita harapkan September ini sudah ada kapal- kapal asing
yang singgah di Sabang. Minimal untuk mengenal secara dekat wilayah
ini," katanya.
Dalam rapat tersebut, Gubernur Ramli minta semua Kakanwil agar pro
aktif menyikapi Perpu Nomor 2 Tahun 2000, termasuk semua permasalahan
yang ada sehingga saat rapat di Jakarta, hal itu bisa dibahas dan
dicari titik temunya.
Kakanwil Dephub Aceh Ahmad Usman Duni mengungkapkan, perlunya aturan
yang jelas mengenai aturan perhubungan laut, termasuk masalah sandar
dan tambat kapal serta pendaratan pesawat sipil di landasan udara
TNI-AU. Perpu, yang lebih banyak dituangkan hanya soal perdagangan.
Selain tentang pelabuhan, masalah keimigrasian, fiskal juga dibahas.
Menurut Kakanwil Depkeh Aceh Abdullah Sani Damanik, masalah
keimigrasian perlu dipertegas dalam sebuah keputusan menteri misalnya
untuk pemberlakukan visa bebas, dan wewenang Kantor Imigrasi Sabang.
Soal fiskal, katanya, belum ada kejelasan dalam Perpu, apakah
bepergian ke mancanegara, bebas fiskal. "Kini fiskal hanya dibebaskan
untuk negara tujuan IMT-GT saja," katanya.
Hal itu juga perlu penegasan, jangan sampai kawasan tersebut telah
Masukan-masukan tersebut, menurut gubernur, menjadi bahan penting
dalam rapat dengan menteri terkait nantinya.
Gubernur Ramli selaku Ketua Dewan Kawasan Sabang mengatakan, Rabu
(6/9) hari ini akan ditetapkan anggota tidak tetap dewan tersebut.
Selain itu juga ditetapkan pengurus Badan Pengusahaan Sabang yang
diberi kewenangan penuh untuk mengatur semua teknis pelaksanaan.
Ramli Ridwan kepada Serambi usai rapat tersebut mengungkapkan bahwa
pihaknya berupaya untuk tidak salah dalam menempatkan orang dalam
badan tersebut. "Dia tidak mesti dari Aceh dan juga tidak mesti dari
jajaran birokrasi. Yang penting dia mampu mengakomodir, profesional,
dan punya visi dan misi jelas untuk mengembangkan kawasan ini,"
katanya.
Ketika didesak Serambi apakah ia sudah punya figur calon Ketua Badan
Pengusahaan Kawasan Sabang, Ramli enggan mengungkapkan. "Sudah, tetapi
nanti saya beritahu," janjinya.
Sementara Badan Kapet yang disebut-sebut bakal dileburkan, ternyata
tetap dipertahankan. Hanya saja, fungsi dan tugasnya dipersempit. "BP
Kapet hanya mengurusi pembangunan prasarana, sedangkan masalah
perdagangan, investasi, perizinan dan lain-lain sepenuhnya tanggung
jawab Badan Pengusahaan Kawasan Sabang," katanya.(ema)
To Indek:
[INLINE]
Kapal sudah Bisa Sandar di Dermaga AL Sabang
BANDA ACEH- Kawasan Sabang yang sejak 1 September 2000 yang sah
kembali menjadi daerah pelabuhan bebas dan perdagangan bebas sudah
dapat disinggahi kapal asing. Dermaga TNI Angkatan Laut akan dipakai
sementara untuk itu.
"Dermaga TNI-AL akan dipakai sementara sebelum pelabuhan teluk Sabang
dirampungkan," ujar Walikota Sabang, Sofyan Harun kepada Serambi,
Senin (4/9).
Penggunaan dermaga TNI-AL tersebut, katanya, sudah dibicarakan
Gubernur Aceh Ramli Ridwan dengan Menhub Agum Gumelar di Jakarta belum
lama ini.
Saat ini dermaga representatif di Sabang untuk lokasi merapatnya
kapal-kapal asing hanya dermaga TNI-AL. Selain telah memenuhi
persayaratan dangkalannya yaitu 16 meter pasang surut dan 40 meter
pasang naik, juga fasilitas di dermaga tersebut sudah memenuhi syarat.
Penggunaan dermaga AL untuk keperluan sipil, katanya, akan dituangkan
dalam sebuah MoU antara Menhub dengan pejabat TNI-AL.
Untuk merampungkan pembangunan pelabuhan teluk Sabang yang akan
digunakan khusus untuk merapatnya kapal-kapal mancanegara dibutuhkan
waktu sekitar enam bulan. Saat ini sudah tersedia dana sekitar Rp 20
milyar untuk pembangunan pelabuhan tersebut.
Untuk tahap awal, katanya, panjang dermaga pelabuhan teluk Sabang
direncanakan 180 meter, diperpanjang dari yang ada saat ini hanya 32
meter. Program perpanjangan dermaga itu sampai 400 meter dibutuhkan
dana sekitar Rp 112 milyar.
Pelabuhan tersebut akan dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung
seperti gudang, terminal, dan lain-lain).
Dermaga Al, katanya, sebelumnya pernah digunakan saat merapatnya kapal
pesiar Victoria yang panjangnya 286 meter dan kapal Albatros sepanjang
280 meter. "Kita harapkan September ini sudah ada kapal- kapal asing
yang masuk ke Sabang, minimal untuk mengenal secara dekat wilayah
ini," katanya Tanpa aturan lain
Menyinggung tentang peraturan-peraturan lain (per sektor) yang
mendukung Perpu tersebut, menurut Sofyan, itu tidak akan ada lagi.
Sebab, semuanya sudah tertuang dalam Peraturan Pengganti Undang-
undang (Perpu) nomor 2 tahun 2000 tentang trade and free port Sabang.
"Tidak akan ada peraturan-peraturan lainnya, karena semuanya sudah
tercover dalam Perpu tersebut. Investor tidak perlu ragu dengan
kemungkinan adanya peraturan ikutan," katanya.
"Perpu dirancang selengkap mungkin, katanya, sehingga tidak ada lagi
peraturan ikutan per sektor," tambahnya sehubungan dengan adanya
pertanyaan dari kalangan pengusaha termasuk Kadinda Aceh.
Sofyan mengatakan, dalam Perpu semua masalah sudah tertuang rinci.
Disebutkan bahwa kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas Sabang
terpisah dari daerah pabean sehingga bebas dari pengenaan bea masuk,
pajak pertambahan nilai, pajak penjualan atas barang mewah dan cukai.
Kawasan Sabang sebagai perdagangan bebas dan pelabuhan bebas
ditetapkan untuk jangka waktu 70 (tujuh puluh) tahun sejak
diberlakukannya Perpu ini.
Di dalam Perpu ini, katanya dituangkan masalah kedudukan hukum,
kelembagaan yang tercover dalam pasal 4, pasal 5 dan 6. Selain itu
disebutkan juga berbagai fungsi kawasan, perizinan, lalulintas barang,
karantina, devisa, keimigrasian, pelayaran dan penerbangan. "Kita
diberi kewenangan mengeluarkan izin usaha yang diperlukan bagi para
pengusaha yang mendirikan dan menjalankan usaha di kawasan Sabang,"
katanya.
Mengenai lalulintas barang, karantina, devisa, keimigrasian, pelayaran
dan penerbangan, katanya, sudah dijelaskan bahwa semua pemasukan dan
pengeluaran barang ke dan dari kawasan Sabang hanya dapat dilakukan
pengusaha yang telah mendapat izin usaha dari Badan Pengusahaan
Kawasan Sabang.
Setiap pemasukan dan pengeluaran barang ke dan kawasan Sabang melalui
pelabuhan dan bandar udara yang ditunjuk dan berada di bawah
pengawasan pabean diberikan pembebasan bea masuk, pembebasan pajak
pertambahan nilai, pembebasan pajak penjualan atas barang mewah dan
pembebasan cukai.(ema)
To Indek:
[INLINE]
Calhaj Aceh Singkil Ada Yang Menangis
TAPAKTUAN-Puluhan calon jamaah haji (calhaj) Kabupaten Aceh Singkil
yang telah melunasi BPIH (biaya perjalanan ibadah haji) tahun 2001
akhirnya kecewa berat, bahkan ada yang menangis. Karena nomor porsi
yang keluar sampai 1 September lalu hanya 21 orang dari jatah 120
orang (kuota) yang diberikan Pemda Tk I Aceh.
Kemungkinan mereka menunaikan ibadah haji, tampaknya sangat tipis
meskipun telah melunasi BPIH pada BRI Cabang Tapaktuan, sebagai bank
penerima. Pasalnya, kuota yang diberikan pemerintah pusat untuk Daerah
Istmewa Aceh sebanyak 5.850 orang telah penuh seluruhnya.
Kabag Urusan Haji, Depag Aceh Selatan, H Syarbaini Jakfar SH, juga
masih membawahi Kabupaten Aceh Singkil kepada Serambi, Selasa (5/9)
menjelaskan, kekecewaan calhaj Aceh Singkil itu, karena nomor porsi
yang keluar hanya 21 orang, dan tak sesuai kuota diberikan. "Berarti
99 orang tak keluar porsi," katanya.
Setelah berakhir masa pelunasan BPIH secara nasional 31 Agustus lalu,
pihak BRI Cabang Tapaktuan pada saat perebutan kuota tingkat propinsi,
yaitu 1 September lalu melakukan online dengan Siskohat Departemen
Agama sejak pukul 6.00 WIB. "Tapi pada hari itu, tak satupun keluar
porsi kuota Aceh Singkil, kecuali porsi 21 orang yang sudah keluar
sebelumnya," kata Syarbaini.
"Jadi tak ada sedikitpun kelalaian dari kita (BRI). Kita sudah
melakukan online sejak pukul 6.00 WIB, karena sudah tahu nomor porsi
berebut. Kendati sudah berulang kali kita kirim file, nomor porsi tak
keluar (tercetak)," jelas staf BRI Firdaus. Pihaknya, juga telah
menelpon depag di Jakarta mempertanyakan nomor porsi cahaj Aceh
Singkil, tapi jawaban yang diberikan bahwa kuota utuk Aceh sudah
penuh.
Dalam upaya membantu calhaj Aceh Singkil, pihak depag Aceh Selatan
akan meminta Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji di Jakarta agar
mempertimbangkan penambahan kuota untuk Singkil ditambah. Usulan
penambahan yang diajukan, untuk Aceh Singkil sedikit 99 orang, yaitu
sisa kuota yang tak keluar porsi.
Di Aceh Selatan, justru sebaliknya yang terjadi. Menurut, H Syarbaini
Jakfar, calhaj yang berhasil keluar porsi mencapai 390 orang atau
lebih 40 orang dari 350 kuota ang berikan oleh propinsi. Masing-masing
cahal yang menyetor BPIH di BRI Cabang Tapaktuan sebanyak 262 orang,
dan BRI Cabang Blangpidie 128 orang.
Jumlah nomor porsi yang keluar 390 orang itu, 20 di antara keluar pada
saat perebutan nomor porsi tingkat propinsi tanggal 1 September lalu.
Entah bagaimana, kata Syarbaini, pada hari perebutan BRI Cabang
Blangpidie yang melakukan online dengan siskohat Depag di Jakarta
berhasil mendapat nomor porsi terbanyak mencapai 19 orang.
Sedangkan BRI Cabang Tapaktuan, juga melakukan online pada hari yang
sama secara berulang kali hanya berhasil mendapat satu nomor porsi.
Calhal yang beruntung itu berasal dari Kecamatan Trumon.(nun)
To Indek:
[INLINE]
Mayat di Alue Liem Pengungsi Politeknik
LHOKSEUMAWE - Mayat pria tanpa identitas yang ditemukan di Alue Liem
Kecamatan Blang Mangat, Aceh Utara, Rabu (30/8), adalah A. Malek (38)
pengungsi di kampus Politeknik Lhokseumawe.
Warga Desa Peuridi Kemukiman Mbang, Kecamatan Syamtalira Bayu itu,
pulang sebentar dari lokasi pengungsian ke rumahnya seminggu
sebelumnya. Kemudian ia tak kembali ke kam pengungsian.
Ayah korban, Tgk Abdussalam, kepada Serambi, Selasa (5/9), menjelaskan
anaknya yang menderita kelainan jiwa akibat ditahan aparat keamanan
saat DOM, pulang ke rumahnya untuk memberi makan kucing kesayangannya.
"Ia minta pulang, kami dan beberapa warga di Politeknik menahannya
untuk tidak pulang, karena kondisi di kampung belum aman. Malek
berkeras, tahu-tahu sudah tidak ada lagi di Politeknik," cerita Teugku
Salam sambil menangis terisak-isak.
Setelah tidak pulang beberapa hari, sebutnya, beberapa warga
berinisiatif mencari ke desa. Tapi, yang ditemukan di Desa Darussalam
atau Keude Mbang, cuma baju dan celana, sedangkan korban menghilang
sama sekali. "Kini ia ditemukan sudah menjadi mayat," kata Tgk
Abdussalam.
Sedikitnya 4.394 jiwa warga Mbang mengungsi ke Kampus Politeknik
beberapa waktu lalu, ketika aparat keamanan melakukan operasi ke
daerah mereka. Apa yang dialami Malek membuat pengungsi membuat
pengungsi ragu-ragu pulang.
Malek merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Selama mengungsi,
korban tetap bersama keluarganya, karena menderita penyakit jiwa.
Setelah diberitakan harian ini ada mayat tak dikenal, keluarga dan
beberapa masyarakat mencoba melakukan pengecekan ke rumah sakit.
Berdasarkan ciri mayat, dipastikan korban yang ditemukan di Alue Liem
Mon Tujoh, adalah Malek yang hilang beberapa waktu lalu.
Keluarga mengaku sudah melaporkan ke ICRC Lhokseumawe dan Asisten III
Setda Aceh perihal Malek. Waktu ditemukan Malek terbungkus plastik dan
kedua kaki terikat tali, saat itu belum ada yang mengenali korban yang
dievakuasi relawan PMI.
Mohon bantuan
Ti Arfah, ibu dari Ismail Hasan, penduduk Kampung Teungoh, Kecamatan
Sawang melalui Serambi Selasa (5/9) mengharapkan uluran tangan LSM dan
dinas terkait untuk kesembuhan anaknya.
Diceritakan wanita itu, Ismail saat ini menderita penyakit dan rusak
bagian dalam setelah ditangkap aparat keamanan ketika warga Lhoksukon
mengungsi satu hari 29 Juli lalu.
Saat itu anaknya pergi ke tempat kakaknya di Desa Mampree Kecamatan
Matangkuli dan ditangkap aparat keamanan. "Setelah 17 hari ditahan,
Ismail kami ambil di Polsek Lhoksukon dalam kondisi mengenaskan," kata
Arfah yang didampingi pengurus LSM Sahara Lhokseumawe.
Ketika Ismail dibawa pulang, tubuhnya lembam-lembam dan salah satu
jari kaki kanan (kelingking) terpotong, matanya bengkak. Hingga saat
ini, sebut wanita itu, ia sudah mengeluarkan biaya sebesar Rp 700 ribu
lebih.
Untuk sementara ditangani dr Mufrizal Abubakar di Puskesmas Sawang. Ia
dibawa ke Lhokseumawe untuk di-rotgen melihat kondisi fisiknya.
"Puskesmas hanya dapat membantu sejauh peralatan yang ada pada
mereka," ujar Drs Syamsul Bahri, ketua LSM Sahara.
Ismail sampai sekarang belum dapat bergerak leluasa. Untuk mandi- pun
harus disediakan air, bicaranya tidak jelas, dan sewaktu-waktu
perutnya kembung dan kepalanya pusing.
"Keluarga kami orang miskin, apalagi ayahnya sudah lama sakit.
Karenanya mohon uluran tangan untuk membantu kesembuhan Ismail,
apalagi kabar diperoleh dari tenaga medis, anak saya harus dioperasi,"
katanya. (yus)
To Indek:
[INLINE]
Karyawan PDAM Demo ke DPRD
BANDA ACEH - Ratusan karyawan PDAM Tirta Daroy, Selasa pagi kemarin
melancarkan aksi demo ke DPRD Banda Aceh. Aspirasi paling mendasar
yang mereka sampaikan kepada anggota dewan adalah menyangkut
kepemimpinan Lukman Effendy yang menjabat Direktur
Administrasi/Keuangan di perusahaan air bersih tersebut.
Aksi unjukrasa karyawan PDAM Tirta Daroy ke DPRD Banda Aceh kemarin
melibatkan hampir seluruh awak perusahaan itu. Kalau pun ada yang
stand by di kantor hanya beberapa karyawan bagian pelayanan dan
operator mesin pembangkit di Lambaro. "Sebenarnya semua karyawan mau
ikut. Tapi mengingat pentingnya pelayanan terhadap masyarakat,
beberapa di antaranya bersedia stand by di kantor dan di mesin
pembangkit," kata seorang sumber karyawan.
Rombongan karyawan PDAM Tirta Daroy tiba di DPRD Banda Aceh sekitar
pukul 09.30 menggunakan bus milik Pemda Aceh dan beberapa pikap milik
perusahaan tersebut. Malah ada yang datang dengan kendaraan pribadi.
Mereka diterima oleh pimpinan dan anggota DPRD plus walikota diwakili
Sekda Drs Idrus Hayat.
Sekitar pukul 10.00, puluhan orang wakil pengunjukrasa berdialog
dengan Pemda Banda Aceh di salah satu ruangan gedung DPRD setempat.
Copot Lukman
Dalam dialog yang berlangsung dua jam lebih itu, karyawan PDAM Tirta
Daroy mengangkat sejumlah masalah yang mereka nilai menjadi akar
persoalan selama ini. Salah satu akar persoalannya, menurut karyawan
adalah Direktur Administrasi/Keuangan, Drs Lukman Effendy. "Lukman
Effendy adalah biang kerok persoalan di PDAM. Kami menuntut agar
Lukman segera dicopot dari jabatannya," kata seorang wakil
pengunjukrasa.
Sementara itu, Kabag Teknik PDAM Tirta Daroy, Ir Syamsul Bahri dalam
forum dialog juga melaporkan, aksi unjukrasa yang mereka lancarkan
bukan rekayasa apalagi dipaksa oleh pihak-pihak tertentu. Tetapi
terjadi secara spontan mengingat kondisi PDAM cukup memprihatinkan.
Selain terjadinya miskomunikasi antara pimpinan dan bawahan, juga
ancaman perpecahan di tubuh perusahaan.
Terhadap SK pemecatan atau dirumahkannya enam karyawan PDAM, Syamsul
Bahri meminta agar pihak dewan maupun walikota meninjau ulang
keputusan itu.
Yang tak kalah pentingnya, karyawan meminta agar Direktur
Administrasi/Keuangan, Drs Lukman Effendy yang ditempatkan ke PDAM
sejak 1999 ditarik lagi ke posnya semula, yakni di sekretariat Pemda
Kota Banda Aceh. "Jika Lukman ditarik, kami berjanji akan bekerja
secara maksimal," tandas Syamsul dibenarkan rekan- rekannya.
Kebijakan keuangan
Sementara itu, Yuskan SE (Kasi Pembukuan PDAM Tirta Daroy) yang juga
dipercayakan sebagai juru bicara pengunjukrasa mengungkapkan,
kebijakan jajaran direksi dalam penetapan gaji membingungkan karyawan.
Yuskan mencontohkan pemotongan gaji Rp 50.000/karyawan, serta
tunjangan jajaran direksi yang mencapai Rp 1 juta/orang, dana pensiun
yang tidak jelas, dan iuran Jamsostek yang tertunggak sejak 1,5 tahun
lalu.
Yang paling aneh, lanjut Yuskan, Direktur Administrasi/Keuangan
menolak membuat anggaran biaya operasional perusahaan untuk tahun 2000
ini. "Jadi bagaimana kita harus bekerja sementara anggaran tidak
dibuat oleh direksi," kata Yuskan sembari membeberkan beberapa kasus
penyimpangan keuangan yang dilakukan Lukman Effendy.
Sedangkan Ilham Yacob, mantan Kabag Umum PDAM Tirta Daroy yang kini
dibangkupanjangkan, menyoroti sikap atasannya (Lukman Efendy) yang
terkesan terlalu berlindung di balik walikota.
Menurut Ilham, Lukman sering mengaitkan restu walikota jika hendak
berbuat suatu keputusan di PDAM. Bahkan, tindakan Lukman dinilai telah
melampaui kewenangan Direktur Utama PDAM.
Yang menyampaikan uneg-uneg bukan hanya jurubicara, tetapi beberapa
karyawati juga mempersoalkan penghilangan tunjangan bagi anak dan
suami mereka. Para karyawati diwakili antara lain Wardati SE dan
Andawiyah.
Terhadap semua aspirasi yang disampaikan karyawan PDAM, baik Ketua
DPRD M Amin Said SH, Sekda Drs Idrus Hayat, serta Ketua Komisi D DPRD
Dayeng Iskandar MM SE berjanji akan membahas secara serius. Begitu pun
tuntutan penarikan Lukman Efendy dari jabatannya, Sekda berjanji akan
membicarakan secara khusus dengan Walikota Banda Aceh.(rid)
To Indek:
[INLINE]
----- End of forwarded message from John A MacDougall -----