[INDONESIA-NEWS] KMP - Direksi PT Garuda Akui Lalai Soal KKN

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Tue Jun 06 2000 - 17:09:17 EDT


X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0006/07/EKONOMI/dire13.htm

   Rabu, 7 Juni 2000
   Direksi PT Garuda Indonesia Akui Lalai Soal KKN
   Jakarta, Kompas
   
   Direksi PT Garuda Indonesia mengakui lalai dalam menangani kasus
   korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang terjadi di perusahaan
   penerbangan milik negara itu. Alasannya, prioritas perhatian direksi
   lebih ditujukan pada upaya menyehatkan dan menyelamatkan perusahaan
   dari beban utang kepada kreditor luar negeri. "Kami minta maaf apabila
   kami lalai dan mengabaikan masalah KKN yang terjadi selama ini. Kami
   akui bahwa prioritas kami adalah hanya satu, yaitu menyelamatkan
   perusahaan lebih dulu agar tidak tutup dan mengalami kebangkrutan,"
   ujar Direktur Utama PT Garuda Indonesia Abdul Gani pada Rapat Dengar
   Pendapat dengan Komisi IV DPR di Jakarta, Selasa (6/6).
   
   Dijelaskan, selama arus kas (cashflow) PT Garuda masih negatif,
   eksistensi perusahaan juga terancam. Oleh karena itu, PT Garuda lebih
   berkonsentrasi kepada kegiatan operasionalnya. "Jadi, kami tidak
   mengetahui menyangkut temuan Indonesian Corruption Watch (ICW),"
   ujarnya menjawab pertanyaan sejumlah anggota DPR.
   
   Berdasarkan laporan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
   yang diungkapkan ICW, negara dirugikan hingga satu milyar dollar AS
   atau sekitar Rp 8,5 trilyun akibat KKN yang selama ini terjadi di PT
   Garuda Indonesia.
   
   Kerugian itu diakibatkan oleh empat kasus KKN, yang meliputi leasing
   pesawat Airbus mulai dari A330-300, pesawat B747-200, dan pesawat
   B747-400, serta rekayasa sewa-menyewa komponen dan perawatan pesawat
   antara PT Garuda, PT Merpati Nusantara Airlines (MNA), dan PT Sakanusa
   Dirgantara (SD).
   
   Akibat inefisiensi dan kasus-kasus KKN, diakui PT Garuda terus
   mengalami kerugian dan memiliki utang yang sangat besar dari kreditor
   asing. Total utang PT Garuda kini mencapai 1,4 milyar dollar AS, yang
   meliputi 601 juta dollar ke Airbus, surat promes (promissory note) 300
   juta dollar, utang ke bank lain dan utang dagang sekitar 300 juta
   dollar, serta utang ke Pertamina, Angkasa Pura, dan ke Bank Mandiri
   sekitar 150 juta dollar AS.
   
   Delapan kasus
   
   Menurut Gani, kasus yang diungkap oleh ICW tidak termasuk dalam
   delapan kontrak berindikasi KKN, yang hingga kini masih ditangani PT
   Garuda. Sejak manajemen Garuda dia pimpin, Gani mengaku sudah
   menangani delapan kasus KKN. "Kelihatannya yang diungkap ICW tidak
   termasuk dari delapan kontrak berindikasi KKN itu, seperti Airbus
   3000, jelas tidak masuk. Dari laporan BPKP itu tidak ada laporan
   kerugian sebesar satu milyar dollar AS itu," ujarnya.
   
   Delapan kontrak berindikasi KKN itu meliputi perjanjian pengelolaan
   pergudangan di Bandara Soekarno-Hatta, perjanjian sales agency and
   cargo consolidator Garuda di Amerika dan Australia, perjanjian sales
   (agen tunggal) penjualan tiket Garuda di Jepang, dan penunjukan PT
   Bimantara Graha Insurance Broker.
   
   Selain itu, juga perjanjian perawatan mesin dan modul mesin pesawat
   B747-200 dengan Singapore Airlines, perjanjian sewa pesawat MD-11 ke
   1, 2 dan 3 yang melibatkan PT Humpuss dan PT Bimantara Citra,
   perjanjian pembelian mesin pesawat A330 dengan Roll Royce yang
   melibatkan PT Humpuss, dan perjanjian pembelian pesawat Fokker-100
   dengan Fokker BV yang melibatkan PT Humpuss.
   
   Sementara itu, dalam keterangan persnya seusai Rapat Dengar Pendapat
   Umum dengan PT Garuda, Fraksi PDI Perjuangan (F-PDIP) menolak dengan
   tegas penjelasan direksi PT Garuda yang menyatakan tidak mengetahui
   kasus KKN yang diungkapkan oleh ICW.
   
   "Kami sangat menyesalkan penjelasan direksi PT Garuda menyangkut
   kerugian negara yang diungkapkan oleh ICW. Bagaimana PT Garuda
   Indonesia bisa sehat kalau kasus KKN tidak diungkapkan. (har)

---
RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com>
---