X-URL: http://www.forum.co.id/EDISI/0909/Ekobis/EkbisPenerbangan.htm
o Ekonomi Bisnis - Edisi Tahun IX No. 09 - 04 Juni 2000
Maskapai Peninggalan Gus Dur Diempas Bulog
Manajer Awair dituding menerima aliran dana korupsi di Bulog. Namun,
dirut perusahaan penerbangan yang didirikan Gus Dur itu membantah.
Semakin tinggi pohon, semakin kuat angin menerpa. Namun, kendati
pesawat yang dioperasikan PT Airwagon Internasional (Awair) belum
diterbangkan, "badai" sudah lebih dulu menghantam perusahaan
penerbangan yang baru akan beroperasi pada 7 Juni 2000 itu. Dan, badai
itu tak lain adalah kasus dugaan korupsi di Badan Urusan Logistik
(Bulog). Lo, bagaimana bisa?
Seperti terungkap dalam laporan hasil investigasi Tim Government Watch
(Gowa), salah seorang manajer Awair, Leo Purnomo alias Kie Hou,
disebut sebagai salah seorang penerima aliran dana Yanatera Bulog.
Dari total dana Rp 35 miliar, Leo menerima Rp 5 miliar. Uang itu
diperoleh Leo pada 14 Januari 2000 setelah cek bernomor 514425
dikliring melalui BCA Cabang Tomang, Jakarta. Dalam laporan yang
ditandatangani Koordinator Gowa Farid R. Faqih itu juga disebutkan
bahwa Suwondo yang disebut-sebut sebagai "aktor" dalam dugaan korupsi
itu adalah komisaris di Awair. Temuan Gowa itu tentu saja sangat
mengejutkan. Soalnya, aliran dana itu dikaitkan dengan perusahaan
penerbangan yang ikut didirikan oleh Abdurrahman Wahid sebelum
menjabat sebagai Presiden.
Kendati begitu, laporan Gowa itu dibantah Rachmat Soebakir, Direktur
Utama Awair. Menurut Rachmat, di Awair tidak ada orang yang bernama
Leo Purnomo. "Leo Purnomo itu siapa? Kalau ada faktanya tentang Leo
Purnomo, keluarkan dong faktanya. Jangan cuma ngomong," kata Rachmat
kepada FORUM, pekan lalu. Ia juga menjelaskan bahwa Suwondo bukanlah
komisaris Awair. "Enggak ada [nama itu]," katanya. Karena itulah,
Rachmat tidak mengerti jika Awair dikait-kaitkan dengan kasus Bulog.
"Enggak ada kaitannya, kok," ujar Rachmat.
Namun, Rachmat tidak membantah keterkaitan Gus Dur dalam pendirian
Awair. Di perusahaan yang didirikan pada 28 September 1999 itu, Gus
Dur tercatat sebagai salah seorang pendiri dan sempat memegang saham
40 persen. Tapi, "Karena terpilih menjadi Presiden, Gus Dur
mengundurkan diri," kata Rachmat. Saham Gus Dur sendiri selanjutnya
dijual kepada Haris. Siapa Haris? "Maaf, ia minta tidak
dipublikasikan. Ia low profile," kata Rachmat lagi. Namun,
disebut-sebut, Haris adalah seorang pengusaha kimia berasal dari Jawa
Timur. Yang pasti, kini komposisi saham dikuasai tiga orang, yakni
Haris 40 persen, adik Haris 45 persen, dan Rachmat 15 persen.
Keterlibatan Gus Dur di Awair bermula dari perkenalannya dengan
Rachmat. Saat itu, pengusaha yang banyak berkecimpung di biro
perjalanan itu masih menggeluti bisnis carter pesawat. "Gus Dur sering
ikut terbang. Ia tahu saya orang penerbangan," ucap Rachmat. Dan, niat
mendirikan perusahaan penerbangan itu tercetus beberapa saat setelah
Gus Dur sembuh dari sakit stroke yang kedua. Nama Awair sendiri sering
disebut-sebut sebagai kependekan dari Abdurrahman Wahid (AW). Tapi,
kata Rachmat, "Tidak ada unsur kesengajaan untuk menyingkat
Abdurrahman Wahid. Saya juga enggak main fasilitas."
Yang pasti, perusahaan yang mempekerjakan 208 karyawan itu siap
beroperasi sebagai perusahaan penerbangan berjadwal. Izin dari Dirjen
Perhubungan Udara memang sudah dikantongi sejak 10 Mei lalu. Untuk
tahap awal, Awair akan memberikan layanan pada rute Jakarta-Surabaya
dan Jakarta-Medan dengan menggunakan pesawat jenis Airbus A-310-300.
Direncanakan, Awair juga akan beroperasi di jalur Jakarta-Batam dan
Jakarta-Ujungpandang. Malah, mulai akhir tahun ini, Awair berencana
beroperasi di jalur internasional, seperti ke Taiwan dan ke Australia.
"Jalur internasional itu akan meluas sampai ke berbagai negara di
Eropa," kata Rachmat.
Awair sendiri didirikan dengan modal dasar Rp 2 miliar dan modal
disetor Rp 500 juta. Pesawat yang digunakan Awair merupakan hasil
leasing (sewa guna) dari Region Air, sebuah perusahaan Singapura.
Biaya yang dikeluarkan Awair untuk sewa pesawat adalah US$ 225 ribu
setiap pesawat per bulan.
Apa pun, langkah yang dilakukan Awair tergolong berani. Mengingat,
kondisi angkutan udara di Tanah Air kini tengah terpuruk. "Kami berani
karena tahu pangsa pasar dan manajemennya," kata Rachmat. Keyakinan
itu setidaknya didasarkan pada kenyataan bahwa rute-rute yang
ditinggalkan Garuda malah diisi maskapai asing dengan penumpang yang
berbondong-bondong. Maka, ia pun menganggap bahwa segmen pariwisata
masih positif untuk bisnis angkutan udara. Dalam hal itu, Awair akan
lebih memprioritaskan pada angkutan kargo.
Rachmat yakin bahwa titik impas operasi akan diraih tahun depan.
Begitulah, Awair tetap optimistis walaupun "badai Bulog" tengah
menerpa.
Anton Bahtiar Rifa'i
--- RETURN TO Mailing List & Database Center - <http://www.indopubs.com> ---