[INDONESIA-VIEWS] Mata Uang Asia Raya

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Sat May 20 2000 - 10:58:47 EDT


Date: Sat, 20 May 2000 04:55:19 +0700
To: reformasitotal@egroups.com
From: Admin GSJ <gsj@nettaxi.com>
Subject: Mata Uang Asia Raya

MATA UANG ASIA RAYA

Setujukah anda jika negara2 Asia membentuk mata uang sendiri?

Kalau IMF dan kapitalis2 dunia yang didominasi pemegang dollar Amerika
terus menerus menghisap sumber daya alam Asia tanpa nilai tambah tinggi
bagi kemakmuran masyarakat lokal Asia dan lebih dari itu terus menindas
dengan tekanan politik ekonomi globalnya, mengapa Asia tidak berontak saja?

Cara berontaknya antara lain dengan tidak menggunakan mata uang dolar
Amerika dalam sebagian besar atau seluruh transaksi di sebagian besar
wilayah Asia. Ide dasarnya mirip dengan setup mata uang Euro, namun lebih
revolusioner karena latar belakangnya adalah "pemberontakan" nilai tukar di
mana mata uang dolar sedapat mungkin dihindarkan dalam seluruh transaksi di
Asia. Hal ini akan menjatuhkan nilai tukar dolar dalam perdagangan valas
dunia. Dan kita coba lihat apakah "Green Span Effect" yang heboh itu masih
bisa menahan kedigjayaan perekonomian Amerika. Tak pelak lagi, mata uang
bersama Asia Raya akan menaikkan suku bunga di Amerika secara drastis,
mungkin yang paling drastis dari yang pernah ada. Jika ini terjadi, Amerika
akan mengalami apa yang dialami rakyat Asia Tenggara sejak tahun 1997
sampai saat ini.

Konsep intinya adalah sejauh mungkin menghindarkan transaksi dolar Amerika.
Jangan lupa, bahwa snow ball effect kemerosotan nilai tukar negara-negara
Asia tahun 1997 adalah kontribusi pengkhianatan [yang wajar] orang-orang
kaya lokal. Misalnya di Indonesia, para keluarga pejabatnya meramaikan
pembelian dolar. Nah, yang sekarang harus dilakukan adalah sebaliknya,
yaitu sejauh mungkin tidak menggunakan dolar dalam berbagai transaksi di
Asia. Sebagai alat bersamanya digunakan nilai tukar baru agar tidak
menguntungkan satu negara secara berlebihan, yaitu mata uang Asia Raya.

Mata uang bersama Asia Raya ini dapat mengacu pada mata uang terkuat di
Asia yang di-adjust terhadap mata uang yang digunakan oleh sebagian besar
rakyat Asia. Misalnya mata uang terkuat Yen dan mata uang yang paling
banyak dipegang penduduk Asia adalah Rupee (India), mata uang Cina, dan
Rupiah (Indonesia). Yang pertama-tama harus mempelopori kesepakatan mata
uang bersama adalah negara-negara tersebut, yaitu Jepang, India, Cina, dan
Indonesia. Kepeloporan 4 negara ini akan membuat negara-negara Arab pemasok
minyak dunia tertarik untuk ikut mendukung.

Mata uang bersama Asia ini tentunya akan meredefinisi nilai tukar mata uang
lokal. Hal ini akan merugikan negara-negara yang nilai tukar relatifnya
terhadap dolar cukup kuat, seperti Singapura dan Malaysia. Namun jika 4
negara pelopor plus dukungan negara-negara Arab terus menjalankan setup
mata uang bersama tersebut, tentunya yang lain akan mengikuti arus pasar.
Dan ini adalah bisnis pasar uang biasa. Yang tidak biasa adalah membuat
pasar uang baru saja. Selanjutnya business as usual. Mekanisme pasar uang
akan berjalan dengan sendirinya. Para spekulan pun tetap menjalankan kodrat
pekerjaannya memainkan "mainan" baru. Kalau Soros dapat "menentukan" nilai
tukar mata uang, yang diperlukan para pemimpin Asia adalah mengerjakan yang
tidak dikerjakan Soros, yaitu "menciptakan" mata uang baru. Setelah mata
uang baru itu ada, Soros pun akan main dengan mata uang baru ini. Soros
yang akan berperan memperkuat nilai tukar mata uang Asia Raya itu yang
otomatis akan menurunkan nilai tukar dolar dan memperkuat nilai tukar lokal
mata uang negara-negara Asia. Tanpa bermaksud menjatuhkan nilai dolar
Amerika secara langsung pun, naluri survival Asia untuk "kompak"
menggunakan nilai tukar bersama akan meredefinisi seluruh mata uang global,
termasuk dolar. Karena ini adalah "zero sum game". Dolar naik, mata uang
Asia Raya turun. Mata uang Asia Raya naik, dolar turun.

Pasar uang akan selalu fair. Dengan intervensi bank sentral satu negara
pun, pasar valas tetap akan selalu fair, berjalan sesuai mekanisme pasar.
Harga naik sesuai permintaan dan melemah jika permintaan turun. Semua naik
turunnya nilai tukar berlaku untuk seluruh valuta yang "listed" di bursa
valas, yaitu seluruh mata uang yang "diperdagangkan" di dunia. Jadi,
sebagaimana bursa saham dapat menyertakan "peserta" baru yang listed, yaitu
perusahaan yang baru IPO (go public), yang diperlukan sekarang adalah
membuat mata uang baru yang akan "listed" dalam perdagangan bursa valas
dunia. Para pemimpin Asia perlu meng-"create" mata uang bersama yang
awalnya akan diperdagangkan dalam pasar uang Asia dan dalam semester
pertama itu juga akan mengalir ke pasar uang dunia secara alami.

Tentunya ide sederhana untuk membuat mata uang bersama Asia Raya ini tidak
mudah implementasinya. Resiko blokade ekonomi negara importir produk-produk
utama Asia perlu diperhitungkan. Demikian pula membuat kesepakatan antar
negara Asia sendiri tidak mudah. Jepang tentu saja mau dijadikan patokan,
karena akan menguntungkan perekonomian negaranya secara mutlak di dunia.
India, Cina, dan Indonesia yang berpenduduk besar tentu menginginkan aspek
penguatan nilai tukar lokalnya. Singapura, Malaysia, Thailand pasti tidak
rela adjust dengan Indonesia yang porak poranda. Namun negara-negara
berwilayah kecil dan berpenduduk sedikit dengan sumber daya alam terbatas
seperti Singapura dan Jepang harus mempertimbangkan "daya dukung" sumber
daya alam dan sumber daya manusia Indonesia, Cina, dan India yang besar.
Daya dukung sumber daya alam dan SDM yang besar ini diperlukan sebagai
"penyangga pasar" Asia jika Amerika dan sekutu ekonominya memblokade
ekonomi Asia.
Karena itu perlu kebesaran hati pemerintah Jepang dan Singapura untuk
menerima kenyataan bahwa nilai tukar mata uang mereka yang tinggi
memerlukan "penyangga" negara-negara berwilayah dan berpenduduk besar. Di
sinilah konsep "globalisasi lokal" atau "globalisasi regional" terwujud
untuk survive dari "globalisasi global" yang hanya akan menguntungkan
pemegang Euro dan USD.

Kesulitan terbesar bagi negara-negara Asia adalah "menerima Indonesia"
dengan tulus dan terbuka. Ini mengingat kondisi dalam negeri Indonesia yang
masih porak poranda, huru-hara di sana-sini, pertikaian antar parpol ini
dan itu, serta komentar presiden yang sering tidak dimengerti masyarakat
dan dimanfaatkan lawan politiknya untuk melemahkan posisi pemerintahan.
Semuanya merugikan posisi Indonesia di mata internasional, termasuk
mempersulit bargain mata uang bersama Asia. Aceh dan Ambon mungkin tidak
bisa cepat selesai. Namun jika para aktor politik lebih bijaksana dan
pemerintahan dapat lebih stabil, maka Indonesia akan punya bargain yang
lebih kuat. Indonesia akan lebih percaya diri mendekati India, Cina, dan
Jepang dengan bargain sumber minyak, bahan baku nuklir, mineral, hutan
tropis tertua dengan keaneka ragaman hayati terbesar di dunia [minus faktor
kebakaran hutan di bawah Australia dan Amerika Serikat], lautan, potensi
pariwisata dengan garis pantai terpanjang di dunia dan kepulauan terbanyak
di dunia, serta sumber daya manusia. Sekali lagi tenaga manusia menjadi
"komoditi" bargain Indonesia. Namun kali ini kesempatan untuk memberi nilai
tinggi pada SDM Indonesia karena kesuksesan bargain ini akan mempermudah
pembayaran hutang-hutang luar negeri Indonesia.

Pembentukan mata uang bersama Asia tentu secara langsung akan memperkuat
mata uang lokal negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Jika nilai tukar
mata uang bersama Asia Raya itu memperkuat rasio rupiah terhadap dolar
Amerika dua kali lebih kuat dari saat ini, maka logikanya pengembalian
hutang akan dua kali lebih ringan atau dua kali lebih cepat. Hal ini
sepenuhnya fair, sesuai mekanisme pasar uang dunia. Hutang dolar dibayar
dolar. Nilai dolarnya tak ada yang berubah. Yang berubah adalah keringanan
di pihak Indonesia karena faktor rupiah yang menguat dengan adanya
instrumen perantara mata uang bersama Asia yang kuat.

Setiap "pemberontakan" tentu memerlukan pengorbanan. Ekspor negara-negara
Asia ke negara pemegang dolar pasti merosot, bahkan bisa sampai nol.
Amerika pasti "menghajar" Asia. Namun jika Asia kompak, hajaran itu tak
akan bertahan lama. Ini mirip seperti perjuangan mahasiswa menumbangkan
rejim Soeharto. Jelas menghadapi hadangan bahkan dihajar tentara. Lebih
dari itu, dibombardir dan ditembak sampai mati. Tapi dengan perlawanan yang
terus menerus tanpa henti, kesewenang-wenangan itu akhirnya tumbang juga.
Namun jika setengah hati menghadapi represi seperti di gerakan di Malaysia,
maka kestabilan semu penguasa lama akan terus bertahan.

Dengan cara yang sama, negara-negara Asia perlu menyepakati perjuangan
ekonomi baru bersama, khususnya untuk membentuk mata uang baru bersama Asia
Raya tersebut. Blokade ekonomi dari negara manapun tak akan bertahan lama
karena Asia terlalu besar. Para produsen hitech di bidang telekomunikasi,
elektronika, teknologi informasi tak akan kuat berlama-lama ikut-ikutan
menahan ekspor ke pasar Asia. Jika negara-negara Asia kompak dan konsisten,
tak ada blokade ekonomi yang kuat bertahan lebih dari 1 tahun. Jangan lupa
bahwa 2/3 penduduk dunia dan lebih dari 50% energi dunia termasuk minyak
dan nuklir berada di Asia. Pasar Asia masih cukup besar untuk pertukaran
perdagangan antar negara Asia. Namun yang paling penting diperhitungkan
adalah kebutuhan pokok. Negara-negara Asia yang mempelopori atau
menggunakan mata uang bersama Asia harus memperhitungkan cadangan kebutuhan
pokok rakyatnya untuk menghadapi situasi terburuk akibat blokade ekonomi
negara dolar. Jika cadangan kebutuhan pokok antar negara (lintas negara)
Asia cukup memadai, revolusi mata uang Asia bisa dicetuskan. Mungkin inilah
bentuk perang dunia ketiga. Tanpa mitraliur dan ceceran darah, Asia dapat
rebut kembali kemakmurannya yang terampas dengan bom mata uang bersama Asia
Raya.

Rupanya inilah skenario tersembunyi Gus Dur yang berusaha menggandeng
Jepang, India, Cina, dan Arab. Wajar sekali jika bertentangan dengan
Laksamana Sukardi yang Lippo-linked sehingga pro America's economy. Dengan
style Gus Dur yang tidak memaki-maki Soros, pada waktunya Soros akan
memutar mata uang Asia Raya yang akhirnya mempermudah jalan bagi Indonesia
untuk membayar seluruh hutang luar negerinya dan mewujudkan kemakmuran baru
yang lebih substansial. Lebih dari itu, abad baru perekonomian dunia
benar-benar dimulai dengan standar kesetaraan baru. Seandainya seluruh
elemen parpol lebih bijaksana, lebih negarawan, lebih "globalwan" dan fokus
menggalang dukungan luar negeri, mungkin kesepakatan Asia Raya akan lebih
cepat terwujud.

Bagaimana menurut anda?

Tabik,
Admin GSJ

----- End of forwarded message from Admin GSJ -----

--- All 'apakabar' mailing lists and databases are brought to you courtesy
of ESOSOFT. ESOSOFT has many interesting Internet services and can handle
many special needs very well at reasonable costs. Indonesia Publications
uses ESOSOFT's virtual server and Web hosting facilities. Visit ESOSOFT's
homepage at http://www.esosoft.net -- and if you find anything which you
think you might need, inquire further at sales@esosoft.net . ESOSOFT --
recommended highly by INDONESIA PUBLICATIONS. ---