X-URL: http://www.tempo.co.id/majalah/index-isi-free.asp?rubrik=eko&nomor=1
Ekonomi & Bisnis NO. 04/XXIX/27 Maret - 2 April 2000 Astra Jatuh
Ditikam Kartel?
Astra International jatuh ke tangan konsorsium Singapura. Mengapa
harganya jeblok? Gus Dur dan Wiranto ikut bermain?
_________________________________________________________________
Pedagang mobil Singapura, Cycle & Carriage, tak ubahnya jago balap
tikungan. Ketika semua mata memandang kontestan lain, tiba-tiba ia
menyodok dan mengalahkan lawan-lawannya di tikungan terakhir. Bersama
sejumlah investor lain, konsorsium C&C memenangi perebutan saham Astra
International pada harga Rp 3.700 per saham, Jumat lalu.
Kemenangan C&C sungguh di luar dugaan. Semula, orang menjagokan kongsi
Newbridge dari Amerika Serikat, yang disokong penuh pendiri Astra,
William Soeryadjaya dan kelompok usaha Nahdlatul Ulama, Harawi
Sekawan. Kendati mengaku sudah menyapih Harawi, sosok Presiden RI
sulit dipisahkan dari Harawi- konon singkatan Haji Abdurrahman Wahid.
Harawi digagas dan dijadikan tangan bisnis Gus Dur sebelum kiai
Ciganjur itu didapuk menjadi presiden. Tapi ternyata kongsi Newbridge
yang nyantol kekuasaan itu dengan gampang bisa ditaklukkan C&C.
Walhasil, tender Astra pun terkesan fair dan adil.
Tapi, benarkah demikian?
Harus diakui, penawaran Astra penuh kepentingan dan maksud-maksud
politik. Sukses-tidaknya penjualan Astra amat menentukan nasib
keuangan negara. Dana hasil pelelangan salah satu aset terbaik
pemerintah itu digunakan sebagai salah satu penambal kekurangan dana
anggaran tahun lalu, yang jumlahnya sekitar Rp 50 triliun.
Selain itu, juga sulit dibantah, Astra merupakan salah satu perusahaan
terbaik Indonesia. Dengan taksiran aset Rp 25 triliun, Astra bukan
cuma pabrik mobil terbesar dengan jaringan pemasaran dan layanan
pascajual yang paling komplet. Astra juga sekumpulan usaha mulai dari
perkebunan, kehutanan, keuangan, hingga telekomunikasi. "Kalau mau
pilih satu perusahaan Indonesia untuk investasi, ya, cuma Astra," kata
seorang pentolan pasar modal. Gampang dipahami jika Astra diperebutkan
begitu banyak kalangan.
Dilihat dari posisinya yang begitu sentral dalam menentukan nasib kas
negara, pelelangan saham Astra tak bisa lain harus memilih kontestan
yang memberikan harga tertinggi. Lalu mengapa konsorsium Newbridge
yang pernah menawar Astra paling sedikit pada harga Rp 3.750 per
saham, kok, malah keok?
Kekalahan kongsi Newbridge mulai terlihat sejak Kamis, 23 Maret. Di
luar dugaan, konsorsium AS dan Indonesia itu cuma memberikan tawaran
harga Rp 3.450, jauh di bawah harga minimal yang pernah ditawarkannya
empat bulan lalu (lihat boks infografik). Menurut sumber TEMPO,
jatuhnya harga Astra di mata Newbridge and the gang merupakan hasil
wajar dari uji tuntas (due diligence) yang, "Agak mengecewakan."
Mengecewakan? Setelah isi perutnya diaduk-aduk, kata sumber TEMPO,
Astra ternyata tak seindah warna aslinya. "Banyak bolongnya," katanya.
Salah satu bolong terbesar adalah pinjaman Federal International
Finance (FIF) kepada Bob Hasan senilai US$ 500 juta untuk membeli
saham Astra yang pernah diramaikan beberapa bulan lalu. Selain itu,
konsorsium ini juga menilai penjualan Astra Sekuritas, salah satu anak
perusahaan Astra kepada Widari, tidak transparan. Belum lagi soal
praktek perusahaan dalam perusahaan yang dikelola sebagian anggota
manajemen puncak Astra.
Dengan pelbagai beban seperti itu, Astra diperkirakan bakal kesulitan
arus-kas. Sekarang mungkin bisa ditangani dengan menjual aset, tapi,
"Bagaimana kelak jika utangnya jatuh tempo?" Menurut kalkulasinya,
Astra akan membutuhkan suntikan modal baru. Dan itu jelas akan
merepotkan pemegang saham. Karena itu, katanya, harus ada koreksi
harga penawaran ke Rp 3.450. Tapi, karena C&C berani memberikan
penawaran lebih tinggi, "Ya sudah, kami kalah dengan fair," katanya
enteng. Hm, kelihatannya memang masuk akal.
Namun, kalau dipikir-pikir lagi, semua "bolong" yang katanya ditemukan
pada saat uji tuntas itu sebenarnya bukan berita baru. Kesulitan
arus-kas yang mungkin akan dihadapi Astra juga cerita lama. Manajemen
Astra bahkan sudah memutuskan untuk melakukan penjualan saham baru
untuk menambah modal, selain menjual beberapa penyertaannya di
sejumlah anak perusahaan.
Dan, ini yang penting, konsorsium Newbrigde yang dibeking penuh
Keluarga Soeryadjaya dan sejumlah mantan direksi Astra itu sudah
mengetahui pelbagai kebocoran itu sejak dulu. Tentu saja mereka juga
sudah memperhitungkan tantangan arus-kas Astra, sejak sebelum mulai
menawar akhir tahun lalu. Bahwa cerita kebocoran itu kemudian meletup
di koran-koran, sedikit banyak itu karena andil para sumber berita
dari Newbridge ini pula. Menurut perhitungan seorang pengamat pasar
modal, semua borok Astra itu sebenarnya sudah diperhitungkan pada
harga penawaran Newbridge yang Rp 3.750 itu.
Jadi, mengapa Newbridge harus membanting harga penawarannya? Benarkah
untuk memberi jalan kepada kontestan lain agar bisa menguasai Astra
dengan harga murah? Kalaupun benar demikian, untuk apa langkah ini
dilakukan?
Wah, pertanyaan seperti itu mungkin terlalu jail, tapi bukan tak ada
dasarnya. Ada sejumlah petunjuk yang, harus diakui, masih samar-samar.
Beberapa hari menjelang tenggat penawaran, Gilbert Global Equity,
salah satu anggota konsorsium Newbridge, tiba-tiba mengundurkan diri.
Langkah surut Gilbert ini diikuti sejumlah investor lain dari AS (yang
juga ikut membeking Newbridge). Menurut salah seorang sumber TEMPO
yang dekat dengan konsorsium ini, langkah ini ditempuh beberapa
investor setelah melihat hasil uji tuntas Astra yang banyak borok itu.
Tapi sumber lain menduga, surutnya Gilbert dan kawan-kawan ini
disebabkan karena lembaga investasi dari AS itu menolak "kartel harga"
dalam lelang Astra.
Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), yang punya hajat dalam
lelang ini, bungkam atas spekulasi semacam itu. Kepala BPPN Cacuk
Sudarijanto tak mau menjawab mengapa Astra cuma bisa laku dengan harga
begitu murah. Beberapa bulan terakhir, saham Astra diperdagangkan pada
harga Rp 3.600 hingga Rp 3.800 di pasar eceran bursa saham Jakarta,
tak berbeda jauh dari harga borongan C&C. Padahal, biasanya dalam
jual-beli saham porsi besar, harus ada tambahan premium sebagai
imbalan atas posisi pengendali yang akan diterima pembeli. Menurut
sejumlah analis, harga wajar 39 persen saham Astra yang dimiliki
pemerintah itu paling sedikit Rp 4.000 per saham. Lalu mengapa cuma Rp
3.700? Cacuk, lagi-lagi, tutup mulut.
Sumber TEMPO di kalangan keuangan mengakui kemenangan C&C sudah diatur
lewat lobi kelas atas. Selain didukung Soros, konsorsium C&C dibeking
Rudy Tanoesoedibyo, saudara sekandung Harry Tanoesoedibyo pemilik
Bhakti Investama. Rudy inilah yang terus menempel Presiden setiap kali
Gus Dur ke luar negeri. Rudy jugalah yang menghubungkan Gus Dur dengan
Ketua CITIC, perusahaan induk BUMN pemerintah Cina, Wang Yun dan Chai
Zongzhi, dalam kunjungannya ke Negeri Tirai Bambu, awal Desember lalu.
Berkat lobi Rudy jugalah, kabarnya, Gus Dur bersama Ibu Sinta Nuriyah
mendapatkan pengobatan di RS Ophthalmological di Akademi Pengobatan
Cina Tradisional.
Sukses C&C dan kawan-kawan, kabarnya, juga merupakan hasil pelobi
tangguh kelompok Poros Tengah seperti bekas Menteri Keuangan Fuad
Bawazier. Menurut sejumlah sumber di pasar modal, salah satu anggota
konsorsium C&C, yaitu Lazards Asia, merupakan mitra bisnis Widari
Sekuritas, perusahaan milik Fuad-yang di perusahaan ini kabarnya
berkongsi dengan bekas presiden direktur Astra, Rini M.S. Soewandi,
dan Jenderal (Purn.) Wiranto. Namun kabar yang dipercaya banyak
kalangan analis ini dibantah. Renee Zecha, Presiden Direktur Widari
Securitas yang merupakan kongsi Fuad Bawazier, menafikan keterlibatan
Rini Suwandi dan Wiranto di perusahaannya. "Mereka bukan pemilik
saham, hanya teman pribadi," katanya. Adapun Fuad mengakui Lazards
memang merupakan mitra dan penasihat Widari. Tapi bekas Direktur
Jenderal Pajak ini tak mau menjawab apakah Widari benar-benar berada
di belakang Lazards dalam menawar saham Astra. "Itu rahasia dapur,"
katanya kepada Dewi Rina Cahyani dari TEMPO.
Hanya, dalam sebuah perbincangan dengan TEMPO, Fuad mengakui harga
saham Astra saat ini terhitung supermurah. Jika diukur dalam dolar,
menurut perhitungan Fuad, harga Astra saat ini cuma seperlima dari
harga puncaknya. Jadi, "Siapa pun yang masuk Astra akan untung besar,"
katanya.
Kalau benar demikian, lalu mengapa Gus Dur mengorbankan Harawi, dan
kongsi Newbridge begitu rela memberi jalan pada C&C? Ini memang bagian
yang paling sulit dijelaskan. Tapi seorang sumber TEMPO punya teori,
Harawi sengaja "dibelokkan" untuk mengalihkan perhatian. Dan
Newbridge? "Ah, mereka akan segera mendapatkan bagian," katanya
santai.
Menurut sumber-sumber TEMPO, lembaga investasi raksasa dari AS itu
sedang mengincar sejumlah aset besar seperti perusahaan penerbangan
Garuda Indonesia dan Bank Niaga. Apakah mereka merupakan bagian
Newbridge? Kita tunggu di tikungan berikut.
Dwi Setyo, M. Taufiqurohman, Agus H, Leanika Tanjung
--- RETURN TO Mailing List Center - <http://www.indopubs.com> ---