[INDONESIA-L] TEMPO - Astra Jatuh Ditikam Kartel?

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Tue Mar 28 2000 - 17:12:25 EST


X-URL: http://www.tempo.co.id/majalah/index-isi-free.asp?rubrik=eko&nomor=1

    Ekonomi & Bisnis NO. 04/XXIX/27 Maret - 2 April 2000 Astra Jatuh
   Ditikam Kartel?
   
   Astra International jatuh ke tangan konsorsium Singapura. Mengapa
   harganya jeblok? Gus Dur dan Wiranto ikut bermain?
     _________________________________________________________________
   
   Pedagang mobil Singapura, Cycle & Carriage, tak ubahnya jago balap
   tikungan. Ketika semua mata memandang kontestan lain, tiba-tiba ia
   menyodok dan mengalahkan lawan-lawannya di tikungan terakhir. Bersama
   sejumlah investor lain, konsorsium C&C memenangi perebutan saham Astra
   International pada harga Rp 3.700 per saham, Jumat lalu.
   
   Kemenangan C&C sungguh di luar dugaan. Semula, orang menjagokan kongsi
   Newbridge dari Amerika Serikat, yang disokong penuh pendiri Astra,
   William Soeryadjaya dan kelompok usaha Nahdlatul Ulama, Harawi
   Sekawan. Kendati mengaku sudah menyapih Harawi, sosok Presiden RI
   sulit dipisahkan dari Harawi- konon singkatan Haji Abdurrahman Wahid.
   Harawi digagas dan dijadikan tangan bisnis Gus Dur sebelum kiai
   Ciganjur itu didapuk menjadi presiden. Tapi ternyata kongsi Newbridge
   yang nyantol kekuasaan itu dengan gampang bisa ditaklukkan C&C.
   Walhasil, tender Astra pun terkesan fair dan adil.
   
   Tapi, benarkah demikian?
   
   Harus diakui, penawaran Astra penuh kepentingan dan maksud-maksud
   politik. Sukses-tidaknya penjualan Astra amat menentukan nasib
   keuangan negara. Dana hasil pelelangan salah satu aset terbaik
   pemerintah itu digunakan sebagai salah satu penambal kekurangan dana
   anggaran tahun lalu, yang jumlahnya sekitar Rp 50 triliun.
   
   Selain itu, juga sulit dibantah, Astra merupakan salah satu perusahaan
   terbaik Indonesia. Dengan taksiran aset Rp 25 triliun, Astra bukan
   cuma pabrik mobil terbesar dengan jaringan pemasaran dan layanan
   pascajual yang paling komplet. Astra juga sekumpulan usaha mulai dari
   perkebunan, kehutanan, keuangan, hingga telekomunikasi. "Kalau mau
   pilih satu perusahaan Indonesia untuk investasi, ya, cuma Astra," kata
   seorang pentolan pasar modal. Gampang dipahami jika Astra diperebutkan
   begitu banyak kalangan.
   
   Dilihat dari posisinya yang begitu sentral dalam menentukan nasib kas
   negara, pelelangan saham Astra tak bisa lain harus memilih kontestan
   yang memberikan harga tertinggi. Lalu mengapa konsorsium Newbridge
   yang pernah menawar Astra paling sedikit pada harga Rp 3.750 per
   saham, kok, malah keok?
   
   Kekalahan kongsi Newbridge mulai terlihat sejak Kamis, 23 Maret. Di
   luar dugaan, konsorsium AS dan Indonesia itu cuma memberikan tawaran
   harga Rp 3.450, jauh di bawah harga minimal yang pernah ditawarkannya
   empat bulan lalu (lihat boks infografik). Menurut sumber TEMPO,
   jatuhnya harga Astra di mata Newbridge and the gang merupakan hasil
   wajar dari uji tuntas (due diligence) yang, "Agak mengecewakan."
   
   Mengecewakan? Setelah isi perutnya diaduk-aduk, kata sumber TEMPO,
   Astra ternyata tak seindah warna aslinya. "Banyak bolongnya," katanya.
   Salah satu bolong terbesar adalah pinjaman Federal International
   Finance (FIF) kepada Bob Hasan senilai US$ 500 juta untuk membeli
   saham Astra yang pernah diramaikan beberapa bulan lalu. Selain itu,
   konsorsium ini juga menilai penjualan Astra Sekuritas, salah satu anak
   perusahaan Astra kepada Widari, tidak transparan. Belum lagi soal
   praktek perusahaan dalam perusahaan yang dikelola sebagian anggota
   manajemen puncak Astra.
   
   Dengan pelbagai beban seperti itu, Astra diperkirakan bakal kesulitan
   arus-kas. Sekarang mungkin bisa ditangani dengan menjual aset, tapi,
   "Bagaimana kelak jika utangnya jatuh tempo?" Menurut kalkulasinya,
   Astra akan membutuhkan suntikan modal baru. Dan itu jelas akan
   merepotkan pemegang saham. Karena itu, katanya, harus ada koreksi
   harga penawaran ke Rp 3.450. Tapi, karena C&C berani memberikan
   penawaran lebih tinggi, "Ya sudah, kami kalah dengan fair," katanya
   enteng. Hm, kelihatannya memang masuk akal.
   
   Namun, kalau dipikir-pikir lagi, semua "bolong" yang katanya ditemukan
   pada saat uji tuntas itu sebenarnya bukan berita baru. Kesulitan
   arus-kas yang mungkin akan dihadapi Astra juga cerita lama. Manajemen
   Astra bahkan sudah memutuskan untuk melakukan penjualan saham baru
   untuk menambah modal, selain menjual beberapa penyertaannya di
   sejumlah anak perusahaan.
   
   Dan, ini yang penting, konsorsium Newbrigde yang dibeking penuh
   Keluarga Soeryadjaya dan sejumlah mantan direksi Astra itu sudah
   mengetahui pelbagai kebocoran itu sejak dulu. Tentu saja mereka juga
   sudah memperhitungkan tantangan arus-kas Astra, sejak sebelum mulai
   menawar akhir tahun lalu. Bahwa cerita kebocoran itu kemudian meletup
   di koran-koran, sedikit banyak itu karena andil para sumber berita
   dari Newbridge ini pula. Menurut perhitungan seorang pengamat pasar
   modal, semua borok Astra itu sebenarnya sudah diperhitungkan pada
   harga penawaran Newbridge yang Rp 3.750 itu.
   
   Jadi, mengapa Newbridge harus membanting harga penawarannya? Benarkah
   untuk memberi jalan kepada kontestan lain agar bisa menguasai Astra
   dengan harga murah? Kalaupun benar demikian, untuk apa langkah ini
   dilakukan?
   
   Wah, pertanyaan seperti itu mungkin terlalu jail, tapi bukan tak ada
   dasarnya. Ada sejumlah petunjuk yang, harus diakui, masih samar-samar.
   Beberapa hari menjelang tenggat penawaran, Gilbert Global Equity,
   salah satu anggota konsorsium Newbridge, tiba-tiba mengundurkan diri.
   Langkah surut Gilbert ini diikuti sejumlah investor lain dari AS (yang
   juga ikut membeking Newbridge). Menurut salah seorang sumber TEMPO
   yang dekat dengan konsorsium ini, langkah ini ditempuh beberapa
   investor setelah melihat hasil uji tuntas Astra yang banyak borok itu.
   Tapi sumber lain menduga, surutnya Gilbert dan kawan-kawan ini
   disebabkan karena lembaga investasi dari AS itu menolak "kartel harga"
   dalam lelang Astra.
   
   Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), yang punya hajat dalam
   lelang ini, bungkam atas spekulasi semacam itu. Kepala BPPN Cacuk
   Sudarijanto tak mau menjawab mengapa Astra cuma bisa laku dengan harga
   begitu murah. Beberapa bulan terakhir, saham Astra diperdagangkan pada
   harga Rp 3.600 hingga Rp 3.800 di pasar eceran bursa saham Jakarta,
   tak berbeda jauh dari harga borongan C&C. Padahal, biasanya dalam
   jual-beli saham porsi besar, harus ada tambahan premium sebagai
   imbalan atas posisi pengendali yang akan diterima pembeli. Menurut
   sejumlah analis, harga wajar 39 persen saham Astra yang dimiliki
   pemerintah itu paling sedikit Rp 4.000 per saham. Lalu mengapa cuma Rp
   3.700? Cacuk, lagi-lagi, tutup mulut.
   
   Sumber TEMPO di kalangan keuangan mengakui kemenangan C&C sudah diatur
   lewat lobi kelas atas. Selain didukung Soros, konsorsium C&C dibeking
   Rudy Tanoesoedibyo, saudara sekandung Harry Tanoesoedibyo pemilik
   Bhakti Investama. Rudy inilah yang terus menempel Presiden setiap kali
   Gus Dur ke luar negeri. Rudy jugalah yang menghubungkan Gus Dur dengan
   Ketua CITIC, perusahaan induk BUMN pemerintah Cina, Wang Yun dan Chai
   Zongzhi, dalam kunjungannya ke Negeri Tirai Bambu, awal Desember lalu.
   Berkat lobi Rudy jugalah, kabarnya, Gus Dur bersama Ibu Sinta Nuriyah
   mendapatkan pengobatan di RS Ophthalmological di Akademi Pengobatan
   Cina Tradisional.
   
   Sukses C&C dan kawan-kawan, kabarnya, juga merupakan hasil pelobi
   tangguh kelompok Poros Tengah seperti bekas Menteri Keuangan Fuad
   Bawazier. Menurut sejumlah sumber di pasar modal, salah satu anggota
   konsorsium C&C, yaitu Lazards Asia, merupakan mitra bisnis Widari
   Sekuritas, perusahaan milik Fuad-yang di perusahaan ini kabarnya
   berkongsi dengan bekas presiden direktur Astra, Rini M.S. Soewandi,
   dan Jenderal (Purn.) Wiranto. Namun kabar yang dipercaya banyak
   kalangan analis ini dibantah. Renee Zecha, Presiden Direktur Widari
   Securitas yang merupakan kongsi Fuad Bawazier, menafikan keterlibatan
   Rini Suwandi dan Wiranto di perusahaannya. "Mereka bukan pemilik
   saham, hanya teman pribadi," katanya. Adapun Fuad mengakui Lazards
   memang merupakan mitra dan penasihat Widari. Tapi bekas Direktur
   Jenderal Pajak ini tak mau menjawab apakah Widari benar-benar berada
   di belakang Lazards dalam menawar saham Astra. "Itu rahasia dapur,"
   katanya kepada Dewi Rina Cahyani dari TEMPO.
   
   Hanya, dalam sebuah perbincangan dengan TEMPO, Fuad mengakui harga
   saham Astra saat ini terhitung supermurah. Jika diukur dalam dolar,
   menurut perhitungan Fuad, harga Astra saat ini cuma seperlima dari
   harga puncaknya. Jadi, "Siapa pun yang masuk Astra akan untung besar,"
   katanya.
   
   Kalau benar demikian, lalu mengapa Gus Dur mengorbankan Harawi, dan
   kongsi Newbridge begitu rela memberi jalan pada C&C? Ini memang bagian
   yang paling sulit dijelaskan. Tapi seorang sumber TEMPO punya teori,
   Harawi sengaja "dibelokkan" untuk mengalihkan perhatian. Dan
   Newbridge? "Ah, mereka akan segera mendapatkan bagian," katanya
   santai.
   
   Menurut sumber-sumber TEMPO, lembaga investasi raksasa dari AS itu
   sedang mengincar sejumlah aset besar seperti perusahaan penerbangan
   Garuda Indonesia dan Bank Niaga. Apakah mereka merupakan bagian
   Newbridge? Kita tunggu di tikungan berikut.
   
   Dwi Setyo, M. Taufiqurohman, Agus H, Leanika Tanjung

---
RETURN TO Mailing List Center - <http://www.indopubs.com>
---