[INDONESIA-VIEWS] LIA AMINUDDIN - Premanisme Politik (1 s/d 5)

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Thu Jan 20 2000 - 08:32:40 MST


Date: Thu, 20 Jan 2000 09:29:34 +0700
To: proletar@egroups.com,
        Multiple recipients of list <diskusi-sara@mbe.ece.wisc.edu>,
        apakabar@saltmine.radix.net
From: "Yoyok-P.Hadiwijaya" <phwijaya@jak.mobil.com>
Subject: Premanisme Politik (1)

Sebagai bahan renungan ttg amanah Allah thd nasib bangsa Indonesia yang
semakin carut-marut dan tak terkendali; kami kirimkan lembar jumat edisi
ke-14 yang terbit setahun yg lalu 29 Januari 1999, Lentera Iman Salam
Salamullah "PREMANISME POLITIK"

Selamat membaca, Salam Salamullah
Yoyok P.Hadiwijaya
=========================================================

Premanisme Politik
Oleh: Lia Aminuddin

Bagaimanakah Allah merendahkan suatu bangsa? Bilamana bangsa itu juga tak
memperdulikan Allah lagi. Bila kemusyrikan dibiarkan, bila ajaran Allah
disimpangkan, Allah pun tak akan lagi menjaga bangsa itu. Bagaimana bangsa
kita kini menjadi bangsa yang berwajah buruk dan tak berharkat mulia lagi?
Teror dan kerusuhan, pembunuhan dan penjarahan, semua itu ditonton oleh
manca negara. Jadilah bangsa kita bangsa yang tak menghargai HAM.

Bagi Allah, kesalahan itu adalah kemusyrikan. Ketika Allah tak menjaga suatu
bangsa oleh kesalahan dan dosa yang dilakukannya, maka jadilah kita bangsa
yang dibiarkan-Nya. Bagaimana kerusuhan-kerusuhan itu terlihat? Bangsa ini
terlihat sebagai bangsa penjarah, tak berperikemanusiaan, dan pelanggar
hukum. Ini telah menandakan sistem hukum yang lemah. Bagaimanapun tak pelik
melihat awal persoalan itu. Kenikmatan ber-KKN telah memberikan peluang
legalisasi pembakuan organisasi back-up crime power (legalisasi organisasi
preman).

Kala tokoh kriminal menjadi wakil rakyat, masyarakat juga tak melihat itu
sebagai suatu ketentuan yang melampaui batas. Hal itu dirasakan hanya
sebagai pengukuhan organisasi masyarakat yang telah eksis dan tak dapat
dibiarkan tanpa pembinaan. Birokrasi dan lembaga peradilan bekerja sama
dengan mereka. Lembaga pertahanan keamanan melibatkan mereka sebagai tenaga
destruktif untuk mempersurut gejolak unjuk rasa. Berita dan penayangan
kegiatan mereka dikemukakan sebagai modul atau catatan pinggir
peristiwa-peristiwa politik elit.

Kebangkitan organisasi back-up crime power ini sepertinya ditujukan untuk
pembinaan, dan dikemukakan sebagai partner simbolik, namun sesungguhnya
telah menjadi perbaikan citra, sekaligus memperkuat peranan dan eksistensi
mereka. Peranan mereka telah menjadi panutan bagi kelompok maling-maling
cilik dan memberikan suatu idiom mimpi bagi generasi muda yang berambisi.
Setidaknya ada pilihan bagaimana memperlakukan ambisi itu. Bermimpi menjadi
Godfather termasuk salah satu impian yang menggiurkan. Banyak orang ingin
punya pengaruh. Dan pengaruh membawahi pasukan destroyer adalah impian yang
dianggap relevan untuk melibatkan diri ke dalam percaturan elit politik
maupun sebagai pemrasarana unggul untuk menghadapi berbagai komoditi
pelanggaran maupun sebagai subject pressure untuk memperlancar usaha. Itulah
tekstur kehidupan organisasi politik bangsa Indonesia pada awal kebangkitan
premanisme politik.

Kehidupan Godfather yang serupa dengan keglamoran
Godfather mafia Italia itu menimbulkan inspirasi bagi para preman untuk
membentuk kelompok-kelompok yang lain. Maka bertumbuhanlah organisasi tenaga
bayaran itu. Pesta-pesta banyak diselenggarakan untuk menghadirkan
metropolitan Godfather, dan mereka telah menjadi superstar. Kebanggaan
menjadi teman mereka pun tertuang di dalam pertemuan-pertemuan selebritis di
antara para pejabat dan pimpinan.

Mungkinkah menindak mereka sedangkan mereka itu telah menjadi anggota DPR
yang mulia? Dia selalu melintas di antara para tokoh dan pimpinan penegak
hukum. Mereka nampak tersenyum cerah di antara lampu-lampu blitz pada
pertemuan-pertemuan bergengsi penata negara ini. Bila keadaan itu telah
menjadi berita sehari-hari, mana ada lagikah keberanian mengritik mereka,
apalagi mempertanyakannya? Bulu kuduk merebak bila hati ini gundah dan ingin
mempersoalkan hal itu. Belum-belum kesulitan yang akan dihadapi itu telah
terbayangkan. Setiap ucapan yang ingin diutarakan kepada mereka akan
tertelan kembali sebelum diucapkan. Tak ada keberanian untuk mengutik-utik
mereka.

Tak ada pengakuan resmi akan keterlibatan organisasi politik yang berwaham
premanisme disebutkan berada di balik layar kerusuhan-kerusuhan yang
terjadi. Walaupun setiap saksi kerusuhan itu tak dapat memungkiri
keterlibatan preman di dalam kerusuhan-kerusuhan tersebut, strategi politik
kini seakan dikendalikan oleh penyewa preman bayaran.

Bangsa kita ini telah mengalami deregulasi tatanan hukum dan deregulasi
pembinaan hukum. Kita ini sedang kehilangan kepastian hukum dan perlindungan
hukum. Persangkaan adanya mafia peradilan pada kenyataannya mafia peradilan
itu kini semakin jauh berdampak dan telah merebak menjadi mafia politik,
seperti kutil yang telah menjadi kanker. Bayangan mafia politik ini sangat
menakutkan karena kriminalitas itu telah menjarah sampai ke berbagai
persoalan masyarakat. Fungsional premanisme itu telah menjarah sampai kepada
masalah sehari-hari di dalam kehidupan masyarakat. Mereka hadir di antara
masalah-masalah masyarakat di pasar sampai kepada urusan pembinaan ketahanan
dan juga menjadi penyaji gagasan, bahkan telah menjadi trend di dalam sikap
politik.

Mereka tak lagi dipandang sebagai kaum out of law yang berdomisili di dalam
komunitasnya sendiri, namun mereka telah berinteraksi legal di antara para
pencari keadilan maupun para penata hukum dan politisi. Kini mereka telah
memberi warna pada dinamika sosial masyarakat dan mendominasi kerancuan
politik, seiring dengan pemaksaan-pemaksaan dan pemerasan politik.

Bayangan kekuatan mereka itu seperti bayangan kekuatan mafia sekuler
pembangkit teror atau pengendali pressure. Campur tangan mereka dianggap
dapat memberikan kelancaran memperoleh target politik. Berkoalisi dengan
mereka dapat mendobrak pintu aspirasi lawan politik. Pemaksaan aspirasi pun
digulirkan mereka melalui teror dan kerusuhan. Sindikat white collar crimes
dijaminkan untuk mengatasi masalah-masalah politik. Mereka memiliki pasukan
penjarah dan pembakar. Alangkah mudahnya membakar emosi dan memfitnah
melalui sistem pressure dan teror itu di saat menjelang pemilu, di saat
orang ingin memper-juangkan aspirasi. saling tuduh dan bersaing di antara
kontestan-kontestan pemilu ikut terbakar oleh duplikasi teror kerusuhan.

Ketok-tular kerusuhan itu dijangkitkan melalui isu dan kerusuhan SARA.
Kualitas kerusuhan itu dari hari ke hari terlihat seragam modus
operandinya. Keterlibatan preman di setiap kerusuhan nampak menggejala. Mau
apa sebenarnya mereka itu? Coba kita simak sistem pemikiran mereka. Mereka
itu tak berkepentingan kepada kesucian keyakinan, mereka tak berwawasan
jihad, apa urusannya mereka dengan gereja atau masjid? Kedua rumah ibadah
itu tak sungguh-sungguh mereka jadikan rumah suci. Mereka tak punya image
pensakralan kepada rumah-rumah ibadah. Mereka lebih concern kepada tokoh
yang mempergunakan mereka.

Mereka tak bisa jenak bila merasa dipentingkan. Sungguh mereka itu merasa
gembira bila dipatutkan di dalam sistem. Bukankah mereka itu telah lama
menjadi orang pinggiran? Dan mereka pun ingin eksis dan dihargai. Dambaan
mereka adalah menjadi orang yang dipatutkan dalam sebuah kelayakan sistem.
Setidaknya kini mereka itu merasa seperti dilibatkan ke dalam pementasan
drama supra heroik di dalam arena politik. Dapatkah dibayangkan kebahagiaan
mereka menjadi pembawa pengaruh perubahan atmosfir politik?

Mereka itu sangat dimungkinkan tak memahami bahasa politik. Setidaknya
kepada mereka ada pengarahan menjadi pembela semboyan yang ditawarkan
kepadanya. Semboyan yang ditawarkan kepada mereka dan upah itu dapat
dijadikan ajang kebrutalan yang memang telah menjadi indikasi mereka.
Bagaimanapun di antara mereka itu juga ada pelatihan mengelabui pelacakan
dan penyaruan serta spionase. Boleh dikata mereka sulit dijebak karena
mereka tak mempunyai wilayah penempatan khusus. Mereka seperti alap-alap
yang menunggu instruksi. Bila jumlah mereka kurang banyak, cukup mengerahkan
orang sekampung. Para pengang-guran itu senang bila diberikan kesibukan.
Menyediakan kendaraan angkut dan konsumsi serta upah seadanya cukuplah dapat
mengangkut warga sekampung dan preman-preman itu pun yang menyalakan api dan
warga kampung hanya ikut meramaikannya. Bagi pemilik target, penggunaan
jasa mereka itu memberikan efisiensi. Peledakan emosi mudah dibaurkan
dengan kesepakatan-kesepakatan. Di dalam blue print likuiditas program
pencapaian dan pematangan dari politik destructive terror itu telah
dipersiapkan antisipasi penyanggahan maupun pengelabuan pelacakan, telah
diper-hitungkan kontinuitas problem akibat perbedaan suku, ras, dan agama.
Di dalam persiapan mereka pun telah ada rencana pendongkelan dan program
penyesuaian rebuild aspiration atau menyimak koalisi yang dimungkinkan
maupun penyanggahan dan pelarian tuduhan serta persiapan escape boat. Di
dalam perencanaan konjungsi aspirasi, keterlibatan mereka pun sudah dapat
diperkirakan peranannya. Setiap mala-petaka itu tertera suka mengikuti arus
balik. Konjungsi waham negatif tetap akan mengalirkan aspirasi negatif pula.
Mana ada kebrutalan melahirkan kebenaran? Maka sesungguhnya bila mau
dipahami oleh semua pihak, bahwa mempergunakan kebrutakan sebagai mekanisme
politik tetap akan berbalik mencipratkan kemudaratan dan kegagalan bagi
mereka sendiri. Mana ada dosa tak berbalik? Setiap dosa ada tulahnya sendiri
dan akan kembali kepada mereka yang melakukannya. Jangan pernah menganggap
berbuat dosa itu tak bertulah karena Allah selalu memperhitungkan balik
keadaan itu kepada yang melakukannya. Setiap dosa selalu mendapatkan
ganjarannya.

Subject: Premanisme Politik (2)

Sebagai bahan renungan ttg amanah Allah thd nasib bangsa Indonesia yang
semakin carut-marut dan tak terkendali; kami kirimkan lembar jumat edisi
ke-14 yang terbit setahun yg lalu 29 Januari 1999, Lentera Iman Salam
Salamullah "PREMANISME POLITIK"

Selamat membaca, Salam Salamullah
Yoyok P.Hadiwijaya
=========================================================

.....................sambungan bagian-1

QS. Thaha: 129
Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu
atau tidak ada jalan yang ditentukan, pasti (azab itu) menimpa mereka.

Dunia politik tak memungkinkan lagi adanya perjuangan kebenaran. Tak ada
lagi peluang bagi para rohaniawan yang hanya dapat berkata lurus dan
membaktikan perjuangannya itu untuk bangsa dan Allah. Banyak pembatasan
bagi mereka untuk dapat mengemukakan aspirasinya dengan lugas dan dapat
dinyatakan sebagai leading aspiration atau sebagai semboyan jihad.

Para rohaniawan yang tak mampu berbuat selingkuh atau yang menjunjung tinggi
harkat moral tak akan dapat bersaing dengan premanisme politik. Collect-call
aspirasi telah menjadi sistem yang lebih afdol dibandingkan dengan sistem
transparan argumentatif, dan rumor jegal (fitnah) itu pun merebak oleh
pembakaran emosi.

Demonstrasi versus demonstrasi, pembakaran versus pembakaran, masjid dan
gereja pun menjadi korban. Rumor bertebaran, tak jelas apa yang dibisikkan,
tak jelas siapa yang menambahkan. Ketika berbalik dan meledak semua bingung,
dan kemudian terkonsolidasi membuat jeram yang lebih dalam. Masing-masing
terkesiap dengan siasat dan taktik perlawanan. Saat ini jeram-jeram semakin
banyak, api menyala di mana-mana, fitnah semakin kejam, semua orang semakin
stres dan semua pihak semakin memperkuat pressure-nya. Dan gelagat
penyerangan pun membias dan masing-masing pihak mempersiapkan diri.

Demikianlah premanisme politik semakin diminati. Tak ayal preman-preman naik
daun. Preman kampung mulai bergengsi dengan hand phone, semakin brutal,
semakin disegani, semakin sibuk, semakin laris. Kini orang bangga menjadi
preman, apalagi menjadi tokoh preman. Bagaimana umat dapat berkilah tak
berbangga bersama preman? Mantan Presiden pun memakai body guard Yorries.

Pihak manakah sebenarnya yang masih bebas dari permainan politik nakal ini,
bila permainan sindikat preman politik ini sempat terlihat secara jelas.
Bahkan pada sidang istimewa MPR, ada peristiwa pertarungan PAM Swakarsa
dengan mahasiswa dan massa. Adakah organisasi preman itu tidak terlibat
dalam urusan ini, adakah para pemulung dan preman kampung itu datang ke sana
dengan sendirinya?

Sistem adu kuat telah mengotori wajah politik bangsa Indonesia. Penjarahan,
pembakaran, dan pemaksaan mengalami karbonisasi bahasa sandi (spionase).
Sinyal pematangan kondisi dapat dilacak dari jumlah pembakaran dan
kerusuhan. Selalu terlihat ada keterlibatan preman dalam kerusuhan-kerusuhan
itu. Pematangan kondisi oleh kaum preman semakin besar nyala apinya.

Tidak ada pihak yang memungkinkan melerai keadaan ini. Pertahanan keamanan
itu telah beralih menjadi perlindungan kaum preman. Polisi kini pun
dilecehkan. Penegak hukum kini dipecundangi. Wibawa preman semakin tinggi.
Adakah negara ini menjadi negara tak bertuan? Janji-janji hukum dapat serta
merta ditebas oleh premanisme. Perlindungan hukum tak dapat berjalan sesuai
dengan keadaannya. Orang lebih memilih perlindungan preman. Bangkai-bangkai
mobil yang terbakar, puing-puing rumah, gedung, gereja dan masjid, toko-toko
yang lengang habis dijarah. Pelayanan akomodasi yang tercekam, pelayanan
publik yang terbata-bata ketakutan. Hilir mudik di kota tak lagi aman. Tidur
di rumah sendiri pun dicekam ketakutan. Hansip dan satpam tak berdaya
menghadapi gerombolan perampok. Penjarahan di tempat umum hanya menjadi
tontonan. Mantan the powerfull President pun mencontohkan the best security
is the Godfather of Mafia. Dari rumor sampai pada pernyataan, demikianlah
dipentingkannya power premanisme itu.

Bagaimana memperbaiki keadaan ini bila semakin banyak orang panik? Tidak
dimungkinkan penyelesaian argumentatif. Kebohongan dan penghilangan jejak
melalui kesimpangsiuran data bukti maupun jadwal adalah sistem pengelabuan
yang terorganisir. Tak akan ada bukti kongkret yang dapat dikemukakan untuk
persidangan. Semua bukti itu ada dalam hutan belantara politik.
Bagaimana mungkin menyisiri keadaan semua ini? Banyak hal tertunda bila
ingin dikomunikasikan, banyak data menjadi hilang atau berubah. Tertunda
atau hilang itu kini bukan lagi hal yang perlu diagunkan. Semua berkas itu
bila ingin dianggap layak sebagai bukti pelanggaran, namun tak bisa
dihadirkan sebagai kelengkapan data bukti dalam persidangan. Bagaimana kalau
tayangan peristiwa di teve dan media sudah dapat dianggap cukup sebagai
landasan untuk menindaki mereka secara tegas?

Pelanggaran hukum dibiarkan secara semena-mena terjadi, sedangkan
penindakannya sulit dilaksanakan karena kelangkaan bukti. Adakah cara
memperbaiki keadaan yang lain, bila kesungguhan menegakkan kebenaran itu
telah membiarkan tergeletak bukti-bukti otentik yang berupa efek psikologis
umat yang tercekam? Kebrutalan itu telah membuat masyarakat kehilangan rasa
aman. Adakah harus memberikan bukti tertulis bagi suatu citra sebuah peranan
yang telah membuat bangsa ini terlihat berperilaku buruk? Adakah harus
diperlukan persidangan untuk menghentikan sebuah kebiadaban? Persaingan
banyak pihak telah membuat kriminalitas itu semakin banyak namun premanisme
politik itu butuh penindakan tegas. Kapankah bangsa ini pernah melakukan
tertib bersih lingkungan? Mengapa itu tak diberlakukan kepada premanisme?
Justru cara itulah yang lebih tepat diperlakukan sekarang.

Bagaimanapun penyidikan yang tak pernah dapat menghadirkan bukti dan tak
diupayakan bersungguh-sungguh membuatkan undang-undang atau hukum yang dapat
memberikan sanksi hukuman bagi pelaku kebrutalan massa. Ini karena dianggap
sebagai dampak sosial maupun politik. Kebrutalan massa tak dapat dikenai
pasal kriminalitas karena bisa dianggap sebagai keadaan force-majeur. Namun
pembinaan hukum itu tak boleh membiarkan hal itu, karena keadaan ini dapat
menghancurkan akhlak dan moral bangsa. Kewenangan pemerintah, khususnya DPR
dan instansi penegakan hukum mampu mengupayakan sebuah Kepres maupun
undang-undang anti kebrutalan yang dapat diciptakan sesuai dengan
undang-undang perlindungan hukum dan jaminan keamanan yang merupakan hak
warga negara dan rakyat.

Bagaimana melepaskan diri dari cengkeraman sistem premanisme ini? KKN itu
kini tak lagi menjadi penyakit yang terburuk bangsa ini. Premanisme inilah
kini yang menjadi kanker ganas. Political will dari penyeru kebenaran tak
sempat menyampaikan aspirasinya. Belum-belum sudah digertak oleh golongan
hitam. Seruan mereka tenggelam di antara hiruk pikuk transaksi bursa tenaga
bayaran.

Mari kita mengkaji perubahan karakter nation building bangsa Indonesia.
Setelah kita terpuruk, saat semua pihak menggapai-gapai reformasi di dekade
akhir pemerintahan reformasi, semua orang panik mencari keselamatan posisi
atau mencari perbaikan posisi maupun bersaing mencari kemenangan dan
bergulir memiliki kekuasaan.

Bila semua pihak tak dapat lagi patuh dengan regulasi hukum, bila semua
pihak ingin memperoleh andalan agar unggul dan menjadi andalan dengan
menghalalkan segala cara, maka sistem itu akan berubah menjadi brutalisme
sistem. Siapa yang dapat mempersangkakan ini? Dari kebebasan reformasi telah
membawa kita kepada kerusakan nilai moral, sistem, serta hukum (dekadensi
hukum dan moral).

Subject: Premanisme Politik (3)

Sebagai bahan renungan ttg amanah Allah thd nasib bangsa Indonesia yang
semakin carut-marut dan tak terkendali; kami kirimkan lembar jumat edisi
ke-14 yang terbit setahun yg lalu 29 Januari 1999, Lentera Iman Salam
Salamullah "PREMANISME POLITIK"

Selamat membaca, Salam Salamullah
Yoyok P.Hadiwijaya
=========================================================

.....................sambungan bagian-2

Kilas balik dari sistem ini, tak ada lagi sistem hukum yang sesuai untuk
dipadani. Semua sistem dapat diterobos dan ditebas oleh kewibawaan preman.
Sistem suap dan korupsi beralih kepada honor cukai perlindungan oleh preman.
Dapat dimungkinkan kehidupan glamor itu akan ditayangkan oleh para preman
dan para dukun santet. Keduanya itu telah sebagai pemilik power yang
disegani. Kehidupan glamor mereka itu akan menjadi trend dan impian generasi
muda. Siapa yang suka berkelahi dan sakti, siapa yang mau hidup brutal dan
dapat mengatur sistem hukum, siapa yang berani atau sadis, dialah yang
sukses, dialah yang menjadi tokoh masyarakat, menjadi orang penting di
masyarakat dan dimungkinkan menjadi penguasa. Anak-anak dan generasi muda
akan mengidolakan menjadi Godfather. Pelatihan kedigdayaan dan ilmu
perdukunan akan menggantikan sistem pendidikan lama, yang dianggap tak
menjanjikan kualitas yang diinginkan. Maka akan tumbuh semarak
institut-institut premanisme dan pelayanan jasa ilmu-ilmu kemusyrikan itu.

Coba saja dilihat, betapa anehnya perilaku masyarakat itu kini. Peranan
preman, ninja, dukun santet lebih menonjol. Siapa-siapa yang mampu
mengendalikan-nya merasa memiliki pengaruh dan menjadi orang penting. Coba
saja dilihat tayangan film di teve dan publikasi perilaku mereka di media
massa. Betapa gelisahnya kita melihat penjarahan-penjarahan, pembakaran yang
terjadi semena-mena, semua itu menjadi tontonan dan bacaan di media massa.
Kita hanya menjadi tercengang dan tak dapat memperkirakan bagaimana
memperbaiki keadaan ini.
Wahai bangsaku, janganlah kita hanya duduk menyesali diri atau saling
menyalahkan. Kecamlah mereka yang berbuat jahanam itu. Hentikan mereka
berbuat durjana, jangan membiarkan mereka melakukan kedurjanaan semena-mena
itu lagi. Marilah kita saling menguatkan keyakinan, bahwa kebenaran itu
pasti menang. Janganlah membiarkan rasa takut mencekam kita. Kita harus
melakukan perlawanan terhadap mereka. Sempatkanlah meneriakkan kebenaran,
dan janganlah mau dipencundangi oleh mereka.

Wahai bangsaku, tidaklah kita dapat melepaskan diri tanpa berbuat apa-apa.
Marilah kita bersatu padu, mengenyahkan eksistensi mereka. Janganlah mau
bertoleransi dengan kejahatan. Perbaikan itu tak dimungkinkan bila kita tak
mengupayakannya. Marilah kita menyerukan dengan lantang melawan kejahatan
itu. Penyakit masyarakat ini tak dapat dihilangkan bila tak diamputasi
penyebab penyakitnya.

Wahai penegak hukum, janganlah lemah menghadapi mereka. Mengapa mereka
dibiarkan bersatu dan membuat suatu kekuatan, bukankah hukum itu ada di
tanganmu, ada di dalam kewenanganmu?
Mengapa mereka tidak ditindak tegas? Mengapa tak dibuatkan ketentuan yang
keras kepada mereka? Bukankah mereka tak pantas dilindungi oleh hukum,
bukankah mereka itu adalah pelanggar hukum, bukankah negara ini punya hukum
yang jelas? Mengapa tak dibuat ketentuan yang jelas bagi mereka? Mengapa
orang yang bersimpati pada mereka tak dianggap sebagi pelanggar hukum juga?
Mengapa mereka dibiarkan melenggang padahal nyata-nyata mereka itu pembuat
durjana?
Wahai bangsaku, marilah kita gigih membela kebenaran. Janganlah hanya
menangisi nasib. Saat ini Allah sedang ingin melihat kita berjuang
memperbaiki nasib bangsa kita. Allah sedang menjembatani kita melihat
kesalahan-kesalahan itu dan menuntun kita melihat kebenaran.

Allah sedang ingin membantu umat manusia yang ingin memperjuangkan
kebenaran. Karenanya Allah bersama mereka yang bersungguh-sungguh
memperjuangkannya. Dajjal telah menguasai bangsa kita. Namun Allah telah
menurunkan Malaikat Jibril dan malaikat-malaikat-Nya untuk membantu kita
melawan kejahatan dan kemusyrikan itu.
Bangkitlah wahai bangsaku. Jangan biarkan kita dirajam oleh dajjal yang
telah menjadikan preman-preman itu sebagai alatnya. Wahai bangsaku,
hindarkanlah diri dari fitnah dan adu domba dajjal itu, yang telah membuat
kita geram dan penuh dendam dan telah menjadikan kita saling bertarung
dengan saudara sendiri. Menyingkirlah dari adu domba yang telah menimbulkan
bala SARA. Marilah kita mencoba melihat, betapa kesulitan kita itu bila
seandainya kita tak mau menyadari perbuatan dajjal itu. Kita saling
membunuh, saling menfitnah, saling mennganiaya, dan saling menghancurkan.
Siapa yang hancur? Adalah bangsa kita sendiri.

Wahai bangsaku, agama Kristen dan Islam sama-sama ajaran Allah. Kita
sama-sama bangsa Indonesia. Tak layakkah kita merenung untuk mencari
kesepakatan meredakan pertentangan ini? Baikkah kita bila saling memusuhi,
padahal Tuhan kita sama? Bukankah Allah pemilik kebenaran? Bukankah Allah
yang telah menurunkan Al Quran dan Injil? Mengapa itu tak dilihat sebagai
kehendak Allah menyampaikan kebenaran dan membiarkan umat manusia memilihnya?

Wahai bangsaku, musuh kita iblis dan kejahatan. Musuh kita kemusyrikan,
musuh kita penghancur kemaslahatan bangsa. Adakah pembatasan bagi
asumsi-asumsi yang terbakar oleh teror dan fitnah? Kemarahan-kemarahan dan
dendam karena tragedi itu telah membuat kita kehilangan pembatas. Semua
pihak telah merasa terlukai. Tragedi itu telah terjadi, tak dapat lagi
dihapuskan. Namun kita masih dimungkinkan untuk menghentikan peluang terjadi
tragedi lainnya. Kita masih dimungkinkan mencari kesepakatan, mencari titik
temu, dan membina persatuan dan persaudaraan. Bahkan kita masih dimungkinkan
untuk memperbaiki keadaan ini sebelum kita terjerumus meluapkan amarah atau
kehilangan kendali yang dapat membuat bangsa kita pecah dan tak mampu
berdiri lagi.

Wahai bangsaku, jauhilah tipuan dan rayuan dajjal yang berkolusi dengan
penjahat-penjahat. Biarkan mereka berdiri di atas jilatan api iblis itu
sendiri, biarkan mereka berpelukan mesra dengan iblis. Allah sedang
menurunkan malaikat-Nya untuk menghancurkan mereka. Allah tak akan pernah
membiarkan mereka berbuat durjana dengan semena-mena. Malaikat Jibril turun
dengan pasukan malaikat, yang akan menghancurkan kejahatan dan kemusyrikan
itu. Percayalah pertolongan Allah diturunkan di sini. Di sini bersama Bangsa
Indonesia.
Alangkah sunyinya bangsa Indonesia dari kebenaran. Alangkah ramainya sorak
sorai iblis itu. Bilakah bangsaku ini terbebaskan dari cengkeraman iblis?
Islam dan Kristen, bersatulah! Selamatkanlah bangsa ini dari kemenangan dajjal!
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Subject: Premanisme Politik (4)

Sebagai bahan renungan ttg amanah Allah thd nasib bangsa Indonesia yang
semakin carut-marut dan tak terkendali; kami kirimkan lembar jumat edisi
ke-14 yang terbit setahun yg lalu 29 Januari 1999, Lentera Iman Salam
Salamullah "PREMANISME POLITIK"

Selamat membaca, Salam Salamullah
Yoyok P.Hadiwijaya
=========================================================

.....................sambungan bagian-3

Bagaimana membersihkan bangsa ini dari premanisme?

1. Jangan mempergunakan jasa mereka. Pelayanan mereka, betapapun kelayakan
proposalnya, tetap adalah kemudaratan dan jalan kesesatan dan tetap tak
dapat menuntaskan masalah, bahkan akan menambah masalah dan selalu saja
menuju sebuah jalan yang melanggar hukum.

2. Tindak tegas setiap kebrutalan yang melibatkan mereka. Berapakah kebekuan
hukum itu? Tak adakah hukum yang patut untuk diberlakukan dan yang dapat
menghentikan mereka? Bila tidak, maka dengan peristiwa-peristiwa yang
terjadi dapatlah menjadi landasan untuk membuat hukum yang tegas bagi
mereka. Bukankah bangsa kita telah menderita karenanya, dan masyarakat patut
medapat perlindungan hukum? Bukankah negara ini negara kedaulatan dan setiap
saat dapat menerbitkan Undang-undang dan hukum yang akan menertibkan
keamanan bangsa ini? Bukankah mayoritas bangsa ini adalah umat Islam yang
memiliki hukum yang tegas dari Allah? Landasan hukum Allah ini bila
difungsikan maka akan mendapatkan perlindungan Allah. Bukankah Allah sangat
tegas dengan kejahatan? Jadikanlah hukum Allah sebagai landasan!

3. Jangan pernah berbalik bila kita telah bertekad, jangan pernah
bertoleransi dan berkompromi dengan aturan dan sistem dari mereka, dan
jangan berpangku tangan melihat kerusakan moral dan hukum ini bila ingin
bereformasi. Perlawanan terhadap kejahatan adalah reformasi yang perlu
diutamakan diagendakan oleh semua pihak.

4. Janganlah kita membiarkan sistem hukum kita terkoyak-koyak habis oleh
mereka. Jangan membiarkan penjarahan dan kebakaran itu terjadi lagi dan
melepaskan mereka pergi. Sebenarnya jejak mereka mudah dicari, hanya saja
banyak orang jera dan tak berani. Misalkan keanggotan mereka dapat dilacak,
mengapa tak membasmi organisasi mereka saja.

5. Bila semua pihak memilih semboyan partainya pada kampanye pemilu ini
adalah menghapuskan premanisme dan kejahatan, maka prioritas aspirasi itu
akan menyatukan kekuatan kebenaran. Semua pihak bersatu untuk
mensejahterakan kembali bangsa ini. Karena sesungguhnya kesejahteraan bangsa
ini tercapai bila sistem itu normal kembali. Bukankah political terror itu
beriring dengan sistem premanisme dan bukankah permainan politik itu
mempergunakan premanisme sebagai kendaraan penghalalan target? Melawan
preman berbeda dengan memenangkan aspirasi politik, namun sesungguhnya hal
itu sama saja dengan 'sambil menyelam minum air'. Kebenaran aspirasi pun
akan menarik minat rakyat. Rakyat sedang mendambakan rasa aman dan kebenaran
perjuangan. Semboyan melawan kejahatan dan premanisme juga akan
membangkitkan semangat juang terhadap segala kebusukan sistem. Perjuangan
simpatik melawan kejahatan akan mendapatkan simpati. Kebenaran selalu
mendatangkan kebaikan. Kebaikan selalu akan mendatangkan simpati dan cinta.

================
Kepada Allah
================

"Sungguh jika engkau mengulurkan tanganmu kepadaku untuk membunuh-ku, maka
sekali-kali tidaklah aku akan mengulurkan tanganku kepadamu untuk
membunuhmu. Sesungguhnya aku takut akan Allah, Tuhan semesta alam."
"Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (memikul) dosaku dan
dosamu sendiri, maka jadilah engkau termasuk dari penghuni neraka, dan
demikianlah pembalasan bagi orang-orang yang zalim." (QS. Al Maidah:28-29)

Ya Allah, Yang Maha Adil.
Adakah keadilan yang lain selain keadilan-Mu itu, ya Allah?
Mengapa di dalam bangsa kami ini sangat sulit melihat keadilan?
Mengapa kejahatan itu telah dibiarkan menjadi perlindungan?
Mengapa di dalam kehidupan bangsa kami ini telah menjadikan kejahatan itu
sebagai sistem?
Janganlah Engkau membiarkan kami hidup seperti ini. Tolonglah kami
memperjuangkan kebenaran.
Gerakkanlah girah semangat perjuangan kebenaran di dalam bangsa kami.
Berikanlah kami cara yang benar untuk membersihkan wajah bangsa kami.

Ya Allah, kepada-Mu segala kekuatan.
Berikanlah kami kekuatan melawan dajjal dan mereka yang bersamanya.
Ya Allah, kuatkanlah kami dengan nur-Mu, besama malaikat-Mu, agar kami dapat
mengemukakan kebenaran-Mu itu dengan adil.
Ya Allah, menangkanlah kami, lindungilah kami.
Amin, ya Rabbal alamin.

=================
Kencan Kata
=================
"Orkes Madun"

Baik-baik mari berbaik
Jangan melempar batu sembunyi tangan
Jangan mengaji tapi mencuri
Yuk, nonton orkes madun
Ogah ah! Nanti dijarah
Aaah!, yuk, nonton orkes madun
Ogah ah! Bayar karcis kok sama preman.

=====================
Mutiara Dari Langit
=====================
"Gelap Gulita"

Mauku ada sinar matahari
Yang mau menerangi ruang apek itu di sini
Mauku ada seruan Allahu Akbar yang membahana
Yang mengusir penjahat dari negeri ini
Mauku Allah menyampaikan kesedihanku ini
Yang pedih memikirkan nasib bangsa kita ini
Mauku semua pihak mau berembug nasional
Yang akan mencari penyatuan sikap
membersihkan bangsa ini dari premanisme
Yuk, kita melawan kejahatan
Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Subject: Premanisme Politik (5)

Sebagai bahan renungan ttg amanah Allah thd nasib bangsa Indonesia yang
semakin carut-marut dan tak terkendali; kami kirimkan lembar jumat edisi
ke-14 yang terbit setahun yg lalu 29 Januari 1999, Lentera Iman Salam
Salamullah "PREMANISME POLITIK"

Selamat membaca, Salam Salamullah
Yoyok P.Hadiwijaya
=========================================================

.....................sambungan bagian-4

###############################
Mengapa Kita Tak Bersatu Saja
oleh: Bambang Priyatna
###############################

Saat ini banyak di antara kita yang telah mengalami krisis kepercayaan
kepada orang lain. Barangkali inilah konsekuensi logis dari terakumulasinya
berbagai penekanan dari sebuah sistem yang sangat lihai memutarbalikkan
fakta. Sekian puluh tahun kita dikondisikan pada suatu keadaan yang
menyebabkan kita gamang untuk menilai sesuatu, mana yang salah dan mana yang
benar tak mudah memutuskannya.

Ketika kini kita dihadapkan pada momentum untuk menentukan pemimpin negeri
ini, maka krisis telah menempatkan kita pada posisi yang sangat tidak
menyenangkan. Kepada siapa roda pemerintahan ini dapat dipercayakan? Sungguh
pertanyaan yang sangat penting, namun alangkah sulitnya untuk dijawab.

Krisis ini pun telah memicu munculnya begitu banyak orpol. Maka kebingungan
masyarakat pun bertambah. Bagi masyarakat yang jauh dari keterlibatan dalam
dunia politik, yang dibutuhkan adalah persatuan, bukan sebaliknya. Adu
kepentingan politik hanya menggiring perpecahan dan kehancuran. Adakah kita
telah lupa pada pengalaman pahit bangsa ini ketika politik adu domba, devide
et impera, memporak-porandakan persatuan bangsa ini? Tak adakah kesadaran
itu? Siapakah sesungguhnya musuh kita? Antara kitakah, saudara sebangsakah?

Apa yang sesungguhnya dapat diharapkan dari sebuah perpecahan? Kemungkinan
apa yang dapat kita alami pasca perpecahan? Bangsa ini telah cukup menderita
oleh penjajahan, maka mengapa kita mulai membuka pintu itu lagi?

Agaknya kita semua dapat kembali meneladani sikap Rasulullah Sallallahu
alaihi wasallam yang selalu mengajarkan umatnya untuk mengekang hawa nafsu,
nafsu kekuasaan, nafsu kekayaan, nafsu kepopuleran, dan berbagai nafsu lain.
Dengan demikian terciptalah ketenangan diri, kejernihan hati, dan rasa yang
sangat dibutuhkan untuk menyikapi kemelut bangsa dengan kepala dingin.
Dapatlah kiranya kita tumbuhkan kembali rasa cinta terhadap orang lain
sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Penyakit hati merasa diri
paling benar perlu dipikirkan kembali. Bukanlah sebuah kebenaran bila itu
berakhir dengan kehancuran. Wahai bangsaku, adakah jiwa besar itu masih
kita miliki?

Akhirnya, semangat persatuan dan menerapkan kembali azas musyawarah untuk
mufakat dapatlah kiranya dikedepankan menggantikan semangat adu kepentingan
politik yang tak satu pun akan menang. Kesepakatan pada sebuah harapan
bersama menjadi titik tolak perjuangan yang sesungguhnya, perjuangan menjaga
kesatuan bangsa.

Maka persatuan bangsa ini adalah tanggung jawab kita bersama, pemimpin
bangsa, dan masyarakat. Kesucian niat dan pengupayaan optimal itulah
tanggung jawab itu. Dan ketika semua itu dapat disatukan, maka dengan
ringan hati dapatlah kita berdoa kepada pemilik kehidupan, Allah Subhanahu
wa Taala, mengembalikan dan menumpukan harapan pada-Nya. Tak ada kemelut
yang sulit bagi-Nya, maka janganlah melupakan apalagi meninggalkan Dia.
Wallahu alam bisshawab.

---
INDONESIA-L ('apakabar') - <http://www.indopubs.com/archives>
INDONESIA-NEWS - <http://www.indopubs.com/parchives>
INDONESIA-VIEWS - <http://www.indopubs.com/varchives>
---
Lifetime subscription to all 3 lists now available
_by email_ for a one-time donation of US$250 to support
Indonesia Publications' online projects.  Email
apakabar@radix.net to make all arrangements quickly.
---