Date: Wed, 19 Jan 2000 02:50:10 -0800 (PST)
From: Markus Kapalapica <kapalapica@yahoo.com>
Subject: Pela Gandong hanya rekayasa Belanda (V.O.C.)
To: apakabar@saltmine.radix.net
Sebutan Pela gandong yang dibangga-banggain orang
Maluku sebenarnya tidak benar adanya.
Hubungan Pela gandong yang terdapat pada orang maluku
sebenarnya hanyalah sebuah rekayasa Pemerintahan
Belanda pada saat menjajah Indonesia dengan Maluku
sebagai sasarannya karena rempah-rempah yang ingin
dikuasai.
Begini ceritanya :
Awalnya kepulauan Maluku itu adalah sebuah jasirah
yang penuh dan makmur dengan hasil alam yang berlimpah
ruah, dan berpenduduk mayoritas Moslim.
Disaat Belanda menjajah dan menggarap Maluku, kaum
muslim maluku tidak bisa menerima kehadiran mereka
sehingga timbul perlawanan bersenjata dari Raja-raja
dan Soultan-soultan yang berada di maluku, antara lain
Raja Leihitu, Raja Leitimur, Sultan Tidore, Sultan
Ternate, Sultan Khairun, Sultan Babullah dll.
Karena adanya perlawanan yang sengit dari masyarakat
muslim maluku, maka Belanda mulai melancarkan Politik
"Devide at Ampera" alias Politik Memecah Belah.
Belanda masuk ke maluku membawa tiga misi yaitu :
Gold, Glory, dan Gospel
Gold, adalah misi Belanda untuk mengeruk Harta
Glory, untuk mendapatkan kemuliaan di mata masyarakat
Gospel, membawa misi kristen dengan iming-iming materi
Sehingga masyarakat maluku yang tadinya adalah
mayoritas muslim menjadi terpengaruh dan terpecah dua:
muslim dan non muslim.
Pada setiap kampung di maluku selalu terbagi menjadi
dua komunitas yaitu komunitas muslim dan non muslim,
dan itu adalah keberhasilan Belanda dalam politik
Pecah Belah nya.contoh kampung Iha(muslim) dan Ihamahu
(non muslim) ; awalnya kedua kampung ini adalah satu
yaitu Iha, tetapi karena penduduk Iha yang membangkang
maka membentuk daerah baru yang disebut Ihamahu (Iha
yang membangkang).
Karena sering terjadi perkelahian antara kampung
muslim dan non muslim yang pro Belanda, maka agar
dapat diterima di semua komunitas masyarakat maluku,
Belanda mulai membentuk persahabatan yang tidak bisa
dipisahkan dengan saling membantu dan bergotong royong
dengan membuat Pela Gandong.
Untuk memperluas daerah jajahannya,Belanda menggunakan
masyarakat maluku yang pro kepadanya untuk memperluas
daerah kekuasaannya dengan jalan membentuk pela
gandong dengan daerah baru yang muslim
Demikiaanlah kisah Pela Gandong yang selalu
dibangga-banggakan, padahal hanyalah politik penjajah.
----- End of forwarded message from Markus Kapalapica -----
---
INDONESIA-L ('apakabar') - <http://www.indopubs.com/archives>
INDONESIA-NEWS - <http://www.indopubs.com/parchives>
INDONESIA-VIEWS - <http://www.indopubs.com/varchives>
---
Lifetime subscription to all 3 lists now available
_by email_ for a one-time donation of US$250 to support
Indonesia Publications' online projects. Email
apakabar@radix.net to make all arrangements quickly.
---