[INDONESIA-NEWS] KMP - Dipertanyakan, Legitimasi Kongres Rakyat Riau

From: indonesia-p@indopubs.com
Date: Tue Feb 01 2000 - 15:43:43 MST


X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0002/02/utama/dipe01.htm

   Rabu, 2 Februari 2000
   Dipertanyakan, Legitimasi Kongres Rakyat Riau
   Jakarta, Kompas
   
   Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Akbar Tandjung dan Wakil Ketua
   Komisi II DPR Feri Mursyidan Baldan hari Selasa (1/2) di Jakarta
   mempertanyakan legitimasi penyelenggaraan Kongres Rakyat Riau, yang
   telah berakhir hari Selasa (1/2) dini hari, di mana mayoritas peserta
   yang bersedia ikut voting, memilih opsi kemerdekaan.
   
   Menjawab wartawan, Akbar Tandjung dan Feri mempertanyakan apakah
   peserta kongres itu betul-betul mewakili rakyat Riau secara
   keseluruhan. Namun baik Tandjung maupun Feri menilai keputusan itu
   harus dipahami sebagai sebuah wacana dan tidak perlu ditanggapi secara
   represif selama tidak ada tindakan bersifat fisik untuk menyatakan
   kemerdekaan.
   
   Setelah diperpanjang menjadi empat hari-dari dua hari yang
   direncanakan-Kongres Rakyat Riau (KRR) II berakhir dengan salah satu
   keputusannya merekomendasikan agar Riau merdeka. Keputusan ini diambil
   melalui pemungutan suara untuk satu pilihan (opsi) yang diikuti 623
   orang (dari sekitar 2.000 peserta) selama sekitar enam jam, yakni
   mulai hari Senin pukul 23.30 sampai hari Selasa pukul 04.30.
   
   Menurut Badan Pekerja Pengarah dan anggota pimpinan sidang KRR II,
   Prof Suwardi MS, rekomendasi itu sah. Langkah-langkah untuk memenuhi
   kourum sudah dilakukan, seperti menunggu satu jam agar peserta
   terkumpul sebelum pemungutan suara diputuskan, yang ternyata hanya
   diikuti 623 orang itu. Pilihan merdeka direkomendasikan karena pilihan
   ini memperoleh suara terbanyak, yakni 270 suara, dibandingkan pilihan
   otonomi 199 suara, dan federal 146 suara.
   
   Sudah final
   
   Sebagai negara, kata Akbar Tandjung, Republik Indonesia sudah
   memproklamasikan kemerdekaan negara Indonesia dan bersifat final. Riau
   selama ini sudah merdeka bersama wilayah lain di Indonesia. Tuntutan
   merdeka, memisahkan Riau dari negara Indonesia tidak sesuai dengan
   kesepakatan awal membentuk negara Indonesia dan tidak sesuai
   konstitusi.
   
   "Karena itu, tuntutan untuk merdeka hilangkanlah. Kalau merasa kurang
   mendapatkan keadilan, hal-hal itulah yang harus diperbaiki," kata
   Tandjung seraya mengingatkan bila ada tindakan-tindakan fisik
   menyertai keputusan kongres memilih opsi merdeka itu, mereka akan
   berhadapan dengan aparat keamanan.
   
   Menurut Feri Mursyidan, keputusan Kongres Rakyat Riau untuk memilih
   opsi merdeka harus dilihat sebagai ekspresi dan aspirasi warga Riau
   terhadap kondisi yang dialami daerah bersangkutan. "Sebagai wacana,
   hal itu bisa dipahami," kata Feri.
   
   Sebaiknya, katanya, pemerintah merespons aspirasi itu dengan
   memperbaiki kebijakan ekonomi terhadap Riau, karena selama ini kondisi
   perekonomian masyarakat Riau pada umumnya masih lemah meski daerah itu
   kaya akan sumber alam.
   
   Ketua Fraksi Persatuan Pembangunan Rusjdi Hamka berpendapat,
   pemerintah mesti arif dan bijak dalam merespons tuntutan masyarakat
   Riau. Ia menyatakan, sebagai bagian rakyat Indonesia, ia tidak rela
   Riau melepaskan diri dari Indonesia.
   
   "Pemerintah mesti menanggapinya dengan arif. Kita tidak ingin lepas
   dari republik ini, tetapi tentunya tuntutan rakyat Riau harus
   ditanggapi," kata Rusjdi.
   
   Alot
   
   Salah seorang penasihat KRR II dan tokoh masyarakat Riau Kepulauan, H
   Mohd. Dun Usul, mengatakan, memang banyak peserta yang tidak mengikuti
   voting, termasuk utusan dari Kabupaten Kepulauan Riau, Natuna,
   Karimun, dan Kota Batam.
   
   Proses menentukan pilihan merdeka, otonomi dan federal melalui waktu
   panjang, yakni sekitar 20 jam. Berkali-kali sidang yang terus memanas
   dihentikan sementara.
   
   Suasana tampak tegang dalam pelaksanaan voting yang dipimpin secara
   bergiliran oleh Prof Dr Tengku Dahril MSc, Prof Suwardi MS, dan tokoh
   generasi muda Gumpita. Ledakan kegembiraan membahana begitu pilihan
   merdeka yang dimotori mahasiswa di Riau diumumkan dan ditetapkan
   sebagai pilihan terbanyak.
   
   Rekomendasi merdeka hanya merupakan salah satu dari puluhan
   rekomendasi yang dikeluarkan KRR. Rekomendasi lain di antaranya, tetap
   memelihara bahasa Melayu, menghidupkan kembali tanah adat maupun
   lembaga adat, serta mengusir PT Torganda dari Riau yang sudah dua kali
   dalam beberapa tahun terakhir ini menyerang penduduk desa.
   
   Dipelajari
   
   Ketua DPRD Riau dr Chaidir MBA yang dihubungi Kompas, tidak bersedia
   menanggapi rekomendasi KRR II, khususnya pada pilihan merdeka. "Ini
   peristiwa penting dan saya harus tanya dulu pada masing-masing fraksi.
   Apakah kami akan segera mengadakan rapat atau tidak untuk menanggapi
   rekomendasi Riau merdeka, itu juga tergantung pada fraksi," kata
   Chaidir.
   
   Kepala Direktorat Sosial Politik (Kadit Sospol) Riau Agus Ramadhan di
   tempat terpisah mengatakan, pihaknya akan mempelajari dulu apa yang
   dimaksud merdeka dalam KRR II. "Apakah merdeka mengelola sumber daya
   alam, sumber daya manusia, dan lain-lain. Sebab, dalam KRR yang saya
   amati, berkembang apa yang disebut merdeka moral dan merdeka tanpa
   darah, seperti dikatakan Prof Tabrani Rab (tokoh Riau Merdeka-Red.),"
   kata Agus. Ketua rombongan dari Kabupaten Rokanhilir, Murdani Muhdar
   mengatakan, pihaknya harus membicarakan dulu pilihan Riau merdeka itu
   ke masyarakat. "Memang, dalam pandangan umum, Rokanhilir menginginkan
   Riau merdeka, tetapi itu harus dilakukan secara bertahap, misalnya,
   melalui otonomi luas terlebih dahulu. Bukan langsung merdeka,"
   katanya.
   
   Menurut pimpinan sidang Prof Suwardi MS, Riau merdeka memang harus
   dijabarkan lagi oleh Badan Pekerja KRR. Badan ini juga ditugaskan
   melaksanakan KRR lima tahun mendatang. Ini berbeda antara pelaksanaan
   KRR I dengan II yang berjarak waktu 34 tahun. KRR I dilaksanakan tahun
   1956 yang fokus pembicaraannya adalah bagaimana Riau memisahkan diri
   dari Sumatera Tengah. (wis/ti)

---
INDONESIA-L - <http://www.indopubs.com/archives>
INDONESIA-NEWS - <http://www.indopubs.com/parchives>
INDONESIA-VIEWS - <http://www.indopubs.com/varchives>
---