[INDONESIA-L] JOSHUA - Separatis RMS?

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Sun Jan 16 2000 - 19:14:26 MST


   From: "Joshua Latupatti" <joshualatu@hotmail.com>
   To: apakabar@radix.net
   Subject: SEPARATIS R M S ???
   Date: Sat, 15 Jan 2000 03:01:03 PST
   
   SEPARATIS R M S ???
   --------------------
   
   Salam Sejahtera!
   
   Masalah ini sebenarnya sudah ingin saya lupakan, tetapi karena masih
   saja ada oknum atau kelompok tertentu yang doyan sekali mengguna-
   kan isu-isu RMS ini, dengan maksud yang tidak bersih, baiklah saya
   utarakan lagi sedapatnya seputar apa itu RMS.
   Orang seperti religi ini memang terlalu bodoh untuk diajak debat,
   dan saya juga memang tidak ingin ke situ. Tetapi isu-isu ini cukup
   beracun bagi ummat yang tidak tahu, dan untuk itulah tulisan ini saya
   buat lagi.
   
   LATAR BELAKANG TUDUDUHAN SEPARATIS
   
   Jauh di dasar sana, pertikaian antar masa di Ambon sebenarnya adalah
   pertikaian bermodus Politis, dengan menggunakan Bingkai Agama.
   Sebagian Muslim Ambon/Maluku di dalam kerusuhan pertama, sudah
   menggunakan senjata RMS ini untuk mendiskreditkan Kristen Ambon/
   Maluku. Iisu-isu RMS kemudian menghilang beberapa saat, ketika di-
   temukan sekitar 50 lembar bendera RMS di Mesjid Al Fatah, siap untuk
   disebarkan ke daerah-daerah Kristen, dengan sasaran utama daerah Kuda-
   mati, Ambon (razia Korem Pattimura-Danrem K.A. Ralahalu). Dikata-
   kan pula bahwa walaupun Suaidi Marasabessy memberikan konfirmasi
   ke Mabes TNI bahwa RMS positif terlibat, hasil razia di atas tidak
   dising-
   gungnya!
   
   Bersamaan dengan pecahnya kerusuhan kedua, isu-isu separats atau RMS
   ini merebak lagi. Kali ini, tidak tanggung-tanggung, bahwa para
   jenderal
   seperti Feisal Tanjung, Suaidi Marasabessy dan Hendropriyono, ikut
   mem-
   berikan komentar. Warga Kristen Ambon adalah kaum separatis, yang
   berniat memisahkan diri dari negara RI, dan gerakan RMS dikaitkan ha-
   nya dengan warga Kristen Ambon. Hasilnya juga tidak tanggung-tang-
   gung. Puluhan pemuda Kristen Ambon berjatuhan kena peluru aparat ke-
   amanan, yang datang ke Ambon berbekal instruksi, habiskan kaum separa-
   tis pita merah, kecuali Korps Marinir yang agaknya masih bersih dari
   in-
   doktrinasi separatis RMS ini.
   
   Isu Separatis-RMS ini kemudian disebarkan oleh beberapa media masa yg.
   tidak bertanggung jawab, serta yang kredibilitas jurnalistiknya sangat
   dira-
   gukan. Lebih parah lagi, tuduhan ini kemudian dikembang-biakkan de -
   ngan suntikan isu senjata selundupan yang merupakan bantuan dari
   negara-
   negara Belanda, Israel dan Belgia. Dengan ini, maka lengkaplah tuduhan
   kepada warga Kristen Ambon/Maluku sebagai pemberontak bersenjata mo-
   deren.
   Dari sini timbul pertanyaan, Apakah para penuduh tahu persis sejarah
   da-
   ri RMS, sehingga begitu saja mengaitkan RMS hanya dengan warga Kristen
   Ambon?
   
   SEDIKIT TENTANG REPUBLIK MALUKU SELATAN (RMS)
   
   Kenyataan sejarah tidak dapat dipungkiri, bahwa Republik Maluku
   Selatan (RMS) pernah hidup di Ambon ( Maluku tengah pada umum-
   nya), walaupun tidak lama.
   Akan tetapi, kenyataan/fakta sejarah juga membuktikan bahwa RMS
   bukanlah gerakan separatis seperti yang dipikirkan banyak orang
   saat ini. RMS didirikan, sebelum negara Kesatuan RI, menjadi se -
   perti yang sekarang ini, dengan wilayah kesatuan dari Sabang sampai
   ke Merauke. Semua hasil perundingan di dalam berbagai koferensi
   antara Pemerintah Belanda dan Indonesia (yang sekali lagi, belum me-
   rupakan negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke), seperti Per-
   janjian Linggarjati (25 Maret 1947), Perjanjian Renville(1948),
   Konferensi Meja Bundar (November 1949), Memberikan Kemer -
   dekaan Penuh bagi Maluku untuk Menentukan Nasibnya Sendiri.
   Hasil pertemuan Moehamad Roem dan Van Royen (7 Mei 1949), se-
   belum KMB, malah ikut memperkuat keputusan Perjanjian Linggar -
   jati dan Renville. Kedua pihak, Pemerintah Belanda dan Indonesia,
   tidak boleh mencampuri atau mencegah proses penentuan nasib sendiri
   dari berbagai daerah seperti Maluku (termasuk Aceh), tetapi malah ha-
   rus membantu Rakyat Maluku didalam menentukan nasibnya sendiri,
   dan di dalam menentukan jenis hubungan antara mereka (RMS) de-
   ngan pihak Pemerintah Belanda dan Indonesia (otonomi, federasi, dll),
   di bawah pengawasan PBB (Komisi PBB Untuk Indonesia). Baca
   sejarah RIS agar lebih jelas tentang situasi saat itu.
   
   Dengan demikian, Proklmasi berdirinya Republik Maluku Selatan atau
   (RMS), pada tanggal 25 April 1950, adalah SAH berdasarkan perjan-
   jian-perjanjian di atas dan SAH menurut Hukum Internasional, dan ter-
   lepas dari suka atau tidak suka-nya Pemerintah Indonesia saat itu.
   Tetapi, dengan tidak menghiraukan protes dari Pemerintah Belanda
   sebagai yang menandatangani perjanjian-perjanjian tersebut , dan de -
   ngan mengabaikan teguran PBB, Pemerintah Indonesia melakukan
   invasi terhadap RMS dengan mengirimkan pasukannya ke Ambon, pa-
   da tanggal 13 Juli 1950. Kesimpulannya, membicarakan RMS adalah
   membicarakan pelanggaran Indonesia terhadap perjanjian dan hukum
   internasional, dan bukanlah membicarakan pemberontakan rakyat
   Maluku terhadap Pemerintah RI.
   
   KEADAAN PASCA RMS-1950
   
   Ketika RMS akhirnya berhasil dikuasai Pemerintah Indonesia dengan
   pengorbanan 15000 nyawa tentaranya, sebagian besar warga RMS lalu
   mengungsi ke Negeri Belanda dan tetap berjuang bagi kembalinya RMS
   di Ambon, sedangkan sebagian lagi terdesak ke pedalaman hutan pulau
   Seram. Dengan tertangkapnya Dr. Chris. Soumokil di Seram, maka
   dapatlah dikatakan bahwa RMS sudah lumpuh, dan sebagian besar para
   aktivis RMS yang ada di pulau Seram, turun gunung, dan menyerah-
   kan diri kepada Pemerintah Indonesia. Setelah menjalani hukuman pen-
   jara (walau tidak sejalan dengan kenyataan perjanjian, bahwa mereka
   ada-
   lah pemberontak), mereka menggantungkan parang dan salawaku mere-
   ka, lalu mengabdi kepada Pemerintah RI, seperti menjadi Pegawai Negeri
   Sipil (PNS), dll.
   
   Seiring dengan pergantian generasi, RMS praktis dilupakan, sehimgga
   sebagian besar warga Kristen Ambon yang sudah mencapai umur 60 ta-
   hun malah belum pernah melihat macam apa bendera RMS itu.
   
   Pada zaman penjajahan Belanda, haruslah diakui bahwa hampir tidak
   ada Muslim Ambon yang dapat mengenyam pendidikan tinggi. Hal ini
   terlihat jelas dari para menteri di jaman pemerintahan Bung Karno, se
   -
   perti Dr. Leimena dan Prof. Siwabessy. Demikian juga yang. terjadi di
   dalam tubuh RMS saat itu. Para pemuka RMS yang terkenal hanyalah
   mereka yang Kristen, seperti Dr. Chris.Soumokil, Alvaris. Manusama,
   Albert Wairisal dan Izzak Tamaela. Kenyataan ini sama sekali tidak
   berarti bahwa Muslim Ambon tidak terlibat sebagai anggota atau simpa-
   tisan RMS. Mereka hanya tidak kelihatan karena tertutup oleh kete -
   naran pemuka-pemuka RMS yang Kristen, yang telah mengenyam pen -
   didikan tinggi kolonial saat itu. Kenyataan yang sangat mendukung ke -
   terlibatan pihak Muslim di dalam geraka RMS saat itu, adalah Kuatnya
   Semangat Hubungan Pela dan Gandong, yang tidak mengizinkan sa-
   lah satu pihak, baik Kristen maupun Islam di Ambon, untuk melupakan
   saudara Pela atau saudara Gandong mereka (Gandong = Kandung).
   
   Sampai dengan tanggal 19 Januari 1999, uraian di atas tidak menutup
   ke-
   mungkinan adanya gerakan bawah tanah dari RMS. Secara diam-diam
   mereka tetap menjalin hubungan dengan para aktivis RMS di Negeri Be -
   landa, yang berbeda keadaannya, berani menyatakan keberadaan mereka
   kepada Pemerintah dan masyarakat Belanda. Tetapi, seiring dengan
   terbu-
   ka lebarnya kesempatan sekolah bagi semua warga negara Republik Indo -
   nesia, dan seiring pula dengan peralihan generasi di Ambon, maka Pucuk
   Pimpinan gerakan bawah tanah RMS di Ambon (Maluku ), beralih ke
   pihak Muslim dengan seorang ketua yang beragama Islam, dan yang ber-
   asal dari desa Pelauw, salah satu desa Muslim di pulau Haruku, Maluku
   Tengah. Ketua Yayasan Al Fatah, Abdullah Soulissa sendiri adalah
   bekas sekretaris RMS-Maluku.
   
   Walaupun tidak seluruhnya adalah simpatisan atau aktivis RMS, tetapi
   demonstrasi warga Maluku di Den Haag, Belanda, 19 Agustus 1999, de-
   ngan mendatangi gedung Mahkama Internasional, Kedutaan Amerika dan
   Kedutaan Indonesia untuk menyerahkan pernyataan mereka, adalah con-
   toh dari kebersatuan RMS. Baik warga Maluku yang Kristen, maupun
   warga Maluku yang Muslim, semua terlibat di dalam demonstrasi itu.
   
   Jika pertikaian antar masa di Ambon ini berada di dalam rangkaian
   usaha
   kembalinya RMS, maka seharusnya Muslim dan Kristen Ambon yang
   terikat erat di dalam hubungan persaudaraan yang sudah berumur ratusan
   tahun, bersatu melawan semua pendatang dan pemerintah RI. Tetapi
   fakta berkata lain, bahwa bukan saja ikatan Pela/Gandong antara
   Kristen
   dan Islam itu putus berantakan, akibat tindakan berpihaknya Muslim
   Ambon kepada para pendatang yang memang sangat dominan Mus -
   lim, tetapi juga tidak ada indikasi RMS di dalam kerusuhan ini.
   Mengidentikkan baik pihak Muslim Ambon, maupun pihak Kristen
   Ambon dengan RMS, adalah suatu tindakan bodoh yang memperli-
   hatkan ketidak-tahuan seseorang atau suatu golongan tentang se-
   jarah RMS.
   
   Hanya orang dungu yang tetap berkeras dengan isu-isu RMS itu, sebab
   sekali isu-isu ini dicium dunia Internasional, maka kecurangan
   pemerin-
   tah RI, yang sudah terkubur selama hampir 49 tahun itu, akan muncul
   kembali ke permukaan. Bagi yang ingin membaca sendiri, carilah file
   dengan judul. Saya kuatir disebut sebagai provokator baru, jika file
   tsb. saya tayangkan di sini.
   
   REPUBLIK MALUKU: The Case for Self-determination
   A Briefing Paper OF
   HUMANITARIAN LAW PROJECT, INTERNATIONAL EDUCATIONAL
   DEVELOPMENT AND ASSOCIATION OF HUMANITARIAN LAWYERS
   Prepared by Karen Parker, J.D.
   Presented to The United Nations; Commission on Human Rights
   1996 Session, March, Geneva
   
   Salam Sejahtera,
   JL.
   
   ----- End of forwarded message from Joshua Latupatti -----
   

---
INDONESIA-L ('apakabar') - <http://www.indopubs.com/archives>
INDONESIA-NEWS - <http://www.indopubs.com/parchives>
INDONESIA-VIEWS - <http://www.indopubs.com/varchives>
---