[INDONESIA-L] IVRAHIM SATORI - Benarkah Militer Indonesia akan Kudeta?

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Sun Jan 16 2000 - 19:11:42 MST


   From: "Ivrahim Satori" <ivrahimsatori@hotm ail.com>
   To: apakabar@radix.net
   Subject: Benarkah Militer Indonesia AKan Kudeta?
   Date: Sat, 15 Jan 2000 05:09:46 GMT
   
   Benarkah Militer Indonesia Akan Kudeta?
   
   Masyarakat Indonesia memang cepat lupa dan mudah terkesima. Petinggi
   dan
   pejabat Indonesia cepat lupa. Anggota DPR sebagai pilar demokrasi juga
   mudah lupa. Media dan Pers, yang konon dinegara maju disebut sebagai
   pilar
   ke empat demokrasi, juga cepat lupa dan tidak ulet atau persistent.
   Ibarat
   lalat yang suka menclok kesana kemari mencari sampah yang masih
   hangat,
   pers Indonesia kehilangan alur benang merah yang menjadi misi mereka
   sebagai pendorong ke arah sistim masyarakat demokrat (masyarakat
   madani).
   Istilahnya Indonesia sedang kejangkitan pageblug (wabah = epidemi)
   lupa-ingatan.
   
   Contohnya, mengapa Jindral (untuk selanjutnya disingkat Jin.) besar
   Suharto dilupakan? Padahal dialah yang sekarang berandil besar
   mengobok-obok Indonesia, dan masih aktip mengobok-obok lewat kaki
   tangannya yang ada di TNI-AD dan lewat jalur tidak resmi, preman.
   Konkritnya, sewaktu Suharto dihujat habis-habisan oleh bangsa
   Indonesia
   dan diupayakan digiring kepengadilan, dia kena stroke. Keterangan
   dokter
   yang ditayangkan oleh media mengatakan dia sudah 'pelo' alias cidal.
   Sulit
   bicara dan lumpuh separo. Bahkan Jin Suharto ini dipotret duduk di
   atas
   kursi roda. Teman saya sudah mulai iba dan percaya, tetapi saya
   bertaruh
   bahwa ini adalah tipu-muslihat yang tidak bisa mengelabui saya. Saya
   katakan ini adalah cara untuk menghindari hujatan kalau dia mau
   mengobok-obok Indonesia lagi di kemudian hari. Saya kenal dekat dengan
   dua
   orang yang kena stroke separah Suharto. Dalam dua tahun, meskipun
   dirawat
   oleh dokter yang paling top dari Cina dan Amerika, perkembangannya
   masih
   minimal. Yang satu tetap saja kehilangan kemampuan motoris, yang lain
   kemampuan motoris nya membaik meskipun jalannya masih tidak stabil.
   Belum
   ada satu tahun kena stroke parah, Jin Suharto dan penasehatnya lupa
   (atau
   mungkin menganggap semua orang Indonesia bisa ditipu). Ada foto
   Suharto
   naik Mangadeg (= Giri Bangun, makam Tin Suharto) yang cukup tinggi itu
   tanpa dipandu dan dibantu oleh asistennya untuk nyekar sebelum
   Ramadhan
   kemarin. KITA LUPA dan Suharto menggunakan kebodohan bangsanya dengan
   jitu. Jin Suharto memang master manipulasi, Camdessus pun pernah kena
   jebak. Ingat fotonya yang melipat tangan, karena sebetulnya dia tidak
   diberi kursi duduk sewaktu upacara tanda-tangan bantuan IMF.
   
   Informasi dari beberapa sumber independen (dari pejabat sipil maupun
   militer) juga membenarkan bahwa Jin Suharto masih aktip melakukan
   konsultasi kepada TNI-AD garis status quo (Wiranto cs.). Jadi
   kemungkinan
   kerusuhan di Timor, Aceh, Maluku, Jawa Timur dilakukan oleh TNI-AD
   garis
   status-quo tidak dapat diabaikan, mengingat kemiripan dengan trik-trik
   Suharto mengadu domba antar suku dan agama. Seorang yang lulus
   perguruan
   tinggi dan mau sedikit memakai nalarnya akan sampai kepada kesimpulan
   ini.
   Ingat kasus adu domba antara golongan kiri (yang belum tentu semuanya
   komunis) dengan kelompok Islam tahun 1966-1968 yang digencarkan
   setelah
   Suharto ambil posisi pemegang Supersemar (yang konon surat ini tidak
   ada).
   Ingat kasus Malari, pembakaran Senen oleh orang-orangnya Suharto.
   Kasus
   Tanjung Priok, Kasus digoyangnya NU, kasus dibantainya PDI, dsb.
   Semuanya
   menunjukkan kearah yang sama.
   
   Termasuk salah satu keinginan Suharto ialah mempertahankan dwifungsi
   oleh
   TNI (baca TNI-AD status quo). Dengan demikian janji kelompok ini, yang
   diwakili oleh Jin Wiranto, untuk melindungi Suharto dan kroninya akan
   terwujud. TNI pun akan suka-ria dengan dwi fungsi, karena dwi fungsi
   artinya menguasi power dibidang politik dan sosial, dan menguasi
   ekonomi.
   Ujung-ujungnya Duit (UUD) bukan bela negara! Cara yang paling mudah
   mempertahankan dwifungsi adalah menggoyang pemerintahan yang syah
   dengan
   kekacauan masal, dan TNI-AD menunjukkan ketidak becusan sipil,
   kemudian
   mengambil oper. Mengambil oper bisa dilakukan secara keras dengan
   kudeta
   blak-blakan. Kudeta bisa dilakukan dengan terselubung, yaitu membuat
   kekacauan disuatu propinsi atau daerah dan ditindak lanjuti dengan
   darurat
   militer di daerah tersebut. Kemudian kekacauan disebarkan kedaerah
   lain,
   dan diikuti dengan darurat militer dan seterusnya. Hasil akhir sama
   saja,
   seluruh negara dalam keadaan darurat militer dan pemerintahan
   demokrasi
   sipil akan layu sebelum berkembang. Inilah yang sekarang dilakukan di
   Maluku, Aceh, dan Irian Jaya (Papua). Analisa saya berdasarkan data
   yang
   masuk (juga dari beberapa sumber independen) menunjukkan daerah
   berikut
   yang akan dijadikan ajang pertumpahan darah oleh TNI-AD adalah
   Sulawesi
   Utara, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Jawa Timur.
   Hati-hatilah.
   
   Jadi skenario yang saya ungkap di milis ini sekitar tengah tahun 1999
   bahwa TNI-AD akan kudeta masih VALID. Dan intelijen Amerika, Eropa,
   Australia dan Jepang telah membaca atau mengetahui. Kalau tidak,
   mengapa
   Administrasi Washington memberikan peringatan keras kepada TNI. Kalau
   tidak, mengapa tiba-tiba Jepang mengevaluasi investasinya di
   Indonesia.
   
   ADVONTURIR YANG GAGAL.
   
   Skenario kudeta halus yang gagal adalah Timor Timur. Sekitar bulan
   Agustus
   1999, saya ungkapkan dalam milis ini bahwa TNI-AD mempunyai master
   plan
   untuk genosida (pembantaian) di Timor Timur. Banyak orang yang tidak
   percaya. Sekitar bulan Oktober 1999, muncul argumen bahwa kekerasan di
   Timor Timur adalah ungkapan rasa kecewa militer karena kecolongan.
   Ternyata setelah diusut oleh KOMNAS-HAM benang merah kelihatan (dan
   diakui
   oleh para Perwira Tinggi yang diperiksa), yaitu pola sistematis
   kekerasan
   menunjukkan adanya master plan genosida. Alasan nalarnya ialah kalau
   militer bisa menyadap pembicaran Andi Galib dan Habibie, jelas militer
   mengetahui akan adanya referendum di Timor Timur. Alasan kejutan atau
   kecolongan bisa dieliminasi. Jadi TNI tahu akan ada referendum sebelum
   dilontarkan oleh Habibie. Kedua, intelijens Barat (Australia, US, dan
   Inggris) juga sudah tahu akan skenario kejam TNI-AD karena mereka lalu
   membuat persiapan seperlunya untuk intervensi.
   
   Lalu mengapa TNI-AD pusing-pusing masalah Timor-Timur? Alasannya,
   win-win
   situation dari perhitungan TNI. Kalau menang, TNI berhak membabat
   rakyat
   Timor-Timur dengan dalih urusan Timor Timur sudah menjadi urusan dalam
   negeri. Kalau kalah mereka akan membabat juga dengan alasan kecolongan
   atau kecewa. Jadi menang atau kalau akan tetap terjadi genosida
   (pembantaian). Juga kita harus melihat faset besarnya, kalau menang di
   Timor Timur TNI akan mempunyai kartu truf dalam posisi tawar menawar
   dengan pemerintah sipil. Targetnya adalah mempunyai bagian besar dalam
   pemerintahan reformasi dan mempertahankan dwifungsi. Ingat pada waktu
   itu,
   Megawati yang dijagokan untuk jadi presiden dan Megawati pula yang
   gemas
   ingin mempertahankan Timor-Timur. Kalau pihak integrasi menang, dan
   kubu
   Megawati menang, bisa dibayangkan kekuatan posisi tawar-menawar
   TNI-AD.
   
   Ternyata gagal dan 'out-of-control', dunia Internasional melakukan
   intervensi. Intervensi yang begitu kuat ini diluar perhitungan TNI-AD.
   Itu
   sebabnya mereka mencoba kartu terakhir, insiden peta perbatasan. Kalau
   ini
   berhasil (konfrontasi dengan BARAT), maka rakyat kita yang bodoh
   (termasuk
   mahasiswa dan akademisi kita yang banyak berpikiran pendek) akan mudah
   dibangkitan semangat ultra nasionalisme. Menghadapi perang gawat,
   tentu
   TNI akan ambil alih pemerintahan. Tapi usaha inipun gagal juga karena
   INTERFET dan UN melakukan manouver politik yang jitu. Intinya, 'mari
   kita
   samakan peta kita dan patroli bersama'. Win-win situation bagi TNI
   malah
   jadi bangkrut total. Bahkan insiden peta malah mempermalukan wajah
   bangsa
   kita. Kalau peta Belanda lebih akurat (yang dijadikan acuan perwira
   lapangan), mengapa peta yang diberikan ke INTERFET adalah peta dari
   pemerintah RI? Dengan perkataan lain selama dipegang Suharto, kita
   bukan
   semakin maju melainkan semakin bodoh, buat peta saja tidak bisa. Kalau
   argumennya ialah salah pakai peta oleh TNI, ini juga menunjukkan
   kecerobohan militer dalam menangani situasi darurat. Kalau disengaja
   memberikan peta yang berbeda, ini juga menunjukkan bahwa TNI memang
   mau
   bikin ulah.
   
   Kalau ada genosida dimana makamnya? Ah kita lupa!!! Dimana makam satu
   juta
   orang yang dibabat tahun 1966-1969? Tidak ada, karena sebagian besar
   dibuang kesungai dan laut. Saya ingat dilarang makan ikan waktu itu,
   karena banyak korban dibuang di laut dan sungai tempat saya tinggal.
   Laut
   Indonesia adalah makam terbesar.
   
   GOYANGAN YANG GAGAL.
   
   Goyangan pertama yang gagal sewaktu TNI-AD status quo membakar Jakarta
   (persis Nero membakar Roma). Amin Rais sangat bijaksana waktu itu
   untuk
   tidak mengerahkan masa. Angka sepuluh buat Amien Rais. Sebab kalau
   AMien
   Rais terpancing, TNI-AD akan mengungumkan darurat militer dan ambil
   alih
   kekuasaan, alias kudeta.
   
   Goyangan kedua yang gagal ialah pembantaian kyai NU di Jawa Timur. Ini
   sangat menyakitkan hati bagi umat Islam, terutama dari warga NU. Cara
   yang
   paling mudah untuk mengatasi teror ini, seperti yang saya ungkapkan
   juga
   di milis ini, ialah melakukan sistim keamanan stelsel. Semua anggota
   TNI-AD dari prajurit sampai Jendral harus diawasi kalau berpergian,
   kalau
   mengunjungi suatu wilayah harus wajib lapor kepada pemuka masyarakat
   wilayah tersebut dan menunjukan surat jalan atau tugas. Kalau
   mencurigakan, babat! Atau jika seorang provokator tertangkap dan
   diserahkan kepolisi atau tentara, ternyata dibebaskan lagi, sang
   provokator dibabat. Cara ini sangat efektip, dan hasilnya tampak di
   Jawa
   Timur. Angka sepuluh buat Gus Dur. Apakah cara ini perlu diterapkan
   untuk
   militer di Jakarta? Kalau begitu keluargaku saya pindahkan dulu, biar
   yang
   dibabat kelompok status quo saja.
   
   Goyangan ketiga sewaktu pemilihan presiden. TNI-AD melakukan lobi luar
   biasa untuk menggoalkan Wiranto sebagai presiden. Skenario
   dikembangkan
   untuk mengadu domba kubu Mega dan kubu Islam. Ingat FPI, yang tak lain
   adalah kelompok bayaran TNI-AD status-quo, dikerahkan sebagai
   provokator
   adu-domba. Jika berhasil, kudeta ini disebut kudeta "suam-suam kuku".
   Goyangan ini gagal karena Mega mengalah, Amien Rais menggoalkan
   poros-tengah, dan Gus Dur mencabut ujarnya untuk tidak jadi presiden.
   Akhirnya Gus Dur jadi presiden, Mega jadi WaPres, Amien Rais jadi
   ketua
   MPR, Wiranto gagal jadi presiden, dan yang terpenting pertumphan darah
   tidak terjadi. Sepuluh untuk Gus Dur, Megawati dan AMien Rais.
   
   MENGGOYANG LAGI.
   
   TNI sebetulnya terbagi menjadi tiga-kelompok besar. Kelompok TNI-AD
   Thaliban, kelompok TNI-AD status-quo, dan kelompok professional
   (sekitar
   30 persen dari TNI-AD plus TNI-AL dan TNI-AU). Belakangan ini terjadi
   manouver kelompok TNI status-quo mendekati kelompok TNI Thaliban untuk
   merongrong kewibawaan pemerintah. Manouver ini masih perlu diuji
   dilapangan. Hasilnya yang paling konkrit adalah usaha memperlemah
   efektivitas pemerintahan Gus Dur dengan memakai kelompok Thaliban
   sipil.
   Orang Islam yang sangat menghargai Hak Azasi Manusia banyak yang
   terjebak
   mengutuk KOMNAS-HAM yang sekarang sedang mengadili petinggi TNI-AD
   (yang
   sebetulnya kebanyakan berasal dari TNI status quo). Sebetulnya kita
   harus
   mendukung komisi ini untuk menunjukkan kedunia luar bahwa Hak Azasi
   Manusia bukan monopoli Barat saja. Kita sebagai masyarakat Islam mampu
   menghargai HAM.
   
   Rongrongan kedua ialah 'undermine' (melecehkan?) pemerintah hasil
   pemilihan dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh petinggi AD, seperti
   Djadja Suparman, Sudradjad, dan Wiranto (dibelakang layar). Tidak
   heran
   jika TNI-AL, TNI-AU dan TNI-AD professional sangat malu dan jengkel
   terhadap ulah kelompok Status Quo ini. Puncak ungkapan kejengkelen itu
   adalah pernyataan Agus Wirahadikusumah. Sebetulnya TNI mempunyai
   banyak
   petinggi yang professional, misalnya Agus Wirahadikusumah, Agus
   Wijaya,
   Agum Gumelar, Bb. Yudhoyono, (marinir) Suharto, dsb. Sudah seharusnya
   mereka diangkat ke posisi penting untuk membenahi TNI secara
   keseluruhan.
   Sudah saatnya pula Gus Dur memperbesar Angkatan Laut, Marinir, dan
   Angkatan Udara. Alasannya, dalam doktrin perang modern, apalagi
   Indonesia
   adalah negara kepulauan yang mempunyai garis pantai panjang,
   pertahanan
   Laut dan Udara sangat penting. Alasan Prabowo untuk memperbesar
   Kopasus
   karena ancaman teroris sangat tidak masuk akal. Karena keamanan
   nasional,
   termasuk dari ancaman teroris, adalah wewenang kepolisian. Kalau
   negara
   yang sebesar USA hanya mempunyai 1200 pasukan elit Delta Force, tidak
   masuk akal Indonesia memerlukan 5000 Kopasus. Dan ingat Delta Force
   sangat
   ketat diawasi oleh Pentagon.
   
   Rongrongan ketiga kita telah tahu semua. Jin Suharto dan Jin Wiranto
   sedang mengobok-obok Ambon, Aceh dan Irian Jaya. Kita harus hati-hati
   karena bisa menyusul Sulawesi Utara, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur,
   dan
   Kalimantan Barat.
   
   Dalam situasi kritis ini, kebijasanaan triumvirat Gus Dur-Mega-Amien
   Rais
   perlu ditunjukkan kembali. Bersatu dan hati-hati menumbuhkan
   pemerintahan
   sipil yang demokrat. Masyarakat Islam, Kristen dan Nasionalis perlu
   bersatu dan jangan mudah terpecah belah. Sumber kerusuhan ada di tiga
   tempat. Bukan Ambon, Aceh ataupun Irian Jaya. Sumber kerusuhan ada di
   Cendana, Cilangkap, dan TMII. Masih banyak yang harus kita lakukan
   terutama mengadili tindak pidana dan perdata yang dilakukan Suharto
   dan
   kroninya membangkrutkan Indonesia. Kapan kita mengadili Suharto? Kapan
   Gus
   Dur?
   
   Sekali lagi, skenario kudeta oleh TNI-AD status quo masih VALID.
   
   IVRAHIM SATORI
   
   ----- End of forwarded message from Ivrahim Satori -----
   

---
INDONESIA-L ('apakabar') - <http://www.indopubs.com/archives>
INDONESIA-NEWS - <http://www.indopubs.com/parchives>
INDONESIA-VIEWS - <http://www.indopubs.com/varchives>
---