[INDONESIA-L] DEPLU - Press Cable No. 252, 28 Desember 1999

From: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Thu Jan 06 2000 - 15:58:15 MST


X-URL: http://www.prica.org/DFA_RI_NEWS/Desember99/pc-252-c.html

   DWN-186/122899/1800WIB
   
   SEMUA PERWAKILAN
   
   
   NO.PC- 252 / 28121999, HARI SELASA TANGGAL 28 DESEMBER 1999.
   
   PRO : KEPPRIS
   
   E X : DIRPENLUGRI
   
   I. INTERNASIONAL :
   
   1. Pimpinan Komisi I DPR mendesak Menlu Alwi Sihab memanggil Dubes
   Australia untuk Indonesia guna mengklarisikasi informasi adanya
   praktek intelijen Australia dengan menyadap pembicaraan pejabat
   Jakarta dengan petugas lapangan Indonesia di Timtim. Ketua Komisi I
   DPR Yasril A. Baharuddin mengatakan klarifikasi mengenai informasi
   telah terjadi praktek intelijen Australia dan internasional soal
   penyadapan pembicaraan pejabat Jakarta dengan aparat lapangan di
   Timtim sebelum dan setelah jajak pendapat itu perlu dilakukan.
   
   "Karena apabila benar ada operasi intelijen tersebut, pemerintah RI
   harus protes keras terhadap Australia," ujar Yasril di Gedung MPR/DPR
   kemarin (27 Des.). Pimpinan Komisi I DPR yang membidangi Pertahanan
   dan TNI itu, menyebutkan pihaknyamendapat informasi mengenai operasi
   intelijen itu dari orang yang dipanggil menghadap Komisi Penyelidik
   Pelanggaran Hak Asasi Manusia (KPP HAM), dan nampaknya hasil operasi
   intelijen itu dibocorkan.
   
   "KPP HAM nasional mungkin mendapat informasi bagus. Mereka [mungkin]
   mendapa informasi hasil sadapan pembicaraan pejabat pemerintah pusat
   dan orang-orangnya di lapangan," jelas Yasril. (Bisnis Indonesia)
   
   
   2. The government has urged East Timorese refugees to choose whether
   they want to be repatriated or remain in Indonesia, hoping to settle
   the aggravating issue before the new fiscal year starts on April 1,
   2000. Coordinating Minister for People's Welfare and Poverty
   Eradication Basri Hasanuddin told reporters on Monday (Dec. 27) that
   the government would issue a regulation instructing refugees to
   declare their choice of nationality.
   
   "We have to cope with the refugee problem by April, otherwise this
   (situation) will be more difficult for us to tackle," he said. He
   indicated, however, that if necessary the government would extend the
   deadline to the next fiscal year for East Timorese to make their
   choice.
   
   Basri said the draft of the regulation was being drawn up by the
   Ministry of Law and Legislation. He was speaking after attending a
   ministerial meeting on security and political affairs presided over by
   the coordinating minister of security and political affairs, Wiranto.
   
   While announcing the regulation would be a presidential decree,
   Wiranto gave no details about it or when it would take effect.
   
   "I think this (decree) needs wise deliberation, because it will deal
   with a few aspects, in particular psychological ones. We don't want
   the decree to offend our East Timorese brothers," Wiranto said. Basri
   said some 130,000 East Timorese remained sheltered in refugee centers
   across East Nusa Tenggara, which abuts the former Portuguese colony.
   They were some of the over 260,000 people to flee their violence-
   devastated hometown following the Aug. 30 ballot which saw a majority
   vote against wide-ranging autonomy offered by Indonesia.
   
   The East Timorese refugees are being treated as Indonesian citizens
   until they opt to be otherwise, according to Basri. The current state
   budget allocates Rp 20 million for each displaced person nationwide.
   State Minister of Transmigration and Population Al Hilal Hamdi
   estimated earlier this month the number of refugees across the country
   at 422,000. He said a resettlement program for displaced people would
   start in March. Basri said the government was hoping international
   humanitarian agencies would maintain their assistance for the
   repatriation of East Timor refugees, which has been conducted since
   September. (The Jakarta Post)
   
   
   II. NASIONAL :
   
   A. POLITIK :
   
   1. Fraksi TNI/Polri DPR selama masa sidang II tahun sidang l999/2000
   menerima berbagai pengaduan dari kalangan masyarakat yang menyampaikan
   aspirasinya. Kalangan mahasiswa mendominasi kunjungan ke F-TNI/Polri
   yang mempertanyakan eksistensi atau keberadaan fraksi tersebut di DPR
   dan MPR. Menurut Wakil Ketua F-TNI/Polri Brigjen Pol Taufiequrachman
   Ruki pada bulan Oktober lalu mahasiswa paling banyak mendatangi
   fraksinya. "Saat itu fraksi kami yang banyak menjadi sasaran tujuan
   mahasiswa dan meminta keberadaan fraksi TNI-Polri ditinjau lagi dan
   dibubarkan dari MPR/DPR," ungkap Taufiq. Namun, katanya, fraksinya
   tetap menerima kedatangan mahasiswa tersebut dengan positif sebagai
   masukan dari anggota masyarakat terhadap keberadaan TNI/Polri.
   Pihaknya maklum bahwa tuntutan mahasiswa tersebut merupakan bagian
   dari semangat reformasi yang sedang bergulir.
   
   "Masalahnya dalam undang-undang keberadaan kita masih tetap ada di
   MPR/DPR. Kami tidak apriori bahwa TNI/Polri harus ada di MPR/DPR maka
   kita harus cari solusi politiknya," katanya mengingatkan perlunya
   pengkajian ulang untung ruginya bila TNI/Polri tidak duduk lagi di
   MPR/DPR. "Apa yang menjadi kemauan masyarakat kita akan ikuti. Tetapi
   kalau kita tidak lagi duduk di MPR/DPR maka kita akan sama dengan
   anggota masyarakat lainnya untuk dipilih dan memilih. Nah, ini yang
   harus dikaji secara matang," jelasnya.
   
   Menurut dia, dalam menanggapi aspirasi masyarakat tersebut fraksinya
   mendapat bantuan dari jaringan F-TNI/Polri. ``Mulai dari tingkat
   kapolda, kapolres atau pangdam dan pemerintah daerah setempat. Kami
   memang diizinkan oleh Mabes TNI/Polri untuk menggunakan saluran
   organisasi atau komando tersebut untuk membantu kebutuhan masyarakat,
   mungkin ini salah satu kelebihan yang kami miliki,`` katanya.
   
   Menurut dia semua aspirasi masyarakat akan di-adobted tetapi tidak
   serta merta diterima begitu saja. Dia mencontohkan aspirasi sebagian
   warga masyarakat yang ingin diberlakukannya sistem federal dalam
   kehidupan ketatanegaraan Indonesia. ``Kita tidak menuduh mereka
   sebagai separatis, tetapi kita ajak dialog untung ruginya,`` ujarnya.
   (Media Indonesia)
   
   
   2. Presiden Abdurrahman Wahid memperingatkan tokoh LSM-LSM untuk tidak
   terus menganggap TNI dan Polri sebagai musuh mereka, karena kalaupun
   ada yang salah maka itu adalah oknum dan bukan lembaganya. "memangnya
   semua LSM pahlawan. Anda-anda kan yang mengeneralisasikan. Saya nggak
   mau menggeneralisasikan. Oknum-oknum TNI ya saya setuju. Kalau TNI
   sebagai lembaga, tidak," kata Kepala Negara dengan tegas di Istana
   Merdeka, Senin (27 Des) ketika bertemu dengan sejumlah tokoh LSM.
   
   Sikap tegas Kepala Negara itu dikemukakan Gus Dur ketika mengomentari
   pernyataan seorang tokoh LSM, Wardah Hafidz bahwa mereka mempunyai
   bukti-bukti tentang berbagai pelanggaran yang dilakukan sejumlah
   prajurit TNI dan Polri. "Jangan selalu dianggap musuh (TNI dan Polri,
   red). Di TNI dan Polri, cukup banyak orang jujur yang menjadi korban
   Soeharto dahulu," kata Gus Dur dengan nada tegas. Karena itu, Kepala
   Negara memperingatkan para tokoh LSM untuk tidak menyebarkan sikap
   kebencian terhadap TNI dan Polri.
   
   Presiden mengemukakan kalu LSM tetap bersikap memusuhi Polri dan TNI
   maka persoalan yang timbul di dalam masyarakat tidak akan pernah
   selesai. (Antara)
   
   
   3. Warga negara Indonesia yang berada di pengasingan, baik yang di
   Jerman, Belanda, Perancis dan di beberapa negara Eropa lainnya
   menuntut pulang dengan paspor RI.
   
   Dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (27 Des.) atas nama Paguyuban
   Korban Orde Baru (Pakorba), Sri Bintang Pamungkas mengungkapkan,
   pihaknya menyambut baik ajakan Presiden Abdurrahman Wahid, yang
   mengajak pulang para warga di pengasingan itu ke tanah air. Menurut
   Bintang, Dipl. Ing. Sunarto, adalah salah satu dari sekian banyak
   orang Indonesia yang tinggal dalam pengasingan di luar negeri dan
   tetap menjadi warganegara Indonesia.
   
   "Pada umumnya mereka yang tinggal di luar negeri selama masa Orde Baru
   berkuasa tidak berani pulang. Oleh Pemerintah Soeharto mereka dicap
   sebagai gerombolan Gestapu," ungkap Bintang.
   
   Kata Bintang, setelah peristiwa yang terjadi pada tahun 1965 itu,
   mereka diperintahkan untuk melapor ke Kedutaan Besar atau Konsulat RI
   di luar negeri menyerahkan paspornya.
   
   Namun mereka umumnya menolak karena takut diindentifikasikan dan
   dituduh komunis. Sementara karena lamanya waktu, maka paspor mereka
   pun habis masa berlakunya atau dicabut. Selain itu mereka juga
   menyampaikan bahwa selama ini Kedubes atau Konsulat RI di luar negeri
   membagi-bagi mereka atas beberapa kategori. Padahal pembagian dalam
   kategori itu merupakan upaya memecah-belah, sehingga mereka menolak
   pembagian kategori itu.
   
   Intinya para warga pengasingan itu hanya menuntut "diberi kembali"
   paspor RI untuk segera bisa pulang ke tanah air. (Antara)
   
   
   B. EKONOMI :
   
   1. Kurs rupiah sebagai dasar pelunasan bea masuk (BM) terhadap dolar
   AS ditetapkan sebesar Rp 6.975 menguat Rp 25 (0,36%) dibandingkan
   dengan Rp 7.000 periode lalu.
   
   Berdasarkan Kepmenkeu No. 565/KMK.014/1999 tanggal 27 Desember 1999,
   nilai tukar rupiah terhadap dolar AS-sebagai dasar pelunasan bea
   masuk, pajak pertambahan nilai barang dan jasa, pajak penjualan atas
   barang mewah, pajak ekspor dan pajak penghasilan-ditetapkan Rp 6.975.
   Keputusan tersebut berlaku 27 Desember 1999 sampai 2 Januari 1999.
   
   Sementara itu, terhadap lima valuta utama lain nilai rupiah sebagian
   besar melemah tipis. Terhadap mark Jerman, rupiah melemah Rp 0,30
   (0,01%) menjadi Rp 3.601,49 dari Rp3.601,19 pekan lalu. Sementara
   terhadap franc Perancis, rupiah melemah Rp 0,09 (0,01%) menjadi Rp
   1.073,32 dibandingkan dengan Rp 1.073,23 pekan sebelumnya. (Bisnis
   Indonesia)
   
   
   2. Pemerintah optimistis target perolehan pajak APBN 1999/2000 sebesar
   Rp 83,7 triliun akan tercapai. Alasannya, hingga 23 Desember 1999
   saja, perolehan pajak sudah mencapai Rp 64,7 triliun atau sudah 77,3%
   dari target tersebut. Dirjen Pajak Anshari Ritonga menyebutkan dengan
   perolehan sebesar itu, beban untuk mencapai target praktis akan
   berkurang. "Dengan realisasi sebesar itu, kita optimistis target
   tercapai. Apalagi kita masih punya banyak waktu," ujar Ritonga di
   Jakarta, kemarin (27 Des.). Target Rp 83,7 triliun itu merupakan
   revisi dari target sebelumnya Rp 79,03 triliun. Dengan perolehan Rp
   64,7 triliun, berarti realisasi dari target lama APBN sudah mencapai
   81,9%.
   
   Kendati demikian, Ritonga mengatakan pada sektor tertentu, penerimaan
   pajak sempat turun. Misalnya, dari sektor perbankan. Sebab tingkat
   suku bunga deposito mengalami penurunan. Penurunan tingkat suku bunga
   ini akan mempengaruhi perolehan pajak jangka pendek. Hal itu juga
   merupakan kendala bagi Ditjen Pajak untuk memperbesar perolehan pajak.
   "Sebagai contoh, ketika suku bunga turun dari 35% menjadi 12%,
   perolehan pajak berkurang Rp900 miliar," jelas Ritonga.
   
   Di antara kendala yang ada, faktor peraturan ternyata lebih dominan.
   Di tahun-tahun mendatang Ditjen Pajak akan menerapkan kebijakan untuk
   mengeliminasi hambatan itu. "Faktor penyebab peningkatan covergae
   ratio adalah peraturan. Misalnya, ada pembebasan pajak, ada pajak yang
   ditanggung pemerintah, atau ada pajak yang tak dipungut."
   
   Selain itu, pemerintah juga akan mengefektifkan pengenaan pajak kepada
   pengusaha kecil (small business). Pengusaha kecil yang dimaksud
   bukanlah pedagang kaki lima, melainkan pengusaha yang berada di sentra
   pasar primer. Misalnya Pasar Tanah Abang, Mangga Besar, Pasar Senen
   Jakarta, atau Cihampelas Bandung, Pasar Turi Surabaya, dan lain-lain.
   
   Kebijakan ini diterapkan karena pengusaha itu tergolong perorangan.
   Selama ini mereka terdaftar sebagai wajib pajak di tempat mereka
   tinggal bukan di tempat mereka berusaha. Sebab, mereka adalah
   pengusaha perorangan atau bukan badan. Sedangkan pemungutan di tempat
   usaha hanya diperuntukkan bagi badan usaha bukan perorangan.
   
   Karena itu pajak pengusaha di pasar itu tak bisa ditagih di tempat
   usahanya, karena mereka bukan badan. "Nanti mereka akan dikenakan
   pajak di tempat mereka tinggal dan di tempat mereka berusaha.
   
   Keduanya akan diperhitungkan, berapa persen yang akan ditagih di rumah
   dan berapa persen yang ditagih di tempat usaha," jelas Ritonga. (Media
   Indonesia)
   
   
   3. Indonesia's net foreign exchange reserves in the second week of
   December stood at US$ 16.6 billion, down by about US$ 58 million. A
   press release of the central bank, Bank Indonesia in Jakarta Monday
   (Dec. 27) said the slight drop is attributed to offshore loan and
   project payment and that the country's gross reserves stood at US$
   27.53 billion. Down by US$ 56.7 million. The release also said that
   the account of the Indonesian government rose Rp 805 billion, thanks
   to tax receipts, reimbursement of offshore loans, oil receipts and
   receipts from the Indonesian Bank Restructuring Agency.
   
   Also in the second week of December, the release further said, open
   market operations caused an expansion of Rp 394 billion while the
   position of Bank Indonesia Liquidity Credit was down by Rp 438 billion
   because of the settlement of loans made by the Logistics affairs
   agency (BULOG). On the basis of the development referred to earlier,
   the net development asset has given rise to an expansionary impact of
   Rp 956 billion so that it became minus Rp 40.17 trillion. Meanwhile,
   the position of primary money in the second week of December was
   recorded at Rp 82.24 trillion, down from the previous week's figure of
   Rp 83.76 trillion.
   
   This decrease, the release added, has been caused by a drop in the
   giro balance of banks sustained at Bank Indonesia. (Antara)
   
   
   4. Indonesia won its trade dispute with Argentina in the Appellate
   Body of the World Trade Organization (WTO), especially in the matter
   of Argentina safeguarding Indonesian shoe exports.
   
   Argentina had implemented temporary safeguards against the import of
   shoes from Indonesia, the European Union and the United States since
   September 1997 in order to protect its own domestic shoe industry. The
   safeguard measure was implemented following an investigation by the
   Argentina government, which concluded that shoe imports from
   Indonesia, the European Union and the United States had damaged the
   country's shoe industry.
   
   As to third largest exporter of shoes to Argentina, Department of
   Industry and Trade said that Indonesia has been affected by the
   safeguard, which include the application of high import tariffs,
   specifically on Indonesian shoes, in the Argentine market. In 1997,
   Indonesia exported around US$ 22 million in 1998 after the
   implementation of the safeguards by the Argentine authorities.
   Department of Industry and Trade also revealed that from January to
   June of 1999, Indonesia exported shoes worth US$4 million to the South
   American country. Indonesia grabbed 14.06 percent of the Argentine
   shoe market in 1997, this fell to 8.72 percent in 1998 and then to 5.4
   percent in the period January to June of 1999.
   
   The RI government said that the decision of the WTO's Dispute
   Settlement Body is proved that Indonesia has never violated any
   regulation in the exporting of shoe products to the international
   market.
   
   The decision of the WTO's Appellate Body constitutes the second
   success which Indonesia has scored in its dispute with Argentina.
   Previously, Indonesia succeeded in forcing Argentina to withdraw
   transitional safeguards of imported Indonesian polyester and yarns.
   (Indonesian Observer)
   
   
   C. SOSBUD :
   
   1. Pemerintah segera memberikan on arrival visa kepada wisatawan Cina
   guna mendorong agar mereka berkunjung ke Indonesia.
   
   "Rencana pemberian visa on arrival kepada turis Cina itu sedang
   dibahas intensif antardepartemen. Hasilnya akan segera saya
   sampaikan," kata Hidajat Djaelani, Menneg Pariwisata dan Kesenian di
   Jakarta, kemarin (27 Des.).
   
   Dia mengemukakan Presiden Abdurrahman Wahid dalam kunjungan kenegaraan
   ke Cina belum lama ini telah meminta kepada pemerintah Cina supaya
   menjadikan Indonesia sebagai daerah tujuan wisata. "Potensi turis Cina
   sangat besar." Menurut menteri, rencana pemberian visa on arrival
   [visa yang diberikan saat datang di Indonesia] itu tidak menghadapi
   hambatan yang berarti, dan segera didiskusikan dengan menteri-menteri
   terkait.
   
   "Pembahasan itu diharapkan sudah selesai pada minggu depan," ujarnya.
   
   Berdasarkan catatan Kantor Menneg Pariwisata dan Kesenian, turis Cina
   tidak termasuk dalam 20 besar negara yang berkunjung ke Indonesia.
   Padahal, negara tetangganya [Taiwan] berada dalam peringkat ke-5 pada
   1997, dengan jumlah turis sebanyak 404.929 orang.
   
   Turis Cina yang berkunjung ke Singapura dan Malaysia mencapai
   400.000-500.000 orang, sedangkan yang berkunjung ke Indonesia hanya
   10.000 orang. Menurut Dirjen Pariwisata I Gede Ardika, selama ini
   Wisman Cina bisa mendapatkan visa di kantor KBRI di Beijing, tetapi
   kebijakan itu belum cukup mendorong turis Cina ke Indonesia.
   
   Dia menambahkan perlu juga ditambah pelayanan visa di kota-kota lain,
   seperti Guangzhou dan Senzhen, mengingat wilayah Cina sangat luas.
   
   "Indonesia juga perlu menambah fasilitas pelayanan visa (point of
   services), untuk menghilangkan kesan pengurusan visa berbelit. Kalau
   perlu mereka bisa dilayani di 13 pintu masuk, tidak hanya di Jakarta,
   Surabaya, Batam dan Bali," kata Ardika. Masalah kedua yang perlu
   diatasi untuk menarik turis Cina adalah melambungnya tarif pengurusan
   visa, yang mencapai US$400, padahal biaya resmi hanya sekitar
   US$35-US$40. (Bisnis Indonesia)
   
   
   2. "Ini adalah sebuah kesedihan besar yang harus diatasi dengan
   komitmen kita yang besar pula terhadap masalah-masalah kemanusiaan."
   Presiden Abdurrahman Wahid mengungkapkan keprihatinannya itu terhadap
   konflik-konflik masyarakat di berbagai daerah bernuansa SARA yang
   semakin meningkat belakangan ini. Ungkapan keprihatinan Gus Dur
   tersebut disampaikan dalam sambutannya pada Acara Natal Bersama
   tingkat nasional di Jakarta, semalam.
   
   Dalam acara yang juga dihadiri Ibu Sinta Nuriyah, Wapres Megawati
   Soekarnoputri, dan para pejabat tinggi negara itu Gus Dur banyak
   menyinggung hubungan antarumat beragama di Indonesia yang akhir-akhir
   ini kurang harmonis di beberapa tempat.
   
   Karena itu di depan umat Kristiani yang mengikuti acara tersebut, Gus
   Dur mengajak semua komponen bangsa agar menyadari sepenuhnya bahwa
   bangsa ini dibentuk dari keanekaragaman, baik adat, budaya maupun
   keyakinan agama. Bahkan lebih jelas lagi, kata Gus Dur, Indonesia
   tidak dibangun sebagai suatu negara agama.
   
   "Sudah berabad-abad kita hidup dalam keanekaragaman. Kita ingin hal
   ini terus kita pertahankan. Kita mohon kepada Tuhan kita masing-masing
   agar kita diberi kemampuan agar menjadi bangsa yang tetap satu," tutur
   Gus Dur. Lepas dari semua itu, dalam tatanan kemasyarakatan, Gus Dur
   sendiri mengakui saat ini dirinya masih menghadapi suatu kendala besar
   menyangkut status kepercayaan Kong Hu Chu yang belum diterima
   masyarakat.
   
   Menjelaskan lebih lanjut mengenai hubungan antarumat beragama, Gus Dur
   kemudian menguraikan konsep ukhuwah (persaudaraan) yang dilontarkan
   oleh tokoh besar dan mantan Rois Aam PBNU yakni KH Achmad Siddiq.
   Yakni ukhuwah islamiyah (persaudaraan antarumat Islam) ukhuwah
   wathaniyah (persaudaraan antarwarga negara) dan ukhuwah basyariyah
   (persaudaraan antarumat manusia). "Ketiga ukhuwah ini telah menghidupi
   kita semua dalam kehidupan bersama di negeri ini. Saya sendiri
   meyakini kebenaran agama Islam yang saya anut. Tapi hal itu tidak
   menghalangi persaudaraan saya dengan mereka yang beragama lain. Saya
   tidak pernah membeda-bedakan umat beragama di Indonesia," kata Gus
   Dur. (Media Indonesia)
   
   
   3. The government is upbeat that Indonesia's tourism industry will
   grow robustly next year on both the following an improvement political
   and economic fronts.
   
   State Minister of Tourism, Art and Culture Djaelani Hidayat predicted
   on Monday (Dec. 27) that foreign tourist arrivals would grow by five
   percent next year to reach from between 5.2 million to six million
   people, up from only 3.93 million this year.
   
   This year, tourist arrivals are projected to reach 3.93 million,
   higher than the government's initial projection of 3.84 million. Last
   year, Indonesia welcomed 3.51 million visitors.
   
   The minister attributed the improving tourism industry this year and
   its rosy picture next year to the election of President Abdurrahman
   Wahid, which proved to be acceptable to the majority of the people and
   boosted the security environment.
   
   The optimistic prediction was also driven by the government's
   expectation of receiving more visitors from China next year, following
   President Abdurrahman's recent visit to that country.
   
   Indonesia currently applies free visas for short-term visit purposes
   for visitors from 48 countries, including the United States,
   Australia, the Netherlands, Britain, Japan, Ireland, Germany, Kuwait,
   Malaysia, Singapore, Egypt, Mexico, France, Saudi Arabia, the United
   Arab Emirates, Greece and Hong Kong. Djaelani said the country's
   ailing tourism business had shown signs of recovery this year, with an
   improving average hotel occupancy rate of 39.83 percent in the first
   quarter last year to 43.91 percent this year.
   
   The tourism industry contributed US$3.36 billion in foreign exchange
   to the country's balance of payments during the first 11 months of
   this year, from $3.21 billion in the same period last year. Foreign
   exchange contributions from the tourism sector this year were expected
   to reach $4.4 billion, slightly higher than $4.33 billion in 1998,
   Djaelani said.
   
   Director of the Institute of Tourism Information Development Diyak
   Mulahela warned that the governmentshould not be too optimistic in
   planning the development of the tourism industry.
   
   He predicted that the government would not see six million tourists
   coming to Indonesia next year, but would likely meet its lower target
   of 5.2 million foreign visitors.
   
   He said the government must improve its promotion in overseas markets
   if it wanted to meet the optimistic target. He noted that relative to
   governments in other countries, the Indonesian government spent very
   little on tourism promotion.
   
   "It allocates only $5 million in promotion to attract six million
   visitors, while other countries spend five to ten times that figure,"
   he said. Nevertheless, he agreed that the tourism industry would grow
   next year. He even predicted that as a result of the growth, the
   average hotel occupancy rate would increase to 44 percent next year.
   
   Diyak said the hotel industry would possibly encounter a worse
   financial condition next year as gross operating profits, which
   currently stood at about 20 percent, would drop as a result of the
   government's plan to increase the cost of electricity for commercial
   premises.
   
   More than 100 hotels, most of which are four and five-star rated
   hotels in Jakarta, are currently under the control of the Indonesian
   Banking Restructuring Agency because of their mounting bad debts,
   which are estimated to exceed Rp 3 trillion ($428 million). (The
   Jakarta Post)
   
   
   4. Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri bersama suaminya, Taufik
   Kiemas, merencanakan menunaikan rukun Islam kelima pergi haji ke Tanah
   Suci pada musim haji tahun 2000. Duta Besar arab Saudi Abdullah
   Abdurrahman Alim kepada pers di Jakarta, Senin (27 Dec) mengatakan,
   kendati belum menerima pemberitahuan secara resmi dari kantor Wakil
   Presiden, pihaknya telah mendengar niat pergi haji itu langsung dari
   Ibu Mega.
   
   "Ibu Mega menyatakan langsung kepada saya bahwa ia mau melaksanakan
   ibadah haji tahun ini," kata Dubes Alim seusai menjamu buka puasa
   bersama di kediamannya. Dubes Alim menyatakan, Pemerintah saudi sangat
   berbahagia menyambut kedatangan Ibu Megawati ke Tanah Suci untuk
   menunaikan ibadah haji pada tahun ini," katanya.
   
   Informasi rencana keberangkatan Megawati berhaji itu memutuskan isu
   yang merebak sebelumnya bahwa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
   berniat melaksanakan haji tahun 2000. Tapi belakangan diperoleh
   informasi bahwa Presiden RI itu mengubah niatnya untuk pergi haji
   menjadi perjalanan Umroh saja. Mengenai pengurusan haji, Alim
   mengatakan, pihak kedutaan telah berhasil membuatkan visa bagi 34.000
   ribu paspor dan semua visa bagi paspor jamaah haji akhir bulan
   Ramadhan akan diselesaikan. (Antara)
   
   
   D. HANKAM :
   
   1. Sampai tadi malam suasana Kota Ambon masih mencekam, aparat
   keamanan belum mampu mengendalikan situasi. Bahkan di antara 38 orang
   yang tewas terdapat anggota Kostrad 413 Ujungpandang Praka La Ode
   Ismail.
   
   Tembak-menembak serta bunyi ledakan bom di Jl AM Sangaji, Jl
   Diponegoro serta kawasan Tugu Trikora, dan PLN Cabang Ambon membuat
   suasana semakin memanas.
   
   Massa yang berlindung di bawah pertokoan Jl AM Sangaji ditembak dengan
   senjata otomatis. Aparat Brimob dan TNI melepaskan tembakan dari arah
   gedung-gedung bertingkat. Seperti kantor PLN Cabang Ambon, gedung PT
   Perintis Empat Lima, dan gedung Planet 2000.
   
   Tembakan tersebut memancing masyarakat melakukan serangan balasan.
   Massa menyiramkan minyak tanah ke beberapa rumah dan toko kemudian
   membakarnya. Ketika berlangsung kebakaran, empat warga sipil yang ikut
   membantu membakar toko tersekap di dalamnya dan tidak bisa keluar.
   Mereka tewas terbakar. Korban terbanyak tercatat di RS Al-Fatah yakni
   27 orang, sedangkan 11 lainnya di RS GPM dan RS Bhakti Rahayu.
   
   Para korban tewas sebagian besar akibat terkena peluru tajam di bagian
   kepala, di samping ada juga tertembak di bagian perut, atau ada juga
   yang terkena serpihan bom maupun senjata api rakitan dan panah.
   
   Suasana kota semakin mencekam ketika diwarnai aksi-aksi pembakaran
   rumah penduduk maupun pertokoan yang semakin menjadi-jadi dan meluas
   ke daerah-daerah lainnya.
   
   Sejumlah lokasi pertokoan maupun pemukiman yang terbakar di antaranya,
   di Jl AM Sangaji, kawasan Anthoni Rebok, Jl Said Perintah, Jl Sedap
   Malam serta Jl Philip Latumahina.
   
   Massa tanpa pandang bulu semakin beringas melakukan pembakaran tanpa
   ada upaya pencegahan dari aparat keamanan, sementara mobil pemadam
   kebakaran juga tidak berfungsi.
   
   Situasi kota yang semakin mencekam dan seperti medan perang itu pun
   tidak dapat dikendalikan aparat keamanan yang bertugas karena terkesan
   adanya keberpihakan terhadap kelompok tertentu. Selain itu, para
   penembak jitu semakin merajalela dengan melakukan penembakan ke arah
   warga sipil dari atas gedung-gedung bertingkat, seperti terjadi di
   kawasan Setia Budi dan Anthoni Rebok. Arus pengungsian warga juga
   terus bertambah, sebagian terpaksa mengamankan diri di sejumlah
   instalasi militer, gedung-gedung ibadah maupun ke
   permukiman-permukiman yang dianggap aman dengan membawa barang apa
   adanya. Massa terkonsentrasi di kawasan masing-masing dengan membawa
   berbagai peralatan perang, sementara ledakan bom rakitan maupun
   letusan senjata organik dan rakitan terus terdengar.
   
   Sementara Pangarmatim diminta menambah satu armada KRI, menyusul tiga
   unit yang telah dikerahkan ke Ambon guna membantu penanganan kerusuhan
   yang masih terus terjadi di daerah itu. Kapolda Maluku Brigjen Dewa
   Astika, di Ambon, mengatakan permintaan satu unit KRI itu telah
   dikoordinasikan dengan Kasi Guskamlatim guna mengamankan perairan
   maupun evakuasi pengungsi. (Media Indonesia)
   
   
   2. Mantan Komandan Resor Militer (Danrem) 164/Wiradharma Timor Timur,
   Brigjen Tono Suratman, mengakui bahwa Aitarak, Besi Merah Putih (BMP),
   Laksaur, Mahidi, adalah Pasukan Pengamanan Swakarsa (Pam Swakarsa) di
   Timor Timur. Pam Swakarsa-yang selama ini sering disebut milisi-dibina
   kepolisian dan dibiayai Pemerintah Daerah.
   
   Hal itu disampaikan Tono Suratman kepada pers usai memberikan
   keterangan selama sekitar dua jam kepada Komisi Penyelidikan
   Pelanggaran Hak Asasi Manusia (KPP HAM) Timor Timur, Senin (27/12), di
   Jakarta. Selain Tono Suratman, juga diperika mantan Panglima Komando
   Daerah Militer IX/Udayana Mayjen Adam Damiri.
   
   Menurut Damiri, adanya pertemuan rutin antara jajaran TNI, Pam
   Swakarsa dan Muspida adalah wajar-wajar saja. "Misalnya Komandan Rayon
   Militer (Danramil) dengan masyarakatnya, bagaimana beliau
   menginstruksikan untuk menjaga situasi aman dan kondusif, pengamanan
   kampung halaman, dan sebagainya. Itu 'kan wajar di aparat teritorial,
   karena mereka warganya," ungkapnya. Ia membantah TNI membiarkan saja
   adanya tindak kekerasan. "Kodam sudah melakukan banyak upaya, imbauan,
   represif, dan segala macam, sudah ada. Perintah tembak di tempat pun
   sudah saya keluarkan". Tetapi tidak dirinci berapa korban akibat
   tembak di tempat itu. "Tetapi (korban tembak di tempat) ada," Jelas
   Damiri.
   
   Menurut Suratman, apa yang dilakukan TNI pada saat itu, baik sebelum
   dan sesudah penentuan pendapat, sudah di luar kemampuan TNI.
   Masalahnya adalah masalah konflik yang terjadi sebelum dan pasca
   penentuan pendapat. Tahun 1975 sudah terjadi, bahkan itu
   berlarut-larut. "Jadi tidak dibiarkan, bahkan tidak ada
   pembumihangusan," jelasnya.
   
   Suratman mengungkapkan, soal TNI mampu atau tidak mampu tergantung
   situasi di lapangan. Kalau jumlah masyarakat sudah besar, jumlahnya
   ribuan, berapa banyak TNI yang mengatasi pada saat di Timtim.
   
   "Ada keterbatasan. Jadi TNI itu bukan Superman. TNI punya keterbatasan
   dalam menangani masalah di lapangan," katanya.
   
   Suratman membantah, TNI melakukan pelatihan terhadap Pam Swakarsa, dan
   mempersenjatai mereka melalui Kodim-Kodim. Pam Swakarsa itu sudah ada
   sebelum opsi disampaikan dan mereka masing-masing punya nama
   sendiri-sendiri. "Di Timtim ada 13 kabupaten dan semuanya punya nama.
   Kalau di Dili itu Aitarak, di Liquisa Barisan Merah Putih, di Ainaro
   Mahidi, di Los Palos Alfa, di Baucau Sera, di Viqueque Makikid. Jadi
   mereka punya istilah sendiri-sendiri. Itu Pam Swakarsa," katanya.
   
   Sementara itu, Wakil Ketua KPP HAM Todung Mulya Lubis, menjelaskan,
   KPP HAM masih sulit untuk membuat hubungan korelatif antara semua
   keterangan yang diberikan dengan fakta di lapangan. KPP HAM akan
   melakukan cek silang dengan saksi lain, baik di Timtim maupun Timor
   Barat, sejauh mana kesaksian itu sesuai satu dengan yang lain, atau
   bertentangan satu dengan yang lain.
   
   "Faktanya ada kerusakan yang cukup masif pada beberapa kota, baik
   Dili, Suai, Maliana. Faktanya juga ada cukup banyak peristiwa
   pembunuhan di beberapa tempat, dan kita melihat bahwa pihak TNI semua
   berkomitmen untuk menjaga keamanan ketertiban, tetapi hubungan
   korelatif antara semua jawaban dengan apa yang terjadi di lapangan,
   belum sepenuhnya kita dapatkan," kata Lubis.
   
   Lubis yang memeriksa Damiri, mengungkapkan, Damiri mengakui bahwa TNI
   memang bertanggung jawab terhadap keamanan dan ketertiban di Timtim,
   sebelum tanggal 5 Mei dan setelah September. "Dari tanggal 5 Mei
   sampai 5 September bertanggung jawab adalah Kapolda (Kepala Kepolisian
   Daerah), bukan Kodam. Tetapi setelah 5 September tanggung jawab
   kembali ke Kodam," katanya.
   
   Mengenai fakta bahwa di lapangan banyak sekali kerusakan, banyak
   sekali pelanggaran HAM, menurut Lubis, yang dipersalahkan adalah
   persoalan antarkelompok, baik pro-integrasi dan pro-kemerdekaan.
   "Semua penjelasan pihak TNI menyatakan TNI tidak berhubungan dengan
   milisi, kalau Wanra memang diakui. Milisi adalah kegiatan yang
   dibangun oleh kelompok pro-integrasi di masing-masing daerah. Soal
   senjata dikatakan bukan dari pihak TNI, tetapi eks Portugal dan
   senjata rakitan mereka sendiri. Tetapi kita mengetahui ada senjata
   yang diambil kembali oleh pihak TNI," ujar Lubis.
   
   Mengenai pemanggilan terhadap pimpinan milisi, Lubis menjelaskan, KPP
   HAM sudah melayangkan pemanggilan langsung kepada Joao Tavares. Selasa
   (28/12) ini, KPP HAM akan memeriksa Tavares. "KPP juga akan bertemu
   kuasa hukum Guterres untuk menentukan jadwal pemanggilan, karena
   panggilan yang dulu ternyata tidak sampai ke yang bersangkutan. Kita
   akan panggil semuanya yang kemarin sudah dipanggil tetapi belum
   datang," ungkapnya.
   
   Bersamaan dengan pemeriksaan Adam Damiri dan Tono Suratman, kantor
   Komnas HAM tempat KPP HAM melakukan kegiatannya, didatangi dua
   kelompok pengunjuk rasa pada saat yang hampir bersamaan, yaitu Front
   Rakyat Nasionalis (FRN), dan Front Pembela Islam (FPI). Kedua
   organisasi itu mempersoalkan mengapa Komnas HAM hanya membentuk Komnas
   HAM untuk Timtim, padahal banyak peristiwa pelanggaran HAM lainnya di
   Indonesia.
   
   Dalam persoalan Timtim, FRN mempertanyakan mengapa KPP HAM tidak
   melakukan penyelidikan terhadap pelanggaran HAM oleh pro-kemerdekaan
   Timtim dengan Portugalnya.
   
   Sedangkan FPI melalui juru bicaranya, HAS Lubis, mempertanyakan
   mengapa Komnas HAM diisi oleh sejumlah partisan dari kelompok yang
   punya kepentingan politik, bahkan dipimpin oleh seorang politisi.
   (Kompas)
   
   
   3. Tiga warga sipil yang berkendaraan sepeda motor dan diduga keras
   sebagai aktivis GAM, Senin (27/12) sekitar pukul 15.30, tewas kena
   berondongan peluru, tertembak dalam operasi keamanan di Desa Ulee
   Reubek Kecamatan Seuneuddon Kabupaten Aceh Utara, 65 km dari
   Lhokseumawe arah ke Medan Sumut. Aparat keamanan mengangkut ketiga
   mayat korban dari lokasi peristiwa ke Rumah Sakit Umum Lhokseumawe.
   
   Komandan Kodim 0103 Aceh Utara Letkol (Inf) Suyatno dalam keterangan
   pers tertulis menyebutkan, ketiga korban yang kena tembak tersebut dan
   diduga anggota GAM itu adalah, Idris (30), Nasaruddin (30), dan
   Hermansyah (36). Bersama korban satu pucuk senjata api genggam, 47
   butir peluru, sebuah jaket hitam, dan beberapa gram narkotik dan
   obat-obat berbahaya (narkoba).
   
   Aparat juga menyita dua sepeda motor yang digunakan oleh ketiga
   korban. (Kompas)
   
   
   4. Kerusuhan bernuansa SARA di desa-desa di Teluk Weda Pulau Halmahera
   bagian timur Provinsi Maluku Utara yang berlangsung sejak awal
   Ramadhan hingga Senin (27 Des.) atau hari ke-13 diperkirakan telah
   menewaskan 100 orang dan melukai puluhan lainnya.
   
   Sementara itu, situasi keamanan di Kecamatan Pulau Gebe, juga masih
   mencekam menyusul beberapa warga kecamatan tersebut yang juga ikut
   tewas saat terlibat dalam kerusuhan di Kecamatan Weda. Dari Ternate
   dilaporkan, kondisi konflik semakin memanas menyusul penyerangan Desa
   Segea oleh warga Desa Pritu dan Desa Gemaf pada 18 Desember lalu yang
   telah menewaskan tujuh orang.
   
   Sedangkan pertikaian di Kecamatan Weda sekitar 150 km Ibu Kota
   Kabupaten Halmahera Tengah, Soasio, yang berawal dari pertikaian
   antara warga Desa Loleo dan Desa Sosowomo sejak hari kedua Ramadhan,
   hingga saat ini juga belum dapat dikendalikan aparat keamanan. Ribuan
   rumah penduduk dan tempat ibadah di daerah paling timur Pulau
   Halmahera itu telah dibakar oleh perusuh, korban terus berjatuhan,
   sementara warga yang mengungsi juga terjepit menyusul hancurnya
   sejumlah jalan dan jembatan akibat diledakkan oleh perusuh. Aparat
   yang diterjunkan di wilayah tersebut hanyalah 20 orang anggota Brimob
   dari Polda Kalsel dan Kaltim. Sementara itu, Kapolres Halmahera Tengah
   Letkol A. Luhulima menolak memberikan keterangan lebih rinci tentang
   kurangnya personil keamanan dalam mengantisipasi kerusuhan yang belum
   reda. Suasana di Kecamatan Weda Senin (27 Des.) masih terlihat sepi
   dan aktivitas perekonomian dan transportasi lumpuh total hingga
   suasana ibadah puasa, Natal dan tahun baru 2000 terasa berbeda dengan
   tahun sebelumnya. (Antara)
   
   
   E. HUKUM :
   
   1. Gelombang pemeriksaan terhadap para jenderal oleh Komisi Penyelidik
   Pelanggaran (KPP) HAM terus berlanjut. Mantan Pangdam Udayana Mayjen
   Adam Damiri mengakui ada perintah tembak di tempat di Timtim. Setelah
   Jenderal Wiranto, kemarin (27 Des.) giliran mantan Pangdam Udayana
   Mayjen Adam Damiri dan mantan Danrem Wiradharma Timtim Brigjen Tono
   Suratman menghadap KPP HAM. Para jenderal tersebut diperiksa berkaitan
   dugaan pelanggaran HAM pascajajak pendapat di Timtim. Temuan KPP HAM
   menunjukkan adanya dugaan TNI terlibat pembumihangusan di provinsi
   bekas koloni Portugal itu. Namun mantan Panglima TNI Jenderal Wiranto
   membantah semua tuduhan tersebut.
   
   Kepada pers seusai diklarifikasi KPP HAM selama lebih dari satu jam,
   Mayjen Adam Damiri mengakui adanya perintah tembak di tempat di
   Timtim. Namun Ia tidak menyebutkan jumlah korban dari pelaksanaan
   perintah itu. ``Saya tidak dapat menilai jumlah yang tertembak, tapi
   yang jelas perintah itu ada,`` aku Adam. ``Apakah perintah itu ada
   kaitannya dengan hasil jajak pendapat?`` tanya wartawan. Jenderal yang
   kini menjabat Asops Kasum TNI itu tidak menjawab pertanyaan tersebut.
   
   Seperti diketahui hasil jajak pendapat tersebut adalah kalahnya pihak
   prointegrasi. Menyangkut telegram Wakasad Letjen Johny Lumintang
   tertanggal 5 Mei 1999 yang ditujukan kepada Pangdam IX Udayana,
   berisikan perintah antisipasi kemungkinan menangnya kelompok
   prokemerdekaan, Adam Damiri menganggap itu wajar sebagai langkah
   pembinaan.
   
   ``Itu wajar saja sebagai pembinaan, operasional,`` jawab Adam singkat.
   HAM. Dia datang mengenakan pakaian lengkap militer didampingi sejumlah
   pengacara yang tergabung dalam tim Advokasi HAM Perwira TNI Pengakuan
   Adam dibenarkan anggota tim pemeriksa KPP Todung Mulya Lubis. Menurut
   Todung, perwira tinggi itu tidak mau menjelaskan jumlah korban.
   
   ``Kalau soal perintah itu, Pak Adam hanya menyebutkan ini perintah
   dari Panglima TNI,`` tambah Todung.
   
   Sedangkan, Brigjen Tono Suratman mengatakan tidak ada perintah tembak
   di tempat ketika dirinya menjabat Danrem Wiradharma Timtim. ``Tapi
   jauh sebelum jajak pendapat, perintah itu memang ada,`` kata Tono
   kepada Media. Kedua perwira tinggi tersebut berpendapat terjadinya
   berbagai peristiwa di bumi Loro Sae tersebut lebih banyak dilakukan
   oleh warga Timtim sendiri yang tidak puas dengan hasil jajak pendapat.
   ``Apa yang terjadi di sana, di luar kemampuan TNI. Sebab, mereka sudah
   bentrok jauh sebelum jajak pendapat,`` kata Tono yang kini Wakapuspen
   TNI. Selain Wiranto, Adam Damiri dan Tono Suratman, KPP HAM masih akan
   mendengarkan penjelasan Mayjen Sjafrie Sjamsuddin, Mayjen TNI Zacky
   Makarim dan mantan Kapolda Timtim Brigjen Pol Timbul Silaen. (Media
   Indonesia)
   
   
   F. OLAHRAGA : TIDAK ADA
   
   G. ARTIKEL : TIDAK ADA
   
   H. LINGKUNGAN HIDUP : TIDAK ADA
   
   III. LAIN-LAIN :
   
   1. Presiden Abdurrahman Wahid mengatakan bahwa becak hanya bisa
   beroperasi di daerah permukiman dan tidak akan dihilangkan sama
   sekali. "Becak dilarang beroperasi karena harus ditata. Masa manusia
   jadi budak," ujar Presiden saat berbuka puasa bersama lembaga-lembaga
   swadaya masyarakat (LSM) di Istana Merdeka kemarin (27 Des.).
   
   Presiden mengemukakan hal itu menanggapi pendapat tokoh LSM Wardah
   Hafidz yang mempermasalahkan mengapa becak tidak diperbolehkan
   beroperasi lagi di Kota Jakarta.
   
   Menurut Presiden, pihaknya memang pernah mendapat laporan bahwa
   becak-becak itu oleh pejabat pemerintah disuruh dibuang. "Untuk itu,
   saya sudah menelepon Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso untuk tidak
   melakukannya. Saya juga galak kepada Gubernur," ungkap Presiden. Dalam
   mengurusi masalah becak, tutur Presiden, memang harus jelas dan tegas.
   "Saya juga membela hak asasi manusia. Presiden mana yang ngurusin
   tukang becak dan mau datang ke Senayan untuk mengurusi becak," tambah
   Gus Dur. Presiden mengemukakan sebenarnya daripada meributkan soal
   becak lebih baik mengerahkan tenaga untuk mendidik para tukang becak
   itu agar pindah ke pekerjaan lain. Kemudian, pernyataan Gus Dur ini
   dipotong oleh Wardah, apakah pemerintah saat ini mampu menyediakan
   lapangan kerja untuk 7.000 orang dalam waktu dekat, sementara bulan
   depannya digusur lagi 7.000 orang. Dengan nada tinggi, Presiden
   mengatakan bahwa daripada menghasut mereka lebih baik mendidik mereka.
   
   Lalu Wardah mengatakan YLKI sudah melakukan dan pihaknya sudah
   mengumpulkan 20.000 tanda tangan rakyat miskin kota bahwa mereka tetap
   mendukung becak tetap beroperasi. Gus Dur kemudian menanggapi hal itu
   bahwa dirinya juga bisa mengumpulkan ratusan ribu tanda tangan. Karena
   itu, Presiden meminta dalam menangani masalah ini agar bersabar. "Saya
   sudah instruksikan bahwa Kapolri akan diganti. Dan kepada Kapolri baru
   nanti saya akan meminta agar bertindak keras terhadap aparat
   keamanan," kata Presiden. Inilah sulitnya, ujar Presiden, kalau LSM
   selalu menganggap tentara dan polisi itu musuh. "Kalau semua LSM
   berpendapat seperti itu maka akan selalu ribut terus. Polisi dan
   tentara itu jangan selalu dianggap sebagai musuh," tambah Gus Dur.
   Pada kesempatan itu, Presiden juga mengkritik LSM yang sering
   menganjurkan orang untuk melawan. Jadi, tandas Gus Dur, antara
   menunjukkan orang pada satu hal yang terbaik dan memberi ongkos untuk
   melakukan tindakan-tindakan itu berbeda.
   
   Presiden mengatakan sebenarnya sudah bersabar terhadap LSM-LSM yang
   melakukan tindakan yang salah, kendati tidak semuanya. Namun, ujar
   Presiden, akan meminta kepada Kapolri yang baru untuk menyelidiki
   dengan tuntas LSM mana saja yang suka menganjurkan keributan. "Kalau
   perlu teman-teman LSM yang seperti itu, ditangkap saja." (Media
   Indonesia)
   
   
   2. The government is considering a review of its visa on arrival
   facility, currently provided to nationals of 48 countries.
   Coordinating Minister for Political Affairs and Security Gen. Wiranto
   said on Monday (Dec. 27) the government found severe "negative
   effects" from the facility, which entitles nationals of the designated
   countries to remain in Indonesia for 60 days without obtaining a visa
   before their visit.
   
   He complained that several countries did not reciprocate in providing
   the free visa to Indonesian nationals. However, there have been
   growing concerns, particularly among immigration officials, that the
   facility is being exploited by drug smugglers.
   
   Immigration officials also noted a rising trend for Indonesia's use as
   a transit point for people seeking illegal entry to a third country,
   particularly Australia.
   
   As of November, 596 foreigners were deported from Indonesia. The
   number was 28 percent higher than the same period last year in which
   466 were deported. Although Wiranto did not specify how the visa
   policy would be reviewed, he said the ministers involved could
   reconsider the number of countries receiving the facility or reduce
   the stay period.
   
   "We could cut it to 30 days or 14 days in order to increase the
   effectiveness of our control," he said.
   
   "But we will surely consider this matter, taking into account the
   present strategic developments." Separately, spokesman for the
   Directorate General of Immigration Mursanuddin A. Ghani welcomed the
   decision to review the regulation, saying there was an increase in
   visa violations.
   
   Ghani said Indonesia should ensure reciprocal treatment when providing
   visa facilities.
   
   "We give a two-month free visa for Americans and Australians, but our
   people have to obtain costly clearances to enter those countries. We
   need to see this principal mutually applied for Indonesia and other
   countries," he said.
   
   Ghani said some visitors abused the facility to avoid regular
   immigration procedures.
   
   "But many use the visa for working and other activities which are not
   allowed. We are concerned about security, unlike the tourist sector
   which is mostly concerned about prosperity." (The Jakarta Post)
   
   
   IV. EDITORIAL : TIDAK ADA
   
                                      
                                 END DEPLU

----- End of forwarded message from John A MacDougall -----