[INDONESIA-L] Seleksi dari Berita G

From: apakabar@Radix.Net
Date: Thu Dec 30 1999 - 06:38:00 EST


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Wed Dec 29 18:31:52 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA10537
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:31:51 -0500 (EST)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA18771
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:31:49 -0500 (EST)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id QAA00235; Wed, 29 Dec 1999 16:26:21 -0700 (MST)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Wed, 29 Dec 1999 16:26:21 -0700
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id QAA00220; Wed, 29 Dec 1999 16:26:13 -0700 (MST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 16:26:13 -0700 (MST)
Message-Id: <199912292326.QAA00220@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] Seleksi dari Berita GATRA No. 4 (Bahasa Indonesia)
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

>From apakabar@saltmine.radix.net Wed Dec 29 18:18:33 1999
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA09095
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:18:32 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [207.192.128.40])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA17011
        for <apakabar@radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:18:33 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id SAA09091;
        Wed, 29 Dec 1999 18:18:30 -0500 (EST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 18:18:30 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199912292318.SAA09091@saltmine.radix.net>
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
To: apakabar@Radix.Net
Subject: HUK1-4.html
X-URL: http://www.gatra.com/VI/4/HUK1-4.html
Status: O

                                  [LINK]
   _________________________________________________________________
   
   Gatra Info Services
    Halaman Utama
    Artikel Minggu Ini
    Cari
    Edisi Lalu
    Back Issues
    Search
    About Gatra
    Documentation
    Masthead
    Ad Info
    Subscription
    Free Registration
    Feedback
     Daftar Rubrik
   o AGAMA
   o APA & SIAPA
   o BUKU
   o DARI PEMBACA
      + KOMENTAR
   o EKONOMI
      + INDIKATOR
   o ESAI
   o GAYA HIDUP
   o HUKUM
   o INTRIK
   o KESEHATAN
   o KOLOM
   o KRIMINALITAS
   o LAPORAN KHUSUS
   o LAPORAN UTAMA
   o LINGKUNGAN
   o MEDIA
   o MESKIPUN, TAPI ..
   o MULTIMEDIA
   o NASIONAL
   o OLAH RAGA
   o PENDIDIKAN
   o PERJALANAN
   o RAGAM
   o ROMANTIKA
      INDONESIA
   o SENI RUPA
   
                                            Nomor 04/VI, 11 Desember 1999
                                                                         
   PERADILAN KONEKSITAS
   
Aceh, Oknum, dan Korps

Pemerintah membentuk tim tetap peradilan koneksitas untuk menjaring
pelanggaran HAM di Aceh. Dominasi militer susut.

   DISKURSUS perlu tidaknya peradilan koneksitas untuk mengadili
   pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM) di Aceh, putus sudah. Senin
   pekan lalu, di sebuah pertemuan di Jakarta, Jaksa Agung Marzuki
   Darusman, Menteri Hukum dan Perundang-undangan Yusril Ihza Mahendra,
   serta Kepala Badan Pembinaan Hukum Mayjen Timur P. Manurung memutuskan
   akan membentuk sebuah tim tetap peradilan koneksitas.
   
   Sebenarnya, peradilan koneksitas bukanlah wadah baru. Sejak 1983
   penyelidikan koneksitas sudah dibentuk. Dasarnya adalah Surat
   Keputusan Bersama Menteri Pertahanan Keamanan dan Menteri Kehakiman.
   Adapun anggota tim tersebut adalah penyidik dari Markas Besar Polri,
   penyidik dari polisi militer, oditur militer, atau oditur militer
   tinggi.
   
   Itu sebabnya Jaksa Agung akan menghidupkannya kembali. Menurut
   Marzuki, tim tersebut akan mendiskusikan materinya dengan Komisi
   Independen Pengusutan Tindak Kekerasan Aceh. Bagi peradilan koneksitas
   di Aceh, Yusril mengusulkan agar hakimnya terdiri dari lima orang:
   satu dari peradilan umum, dua dari peradilan militer, dan dua dari
   peradilan sipil. "Untuk itu saya akan minta fatwa dari Mahkamah
   Agung," ujar Yusril.
   
   Selama ini, pelaku pelanggaran HAM oleh personel TNI/Polri disidangkan
   di peradilan militer. Pihak militer selalu berpegang pada
   Undang-undang Peradilan Militer tahun 1997 -jika anggota TNI/Polri
   yang jadi tersangka dihadapkan pada peradilan militer. Bila hal ini
   diterapkan pada kasus Aceh -yang korbannya masyarakat sipil- akan
   muncul masalah baru yang lebih serius.
   
   Soalnya, dalam kasus Aceh, kepercayaan masyarakat terhadap TNI/Polri
   sudah menipis. Bisa dimaklumi. Sebab, diberlakukannya daerah operasi
   militer (DOM), tahun 1988-1998, banyak merugikan masyarakat sipil di
   Aceh. Misalnya, ada wanita yang ditusuk dengan bayonet.
   
   Sebenarnya, Indonesia sudah punya Peraturan Pemerintah Pengganti
   Undang-undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 1999. Perpu yang dikeluarkan pada
   Oktober 1999 itu dipakai untuk mengadili pelanggaran HAM di peradilan
   umum. Tapi, tak bisa efektif menjaring para pelanggar HAM sebelum
   perpu itu dilaksanakan. Perpu tersebut tak bisa berlaku surut.
   
   Itu sebabnya, Dr. Yusril Ihza akan mengajukan Rancangan Undang-undang
   Pengadilan HAM. Dalam rancangannya, peradilan umum akan dipakai
   mengadili terdakwa pelanggaran HAM, baik dari kalangan sipil maupun
   militer. Bila rancangan Undang-undang Peradilan HAM itu disetujui oleh
   DPR, Perpu Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 1999 harus dicabut.
   
   Adapun peradilan koneksitas itu sendiri, menurut Sekretaris Jenderal
   Mahkamah Agung, Pranowo, akan tetap menggunakan Undang-undang Nomor 8
   Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Ini
   berarti, pengadilan koneksitas akan digelar dengan mempertimbangkan
   kerugian yang ditimbulkannya. Jika pelanggaran HAM itu banyak
   merugikan kalangan sipil, maka pelakunya akan mempertanggungjawabkan
   perbuatannya itu diperadilan umum.
   
   Hal senada juga diutarakan Sekretaris Jenderal Ikatan Advokat
   Indonesia (Ikadin), Otto Hasibuan. Karena undang-undang ataupun perpu
   tak bisa berlaku surut -dengan kekurangannya di sana-sini- maka
   mengadili pelaku pelanggaran HAM di Aceh rujukannya tetap memakai
   KUHAP. "Meskipun ini tak bisa memuaskan sebagian masyarakat," katanya
   kepada Gatra.
   
   Pelanggaran HAM oleh anggota TNI/Polri atas masyarakat sipil yang
   perkaranya diadili di pengadilan militer juga masih memunculkan
   kontroversi. Kasus penembakan mahasiswa Trisakti, Jakarta, dan
   pelanggaran HAM di Aceh, misalnya, bisa dijadikan contoh. "Karena itu,
   untuk ke depan, masalah ini mesti dibahas bersama," ujar Otto
   Hasibuan.
   
   Oleh sebab itu, menurut Otto, sudah seharusnya pengadilan kejahatan
   anggota TNI/Polri terhadap masyarakat sipil dilakukan di peradilan
   sipil. "Untuk mencegah agar tak terjadi kecenderungan melindungi oknum
   dan korps," kata Otto.
   
   Kemudian, agar hukum di Indonesia tidak tertinggal oleh perkembangan
   masyarakatnya, setiap produk hukum perlu terus-menerus dievaluasi dan
   dikoreksi.
   
   Herry Mohammad
   ______________________________________________________________________
   
   ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK HUKUM :
   
     Aceh, Oknum, dan Korps
   
     Tarian Pengusir Pathi
   
     Si Bule Belum Kembali
   
                                         [ Komentar ] [ Kembali ke atas ]
   ______________________________________________________________________
   
                                  [LINK]
   ______________________________________________________________________
                                      
                               www.gatra.com
     Copyright © 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights
                                  reserved
    The First Indonesian Mass Media on the Internet, Online since August
                                    1995
   ______________________________________________________________________
                                      
                    GATRA magazine in web maintained by:
                      Nico.J.Tampi and Agus Suprayogi
                              gatra@gatra.com

>From apakabar@saltmine.radix.net Wed Dec 29 18:19:07 1999
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA09135
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:19:07 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [207.192.128.40])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA17073
        for <apakabar@radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:19:08 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id SAA09130;
        Wed, 29 Dec 1999 18:19:05 -0500 (EST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 18:19:05 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199912292319.SAA09130@saltmine.radix.net>
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
To: apakabar@Radix.Net
Subject: HUK3-4.html
X-URL: http://www.gatra.com/VI/4/HUK3-4.html
Status: O

                                  [LINK]
   _________________________________________________________________
   
   Gatra Info Services
    Halaman Utama
    Artikel Minggu Ini
    Cari
    Edisi Lalu
    Back Issues
    Search
    About Gatra
    Documentation
    Masthead
    Ad Info
    Subscription
    Free Registration
    Feedback
     Daftar Rubrik
   o AGAMA
   o APA & SIAPA
   o BUKU
   o DARI PEMBACA
      + KOMENTAR
   o EKONOMI
      + INDIKATOR
   o ESAI
   o GAYA HIDUP
   o HUKUM
   o INTRIK
   o KESEHATAN
   o KOLOM
   o KRIMINALITAS
   o LAPORAN KHUSUS
   o LAPORAN UTAMA
   o LINGKUNGAN
   o MEDIA
   o MESKIPUN, TAPI ..
   o MULTIMEDIA
   o NASIONAL
   o OLAH RAGA
   o PENDIDIKAN
   o PERJALANAN
   o RAGAM
   o ROMANTIKA
      INDONESIA
   o SENI RUPA
   
                                            Nomor 04/VI, 11 Desember 1999
                                                                         
   GUGATAN CLASS ACTION
   
Si Bule Belum Kembali

Gugatan sembilan aktivis lingkungan atas kematian 37 ekor bekantan kandas.

   MAJELIS hakim di Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin, Kalimantan
   Selatan (Kalsel), menolak gugatan class action dari sembilan aktivis
   lingkungan, Sabtu dua pekan lalu. Gugatan kepada Direktur Bina Kawasan
   Suaka Alam dan Konservasi Flora dan Fauna, Departemen Kehutanan dan
   Perkebunan, Gubernur Kalsel, Kepala Dinas Kehutanan Banjarbaru, Kepala
   Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalsel, dan Kebun Binatang Surabaya
   (KBS) itu berkait dengan kematian 37 ekor bekantan.
   
   Penolakan itu dilakukan karena, menurut Ketua Majelis Hakim, Zamrud
   Noor, belum memenuhi kualitas sebagai gugatan class action. "Gugatan
   itu masuk ke ruang lingkup hukum lingkungan hidup atau legal
   standing," kata Zamrud kepada M. Syalafuddin dari Gatra.
   
   Di mata Zamrud, putusannya itu sesuai dengan Pasal 1 angka 1
   Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997. Di situ disebutkan bahwa lingkungan
   hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan
   makhluk hidup. Termasuk manusia dan perilaku yang mempengaruhi
   kelangsungan perikehidupan (manusia) serta makhluk hidup. "Bekantan
   masuk dalam kategori itu," paparnya.
   
   Gugatan ini berawal kala 37 ekor bekantan mati di KBS, Juli dan
   Agustus lalu. Penyebab kematian belum jelas, akibat penyakit atau
   karena stres. Untuk itu, para penggugat meminta agar 19 ekor kera bule
   yang tersisa di KBS -dipindahkan sejak awal 1999- dipulangkan ke
   habitatnya, di Pulau Kaget, Kalsel.
   
   Seorang penggugat, Yasir al-Fatah, menilai majelis hakim belum
   memahami gugatan tersebut. "Karena, bagi hakim, ini proses hukum
   baru," katanya enteng. Direktur Program Lembaga Masyarakat Adat (LPMA)
   Borneo Selatan itu tetap menempuh jalur hukum untuk mengembalikan kera
   bule itu ke habitatnya.
   ______________________________________________________________________
   
   ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK HUKUM :
   
     Aceh, Oknum, dan Korps
   
     Tarian Pengusir Pathi
   
     Si Bule Belum Kembali
   
                                         [ Komentar ] [ Kembali ke atas ]
   ______________________________________________________________________
   
                                  [LINK]
   ______________________________________________________________________
                                      
                               www.gatra.com
     Copyright © 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights
                                  reserved
    The First Indonesian Mass Media on the Internet, Online since August
                                    1995
   ______________________________________________________________________
                                      
                    GATRA magazine in web maintained by:
                      Nico.J.Tampi and Agus Suprayogi
                              gatra@gatra.com

>From apakabar@saltmine.radix.net Wed Dec 29 18:19:35 1999
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA09170
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:19:34 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [207.192.128.40])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA17093
        for <apakabar@radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:19:35 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id SAA09163;
        Wed, 29 Dec 1999 18:19:32 -0500 (EST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 18:19:32 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199912292319.SAA09163@saltmine.radix.net>
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
To: apakabar@Radix.Net
Subject: KOL1-4.html
X-URL: http://www.gatra.com/VI/4/KOL1-4.html
Status: O

                                  [LINK]
   _________________________________________________________________
   
   Gatra Info Services
    Halaman Utama
    Artikel Minggu Ini
    Cari
    Edisi Lalu
    Back Issues
    Search
    About Gatra
    Documentation
    Masthead
    Ad Info
    Subscription
    Free Registration
    Feedback
     Daftar Rubrik
   o AGAMA
   o APA & SIAPA
   o BUKU
   o DARI PEMBACA
      + KOMENTAR
   o EKONOMI
      + INDIKATOR
   o ESAI
   o GAYA HIDUP
   o HUKUM
   o INTRIK
   o KESEHATAN
   o KOLOM
   o KRIMINALITAS
   o LAPORAN KHUSUS
   o LAPORAN UTAMA
   o LINGKUNGAN
   o MEDIA
   o MESKIPUN, TAPI ..
   o MULTIMEDIA
   o NASIONAL
   o OLAH RAGA
   o PENDIDIKAN
   o PERJALANAN
   o RAGAM
   o ROMANTIKA
      INDONESIA
   o SENI RUPA
   
                                            Nomor 04/VI, 11 Desember 1999
                                                                         
Robert Mangindaan *

Aceh Dan Manuver Gus Dur

   ADA pihak yang mendapat kesan, kasus Aceh yang sudah berada pada suhu
   mendidih belum disentuh dengan serius oleh Gus Dur. Bahkan, Presiden
   lebih mementingkan kunjungan informal ke luar negeri. Apakah kunjungan
   tersebut akan meredam ancaman disintegrasi bangsa? Mari kita hitung.
   
   Kunjungan ke rumpun ASEAN. Prioritas tentunya perlu diarahkan ke Kuala
   Lumpur, Singapura, dan Manila. Argumennya, mungkin di Malaysia masih
   ada remnants Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau simpatisannya, sehingga
   jasa baik dari Kuala Lumpur memang sangat dibutuhkan.
   
   Singapura sudah jelas dibutuhkan, karena posturnya sebagai konglomerat
   subkawasan Asia Tenggara. Sedangkan Manila dibutuhkan untuk meredam
   koneksitas GAM dengan Hasyim Salamat, yang memiliki berbagai kamp di
   Mindanao.
   
   Hasil kunjungan itu sudah di kantong, yaitu dukungan dari rumpun ASEAN
   terhadap Jakarta untuk mempertahankan negara kesatuan Republik
   Indonesia (NKRI). Artinya, atmosfernya sudah kondusif bagi Jakarta
   untuk melakukan tindakan apa saja, sepanjang dalam konteks memelihara
   keutuhan NKRI.
   
   Kebijakan merajut jalur New Delhi-Jakarta-Beijing. Ini bukan hal yang
   mudah, karena beberapa hal.
   
   Pertama, India di mata dunia internasional adalah anak bandel yang
   tidak mau mengerti perbedaan ketegangan dan stabilitas perdamaian
   dunia, dan sangat egois memacu kepentingan nuklir mereka. Sedangkan
   Cina dicap sebagai anak nakal yang kurang peduli pada hak-hak asasi
   manusia, dan masih tersendat-sendat untuk bergabung dengan WTO.
   Kunjungan ke Beijing merupakan kebijakan yang baik, karena Cina
   merupakan kawan yang baik di kala Indonesia dicaci maki dalam agenda
   Timor Timur.
   
   Kedua, posisi politik Indonesia dalam masalah nuklir, utamanya dalam
   NPT, CTBT, disarmament, sudah baku. Sehingga, perubahan sikap politik
   dalam sekejap membingungkan kawan yang setia di fora multilateral.
   Salah satu bukti nyata adalah dukungan mereka kepada Indonesia untuk
   menjadi Wakil Presiden Ecosoc, dan nantinya menjadi Presiden Ecosoc
   pada tahun 2000. Sangat mungkin, kawan-kawan tersebut ikut bingung
   mengikuti manuver Gus Dur, kecuali bila para diplomat kita bertindak
   sangat proaktif melaksanakan lobi dan mampu meyakinkan kelompok G-77,
   OKI, dan sebagian anggota GNB, yang jumlahnya kurang lebih 140 negara.
   
   Kebijakan ke Asia Timur. Bagi industri Jepang, Cina, dan Korea, minyak
   adalah segala-galanya. Artinya, mereka sangat bergantung pada
   kelangsungan pasokan bahan bakar minyak. Kenyataannya, life line
   mereka tumpang tindih dengan SLOC yang melalui alur laut kepulauan
   Indonesia. Barangkali, political messages yang disampaikan pada
   pengguna SLOC melalui ALKI adalah bahwa Indonesia yang terpecah-pecah
   akan buruk dampaknya bagi life line mereka. Artinya, mereka sebaiknya
   mendukung Jakarta dalam memelihara NKRI, dan tidak mendukung gerakan
   separatis seperti Aceh. Kunjungan ke sana juga bersifat taktis. Yakni,
   untuk mendapatkan dukungan finansial, yang sangat dibutuhkan guna
   memelihara kredibilitas Orde Reformasi yang bertugas melanjutkan
   pembangunan nasional.
   
   Kebijakan merangkul Timur Tengah. Ada dua kepentingan yang tampaknya
   sekaligus ingin dicapai oleh Gus Dur. Pertama, mendapatkan dukungan
   finansial, dan mengukir prospek mengalirnya BBM pada 2010 untuk
   Indonesia. Kepentingan yang kedua adalah menggalang dukungan untuk
   Jakarta dan sekaligus memotong moral support dari Timur Tengah ke
   Serambi Mekkah. Tapi, untuk merangkul Kuwait, perlu juga menyelami
   perasaan Irak, yang selama ini selalu memberikan dukungan secara
   terbuka kepada Indonesia. Demikian juga, sikap Amerika Serikat sebagai
   "lurah" di Timur Tengah perlu dicermati agar tidak melangkahi pagar
   kepentingan Amerika.
   
   Keinginan untuk merangkul Israel dinilai sebagai suatu gagasan yang
   kontroversial. Namun, bila disimak dengan cermat, akan terlihat bahwa
   manuver Gus Dur memiliki sasaran ganda. Memang kepentingan Israel
   tidak sama dengan kepentingan lobi Yahudi, dan juga tidak sama dengan
   kepentingan jaringan bisnis dunia yang dikuasai oleh etnik Yahudi.
   Tapi, di antara mereka, paling tidak, ada ikatan emosional, dan
   kenyataan di panggung dunia memperlihatkan bahwa Amerika tidak bisa
   seenaknya terhadap Israel, sedangkan Israel bisa berbuat seenaknya
   terhadap Amerika.
   
   Ada pepatah Tionghoa yang mengatakan: "... kalau pegang pisau jangan
   ujungnya, tapi hulunya". Masalahnya, bagaimana menghadapi sensitivitas
   masyarakat Islam yang masih tabu menyebut Israel, apalagi membuka
   hubungan. Saya berpendapat, kearifan Gus Dur tak mengenal pepatah:
   "Beruk di rimba disusukan, anak di pangku dilepaskan".
   
   * Dosen Lemhannas
   ______________________________________________________________________
   
   ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK KOLOM :
   
     Robert Mangindaan * Aceh Dan Manuver Gus Dur
   
     Francisco Fernandes da Silva* Pertemuan Dua Gus Dan Prospek Timor
   Timur
   
     Azyumardi Azra * Reperkusi Politik Penggantian Hamzah Haz
   
                                         [ Komentar ] [ Kembali ke atas ]
   ______________________________________________________________________
   
                                  [LINK]
   ______________________________________________________________________
                                      
                               www.gatra.com
     Copyright © 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights
                                  reserved
    The First Indonesian Mass Media on the Internet, Online since August
                                    1995
   ______________________________________________________________________
                                      
                    GATRA magazine in web maintained by:
                      Nico.J.Tampi and Agus Suprayogi
                              gatra@gatra.com

>From apakabar@saltmine.radix.net Wed Dec 29 18:19:46 1999
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA09191
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:19:46 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [207.192.128.40])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA17115
        for <apakabar@radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:19:46 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id SAA09181;
        Wed, 29 Dec 1999 18:19:42 -0500 (EST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 18:19:42 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199912292319.SAA09181@saltmine.radix.net>
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
To: apakabar@Radix.Net
Subject: KOL2-4.html
X-URL: http://www.gatra.com/VI/4/KOL2-4.html
Status: O

                                  [LINK]
   _________________________________________________________________
   
   Gatra Info Services
    Halaman Utama
    Artikel Minggu Ini
    Cari
    Edisi Lalu
    Back Issues
    Search
    About Gatra
    Documentation
    Masthead
    Ad Info
    Subscription
    Free Registration
    Feedback
     Daftar Rubrik
   o AGAMA
   o APA & SIAPA
   o BUKU
   o DARI PEMBACA
      + KOMENTAR
   o EKONOMI
      + INDIKATOR
   o ESAI
   o GAYA HIDUP
   o HUKUM
   o INTRIK
   o KESEHATAN
   o KOLOM
   o KRIMINALITAS
   o LAPORAN KHUSUS
   o LAPORAN UTAMA
   o LINGKUNGAN
   o MEDIA
   o MESKIPUN, TAPI ..
   o MULTIMEDIA
   o NASIONAL
   o OLAH RAGA
   o PENDIDIKAN
   o PERJALANAN
   o RAGAM
   o ROMANTIKA
      INDONESIA
   o SENI RUPA
   
                                            Nomor 04/VI, 11 Desember 1999
                                                                         
Francisco Fernandes da Silva*

Pertemuan Dua Gus Dan Prospek Timor Timur

   TANGGAL 30 November 1999, bertempat di Wisma Negara, Presiden RI KH
   Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah mengadakan pertemuan dengan Jose
   Alexandre "Xanana" Gusmao, Presiden Dewan Nasional Perlawanan Rakyat
   Timor (CNRT). Sebelum bertemu dengan Presiden RI, rombongan Presiden
   CNRT yang terdiri dari Jose Ramos Horta (Wakil Ketua CNRT) dan Avelino
   Coelho da Solva (Sekretaris Jenderal Partai Sosialis Timor) telah
   lebih dulu bertemu dengan pimpinan DPR-RI.
   
   Dari hasil pertemuan dengan Presiden RI, pimpinan DPR-RI, kalangan
   bisnis Indonesia, serta sebagian masyarakat Timor Timur pro-Indonesia
   di Jakarta, diketahui bahwa kehadiran mereka di Jakarta adalah dalam
   rangka meminta Pemerintah Indonesia berpartisipasi dalam pembangunan
   kembali Timor Timur. Permintaan Xanana itu secara prinsip diterima
   baik oleh seluruh mitra dialognya. Bahkan, Presiden Gus Dur
   menjanjikan untuk sesegera mungkin membuka kembali hubungan udara
   Dili-Denpasar dengan menggunakan pesawat Angkatan Udara RI.
   
   Keinginan dan kesediaan Gus Dur bertemu dan berdialog dengan Gusmao di
   Jakarta adalah pertanda pengakuan atas berdirinya negara Timor Leste,
   dan penolakan terhadap perjuangan kelompok pro-Indonesia yang ingin
   tetap mempertahankan integrasi Timor Timur dengan Indonesia. Pertemuan
   Gus Dur dan Gusmao akan mengimplikasi pada usaha penyelesaian akhir
   dan tuntas masalah Timor Timur. Prospek dan kelanjutan perjuangan
   kelompok pro-Indonesia akan sangat bergantung pada langkah-langkah dan
   kebijakan yang bakal diambil Pemerintah RI.
   
   Kunjungan Xanana Gusmao dan kawan-kawan ke Jakarta kali ini hanya
   berselang satu minggu dari kunjungan Wakil Presiden (Wapres) Megawati
   Soekarnoputri ke lokasi pengungsi Timor Timur di Atambua dan Kupang di
   Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dari kunjungan Wapres itu, terungkap
   bahwa bantuan kepada para pengungsi hanya cukup sampai 4 Desember
   1999, karena Pemerintah RI tidak mampu lagi akibat tidak tersedianya
   dana. Apakah ini pertanda bahwa setelah 4 Desember, Pemerintah RI
   tidak akan memperhatikan lagi para pengungsi Timor Timur?
   
   Wapres Megawati memang tidak secara langsung meminta para pengungsi
   segera kembali ke Timor Timur. Sebaliknya, ia menyatakan bahwa bagi
   yang tidak ingin kembali, Pemerintah RI akan mengusahakan bantuan
   kepada mereka. Namun, merujuk pada tekanan dunia internasional yang
   begitu tinggi agar Pemerintah RI segera mengembalikan para pengungsi
   ke Timor Timur, dan pernyataan Ketua MPR-RI agar orang Timor Timur
   yang tidak mau kembali supaya melamar menjadi warga negara Indonesia
   dan pindah ke wilayah RI, maka jelas ada korelasi antara kunjungan
   Wapres ke NTT dan kedatangan Xanana serta kawan-kawan ke Jakarta.
   
   Keinginan agar para pengungsi segera kembali ke Timor Timur diutarakan
   bukanlah tanpa maksud. Tanpa kehadiran dan partisipasi kelompok
   pro-Indonesia, pemerintah transisi PBB di Timor Timur tidak akan
   berjalan baik, dan tidak legitimate. Akibatnya, perdamaian dan
   stabilitas tidak akan tercipta di bumi Timor Timur. Padahal, untuk
   melaksanakan pembangunan, keduanya merupakan prasyarat utama. Inilah
   sesungguhnya tujuan utama kedatangan Xanana dan kawan-kawan ke
   Jakarta. Melalui kontak tingkat tinggi dan antarsahabat, Xanana
   berharap Indonesia memainkan peran bagi terciptanya perdamaian dan
   stabilitas di Timor Timur. Dia menjamin tidak akan terjadi apa-apa
   pada kelompok pro-Indonesia jika kelak kembali.
   
   Gus Dur adalah pribadi yang sulit diikuti langkah dan gerakannya.
   Ucapan dan tindakannya seringkali menimbulkan kontroversi dan sensasi.
   Keinginannya bertemu dengan Xanana adalah bagian dari kontroversi dan
   sensasi itu. Ketika sebagian rakyat Timor Timur masih berjuang untuk
   tetap membela dan mempertahankan integrasi Timor Timur dengan
   Indonesia, karena mereka belum mau menerima hasil jajak pendapat 30
   Agustus 1999 yang, di mata mereka, penuh kecurangan dan ketidakadilan
   (dalam pertemuannya dengan para pemimpin Front Persatuan Bangsa, 27
   Oktober lalu, di Wisma Negara, Gus Dur mengatakan bahwa kelompok
   prootonomi bukan kalah, melainkan dikalahkan), Gus Dur justru
   mengambil langkah dan tindakan yang berlawanan dengan hasrat dan
   harapan mereka.
   
   Status politik Timor Timur sudah jelas. Timor Timur kini bukan lagi
   bagian dari negara kesatuan RI. Namun, masalah Timor Timur belum
   selesai. Penyelesaian yang tuntas dan menyeluruh masih akan memakan
   waktu, tenaga, dan biaya yang cukup besar. Masalah Timor Timur hanya
   akan tuntas bilamana tidak ada lagi orang Timor Timur yang
   mempersoalkannya. Suatu penyelesaian yang diprakarsai hanya oleh
   orang-orang luar, dan hanya pada tingkat elitis tanpa keterlibatan
   penuh pihak-pihak yang bertikai, niscaya tidak akan membawa hasil, dan
   tidak akan berdampak positif bagi perdamaian dan ketenangan rakyat
   Timor Timur.
   
   Untuk tidak mengulangi kesalahan yang dibuat kedua pemerintahan
   sebelumnya, sangatlah bijaksana bila Gus Dur, sebagai Presiden RI,
   tidak tergesa-gesa mengambil sikap dan menentukan kebijakan terhadap
   Timor Timur, sebelum berdialog dengan seluruh komponen bangsa. Baik
   orang (asli) Timor Timur sendiri, warga Indonesia yang selama 23 tahun
   menjadi bagian dari masyarakat Timor Timur, maupun masyarakat
   Indonesia di luar Timor Timur. Mereka, hingga kini, tidak rela dengan
   pemisahan Timor Timur dari Indonesia.
   
   * Pengamat Timor Timur
   ______________________________________________________________________
   
   ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK KOLOM :
   
     Robert Mangindaan * Aceh Dan Manuver Gus Dur
   
     Francisco Fernandes da Silva* Pertemuan Dua Gus Dan Prospek Timor
   Timur
   
     Azyumardi Azra * Reperkusi Politik Penggantian Hamzah Haz
   
                                         [ Komentar ] [ Kembali ke atas ]
   ______________________________________________________________________
   
                                  [LINK]
   ______________________________________________________________________
                                      
                               www.gatra.com
     Copyright © 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights
                                  reserved
    The First Indonesian Mass Media on the Internet, Online since August
                                    1995
   ______________________________________________________________________
                                      
                    GATRA magazine in web maintained by:
                      Nico.J.Tampi and Agus Suprayogi
                              gatra@gatra.com

>From apakabar@saltmine.radix.net Wed Dec 29 18:19:57 1999
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA09216
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:19:57 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [207.192.128.40])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA17143
        for <apakabar@radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:19:58 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id SAA09212;
        Wed, 29 Dec 1999 18:19:55 -0500 (EST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 18:19:55 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199912292319.SAA09212@saltmine.radix.net>
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
To: apakabar@Radix.Net
Subject: KOL3-4.html
X-URL: http://www.gatra.com/VI/4/KOL3-4.html
Status: O

                                  [LINK]
   _________________________________________________________________
   
   Gatra Info Services
    Halaman Utama
    Artikel Minggu Ini
    Cari
    Edisi Lalu
    Back Issues
    Search
    About Gatra
    Documentation
    Masthead
    Ad Info
    Subscription
    Free Registration
    Feedback
     Daftar Rubrik
   o AGAMA
   o APA & SIAPA
   o BUKU
   o DARI PEMBACA
      + KOMENTAR
   o EKONOMI
      + INDIKATOR
   o ESAI
   o GAYA HIDUP
   o HUKUM
   o INTRIK
   o KESEHATAN
   o KOLOM
   o KRIMINALITAS
   o LAPORAN KHUSUS
   o LAPORAN UTAMA
   o LINGKUNGAN
   o MEDIA
   o MESKIPUN, TAPI ..
   o MULTIMEDIA
   o NASIONAL
   o OLAH RAGA
   o PENDIDIKAN
   o PERJALANAN
   o RAGAM
   o ROMANTIKA
      INDONESIA
   o SENI RUPA
   
                                            Nomor 04/VI, 11 Desember 1999
                                                                         
Azyumardi Azra *

Reperkusi Politik Penggantian Hamzah Haz

   HENGGANTIAN Hamzah Haz dengan Basri Hasanuddin, sebagai Menteri
   Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan
   (Menko Kesra dan Taskin), merupakan peristiwa politik yang
   unprecedented, yang dapat menimbulkan reperkusi politik yang perlu
   dicermati. Secara internal kabinet, penggantian ini mencerminkan
   perubahan sikap Gus Dur terhadap kabinetnya, yang akan mempengaruhi
   proses-proses politik selanjutnya. Secara eksternal, reperkusi politik
   itu akan muncul tidak hanya pada pola relasi Presiden Gus Dur dengan
   Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan "poros tengah", melainkan juga
   dengan Islam politik secara keseluruhan.
   
   Secara internal kabinet, penggantian itu tidak lazim, atau
   inkonvensional, karena dipandang tidak prosedural. Tetapi Gus Dur,
   tokoh yang sering berpikir dan bertindak inkonvensional, mungkin
   menganggap prosedur atau sedikitnya konvensi politik sebagai hal tidak
   penting. Gus Dur bisa jadi pula memandang, yang lebih penting adalah
   hak prerogatif presiden dalam mengangkat dan memberhentikan menteri.
   Dan secara inkonvensional pula Gus Dur melakukan reshuffle kabinet
   yang dulu, katanya, tidak akan dia lakukan.
   
   Ada faktor kuat yang membuat Gus Dur mengubah rencananya semula. Bisa
   jadi, faktor itu adalah terdapatnya indikasi kuat tentang kerapuhan
   kabinet sejak awal pembentukannya. Seperti diketahui, dalam penyusunan
   kabinet bersama Ketua MPR Amien Rais, Ketua DPR Akbar Tandjung,
   Panglima TNI Jenderal Wiranto, dan belakangan juga Wakil Presiden
   Megawati, Presiden Gus Dur menerima pembentukan kabinet atas dasar
   representasi berbagai kekuatan politik dan kemasyarakatan, yakni
   partai polilik (parpol), daerah, kelompok etnis, dan agaknya juga
   agama.
   
   Pendekatan ini cenderung mengesampingkan pertimbangan merit dalam
   pengangkatan seorang menteri. Dari satu segi, kabinet ini seolah-olah
   akan memperkuat integrasi nasional. Tetapi, yang terjadi justru
   menimbulkan ekses, ketika muncul protes bernada ancaman dari daerah,
   atau kelompok etnis yang tidak terwakili dalam kabinet. Presiden Gus
   Dur terpaksa mengabaikan protes mereka, karena tidak mungkin menambah
   lagi jumlah menteri kabinetnya yang sudah cukup banyak itu.
   
   Penggantian Hamzah Haz dengan Basri Hasanuddin mengindikasikan bahwa
   Presiden Gus Dur mulai meninggalkan pendekatan tadi dalam pengangkatan
   menteri. Gus Dur tidak mengganti Hamzah Haz dengan kader PPP lainnya.
   Padahal, PPP memandang kedudukan yang ditinggalkan sang ketua umum itu
   sebagai "jatah eksklusif" bagi mereka. Gus Dur juga kelihatan
   mengesampingkan faktor etnis dan daerah. Ia mengangkat Menko Kesra dan
   Taskin baru yang berasal dari Sulawesi Selatan-Bugis, yang sebenarnya
   sudah cukup terwakili dalam kabinet melalui Menteri Jusuf Kalla, Erna
   Witoelar, dan bahkan Alwi Shihab. Dengan kata lain, Gus Dur tidak
   memilih dari daerah atau suku yang belum terwakili dalam kabinet.
   
   Kasus penggantian Hamzah Haz mencerminkan perubahan pendekatan dan
   sikap Gus Dur terhadap PPP, poros tengah, dan bahkan terhadap Islam
   politik. PPP tentu saja merupakan salah satu pilar utama kekuatan
   politik poros tengah, yang telah menggolkan Gus Dur sebagai presiden,
   meski melalui sponsorship Amien Rais. Tetapi, penting dicatat, adalah
   suara PPP -bukan Partai Amanat Nasional, dan parpol-parpol Islam lain
   beserta sebagian suara Golkar- yang terutama menyukseskan pemilihan
   Gus Dur sebagai presiden.
   
   Tetapi, harus diakui pula, dukungan akhir PPP yang sangat instrumental
   terhadap pencalonan Gus Dur itu lebih merupakan political expediency
   daripada genuine, sebagai akibat mengerasnya kubu Megawati di satu
   pihak, dan mundurnya Habibie sebagai calon di pihak lain. Hal yang
   sama juga terjadi pada dukungan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang
   datang relatif akhir, karena adanya situasi fait accompli.
   
   Kini, Gus Dur agaknya lupa dengan political expediency yang
   memunculkannya sebagi presiden. Atau, boleh jadi juga, Gus Dur sejak
   semula berkesimpulan bahwa dukungan terhadap dirinya adalah genuine.
   Terlepas dari dua kemungkinan ini, Gus Dur toh telah menyatakan di
   depan DPR: "Siapa suruh memilih saya?"
   
   Perubahan sikap Gus Dur terhadap PPP akan menimbulkan reperkusi
   politik tertentu terhadap poros tengah secara keseluruhan dan, lebih
   khusus, terhadap Amien Rais sebagai sponsor utama Gus Dur. Poros
   tengah sejak semula bukanlah sebuah koalisi yang solid; ia merupakan
   persekutuan longgar yang, karena itu, sangat fragile.
   
   Dalam konteks ini, kekuatan Islam politik akan kembali mengalami
   pemencaran, jika tidak konflik. Euforia sementara kalangan kaum
   muslimin, bahwa kemenangan Gus Dur merupakan kesatuan umat atau bahkan
   "kemenangan" Islam, terbukti merupakan mispersepsi belaka. Gus Dur,
   meskipun waktu terpilih sebagai presiden adalah Ketua Umum Pengurus
   Besar Nahdlatul Ulama, agaknya punya self perception bahwa
   pemilihannya sebagai presiden tidak ada kaitannya dengan Islam
   politik, atau politik Islam.
   
   Penggantian Hamzah Haz, dengan demikian, bisa merupakan blessing in
   disguise, bagi PPP, poros tengah, dan bahkan Islam. Blessing itu
   setidaknya ada pada tumbuhnya kesadaran untuk melihat Gus Dur secara
   lebih objektif dan fair; bukan atas dasar persepsi di luar diri Gus
   Dur sendiri. Blessing lain, kasus ini bisa membulatkan tekad PPP
   menjadi oposisi, dan ini baik bagi demokrasi kita.
   
   * Rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
   ______________________________________________________________________
   
   ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK KOLOM :
   
     Robert Mangindaan * Aceh Dan Manuver Gus Dur
   
     Francisco Fernandes da Silva* Pertemuan Dua Gus Dan Prospek Timor
   Timur
   
     Azyumardi Azra * Reperkusi Politik Penggantian Hamzah Haz
   
                                         [ Komentar ] [ Kembali ke atas ]
   ______________________________________________________________________
   
                                  [LINK]
   ______________________________________________________________________
                                      
                               www.gatra.com
     Copyright © 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights
                                  reserved
    The First Indonesian Mass Media on the Internet, Online since August
                                    1995
   ______________________________________________________________________
                                      
                    GATRA magazine in web maintained by:
                      Nico.J.Tampi and Agus Suprayogi
                              gatra@gatra.com

>From apakabar@saltmine.radix.net Wed Dec 29 18:20:12 1999
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA09237
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:20:11 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [207.192.128.40])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA17184
        for <apakabar@radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:20:12 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id SAA09232;
        Wed, 29 Dec 1999 18:20:10 -0500 (EST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 18:20:10 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199912292320.SAA09232@saltmine.radix.net>
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
To: apakabar@Radix.Net
Subject: LPT1-4.html
X-URL: http://www.gatra.com/VI/4/LPT1-4.html
Status: O

                                  [LINK]
   _________________________________________________________________
   
   Gatra Info Services
    Halaman Utama
    Artikel Minggu Ini
    Cari
    Edisi Lalu
    Back Issues
    Search
    About Gatra
    Documentation
    Masthead
    Ad Info
    Subscription
    Free Registration
    Feedback
     Daftar Rubrik
   o AGAMA
   o APA & SIAPA
   o BUKU
   o DARI PEMBACA
      + KOMENTAR
   o EKONOMI
      + INDIKATOR
   o ESAI
   o GAYA HIDUP
   o HUKUM
   o INTRIK
   o KESEHATAN
   o KOLOM
   o KRIMINALITAS
   o LAPORAN KHUSUS
   o LAPORAN UTAMA
   o LINGKUNGAN
   o MEDIA
   o MESKIPUN, TAPI ..
   o MULTIMEDIA
   o NASIONAL
   o OLAH RAGA
   o PENDIDIKAN
   o PERJALANAN
   o RAGAM
   o ROMANTIKA
      INDONESIA
   o SENI RUPA
   
                                            Nomor 04/VI, 11 Desember 1999
                                                                         
Keperkasaan Texmaco Diuji Memo

Kucuran kredit BNI dan dua bank pemerintah lainnya ke Texmaco disoal. Mantan
Presiden Soeharto ikut terlibat. Laksamana Sukardi punya bukti. Sinivasan
siap bertahan.

   RAMBUTNYA sudah memutih. Lelaki 60 tahun itu sepintas terlihat tenang.
   Tak ada ekspresi kalut. Padahal masalah besar sedang menghadangnya.
   Marimutu Sinivasan, pengusaha berdarah India Tamil itu, menjadi
   tersangka skandal megakredit Rp 9,8 trilyun. "Sesekali orang kan harus
   menghadapi masalah," katanya.
   
   Sinivasan mengatakan, meruyaknya kredit Texmaco dari BNI tak sampai
   mengganggu jadwal tidurnya. Namun, harus diakui, aktivitas ayah enam
   anak dan kakek lima cucu ini meningkat. Ia berkeliling. Ya ke DPR,
   bertemu ahli ekonomi, juga membuka diri berdialog dengan wartawan.
   "Saya mau semuanya transparan," katanya. "Terserah you mau menulis
   apa."
   
   Seusai bertemu dengan tim Gatra, Jumat larut pekan lalu, sejumlah
   acara masih menunggunya. "Pikiran saya tetap tenang. Hanya saja, saya
   kesal menghadapi masalah seperti ini," katanya (lihat: Ada Pemain yang
   Menggigit Kuping). Untuk menghadapi persoalan hukum yang bakal muncul,
   ia menunjuk advokat senior Adnan Buyung Nasution sebagai pengacaranya.
   
   Heboh kredit BNI-Texmaco bermula dari mencuatnya kabar adanya skandal
   kredit konglomerat tekstil itu, Jumat dua pekan lalu. Disebutkan, ada
   penyimpangan kredit yang didapat perusahaan Sinivasan. Selain nilainya
   yang mencapai Rp 9,8 trilyun -jauh di atas aturan batas maksimum
   pemberian kredit (BMPK) Bank BNI yang diperkirakan cuma Rp 400 milyar-
   kredit macet itu ternyata juga lolos dari tangan Badan Penyehatan
   Perbankan Nasional (BPPN).
   
   Buntut pemberitaan itu, perdagangan saham BNI dihentikan selama satu
   jam, Jumat dua pekan lalu. Nasib serupa dialami saham Polysindo Eka
   Perkasa, anak perusahaan Texmaco yang mendapatkan kucuran kredit BNI.
   "Saham BNI hanya sebentar distop. Setelah ada penjelasan dari yang
   bersangkutan, langsung dibuka lagi," kata Direktur Utama Bursa Efek
   Jakarta, Mas Achmad Daniri. "Kalau nanti ada perkembangan lanjut, ya
   akan diambil kebijakan baru. Bisa juga di-delisting."
   
   Selain ramai dibicarakan orang bursa, berita heboh BNI-Texmaco ini
   makin meledak setelah Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan
   BUMN, Laksamana Sukardi, buka-bukaan. Di hadapan anggota Komisi IX
   DPR-RI, Senin pekan lalu, ia mengakui adanya masalah dalam pemberian
   kredit BNI ke Texmaco.
   
   Laksamana tidaklah sekadar ngecap. Selagi mengungkapkan kesedihan atas
   adanya penyimpangan kredit dari BNI ke Texmaco, mantan Direktur
   Pelaksana Bank Lippo itu juga menyodorkan setumpuk bukti, informasi,
   juga analisis.
   
   Cerita kredit BNI-Texmaco dimulai September 1997. Saat itu, seperti
   sejumlah besar perusahaan lain di Indonesia, Texmaco goyah karena
   krisis moneter. Untuk itu, Sinivasan mengajukan kredit ke pemerintah.
   
   Dalam upaya menangguk duit, Sinivasan rupanya menggandeng para
   pejabat. Mulai petinggi di lingkungan Bank BNI, pejabat tinggi
   Sekretariat Negara, Tunky Ariwibowo (Menteri Perindustrian dan
   Perdagangan), Soedrajad Djiwandono (Gubernur Bank Indonesia), hingga
   Presiden Soeharto. Alhasil, deraslah aliran duit negara ke Texmaco.
   
   Menurut Laksamana, kredit Texmaco tidak saja berasal dari BNI,
   melainkan juga dari BRI dan BankExim. Bank terakhir ini kini dilebur
   ke dalam Bank Mandiri. Texmaco juga mendapat fasilitas khusus dari
   Bank Indonesia (BI) yang disalurkan lewat BNI. Fasilitas dimaksud
   adalah wesel ekspor preshipment atau pembiayaan prapengapalan barang,
   penempatan deposito, dan fasilitas sertifikat berharga pasar uang
   khusus tanpa lelang.
   
   Total dana yang sudah mengucur, tahun 1997-1998 adalah US$ 745 juta
   plus Rp 1,9 trilyun. Untuk bisa mendapatkan dana itu, kata Laksamana,
   Sinivasan hanya memberikan jaminan berupa penerimaan ekspor perusahaan
   senilai US$ 616 juta (tahun 1998). Prakteknya, realisasi ekspor
   Texmaco ternyata jauh di bawah target.
   
   Menilik data yang diterimanya, Laksamana menyatakan, ada dua kesalahan
   yang terjadi. Pertama, adanya campur tangan atau intervensi kekuasaan.
   Antara lain dari mantan Presiden Soeharto yang mempengaruhi BI,
   sehingga BI memberi fasilitas kredit yang bersumber dari cadangan
   devisa. Karena memo itu pula, pemberian kredit mengabaikan prosedur
   dan peraturan yang berlaku. Kedua, diciptakannya suatu mekanisme
   fasilitas dan perangkat hukum oleh BI yang semata-mata untuk memenuhi
   kehendak perusahaan tersebut.
   
   Dari dua hal itu, Laksamana membuat analisis, telah terjadi kolusi
   tingkat tinggi di balik cairnya kredit Texmaco. Sedangkan mengenai
   peran BI, Laksamana juga mengungkapkan adanya indikasi penyimpangan
   yang lain. Yakni, pelanggaran Pasal 41 ayat 3 huruf a dan b
   Undang-Undang Bank Sentral Nomor 13 Tahun 1968, yang mengatur tugas
   bank sentral dalam hal diskonto wesel ekspor.
   
   Penyimpangan lain, yakni pelanggaran pada Surat Keputusan Direksi BI
   tanggal 4 November 1997 tentang jual-beli devisa hasil ekspor yang
   akan datang. "Jangka waktu untuk mendiskonto wesel ekspor mestinya
   cuma satu tahun. Tapi untuk Texmaco diberikan lebih dari satu tahun,
   dan kemudian diperpanjang," katanya.
   
   Selain BI, yang pasti ikut menanggung "dosa" adalah Bank BNI. Bank
   berlambang kapal laut mengarungi badai ini benar-benar lagi ditimpa
   topan. Ia menabrak rambu BMPK. Saat pengucuran pinjaman itu, BNI
   bermodal Rp 2 trilyun. Mestinya, bank di bawah komandan Widigdo
   Sukarman itu hanya bisa memberi kredit ke Texmaco paling banter Rp 400
   milyar. Kenyataannya, bank itu mengucurkan dana hingga Rp 9,8 trilyun.
   
   Disodori data dan analisis tajam seperti itu, tak pelak lagi kalau
   anggota dewan menyambut antusias. Sebagian di antaranya, terutama
   anggota dewan dari PDI Perjuangan, langsung sepaham dengan Laksamana.
   Mereka berupaya agar kasus BNI-Texmaco tak mandek begitu saja.
   Sekelompok anak muda juga ikut mendukung dengan cara berdemonstrasi
   dan menggelar spanduk "Gantung Sinivasan", di Kejaksaan Agung.
   
   Tapi, ada juga yang masih ragu-ragu. Bahkan Ketua Komisi IX,
   Sukowaluyo, misalnya, menyatakan masih mempelajari. "Saya melihat,
   kasus ini berpangkal pada kepanikan karena krisis. Pengusahanya panik,
   pemerintah juga kalut," katanya.
   
   Menurut Sukowaluyo, saat Texmaco meminta kredit, akhir 1997, ekonomi
   memang lagi tidak bagus. Saat itulah pemerintah berinisiatif
   memberikan kredit prapengapalan. Yang memanfaatkannya, selain Texmaco,
   juga ada sekitar 100 perusa
   
   haan lain. "Kami akan panggil semua yang terlibat, BNI, BI, mungkin
   juga mantan Presiden Soeharto," kata Sukowaluyo kepada Reghi Perdana
   dari Gatra.
   
   Sementara anggota DPR sedang mereka-reka konstruksi pengucuran dana
   negara untuk Texmaco, Laksamana melangkah lebih cepat. Tiga hari
   setelah bertemu anggota dewan, ia datang ke koleganya, Jaksa Agung
   Marzuki Darusman.
   
   Laksamana menyerahkan setumpuk informasi, bukti, dan penjelasan
   mengenai kredit Texmaco. Hasilnya? Marzuki Darusman, yang lagi puyeng
   mengurus kasus mantan Presiden Soeharto, seakan mendapat "doping"
   baru. Menurutnya, kasus Texmaco ini akan menjadi jalan pembuka
   pengusutan kembali kasus Soeharto. "Kalau ada memonya Pak Harto, tentu
   mudah menelusurinya," katanya.
   
   Marzuki memang tak sekadar mengobral janji. Ia juga memberi bukti.
   Belum lagi genap satu jam, setelah menerima berkas data dari
   Laksamana, ia langsung menggebrak. "Kami menemukan bukti awal adanya
   tindak korupsi," kata Marzuki. Ia juga menyatakan, Sinivasan dan S.
   Wairo, salah satu Direktur Texmaco, sebagai tersangka.
   
   Langkah proaktif Marzuki dinilai positif oleh Bambang Widjojanto.
   Menurut Ketua YLBHI Jakarta ini, masyarakat bisa saja salah menilai,
   baru menerima berkas kok langsung bisa menyatakan tersangka.
   "Sebenarnya, bukan hanya pembu
   
   nuhan yang langsung bisa jadi tersangka, melainkan juga tindak
   kejahatan ekonomi," katanya.
   
   Bagi Bambang, korupsi Sinivasan sudah telanjang. Karena itu, wajar
   jika Jaksa Agung menyatakan Sinivasan sebagai tersangka. Ini juga
   untuk berjaga-jaga agar pengusaha yang besar di Medan itu tidak
   melarikan diri. "Saya kira, tindakan Marzuki itu tak ada bau
   politiknya," kata Bambang kepada Taurusita Nugrani dari Gatra.
   
   Lain yang dipikirkan Bambang, beda pula pandangan kalangan pebisnis.
   Kelompok terakhir ini mengingatkan agar pemerintah bisa bertindak
   bijaksana. "Kalau melihatnya soal BMPK, ya mungkin salah. Tapi, kan
   harus dilihat mekanisme dan prosedurnya secara proporsional," kata
   Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Aburizal "Ical"
   Bakrie.
   
   Dalam pandangan Ical, tak ada yang salah dalam pemberian kredit untuk
   modal prapengapalan dalam dolar. Apalagi, penerimaan Polysindo Eka
   Perkasa, salah satu anak Texmaco yang mendapatkan kredit, juga dalam
   dolar.
   
   Kepada pers yang sedang mengikuti kunjungan Presiden Gus Dur ke Cina,
   Ical justru menyampaikan rasa khawatir bahwa pengungkapan kasus
   Texmaco adalah bagian dari upaya menghabisi kelompok bisnis tertentu.
   "Jangan sampai dunia usaha dihukum masyarakat secara sepihak, lewat
   pembentukan opini oleh media massa," katanya. "Harus ada penelitian
   seksama, apakah prosedurnya melanggar aturan atau tidak."
   
   Yang juga ikut merasa terpukul dengan meruyaknya kasus BNI-Texmaco
   adalah Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). "Kalau Texmaco sampai
   ambruk, Indonesia akan rugi besar," kata Sekretaris Jenderal API,
   Irwandy Muslim Amin. Sebab, selain ada 190.000 orang yang langsung
   atau tidak terkait, sumbangan ekspor Texmaco juga paling besar
   dibandingkan dengan anggota API lainnya. "Kalau ada kesalahan
   prosedur, ya diusut saja."
   
   Dihubungi Candra Ibrahiem dari Gatra, Irwandy menduga, ada pihak lain
   yang ingin menghancurkan industri tekstil Indonesia. Gejalanya jelas.
   Selain Texmaco, industri tekstil Argo Pantes milik The Nin King juga
   digoyang. "Para pesaing senang, tekstil Indonesia dibunuh dari dalam
   negeri sendiri," katanya. "Kalau sudah hancur, mereka akan bancakan."
   
   Taufik Kiemas, suami Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri, senada.
   "Texmaco harus diselamatkan," katanya. Hanya, bagaimana formulanya,
   Taufik, yang pernah berkunjung ke pabrik Texmaco itu, menolak bicara.
   
   Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada,
   Yogyakarta, Tony Prasetiantono menyatakan, kasus Texmaco-BNI merupakan
   batu ujian. Menurutnya, kasus ini harus diselesaikan secara
   transparan. Soal rencana dana dari BNI diubah menjadi penyertaan modal
   di Texmaco? "Seharusnya tak semudah itu," katanya. Tony lebih setuju
   dengan usulan Laksamana Sukardi, yakni menyerahkan kredit Texmaco ke
   BPPN.
   
   Harapan Tony itu agaknya sulit terwujud. Sebab, demikian kata Agus
   Darjanto, Direktur Bank BNI, kredit Texmaco masih dalam kategori
   empat. Kredit kelompok ini masih mungkin dikembalikan. Baru kategori
   lima alias macet yang masuk ke BPPN. "Tapi, kalau menteri intervensi,
   memasukkan masalah ini ke BPPN, ya bisa saja. Itu keputusan politis,"
   kata R. Christovita Wiloto, Agency Secretary BPPN.
   
   Politik? Mungkin saja. Harus diakui, peristiwa Texmaco ini bisa
   merembet ke masalah politik. Menyangkut masalah ini, Presiden Gus Dur
   sudah menyatakan sikapnya. Sewaktu menerima Jaksa Agung Marzuki
   Darusman, Sabtu pekan lalu, ia memerintahkan agar kasus Texmaco diusut
   tuntas. "Proses saja sebagaimana ketentuan hukum," kata Gus Dur.
   
   Namun, pada Jumat malam, di atas pesawat yang membawanya kembali dari
   Cina, Gus Dur juga menyarankan Sinivasan menempuh jalur hukum, kalau
   ia merasa dirugikan Laksamana Sukardi.
   
   Bila begini, tampaknya kasus Texmaco bakal tambah seru. Saat itu, kita
   tak tahu, apakah Sinivasan masih bisa tidur tenang.
   
   Dwitri Waluyo
   ______________________________________________________________________
   
   ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK LAPORAN UTAMA :
   
     Keperkasaan Texmaco Diuji Memo
   
     ANEH Setelah Dibuka
   
     Terseret Bumbu Politik
   
     Tak Hanya Texmaco
   
     ADA PEMAIN Menggigit Kuping
   
     Nasib Tragis PELAT MERAH
   
     Kuasa Kata-kata EYANG
   
                                         [ Komentar ] [ Kembali ke atas ]
   ______________________________________________________________________
   
                                  [LINK]
   ______________________________________________________________________
                                      
                               www.gatra.com
     Copyright © 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights
                                  reserved
    The First Indonesian Mass Media on the Internet, Online since August
                                    1995
   ______________________________________________________________________
                                      
                    GATRA magazine in web maintained by:
                      Nico.J.Tampi and Agus Suprayogi
                              gatra@gatra.com

>From apakabar@saltmine.radix.net Wed Dec 29 18:20:37 1999
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA09275
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:20:36 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [207.192.128.40])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA17215
        for <apakabar@radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:20:37 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id SAA09271;
        Wed, 29 Dec 1999 18:20:34 -0500 (EST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 18:20:34 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199912292320.SAA09271@saltmine.radix.net>
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
To: apakabar@Radix.Net
Subject: NAS1-4.html
X-URL: http://www.gatra.com/VI/4/NAS1-4.html
Status: O

                                  [LINK]
   _________________________________________________________________
   
   Gatra Info Services
    Halaman Utama
    Artikel Minggu Ini
    Cari
    Edisi Lalu
    Back Issues
    Search
    About Gatra
    Documentation
    Masthead
    Ad Info
    Subscription
    Free Registration
    Feedback
     Daftar Rubrik
   o AGAMA
   o APA & SIAPA
   o BUKU
   o DARI PEMBACA
      + KOMENTAR
   o EKONOMI
      + INDIKATOR
   o ESAI
   o GAYA HIDUP
   o HUKUM
   o INTRIK
   o KESEHATAN
   o KOLOM
   o KRIMINALITAS
   o LAPORAN KHUSUS
   o LAPORAN UTAMA
   o LINGKUNGAN
   o MEDIA
   o MESKIPUN, TAPI ..
   o MULTIMEDIA
   o NASIONAL
   o OLAH RAGA
   o PENDIDIKAN
   o PERJALANAN
   o RAGAM
   o ROMANTIKA
      INDONESIA
   o SENI RUPA
   
                                            Nomor 04/VI, 11 Desember 1999
                                                                         
   POROS TENGAH
   
Bulan Madu Akan Berlalu

Pergantian Hamzah Haz berbuntut panjang. "Poros tengah" protes. Partai
berlambang Ka'bah ini berancang-ancang jadi oposisi.

   CUMA sebulan suasana hubungan antarpartai politik terasa tenteram.
   Sukses Sidang Umum MPR 1999, yang berlanjut dengan pembentukan Kabinet
   Persatuan Nasional, telah mendinginkan hawa panas akibat gesekan
   antara elite partai. Posisi di pemerintahan dibagi-bagi. Semua senang.
   Tapi, bandul keseimbangan itu kini bergoyang kembali.
   
   Hal itu berawal dari pergantian Menteri Koordinator Bidang
   Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan Hamzah Haz, oleh Basri
   Hasanuddin, yang diumumkan Presiden Abdurrahman Wahid di Hotel Sahid
   Jaya, Jakarta, Jumat dua pekan lalu. Menurut Gus Dur, pergantian itu
   dilakukan atas permintaan Hamzah Haz. Namun pengumuman ini bak petir
   di siang bolong bagi Hamzah.
   
   Sebab, menurut Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu, Gus
   Dur salah tafsir. Sebelumnya Hamzah memang pernah menyatakan secara
   lisan kepada Gus Dur perihal niat mundur itu. Alasannya, Hamzah ingin
   lebih berkonsentrasi mengurus partainya. Malah, Hamzah juga
   mengusulkan beberapa nama dari PPP untuk menggantikannya.
   
   Namun, maksud Hamzah ditahan oleh Gus Dur, juga oleh Menteri Luar
   Negeri Alwi Shihab. Rekan-rekan Hamzah di PPP pun keberatan. Babak ini
   selesai. Maka, Hamzah segera mendesak agar Gus Dur mengklarifikasi
   sinyalemen ada "tiga menteri terlibat KKN" yang dilansirnya. Hamzah
   risi namanya disangkutpautkan.
   
   Presiden Gus Dur sendiri, dalam rapat kabinet, sempat mengatakan bahwa
   Hamzah Haz bersih. Namun, ia tak kunjung menyatakannya ke publik.
   Maka, pada Jumat pagi itu, saat menjemput Gus Dur di Bandara Soekarno
   Hatta, usai kunjungan ke Timur Tengah, Hamzah kembali berbisik ke soal
   tiga menteri tersebut. Ia minta klarifikasi. Apa lacur, siang harinya
   Gus Dur malah mengumumkan Hamzah digantikan orang luar PPP.
   
   Meski Hamzah menyatakan legowo menyerahkan jabatannya, beragam reaksi
   kekecewaan terlontar. "Tindakan Gus Dur ini bertujuan meruntuhkan
   PPP," ujar Ketua Wilayah PPP Sumatera Utara, Hasrul Azwar, kepada
   Ekmal Adha dari Gatra. "Tak hanya merugikan PPP, melainkan juga
   Kalimantan," kata H.M. Syamsiwal Qomar, Wakil Ketua PPP Kalimantan
   Selatan, kepada Syalafuddin dari Gatra. Hamzah adalah satu-satunya
   menteri di kabinet ini yang berasal dari Pulau Borneo.
   
   Nada tak puas juga bermunculan dari para elite partai Ka'bah di
   Jakarta. "Kami kecewa, kenapa penggantinya tidak dari PPP lagi," kata
   politikus senior PPP, Aisyah Amini. Sebagai partai dengan penyumbang
   suara terbesar dalam poros tengah, menurut Aisyah Amini, seharusnya
   Gus Dur tetap mempertimbangkan tekad awal: kebersamaan.
   
   Dalam rapat yang digelar Pimpinan Pusat PPP di Jalan Diponegoro,
   Jakarta, Senin pekan lalu, malah muncul kecurigaan, di balik
   pergantian Hamzah, ada upaya mendongkel kekuatan poros tengah. "Ada
   yang tidak senang karena poros tengah, di mana pendukung utamanya PPP,
   memilih Gus Dur," kata Aisyah Amini. Sodokan terhadap poros tengah
   diungkap lebih gamblang oleh seorang Ketua PPP, M. Husnie Thamrin.
   
   Menurut Wakil Ketua MPR ini, pergantian Hamzah merupakan bagian dari
   konspirasi untuk menggerogoti eksistensi poros tengah. Menurutnya,
   setelah Hamzah, target berikutnya adalah Ketua MPR Amien Rais, dan
   ujung-ujungnya adalah Presiden, alias Gus Dur sendiri. Tosari Widjaya,
   pimpinan PPP lain, menunjuk surat Ketua Komisi II DPR Amin Aryoso dari
   PDI Perjuangan, yang meminta Amien Rais untuk membatasi ucapannya soal
   negara federasi. "Saya melihat langkah ini untuk membatasi ruang gerak
   Pak Amien Rais," ujar Tosari.
   
   Hal ini melahirkan komentar pedas dari Amien Rais. Ketua Partai Amanat
   Nasional ini mengaku mendengar dari Husnie Thamrin soal kemungkinan
   adanya skenario besar membuat poros tengah keropos. "Jangan ajak poros
   tengah pukul-pukulan, nanti kita bisa membalas," kata Amien Rais di
   Gedung MPR/DPR, Kamis pekan lalu. Amien tak menjelaskan bagaimana
   balasan yang akan dilakukan. Sikap Amien didukung oleh tangan kanan
   Nurmahmudi Ismail di Partai Keadilan, Syamsul Abda. "Tapi kami tidak
   akan melawan fitnah dengan fitnah, karena itu cara berpolitik
   kekanak-kanakan," ujar anggota Komisi VIII DPR ini.
   
   Kalau benar pergantian Hamzah sebuah rekayasa, lanjut Syamsul, tentu
   yang membuat adalah mereka yang kecewa dengan proses demokrasi di
   sidang umum lalu. PDI Perjuangan? "Bisa saja, atau Golkar, Partai
   Kebangkitan Bangsa, atau yang lainnya," ujar kandidat doktor dari Ohio
   State University, Amerika Serikat, itu kepada Kholis Bahtiar Bakri
   dari Gatra.
   
   Kejadian ini, menurut Amien Rais, malah membuat poros tengah tambah
   solid. Beberapa jam setelah Hamzah Haz diganti, tokoh-tokoh poros
   tengah segera berkumpul. Kesimpulannya, kata tokoh PPP Zarkasih Nur,
   kepemimpinan Gus Dur dan Megawati tetap harus didukung. Zarkasih juga
   diminta tidak meninggalkan posnya sebagai Menteri Koperasi, Pembinaan
   Pengusaha Kecil dan Menengah. "Kalau saya mundur, nanti ada yang
   bilang, yang mengangkat Gus Gur itu Anda, lho kok malah mundur," ujar
   Zarkasih di sela kunjungan kerjanya di Yogyakarta.
   
   Pertemuan itu juga meminta PPP tetap mendukung kesepakatan poros
   tengah tersebut. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Hamzah malah membuat
   ancang-ancang untuk menjadikan partainya sebagai oposisi. "Saya ingin
   mengembangkan demokrasi, membentuk semacam oposisi, tapi tak usah
   disebut oposisi," ujar Hamzah kepada Chandra Ibrahiem dari Gatra.
   
   Bagaimana bentuk persisnya, menurut Hamzah, akan dibahas dalam rapat
   pimpinan PPP seluruh Indonesia, pekan ini. Suara dari daerah juga
   tampaknya tak keberatan dengan peran seperti itu. "PPP selalu siap
   jadi oposisi, meski di sini istilah itu belum dikenal," ujar Ketua
   Wilayah PPP Jawa Timur, Hafis Ma'sum, kepada Rachmat Hidayat dari
   Gatra.
   
   Penempatan sebagai partai oposisi tak resmi, dinilai pengamat politik
   dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Dr. Afan Gaffar, sebagai
   langkah tepat. Dengan mundurnya Hamzah, menurut Afan, PPP bisa secara
   terbuka mengkritisi kebijakan Gus Dur. "Apalagi sekarang orang masih
   enggan mengkritik Gus Dur, karena mereka masih bulan madu," kata Afan.
   Dan bulan madu biasanya tak lama.
   
   Dani Hamdani, Rohmat Haryadi, Asrori S. Karni, dan G.A. Guritno
   ______________________________________________________________________
   
   ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK NASIONAL :
   
     Bulan Madu Akan Berlalu
   
     Masa Cuma Satu
   
     Dunia Tak Perlu Kiamat
   
     Menunggu Pemimpin
   
     Ganjalan di Perbatasan
   
     Lembaga Orang Dekat
   
     Dewan Tanpa Voting
   
     Nostalgia Bintang Kejora
   
     Peluang Baru Cak Narto
   
     Amuk Banteng di Balai Kota
   
     Mengundang Baret Biru
   
                                         [ Komentar ] [ Kembali ke atas ]
   ______________________________________________________________________
   
                                  [LINK]
   ______________________________________________________________________
                                      
                               www.gatra.com
     Copyright © 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights
                                  reserved
    The First Indonesian Mass Media on the Internet, Online since August
                                    1995
   ______________________________________________________________________
                                      
                    GATRA magazine in web maintained by:
                      Nico.J.Tampi and Agus Suprayogi
                              gatra@gatra.com

>From apakabar@saltmine.radix.net Wed Dec 29 18:20:51 1999
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA09306
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:20:51 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [207.192.128.40])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA17258
        for <apakabar@radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:20:52 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id SAA09295;
        Wed, 29 Dec 1999 18:20:49 -0500 (EST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 18:20:49 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199912292320.SAA09295@saltmine.radix.net>
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
To: apakabar@Radix.Net
Subject: NAS2-4.html
X-URL: http://www.gatra.com/VI/4/NAS2-4.html
Status: O

                                  [LINK]
   _________________________________________________________________
   
   Gatra Info Services
    Halaman Utama
    Artikel Minggu Ini
    Cari
    Edisi Lalu
    Back Issues
    Search
    About Gatra
    Documentation
    Masthead
    Ad Info
    Subscription
    Free Registration
    Feedback
     Daftar Rubrik
   o AGAMA
   o APA & SIAPA
   o BUKU
   o DARI PEMBACA
      + KOMENTAR
   o EKONOMI
      + INDIKATOR
   o ESAI
   o GAYA HIDUP
   o HUKUM
   o INTRIK
   o KESEHATAN
   o KOLOM
   o KRIMINALITAS
   o LAPORAN KHUSUS
   o LAPORAN UTAMA
   o LINGKUNGAN
   o MEDIA
   o MESKIPUN, TAPI ..
   o MULTIMEDIA
   o NASIONAL
   o OLAH RAGA
   o PENDIDIKAN
   o PERJALANAN
   o RAGAM
   o ROMANTIKA
      INDONESIA
   o SENI RUPA
   
                                            Nomor 04/VI, 11 Desember 1999
                                                                         
Masa Cuma Satu

   MESKI mengaku secara lisan pernah mengajukan niat mundur dari kabinet,
   tak urung Hamzah Haz kecewa ketika Presiden Abdurrahman Wahid
   mengumumkan dirinya mengundurkan diri. ''Padahal, saya tidak pernah
   mengajukan surat pengunduran diri,'' kata pria kelahiran Palangkaraya,
   59 tahun lalu, yang kini menjabat Ketua Umum Partai Persatuan
   Pembangunan (PPP) itu.
   
   Yang membuat Hamzah makin masygul, penggantinya, Basri Hasanuddin,
   bukanlah orang PPP. ''Tanpa PPP, Gus Dur tak akan jadi presiden,''
   kata Hamzah kepada wartawan Gatra Asrori S. Karni dan Chandra
   Ibrahiem, Rabu pekan lalu di Kantor Pusat PPP, Jalan Diponegoro,
   Jakarta Pusat. Berikut petikannya wawancaranya:
   
   Anda terkejut dengan keputusan Gus Dur?
   
   Ya. Mungkin itu sudah style Gus Dur.
   
   Mungkin Gus Dur salah tafsir terhadap permintaan Anda soal klarifikasi
   atas tuduhan KKN itu?
   
   Mungkin saja. Tapi paling tidak, sebelum memutuskan, saya dipanggil
   dululah, diajak bicara. Itu memang hak prerogatif presiden. Tapi, kan
   Gus Dur jadi presiden dipilih dari koalisi banyak partai. Suara PPP di
   MPR ada 70. Selisih suara Gus Dur dengan Megawati 60. Jadi, tanpa PPP,
   Gus Dur tidak jadi presiden. Gus Dur rupanya belum tahu bagaimana
   proses dan peranan PPP.
   
   Anda menilai Gus Dur melupakan jasa ''poros tengah''?
   
   Saya tidak mengatakan begitu. Gus Dur hanya perlu tahu, ia didukung
   banyak partai, jadi tidak bisa menggunakan hak prerogatif secara
   penuh.
   
   Bagaimana mengobati kekecewaan warga PPP?
   
   Kalau ada penyeimbangnya, saya kira tidak ada masalah. Ya, ada
   tukar-tukarannyalah. Dulunya menteri dari PPP dua, ya kembalikan dua
   lagi.
   
   Secara teknis, itu kan sulit, kecuali ada reshuffle kabinet....
   
   Bisa menteri baru atau menteri yang dipecah, atau gimana.... Masak,
   jatah menteri dari PPP cuma satu.
   
   Bagaimana solidaritas kawan-kawan Anda di poros tengah?
   
   Ketika saya meminta mundur secara lisan, Gus Dur bilang akan
   membicarakan dengan Pak Amien Rais. Tapi, Pak Amien sendiri tidak tahu
   masalah itu. Di poros tengah dibahas bagaimana agar poros tengah tetap
   solid. Saya sendiri hanya ingin di partai.
   
   Apakah Zarkasih Nur akan ditarik dari kabinet?
   
   Belum sampai ke sana. Saya kira, tidak usah begitu. Oposisi kan bukan
   berarti tidak ada orang di sana (kabinet -Red.). Kita tidak mengenal
   oposisi yang frontal. Oposisi yang dimaksud adalah, siapa pun yang ada
   di sana, termasuk orang kita, kalau tidak becus, ya kita tarik. Kalau
   sudah baik, kita dorong. Kalau tidak, kita beri masukan.
   
   Kongkretnya bagaimana?
   
   Fraksi PPP di DPR harus menjadi corong partai untuk menyuarakan konsep
   kita dan diadu dengan konsep pemerintah. Mana yang paling baik. Saya
   ingin menghidupkan Majelis Pakar kita. DPR harus bergerak konseptual,
   bukannya reaktif.
   
   Setelah ada di luar sistem, apa saran Anda untuk Gus Dur?
   
   Gus Dur harus menempatkan diri sebagai presiden, tentu dengan
   rambu-rambu konstitusi yang ada. Dalam birokrasi, ada prosedur yang
   harus dilewati. Keputusan yang diambil presiden harus berdasarkan
   petimbangan dan pemikiran yang matang.
   ______________________________________________________________________
   
   ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK NASIONAL :
   
     Bulan Madu Akan Berlalu
   
     Masa Cuma Satu
   
     Dunia Tak Perlu Kiamat
   
     Menunggu Pemimpin
   
     Ganjalan di Perbatasan
   
     Lembaga Orang Dekat
   
     Dewan Tanpa Voting
   
     Nostalgia Bintang Kejora
   
     Peluang Baru Cak Narto
   
     Amuk Banteng di Balai Kota
   
     Mengundang Baret Biru
   
                                         [ Komentar ] [ Kembali ke atas ]
   ______________________________________________________________________
   
                                  [LINK]
   ______________________________________________________________________
                                      
                               www.gatra.com
     Copyright © 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights
                                  reserved
    The First Indonesian Mass Media on the Internet, Online since August
                                    1995
   ______________________________________________________________________
                                      
                    GATRA magazine in web maintained by:
                      Nico.J.Tampi and Agus Suprayogi
                              gatra@gatra.com

>From apakabar@saltmine.radix.net Wed Dec 29 18:21:03 1999
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA09340
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:21:03 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [207.192.128.40])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA17285
        for <apakabar@radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:21:03 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id SAA09322;
        Wed, 29 Dec 1999 18:21:00 -0500 (EST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 18:21:00 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199912292321.SAA09322@saltmine.radix.net>
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
To: apakabar@Radix.Net
Subject: NAS3-4.html
X-URL: http://www.gatra.com/VI/4/NAS3-4.html
Status: O

                                  [LINK]
   _________________________________________________________________
   
   Gatra Info Services
    Halaman Utama
    Artikel Minggu Ini
    Cari
    Edisi Lalu
    Back Issues
    Search
    About Gatra
    Documentation
    Masthead
    Ad Info
    Subscription
    Free Registration
    Feedback
     Daftar Rubrik
   o AGAMA
   o APA & SIAPA
   o BUKU
   o DARI PEMBACA
      + KOMENTAR
   o EKONOMI
      + INDIKATOR
   o ESAI
   o GAYA HIDUP
   o HUKUM
   o INTRIK
   o KESEHATAN
   o KOLOM
   o KRIMINALITAS
   o LAPORAN KHUSUS
   o LAPORAN UTAMA
   o LINGKUNGAN
   o MEDIA
   o MESKIPUN, TAPI ..
   o MULTIMEDIA
   o NASIONAL
   o OLAH RAGA
   o PENDIDIKAN
   o PERJALANAN
   o RAGAM
   o ROMANTIKA
      INDONESIA
   o SENI RUPA
   
                                            Nomor 04/VI, 11 Desember 1999
                                                                         
Dunia Tak Perlu Kiamat

   PROFESOR Doktor Amien Rais tampaknya tak pernah sepi dari kerubutan
   pers. Ketua MPR ini kembali berteriak lantang, Kamis pekan lalu,
   seusai menerima beberapa duta besar di kantornya, di Gedung MPR/DPR,
   Senayan, Jakarta. Teriakan itu seputar pergantian Menteri Koordinator
   Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan, Hamzah Haz.
   
   Buntut pergantian Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu
   melahirkan tudingan dari para politisi PPP, bahwa ada konspirasi
   politik untuk melemahkan peran "poros tengah". Ini yang membuat Amien
   bereaksi. "Jangan coba-coba, poros tengah bisa memukul balik," ujar
   tokoh sentral kaukus yang berhasil menggolkan KH Abdurrahman Wahid
   menjadi presiden keempat itu.
   
   Apakah poros tengah sedang memasang ancang-ancang untuk melakukan
   serangan balik? Selepas memberi pidato pada pembukaan Sidang Tanwir
   Muhammadiyah di Gedung Pusat Dakwah Islam, Jalan Diponegoro, Bandung,
   Jumat pekan lalu, Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu menjawab
   pertanyaan wartawan, termasuk Taufik Abriansyah dari Gatra, soal isu
   tersebut. Petikannya:
   
   Mengapa poros tengah kecewa pada Gus Dur?
   
   Sebetulnya persoalannya sederhana saja. Pak Hamzah Haz itu kan menteri
   dari poros tengah. Kemudian dia mundur. Tapi untuk gantinya itu, kok
   Gus Dur tak berunding dulu dengan teman-teman PPP. Sehingga mereka
   kecewa, dan kita bisa memahami mengapa demikian kecewanya.
   
   Lalu, jalan keluarnya?
   
   Nah, sekarang masalahnya terpulang pada Gus Dur dan teman-teman PPP,
   di samping bantuan teman-teman di poros tengah untuk memecahkan
   masalah ini. Artinya, dunia tak perlu kiamat, hanya karena sebuah
   kursi dari poros tengah digeser ke orang lain. Masih banyak tempat
   untuk mengabdi pada negeri ini. Masih ada badan-badan seperti Bulog
   (Badan Urusan Logistik), BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana
   Nasional), BPS (Badan Pusat Statistik), dan segala macam. Masih banyak
   sel di republik ini yang bisa diisi teman-teman PPP.
   
   Poros tengah akan membalas?
   
   Wah, balas dendam tidak ada dalam kamus poros tengah.
   
   Apakah Anda menduga ada semacam konspirasi untuk memecah poros tengah?
   
   Saya belum melihat itu. Poros tengah sangat solid, kompak. Yang kacau
   itu justru yang bukan poros tengah (Amien tersenyum).
   
   Gus Dur telah meninggalkan poros tengah?
   
   Saya tidak melihat sejauh itu. Menurut saya, ini masalah keteledoran
   teknis adiministrasi. Mestinya, sebelum mengganti Pak Hamzah,
   teman-teman PPP diajak bicara dulu. Dulu Pak Harto yang katanya tidak
   begitu arif saja selalu bertanya dulu sebelum mengganti orang. Masak,
   Gus Dur tidak. Saya kira, ini kekhilafan manusiawi. Mudah-mudahan,
   makin lama Gus Dur makin arif juga. Saya juga berharap, beliau segera
   bosan ke luar negeri. Kalau tidak pernah bosan, nanti ditinggal terus
   kita ini.
   ______________________________________________________________________
   
   ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK NASIONAL :
   
     Bulan Madu Akan Berlalu
   
     Masa Cuma Satu
   
     Dunia Tak Perlu Kiamat
   
     Menunggu Pemimpin
   
     Ganjalan di Perbatasan
   
     Lembaga Orang Dekat
   
     Dewan Tanpa Voting
   
     Nostalgia Bintang Kejora
   
     Peluang Baru Cak Narto
   
     Amuk Banteng di Balai Kota
   
     Mengundang Baret Biru
   
                                         [ Komentar ] [ Kembali ke atas ]
   ______________________________________________________________________
   
                                  [LINK]
   ______________________________________________________________________
                                      
                               www.gatra.com
     Copyright © 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights
                                  reserved
    The First Indonesian Mass Media on the Internet, Online since August
                                    1995
   ______________________________________________________________________
                                      
                    GATRA magazine in web maintained by:
                      Nico.J.Tampi and Agus Suprayogi
                              gatra@gatra.com

>From apakabar@saltmine.radix.net Wed Dec 29 18:21:14 1999
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA09358
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:21:13 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [207.192.128.40])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA17307
        for <apakabar@radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:21:14 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id SAA09353;
        Wed, 29 Dec 1999 18:21:11 -0500 (EST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 18:21:11 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199912292321.SAA09353@saltmine.radix.net>
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
To: apakabar@Radix.Net
Subject: NAS4-4.html
X-URL: http://www.gatra.com/VI/4/NAS4-4.html
Status: O

                                  [LINK]
   _________________________________________________________________
   
   Gatra Info Services
    Halaman Utama
    Artikel Minggu Ini
    Cari
    Edisi Lalu
    Back Issues
    Search
    About Gatra
    Documentation
    Masthead
    Ad Info
    Subscription
    Free Registration
    Feedback
     Daftar Rubrik
   o AGAMA
   o APA & SIAPA
   o BUKU
   o DARI PEMBACA
      + KOMENTAR
   o EKONOMI
      + INDIKATOR
   o ESAI
   o GAYA HIDUP
   o HUKUM
   o INTRIK
   o KESEHATAN
   o KOLOM
   o KRIMINALITAS
   o LAPORAN KHUSUS
   o LAPORAN UTAMA
   o LINGKUNGAN
   o MEDIA
   o MESKIPUN, TAPI ..
   o MULTIMEDIA
   o NASIONAL
   o OLAH RAGA
   o PENDIDIKAN
   o PERJALANAN
   o RAGAM
   o ROMANTIKA
      INDONESIA
   o SENI RUPA
   
                                            Nomor 04/VI, 11 Desember 1999
                                                                         
   ACEH
   
Menunggu Pemimpin

Meski diwarnai baku tembak dan bentrokan, HUT GAM berlangsung tanpa
huru-hara besar. Jakarta bingung.

   KOTA Lhokseumawe tampak bersolek meriah, Sabtu pagi pekan lalu.
   Jalan-jalan besar dan kecil dibersihkan. Pagar-pagar di tepi jalan
   ditata apik. Gerbang dan gapura jalan tak ketinggalan dicat kembali.
   Bendera-bendera hijau-putih, besar dan kecil, berkibar-kibar di
   pinggir jalan. Berbagai ornamen menempel di sepanjang pusat pertokoan.
   
   Pendek kata, Lhokseumawe layaknya perayaan 17 Agustus. Hanya saja,
   hari itu 4 Desember. Lagi pula, meski bersolek-ria, kehidupan di ibu
   kota Kabupaten Aceh Utara itu nyaris tak berdenyut. Toko-toko dan
   warung pinggir jalan tutup, kendaraan umum dan pribadi ogah bergerak.
   Warga kota lebih suka berdiam diri di rumah-rumah yang tertutup rapat.
   Sebagian lain mengunjungi masjid, bertadarus. Itulah hari ulang tahun
   (HUT) ke-23 Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang menghebohkan seantero
   negeri ini.
   
   Seperti disaksikan wartawan Gatra Ibrahim Passe, acara ulang tahun itu
   didahului upacara bendera para pejabat GAM. Pendukung GAM di daerah
   Passe memusatkan perayaannya di Kecamatan Samudera Passe. Puluhan
   pemuda berseragam militer GAM, menyandang senjata otomatis, berbaris
   rapi. Dengan alunan azan, mereka mengerek bendera hijau bergambar
   bulan bintang.
   
   Ketegangan memang sedang memuncak di Aceh. Betapa tidak. Sebelumnya,
   Aceh diramalkan bakal banjir darah, akibat bentrokan bersenjata antara
   TNI dan GAM. Ketua MPR, Dr. Amien Rais, tak kuasa menahan
   kekhawatirannya. Ia menghentikan pidatonya sejenak dalam pembukaan
   Sidang Tanwir Muhammadiyah di Pusat Dakwah Islam di Bandung, Jumat
   pekan lalu.
   
   Hadirin tertegun. Ia menyeka matanya yang basah. "Dalam beberapa hari
   ini saya sulit tidur, karena membayangkan... Aceh," katanya
   terbata-bata. Masalah ulang tahun itu, bagi Amien, sangat genting.
   Salah-salah, perhelatan tersebut mengulang kepedihan Aceh: insiden
   berdarah. "Aceh bisa jadi berdarah-darah lagi," katanya kepada
   wartawan Gatra Taufik Abriansyah.
   
   Namun, sampai usai lohor Sabtu pekan lalu itu, kekhawatiran Amien
   tidak terbukti. Tak terjadi banjir darah. Jalan-jalan di kota
   Lhokseumawe, yang dikepung basis GAM, sepi. Begitu pula situasi di
   kota Sigli dan Banda Aceh. Satuan-satuan Brigade Mobil (Brimob)
   berpratoli menyisir jalan sembari menurunkan bendera-bendera GAM.
   Memang sempat terjadi keributan di Lhokseumawe, Sigli, dan Meulaboh.
   Ada baku tembak. Tapi tak sebesar yang diperkirakan.
   
   Beberapa hari menjelang Hari-H, para pejabat TNI dan GAM memang
   berlomba menenangkan suasana. Panglima GAM, Tengku Abdullah Syafi'ie,
   misalnya, melarang rakyat awam mengibarkan bendera GAM. "Siapa pun
   dia, baik orang Aceh atau bukan, jangan menaikkan bendera," katanya.
   Ia hanya menyuruh aparatur GAM yang mengerek bendera di wilayah
   kekuasaannya masing-masing.
   
   Kepala Kepolisian Daerah Aceh, Brigadir Jenderal Bahrum Syah, juga
   tidak terlalu ambil pusing soal pengibaran bendera. "Mengapa itu kita
   masalahkan. Mau naik bendera partai politik, Persiraja (Persatuan
   Sepak Bola Kutaraja -Red.), atau Coca-Cola sekalipun, silakan,"
   katanya. "Tapi, kalau terjadi penurunan Merah-Putih, itu sudah lain.
   TNI akan mengambil sikap tegas," kata Bahrum.
   
   Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono juga menilai, sepanjang pengibaran
   bendera GAM itu sebagai ekspresi kebebasan berpendapat, boleh-boleh
   saja.
   
   TNI juga mencium hal tidak beres. Sebagian rakyat Aceh ditekan untuk
   ikut merayakan HUT. Antara lain, mereka dipaksa membeli bendera GAM
   seharga Rp 25.000 per helai. "Siapa pun wajib beli. Termasuk mereka
   yang melarat," kata Letnan Kolonel Syafei Aksal, Kepala Kepolisian
   Resor Aceh Utara.
   
   GAM memang benar-benar ingin memanfaatkan acara HUT-nya itu. Sejak
   tiga hari sebelumnya, bendera-bendera telah dipancangkan. Ada pula
   yang membuat kenduri dengan memotong kerbau.
   
   Tetapi lambaian bendera GAM di Lhokseumawe tak bertahan lama. Pukul
   06.00 WIB, sebuah truk militer berhenti di tengah kota. Sekitar 15
   personel Brimob berloncatan. Mereka sigap menurunkan setiap bendera
   GAM yang ada. Eh, entah kenapa, Sofyan Daud, warga Gede Aceh,
   Lhokseumawe, yang melihat aksi itu, tiba-tiba berlari. Tembakan
   terdengar. Peluru pun menyambar kaki kirinya. "Kalau mau menurunkan
   bendera, janganlah kami ditembaki terus," kata seorang warga kepada
   fotografer Gatra Tatan Agus RST.
   
   Sehari sebelumnya, sembilan warga Padang Sakti, Kecamatan Muara Dua,
   Aceh Utara, digebuk petugas. Beberapa di antaranya harus digotong ke
   rumah sakit dengan tubuh berlumuran cat. Gara-garanya, pendukung GAM
   itu menggambar bendera GAM di gapura mereka.
   
   Ketegangan juga meletup di Meulaboh, Aceh Barat, Kamis pekan lalu.
   Kali ini mengambil nyawa seorang tentara dan dua sipil. Ketika itu,
   dua truk penuh tentara memasuki Desa Beurabu. Tiba-tiba terdengar
   rentetan tembakan. Sersan Irwansyah roboh. Pasukan TNI membalas.
   Akibatnya, Usman, 25 tahun, dam Abdul Madjid, 40 tahun, warga
   setempat, tewas.
   
   Komandan Kodim Meulaboh, Letnan Kolonel Widagdo, membantah anggapan
   bahwa pihak militer menembak membabi buta. Warga sipil itu diduga
   terkena peluru nyasar ketika terjadi kontak senjata antara TNI dan
   GAM. Siapa berani mengatakan bahwa kontak senjata tak akan berlanjut?
   
   Jakarta sendiri, sampai kini, tampaknya masih bingung mengurai benang
   kemelut Aceh. Harapan baru penyelesaian Aceh ini mulanya bergantung
   pada Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk Masalah Aceh. Pansus yang
   dibentuk dua pekan lalu itu akhirnya merekomendasikan 10 hal kepada
   pemerintah. Di antaranya, menolak referendum, mengadakan dialog dengan
   berbagai pihak terkait, peradilan koneksitas bagi pelanggar hak-hak
   asasi manusia, serta menolak pemberlakuan darurat militer atau sipil
   di Aceh.
   
   Apa boleh buat. Rekomendasi itu ternyata memang tidak banyak beranjak
   dari pembicaraan penyelesaian Aceh selama ini. Tidak ada yang baru.
   Bahkan mengulang hal-hal yang sudah banyak disarankan berbagai
   organisasi dan perorangan.
   
   Bahkan, langkah Pansus memanggil beberapa petinggi TNI, yang dianggap
   paling tahu sekaligus bertanggung jawab terhadap masalah Aceh,
   mengecewakan banyak pihak. Kehadiran Jenderal (purnawirawan) L.B.
   Moerdani, Try Sutrisno, Feisal Tanjung, dan mantan Gubernur Aceh
   Ibrahim Hasan, belum mampu mengungkap luka-luka menahun akibat aksi
   kekerasan tersebut. Para jenderal itu mengatakan bahwa operasi militer
   itu sesuai dengan kepentingan negara, dan telah dipertanggungjawabkan
   di depan DPR serta MPR pada waktu yang lalu.
   
   Bahkan Benny Moerdani, Menteri Pertahanan dan Keamanan 1988-1993,
   mengaku tidak tahu-menahu masalah Aceh. Soalnya, ketika terjadi
   operasi militer, ia tak punya wewenang operasional. Jadi, "Pemanggilan
   ini salah alamat. Saya tidak tahu apa-apa. Saya tak bisa jawab
   apa-apa," katanya dengan wajah dingin.
   
   Yang paling mengagetkan adalah pernyataan mantan Panglima ABRI, Try
   Sutrisno. Ia tidak mengakui terjadinya daerah operasi militer (DOM) di
   Aceh. Pemerintah sama sekali tidak pernah menetapkan Aceh sebagai DOM.
   "Yang terjadi adalah, ABRI selama ini menjalankan tugas dan fungsi
   hankam," kata Try.
   
   Padahal, September tahun lalu, Panglima ABRI Jenderal Wiranto sampai
   datang ke Aceh, meminta maaf dan menyatakan mencabut DOM. Kepala Pusat
   Penerangan TNI, Mayor Jenderal Sudrajat, malah membenarkan pernyataan
   para mantan petinggi itu. DOM tidak pernah ada.
   
   Kalau begitu, kenapa Wiranto meminta maaf dan mencabut DOM? Menurut
   Sudrajat, saat ini masyarakat lagi doyan bermain persepsi. Jadi,
   karena ada persepsi DOM itu ada, Wiranto mencabutnya. "Kalau itu tidak
   dilakukan, masyarakat ora ngandel (tidak percaya)," kata Sudrajat
   kepada wartawan, Kamis pekan lalu.
   
   Tentu saja, pertemuan itu membuat masygul banyak pihak. Ketua
   Persatuan Tarbiyah Islamiyah Aceh, Yulizar Ubat, merasa kecewa. "Kami
   mengharap jenderal-jenderal itu, juga Ibrahim Hasan, diproses secara
   hukum. Mereka harus bertanggung jawab!" katanya kepada Candra Ibrahiem
   dari Gatra. Ketua Komisi Independen Pengusutan Tindak Kekerasan di
   Aceh, Amran Zamzami, juga merasa tak puas tentang DOM. "Itu kan hanya
   masalah istilah. Yang penting, di Aceh sudah terjadi aksi militer,
   kan," katanya.
   
   Melihat Aceh sampai begitu porak-poranda, Amran menilai karena
   tindakan pemerintah yang lamban. Amien Rais sejak awal berkali-kali
   menyarankan agar Presiden KH Abdurrahman Wahid mulai menginjakkan
   kakinya di Tanah Rencong itu. "Saat ini kita sedang berlomba dengan
   waktu," katanya.
   
   Menteri Luar Negeri, Alwi Shihab, sempat mengatakan bahwa Presiden
   bakal berkunjung ke Aceh, awal pekan lalu. Eh, tak lama kemudian Gus
   Dur sendiri membantahnya. "Saya tidak punya rencana untuk segera ke
   Aceh. Tapi nanti setelah 4 Desember," katanya ketika berada di Manila,
   Senin pekan lalu.
   
   Kiai Ciganjur itu, seperti biasa, mempunyai gaya khusus dalam
   menyelesaikan berbagai masalah. Ayah empat anak itu masih yakin bahwa
   masalah Aceh tidak segenting yang digambarkan. Misalnya, telah
   menjelma menjadi gerakan separatis. "Saya yakin, rakyat Aceh masih
   mempunyai rasa nasionalisme," katanya di pesawat kenegaraan yang
   membawanya pulang dari lawatan ke Cina, Sabtu pekan lalu. Keyakinan
   itu adalah lanjutan pernyataannya ketika berada di Manila. "Saya tahu
   persis keadaan di Aceh. Orang lain boleh bingung, saya tidak bingung,"
   kata Gus Dur.
   
   Masalahnya, tampaknya Aceh-lah yang makin bingung. Bak anak ayam
   kehilangan induk. Tak ada jaminan keamanan dan ketertiban. Sementara
   itu, para pemimpin tak kunjung datang membenahi keadaan yang penuh
   ancaman. Itu juga berlaku bagi GAM -jika organisasi ini
   sungguh-sungguh ingin membenahi Aceh.
   
   Selembar spanduk terbentang di Kecamatan Kota Geudong: "Yang Mulia
   Tengku Dr. Muhammad Hasan di Tiro, doa bak kamau keu wali nanggrau,
   beubagah geuwoe jak cok merdeka (doa kami kepada wali negara agar
   cepat kembali ke Aceh memperjuangkan kemerdekaan)". Masalahnya, Hasan
   lebih senang tampil dalam bentuk selebaran dan surat-surat. Gus Dur
   tak datang, pemimpin GAM Hasan Tiro tak kunjung menampakkan batang
   hidungnya. Lalu, siapa yang mau memimpin Aceh?
   
   Nur Hidayat, Koesworo Setiawan, Reghi Perdana, dan RH
   ______________________________________________________________________
   
   ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK NASIONAL :
   
     Bulan Madu Akan Berlalu
   
     Masa Cuma Satu
   
     Dunia Tak Perlu Kiamat
   
     Menunggu Pemimpin
   
     Ganjalan di Perbatasan
   
     Lembaga Orang Dekat
   
     Dewan Tanpa Voting
   
     Nostalgia Bintang Kejora
   
     Peluang Baru Cak Narto
   
     Amuk Banteng di Balai Kota
   
     Mengundang Baret Biru
   
                                         [ Komentar ] [ Kembali ke atas ]
   ______________________________________________________________________
   
                                  [LINK]
   ______________________________________________________________________
                                      
                               www.gatra.com
     Copyright © 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights
                                  reserved
    The First Indonesian Mass Media on the Internet, Online since August
                                    1995
   ______________________________________________________________________
                                      
                    GATRA magazine in web maintained by:
                      Nico.J.Tampi and Agus Suprayogi
                              gatra@gatra.com

>From apakabar@saltmine.radix.net Wed Dec 29 18:21:25 1999
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA09393
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:21:24 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [207.192.128.40])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA17343
        for <apakabar@radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:21:25 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id SAA09380;
        Wed, 29 Dec 1999 18:21:22 -0500 (EST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 18:21:22 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199912292321.SAA09380@saltmine.radix.net>
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
To: apakabar@Radix.Net
Subject: NAS5-4.html
X-URL: http://www.gatra.com/VI/4/NAS5-4.html
Status: O

                                  [LINK]
   _________________________________________________________________
   
   Gatra Info Services
    Halaman Utama
    Artikel Minggu Ini
    Cari
    Edisi Lalu
    Back Issues
    Search
    About Gatra
    Documentation
    Masthead
    Ad Info
    Subscription
    Free Registration
    Feedback
     Daftar Rubrik
   o AGAMA
   o APA & SIAPA
   o BUKU
   o DARI PEMBACA
      + KOMENTAR
   o EKONOMI
      + INDIKATOR
   o ESAI
   o GAYA HIDUP
   o HUKUM
   o INTRIK
   o KESEHATAN
   o KOLOM
   o KRIMINALITAS
   o LAPORAN KHUSUS
   o LAPORAN UTAMA
   o LINGKUNGAN
   o MEDIA
   o MESKIPUN, TAPI ..
   o MULTIMEDIA
   o NASIONAL
   o OLAH RAGA
   o PENDIDIKAN
   o PERJALANAN
   o RAGAM
   o ROMANTIKA
      INDONESIA
   o SENI RUPA
   
                                            Nomor 04/VI, 11 Desember 1999
                                                                         
   TIMOR TIMUR
   
Ganjalan di Perbatasan

Pertemuan Gus Dur-Xanana diwarnai kata-kata manis. Para perwira tinggi TNI
akan dipanggil komisi penyelidik.

   TERIAKAN riuh rendah bergema di Alun-alun Gubernuran Timor Timur di
   Dili, Kamis pekan lalu. Ribuan warga menyambut kedatangan Jose Ramos
   Horta, aktivis prokemerdekaan Timor Timur yang 24 tahun hidup di luar
   negeri. Dalam pidato yang menggebu-gebu, dalam bahasa Tetun, Horta
   menyatakan angkat jempol terhadap mereka yang tetap berada di tanah
   kelahiran selama masa perjuangan. "Kita perlu bekerja sama dengan
   Indonesia, tetangga kita," kata Horta, yang disambut tepuk tangan riuh
   massa peserta apel besar itu.
   
   Dua hari sebelumnya, dalam kunjungannya ke Jakarta, pemimpin Timor
   Timur Xanana Gusmao, yang didampingi Ramos Horta dan Wakil Panglima
   Militer Taur Matan Ruak, juga membuat pernyataan bersahabat. Ia
   mengatakan, rakyat Timor Timur tak akan minta ganti rugi atau balas
   dendam. "Masa lalu adalah masa lalu," katanya. "Sekarang, kita harus
   menatap ke depan."
   
   Dalam pertemuannya dengan Presiden Abdurahhman Wahid, Xanana meminta
   supaya masalah pengungsi segera diselesaikan. "Mereka menderita karena
   jauh dari rumah dan keluarga," katanya kepada Sigit Indra dari Gatra.
   Sampai hari ini, sekitar 150.000 pengungsi masih berada di Nusa
   Tenggara Timur. Belum yang di provinsi lain. Namun, dalam pemantauan
   wartawan Gatra Antonius Un Taolin di Kupang, banyak pengungsi yang
   takut pulang. Santer beredar isu, para pengungsi yang pulang
   diperlakukan sewenang-wenang. Yang wanita diperkosa dan prianya
   disuruh kerja rodi.
   
   Kepada Gus Dur, Xanana juga minta agar TNI menghentikan dukungannya
   kepada milisi pro-Indonesia di perbatasan. Masalah ini, kata Xanana,
   bisa menjadi ganjalan. "Untuk kebaikan bersama, masalah keamanan di
   perbatasan harus diselesaikan," tuturnya.
   
   Di pihak lain, Presiden Gus Dur pun berjanji akan membantu membangun
   kembali Timor Timur. Ia juga akan berusaha menghidupkan lagi
   penerbangan reguler Denpasar-Dili. Ungkapan bersahabat mereka memang
   cukup menyejukkan. Tapi, persoalan yang ada tak cukup diselesaikan
   dengan kata-kata manis.
   
   Dunia internasional masih menuntut Indonesia mempertanggungjawabkan
   apa yang dianggapnya pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM) di Timor
   Timur, terutama pada masa kisruh pascajajak pendapat, September lalu.
   Untuk menjawab desakan itu, Pemerintah Indonesia membentuk Komisi
   Penyelidikan Pelanggaran (KPP) HAM. Komisi itu telah diterjunkan ke
   Timor Timur.
   
   Selasa pekan lalu, komisi ini mengumumkan temuannya. Mereka mengklaim
   menemukan fakta yang mengindikasikan keterkaitan TNI dan Kepolisian RI
   (Polri) dengan segala ulah milisi. Fakta dan keterangan itu dihimpun
   dari lembaga swadaya masyarakat, tokoh agama, dan masih banyak lagi.
   Seorang pemimpin milisi, yang mengaku memimpin pembantaian di Los
   Palos, mengklaim telah dipersenjatai TNI. Ia juga mengakui bahwa aksi
   yang menewaskan sembilan orang itu sebelumnya sudah diketahui aparatur
   TNI.
   
   Mengenai pembunuhan massal di Gereja Nossa Senhora de Fatima, Suai,
   komisi juga mengaku menemukan indikasi keterlibatan aparatur TNI dalam
   aksi bumi hangus yang menghancurkan kota kecil itu. Lebih jauh lagi,
   KPP HAM menyatakan menemukan fakta bahwa aksi bumi hangus dan
   pembunuhan di luar proses hukum itu terkait dengan TNI-Polri. Untuk
   melengkapi investigasinya, komisi ini akan memanggil sejumlah perwira
   tinggi TNI untuk dimintai keterangan.
   
   Rencananya, pertengahan Desember ini, Jenderal Wiranto, Mayor Jenderal
   (Mayjen) Sjafrie Sjamsoeddin, Mayjen Zacky Anwar Makarim, Mayjen Adam
   Damiri, dan Brigadir Jenderal Tono Suratman akan dipanggil KPP HAM.
   Selain para jenderal, akan dipanggil pula sejumlah bupati dan tokoh
   milisi, seperti Eurico Gutteres dan Joao Tavares.
   
   Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Sudrajat mengatakan, TNI sangat
   terbuka dengan upaya-upaya penegakan hukum. "Yang perlu diingat,
   penegakan hukum itu jangan sampai melanggar hukum atau menjadi agenda
   politik tertentu," ujar Sudrajat kepada Gatra. Tentang temuan KPP HAM,
   ia bilang, "Silakan buktikan! Pencari fakta kan kebanyakan memperoleh
   data dari saksi mata yang belum tentu objektif," katanya.
   
   Willis Pinidji dan RP
   ______________________________________________________________________
   
   ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK NASIONAL :
   
     Bulan Madu Akan Berlalu
   
     Masa Cuma Satu
   
     Dunia Tak Perlu Kiamat
   
     Menunggu Pemimpin
   
     Ganjalan di Perbatasan
   
     Lembaga Orang Dekat
   
     Dewan Tanpa Voting
   
     Nostalgia Bintang Kejora
   
     Peluang Baru Cak Narto
   
     Amuk Banteng di Balai Kota
   
     Mengundang Baret Biru
   
                                         [ Komentar ] [ Kembali ke atas ]
   ______________________________________________________________________
   
                                  [LINK]
   ______________________________________________________________________
                                      
                               www.gatra.com
     Copyright © 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights
                                  reserved
    The First Indonesian Mass Media on the Internet, Online since August
                                    1995
   ______________________________________________________________________
                                      
                    GATRA magazine in web maintained by:
                      Nico.J.Tampi and Agus Suprayogi
                              gatra@gatra.com

>From apakabar@saltmine.radix.net Wed Dec 29 18:21:41 1999
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA09436
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:21:40 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [207.192.128.40])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA17395
        for <apakabar@radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:21:41 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id SAA09429;
        Wed, 29 Dec 1999 18:21:39 -0500 (EST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 18:21:39 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199912292321.SAA09429@saltmine.radix.net>
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
To: apakabar@Radix.Net
Subject: NAS6-4.html
X-URL: http://www.gatra.com/VI/4/NAS6-4.html
Status: O

                                  [LINK]
   _________________________________________________________________
   
   Gatra Info Services
    Halaman Utama
    Artikel Minggu Ini
    Cari
    Edisi Lalu
    Back Issues
    Search
    About Gatra
    Documentation
    Masthead
    Ad Info
    Subscription
    Free Registration
    Feedback
     Daftar Rubrik
   o AGAMA
   o APA & SIAPA
   o BUKU
   o DARI PEMBACA
      + KOMENTAR
   o EKONOMI
      + INDIKATOR
   o ESAI
   o GAYA HIDUP
   o HUKUM
   o INTRIK
   o KESEHATAN
   o KOLOM
   o KRIMINALITAS
   o LAPORAN KHUSUS
   o LAPORAN UTAMA
   o LINGKUNGAN
   o MEDIA
   o MESKIPUN, TAPI ..
   o MULTIMEDIA
   o NASIONAL
   o OLAH RAGA
   o PENDIDIKAN
   o PERJALANAN
   o RAGAM
   o ROMANTIKA
      INDONESIA
   o SENI RUPA
   
                                            Nomor 04/VI, 11 Desember 1999
                                                                         
   LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT
   
Lembaga Orang Dekat

Mantan Presiden Habibie mendirikan "Habibie Centre". Dananya disiapkan US$ 3
juta.

   LANTAI 32 Gedung BNI, di Jalan Sudirman, Jakarta, masih kosong. Meja,
   kursi, dan komputer baru satu dua. Di ruang tunggunya hanya ada sofa
   tua. Padahal di sinilah kantor "Habibie Centre", lembaga swadaya
   masyarakat (LSM) yang didirikan mantan Presiden B.J. Habibie, awal
   November lalu.
   
   "Maklumlah, masih baru," kata Prof. Muladi, mantan Menteri Kehakiman
   dan Menteri Sekretaris Negara yang aktif di lembaga itu. Selasa pekan
   ini, Muladi akan terbang ke Amerika dan Eropa, untuk melakukan studi
   banding terhadap lembaga sejenis.
   
   Di lembaga itu, Muladi punya posisi penting. Selain sebagai anggota
   dewan direktur, ia juga mengepalai divisi demokrasi dan hak-hak asasi
   manusia (HAM). "Divisi ini sebagai payungnya," kata mantan Rektor
   Universitas Diponegoro, Semarang, itu kepada Taurusita Nugrani dari
   Gatra. Fokus Habibie Centre memang pada soal demokrasi dan HAM.
   
   Ihwal Habibie Centre ini secara terbuka telah diungkapkan B.J. Habibie
   di depan peserta rapat ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia),
   sepekan setelah ia lengser sebagai presiden, Oktober silam. Pertemuaan
   itu juga berlangsung di ruangan yang kini menjadi kantor LSM itu.
   Namun, niat terjun ke LSM ini juga pernah disampaikan Habibie saat
   mengundurkan diri dari pencalonannya sebagai kandidat presiden. "Saya
   akan mendirikan LSM yang memperjuangkan HAM dan demokrasi," katanya.
   
   LSM baru itu diurus orang-orang yang dekat dengan Habibie. Selain
   Muladi, ada mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman
   Djojonegoro, yang memimpin divisi sumber daya manusia. Lalu mantan
   Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Rahardi Ramelan, diserahi tugas
   memimpin pusat pembudayaan teknologi. Dua divisi lainnya dikelola
   saudara-saudara kandung Habibie. Timmy Habibie menangani pengembangan
   media. Lalu Fanny Habibie dipercaya menggenjot divisi kelautan.
   
   Selain lima divisi induk, Habibie Centre juga dilengkapi perangkat
   kelembagaan lain. Ada pusat-pusat kerja sama yang dikepalai Jimly
   Asshiddiqie, mantan asisten wakil presiden ketika dijabat Habibie.
   Lantas lembaga riset dan pengembangan diketuai Dewi Fortuna Anwar,
   mantan juru bicara Habibie. Sedangkan Dr. Marwah Daud Ibrahim
   dipercaya menangani penyebarluasan komunikasi.
   
   Melihat komposisi kepengurusan seperti itu, banyak yang menduga,
   Habibie Centre akan dipakai Habibie untuk kembali ke gelanggang
   politik. Menjadi embrio partai, misalnya. Benarkah? Muladi langsung
   menggeleng. "Dia nggak akan kembali ke politik. Lagi pula, ini bukan
   power centre. Tapi, orang-orang di sini mau ke politik, ya silakan,"
   katanya.
   
   Habibie Centre, kata Muladi, terbuka bagi semua orang, termasuk orang
   partai. "Jangan curiga dulu pada lembaga ini," kata Muladi. Ia
   menyebutkan, sebelum terpilih sebagai presiden, Gus Dur sempat
   menyatakan kesediaan jadi salah satu angota dewan penasihat.
   Singkatnya, kata Muladi, Habibie Centre tak didesain untuk jadi
   oposan.
   
   Soal dana tak jadi masalah. "Selain dari kantong Pak Habibie, juga
   bantuan donatur luar yang tidak mengikat," kata Muladi. Ia tak
   menyebutkan berapa dana yang disiapkan Habibie. Tapi, sumber Gatra
   yang dekat dengan Habibie menyebutkan, pakar pesawat terbang itu telah
   menyiapkan dana US$ 3 juta. Carter Center dari Amerika Serikat dan
   beberapa lembaga nonpemerintah Jerman, kabarnya, siap mengucurkan
   bantuan.
   
   Mantan presiden bikin LSM sebenarnya bukan hal aneh. Di Amerika ada
   Carter Center dan Kennedy Center. Rata-rata bergerak di penegakan
   demokrasi dan HAM. Carter Center, misalnya, sering melakukan
   pemantauan pemilihan umum di berbagai negara, termasuk di Indonesia.
   
   Jaringan mereka direkatkan oleh organisasi yang disebut "Interaction
   Council", yang kini banyak membantu misi kemanusiaan PBB. Anggotanya
   antara lain Jimmy Carter, mantan Kanselir Jerman Helmut Kohl, dan
   mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Habibie juga akan ke
   sana?
   
   Hidayat Tantan dan Dewi Sri Utami
   ______________________________________________________________________
   
   ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK NASIONAL :
   
     Bulan Madu Akan Berlalu
   
     Masa Cuma Satu
   
     Dunia Tak Perlu Kiamat
   
     Menunggu Pemimpin
   
     Ganjalan di Perbatasan
   
     Lembaga Orang Dekat
   
     Dewan Tanpa Voting
   
     Nostalgia Bintang Kejora
   
     Peluang Baru Cak Narto
   
     Amuk Banteng di Balai Kota
   
     Mengundang Baret Biru
   
                                         [ Komentar ] [ Kembali ke atas ]
   ______________________________________________________________________
   
                                  [LINK]
   ______________________________________________________________________
                                      
                               www.gatra.com
     Copyright © 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights
                                  reserved
    The First Indonesian Mass Media on the Internet, Online since August
                                    1995
   ______________________________________________________________________
                                      
                    GATRA magazine in web maintained by:
                      Nico.J.Tampi and Agus Suprayogi
                              gatra@gatra.com

>From apakabar@saltmine.radix.net Wed Dec 29 18:21:50 1999
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA09448
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:21:50 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [207.192.128.40])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA17410
        for <apakabar@radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:21:51 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id SAA09444;
        Wed, 29 Dec 1999 18:21:48 -0500 (EST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 18:21:48 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199912292321.SAA09444@saltmine.radix.net>
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
To: apakabar@Radix.Net
Subject: NAS7-4.html
X-URL: http://www.gatra.com/VI/4/NAS7-4.html
Status: O

                                  [LINK]
   _________________________________________________________________
   
   Gatra Info Services
    Halaman Utama
    Artikel Minggu Ini
    Cari
    Edisi Lalu
    Back Issues
    Search
    About Gatra
    Documentation
    Masthead
    Ad Info
    Subscription
    Free Registration
    Feedback
     Daftar Rubrik
   o AGAMA
   o APA & SIAPA
   o BUKU
   o DARI PEMBACA
      + KOMENTAR
   o EKONOMI
      + INDIKATOR
   o ESAI
   o GAYA HIDUP
   o HUKUM
   o INTRIK
   o KESEHATAN
   o KOLOM
   o KRIMINALITAS
   o LAPORAN KHUSUS
   o LAPORAN UTAMA
   o LINGKUNGAN
   o MEDIA
   o MESKIPUN, TAPI ..
   o MULTIMEDIA
   o NASIONAL
   o OLAH RAGA
   o PENDIDIKAN
   o PERJALANAN
   o RAGAM
   o ROMANTIKA
      INDONESIA
   o SENI RUPA
   
                                            Nomor 04/VI, 11 Desember 1999
                                                                         
   DEWAN EKONOMI NASIONAL
   
Dewan Tanpa Voting

Susunan Dewan Ekonomi Nasional diumumkan. Tapi Yusuf Faishal, salah satu
penggodoknya, urung masuk.

   MESKI sibuk ulang-alik ke mancanegara, dalam satu-dua hari di Jakarta
   Presiden Abdurrahman Wahid masih sempat membuat keputusan penting.
   Salah satunya, pembentukan Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Keputusan
   Presiden (Keppres) Nomor 144 Tahun 1999 itu diteken Selasa pekan lalu,
   sehari sebelum ia bertolak ke Negeri Cina.
   
   Lembaga penasihat presiden bidang ekonomi ini sempat menyulut
   kontroversi. Ada kekhawatiran, lembaga ini akan tumbuh menjadi kabinet
   bayangan. Ada pula penolakan terhadap tokoh yang bakal duduk di
   dalamnya. Gagasan membentuk DEN itu sendiri muncul pada hari-hari
   pertama Gus Dur di Istana Negara.
   
   Saat itu, dua ekonom dari Partai Kebangkitan Bangsa, Subiakto
   Tjakrawerdaya dan Yusuf Faishal, PhD, disebut-sebut bakal menjadi
   ketua dan sekretaris lembaga itu. Nama bekas Menteri Keuangan Fuad
   Bawazier juga santer disebut masuk. Sedangkan anggotanya akan diambil
   dari kalangan pakar di pelbagai perguruan tinggi.
   
   Munculnya dua nama bekas menteri di zaman Orde Baru itu membuat
   beberapa ekonom dari Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah
   Mada memboikotnya. Sedianya, 2 November lalu, Presiden akan
   mengumumkan susunan anggota dewan itu. Namun, hari itu ekonom senior
   Prof. Widjojo Nitisastro dan Prof. Ali Wardhana bertandang ke kantor
   Presiden. "Kami sudah tua, biarlah DEN dipegang oleh yang muda-muda,"
   ujar Widjojo, usai pertemuan.
   
   Pengumuman pun ditunda satu hari. "Tunggu saja besok," ujar Menteri
   Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri, Kwik Kian Gie, saat
   itu. Namun, susunan anggota DEN tak juga diumumkan. Tanggal 8
   November, dalam "Diskusi Opini Live-Jakarta Firts Channel" Radio
   Trijaya, malah Yusuf Faishal yang membeberkan susunan anggota DEN.
   Menurut Yusuf, anggota DEN terdiri atas 17 orang. Ketuanya Subiakto
   Tjakrawerdaya, sekretaris Yusuf sendiri.
   
   Namun, pengumuman resmi oleh Presiden tak juga muncul. Malah,
   Yusuf-lah yang sibuk menjawab berbagai pertanyaan seputar DEN atas
   nama sekretaris dewan tersebut. "DEN ini tugasnya memberi second
   opinion pada Presiden," ujar doktor perdagangan internasional dari
   Universitas Pertanian Malaysia itu. Tak hanya itu, Yusuf juga sudah
   bertindak bak sekretaris resmi dewan ini. Disebut-sebut, ia sempat
   memanggil beberapa direksi badan usaha milik negara untuk meminta data
   dan informasi.
   
   Sumber Gatra yang pernah berhubungan dengan Yusuf, suami penyanyi
   Hetty Koes Endang itu, sampai mengeluhkan hal ini pada Gus Dur. "Dia
   meminta data atas nama lembaga yang belum jelas itu," kata sumber
   Gatra yang enggan disebutkan namanya itu. Tapi, katanya, Gus Dur tak
   bereaksi.
   
   Proses turunnya Keppres Nomor 144 tersebut terbilang singkat. Sebelum
   berangkat ke Filipina, Sabtu dua pekan lalu, Gus Dur meminta Emil
   Salim, mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, duduk dalam DEN.
   Kemudian diadakan rapat di antara para anggota, yang dipimpin
   Subiakto. "Semua sepakat, tanpa voting, Pak Emil yang jadi ketua, saya
   wakilnya, dan Dr. Sri Mulyani menjadi sekretaris," ujar Subiakto
   kepada Chandra Ibrahiem dari Gatra.
   
   Anggotanya pun para tokoh beken. Di antaranya ada Dr. Boediono (bekas
   Ketua Bappenas), Bambang Subianto (bekas Menteri Keuangan), Kuntoro
   Mangkusubroto (bekas Menteri Pertambangan dan Energi), Moh. Arsjad
   Anwar (guru besar UI), Hadi Susastro (peneliti CSIS), H.S. Dillon
   (pengajar Institut Pertanian Bogor), dan Theodore Permadi Rachmat
   (bekas Presiden Direktur Astra International).
   
   Tapi, ke mana Yusuf Faishal? "Saya nggak tahu. Itu keputusan
   Presiden," jawab Subiakto. "Gus Dur tidak berkomentar apa-apa ketika
   nama Yusuf Faishal tidak tercantum," kata Emil Salim.
   
   Yusuf Faishal sendiri belum bisa dikonfirmasi mengenai hal itu. Ketika
   dihubungi lewat telepon genggamnya, "Bapak tidak mau memberikan
   komentar dulu soal ini," ujar sekretarisnya. "Ia akan mendapat tugas
   lain yang tak kalah pentingnya," ujar Subiakto. Memang disebut-sebut,
   bakal ada dewan baru lagi yang mendampingi DEN. Dan Yusuf, kabarnya,
   akan ada di sana.
   
   DH, Rita Triana Budiarti, dan Dipo Handoko
   ______________________________________________________________________
   
   ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK NASIONAL :
   
     Bulan Madu Akan Berlalu
   
     Masa Cuma Satu
   
     Dunia Tak Perlu Kiamat
   
     Menunggu Pemimpin
   
     Ganjalan di Perbatasan
   
     Lembaga Orang Dekat
   
     Dewan Tanpa Voting
   
     Nostalgia Bintang Kejora
   
     Peluang Baru Cak Narto
   
     Amuk Banteng di Balai Kota
   
     Mengundang Baret Biru
   
                                         [ Komentar ] [ Kembali ke atas ]
   ______________________________________________________________________
   
                                  [LINK]
   ______________________________________________________________________
                                      
                               www.gatra.com
     Copyright © 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights
                                  reserved
    The First Indonesian Mass Media on the Internet, Online since August
                                    1995
   ______________________________________________________________________
                                      
                    GATRA magazine in web maintained by:
                      Nico.J.Tampi and Agus Suprayogi
                              gatra@gatra.com

>From apakabar@saltmine.radix.net Wed Dec 29 18:22:03 1999
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA09469
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:22:02 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [207.192.128.40])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA17434
        for <apakabar@radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:22:02 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id SAA09461;
        Wed, 29 Dec 1999 18:21:59 -0500 (EST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 18:21:59 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199912292321.SAA09461@saltmine.radix.net>
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
To: apakabar@Radix.Net
Subject: NAS8-4.html
X-URL: http://www.gatra.com/VI/4/NAS8-4.html
Status: O

                                  [LINK]
   _________________________________________________________________
   
   Gatra Info Services
    Halaman Utama
    Artikel Minggu Ini
    Cari
    Edisi Lalu
    Back Issues
    Search
    About Gatra
    Documentation
    Masthead
    Ad Info
    Subscription
    Free Registration
    Feedback
     Daftar Rubrik
   o AGAMA
   o APA & SIAPA
   o BUKU
   o DARI PEMBACA
      + KOMENTAR
   o EKONOMI
      + INDIKATOR
   o ESAI
   o GAYA HIDUP
   o HUKUM
   o INTRIK
   o KESEHATAN
   o KOLOM
   o KRIMINALITAS
   o LAPORAN KHUSUS
   o LAPORAN UTAMA
   o LINGKUNGAN
   o MEDIA
   o MESKIPUN, TAPI ..
   o MULTIMEDIA
   o NASIONAL
   o OLAH RAGA
   o PENDIDIKAN
   o PERJALANAN
   o RAGAM
   o ROMANTIKA
      INDONESIA
   o SENI RUPA
   
                                            Nomor 04/VI, 11 Desember 1999
                                                                         
   IRIAN JAYA
   
Nostalgia Bintang Kejora

Tuntutan merdeka bergema di Irian Jaya. Yorrys Raweyai dituduh mengilik
Negara Papua Merdeka.

   SIMON Monim menangis. Pria 63 tahun ini tampak begitu terharu ketika
   bendera Bintang Kejora dikerek bersama Merah-Putih. "Saya teringat
   Bintang Kejora berkibar berdampingan dengan Merah-Putih, dan bendera
   PBB," tutur Simon, warga Jayapura itu. Lagu "kebangsaan" Hai Tanahku
   Papua pun berkumandang.
   
   Upacara khidmat itu digelar di halaman kantor Dewan Kesenian Irian
   Jaya, Rabu pagi pekan lalu. Yang hadir sekitar 6.000 orang. Sebagian
   datang dari desa-desa di pedalaman.
   
   Aksi mengerek bendera Papua itu sebenarnya sudah marak sejak awal
   November lalu. Tapi, hari itu suasananya lain, karena dilakukan untuk
   memperingati "ulang tahun ke-38 kemerdekaan Negara Papua Merdeka".
   Acara itu dipimpin Theys Huyo Eluay, 62 tahun, Ketua Lembaga Adat
   Irian Jaya. Juga hadir para tokoh prokemerdekaan, seperti Doon Flassy,
   Pendeta Herman Awom, Fhilep Karma, dan tokoh muslim Papua Al Hamid
   Toha.
   
   Seperti biasa, Theys berorasi dan menyampaikan tujuh butir tuntutan.
   Isinya, antara lain, mendesak Pemerintah Indonesia segera
   menindaklanjuti tuntutan merdeka warga Papua yang sudah disampaikan
   kepada Presiden B.J. Habibie, Februari lalu. Ia juga meminta kembali
   kedaulatan Papua yang pernah diproklamasikan 1 Desember 1961.
   Diserukan pula penggantian sebutan suku Irian menjadi bangsa Papua,
   dan nama Port Numbay untuk Jayapura.
   
   Menurut Theys, pihaknya kini tengah menyiapkan agenda dialog nasional
   dan internasional, per 1 Mei tahun depan. Dialog itu akan melibatkan
   Indonesia, Belanda, dan Amerika Serikat. "Kami tidak ingin pertumpahan
   darah. Apalagi kami tak punya senjata," kata Theys kepada Erwin
   Tambunan dari Gatra.
   
   Usai menyampaikan pidato, Theys diarak keliling kota Jayapura, yang
   berlanjut ke Abepura dan Sentani. Ia dikawal ketat pemuda satuan tugas
   Papua.
   
   Peringatan "nostalgia" kemerdekaan Papua itu berlangsung tertib dan
   aman. Tidak terjadi bentrokan, meski sehari sebelumnya beredar kabar
   akan terjadi huru-hara. Tak aneh bila toko-toko tutup, pasar sepi,
   sekolah dan kantor-kantor sunyi. Petugas keamanan tampak berjaga-jaga
   jauh dari pusat kerumunan. Namun, barikade kawat berduri memang
   dipasang di tempat-tempat strategis dan jalan-jalan protokol.
   
   Kegiatan itu berlangsung aman di hampir semua penjuru Irian, kecuali
   di Timika. Dipimpin Nyonya Yosep Alomang, sekitar 500 warga mengerek
   Bintang Kejora di halaman Paroki Tiga Raja, Kamis pagi pekan lalu.
   Petugas keamanan memaksa menurunkannya. Massa mempertahankannya.
   Akibatnya, terjadi bentrokan. Sekitar 50 orang mengalami luka-luka.
   
   Menurut Kepala Kepolisian Daerah Irian Jaya, Brigadir Jenderal S.Y.
   Wenas, timbulnya korban bukan karena tembakan petugas, "Melainkan
   akibat benturan fisik antarmasa karena panik," katanya. Toh, Nyonya
   Yosep Alomang, 33 tahun, tak diusik.
   
   Semaraknya pesta nostalgia merdeka tidak membuat begitu repot polisi
   di Irian. Lain halnya di Markas Besar (Mabes) Polri, Jakarta, yang
   tengah sibuk memanggil Yorrys Raweyai. Pentolan Pemuda Pancasila ini
   dinilai banyak tahu soal bangkitnya Negara Papua Merdeka. "Dia sudah
   kita panggil, tapi tak mau datang," kata Kepala Dinas Penerangan Mabes
   Polri, Brigadir Jenderal Erald Dotulong.
   
   Yorrys dipanggil sebagai saksi dalam aksi pengumuman Negara Papua
   Merdeka. "Kami akan mendalami hasil pemeriksaan Yorrys. Kalau dia ikut
   aktif, maka statusnya bisa jadi tersangka," kata Erald. Yorrys akan
   dipanggil dua kali lagi. Kalau tetap menolak, dia akan ditangkap.
   
   Yorrys sendiri justru tidak merasa bingung jadi sasaran polisi. Ia
   membantah bahwa keterlibatan dirinya dalam Negara Papua Merdeka hanya
   isu. "Tak ada bukti yang bisa dipakai untuk menangkap saya. Kalau ada
   bukti, ya tangkap saja saya," kata Yorrys kepada Gatra.
   
   Agaknya mencari bukti itu gampang-gampang susah. Cuma, yang tampak
   jelas, Bintang Kejora sudah dikibarkan.
   
   Joko Syahban dan HT
   ______________________________________________________________________
   
   ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK NASIONAL :
   
     Bulan Madu Akan Berlalu
   
     Masa Cuma Satu
   
     Dunia Tak Perlu Kiamat
   
     Menunggu Pemimpin
   
     Ganjalan di Perbatasan
   
     Lembaga Orang Dekat
   
     Dewan Tanpa Voting
   
     Nostalgia Bintang Kejora
   
     Peluang Baru Cak Narto
   
     Amuk Banteng di Balai Kota
   
     Mengundang Baret Biru
   
                                         [ Komentar ] [ Kembali ke atas ]
   ______________________________________________________________________
   
                                  [LINK]
   ______________________________________________________________________
                                      
                               www.gatra.com
     Copyright © 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights
                                  reserved
    The First Indonesian Mass Media on the Internet, Online since August
                                    1995
   ______________________________________________________________________
                                      
                    GATRA magazine in web maintained by:
                      Nico.J.Tampi and Agus Suprayogi
                              gatra@gatra.com

>From apakabar@saltmine.radix.net Wed Dec 29 18:22:34 1999
Return-Path: <apakabar@saltmine.radix.net>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA09549
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:22:33 -0500 (EST)
Received: from saltmine.radix.net (saltmine.radix.net [207.192.128.40])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA17527
        for <apakabar@radix.net>; Wed, 29 Dec 1999 18:22:34 -0500 (EST)
Received: (from apakabar@localhost)
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) id SAA09515;
        Wed, 29 Dec 1999 18:22:31 -0500 (EST)
Date: Wed, 29 Dec 1999 18:22:31 -0500 (EST)
From: John A MacDougall <apakabar@Radix.Net>
Message-Id: <199912292322.SAA09515@saltmine.radix.net>
Mime-Version: 1.0
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
To: apakabar@Radix.Net
Subject: NAS11-4.html
X-URL: http://www.gatra.com/VI/4/NAS11-4.html
Status: O

                                  [LINK]
   _________________________________________________________________
   
   Gatra Info Services
    Halaman Utama
    Artikel Minggu Ini
    Cari
    Edisi Lalu
    Back Issues
    Search
    About Gatra
    Documentation
    Masthead
    Ad Info
    Subscription
    Free Registration
    Feedback
     Daftar Rubrik
   o AGAMA
   o APA & SIAPA
   o BUKU
   o DARI PEMBACA
      + KOMENTAR
   o EKONOMI
      + INDIKATOR
   o ESAI
   o GAYA HIDUP
   o HUKUM
   o INTRIK
   o KESEHATAN
   o KOLOM
   o KRIMINALITAS
   o LAPORAN KHUSUS
   o LAPORAN UTAMA
   o LINGKUNGAN
   o MEDIA
   o MESKIPUN, TAPI ..
   o MULTIMEDIA
   o NASIONAL
   o OLAH RAGA
   o PENDIDIKAN
   o PERJALANAN
   o RAGAM
   o ROMANTIKA
      INDONESIA
   o SENI RUPA
   
                                            Nomor 04/VI, 11 Desember 1999
                                                                         
   AMBON
   
Mengundang Baret Biru

Ambon kembali bersimbah darah. Ada yang meminta agar pasukan PBB
didatangkan.

   PULUHAN pemuda Maluku, yang tergabung dalam Forum Solidaritas Maluku
   se-Jawa Bali, Kamis pekan lalu, mendatangi Gedung MPR/DPR-RI, Senayan,
   Jakarta. Mereka mendesak agar bentrokan antarumat di kampungnya segera
   dihentikan sebelum Ramadhan tiba. Mereka juga menolak usulan DPRD
   Maluku untuk memberlakukan darurat militer, karena justru bisa
   meningkatkan tindak kekerasan terhadap rakyat.
   
   Konflik berdarah di Ambon, yang melanda sejak Januari lalu, belum akan
   mereda, meski lebih dari 675 jiwa telah terenggut, belum termasuk 14
   korban jiwa dari aparatur Polri dan TNI. Potensi kekerasan masih
   serius, karena di antara warga yang bertikai ada memegang beberapa
   pucuk pistol, bahkan senapan AK-47, di luar senjata-senjata api
   rakitan. Tak mengherankan bila asrama polisi dan tentara pun sudah
   menjadi sasaran serangan.
   
   Pertikaian memang sudah melebar. "Dulu sebatas konflik agama.
   Sekarang, mereka menyerang aparatur keamanan negara," kata Idris
   Tattuhey, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Muhammadiyah Maluku, kepada
   Mochtar Touwe dari Gatra. Idris menafsirkannya sebagai tindakan
   separatis. "Mengapa tak mau terbuka seperti daerah lain?" ia
   menyindir. Maksudnya, terang-terangan menuntut merdeka seperti di Aceh
   dan Irian Jaya, misalnya.
   
   Yang dianggap separatis, melawan kekuasaan negara, oleh Idris Tattuhey
   itu tak cuma tindakan menyerang anggota Polri dan TNI. Melainkan juga
   tuntutan mendatangkan pasukan PBB ke Ambon.
   
   Permintaan atas kehadiran pasukan baret biru itu ditampik oleh Thamrin
   Ely, Ketua Partai Amanat Nasional Maluku. "Ini namanya maling teriak
   maling," katanya. Thamrin mengatakan, mereka yang meminta pasukan PBB
   itu adalah kelompok yang pada hari Lebaran, 19 Januari lalu, melakukan
   aksi kekerasan, melanggar hak-hak asasi manusia (HAM), dengan
   menganiaya pendatang asal Buton, Bugis, Makassar, Jawa, dan Sumatera.
   "Saat itulah, Deklarasi Universal HAM PBB diinjak-injak, dan tak ada
   yang teriak agar pasukan PBB didatangkan," katanya.
   
   Namun, tim pengacara Gereja Maranatha, salah satu pihak yang
   menghendaki kehadiran pasukan PBB itu, punya alasan sendiri. "Aparatur
   tidak bertindak netral," kata Seni Waeleruni, dari tim hukum gereja
   itu. Menurut kelompok ini, dalam menangani konflik, aparatur keamanan
   cenderung main tembak hingga jatuh korban besar di pihaknya. "Ini tak
   bisa dibiarkan," kata Seni.
   
   Upaya damai tidak cuma lewat senjata. Ada pula Pusat Rujuk Sosial
   (PRS) yang sedang dibentuk United Nations Development Program (UNDP).
   Tujuannya, mengajak semua pihak yang bertikai untuk mencari jalan
   keluar dengan menegakkan kembali adat pela gandong, yang menjunjung
   tinggi harmoni hidup. "Bagaimana kini menempatkan pela gandong dalam
   situasi yang telah berubah," kata Moeljanto Tjokrowinoto, konsultan
   UNDP.
   
   WP
   ______________________________________________________________________
   
   ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK NASIONAL :
   
     Bulan Madu Akan Berlalu
   
     Masa Cuma Satu
   
     Dunia Tak Perlu Kiamat
   
     Menunggu Pemimpin
   
     Ganjalan di Perbatasan
   
     Lembaga Orang Dekat
   
     Dewan Tanpa Voting
   
     Nostalgia Bintang Kejora
   
     Peluang Baru Cak Narto
   
     Amuk Banteng di Balai Kota
   
     Mengundang Baret Biru
   
                                         [ Komentar ] [ Kembali ke atas ]
   ______________________________________________________________________
   
                                  [LINK]
   ______________________________________________________________________
                                      
                               www.gatra.com
     Copyright © 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights
                                  reserved
    The First Indonesian Mass Media on the Internet, Online since August
                                    1995
   ______________________________________________________________________
                                      
                    GATRA magazine in web maintained by:
                      Nico.J.Tampi and Agus Suprayogi
                              gatra@gatra.com

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----