[INDONESIA-L] SiaR---GILIRAN PARNI

From: apakabar@Radix.Net
Date: Thu Dec 23 1999 - 07:49:00 EST


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Thu Dec 23 11:41:49 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id LAA00297
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Thu, 23 Dec 1999 11:41:48 -0500 (EST)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id LAA06319
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Thu, 23 Dec 1999 11:41:48 -0500 (EST)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id JAA20936; Thu, 23 Dec 1999 09:39:28 -0700 (MST)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Thu, 23 Dec 1999 09:39:28 -0700
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id JAA20918; Thu, 23 Dec 1999 09:39:18 -0700 (MST)
Date: Thu, 23 Dec 1999 09:39:18 -0700 (MST)
Message-Id: <199912231639.JAA20918@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] SiaR---GILIRAN PARNI HADI MENGADU KE AMIEN RAIS
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

GILIRAN PARNI HADI MENGADU KE AMIEN RAIS

        JAKARTA, (SiaR, 23/12/99). Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat
(MPR) Amien Rais tak pernah absen dari kedatangan para pejabat yang
"bermasalah". Setelah kasus pengaduan Menkeu Bambang Sudibyo berkenaan
dengan ucapan Dubes AS yang dianggap mengintervensi urusan dalam negeri
Indonesia, kini giliran wartawan senior Parni Hadi yang mengadu soal
mutasi di pucuk pimpinan Lembaga Kantor Berita Nasional Antara.

        "Mas Amien sebenarnya sudah tahu dari berita-berita di media
cetak, tetapi ingin penjelasan langsung dari saya. Saya pun jelaskan
seluruhnya," ucap Parni kepada wartawan, Selasa (21/12) kemarin seusai
menghadap Amien di Gedung DPR/MPR.

        Dalam pertemuan tertutup yang memakan waktu hampir 40 menit itu,
Parni menjelaskan mengenai perkembangan aktual di LKBN Antara, termasuk
rencana pergantian dirinya oleh wartawan senior harian Kompas Budiarto
Danujaya. Menurut Parni, Amien Rais lah yang membuka pertemuan dengan
menanyakan berbagi laporan yang dimuat sejumlah majalah mingguan ibukota
serta berita-berita yang disiarkan melalui jaringan internet.

        Amien dikhabarkan terkejut dengan rencana pergantian pimpinan
"Antara" dari orang di luar manajemen. "Lho kok begitu...," desis Ketua
MPR Amien Rais.

        Rencana pergantian pucuk pimpinan LKBN Antara disampaikan oleh
Presiden KH Abdurrahman Wahid ketika memanggil Parni Hadi pada tanggal 7
Desember 1999. Dari dialog itu disepakati, Gus Dur tetap mempertahankan
Parni sebagai pemimpin umum, sedangkan pemimpin redaksi dijabat orang
lain. Usulan nama Budiarto Danujaya diajukan oleh adik Gus Dur, Hasyim
Wahid (Gus Im). Menurut Parni, padahal sebelumnya sudah ada kesepakatan,
bahwa pemerintah tak akan lagi mengintervensi Antara, termasuk dalam hal
urusan manajemen, serta policy pemberitaan.

        Hal ini disepakati tatkala Menaker (kala itu) Fahmi Idris akhir
September 1999 melantik Majelis Karyawan Antara. Fahmi menginginkan agar
independensi kantor berita itu mulai dijalankan, termasuk dengan
meniadakan anggota Dewan Pembimbing dari Deppen (Dirjen PPG) dan Deputi
Kabakin.

        Menurut Parni, ternyata harapan itu belum terwujud, dan
bentuk-bentuk intervensi masih tetap berlangsung. "Kalaupun keterlibatan
pemerintah karena adanya subsidi negara yang satu persen, kami yakin jika
itu pun dihapus, 'Antara' siap mandiri untuk menjual jasanya kepada
publik," tegasnya.

        Kasus mutasi pimpinan di LKBN Antara mengarah kepada isu KKN,
karena keterlibatan Gus Im sebagai pihak yang mengusulkan nama Budiarto.
Isu KKN menyangkut pemerintahan Gus Dur ini sebelumnya mencuat, tatkala
Gus Dur melantik wartawan Ratih Hardjono sebagai Sekretaris Pribadi
(Sekpri) Presiden. Hal ini sempat melahirkan perdebatan di DPR, karena
jabatan yang diemban Ratih itu adalah jabatan karir, sehingga menjadi
tidak etis, Ratih Hardjono, agar dapat menduduki posisinya tersebut
langsung diberi pangkat/golongan pegawai negeri.

        Antara, di zaman Soeharto dan Habibie dipakai sebagai corong
rezim, untuk membentuk opini yang dikendaki rezim kala itu. Antara juga
masih memegang monopoli bagi pembelian berita dari kantor-kantor berita
asing oleh media massa dalam negeri. Jadi, untuk membeli berita-berita dan
foto-foto dari Reuters, AFP, AP dan sebagainya, media-media massa harus
membelinya lewat Antara dengan harga yang lebih mahal. Antara juga saling
dukung mendukung dengan Harian Republika, harian milik ICMI, di mana
Soeharto dan Habibie menjadi pengurusnya. Misalnya, ketika Antara ulang
tahun (13 Desember) Parni Hadi, Pemred Antara mengirim surat ke
media-media massa agar memasang iklan selamat ulang tahun kepada Antara di
Harian Republika dengan tarif yang telah ditentukan. ***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

----- End of forwarded message from SiaR News Service -----

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----