----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----
From owner-indonesia-l@indopubs.com Wed Nov 17 18:21:34 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA25986
for <apakabar@saltmail.radix.net>; Wed, 17 Nov 1999 18:21:33 -0500 (EST)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA26894
for <apakabar@saltmine.radix.net>; Wed, 17 Nov 1999 18:21:34 -0500 (EST)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id QAA13288; Wed, 17 Nov 1999 16:21:21 -0700 (MST)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Wed, 17 Nov 1999 16:21:20 -0700
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id QAA13260; Wed, 17 Nov 1999 16:21:06 -0700 (MST)
Date: Wed, 17 Nov 1999 16:21:06 -0700 (MST)
Message-Id: <199911172321.QAA13260@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] AHMAD S - DIR bukan Tujuan Melainkan Alat
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
Date: Thu, 18 Nov 1999 00:15:23 +0100
From: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>
To: apakabar@radix.net
CC: nur wiyono budi <bujank50@hotmail.com>
Subject: DIR BUKAN TUJUAN MELAINKAN ALAT
http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
Stockholm, 18 Nopember 1999
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
DIR BUKAN TUJUAN MELAINKAN ALAT
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.
Jawaban untuk saudara Nur Wiyono Budi.
SELAMA TUJUAN SAMA, PERBEDAAN CARA BISA DISELESAIKAN
Saudara Nur Wiyono Budi yang berlindung dibalik Hotmail.com untuk
pertama kalinya menyampaikan hasil buah pikirannya melalui milis
sabili@egroups.com dan milis siyasah@isnet.org
Alhamdulillah, sebenarnya apa yang ditulis saudara Nur Wiyono Budi
adalah tidak jauh berbeda dengan apa yang menjadi tujuan kaum muslimin,
yaitu untuk beribadah, bertaqwa dan mencari keridhaan Allah swt.
Adapun ada perbedaan cara antara saudara Nur Wiyono dengan saya, tetapi
selama perbedaan cara itu tidak keluar dari apa yang telah dicontohkan
Rasulullah, maka masih bisa dibicarakan dan diselaraskan.
Jadi janganlah karena adanya perbedaan cara diantara kaum muslimin,
kemudian menjadikan perpecahan. Kalau hal ini yang terjadi, maka kaum
muslimin masih berada dalam tingkat pemikiran yang paling bawah, yang
hanya mementingkan tingkat emosional.
KESALAHAN YANG DISIMPULKAN SAUDARA NUR WIYONO
Saya sudah lama mengikuti kajian-kajian dari sdr. A.Sudirman tentang
Daulah Islam. Terus terang, sebagai orang Islam, saya setuju sekali
dengan hal ini. Manalagi sistem yang dengan sempurna dapat mengatur
kehidupan umat manusia seperti Islam.
Namun yang saya sayangkan, cara sdr. Ahmad Sudirman dalam rangka
mencapai tujuan atau maksudnya tersebut. Saudara Ahmad Sudirman
cenderung menggunakan apa yang disebut dengan Radikalisme Politik. Dalam
hal ini, cenderung untuk memberikan semacam stigma-stigma yang sempit
dalam menentukan pilihan seperti pilihan: Islam-sekuler, partai
Islam-partai setan, muslim-kafir dsb.
Dengan hal inilah maka penilaian Sdr. Ahmad Sudirman cenderung sempit
terhadap tokoh-tokoh Islam yang ada di Indonesia. Sepertinya kita juga
masih rancu dalam mendefinisikan istilah sekuler, sehingga apapun yang
tidak 'berbau' Islam dicap sebagai sekuler.
Contoh negara RI bukan negara Islam -> Sekuler, partai yang bukan partai
Islam -> Sekuler. Berarti saudara Ahmad Sudirman yang fanatik sekali
dengan apa yang bernuansa Islam, ternyata juga tidak alergi menggunakan
hal-hal yang berbau sekuler.
Sdr. Ahmad Sudirman juga tinggal dinegeri sekuler, naik pesawatnya orang
sekuler, memakai e-mail nya orang sekuler, tinggal di rumah (apartemen?)
orang sekuler, dsb.
Bagaimana kita bisa menilai orang secara langsung tanpa mengenal
pribadinya terlebih dahulu?
Karena Indonesia bukan negara Islam, maka kita dengan cepat menilai
orang-2 yang ada didalamnya berada dalam kesesatan. kalau tidak salah
saya ingat anda tidak terlalu prihatin dengan nasib orang-orang Ambon
yang dibantai meski mereka muslim, MasyaAllah.
DAULAH ISLAM RASULULLAH ADALAH ALAT DAN SARANA BUKAN TUJUAN
Nah disinilah kesalahan saudara Nur Wiyono dalam mengambil kesimpulan,
dengan mengatakan: "Namun yang saya sayangkan, cara sdr. Ahmad Sudirman
dalam rangka mencapai tujuan atau maksudnya tersebut. Saudara Ahmad
Sudirman cenderung menggunakan apa yang disebut dengan Radikalisme
Politik. Dalam hal ini, cenderung untuk memberikan semacam stigma-stigma
yang sempit dalam menentukan pilihan seperti pilihan: Islam-sekuler,
partai Islam-partai setan, muslim-kafir dsb".(Nur Wiyono, 17 Nopember
1999).
Kalau saudara Wiyono menyimpulkan bahwa membangun DIR adalah tujuan,
maka itu adalah kesimpulan yang salah besar. Karena DIR adalah merupakan
alat tempat dimana kaum muslimin dan non muslim membangun persatuan
dengan berlandaskan
keadilan, amanah dan perdamaian yang bertujuan untuk beribadah, bertaqwa
dan mengharap ridha Allah SWT, dengan misi membangun kembali satu
masyarakat muslim dan non muslim didalam satu kekuasaan pemerintahan
dimana Allah yang berdaulat, yang menerapkan musyawarah dan menjalankan
hukum-hukum Allah dengan adil, berdasarkan akidah Islam dengan
menghormati agama lain, dengan konstitusi yang bersumberkan dari Al
Quran dan Sunnah, yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan
dan ras.
Kemudian Wiyono menyimpulkan lagi bahwa cara yang dipakai untuk
membangun DIR itu adalah dengan cara "Radikalisme Politik yang cenderung
untuk memberikan semacam stigma-stigma yang sempit dalam menentukan
pilihan" .
Sekali lagi pernyataan diatas itu merupakan kesimpulan dari pemikiran
yang tidak mendalam terhadap apa yang telah dicontohkan Rasulullah.
Coba kita lihat dan dalami, cara Rasulullah dalam membina aqidah Islam
kepada kaum muslimin di Mekah dan sekaligus mengadakan konfrontasi
langsung secara politik Islam terhadap pihak Walid bin Mughirah dari
penguasa Daulah Quraisy. Dimana usaha Rasulullah saw yang paralel, yaitu
satu arah ke pembinaan aqidah dan satu arah lain kepada konfrontasi
politik Islam langsung mengadapi ideologi politik anti Tuhan-nya
penguasa Quraisy dibawah Walid.
Usaha paralel Rasulullah saw bukan merupakan usaha yang "cenderung untuk
memberikan semacam stigma yang sempit dalam menentukan pilihan" seperti
yang dikatakan Wiyono. Atau dengan kata lain usaha paralel Rasulullah
yang juga sekemampuan saya untuk dijadikan contoh, tetapi dianggap oleh
Wiyono dengan usaha yang cenderung untuk memberikan semacam sifat
negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengharuh
lingkungannya yang sempit dalam menentukan pilihan.
Coba kta bayangkan, pengertian "stigma" yang dijadikan contoh oleh
Wioyono adalah suatu pengertian dari hasil pemikiran yang dangkal
terhadap apa yang telah dicontohkan Rasulullah dalam membina aqidah
Islam kepada ummat Islam dan sekaligus mengadakan konfrontasi politik
Islam langsung terhadap politik ideologi anti Tuhan-nya Walid bin
Mughirah.
Kalau Wiyono mengatakan Islam memberikan pengaruh negatif yang menempel
kepada pribadi seseorang yang menyebabkan kesalahan dalam menentukan
pilihan, atau dengan pengertian lain bahwa cara yang telah dicontohkan
Rasulullah yang ditiru oleh saya dianggap usaha yang cenderung untuk
memberikan stigma yang sempit dalam menentukan pilhan, maka jelas hasil
pemikiran Nur Wiyono adalah jauh dari apa yang telah dicontohkan dan
digambarkan Rasulullah dalam membina aqidah Islam, hijrah dan jihad.
Kemudian Nur Wiyono menyimpulkan juga bahwa metode Rasulullah saw yang
konfrontasi politik Islam langsung terhadap ideologi anti Tuhan-nya
Walid Penguasa Daulah Quraisy adalah disebut dengan usaha yang
berpahamkan kepada paham radikal dalam politik atau dengan pengertian
lain "Radikalisme Politik".
Justru menurut saya kesimpulan saudara Wiyono itu adalah salah, karena
usaha Rasulullah mengadakan konfrontasi politik Islam langsung terhadap
ideologi politik anti Tuhan-nya Walid adalah berdasarkan kepada apa yang
diperintahkan Allah SWT "Hai orang yang berselimut: Bangunlah dan
berilah peringatan. Besarkanlah Tuhanmu, bersihkanlah pakaianmu,
jauhilah perbuatan ma'siat, janganlah kamu memberi, karena hendak
memperoleh yang lebih banyak. Dan hendaklah kamu bersabar untuk memenuhi
perintah Tuhanmu" (Al-Muddatstsir: 1-7). "Maka jalankanlah apa yang
telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang
musyrik"(Al-Hijr: 94). "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu
yang terdekat"(Asy-syu'ra: 214).
Dengan cara berpaling dari orang-orang yang memperjuangkan ideologi yang
anti Tuhan dan menyekutukan Tuhan serta siap memberikan peringatan
kepada kaum kerabat dengan cara pembinaan aqidah, maka usaha itu bukan
usaha yang berdasarkan kepada paham politik yang radikal, melainkan
sikap yang jelas dan tegas atas dasar dari apa yang telah diperintahkan
Allah swt.
Apakah dengan melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah SWT dengan
benar dan sungguh-sungguh disebut dengan usaha yang berpaham politik
radikal? Saya pikir saudara Wiyono harus kembali merenungkan apa yang
menjadi dasar pembinaan aqidah Islam dan persiapan hijrah serta
melakukan jihad yang telah dicontohkan dan diterapkan Rasulullah saw.
SEKULARISME ADALAH RACUN
Yang mengatakan sekuler, sekularis dan sekularisme masih rancu atau
kabur, mereka itulah yang masih berusaha mempertahan dan tetap ingin
hidup dalam paham sekularisme.
Sekuler artinya adalah bersifat dunia atau kebendaan yaitu bukan
bersifat keagamaan atau kerohanian. Orang yang sekularis adalah orang
yang menganut aliran filsafat yang menghendaki agar kesusilaan atau budi
pekerti tidak didasarkan pada ajaran agama. Sedangkan sekularisme adalah
paham atau pandangan filsafat yang berpendirian bahwa moralitas tidak
perlu didasarkan pada ajaran agama (Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1988).
Nah, tidak perlu kita gali jauh-jauh mengenai pengertian sekuler,
sekularis dan sekularisme, karena sudah ada didepan hidung dan mata kita
di Daulah Pancasila dengan UUD 1945-nya yang sekuler.
Jadi, kalau saya membahas masalah sekuler, sekularis dan sekularisme
waktu sekarang-sekarang ini, sebenarnya sudah ada dan hidup di Daulah
Pancasila tanpa disadari. Karena itu, memang tidak benar kalau ada yang
mengatakan bahwa mereka telah dibagi-bagi menjadi golongan manusia
sekuler dan non sekuler oleh orang yang
berpikiran dikotomi dan tidak universal.
Justru menurut saya, karena telah dijadikannya dasar falsafah negara
pancasila yang sekuler itulah yang menyebabkan rakyat Daulah Pancasila
terbagi kedalam golongan sekularis dan non sekularis.
Saya memang sekarang tinggal dan hidup di negara sekuler, tetapi
walaupun saya mengisap tiap hari udara sekularisme, tetapi tetap saja
pikiran dan hati saya kebal terhadap sekularisme, artinya sekularisme
sudah mental dari pikiran dan hati saya. Seperti ikan laut yang hidup di
air laut yang asin, tetapi daging ikan laut itu tidak masin. Artinya,
walaupun ikan laut hidup dan menelan air garam tiap detik, tetapi tetap
saja dagingnya tidak masin seperti garam.
KETAQWAAN SESEORANG YANG DINILAI, BUKAN SIKAP
NASIONALIS-KEBANGSAAN-PANCASILAIS.
Memang seperti yang dikatakan Nur Wiyono: "Seorang muslim bukan diniliai
keimanan-nya dari organisasi/negara/partai dls, tapi dari dirinya
sendiri. percuma orang ikut partai Islam, tapi tiap hari masih suka
mabok, maksiat (ada teman saya yang jadi caleg partai Islam, tapi
kelakuannya spt itu) apakah ini disebut muslim? begitu pula sebaliknya,
orang boleh berada dimana saja, tapi jika dia ikhlas dan taat beribadah
kepada Allah, maka tentu dia layak disebut muslim sejati" (Nur Wiyono,
17 Nopember 1999).
Jelas, saya tidak menyatakan bahwa partai, organisasi, negara,
pemerintahan merupakan dasar penilaian taqwa tidaknya seseorang, karena
seperti yang difirmankan Allah swt: "inna akramakum 'indallahi atqakum"
sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah
orang yang paling bertaqwa diantara kamu. (Al Hujurat, 49: 13)
Sedangkan kebangsaan, nasionalitas, kesukuan, kekabilahan dijadikan
Allah untuk orang-orang agar saling kenal mengenal "li ta'aarafuu" (Al
Hujurat, 49: 13), bukan dijadikan sebagai dasar perjuangan dan dasar
ideologi.
YANG DITENTANG BUKAN ORANGNYA, MELAINKAN PEMIKIRAN DAN PAHAMNYA
Kalau Nur Wiyono mengatakan kepada saya bahwa "Jika anda mengatakan
Amien Rais, Nurcholis Madjid, Didin Hafidudin, Zainudin Mz dan lainnya
pendukung berat Daulah Pancasila yang sekuler, bagaimana dengan anda?
anda hidup di Swedia yg sekuler bukan?"
Maka jawaban saya adalah saya tidak menentang orangnya, yang ditentang
oleh saya adalah jalan pemikiran dan pahamnya. Seperti Amien Rais yang
menyatakan secara terang-terangan dan terbuka bahwa ia tidak diperintah
untuk mendirikan negara syariah, maka pikiran dan pemahaman Amien itulah
yang saya tentang, bukan pribadi Amiennya. Dan saya siap mengadakan
diskusi dengan Amien, Nurcholis Madjid, Didin Hafidudin, Zainudin Mz
atau siapa saja yang masih tetap mempertahankan paham nasionalisme,
kebangsaan dan pancasilanya.
BERJUANG DIMANAPUN SAMA, KARENA SEMUA BUMI ALLAH
Apa yang dikatakan Nur Wiyono ini: "Saudara Ahmad, saya sebenarnya
setuju dan salut dengan ulasan dan gagasan anda, namun tampaknya semua
hanya berhenti sampai disitu saja. Anda tidak punya keberanian untuk
pulang ke Indonesia (jika anda masih WNI, jika bukan anda tidak berhak
ikut mengomentari negara orang lain) dan berjuang mewujudkan cita-cita
anda tersebut. Anda hanya bicara dari jauh, hidup dinegara sekuler
dengan enak sementara orang-orang Islam di Aceh, Ambon dsb sengsara.
Anda hanya teriak-teriak dari jauh dan terbatas lewat e-mail, anda tidak
berani berjuang disini (Indonesia) dan menderita dibawah naungan
jihad".(Nur Wiyono, 17 Nopember 1999)
Rencana untuk kembali ke tanah air sedang dipersiapkan, Insya Allah bila
sudah waktunya dan dengan izin Allah SWT akan saya menginjakkan kaki
kembali di tanah air, bumi Allah.
Dimanapun hidup adalah relatif, soal enak tidaknya itu tergantung
darimana saudara melihat dan merasakan.
Berbicara dan menulis melalui media cyberspace adalah merupakan salah
satu sarana dakhwah yang bisa dijadikan sebagai alat yang baik dan
tergantung kepada kita yang menggunakannya.
USAHA UNTUK TUJUAN BERIBADAH, BERTAQWA DAN MENCARI RIDHA ALLAH TIDAK
SIA-SIA
Tidak ada usaha yang sia-sia apabila didasarkan kepada tujuan untuk
beribadah, bertaqwa dan mencari ridha Allah.
Tentu saja, sebagai ummat Islam pengikut Rasulullah saw, harus berusaha
dengan kemampuan, ilmu, kekuatan yang ada pada masing-masing mencontoh
seperti yang dicontohkan Rasulullah. Apapun usaha, harus bertujuan
kepada mencari keridhaan Allah SWT, bukan tujuan lain.
Selama kita mencontoh Rasulullah saw dengan tetap berpegang kepada
Kitabullah dan Sunnah Rasul, maka selama itu jalan kita tidak akan
menyimpang.
Inilah sedikit jawaban untuk saudara Nur Wiyono Budi.
Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad
Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*
Wassalam.
Ahmad Sudirman
http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----- End of forwarded message from Ahmad Sudirman -----
----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----