[INDONESIA-L] KOALISI-HAM - Keliru,

From: apakabar@Radix.Net
Date: Thu Oct 28 1999 - 13:23:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Thu Oct 28 16:22:44 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id QAA02812
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Thu, 28 Oct 1999 16:22:44 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id QAA13944
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Thu, 28 Oct 1999 16:22:43 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id OAA26256; Thu, 28 Oct 1999 14:14:17 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Thu, 28 Oct 1999 14:14:07 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id OAA26177; Thu, 28 Oct 1999 14:13:58 -0600 (MDT)
Date: Thu, 28 Oct 1999 14:13:58 -0600 (MDT)
Message-Id: <199910282013.OAA26177@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] KOALISI-HAM - Keliru, Pernyataan Presiden Soal Pembunuhan ...
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

From: "KOALISI NGO HAM Aceh" <koalisi-ham@aceh.wasantara.net.id>
To: apakabar@radix.net dll
Subject: Keliru, Pernyataan Presiden Soal Pembunuhan di Aceh
Date: Thu, 28 Oct 1999 10:02:55 +0700

Laporan Divisi Kampanye & Jaringan Koalisi N.G.O-HAM Aceh

Masyarakat Aceh Protes Keras

Keliru, Pernyataan Presiden

Tentang Pembunuhan Di Aceh

Berbagai komponen masyarakat Aceh yang terdiri dari Lembaga Swadaya
Masyarakat, organisasi kemahasiswaan, dan beberapa pihak lainnya
menyatakan protes terhadap pernyataan Presiden KH Abdurrahman Wahid yang
mengatakan aksi pembunuhan di Aceh dilakukan oran g-orang yang berbaju
TNI. Mereka mengatakan bahwa pernyataan Gus Dur itu sangat keliru, dan
mempertanyakan dari mana Presiden mendapat informasi yang dianggap
menyesatkan, serta dapat mengaburkan substansi persoalan sebenarnya,
terutama tentang aksi-aksi pembunuhan, penculikan dan pembantaian yang
tidak mendapat penanganan secara hukum.

Pernyataan protes terhadap penegasan Gus Dur itu tertuang dalam pernyataan
sikap bersama ratusan jaringan LSM di Aceh yang diwakili oleh induk
jaringannya dan ditandatangani masing-masing oleh Basyir Ahmad (Ketua
Presidium Forum LSM Aceh), Ramadhana Lubis
 (Direktur Walhi Aceh), Suraiya Kamaruzzaman (Direktur Flower Aceh), TM
Yakob (Direktur Yayasan Karya Bersama), M Yunus (Direktur PKBI Aceh, J
Kamal Farza (Direktur Yayasan Anak Bangsa), Maimul Fidar (Koordinator
Koalisi NGO HAM Aceh), Tabrani Yunis (Dire ktur CCDE), Dasrizal (Direktur
Ecotourism Aceh), Sepriadi Utama (Staf Profesional Komnas HAM Aceh), dan
Nurdin El Jodas (Koordinator SuLOH Aceh).

Protes serupa juga datang dari Langsa masing-masing disampaikan HMI Cabang
Langsa, Saiful Bahri (sekretaris Dema STAI Zawiyah Cot Kala), dan Ir
Marhaban Johan (ketua LSM Persia), dan Khairul Amri (Dema Unsam Langsa).
Dan juga dari 11 LSM di Tapaktuan. "Kalau bukan TNI atau aparat keamanan,
lalu siapa yang telah membunuh rakyat Aceh selama ini? Buktikan, dan
silakan adili mereka," kata Ray Iskandar Hasballah, ketua HMI Cabang
Langsa, Rabu (27/10).

Dalam pernyataan sikap LSM di Banda Aceh tertanggal 27 Oktober 1999
dinyatakan, penilaian Gus Dur sebagai kelanjutan kontroversi yang sering
dilakukannya, meskipun Ketua Umum PBNU itu kini telah menjabat presiden.
Organisasi aktivis itu menyatakan, apa ya ng diungkap Presiden itu tak
saja mengingkari fakta yang sebenarnya, juga melegitimasi berbagai
kekerasan yang dilakukan oleh TNI, termasuk kekerasan pasca pencabutan
Daerah Operasi Militer.

LSM-LSM itu mengungkapkan fakta seperti kasus Idi Cut (Aceh Timur), kasus
di Gedung KNPI Aceh Utara, kasus di Simpang KKA (Aceh Utara), dan kasus
Beutong Ateuh (Aceh Barat). "Gus Dur terkesan menutupi kenyataan
tersebut," kata LSM dalam pernyataannya. Lebih jauh dari itu, mereka
menilai, ungkapan Gus Dur justru bukannya meredakan konflik, tetapi
membangun konflik horizontal antarmasyarakat di wilayah Aceh. Misalnya
ungkapan bahwa informasi tentang anak-anak "yang mengatasnamakan" LSM yang
menelpon Gus Dur dan menyatakan bahwa pembunuhan di Aceh dilakukan oleh
orang yang menggunakan baju TNI.

Oleh karena itu ke -11 LSM di Aceh menuntut, agar Gus Dur sebagai Presiden
RI, segera menjelaskan dengan transparan LSM apa dan beralamat di mana
yang menelpon Gus Dur.

"Sebagai Presiden RI, Gus Dur agar berhati-hati dalam mengeluarkan
pernyataan, dan mempertimbangkan efek yang diakibatkan oleh pernyataan
tersebut. Sudah semestinya melakukan cek & ricek dalam menerima informasi
sebelum menyampaikannya secara luas. Gus Du r hendaklah arief dalam
melihat berbagai persoalan yang bergolak di Aceh," saran LSM di Banda Aceh
dalam pernyataan bersamanya.

Dari Tapaktuan, kepada 11 LSM melalui salah seorang aktivisnya, Zalsufran,
juga menyatakan protes terhadap pernyataan Presiden yang mengatakan ada
kelompok berbaju militer menyetop orang yang memakai jilbab, kemudian
jilbabnya dicopot dan rambutnya dipoto ng. Kemudian di lengan orang-orang
berbaju militer itu terdapat tato, sedangkan anggota militer --kata
presiden-- tidak dibenarkan bertato. "Dari pernyataannya itu, Presiden
Abdurrahman Wahid tidak tahu keadaan sebenarnya di Aceh dan terkesan
ngomong semb arangan," kata LSM di Tapaktuan.

Pernyataan itu masing-masing ditandatangani oleh Zalsulfran (Forkom LSM
Aceh Selatan), Syafrawi (Yasma), Irwan (YRBI), Syafruddin San (YPPAMAM),
Hasmansyah (Rimueng Lam Kaluet), Mohd Hatta (Jaringan Kerja Masyarakat
Adat Aceh Selatan), Bunnaiva (YGHL), Ru sli Ali (YAPUSDAL), Masrial
(Yayasan Anak Bumi), dan Irmawadi (YABDIMA).

Mereka juga menyatakan, tidak pernah ada LSM dari Aceh Selatan yang
menelpon Presiden Abdurrahman Wahid. Tidak pernah ada perempuan yang
memakai jilbab dipotong rambutnya. Dan tidak ada yang tidak memakai jilbab
diingatkan untuk memakai jilbab. "Pernyataa n presiden ada LSM di Aceh
Selatan yang menelepon dirinya, membuat nama baik LSM Aceh Selatan
tercemar," ujar pernyataan itu.

AGAM PROTES

Sementara itu, empat pimpinan dari pihak Angkatan Gerakan Aceh Merdeka
(AGAM) masing-asing Abu Tausi (Wilayah Meureuhom Daya), Abu Marwan
(Wilayah Batee Liek), Abu Maulida (Wilayah Pasee) serta Abu Khaled
(Wilayah Peureulak) juga menyatakan protes keras y ang disampaikan kepada
sejumlah media massa. Pada intinya, ketiga pemimpin AGAM tersebut
menyanggah dan tidak bisa mentolelir pernyataan presiden Abdurrahman Wahid
alias Gusdur yang menyatakan bahwa pembunuhan di Aceh dilakukan oleh
orang-orang yang memak ai baju TNI, "pernyataan gusdur itu sungguh
memutarbalikkan fakta yang sudah jelas bahwa pembunuhan di Aceh rakyat
Aceh sendiri sudah tahu bahwa yang lakukan adalah TNI." Kata AGAM wilayah
Meureuhom Daya, Abu Tausi sambil menambahkan," kalau dikatakan i tu
laporan LSM, coba tunjukkan pada kami LSM apa?," tantang Abu Tausi.

Hal senada juga disampaikan Abu Khaled dan Abu Marwan yang mempertanyakan
siapa yang dimaksud Gusdur dengan orang-orang yang berbaju TNI dan
bertato."Semua orang tahu bahwa pembantaian di Simpang KKA, Beutong Ateuh,
Alue Nireh, Gedung KNPI jelas-jelas dil akukan oleh TNI dan itu baru
beberapa contoh saja yang langsung disaksikan rakyat banyak" tegas Abu
Marwan. Pihak AGAM wilayah Peureulak lewat Abu Khaled juga membantah bahwa
pihaknya tidak pernah memakai pakaian seragam TNI dan juga tidak ada
pihaknya ya ng bertato..(D&K/K-NGO)

----- End of forwarded message from KOALISI NGO HAM Aceh -----

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----