----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----
From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Oct 12 17:53:07 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id RAA27442
for <apakabar@saltmail.radix.net>; Tue, 12 Oct 1999 17:53:06 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id RAA00827
for <apakabar@saltmine.radix.net>; Tue, 12 Oct 1999 17:53:06 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id PAA09026; Tue, 12 Oct 1999 15:52:35 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Tue, 12 Oct 1999 15:52:33 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id PAA08982; Tue, 12 Oct 1999 15:52:29 -0600 (MDT)
Date: Tue, 12 Oct 1999 15:52:29 -0600 (MDT)
Message-Id: <199910122152.PAA08982@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] GATRA - Trisula dan Kemiskinan yang Tersisa
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
X-URL: http://www.gatra.com/V/47/LKH8-47.html
Nomor 47/V, 9 Oktober 1999
TRISULA dan Kemiskinan yang Tersisa
Kawasan Blitar Selatan, Jawa Timur, pernah menjadi benteng terakhir gerakan
komunis di Pulau Jawa. Kini menanti kesejahteraan.
SETELAH Gerakan 30 September kandas dalam sekejap, organisasi PKI pun
hancur berkeping-keping. Operasi yang dilancarkan oleh -terutama- TNI
Angkatan Darat berhasil meringkus sebagian besar tokoh PKI di tingkat
pusat dan daerah. Situasi keterpojokan ini, ternyata, mendorong
beberapa benggolan Politbiro CC PKI menyingkir dari Jakarta, dan
bergerak menuju Blitar Selatan di Jawa Timur. Di antara mereka
terdapat B. Oloan Hutapea, Rewang, dan Munir.
Di kawasan tandus yang hanya ditumbuhi ilalang dengan gua-gua yang
masih perawan itu, rupanya mereka bercita-cita membangun pusat
perlawanan. Berangsur-angsur, Blitar Selatan yang senyap itu mulai
diramaikan oleh berdatangannya sejumlah orang yang asing bagi penduduk
lokal. Kemudian berdirilah Sekolah Perlawanan Rakyat (SPR) dan Kursus
Kilat Perang Rakyat (KKPR). Agaknya, sisa-sisa PKI ini membayangkan
Yenan, basis perlawanan Partai Komunis Cina di bawah pimpinan Mao
Zedong, sebelum bergerak "merebut kota".
Setelah melancarkan serangkaian pelatihan, mereka pun mulai keluar
dari sarangnya. Tindak kekerasan terasa meningkat di kawasan itu,
antara lain perampokan. Termasuk perampokan senjata. Situasi meriang
ini dirasakan oleh pihak Kodam Brawijaya, yang ketika itu dipimpin
oleh Mayjen M. Jasin. Ada sesuatu yang tidak beres di wilayah gersang
Blitar Selatan. Apalagi setelah beberapa perampok yang tertangkap
mengaku punya basis di Blitar Selatan.
Maka dilancarkanlah operasi intelijen. Hasilnya, Jasin menyimpulkan,
perlu dikerahkan operasi khusus di Blitar Selatan. Rencana ini
meliputi operasi intelijen, teritorial, dan tempur sekaligus. Inilah
"Operasi Trisula", dengan Kolonel Witarmin sebagai komandan operasi.
Tapi, kendala muncul ketika operasi hendak dimulai. "Pusat tak mau
membiayainya," kata M. Jasin, mengenang. Alasannya? "Karena operasi
ini bukan inisiatif pusat."
Tapi, M. Jasin bersikeras. Karena itu, sebagai Panglima Kodam
Brawijaya, ia berupaya mencari dana. Jasin pun mendatangi Gubernur
Jawa Timur ketika itu, Mohammad Noer. Dari beliau Jasin menerima Rp 20
juta, sebagai pinjaman. Mulai Juni hingga September 1968, bergeraklah
Operasi Trisula. Ketika operasi menunjukkan hasilnya, bantuan dana
dari pusat menyusul turun.
Operasi Trisula melakukan penyisiran, dari kota Blitar di tepi Sungai
Brantas sampai ke pantai selatan. Desa Bakung dijadikan Pos Komando.
Dalam penyisiran itu pula, rumah-rumah penduduk yang terletak di
pedalaman dipindahkan ke tepi jalan. Tentara menyapu kawasan pelosok
yang merupakan wilayah persembunyian.
Operasi ini berhasil membekuk 850 tokoh PKI. Di antara mereka terdapat
Rewang, Munir, B. Oloan Hutapea, dan Sukatno, bekas Ketua Pemuda
Rakyat. Tercatat 33 orang tewas, termasuk Hutapea, dan Ir. Surachman,
yang sebelumnya dikenal sebagai tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI).
Terjaring pula 182 anggota Kodam VIII/Brawijaya yang terlibat PKI.
Kapten Kasmidjan, mantan anggota Batalyon 531/Raiders Brawijaya di
Jombang, yang dikenal sebagai pimpinan Kompro Gunung Pandan, ikut
tertangkap.
Setelah Kodam Brawijaya berhasil dengan Operasi Trisula, pada Oktober
1968 Kodam VII/Diponegoro melancarkan Operasi Kikis yang memfokuskan
sasaran di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Khususnya di Pegunungan
Kendeng dan Lawu. Operasi ini berhasil menangkap sekurangnya 200-an
orang. Dalam operasi yang dilakukan di kawasan Merapi dan Merbabu,
terjaring Supono Marsudidjojo, alias Pono -orang nomor tiga di Biro
Khusus PKI.
Perburuan tak hanya dilakukan oleh tentara. Bengawan Solo (Jawa
Tengah) dan Sungai Brantas (Jawa Timur) airnya memerah karena darah
orang yang terbunuh, tak jelas oleh siapa. Hampir setiap hari
mayat-mayat yang tak lengkap lagi jasadnya mengambang dan hanyut di
kedua sungai itu, menghilir hingga ke bibir lautan. Tak jelas benar
berapa jumlah korban yang terbunuh. Fact Finding Commission (Komisi
Pencari Fakta) yang dibentuk oleh Presiden Soekarno mengumumkan,
jumlah korban 78.000 orang.
Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, Abdurrahman Wahid, pernah mengatakan,
sekitar 500.000 orang eks PKI yang dibunuh oleh kelompok-kelompok
Islam. Laksamana Soedomo pernah menyebut angka sekitar dua juta orang.
Sedangkan Almarhum Sarwo Edhi, Komandan Resimen Para Komando Angkatan
Darat (RPKAD) -kini Kopassus- masa itu pernah mengatakan kepada tokoh
paranormal Permadi, jumlah korban mencapai tiga juta.
H.J.C. Princen, aktivis hak-hak asasi manusia (HAM) meyakini, korban
terbunuh di pihak PKI sekitar satu sampai dua juta jiwa. Dari Pramudya
Ananta Toer, novelis yang kini mendirikan Yayasan Penelitian Korban
Pembunuhan 1965/1966, keluar angka: 5.000 orang terbunuh di Blora,
Jawa Tengah, tempat ia dilahirkan 74 tahun lalu. "Itu tercatat dan
diselidiki," kata Pramudya kepada Taurusita Nugrani dari Gatra.
Angka juga bermunculan dari luar negeri. Noam Chomsky, yang mengutip
sumber dinas rahasia Amerika, CIA, memperkirakan 250.000 orang
terbunuh. Encyclopaedia Britannica menyebut angka 80.000 sampai satu
juta orang tewas. Dan Robert Cribb, dalam Indonesia Killings of
1965-1966, menyebut angka 150.000 sampai dua juta orang terbunuh.
Jumlah korban inilah yang masih "gelap", sampai sekarang.
Sementara itu, bagaimana kemudian nasib Blitar Selatan? Titik sentral
persembunyian para tokoh PKI dulu ada di Desa Bakung, Kecamatan
Bakung, 45 km dari Blitar arah ke selatan. Ada yang mengartikan Bakung
dengan bokong, tapi ada juga yang menafsirkannya sebagai daerah
tandus. "Kalau diartikan secara harfiah, ya daerah tandus dan
terbelakang," kata Talimin, Kepala Desa Bakung, kepada Rachmat Hidayat
dari Gatra.
Talimin tak berlebihan. Desa berpenduduk 1.608 jiwa ini hidup dari
hasil pertanian lahan kering. Penduduk, 10 di antaranya pegawai
negeri, hanya bisa menanam ketela dan kacang kedelai. Pendapatan
rata-rata penduduk per hari hanya Rp 1.500. Itulah Bakung saat ini.
Bagaimana 34 tahun yang silam? Menurut Ruslan, 60 tahun, sesepuh desa,
Bakung waktu itu hanya ditumbuhi ilalang. "PKI itu kan sukanya daerah
tandus," kata Ruslan.
Terbelit kemiskinan, juga ketakutan, tidaklah ajaib bila pada 1965 itu
tak sedikit warga Bakung yang ikut-ikutan PKI. "Warga miskin, dan
inginnya selamat. Ya, ikut siapa saja," kata Ruslan. Usai Operasi
Trisula, Desa Bakung menjadi daerah binaan yang sebulan dua kali
mendapat Penataran P-4. Desa ini akhirnya dikenal sebagai Desa
Pancasila. Pada 1992, Bakung menyabet predikat Desa Teladan Pertama
P-4 tingkat Jawa Timur.
Meski sudah menjadi Desa Pancasila, warga Bakung tak bisa leluasa
bepergian. Untuk ke luar kota, mereka harus membawa surat jalan, yang
diperpanjang setiap tiga bulan. Itulah pula yang membuat para pemuda
desa ini merasa tertekan. "Wong gitaran saja kita ndak boleh," tutur
Rudianto Eko Pramono, 30 tahun, tokoh pemuda Desa Bakung. "Semuanya
selalu dikaitkan dengan Monumen Trisula," kata sarjana ekonomi lulusan
STIE Kucecwara, Malang, Jawa Timur, 1995 ini.
Rudianto bercerita, "Kalau tak mau keluar rumah untuk kerja bakti,
langsung dicap PKI." Untunglah, reformasi rupanya mencapai Desa Bakung
juga. "Sekarang benar-benar bebas," kata Rudianto. Penataran P-4 pun
ikut pupus. Karena dikenal sebagai basis PKI, sepanjang Orde Baru
hanya Golkar yang leluasa menjamah Desa dan Kecamatan Bakung. Lihatlah
perolehan suara dalam pemilu, sejak 1971. Pada Pemilu 1971, Golkar
memperoleh 17.112 suara, sedangkan NU hanya 4 suara.
Pada Pemilu 1977, PPP mendapat 72 suara, Golkar 19.619, dan PDI nol.
Pemilu 1982: PPP 6, Golkar 22.207, PDI 19. Pemilu 1987: Golkar 22.207,
PPP dan PDI nol. Pemilu 1992: Golkar 25.989 suara, PPP dan PDI nol.
Pemilu 1997: PPP 22, Golkar 18.657, PDI 10. Pada Pemilu 1999, barulah
perolehan suara itu "bergolak": Golkar 8.579, PDI-P 4.076, dan PKB
1.261. Mungkin, Golkar masih beroleh suara karena "telanjur" mencari
aman. Apalagi, persiapan Pemilu 1999 juga kesusu-susu.
Operasi Trisula dikenang dengan dibangunnya Monumen Trisula di desa
ini. Plus 30 orang yang dikenai wajib lapor, karena dituduh terlibat
PKI. Tapi, trauma Desa dan Kecamatan Bakung sudah mulai
berangsur-angsur surut. Kecurigaan yang berlebihan kepada penduduk
desa ini akhirnya menghambat mereka meningkatkan kualitas hidup. "Di
sini, bisa hidup cukup saja sudah lumayan," kata Rudianto, yang tengah
bergiat mencari terobosan bagi kehidupan yang layak untuk warga di
desanya.
Penduduk sudah kenyang menyantap pembinaan ideologi dan penataran.
Mungkin sudah saatnya mereka menerima pemecahan praktis tentang,
misalnya, mendapatkan air bersih dan memberdayakan lahan tandus. Tak
ada salahnya, suatu ketika, "kesejahteraan" juga bisa mampir lalu
bermukim di Bakung. Sebab, kalau kesejahteraan itu tak kunjung muncul,
siapa menjamin bahwa kawasan ini tidak rentan bagi hinggapnya
gagasan-gagasan aneh?
Herry Mohammad
______________________________________________________________________
----- End of forwarded message from John A MacDougall -----
----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----