----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----
From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Oct 12 10:36:48 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id KAA06829
for <apakabar@saltmail.radix.net>; Tue, 12 Oct 1999 10:36:47 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id KAA12669
for <apakabar@saltmine.radix.net>; Tue, 12 Oct 1999 10:36:45 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id IAA20646; Tue, 12 Oct 1999 08:36:22 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Tue, 12 Oct 1999 08:36:21 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id IAA20525; Tue, 12 Oct 1999 08:35:42 -0600 (MDT)
Date: Tue, 12 Oct 1999 08:35:42 -0600 (MDT)
Message-Id: <199910121435.IAA20525@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] SWA - Danareksa Sekuritas Terus Berjaya
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
X-URL: http://www.swanet.com/detail_sajian.asp?id=ana19991117050
Selasa, 12 Oktober, 1999
Danareksa Sekuritas Terus Berjaya
PT Danarekasa Sekuritas tetap meraup laba di masa krisis, bahkan per
Juni 1999 pendapatannya hampir mencapai pendapatan 1998. Karena
perubahan strategi operasi atau karena diberi pekerjaan oleh
Pemerintah?
Danang Kemayan Jati
PT Danareksa Sekuritas (DS) boleh jadi merupakan perusahaan jasa
keuangan pelat merah yang sangat produktif. Sejak didirikan pada 1977,
DS berhasil menggolkan 157 perusahaan ke lantai bursa -- Bursa Efek
Jakarta (BEJ) maupun Bursa Efek Surabaya -- dengan nilai emisi Rp 18
triliun lebih. Dapat dikatakan, dua dari tiga perusahaan yang *go
public* dijamin emisinya oleh DS.
Dominasi DS dalam hal penjaminan emisi memang masuk akal. Pada
1970-an, ketika BEJ belum ada dan perdagangan saham langsung ditangani
Badan Pengawasan Pasar Modal, DS yang pertama melakukan penjaminan
saham perusahaan yang akan *go public*. Pada periode itu, perusahaan
yang dijamin adalah perusahaan multinasional seperti BAT Indonesia,
Goodyear Indonesia, Merck Indonesia, Multi Bintang, Unilever Indonesia
dan Bayer Indonesia.
Pada gelombang kedua kebangkitan pasar modal Indonesia, awal 1990-an,
DS menjadi yang terdepan baik sebagai *lead underwriter* maupun
sebagai *co-lead underwriter* pada emisi saham perusahaan swasta besar
Indonesia seperti Astra International, Barito Pacifif Timber dan
Indocement Tunggal Prakarsa, atau BUMN seperti Semen Gresik, Tambang
Timah dan Telkom.
Pada 1997, meski bursa saham mengalami depresi hingga Indeks Harga
Saham Gabungan turun mendekati angka 300, DS mampu membuktikan: masih
ada perusahaan pelat merah yang dapat duduk dan bernapas lega, ketika
banyak perusahaan sekuritas nasional atau asing berjuang agar
terhindar dari kebangkrutan. Akhir tahun itu, DS mampu meraup
keuntungan bersih Rp 13,36 miliar dari hasil operasi Rp 46,67 miliar
dan penghasilan lain-lain Rp 11,35 miliar.
Pada 1988, yang ditandai dengan bergugurannya separuh lebih dari 164
perusahaan pialang, DS masih mampu menaikkan pendapatannya dari Rp
46,67 miliar menjadi Rp 49,15 miliar. Pendapatan bukan operasional DS
juga meningkat pesat menjadi Rp 40,44 miliar lebih, melambung 417,4%
dari Rp 7,82 miliar pada tahun sebelumnya. "Ini karena posisi kas kami
yang meningkat Rp 52,7 miliar, dari Rp 96,64 miliar menjadi Rp 147,37
miliar pada 1998," ungkap Agus Projosasmito, Direktur Utama DS.
Mengapa posisi kasnya tiba-tiba membengkak? Menurut Agus, itu
disebabkan oleh pengembalian utang nasabah dan pengurangan portofolio
DS di bursa karena bursa sedang lesu. "Pada saat itu, lebih baik dana
kami diarahkan ke pasar uang," tambahnya. Walhasil, pada 1998, laba
bersih DS meroket 294% atau menjadi Rp 52,76 miliar dari laba bersih
tahun sebelumnya sebesar Rp 13,36 miliar atau dari Rp 495 menjadi Rp
1.954/saham.
DS tampaknya memang berhasil mengantisipasi krisis ekonomi dengan
baik. "Kuncinya adalah antisipasi dalam menggarap investor ritel serta
mempertahankannya," tandas Agus. Sejak krisis terjadi, katanya,
investor asing enggan beroperasi di Indonesia. Mereka menganggap
faktor risiko investasi di BEJ makin tinggi karena gejolak politik dan
ekonomi tak kunjung usai. Menghadapi situasi demikian, DS lebih
menggencarkan pemasaran sektor ritel dan investor lokal walau harus
bersaing dengan suku bunga yang waktu itu tinggi sekali. "Terus
terang, sukses kami dibantu oleh investor ritel dan domestik yang
jumlahnya sekitar 1.200 investor, yang kecil maupun lembaga," katanya.
"Mereka cukup aktif bertransaksi di cabang-cabang DS, baik yang di
Surabaya maupun di Mangga Dua dan Pondok Indah, Jakarta," tambahnya.
Cara menggarap investor ritel agar tetap aktif bertransaksi, menurut
Agus, dengan memperlakukan mereka secara *fair*. Misalnya, dana yang
ditempatkan nasabah di DS tetapi tidak dimanfaatkan untuk keperluan
transaksi, akan diberikan bunga sesuai bunga yang berlaku di pasar.
"Dengan demikian, nasabah tidak dirugikan karena masih mendapatkan
hasil walaupun dananya tidak diaktifkan untuk transaksi," katanya.
Selain itu, nasabah diberi banyak pilihan investasi lain yang
menguntungkan apabila situasi pasar saham dipandang tidak begitu
menguntungkan. Misalnya, bisa langsung digunakan untuk main di reksa
dana.
Bila nasabah mau menempatkan dana minimum US$ 100 ribu, bisa juga
dikelola oleh DS untuk bermain valas. "*Hedge* kami ada di Cayman
Island," ujar Agus. Namun, lanjut dia, bentuk investasi semacam ini
sekarang agak sulit mencari peminatnya, soalnya dolar AS tinggi dan
susah diprediksi.
Nasabah DS juga dimanja dengan Divisi Riset, yang menurut pengakuan
mantan Wakil Dirut DBS Sekuritas itu, terbesar dan terlengkap di
antara perusahaan sekuritas di Indonesia, lokal maupun asing. "Kami
punya tiga Divisi Riset untuk melayani nasabah, yaitu *equity
research, fix income research* dan *economic research*," ujarnya.
Riset ekuitas dibagi dua: untuk kepentingan nasabah institusi dan
nasabah ritel. Nasabah institusi lebih banyak membutuhkan informasi
yang bersifat fundamental seperti makroekonomi, fundamental sektor
industri dan kinerja perusahaan dari sektor industri yang
bersangkutan. "Ritel kebanyakan tak butuh itu, tetapi lebih banyak
membutuhkan informasi yang sifatnya rumor untuk investasi jangka
pendek."
Kunci keberhasilan lainnya: memfokus ulang strategi operasi
perusahaan. "Kalau sebelum krisis kami menggenjot Divisi *Brokerage*,
sekarang Divisi *Corporate Finance* (CF), sambil mempertahankan Divisi
*Brokerage*," ujar Agus. Alasannya, pada saat krisis, pasar sekunder
sangat lesu karena investor lokal sebagai motor penggerak belum jalan.
Kalau divisi ini terus digenjot, hasilnya tak akan seimbang dengan
usahanya. "Soalnya, investor cenderung konservatif, yaitu uangnya
lebih baik masuk deposito. Jadi kalau hanya di *Brokerage*, lama-lama
bisa menelan rugi seperti perusahaan sekuritas lain," jelasnya.
Divisi CF yang digenjot DS pun sudah tak diarahkan lagi ke pekerjaan
CF seperti biasanya pada saat ekonomi sedang makmur, seperti *initial
public offering, placement* atau *right issue*. Namun, diarahkan ke
pekerjaan CF yang lebih rumit, seperti merger, akuisisi serta
restrukturisasi utang. "Bidang-bidang itulah yang peluangnya besar.
Logikanya jelas. Pada saat ekonomi sedang krisis, banyak perusahaan
rugi dan tak bisa bayar utang, bahkan hampir bangkrut. Nah, kami masuk
sebagai *advisor* bagi perusahaan yang sedang kesulitan," tutur
eksekutif lulusan Universitas Satya Wacana, Salatiga, 1982.
Keputusan menggeber CF yang dimulai tahun lalu itu menjadikan DS
perusahaan sekuritas yang terbesar di bidang CF, bila dibanding
perusahaan sekuritas lain -- lokal maupun patungan. "Kami mempunyai 70
profesional khusus CF. Perusahaan sekuritas lain jauh lebih kecil,
bahkan ada yang hanya punya seorang profesional yang menangani CF,"
kata Agus, yakin. Dengan divisi yang cukup besar itu, calon klien
lebih percaya kepada kesanggupan DS dalam memberikan advis. Proyek pun
berdatangan. Contohnya, tahun ini, DS tengah menangani restrukturisasi
utang tiga perusahaan besar.
Strategi bertahan ala DS ternyata membuahkan hasil yang signifikan,
seperti terlihat jelas pada kinerja DS per Juni 1999. Tulang punggung
pendapatan tak lagi berada di pundak Divisi *Brokerage* tapi berpindah
ke Divisi CF. Komisi transaksi *brokerage* sampai Juni 1999 Rp 12,27
miliar atau 44% dari pendapatan akhir tahun 1998. "Artinya, pendapatan
divisi ini tak ada pelonjakan yang berarti karena memang hanya
mempertahankan saja," tutur Agus. Itu berbeda jauh dari pendapatan
dari CF yang digeber DS. Pertengahan tahun ini saja telah memperoleh
Rp 13,14 miliar atau 95% dari pendapatan 1998 sebesar Rp 14,53 miliar.
Jika digabung dengan pendapatan CF yang sifatnya *origination* yaitu
jasa penjaminan emisi saham, divisi bukan *brokerage* telah mencapai
Rp 38,77 miliar atau 152,2% bila dibandingkan pendapatan akhir tahun
lalu yang hanya mencapai Rp 15,36 miliar.
Strategi itulah yang membuat pendapatan operasional DS sampai
pertengahan tahun ini hampir sama dengan dengan pendapatan satu tahun
pada 1998. Per Juni 1999, DS meraih pendapatan operasional Rp 48,55
miliar atau 98,7% bila dibandingkan tahun 1998 sebesar Rp 49,15
miliar. "Dengan asumsi pendapatan bukan operasional dan beban usahanya
sama dengan tahun lalu, diperkirakan akan diperoleh laba yang cukup
siginifikan dari kenaikan pendapatan operasional," ujar Agus.
Mengomentari kinerja DS, seorang pemilik perusahaan sekuritas yang
cukup ternama mengatakan tak heran. "Terang saja bisa berprestasi
sebagus itu, soalnya mereka selalu mendapat pekerjaan dari Pemerintah
apabila satu BUMN akan *go public*. Dan, tahu sendiri, kalau BUMN *go
public* pasti proyek besar," ungkapnya. "Pada saat krisis, dia juga
banyak mendapat rekomendasi dari BPPN untuk mengerjakan
restrukturisasi utang," tambahnya sambil berguman bahwa dia pun bisa
berprestasi seperti itu kalau diberi pekerjaan.
Lalu, mana yang benar? "Kami akui, memang untuk urusan privatisasi
kami selalu mendapat prioritas. Tapi perlu diingat, kalau tak
profesional, mana mungkin Pemerintah memberi pekerjaan?" kilah Agus.
----- End of forwarded message from John A MacDougall -----
----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----