----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----
From owner-indonesia-l@indopubs.com Thu Sep 23 17:43:26 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [207.192.128.31])
by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id RAA01841
for <apakabar@saltmail.radix.net>; Thu, 23 Sep 1999 17:43:26 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id RAA09700
for <apakabar@saltmine.radix.net>; Thu, 23 Sep 1999 17:43:24 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id PAA29548; Thu, 23 Sep 1999 15:20:55 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Thu, 23 Sep 1999 15:20:50 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id PAA29445; Thu, 23 Sep 1999 15:20:31 -0600 (MDT)
Date: Thu, 23 Sep 1999 15:20:31 -0600 (MDT)
Message-Id: <199909232120.PAA29445@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] KMP - Dan Korban pun Terus Berjatuhan
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/9909/24/utama/dan.htm
Jumat, 24 September 1999
Dan Korban pun Terus Berjatuhan...
INILAH demonstrasi yang menelan korban mahasiswa terbanyak setelah
Tragedi Trisakti dan Tragedi Semanggi di tahun 1998. Kemarin, tragedi
berdarah itu terulang kembali. Kegigihan ribuan mahasiswa untuk
menolak pensahan RUU PKB, berakhir dengan kekerasan. Kembali, para
mahasiswa digebuk, diinjak, dipukul, ditembaki peluru dan gas air
mata. Sampai Kamis tengah malam, korban-korban masih terus berjatuhan.
Menurut data RS Mintoharjo yang dipampang di depan kamar Unit Gawat
Darurat (UGD), luka yang dialami Ferry Moniaga (Universitas Sahid)
diduga berasal dari peluru karet atau pecahan tabung gas air mata.
Sementara Denny (Universitas Bung Karno) hingga tulisan ini dibuat
masih ditangani tim dokter sehingga belum dapat dipastikan peluru apa
yang bersarang di kakinya.
Sebelas korban lain yang ditangani Rumah Sakit Mintoharjo mengalami
luka serius akibat pukulan benda keras atau terkena gas air mata. Lima
di antara mereka termasuk Fredericus, wartawan Tabloid Kapital, robek
bagian kepalanya. Para mahasiswa yang menunggu di RS tersebut
mengatakan, korban-korban itu mereka larikan dari lokasi bentrokan di
seputaran jalan layang Taman Ria Senayan.
Nama korban lainnya berdasarkan data rumah sakit adalah Monisatria
(Universitas Gunadharma, sobek telinga kiri), Hendrik (ABA Indonesia,
sobek kepala bagian atas), Iwan Maulana (ISTN, dahi sobek), Benny
(Universitas Pancasila, tangan kanan sobek), Iqbal (STIE Kalbe Slipi,
luka pukul di kepala), Martian (Atma Jaya, dada memar), Sulieyanto
(Universitas Mpu Tantular, terkena gas air mata), Rikky (Muhammadiyah,
terkena gas air mata), Agus Muslim (warga Tebet Barat, kepala
belakang, bibir sobek), Lukas (warga, terkena gas air mata).
RS Pelni
Sementara para dokter di Rumah Sakit Pelni belum berani memastikan
luka yang diderita para korban. "Semuanya sedang kami tangani. Bila
telah selesai akan kami sampaikan apa yang mereka derita," ujar dr
Heryadi, seorang tenaga medis.
Namun Adi (aktivis Aldera), seorang korban yang terbaring di kamar UGD
mengatakan, ia tertembak saat terjadi bentrokan di Slipi. Paha kanan
Adi yang masih menyisakan darah tampak ditempeli perban. Mahrizal
seorang aktivis Aldera menuturkan, para korban yang dirawat di RS
Pelni dilarikan dari lokasi bentrokan di kawasan Slipi.
Nama korban lainnya adalah, Budiman, aktivis Aliansi Demokrasi
Rakyat/Aldera (luka tembak di paha kanan), Frans Rais (Universitas
Mercu Buana, luka tembak di ketiak kiri). Selain itu korban yang lain
ditangani karena luka akibat pukulan benda keras. Mereka adalah
Adiwinata (Aldera), Andriyanto (Aldera), Edi Joko (F-PDIP Bandung),
Anton (F-PDIP Bandung), Rio Budi (F-PDIP Surabaya), David Kristian
(warga Cileduk), Roy (pengamen).
Korban di St Carolus
Sampai pukul 19.30 terdapat enam korban bentrokan yang dikirim ke RS
St Carolus. Mereka adalah Maureen (22), mahasiswi Fakultas Hukum
Universitas Pancasila; Ibnu Rasyad (19), mahasiswa FISIP Universitas
Jayabaya; Imam Syafei (20), mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas
Pancasila; Leny Hotmalinda Hasibuan (23), mahasiswi FISIP Institut
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP); Nafan Siregar (21), mahasiswa
Akademi Perhotelan Sahid; dan Hendri Ruswinda (29), buruh bangunan
yang kebetulan berjalan kaki melintas Jl S Parman, depan Hotel Hilton,
saat bentrokan terjadi.
Para mahasiswa umumnya menderita luka cukup parah di bagian kaki
karena terkena serpihan bom gas air mata yang dilempar aparat
keamanan. Namun yang mengalami cedera paling berat justru Hendri
Ruswinda yang sama sekali tak terlibat dalam aksi unjuk rasa. Kepala
bagian belakangnya sobek, sementara pelipis kiri dan sisi kiri dadanya
memar, karena dipukuli dengan tongkat rotan.
Para korban didampingi mahasiswa lain rekan-rekan mereka. Relawan
kemanusiaan Karlina Leksono dan sejumlah anggota Tim Relawan lain juga
tampak sibuk membantu dan mengidentifikasi para korban. Setelah
mendapat perawatan awal, semua korban kemudian dikumpulkan di aula
gedung asrama perawat RS St Carolus.
Aula Fakultas Ekonomi Unika Atma Jaya berubah fungsi menjadi Pos
Kesehatan. Hampir setiap satu menit, ada saja mahasiswa yang dibawa
dan menjadi korban. Romo Sandyawan yang ditemui Kompas di
tengah-tengah anggota Tim Relawan dan petugas kesehatan, tampak sibuk
membantu dan berkoordinasi dengan anggota tim kesehatan dari berbagai
perguruan tinggi tersebut.
Menurut Sandyawan, sampai pukul 18.30 sudah didata sekitar 50
mahasiswa yang jadi korban. "Angka itu akan terus bertambah, karena
bentrokan bukan hanya terjadi di jalan tol saja, tetapi juga di
beberapa titik," ujarnya. Kebanyakan korban itu akibat terkena gas air
mata, kekurangan oksigen dan tembakan.
RS Pertamina
RS Pusat Pertamina Jakarta Selatan juga menangani korban akibat
bentrokan antara pengunjuk rasa dengan aparat. Menurut dr Chaivied
Veruna dari Unit Gawat Darurat, para korban hanya mengalami luka memar
dan lecet. Mereka adalah Aldian, Agus, Sigit, Taufan, Anwar, Edo,
Rasyid (Universitas Mustopo Beragama), Rino (USNI), Suparno, Herjun,
Irfan, Heriyanto (STIK), Dion (Gunadharma), dan Piping (Universitas
Sahid).
Dari pihak aparat, menurut Dispen Kepolisian Daerah Metro Jaya,
terdapat sedikitnya enam korban luka, yakni Serda Lili Gunawan dan
Serka Pramudi (Brimob), Serka Zulkifli dan Serda Widodo (Perintis),
Santoso (Kamra) dan seorang Marinir yang belum teridentifikasi. Dispen
juga mengakui tiga mahasiswa yang luka berat sedang dirawat di klinik
kesehatan Polda Metro Jaya. Sementara jumlah yang ditahan 35 orang.
Sementara ketika memimpin apel pasukan pengamanan Sidang Umum MPR 1999
pagi harinya, Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Mayjen (Pol)
Noegroho Djajoesman memerintahkan semua pasukan untuk bertindak arif
dan bijaksana agar tidak menambah kebencian masyarakat pada aparat
keamanan. (Tim Kompas)
----- End of forwarded message from John A MacDougall -----
----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----