[INDONESIA-L] KMP - Mohamad Hatta P

From: apakabar@Radix.Net
Date: Fri Aug 13 1999 - 15:04:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Fri Aug 13 17:55:10 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id RAA03936
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Fri, 13 Aug 1999 17:55:09 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id RAA15652
        for <apakabar@saltmine.radix.net>; Fri, 13 Aug 1999 17:55:09 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id PAA17822; Fri, 13 Aug 1999 15:52:45 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Fri, 13 Aug 1999 15:52:45 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id PAA17640; Fri, 13 Aug 1999 15:51:56 -0600 (MDT)
Date: Fri, 13 Aug 1999 15:51:56 -0600 (MDT)
Message-Id: <199908132151.PAA17640@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] KMP - Mohamad Hatta Pembela Negara Federasi Indonesia
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

X-URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/9908/14/NASIONAL/moha07.htm

   Sabtu, 14 Agustus 1999
   Mohamad Hatta Pembela Negara Federasi Indonesia
   ed
   Prof Dr Syafii Maarif Yogyakarta, Kompas
   
   Sejarawan Prof Dr Syafii Maarif menyatakan, pada dasarnya sejak semula
   Dr Moh Hatta adalah pencetus terwujudnya negara federasi di Indonesia.
   Namun, karena tertutup jargon-jargon politik menyangkut negara
   persatuan dan kesatuan, ide Moh Hatta itu menjadi tenggelam dan
   berkesan menakutkan bagi setiap orang untuk berbicara masalah negara
   federasi.
   
   Hal tersebut diungkapkan Prof Dr Syafii Maarif, Kamis (12/8), ketika
   menjadi narasumber tunggal pada diskusi dalam peringatan hari lahir
   Bung Hatta, di Perpustakaan Yayasan Hatta Yogyakarta. Dalam kesempatan
   itu Pejabat Ketua PP Muhammadiyah dan juga Guru Besar IKIP Yogyakarta
   ini berbicara mengenai nasionalisme, demokrasi dan keadilan sosial,
   dalam format pemikiran Moh Hatta yang lahir 12 Agustus.
   
   Syafii Maarif menyatakan, Bung Hatta sudah sejak awal tidak menyetujui
   konsep negara kesatuan. Bung Hatta adalah pembela konsep negara
   federasi Indonesia.
   
   Dasar pemikiran Bung Hatta membela negara federasi Indonesia adalah
   agar daerah-daerah dapat mengembangkan dirinya dan terjadi kompetisi
   yang sehat antarnegara bagian. Pertimbangannya, negara Indonesia yang
   begini besar, dengan penduduknya yang padat, susah sekali untuk
   menjadi negara kesatuan. "Jadi, sumpah Gadjah Mada dari Majapahit itu
   hanya sekadar sumpah, karena Majapahit akhirnya juga ambruk," kata
   Syafii.
   
   Dengan demikian, bertitik tolak dari pemikiran Hatta, Syafii
   menyatakan, tidak ada jaminan bahwa negara kesatuan akan bertahan
   untuk seterusnya. "Partai Amanat Nasional (PAN -Red) beberapa waktu
   lalu mengemukakan, negara federasi ini sebagai wacana pemikiran, yang
   muncul adalah kritik luar biasa. Padahal itu sebenarnya adalah ide
   Hatta," tegasnya.
   
   Minus keadilan
   
   Syafii menyatakan, kalaulah negara persatuan dan kesatuan bangsa itu
   didampingi oleh tegaknya keadilan politik, ekonomi dan sosial, mungkin
   tidak akan terlalu banyak masalah. "Tetapi yang kita tekankan adalah
   negara persatuan dan kesatuan minus keadilan. Itu yang menyebabkan
   kita rapuh seperti sekarang," tegasnya.
   
   Undang-undang tentang otonomi daerah, kata Syafii, sudah lama
   dilahirkan, tetapi tidak pernah dijalankan. Menurut perhitungan, kalau
   otonomi diberikan kepada daerah tingkat II, hanya empat atau lima
   kabupaten yang bisa hidup, membiayai dirinya dengan pendapatan asli
   daerah (PAD). "Karena sumber daya manusia kita masih terbatas,
   walaupun sumber daya alam hebat sekali," tegasnya.
   
   Syafii menyatakan, sulit untuk merumuskan kondisi bangsa Indonesia
   sekarang ini, khususnya menyangkut moralitas. Generasi sekarang adalah
   generasi yang sangat pragmatis. "Pragmatisme itu penting, tetapi harus
   disertai idealisme. Sebab kalau tidak fanatisme itu akan menghalalkan
   semua cara," tegasnya.
   
   Karena kondisi macam itu Syafii menyatakan, "Saya sampai mengeluarkan
   pernyataan yang sesungguhnya tidak layak untuk Komisi Pemilihan Umum
   (KPU) dan Tim 15, dimana saya menyatakan di lembaga itu telah muncul
   penyamun-penyamun politik. Karena apa, karena orang sudah sangat
   pragmatis," tegasnya.
   
   Karena itu Syafii mempertanyakan, apakah mungkin bangsa Indonesia
   mampu dan layak memasuki abad ke-21. "Kita sudah terlalu lama hidup
   terpaku dan terpukau oleh retorika politik, retorika pembangunan yang
   luar biasa. Dalam pemilu lalu dengan mengabaikan apa hasilnya, adalah
   merupakan bentuk pertarungan yang kuat sekali, antara rasional dan
   irasional. Itu terjadi karena demokrasi yang kita idolakan sudah lama
   mati. Bahkan saya katakan demokrasi sudah mati sejak Dekrit 5 Juli
   1959. Dekrit itu merupakan lonceng kematian bagi kebebasan," katanya.
   
   Dari kenyataan itu Syafii berpendapat istilah yang benar bukan Orde
   Lama atau Orde Baru, namun lebih layak disebut Orde Otoritarian Jilid
   I, Otoritarian Jilid II. "Dan salah-salah yang akan datang kita akan
   mengalami Otoritarian Jilid III," ucapnya. (top)
   

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----