----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----
From owner-indonesia-l@indopubs.com Thu Jun 17 18:53:58 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id SAA20512
for <apakabar@saltmail.radix.net>; Thu, 17 Jun 1999 18:53:57 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id SAA01896
for <apakabar@saltmine.radix.net>; Thu, 17 Jun 1999 18:53:58 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id QAA16379; Thu, 17 Jun 1999 16:52:37 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Thu, 17 Jun 1999 16:52:37 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id QAA16358; Thu, 17 Jun 1999 16:52:27 -0600 (MDT)
Date: Thu, 17 Jun 1999 16:52:27 -0600 (MDT)
Message-Id: <199906172252.QAA16358@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] SWA4: Meraup Peluang dari Kesadaran Baru
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
Meraup Peluang dari Kesadaran Baru
Gaya hidup New Age dan kecenderungan kembali ke alam tentu saja
memunculkan pelbagai peluang bisnis. Mulai pengobatan alternatif,
membangun kepercayaan diri, hingga metode zikir laris dijual.
Kedamaian dan ketenangan jiwa, rupanya kini telah menjadi barang langka --
lebih-lebih setelah krisis ekonomi dan berbagai kerusuhan yang
mengikutinya. Dan, manakala sesuatu telah menjadi barang langka, hukum
ekonomi pun berlaku: ia menjadi komoditas. Unt uk memperolehnya, orang
harus merogoh kocek.
Simak saja kesibukan di Centre for Holistic Healing & Meditasi Anand
Ashram, di bilangan Sunter, Jakarta Utara. Puluhan lelaki- perempuan duduk
bersila dengan dada dan kepala tegak sempurna, serta kedua telapak tangan
memegang lutut. Pandangan mereka mula -mula terpusat pada titik satu meter
di depan masing-masing, sebelum akhirnya, perlahan-lahan, mata mereka
memejam. Semua berkonsentrasi, memusatkan pikiran sambil perlahan-lahan
menghirup udara lewat hidung, dan bersama-sama pelan-pelan mengembuskan
napa s lewat mulut. Segalanya hening, menyatu dengan diri sendiri. Tak ada
satu suara pun, kecuali sesekali terdengar suara guru yang memberi
instruksi gerakan yang harus dilakukan.
Usai bermeditasi, para mitra -- begitu Anand Krishna, guru meditasi yang
kini tengah naik daun, biasa menyebut murid-murid dan pengikutnya -- ini
mendengarkan ceramah sang guru, atau bertukar pikiran dan mengevaluasi
pengalaman yang mereka rasakan.
Di lain tempat, tepatnya di Jl. Patra Kuningan IX/6, Jakarta Selatan,
sekelompok orang juga larut dalam zikirnya. Usai berzikir, para peserta
pengajian Pusat Kajian Tassawuf ini asyik mempelajari dan membahas
aliran-aliran tarekat atau tasawuf di Indonesi a, dibimbing Jalaluddin
Rakhmat atau guru lainnya.
Kegiatan sejenis malah telah diselenggarakan Yayasan Paramadina yang
bermarkas di Pondok Indah, Jak-Sel, sejak 1990. Menurut Budhy
Munawar-Rachman, Manajer Program Studi Islam pada yayasan tersebut,
program kelas pengajian tasawuf yang mereka selenggaraka n selalu
kebanjiran peminat.
Meditasi -- baik ala yoga maupun zikir -- kini memang sedang trendi di
kalangan eksekutif dan kalangan menengah-atas di kota-kota besar. Dan
seiring dengan krisis ekonomi moneter yang melanda sejak pertengahan 1997,
jumlahnya meningkat hingga 150% lebih. Anand saja mengklaim padepokannya
merupakan wahana belajar sekitar 5 ribu orang (sejak 1993). Sementara Ny.
Hj. Sri Adyanti Bambang Rachmadi, pimpinan Yayasan Takzia Sejati-Pusat
Kajian Tassawuf, menyebut peserta lembaganya yang belum genap dua tahun
itu berkisar 400-an. Adapun pengajian Paramadina, sedikitnya telah diikuti
7.500 orang.
Untuk bisa mengikuti pengajian ini, tentu saja tidak cuma-cuma. Di Yayasan
Takzia Sejati, tiap peserta dikutip Rp 200 ribu untuk paket kelas dengan
12 kali pertemuan. Sementara Yayasan Paramadina mengutip Rp 110 ribu untuk
kelas dengan 6 kali pertemuan. A dapun di Anand Ashram, pelatihan dibagi
menjadi beberapa jenis dan jenjang. Tingkatan paling dasar adalah latihan
meditasi untuk mengelola stres. Di sini diajarkan rileksasi kilat;
membudayakan emosi; terapi untuk melepaskan kecemasan; terapi mata, pengem
bangan intuisi dan melihat aura diri; membudayakan pikiran; serta
evaluasi. Untuk mengikuti paket ini Anda harus membayar fee Rp 200 ribu,
plus membeli buku-buku yang diperlukan.
Jenjang berikutnya adalah Seni Memberdaya Diri alias Meditasi untuk
Peningkatan Kesadaran, yang terbagi lagi menjadi tiga paket: Eksplorasi
Diri (Self Exploration), Transformasi Diri (Self Transformation) dan
Peleburan Diri (Self Annihilation). Untuk masi ng-masing paket Anda
dikenakan biaya Rp 150 ribu.
Tingkatan berikutnya adalah Neo Kundalini Yoga, Neo Zen Training serta
Death Experience Meditation. Untuk masing-masing tahapan, Anda harus
membayar Rp 300 ribu. Adapun tingkat lanjutan, (advance) Atisha, merupakan
jalan menuju kesadaran yang lebih tinggi
dan hanya bisa diikuti peserta terpilih. Latihan ini rata-rata
berlangsung empat kali sebulan, dengan biaya Rp 100 ribu/bulan. Total
jenderal, untuk mengikuti seluruh tahapan ini, Anda harus punya uang Rp
1,95 juta, masih ditambah harga buku pegangan yan g harus Anda beli.
Dengan asumsi para peserta mengikuti hingga tingkatan Seni Memberdayakan
Diri saja, dari 5 ribu mitra, Anand telah menghasilkan pemasukan dengan
nilai sekarang (present value) Rp 2,25 miliar. Jika 10% di antara mitranya
mengikuti hingga seluruh jenjang, m aka nilai sekarang pemasukan dari
pelatihan mitra saja mencapai Rp 3 miliar. Jumlah ini masih harus ditambah
dengan royalti penerbitan buku-bukunya di dalam maupun di luar negeri
serta honorarium ceramah di berbagai tempat.
Penjualan buku menjadi tambang emas lain bagi Anand. Selama 18 bulan
terakhir, PT Gramedia Pustaka Utama telah menerbitkan 23 judul bukunya,
yang rata-rata dicetak 3 ribu eksemplar. Harga buku-buku Anand bervariasi,
dari Rp 13.500 (Kamasutra) hingga Rp 50
ribu (Otobiografi Seorang Yogi-Paramhansa). Meski tak termasuk best
seller (terjual 1.000 eksemplar/bulan), penjualan buku-bukunya terbilang
sangat bagus. Menurut Wandi S. Brata, Manajer Produksi Gramedia, penjualan
buku-buku Anand bergerak dari 201 (Tel aga Pencerahan) hingga 670
eksemplar (Meditasi dan Reiki)/bulan. Konon, dari royalti bukunya saja,
Anand bisa mengantongi hingga Rp 50 juta/bulan.
Anand menampik perkiraan pendapatannya ini. "Niat pertama saya sama sekali
tidak untuk membisniskan semua itu," ungkapnya. Ia mengaku tak semua
muridnya mampu membayar. "Banyak juga yang bayar hanya 50%, bahkan
gratis," sambungnya. Ia mengaku tak pernah m enampik murid karena alasan
keuangan. "Toh, saya bisa mendapatkan income dari royalti buku," kilahnya.
Mantan pengusaha garmen yang pernah divonis mati gara-gara leukimia ini
terbilang memiliki produktivitas luar biasa dalam menulis buku: rata-rata
3-4 bulan/judul (buku pertamanya, Live, terbit di Amerika Serikat pada
1992). Ia mengaku disiplin menyisihkan
waktu rata-rata 5 jam/hari untuk menuangkan gagasannya menjadi buku. Tak
heran jika setahun terakhir ini, pendapatan dari buku justru lebih bagus
daripada iuran bimbingan meditasi. Setiap kelas meditasinya biasanya
diikuti 30-50 orang. Dan tiap dua mingg u sekali Anand menyelenggarakan
bimbingan meditasi tanpa dipungut bayaran kepada siapa saja.
Maraknya mereka yang menekuni meditasi juga terlihat di Pusat Kebudayaan
India, di Jl. Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Menurut Girish Jha,
penyelenggara yang juga guru yoga, ketika ia mulai mengajar pada 1996,
jumlah peserta di lembaganya hanya sekitar 300 or ang. Namun setahun
kemudian, seiring meruyaknya krisis ekonomi, jumlah peserta membengkak
hingga 800. "Sekitar 80% di antaranya orang Indonesia, selebihnya warga
India atau ekspatriat," tutur Jha.
Jika biasanya sebulan pendaftar hanya 20-30 orang, setelah krisis
melambung menjadi 60-100 orang, sehingga Pusat Kebudayaan India terpaksa
membuka dua kelas: pagi dan malam, dengan rata-rata 40 orang/kelas. "Kelas
pagi didominasi ibu rumah tangga dan pela jar, sementara kelas malam
kebanyakan para eksekutif, pengusaha dan kalangan kelas menengah," tutur
Jha. Tiap peserta dikenakan biaya Rp 20 ribu/bulan, plus biaya pendaftaran
Rp 5 ribu.
Fenomena masyarakat modern yang gundah dan mencari jatidiri yang hilang
sebenarnya bukan hal baru. Di Barat, kehidupan yang terlalu duniawi dan
mementingkan lahiriah telah membuat masyarakatnya kehilangan keseimbangan:
batin mereka kosong. Gerakan New Age
yang lintas agama, bersifat universal -- dan sekaligus eksotis, karena
menggunakan meditasi ala Timur, terutama India -- menjadi pilihan mereka.
Pada awal 1970-an, tak sedikit kalangan mahasiswa dan eksekutif yang
mengikuti aliran Hare Krishna yang beras al dari India. Pada dekade
berikutnya, giliran selebriti Holywood yang tergila-gila pada meditasi dan
yoga ala Deepak Chopra.
Satu paket dengan meditasi ini adalah kecenderungan kembali ke alam (back
to nature), baik dalam hal makanan dan minuman, penyembuhan, obat-obatan,
kosmetik, maupun arsitektur dan interior rumah dan bangunan. Kecenderungan
ini memunculkan peluang bisnis t ersendiri untuk melayani kebutuhan
eksklusif ini. Dalam hal makanan, misalnya, muncul restoran yang
menyajikan menu khusus bagi kaum vegetarian, serta penyediaan
sayur-sayuran yang hanya menggunakan pupuk organik (tanpa pupuk buatan
pabrik maupun pestisid a sama sekali). Namun, karena jumlah konsumen
vegetarian tak terlalu besar, umumnya resto seperti ini menjadi bagian
dari resto-resto eksotis khususnya resto India.
Di Jakarta, misalnya, tercatat beberapa resto India yang juga menyediakan
menu vegetarian (tantri) sebagai bagian dari hidangannya. Umpamanya,
Restoran India Cooper Chimney di Jl. Antara 7, Jak-Pus. Menurut
manajernya, Irawati, kebanyakan pemesan menu veg etarian di resto yang
dibangun pada 1996 ini adalah orang-orang asing dan ekspat. "Di sini kami
memisahkan tempat memasak menu vegetarian dengan menu biasa," tutur
Irawati. Sayur-sayuran yang digunakan di sini -- di antaranya kentang,
wortel, kembang kol,
tomat, terong, paneer, ilaichi dan kadimam (sejenis kacang) -- langsung
diimpor dari India.
Hal yang sama juga dilakukan Restoran dan Bar Haveli, yang terletak di
lantai 2 Graha Irama, Jl. Rasuna Said. D.D. Benerjee, manajer restoran,
terus terang mengakui peminat menu vegetarian tak terlalu banyak. "Jarang
pengunjung yang semata memesan menu ve getarian, kebanyakan juga diiringi
menu lainnya," tutur Benerjee. Tak heran jika resto yang semata menyajikan
menu vegetarian, seperti yang terselip di Jl. Sabang (Jl. H. Agus Salim)
akhirnya terpaksa tutup sekitar dua bulan lalu, karena selalu sepi pengu
njung.
Yang cukup banyak penggemarnya adalah kosmetik alamiah seperti
produk-produk The Body Shop, Aveda (keduanya dari AS) dan Red Earth
(Australia). Seluruh produk mereka dibuat dari bahan-bahan alami, dan
dikemas dalam botol-botol sederhana yang bisa diisi ke mbali (refill).
Selain kosmetik, ketiga perusahaan ini juga menyediakan wangi-wangian
alami (pot pouri) yang diambil dari berbagai bunga dan tumbuhan harum
sebagai terapi wewangian (aroma therapy) untuk menenangkan pikiran dan
meningkatkan konsentrasi.
Bagusnya sambutan terhadap produk seperti ini bisa dilihat dari luasnya
jaringan The Body Shop. Bisnis yang dirintis Anita Roddick dengan modal
kredit US$ 12 ribu pada 1976 ini kini telah bernilai US$ 500 juta dan
merambah ke 44 negara. Di Indonesia pun T he Body Shop telah hadir melalui
tangan Suzy Darmawan Hutomo dan memiliki 10 gerai -- 7 di Jakarta, satu di
Bali dan dua di Surabaya.
Tak kalah maraknya adalah penyembuhan alternatif yang semata menggunakan
bahan-bahan alami dan menjauhi penggunaan bahan-bahan kimia yang dianggap
membawa dampak samping yang membahayakan. Tak jarang di antara mereka
malah menerapkan terapi inkonvensional
dan kontroversial -- misalnya terapi sengatan lebah, penggunaan magnet
dan akupunktur -- untuk penyembuhan.
Penggunaan terapi inkonvensional ini sebenarnya berawal dari perbedaan
tradisi penyembuhan yang mereka anut. Tradisi ini merujuk kepada mitologi
Yunani kuno. Para dokter (medician) bekerja di bawah perlindungan Dewa
Aeskulapius, dan para penyembuh (healer ) yang bekerja di bawah
perlindungan Dewi Hygiea, putri Aeskulapius. Dalam perkembangannya, kedua
tradisi ini menggunakan pendekatan berbeda, bahkan cenderung bertolak
belakang.
Para Aeskulapian memandang raga adalah sesuatu yang terpisah dari jiwa,
sementara kaum Hygeian menganggapnya sebagai satu kesatuan yang tak
terpisahkan. Menurut tradisi Aeskulapian, peran utama dokter adalah
mengobati penyakit, memulihkan kesehatan dengan
cara mengoreksi cacat -- baik yang disebabkan oleh kelainan bawaan maupun
kecelakaan dalam kehidupan. Dalam terapinya, kaum Aeskulapian lebih
bertumpu pada aspek eksternal: menanggulangi penyebab penyakit dengan
melakukan intervensi pada tubuh melalui te knologi pengobatan. Sebaliknya,
kaum Hygeian memandang kesehatan sebagai tatanan alami, sesuatu yang
dicapai berkat harmoni antara tubuh dan jiwa, antara manusia dan alam
serta antara manusia dan penciptanya. Mereka menekankan aspek internal:
peningkatan daya tahan tubuh melalui keseimbangan dan harmoni. Dengan
harmoni, menurut paham ini, tubuh memiliki kemampuan menyembuhkan diri
sendiri.
Yang menarik, di antara penganut pendekatan ini tak sedikit yang justru
berasal dari kalangan kedokteran modern. Yang paling terkenal tentulah DR.
Andrew Weil. Sebelum menerapkan terapi alternatifnya ini, doktor lulusan
Harvard ini mempelajari pengalaman ribuan pasien yang sembuh berkat
penyembuhan inkonvensional, seperti hipnoterapi, terapi diet, penyembuhan
psikis dan terapi sengatan lebah.
Pendekatan Weil hingga kini masih mengundang kontroversi seru di AS.
Berbagai kesembuhan dan kesaksian yang dikemukakannya tak kunjung diakui
karena dianggap tak ilmiah. Toh, hal itu tak mengingkari fakta bahwa
buku-buku yang ditulisnya selalu mencetak be st seller. Buku pertamanya,
Spontaneous Healing (1995) dicetak sejuta kopi lebih dan menempati urutan
pertama penjualan selama 90 pekan lebih. Buku keduanya, 8 Week to Optimum
Health, berisi tip gaya hidup sehat, jamu-jamuan dan gizi, dalam dua bulan
pert ama terjual 650 ribu kopi. Situs jaringannya di Internet -- diberi
nama "Ask Dr. Weil" -- setiap bulannya rata-rata dikunjungi sejuta netter.
CD musik dan meditasi yang dijualnya juga laris manis. Ia juga laris
ditanggap seminar, ceramah dan mengisi acara
radio maupun televisi. Dari berbagai kegiatan ini, Weil mengeduk
pendapatan jutaan dolar AS.
Selain Weil, masih ada beberapa tokoh penyembuhan alternatif lainnya.
Deepak Chopra yang telah disinggung di atas, misalnya. Pakar
endrokrinologi (ilmu mengenai kelenjar) yang juga guru yoga kelahiran
India ini juga telah meluncurkan beberapa buku laris, antara lain Ageless
Body, Timeless Mind (1993). Lantas ada pula Dr. Bernie Siegel dan Marianne
Williamson, yang memublikasi penerapan pendekatan meditasi dan visualisasi
hingga kekuatan menyembuhkan cinta dan berpikir positif. Namun, dibanding
nama-nama y ang disebut belakangan, Weil memang paling berani
bereksperimen dan meramu berbagai treatment untuk metode penyembuhannya.
Namun, inti saran Weil sebenarnya sederhana dan bisa diterima akal sehat:
hidup teratur, mengurangi konsumsi lemak, banyak olahraga, mengendurkan
irama hidup, sesekali bermeditasi. Selanjutnya ia memperkenalkan para
pembacanya dengan jamu-jamuan, akupunkt ur, naturopathy, osteopathy,
chiropractic serta hipnotisme.
Di Indonesia pun kita memiliki Prof. DR. H.M. Hembing Wijayakusuma.
Lulusan Chinese Medicine Institute dan Chinese Accupuncture Institute di
Hong Kong ini termasuk tokoh yang sangat antusias dalam menerapkan
pengobatan tradisional dengan bahan-bahan alam dan teknik akupunktur.
Selain merintis Bagian Akupunktur di Fakultas Kedokteran Universitas Islam
Sumatera Utara di Medan, Hembing juga telah membuka cabang di Yordania.
Rencananya, ia pun akan membuka cabang di Sri Lanka, Belanda dan Korea
Selatan.
Gelar doktornya diraih dari Denmark dan Spanyol. Sementara gelar guru
besarnya (dalam ilmu kedokteran timur) didapat dari dua perguruan tinggi
di Kor-Sel: Universitas Wonkwang dan Dongshin.
Tempat praktek Ketua Umum Himpunan Pengobatan Tradisional dan Akupunkturis
se-Indonesia ini -- di Jl. K.S. Tubun 37 D, Jak-Pus -- lebih mirip apotik
hidup, dikelilingi oleh sekitar 500 jenis tanaman obat.
Meski agak tersuruk ke dalam gang di kawasan Jatipetamburan, halaman
tempat praktek ini kerap dijejali sedan-sedan mewah para pasien. Menurut
stafnya, setiap hari rata-rata Hembing dikunjungi 50-100 pasien, yang
berkonsultasi aneka masalah kesehatan -- ke ncing manis, rematik, asam
urat, kolesterol, darah tinggi, stroke, gangguan ginjal, maag, sinusitis,
hingga migren dan impotensi. Hembing menampik menyebut tarif
konsultasinya. Namun, menurut salah seorang stafnya, tiap kali konsultasi
dan berobat tarif m inimalnya Rp 50 ribu. Artinya, dari konsultasi pasien
saja Hembing bisa mengantongi Rp 2,5-5 juta/hari, atau sekitar Rp 50-100
juta/bulan (dengan asumsi 20 hari praktek/bulan).
Pemasukan ini masih ditambah lagi dari royalti buku, honorarium ceramah
serta tulisan di media massa. Seperti Anand, Hembing pun penulis yang
sangat produktif. Hingga kini 33 bukunya telah diterbitkan beberapa
penerbit, di antaranya PT Gramedia Pustaka Ut ama, PT Elek Media
Komputindo, Penerbit Pustaka Kartini dan PT Indikasi Prestasindo Media.
Selain itu, ia juga laris ditanggap ceramah dan rajin mengisi acara di
beberapa media -- seperti Hidup Sehat Cara Hembing di RCTI (tiap Kamis
pagi), harian Media In donesia (Kamis), Pos Kota (Minggu), tabloid Citra
(Senin) dan RRI.
Yang terbaru, April lalu, Hembing juga meluncurkan 10 ribu kaset lagu
berjudul Nyanyian Sehat. Isinya, apa lagi kalau bukan tentang berbagai tip
cara hidup sehat dan manfaat tumbuhan obat. Simak saja judul-judulnya:
Sehat dengan Lidah Buaya, Jahe Merah, A pel Cantik Indah, Kulit Kacang
Tanah, Makan Enak, dll.
Bagi Ananda Moersid, maraknya paham New Age dan kecenderungan kembali ke
alam di Indonesia beberapa tahun belakangan ini lebih karena mengekor
kecenderungan serupa di negara-negara Barat ketimbang karena munculnya
kesadaran baru. "Masyarakat kita hanya me ngekor saja," ujar desainer
interior yang juga dosen Jurusan Desain Institut Kesenian Jakarta ini.
"Karena di Amerika menjadi tren, orang kita pun mengikutinya," lanjut dia.
Buktinya, kata Ananda, pengadopsi kecenderungan ini terutama berasal dari
kalanga n menengah-atas dan kaum terdidik, yang banyak terekspose budaya
dan pengetahuan Barat, atau malah pernah studi di luar negeri.
Dalam hal arsitektur bangunan dan desain interior, kecenderungan green
design ini mencoba meleburkan bangunan dengan alam di sekitarnya.
Arsitektur bangunan, misalnya, sengaja dibuat mengikuti kontur tanah.
Ruangan dibuat lebih lapang, tinggi dan terbuka.
Selain membuat sirkulasi udara lebih baik, sekaligus juga memberi
keleluasan dan ketenangan jiwa. Bahan-bahannya pun lebih banyak
menggunakan bahan natural, terutama kayu dan bambu. Interiornya
menggunakan batu-batu alam, atau keramik yang tak diglasur. Furniture-nya
cenderung lebih banyak dari kayu, dan lapisannya pun dari bahan-bahan
alamiah. Warna-warna alamiah seperti terakota juga menjadi pilihan.
Dalam membangun rumah, kini juga semakin banyak pemilik yang terlibat
langsung, termasuk dalam memilih bahan dan pembuatannya. Ambil contoh yang
dilakukan komposer kontemporer Tony Prabowo. Meski sibuk berkelana dari
satu negara ke negara lainnya, ia teta p mengontrol pembangunan rumahnya
lewat faksimile dan telepon internasional.
Para eksekutif pun tak ragu berburu pernik-pernik untuk rumahnya. Di
Galeri Widayanto di bilangan Depok, Jawa Barat, tak jarang kita jumpai
eksekutif muda yang tengah memilih keramik-keramik buatan tangan, lantai,
kloset, maupun benda-benda dekorasi lainn ya. Selain lebih natural,
keramik-keramik karya keramikus kontemporer F. Widayanto yang eksklusif
ini juga menampik keseragaman benda-benda buatan pabrik.
Malah, tak sedikit orang yang berkonsultasi dengan ahli hong sui dalam
merancang rumah dan bangunannya. Hong sui -- dalam ejaan Mandarin feng
swei -- secara harfiah berarti angin dan air. Inilah ilmu arsitektur
bangunan paling tua di dunia. Unsur utama ho ng sui adalah pintu, jendela,
kamar tidur, dapur dan tangga. Dalam menata hongsui ini, pakar hongsui
menggunakan metoda Ti Ching dan Yin Yang 5 unsur: air, api, logam, tanah
dan kayu. Intinya, pakar hong sui merancang dan menata semua unsur ini
agar sirku lasi angin, air dan cahaya menciptakan keseimbangan yin dan
yang dan membawa keberuntungan bagi penghuninya.
Salah satu pakar hong sui yang paling laris dimintai pendapatnya adalah
Kang Hong Kian, yang buka sejak 1979. Tak heran jika untuk berkonsultasi
dengannya Anda harus membuat janji dua minggu hingga sebulan sebelumnya.
Apalagi, Kang hanya buka praktek semi nggu sekali dan membatasi 5 klien
sekali praktek.
Tarif yang dikutip Kang pun lumayan tinggi: Rp 500 ribu untuk 30 menit.
Toh, kliennya -- kebanyakan kaum bisnis -- tak surut. Walhasil, pemasukan
Kang dari sini jelas lumayan menarik. Rata-rata klien menghabiskan waktu
1-1,5 jam setiap kali berkonsultasi,
alias rata-rata mengeluarkan Rp 500 ribu-1,5 juta. Ini berarti setiap
bulannya sedikitnya Kang mengantongi Rp 20-30 juta dari memberi konsultasi
langsung saja. Padahal, ia juga masih mendapat pemasukan dari
seminar-seminar, menulis buku dan kolom di Bisn is Indonesia serta siaran
di TPI (Serambi) tiap minggu.
Kang menampik jika dikatakan tarifnya terbilang tinggi. Menurutnya, tarif
seperti ini cukup sesuai dengan konsultasi yang diberikannya -- sekaligus
untuk membatasi jumlah klien yang datang kepadanya. "Saya kan juga perlu
waktu luang untuk melakukan berbag ai kegiatan lain," katanya. Apalagi,
Kang memang mengkhususkan diri untuk konsultasi hong sui bisnis. Sementara
untuk melayani kelompok masyarakat lain yang membutuhkan jasanya, Kang
berencana membuka layanan melalui Internet.
Bidang musik pun tak ketinggalan kena sentuhan New Age. Kegalauan batin
menghadapi zaman kalabendu rupanya melahirkan musik-musik bernuansa etnik
yang digali dari khazanah religi. Di tingkat dunia ada Kitaro. Komposer
asal Jepang ini mengeksplorasi musikn ya dari wacana alam: desir angin,
gemericik air, rintik hujan, alun riak, debur ombak dan gelegar guntur.
Musiknya yang banyak dipengaruhi mistisisme Buddhis mampu menciptakan
keheningan jiwa dan mengantarkan pendengarnya bermeditasi.
Di tingkat lokal, kita punya Emha Ainun Najib dengan Kyai Kanjeng dan Nyai
Kanjengnya, Djaduk Ferianto dengan Komunitas Kuaetnika dan Sudjiwo Tedjo
bersama Eksotika Karmawibangga Indonesia. Musik masing-masing sangat
dipengaruhi latar belakang keagamaan m ereka.
Emha yang jebolan pesantren, rupanya mencoba mengikuti jejak Sunan
Kalijaga melakukan syiar lewat gamelan. Nuansa keislamannya sangat kental.
Djaduk mencoba mengawinkan modernitas Barat dengan tradisionalisme Timur
lewat Kuaetnika. Bersama Aminoto Kosim, ia juga menjajal hal yang sama
lewat DwiWarna, yang dicomblangi stasiun televisi swasta RCTI. Adapun
Tedjo memainkan kata-kata menjadi bunyi ritmis, dipadu musik yang
dihasilkan dari adonan musik etnik dari berbagai daerah di Indonesia.
Sekilas mendengarnya pun kita tahu, musik kontemporer mereka lebih
merupakan media pencarian dan pembebasan dari kesumpekan yang membelenggu
mereka. Bahkan Djaduk tak ragu memberi label Nangningnong Orkes Sumpeg
pada rekaman musik bersama Kuaetnikanya.
Sebagai musik eksperimental, produk mereka memang sulit dipasarkan. Namun,
bukan berarti sama sekali tak dibisniskan. Selain pentas khusus, mereka
juga kerap ditanggap. Emha bersama Kyai Kanjeng dan Nyai Kanjengnya,
misalnya, kerap tampil di acara-acara p eluncuran produk. Begitu pula
Kuaetnika, yang juga banyak manggung di kampus dan kafe-kafe.
Keduanya juga memproduksi kaset dan CD. Dengan biaya Rp 21 juta, Djaduk
mengaku memproduksi 2 ribu keping CD dan kaset yang dipasarkannya lewat
jalur khusus, seiring pementasan-pementasan mereka. Prakrismon, CD ini
dijual seharga Rp 30 ribu, tapi terpaksa
dinaikkan menjadi Rp 80 ribu setelah digebuk krismon. Menurut Djaduk,
kini CD-nya sudah terjual sekitar 1.000 keping. "Kebanyakan beredar di
luar negeri," katanya. Sementara kasetnya sudah habis dan baru akan
diproduksi ulang.
Meski mengaku biaya produksi kaset dan CD-nya sudah tertutup dalam tempo 6
bulan, Djaduk menyebut motif penjualan kaset dan CD ini bukan bisnis.
"Saya lebih mencari kepuasannya. Efek bisnisnya masih sampingan," ujarnya.
Tedjo pun mengaku musiknya cukup mendapat apresiasi, terutama oleh mereka
yang tak terlalu rasional. "Orang-orang yang berpandangan bahwa hidup tak
semata terdiri dari pikiran, melainkan juga rasa, bisa menerima dan
membeli musik saya," tuturnya. Pendenga rnya pun sangat beragam, dari
tukang becak hingga kalangan berdasi.
Kini rata-rata Tedjo naik pentas seminggu sekali, di Bandung, Cirebon,
Yogyakarta, dan kota-kota lain. Bahkan juga ke Mongolia, Juni ini. Menurut
Aldi dari Eksotika Karmawibangga Indonesia, manajemen pagelaran Tedjo,
untuk sekali pagelaran Tedjo biasa men erima Rp 7-10 juta. "Tapi, bisa
juga gratisan untuk acara-acara amal," katanya. Selain itu, Tedjo juga
telah meluncurkan album berjudul Pada Suatu Ketika, yang diproduksi 50
ribu kaset dan CD, dan sudah terjual sekitar 30 ribu keping. Ini terbilang
presta si besar, mengingat untuk jenis-jenis musik alternatif, biasanya
paling-paling terjual 4 ribu keping.(o)
Teguh P.
Reportase: Teguh S. Pambudi, Nur Iswan, Maulana Yudiman & Dedi Chumaidi.
Riset: A. Windarto & Suryadi Sulthan.
----- End of forwarded message from SWA Sembada -----
----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----