[INDONESIA-L] Perspektif Khusus-1:

From: apakabar@Radix.Net
Date: Fri Apr 16 1999 - 16:27:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Fri Apr 16 19:06:46 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id TAA19262
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Fri, 16 Apr 1999 19:06:45 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id TAA05186
        for <apakabar@radix.net>; Fri, 16 Apr 1999 19:06:43 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id RAA04611; Fri, 16 Apr 1999 17:05:50 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Fri, 16 Apr 1999 17:05:50 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id RAA04594; Fri, 16 Apr 1999 17:05:42 -0600 (MDT)
Date: Fri, 16 Apr 1999 17:05:42 -0600 (MDT)
Message-Id: <199904162305.RAA04594@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] Perspektif Khusus-1: Bayang-bayang Generasi Hilang
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

From: "Perspektif" <perspektif@softhome.net>
To: "John A MacDougall" <apakabar@saltmine.radix.net>
Subject: Perspektif Khusus-1: Bayang-bayang Generasi Hilang
Date: Fri, 16 Apr 1999 13:41:56 +0700

Bayang-bayang Generasi Hilang

Kerawanan pangan dan gizi mewabah di semua daerah. Bakal muncul generasi
rendah intelegensia dan rentan penyakit?

Perspektif No. 25, Khusus-1#4 --- Sudah seminggu Supadmi menderita diare
dan sesak napas. Bayi berusia dua tahun itu selalu mencret-mencret setiap
kali selesai diberi makan atau minum ibunya. Setelah dirawat tiga hari di
Rumah Sakit Sragen, Jateng, Supadm i pun tak tertolong dan menghadap Sang
Khalik.

Supadmi hanyalah satu dari ratusan balita yang meninggal dan terdeteksi
kalangan medis. Ratusan bahkan ribuan Supadmi lain sangat mungkin tidak
sempat terlacak penyebab kematiannya. Yang jelas, defisiensi nutrisi
berkepanjangan kini sedang menjangkiti jut aan anak balita Indonesia.
Krisis ekonomi memperbesar jumlah anak-anak yang mengalami kekurangan gizi
kronis, dengan risiko kematian dan gangguan pertumbuhan otak.

Tahun lalu, Kepala Perwakilan Unicef Indonesia dan Malaysia, Stephen J
Woodhouse mengatakan, kondisi gizi anak-anak Indonesia rata-rata lebih
buruk dibanding gizi anak-anak dunia dan bahkan juga dari anak-anak
Afrika. Sebelum krisis menerpa, 8,5 juta anak (37% dari 23 juta anak)
Indonesia diketahui kurang berat badannya dan menderita kekurangan
mikronutrien seperti zat besi (Fe), seng (Zn) dan Vitamin A. Jumlah
kematian anak per tahun akibat kekurangan gizi itu mencapai 147 ribu jiwa
dan separuh lebih di antaranya adalah balita. Yang bertahan, diperkirakan
mengalami penurunan kecerdasan (IQ) hingga 10%.

Bisa dibayangkan, selama krisis berapa banyak lagi anak yang mengalami
Kurang Energi dan Protein (KEP) tingkat berat alias menderita marasmus
kwasiorkhor, jika pada saat yang sama jumlah orang miskin membengkak dari
17 juta menjadi 80 juta jiwa. Karlina L eksono, Koordinator Suara Ibu
Peduli (SIP) mengutip Unicef, menunjuk lonjakan jumlah anak kurang gizi
yang meledak sampai 17 juta jiwa. Akibat konsumsi gizi yang rendah ini,
akan menurunkan IQ rata-rata 10-15 poin.

Jika IQ rata-rata anak normal adalah 110, maka kelak pada saat dewasa IQ
anak-anak kurang gizi itu paling banter cuma 95 poin. Itulah sebabnya,
Menteri Kesehatan Prof Dr Farid Anfasa Moeloek pernah mengingatkan, jika
masalah ini tak ditangani serius, stat us gizi anak Indonesia akan kembali
ke situasi tahun 1970-an.

Teori Gunung Es

Celakanya, sikap aparat pemerintah seperti menutup-nutupi besarnya masalah
rawan gizi ini. Jadinya, penanganan masalah ini menganut teori "gunung
es". Artinya, kasus yang mencuat hanya sedikit dari sekian banyak korban
yang tak terpantau. Padahal sejak aw al tahun 1998, kejadian bayi
meninggal akibat busung lapar di beberapa daerah tingkatnya mulai menyamai
peristiwa tahun 1973 tatkala Hunger Oedema (HO) mewabah dan ribuan korban
berjatuhan. Data Survai Status Sosial Nasional (Sussenas) 1995 sendiri
sudah menyebutkan, 35% dari jumlah balita Indonesia kekurangan gizi dan 5%
di antaranya berstatus gizi buruk.

Korban cukup banyak dan meluas sudah terdata. Di Banyumas, Jateng, tahun
lalu dilaporkan 407 balita meninggal, sebagian besar awalnya karena
kekurangan gizi. Di Jakarta dan Tangerang ditemukan kasus 5.000 balita
bergizi buruk. Di Sulawesi Selatan, banyak rumah sakit yang menerima
pasien bayi kurang gizi sudah dalam keadaan sangat gawat sehingga tak
terselamatkan. Demikian pula di Aceh, Sumatera Barat, NTB, NTT, Jabar,
Jateng, Yogya dan Lampung.

Untuk situasi temporer seperti banjir dan kemarau panjang saja, dampak
yang dirasakan penduduk miskin sudah demikian besar. Logikanya, krisis
ekonomi yang berlangsung hampir dua tahun dan menyebabkan 40 juta penduduk
rawan pangan (dari 80 juta penduduk mi skin), tidak menyembunyikan "fakta
di bawah permukaan" atau baru ditangani setelah kasusnya meledak secara
nasional.

Di seluruh kabupaten di Jatim kecuali Probolinggo, Pasuruan dan Madiun,
menurut Kepala Kanwil Departemen Kesehatan setempat Dr Udin Muhamad
Musliamin, kondisi rawan gizi yang mengarah busung lapar telah menjangkiti
warga termasuk balita. Penduduk kurang g izi itu gampang dideteksi dari
banyaknya penderita penyakit diare (mencret-mencret), infeksi saluran
pernapasan (ispa), TBC kronis dan pembengkakan beberapa bagian tubuh.

Lebih parah lagi, data dari petugas lapangan dan instansi resmi tidak
akurat dan cenderung mengecilkan keadaan sebenarnya. "Barangkali ini
menyangkut prestise daerah," kata GKR Hemas, Ketua Gerakan PKK Yogyakarta
yang aktif menangani kasus rawan gizi pada ibu-ibu hamil dan balita.
Berdasarkan pengamatannya, kasus-kasus gawat baru muncul setelah jatuh
korban. Kalau belum, ya itu tadi, dilaporkan aman-aman saja.

Hal ini dibenarkan Dr Muhadjir Darwin, peneliti dari Pusat Penelitian
Kependudukan UGM. "Aparat birokrasi seperti bingung mau berbuat apa.
Mereka sudah dilepaskan dari sentralisasi, tapi belum terbiasa mengambil
inisiatif dan tidak responsif terhadap kris is. Mungkin karena uangnya
tidak lewat mereka," katanya.

Program Pemerintah

Sejak Oktober tahun lalu, pemerintah lewat Bappenas mengucurkan dana Rp
1,4 triliun untuk program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK).
Dana ini tidak disalurkan lewat aparat tapi melalui PT Pos agar bisa
langsung dikelola para dokter Puskesmas dan bidan desa di 314 kabupaten di
seluruh Indonesia.

Program ini bertujuan membantu biaya pelayanan kesehatan dasar dan rujukan
bagi keluarga miskin dengan prioritas wanita (hamil, bersalin, nifas) dan
anak-anak di bawah usia dua tahun (baduta). Untuk setiap bayi usia 6-24
bulan dari keluarga miskin yang ju mlahnya 2,7 juta jiwa diberi bahan
makanan senilai Rp 750 per hari selama enam bulan. Sedangkan untuk 526.798
ibu hamil dan nifas diberikan dana sebesar Rp 1.000 per hari.

Jadi, untuk program ini saja bakal diserap dana senilai Rp 250 miliar dari
Rp 1,4 triliun bantuan Bank Pembangunan Asia itu. Artinya, intervensi gizi
oleh pemerintah itu dapat menyelamatkan jutaan bayi dari ancaman kurang
gizi. Tentu saja, jika dananya ti dak dikorupsi birokrasi.

Sebenarnya, Indonesia dipuji dunia internasional karena berhasil
menurunkan tingkat prevalensi KEP balita secara signifikan rata-rata 2%
per tahun. Namun datangnya krisis meningkatkan kembali prevalensi KEP
balita, setelah sempat mencapai angka 30% tahun 1997 dari 41,7% tahun
1992.

KEP tingkat berat ditandai dengan: badan anak kurus, pertumbuhan
terhambat, kulit pucat dan rambut merah. Anak marasmus wajahnya keriput
mirip orang tua sedang kwashiorkor wajahnya mengalami pembengkakan
(oedema), juga tangan, kaki dan perut. Untuk memuli hkan kondisi fisik
balita yang menderita KEP berat ini diperlukan waktu minimal enam bulan.
Sedang untuk mengembalikan dampak kekurangan gizi diperlukan waktu 5-10
tahun.

Angka kematian penderita KEP berat ini sangat tinggi karena pasien
biasanya juga terserang penyakit infeksi pernafasan atau diare akibat
rendahnya daya tahan tubuh. Apalagi, di samping KEP, seperti telah
disebutkan di muka, kebanyakan balita juga menderit a malnutrisi berupa
kekurangan mikronutrien.

Celakanya, semuanya membawa efek gangguan kecerdasan dan pertumbuhan anak.
Menyia-nyiakan masalah ini sama artinya membiarkan terjadinya generasi
yang hilang (lost generation) di masa mendatang.

l ardi,roni,edy

-----------------------

Bertarung Melawan Busung Lapar

Melonjaknya harga susu dan bahan pangan membuat ibu-ibu putus asa.
Ternyata, bahan pangan lain masih banyak tersedia

Tidak semua orang miskin gampang menyerah. Hasil survei Pusat Penelitian
Kependudukan (PPK) UGM di Klaten, Jateng memperlihatkan, 93% responden
mengatakan mampu mengatasi krisis dengan cara mereka sendiri. Hanya 3%
yang menyatakan pasrah dan sisanya tak bisa menjawab.

Menurut Dr Muhadjir Darwin, peneliti PPK, kebanyakan masyarakat miskin itu
mengadaptasi krisis dengan cara mengurangi ongkos makan. Mereka mengubah
menu dari beras ke ketela atau gaplek. Lalu menghindari makanan gorengan
seperti telur atau daging. Atau, m engurangi frekuensi makan dari tiga
kali menjadi dua kali sehari. "Kami pernah memberi beras, minyak goreng
dan bahan pangan lain di Imogiri, Bantul. Tapi, ya itu, nggak dikonsumsi
tapi dijual lagi oleh penduduk untuk ditukar dengan ketela," tutur Muhadji
r.

Di Temanggung dan Wonosobo (Jateng) atau di Ponorogo dan Pacitan, (Jatim),
sudah setahun ini penduduk mengkonsumsi sredek/gobet (ketela diparut) dan
tiwul (gaplek ditumbuk halus). Bahkan penduduk di beberapa desa di
Kecamatan Krincing, Ponorogo terbiasa m engkonsumsi umbi pisang
bertahun-tahun. Jagung tak terbeli karena harganya hanya selisih sedikit
dengan beras yakni Rp 1500 - Rp 2000 per kg. Akibatnya, banyak orang
meninggal karena menderita kekurangan gizi menahun yang sangat parah.

Kreativitas mengatasi krisis model tersebut memang bukan sesuatu yang aneh
di kalangan masyarakat miskin di pedesaan Jatim dan Jateng. Cuma soalnya,
jika hal serupa diterapkan untuk anak-anak balita, bisa dibayangkan betapa
parah tingkat kerawanan gizi da n gangguan pada pertumbuhan dan kecerdasan
anak-anak.

Kelaparan Tersembunyi

Di Sragen, Jateng, belum lama ini ditemukan kasus tiga anak menderita
busung lapar (HO). Juga banyak ditemui anak-anak usia 4 tahun tapi berat
badan dan perkembangannya sama dengan anak usia 2 tahun. "Tiga dari setiap
anak balita pertumbuhannya lamban dan ibu-ibu mengeluh sering sekali
pusing-pusing. Setelah kita teliti, makanan mereka memang cuma
karbohidrat, singkong saja. Tak ada proteinnya," kata Henny Yudea, aktivis
LSM Lembaga Studi Kesehatan, Yogyakarta.

Di DI Yogyakarta, jumlah balita yang mengalami Kekurangan Energi dan
Protein (KEP) berat tahun lalu mencapai 3.711 jiwa, sedang di Jatim bulan
Desember 1998 tercatat 11.733 jiwa. Menurut Ny Soeharsono, Ketua Tim
Penggerak PKK Jatim, balita yang mengalami kurang gizi itu tak hanya di
pedesaan tapi juga di perkotaan. "Karena orang tuanya kena PHK, jadi nggak
mampu memberi makan anaknya secara layak."

Itu adalah angka-angka resmi. Sebab berdasar taksiran lembaga-lembaga
internasional dan LSM, jumlah penduduk dan balita yang mengalami
"kelaparan tersembunyi" jauh lebih besar dari data itu.

Menurut Dr Dini Latief MSc, Kepala Direktorat Gizi Departemen Kesehatan,
pada masa krisis ini yang paling menderita memang ibu-ibu hamil dan
balita. Lemahnya daya beli membuat susu dan makanan bergizi tak terbeli.
"Ibu-ibu mestinya tak usah putus asa dan jangan tergantung makanan pabrik.
Jadi pemberian uang Rp 750 per hari dari pemerintah untuk tambahan makanan
balita dan Rp 1000 untuk ibu-ibu (hamil, nifas, menyusui) itu, harus
pandai-pandai dimanfaatkan," katanya.

Ia memberi contoh, dengan uang sebesar itu balita bisa diberi bubur plus
tahu atau tempe yang disaring atau potensi bahan makanan lokal lain yang
punya nilai gizi tinggi. Juga pekarangan bisa ditanami pisang sehingga
bayi bisa memperoleh makanan tambahan. "Memang uang itu tak akan cukup
kalau dibelikan makanan di warung," tambahnya.

Dini memuji kreativitas ibu-ibu di Madura yang karena sangat miskinnya,
mencampurkan minyak kelapa ke dalam nasi. "Itu cerdas, karena nasinya
menjadi gurih dan tinggi kalorinya karena minyak kan mengandung lemak."
Jadi kalau hanya ada singkong, tambahkan parutan kelapa atau gula merah.

Meramu Bahan Lokal

Prof FG Winarno, dari Pusat Pengembangan Teknologi Pangan, IPB Bogor,
malah menyarankan agar anak-anak balita yang rawan gizi itu diberi
kecambah dari bahan kacang-kacangan. "Kacang-kacangan yang dikecambahkan
itu kadar protein dan vitaminnya naik berlipa t-lipat. Setiap satu sel
kecambah, mampu melakukan reaksi enam triliun per detik. Dari penelitian,
tikus-tikus yang diberi kecambah, pertumbuhannya luar biasa," katanya.

Misteri kecambah ini sangat mencengangkan Prof Winarno. Kacang yang
dikecambahkan, kandungan vitamin A,B dan C-nya meningkat mulai dari 2,5
sampai 300%. "Misteri alam ini luput dari perhatian kita. Padahal dia siap
cerna dan menyediakan semua kebutuhan gi zi yang diperlukan makhluk
hidup."

Boleh jadi, resep Prof Winarno ini bisa meringankan ibu-ibu PKK atau
petugas lapangan pos pelayanan terpadu (posyandu) yang setiap kali selalu
direpotkan untuk membuat bubur kacang hijau atau makanan suplemen untuk
ibu-ibu hamil atau balita. Sebagai pengg antinya, cukup rendam kacang
hijau, kacang tanah, kedelai atau jenis kacang-kacangan lain.

Lagi pula, sudah menjadi tradisi di pedesaan, banyak keluarga yang mampu
melakukan pemenuhan gizi dengan meramu bahan lokal yang tersedia. Caranya,
antara lain dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk berbagai jenis
tanaman. Dan kreativitas yang dikenal sebagai village women wisdom itu
menjadi penting artinya ketika daya beli melemah dan krisis tak kunjung
usai.

l ardi,dina,nurul,roni

------ box --------

Korban Perspektif Gender (Karlina Leksono)

Banyak cerita menarik di seputar penyaluran dan pemanfaatan dana JPS
kesehatan untuk ibu-ibu dan balita. Selain ada kemungkinan "disunat" atau
tak mencapai sasaran, bantuan bahan pangan senilai Rp 750 untuk balita dan
Rp 1000 untuk ibu-ibu per hari itu pa da kenyataannya menyulitkan aparat
lapangan terutama yang bertugas di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

Aneka penyuluhan dan pengarahan sudah dilakukan. Tapi data yang masuk
biasanya selalu tidak menggambarkan realitas yang sebenarnya. Selain
keterbatasan biaya dan waktu, seperti dikatakan GKR Hemas, istri Sri
Sultan Hamengkubuwono X, ibu-ibu PKK memang ter lalu banyak mendapat
titipan program dari pemerintah pusat.

Di sebuah desa di Sumbar ada cerita lucu, uang Rp 750 yang mestinya untuk
membeli makanan, dikalahkan kemauan sang bapak yang lebih membutuhkan
sebatang rokok. Ada lagi kasus lain di daerah Cirebon. Uang Rp 1000 untuk
ibu hamil dikumpulkan petugas Posyand u selama satu minggu lalu dibelikan
200 gram susu bubuk yang diperkirakan cukup untuk dua minggu. Ternyata,
yang minum susu bukan hanya si ibu, tapi juga anak-anaknya yang lain.
Jadinya, susu itu hanya cukup untuk dua hari saja. "Kasihan anak-anak.
Saya n ggak tega minum susu sendiri," kata si ibu.

"Perspektif gender kita itu lemah. Dalam budaya kita, jika tiba giliran
makan maka yang pertama menyuap adalah anak, lalu bapak dan terakhir kalau
ada sisanya baru ke ibu," kata Karlina Leksono, Koordinator Suara Ibu
Peduli. l wid

===================================

Belajar dari Etiopia

Bumi ini sangat kaya, namun tak cukup kaya untuk orang yang serakah.
(Mahatma Gandhi _ 1869-1948)

Roma, 14 November

1985, Soeharto berbicara di sebuah forum Organisasi Pangan dan Pertanian
(FAO), PBB, sebagai wakil negara-negara Selatan (berkembang) yang sukses
berswasembada pangan. Soeharto dianggap, berdasarkan kata-katanya
sendiri, sebagai "pemimpin rakyat yang baru berhasil memecahkan pers oalan
yang paling besar bagi lebih dari 160 juta mulut".

Pada acara ulang tahun FAO ke-40 itu, Soeharto juga menghadiahkan 100 ribu
ton beras kepada para penduduk Afrika yang kelaparan. Ini semua untuk
mengukuhkan keberhasilannya sebagai seorang petani dari desa Kemusuk yang
berhasil membawa bangsanya ke sebuah era swasembada beras.

Ketika itu, tentunya, tak seorang pun yang membayangkan bahwa kini, hampir
15 tahun kemudian, Indonesia akan kembali menghadapi masalah rawan gizi
dan rawan pangan. Jutaan balita kekurangan gizi dan hampir setengah dari
keseluruhan penduduk kekurangan pan gan.

Pengalaman Etiopia

Situasi pangan di Indonesia memang belum separah wabah kelaparan yang
secara kronis dialami sejumlah negara Afrika. Namun situasi ekonomi dan
politik yang terjadi di Indonesia kini mengingatkan kita akan Etiopia pada
1991.

Pertengahan tahun 1991, pemerintahan marxis Etiopia di bawah kepemimpinan
Presiden Mengistu Haile Mariam digulingkan oleh kelompok-kelompok
pemberontak. Presiden Mengistu yang korup dan bengis mengungsi ke
Zimbabwe, sementara pemerintahan sementara dipimp in oleh Presiden Males
Zenawi dari Partai Revolusioner Rakyat Etiopia.

Bank Dunia, IMF dan negara-negara Barat seakan berlomba memuji
pemerintahan baru, yang dikatakan "memberi harapan-harapan baru akan masa
depan Etiopia". Sejumlah petinggi Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), dipimpin
oleh Menteri Kerjasama Pembangunan Belanda J Pronk, berkunjung ke Addis
Ababa, ibukota Etiopia. Pronk, yang pernah berkunjung ke Indonesia sebelum
meletusnya Peristiwa Malari pada 1974, tak sungkan-sungkan menunjukkan
optimismenya tentang pemerintahan baru Etiopia. Ia begitu yakin bahwa
pemerintah baru ini akan menerapkan kebijakan ekonomi yang lebih
berorientasi pasar dan kebijakan politiknya pun akan lebih demokratis.

Berbagai LSM internasional sibuk mengunjungi Etiopia dan membuka cabang
operasionalnya di negeri dengan peradaban tua tersebut. Mereka berusaha
membantu menyelamatkan sekitar 7,3 juta rakyat Etiopia yang kelaparan.
Namun situasi yang berkembang di Etiopia kian mempersulit upaya
kemanusiaan itu, sementara rencana pemulihan ekonomi oleh pemerintah baru
dihambat oleh berbagai kerusuhan sosial dan politik.

Konflik rasial marak di mana-mana, sementara unjuk rasa menentang
pemerintah yang baru juga seolah tak pernah henti. Semua ini tidak hanya
mempersulit penyaluran bantuan kepada rakyat yang lapar, tetapi juga
menciptakan suasana mencekam di mana-mana.

Di televisi acara yang paling banyak disiarkan adalah caci-maki para
mantan tahanan politik terhadap rezim marxis.

Akibatnya, hanya dalam waktu dua bulan, sekitar seribu warga Etiopia mati
akibat lapar atau kekurangan fasilitas kesehatan. Dan diperkirakan lebih
dari 200 ribu orang yang meninggal selama masa transisi pemerintahan itu.
Baik karena kekurangan pangan, pen yakit maupun karena perang antara
kelompok-kelompok yang bertikai.

Indonesia memang bukan Etiopia. Negeri kepulauan yang luas ini tidak hanya
memiliki 207 juta penduduk, tetapi juga kaya akan sumber daya alam. Selain
itu, tidak seperti Etiopia yang kering kerontang, bumi Nusantara sangat
subur. Namun penjarahan terhadap petani oleh penguasa dan keluarganya yang
serakah dan kerusuhan politik dan sosial yang berkepanjangan bisa
menjadikan negeri ini yang kaya ini "Etiopia" di benua Asia.

----- End of forwarded message from Perspektif -----

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----