[INDONESIA-L] WE - Koperasi atau Ko

From: apakabar@Radix.Net
Date: Tue Apr 13 1999 - 15:15:00 EDT


----- Forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Apr 13 17:46:52 1999
Return-Path: <owner-indonesia-l@indopubs.com>
Received: from mail1.radix.net (mail1.radix.net [209.48.224.31])
        by saltmine.radix.net (8.8.7/8.8.7) with ESMTP id RAA23084
        for <apakabar@saltmail.radix.net>; Tue, 13 Apr 1999 17:46:52 -0400 (EDT)
Received: from indopubs.com (indopubs.com [192.41.9.64])
        by mail1.radix.net (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id RAA04190
        for <apakabar@radix.net>; Tue, 13 Apr 1999 17:46:52 -0400 (EDT)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id PAA09456; Tue, 13 Apr 1999 15:57:14 -0600 (MDT)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Tue, 13 Apr 1999 15:57:13 -0600
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id PAA09427; Tue, 13 Apr 1999 15:57:05 -0600 (MDT)
Date: Tue, 13 Apr 1999 15:57:05 -0600 (MDT)
Message-Id: <199904132157.PAA09427@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] WE - Koperasi atau Komglomerasi
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

X-URL: http://www.wartaekonomi.com/we10/46kome.htm
   
                         KOPERASI ATAU KONGLOMERASI
   
   
   Pande Radja Silalahi
   
   
   Untuk keluar dari krisis dan untuk melanjutkan pembangunan ekonomi
   --bila Indonesia berhasil keluar dari krisis-- usaha besar dan/atau
   konglomerasi tetap dibutuhkan
   
   
   Sejak Indonesia dilanda oleh krisis ekonomi pada paro kedua 1997,
   berbagai macam perkembangan telah terjadi dan dari perkembangan itu
   beraneka ragam pelajaran yang dapat dipetik. Sebagai akibat krisis
   ekonomi, sebagian (besar) masyarakat dewasa ini beranggapan bahwa
   usaha konglomerasi adalah biang keladi utama dari terjadinya krisis
   ekonomi. Dengan demikian, untuk masa yang akan datang, ekonomi
   Indonesia tidak dapat lagi bertumpu pada bentuk usaha konglomerasi
   atau usaha besar. Sayangnya, dalam situasi yang sangat sulit untuk
   membela usaha konglomerasi atau usaha besar muncul tawaran yang sangat
   menggiurkan yaitu menggerakkan usaha kecil, atau membangun kembali
   koperasi melalui penerapan ekonomi rakyat (kerakyatan).
   
   Tidak dapat disangkal bahwa keserakahan pengusaha besar atau
   konglomerat telah menjadikan ekonomi Indonesia mengalami masalah yang
   sulit dicari jalan keluarnya. Keserakahan para pengusaha besar
   dan/atau konglomerat meminjam modal dari luar negeri tanpa melakukan
   tindakan lindung nilai, ketamakan mereka mengerahkan dana dari
   masyarakat melalui usaha bank untuk kepentingan usaha mereka sendiri
   tanpa didasarkan pada perhitungan matang, telah mengakibatkan ekonomi
   Indonesia terpuruk dan sangat sulit keluar dari keterpurukan itu. Yang
   lebih celaka lagi, beberapa konglomerat dalam usahanya telah melakukan
   praktek "kotor" dengan memanfaatkan kedekatannya dengan para pembuat
   keputusan atau pemegang kekuasaan. Dosa yang dilakukan oleh para
   konglomerat tampaknya telah menjadikan sebagian masyarakat bersifat
   apriori terhadap usaha konglomerasi. Banyak di antara mereka menjadi
   lupa bahwa beberapa negara tertentu telah berhasil dengan baik
   menciptakan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya setelah berjuang
   keras untuk memelihara dan bahkan mengembangkan usaha konglomerasi.
   
   Langkah pertama yang dilakukan oleh Jenderal Mac Arthur setelah
   menaklukkan Jepang pada Perang Dunia Kedua adalah membubarkan usaha
   konglomerasi Jepang (zaibatsu) dengan berbagai argumen termasuk
   argumen untuk menegakkan demokrasi. Sebagai bangsa yang kalah perang,
   Jepang dapat menerimanya untuk sementara. Namun, begitu tekanan
   Amerika mengendur, Jepang kembali membangun usaha dalam bentuk
   konglomerasi atau membangun usaha besar. Langkah yang ditempuh oleh
   Jepang kemudian diikuti oleh Korea Selatan, dan negara ini pun dapat
   dikategorikan sebagai salah satu negara yang berhasil membangun
   negerinya. Dengan mengemukakan contoh keberhasilan ini, yang ingin
   dikemukakan adalah usaha besar atau usaha konglomerasi tidak perlu
   dijadikan (menjadi) hantu yang harus ditakuti. Usaha konglomerasi
   mempunyai kekuatan dan kelemahan tertentu. Kekuatannya dapat
   dikembangkan dan kelemahannya dapat diredusir dengan berbagai cara.
   
   Salah satu kekuatan yang menonjol dari usaha konglomerasi adalah
   kemampuannya bersaing karena mampu menekan biaya melalui pemanfaatan
   skala ekonomi. Selain itu, usaha konglomerasi dapat dianggap kenyal
   menghadapi risiko bisnis dari bergulirnya "daur hidup" dari suatu
   produk atau jasa yang dihasilkan.
   
   Keterpurukan uasaha besar atau usaha konglomerasi ternyata telah
   membangkitkan semangat sebagian masyarakat untuk meningkatkan usaha
   koperasi. Bahkan ada yang beranggapan bahwa ekonomi Indonesia harus
   secara sungguh-sungguh diarahkan agar berbasis koperasi karena itulah
   yang sesuai dengan amanat UUD 1945.
   
   Becermin dari pengalaman sejak Indonesia merdeka sampai saat ini,
   sungguh layak untuk mempertanyakan apakah bangun usaha koperasi akan
   dapat dijadikan sebagai basis bagi pengembangan ekonomi Indonesia.
   Apakah koperasi dapat digunakan sebagai bentuk usaha yang dapat
   berkompetisi dalam era globalisasi seperti sekarang?
   
   Secara emosional, tanpa didukung oleh bukti empiris yang dapat
   dipertanggungjawabkan, seseorang dengan mudah mengatakan bahwa usaha
   kecil dan/atau koperasi ternyata lebih kenyal menghadapi krisis yang
   terjadi. Tanpa menghitung berapa perusahaan kecil yang bangkrut, tanpa
   membuat statistik mengenai kegiatan koperasi, masyarakat hendak
   diyakinkan bahwa mengembangkan usaha kecil/koperasi adalah
   satu-satunya jawaban agar Indonesia keluar dari krisis ekonomi, dan
   kemudian dapat melanjutkan pembangunan ekonomi.
   
   Dengan terjadinya krisis ekonomi, hampir dapat dipastikan jumlah
   pengusaha kecil akan meningkat ke bidang ini karena mereka kehilangan
   pekerjaan. Di sisi lain, volume pasar yang menjadi lahan pengusaha
   kecil cenderung meningkat karena pola konsumsi masyarakat mengalami
   perubahan. Sebagian dari mereka yang sebelum krisis ekonomi berbelanja
   di supermarket, setelah krisis mau tidak mau harus kembali berbelanja
   ke pasar tradisional atau warung-warung. Kalau hal seperti ini yang
   terjadi, sangat besar kemungkinan bahwa pengusaha kecil bukannya
   bertambah tangguh sehingga dapat diandalkan.
   
   Data statistik yang ada menunjukkan bahwa sebelum krisis ekonomi
   produktivitas perusahaan besar/konglomerasi jauh lebih besar daripada
   produktivitas usaha kecil atau koperasi. Kalau keadaan ini hendak
   diubah dibutuhkan usaha tertentu yang makan waktu dan membutuhkan
   biaya yang tidak kecil.
   
   Berbagai indikator ekonomi menunjukkan bahwa agar Indonesia dapat
   keluar dari krisis ekonomi atau melanjutkan usaha pembangunan
   ekonominnya, maka penggalakan ekspor harus dilakukan. Untuk itu
   Indonesia harus secara jeli memilih komoditas yang akan dijadikan
   andalan. Berbagai jenis komoditas andalan sudah dapat diidentifikasi
   yaitu komoditas yang memanfaatkan sumber daya alam termasuk kehutanan
   dan pertambangan serta komoditas yang dihasilkan dengan memanfaatkan
   tenaga kerja yang relatif murah. Penggalakan ekspor dalam kenyataannya
   akan membutuhkan perusahaan besar atau konglomerasi. Dapat dipastikan
   bahwa sampai beberapa tahun yang akan datang, yang namanya koperasi
   atau usaha kecil belum akan dapat menggantikan peran perusahaan besar
   dalam melakukan kegiatan ekspor. Untuk hal ini kita berharap agar
   tidak ada anggota masyarakat atau pejabat pemerintah yang munafik atau
   sengaja untuk maksud-maksud tertentu berani berbohong.
   
   Dengan mengemukakan hal ini, kiranya menjadi jelas bahwa untuk keluar
   dari krisis dan untuk melanjutkan pembangunan ekonomi--bila Indonesia
   berhasil keluar dari krisis--usaha besar dan/atau konglomerasi tetap
   dibutuhkan. Malahan mungkin dapat dikatakan bahwa sikap apriori
   terhadap perusahaan besar akan menjadi bumerang bagi Indonesia. Di
   pihak lain, sikap bermanis-manis dengan koperasi atau usaha kecil
   perlu ditanggapi secara kritis. Bila kita benar-benar berkeinginan
   mengembangkan usaha kecil, atau benar-benar mau menempatkan koperasi
   dalam posisi yang tepat, maka segala tindakan yang hendak dilakukan
   harus didasarkan pada keberadaan dari usaha kecil dan koperasi itu
   sendiri. Sejak dahulu dan khusus menjelang pemilihan umum, makin
   banyak orang yang berlindung di bawah ketiak si kecil tanpa mau
   mencium bau ketiak si kecil itu. Selanjutnya, makin banyak orang yang
   ingin menjadi pahlawan termasuk menjadi pahlawan Robinhood sekalipun.
   
     _________________________________________________________________
   
   Didik J. Rachbini
   
   
   Perusahaan besar tetap hidup tetapi bukan konglomerasi, karena
   kecenderungan konglomerasi adalah menghilangkan banyak peluang pelaku
   lainnya
   
   
   Setelah ke Amerika Serikat dan bertemu banyak pejabat di sana, Amien
   Rais tampaknya banyak berubah. Salah satu pandangannya tidak lain
   adalah masalah konglomerasi yang, menurut dia, dianggap tetap boleh
   eksis dan beroperasi di Indonesia tetapi dengan tetap dikontrol.
   
   Pertanyaannya, konglomerasi seperti apa yang boleh dan kontrol macam
   apa yang akan dilakukan? Pernyataan itu tampaknya lebih bersifat
   sebagai komoditas politik untuk persiapan andaikan Amien Rais terpilih
   sebagai presiden. Namun, berdasarkan fakta-fakta yang ada, maka
   sebenarnya partai mayoritas mutlak tidak akan ada sehingga koalisi
   dengan lainnya tetap dipandang perlu untuk dilakukan. Peluang sebagai
   presiden sendiri juga masih menjadi pertanyaan besar.
   
   Pernyataan itu akhirnya secara politis menimbulkan masalah karena
   konglomerasi yang hidup di bumi Indonesia adalah sisa-sisa kerangka
   dari reruntuhan krisis yang telah terjadi. Bahkan sebelum krisis pun
   perusahaan-perusahaan swasta Indonesia dikenal dengan sebutan highly
   leverage firm alias banyak utang dan bermodal dengkul. Tidak krisis
   pun konglomerat-konglomerat itu akan tetap rontok--apalagi pada masa
   krisis seperti sekarang. Apakah ini yang diandalkan sebagai pemain
   ekonomi di masa mendatang?
   
   Jika ini diangkat sebagai pelaku utama, maka persoalan akan timbul
   lagi karena corak konglomerasi yang ada sekarang bersifat semu dan
   penuh kekeroposan. Tidak hanya itu, konglomerasi di Korea Selatan
   pun--yang mengintegrasikan kegiatan bisnis dari hulu ke hilir dan dari
   kanan ke kiri--juga banyak kelemahan sehingga tidak lepas dari
   serangan krisis flu Asia yang berjangkit sekarang. Yang justru aman
   dari krisis tidak lain adalah Taiwan, yang terkenal dengan sebutan the
   community-based economy, dan Singapura yang strukturnya lebih banyak
   diisi oleh perusahaan-perusahaan di tingkat menengah.
   
   Saya sendiri tentu tidak mengerti apakah konglomerasi macam kelompok
   Liem yang bisa diandalkan dengan monopoli atas industri terigu, minyak
   goreng, sebagian semen, dan lainnya, serta banyak menguasai
   tanah-tanah di Jawa dan luar Pulau Jawa. Atau apakah konglomerasi
   seperti Eka Tjipta Widjaja yang juga berperan dalam monopoli minyak
   goreng dan beragam bisnis lainnya, yang menghilangkan peluang usaha
   rakyat. Banyak konglomerasi yang ada sekarang dengan sendirinya akan
   menyusut setelah Undang-Undang Antimonopoli diberlakukan dan
   restrukturisasi di dalamnya akan terus dilakukan, dengan terpaksa
   harus merampingkan diri.
   
   Jadi, kritik terhadap konglomerasi sekarang tidak sebagai pernyataan
   anti-besar karena memang perlu ada usaha-usaha yang perlu dilaksanakan
   dengan skala besar. Namun, konglomerasi yang mengintegrasikan industri
   kapal, mobil, sampai celana dalam seperti chaebol di Korea Selatan,
   ternyata terbukti tidak sehat baik secara ekonomi maupun politik. Di
   Taiwan dan Singapura terdapat perusahaan besar tetapi tidak bersifat
   konglomerasi yang mengintegrasikan semua peluang usaha ekonomi.
   Perusahaan-perusahaan itu berada di jalur core business-nya
   masing-masing--seperti perusahaan komputer Acer di Taiwan atau Telecom
   Singapura--tidak meraup segenap peluang usaha tanpa pertimbangan bahwa
   usahanya memblokade peluang pasar pelaku lainnya.
   
   Dengan demikian, persaingan usaha tetap berjalan dengan baik dengan
   pelaku-pelaku di tingkat menengah yang kuat dan besar jumlahnya.
   Perusahaan besar tetap hidup tetapi bukan konglomerasi karena
   kecenderungan konglomerasi adalah menghilangkan banyak peluang pelaku
   lainnya.
   
   Jadi, rasanya sulit diterima akal jika pola konglomerasi yang ada
   sekarang akan diteruskan (dengan catatan: tetapi dikontrol). Yang
   lebih masuk akal adalah membangun perusahaan-perusahaan menengah yang
   lebih tangguh, dan sumber-sumber ekonomi dapat dimanfaatkan oleh
   pelaku-pelaku di tingkat menengah ini. Sementara itu, pelaku-pelaku
   besar di BUMN dan swasta tidak bersifat konglomerasi tetapi terfokus
   pada bisnis inti yang sehat.
   
   Apakah pengusaha menengah siap? Inilah pertanyaan yang sulit dijawab.
   Dalam tradisi kewirausahaan tradisional komunitas pesantren di Jawa,
   etnis Padang dan kelompok nonpribumi sendiri sebenarnya potensial
   menjadi pelaku utama dalam sistem ekonomi yang berbasis pada rakyat.
   Hanya saja sumber-sumber ekonomi perlu dibuka aksesnya lebih luas lagi
   terhadap kelompok ini. Namun, sumber kelompok menengah ini bisa
   berasal dari usaha kecil lapisan atas yang telah berkembang dinamis
   dan telah memanfaatkan teknologi serta manajemen yang baik.
   
   Jadi, sebenarnya tidak perlu pesimistis terhadap keruntuhan
   konglomerat sekarang. Justru gerak bisnisnya perlu dirampingkan dan
   terpusat pada usaha inti sehingga tidak menampakkan wajah konglomerat
   lagi. Peran-peran lainnya akan diisi oleh pengusaha kecil dan
   menengah. Namun, proses ini memang memerlukan waktu karena
   kewirausahaan bukan sulap ala David Copperfield.
   
   Sementara itu, koperasi bisa menjadi mitra pelaku-pelaku tingkat
   menengah atau bahkan mengisi sendiri lapisan di tingkat menengah itu.
   Namun, reformasi internal secara konseptual dan substansial koperasi
   itu sendiri perlu terus dilakukan dengan saksama.
   
   Peran BUMN menjadi sangat vital karena potensi asetnya sangat besar.
   Hanya saja sebagian daripadanya masih tidak menunjukkan kinerja yang
   optimal sehingga menjadi beban negara. Sebagian lainnya justru
   berperan penting dalam masa krisis ini karena efek booming krisis itu
   telah menghasilkan dolar yang banyak (ekspor). Padahal biayanya
   dikeluarkan dalam bentuk rupiah.
   
   Itulah kira-kira bentuk yang penting untuk menjadi desain struktur
   ekonomi di masa mendatang. Bukan kembali kepada konglomerasi. Desain
   ulang struktur tidak juga anti-besar karena yang besar mempunyai peran
   khusus. Namun, pelaku yang besar tidak dominan seperti sekarang dengan
   struktur di lapisan tengahnya keropos, sementara pelaku yang marjinal
   tertinggal di landasan.
   
   
   DIDIK J. RACHBINI ADALAH PENGAMAT EKONOMI DARI INDEF (INSTITUTE FOR
   DEVELOPMENT OF ECONOMICS & FINANCE)
   
   

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----