[INDONESIA-L] Berita Aksi 'Hari Per

From: apakabar@Radix.Net
Date: Fri Mar 12 1999 - 13:38:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Fri Mar 12 17:34:54 1999
Date: Fri, 12 Mar 1999 15:33:03 -0700 (MST)
Message-Id: <199903122233.PAA28149@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] Berita Aksi 'Hari Perempuan Sedunia' 8 Maret 1999
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

Date: Fri, 12 Mar 1999 13:19:56 +0700
From: SM FISIP UI <romeo@kirti.cso.ui.ac.id>
Organization: Universitas Indonesia
To: kuli-tinta@indoglobal.com

Berita Aksi "Hari Perempuan Sedunia" 8 Maret 1999

Aksi memperingati Hari Perempuan Sedunia (IWD-International Women's Day)
dimulai dari Posko KBUI di Kampus Salemba. Jam tiga petang, sebanyak 4
bis melakukan konvoi menyusuri kota Jakarta: Jl.
Proklamasi-Manggarai-Guntur-Tanah Abang. Dari atas bis para peserta aksi
meneriakkan yel-yel: "Rakyat Bersatu Cabut Dwi Fungsi ABRI, Perempuan
Bersatu Hentikan Kekerasan." Rakyat sepanjang jalan menyambut dengan
kepalan tangan dan acungan jempol.

Aksi ini tergabung dalam Gabungan Aksi Perempuan (GAP) yang dilaksanakan
oleh Forum Komunikasi dan Aksi Perempuan (FORKAP) bekerjasama dengan
beberapa organ antara lain : Aliansi Pelajar Indonesia (API), Komite
Pelajar (Kopel), Forum Independen untuk Reformasi (Fire), Pelajar Peduli
Rakyat (Pelira), Komite Buruh untuk Aksi Reformasi (Kobar), Keluarga Besar
Universitas Indonesia (KBUI), Ikatan Perempuan Forkot (IPF).

Sempat terjadi provokasi ketika konvoi melewati Tanah Abang. Seorang yang
tak dikenal mengejar bis paling belakang sambil mengacungkan golok. Para
peserta aksi yang ada di bis tersebut sempat turun ke jalan untuk
melakukan pembalasan. Namun kawan-kawannya berhasil menahan mereka agar
tidak terpancing (terprovokasi). Sedangkan beberapa kawan lainnya
langsung memberi pengertian kepada rakyat sekitar. Merekapun mengerti dan
turut membantu agar rakyat sekitar tidak terpancing. Dalam waktu singkat
situasi dapat diatasi kembali, para peserta aksi kemudian melanjutkan
perjalanannya kembali.

Setiba di pertigaan Jl. Tanah Abang III dan Abdul Muis, peserta aksi turun
dari bis untuk melakukan rally (aksi dengan berjalan kaki) menuju
Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam). Namun sekitar dua truk
ABRI datang dan aparat PHH (Pasukan Huru-Hara) langsung turun dan
memblokade jalan. Para peserta aksi tetap bertahan di tempat dan
mengadakan mimbar bebas. Salah seorang peserta aksi melakukan orasi
tentang kekerasan militer (ABRI) terhadap kaum perempuan Indonesia. "Tiga
Daerah Operasi Militer (DOM): Aceh, Timor-Timur, Irian Jaya adalah bukti
dari kekejaman ABRI, banyak perempuan yang menjadi janda dan kehilangan
anaknya karena dibunuh dan bahkan tidak tahu dimana keberadaan anaknya
karena diculik aparat ABRI. Kekerasan militer juga terjadi di
pabrik-pabrik dengan adanya penembakan aparat ABRI terhadap buruh-buruh,"
kata seorang perempuan dengan lantang.

Dari arah belakang,aparat PHH sebanyak 3 truk mulai maju untuk menjepit
barisan aksi. Barisan aksi merapatkan diri dan tidak melakukan
perlawanan. "Aksi kita hari ini adalah aksi damai, jangan terprovokasi
oleh aparat," teriak Korlap peserta aksi. Para anggota Polwan langsung
mengelilingi barisan aksi dan seorang komandan mereka mengatakan bahwa
seluruh peserta aksi ditahan karena tidak meminta izin untuk melakukan
unjuk rasa. Kemudian memerintahkan peserta aksi untuk naik ke atas truk
ABRI. Ketika menaiki truk, aparat PHH melakukan pelecehan seksual dengan
memegang bokong beberapa peserta aksi yang perempuan.

Jam 17.00 rombongan sebanyak 4 truk sampai di Polda , peserta aksi
dikumpulkan di lapangan luas dengan memisahkan antara pelajar dan
mahasiswa. Spanduk dan bendera disita tanpa alasan yang jelas. Tas-tas
diperiksa dan selebaran aksi turut disita. Disini terjadi pula pelecehan
secara verbal dimana salah seorang aparat (yang bernama G Morris)
mengatakan bahwa peserta aksi adalah perempuan-perempuan malam yang dapat
dia temui di jalan Djuanda pada malam hari. Mereka tidak diizinkan untuk
sholat maghrib dan isya di mesjid yang hanya berjarak 100 meter. Dua jam
kemudian kelompok mahasiswa dimasukkan ke dalam penjara. Sementara
kelompok pelajar tidak diketahui keberadaannya. Kelompok mahasiswa
ditempatkan di lapangan rumput yang ada di dalam penjara dan teras gedung.
Walaupun di penjara mereka tetap bersemangat tinggi dengan tetap
menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan orasi secara kontinyu. Mereka juga
bercakap-cakap dengan para tahanan lain. Para tahanan yang ada disana
sangat bersikap simpatik dengan para peserta aksi dengan mengadakan
diskusi tentang berbagai hal. Jam 23.30-01.00 mereka dimintai keterangan
atas tuduhan melanggar UU No.9/1998 karena tidak meminta izin untuk
melakukan unjuk rasa. Kemudian mereka dimasukkan kembali ke dalam
penjara. Ternyata di dalam sudah ada 99 mahasiswa yang tergabung dalam
Famred karena juga melakukan aksi perempuan di depan Gedung PBB
(Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Pagi harinya (Selasa, 9 Maret) kelompok pelajar berteriak dari atap gedung
(lantai 7) yang berada tepat di atas lapangan penjara. Mereka mengatakan
bahwa mereka belum makan dari malam. Sekitar jam delapan pagi seorang
pelajar dengan seorang Polisi berpakaian kemeja masuk ke dalam penjara dan
menyuruh pelajar tersebut untuk menunjukkan seseorang. Salah seorang dari
GAP ditunjuk dan keluar penjara bersama mereka. Kemudian seorang polisi
masuk dan memanggil 3 orang dengan membacakan nama mereka dari 3 helai
kertas. Tiga orang tersebut ternyata dari GAP dan mereka langsung dibawa
keluar. Tak lama berselang, kepala-kepala para pelajar tersebut muncul
lagi dari atas, mereka mengatakan bahwa 2 orang kawan mereka disogok oleh
seorang polisi (setelah dicek kemudian ternyata bernama Kadit Serse Alex
Bambang Riatmojo) masing-masing sebesar Rp. 50.000 untuk mengatakan siapa
yang mengajak mereka ikut aksi. Sepanjang hari komunikasi dilakukan
dengan berteriak-teriak. Sekitar jam 12.00 para pelajar hanya diberi
makan roti. Mahasiswa yang memberitahu kepada polisi tetap mendapatkan
jawaban yang sama bahwa mereka sudah diberi makan.

Jam satu siang, mahasiswa Famred dinaikkan ke atas truk polisi untuk
disidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Mahasiswa GAP yang ada
di dalam penjara belum juga diberi makan. Tak lama kemudian ketiga orang
yang dipanggil bersamaan kembali bergabung dengan kawan-kawannya, namun
sampai saat itu seorang kawan mereka belum kembali. Ternyata ketiga orang
itu diinterogasi sebagai saksi tanpa terdakwa yang jelas dan mereka
disuruh baris di depan para pelajar, tapi tidak ada seorang pelajarpun
yang menunjuk mereka.

Kemudian peserta aksi GAP yang di penjara membuat pernyataan sikap yang
diserahkan kepada komandan Polda bahwa mereka tidak akan keluar dari
penjara sebelum seluruh peserta aksi GAP dibebaskan. Sebanyak 93 orang
menandatangani pernyataan sikap tersebut. Mereka pun menyampaikan kepada
pos penjagaan yang ada di dalam gedung dan memberi waktu satu jam untuk
memberikan jawaban. Mereka kemudian bertahan di dalam gedung dan
melanjutkan dengan orasi dan menyanyi lagu-lagu perjuangan. "Penjara
tidak membuat kami takut untuk terus berjuang!" kata seorang mahasiswa.

Satu jam berselang tidak ada jawaban dari polisi. "Revolusi, revolusi
sampai mati," teriak seluruh peserta aksi GAP yang ada di dalam penjara.
Suasana dalam penjara pun menjadi gaduh karena mereka melompat-lompat
disertai dengan suara bangku, dan dinding triplek yang dipukul-pukul.
Peserta aksi kemudian tenang kembali. Seorang pengacara LBH masuk dan
berbincang-bincang kepada seluruh peserta aksi GAP. Kemudian seorang
polisi berkemeja masuk dan meminta mereka untuk berbaris (apel) di
lapangan untuk dicek jumlahnya. Namun permintaan tersebut ditolak karena
tidak beralasan. Seorang kawan mereka langsung maju dan membacakan berita
dari pelajar yang ditulis dalam sehelai kertas yang dilempar dari atas.
Surat itu berisi bahwa kawan-kawan pelajar meminta maaf kepada kakak-kakak
karena mereka dipaksa untuk memberikan nama kakak-kakak kepada polisi dan
mereka diancam tidak akan dilepaskan dari penjara apabila mereka tetap
tutup mulut.

Jam 15.00 keenam pengamen dibawa ke Depsos kemudian seluruh pelajar
dibebaskan kecuali seorang pelajar SMP 78 bernama Imam. Ia dimasukkan ke
ruang sebelah yang dibatasi oleh kaca transparan sehingga kawan-kawannya
melihat ia ditelanjangi seorang polisi (bernama Pak Hapsoro-nama panggilan
beberapa petugas Polwan). Ia dituduh membagikan selebaran GAP ke rakyat
karena di dalam tasnya ditemukan selebaran tersebut. Ketika ditelanjangi
ia difoto sambil mengalungi ikat pinggang yang berkepala gir.

Sekitar jam 16.00, seorang kawan mereka bergabung kembali setelah
diinterogasi selama 8 jam. Setelah mendapat kepastian bahwa para pelajar
dan 6 pengamen dibebaskan, akhirnya peserta aksi GAP bersedia dibawa ke PN
Jakpus. Ketika satu per satu keluar dan naik ke atas truk, mereka
disambut kawan-kawannya di luar dengan lagu Darah Juang. Mereka dinaikkan
ke dalam 3 truk polisi. Sepanjang perjalanan, mereka tetap bernyanyi dan
meneriakkan yel-yel "Rakyat Bersatu Cabut Dwi Fungsi ABRI". Sampai di PN
Jakpus mereka langsung diantar ke LBH karena sudah tutup. Sampai di sana
mereka melakukan mimbar bebas dan beristirahat. Setelah itu mereka
pulang.

Namun Perjuangan belum selesai ! Berbagai macam tekanan dan pelecehan yang
dilakukan oleh aparat dalam Aksi Perempuan tersebut akan ditindaklanjuti
dan dituntut melalui proses hukum ke pengadilan.Mereka ditangkap dan
ditahan tanpa surat dan penjelasan. Ditambah lagi dengan perlakuan
sewenang-wenang dari aparat. Seluruh peserta aksi telah siap untuk
menghadapi tantangan dalam bentuk apapun.

GAP (Gabungan Aksi Perempuan)

============ SM FISIP - UI ================

Senat Mahasiswa FISIP-UI
Gedung D Lantai 1
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Kampus Baru UI Depok, 16424
Telp : (021) 78886455
Fax : (021) 7872193
e-mail Senat : smfisipui@merahputih.net
e-mail Humas : romeo@kirti.cso.ui.ac.id

============ SM FISIP - UI ================