Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Mon Feb 22 09:50:00 1999
Date: Mon, 22 Feb 1999 07:49:46 -0700 (MST)
Message-Id: <199902221449.HAA04609@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] Re - Saran untuk Para Cina
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
From: "kasnoto tahanuji" <kasno_ji98@hotmail.com>
To: apakabar@saltmine.radix.net
Subject: Re .Yellow Ribbon - Saran Untuk Para Cina
Date: Mon, 22 Feb 1999 03:05:31 PST
Saya menjadi tertarik untuk mengomentari tulisan sdr. Yellow Ribbon,
terutama mengenai anjurannya agar suku Tionghoa mau berpikir dengan
bijaksana yaitu dengan mempertimbangkan 10 ( sepuluh ) point yang
diusulkan oleh sdr. YR ( kalau disingkat kok jadinya mirip dengan
initial sang Provokator Ciganjur, maaf sedikit intermezzo ).
Saya sendiri sebagai salah satu dari suku Tionghoa merasa terharu,
karena ternyata ada saudara-saudara kita yang " Pri " masih mempunyai
perhatian terhadap kaum Tionghoa, yaitu dengan memberi kritik dan saran
yang tentunya harus kita renungkan bersama dan mengambil hikmahnya.
Menurut saya anjuran yang bijaksana harusnya disertai dengan contoh
perkataan atau perbuatan yang bijaksana pula, hanya sayangnya saya
melihat sdr.YR " kelupaan " memberikan contoh bagaimana seharusnya
seseorang yang bijaksana itu.
" Kampung China " atau " China Town " memang tersebar dimana mana
hampir diseluruh pelosok dunia, itu dikarenakan penduduk China
populasinya adalah terbesar di dunia dan disaat Perang Dunia ke II
mengalami peperangan yang paling biadab dan dijajah oleh Jepang
habis-habisan, sehingga banyak warganya yang kabur kehampir seluruh
pelosok dunia tadi.
Anda menyebutkan mereka membentuk kelompok atau komunitas yang "
Eksklusif " , menurut saya begini, hampir semua kelompok " minoritas "
itu mempunyai ciri dan karakter yang demikian, karena kaum minoritas
itu selalu akan merasa dipojokan dan mereka akan terasa lebih aman bila
mereka hidup berdempetan, maka akhirnya terbentuklah perkampungan2
kecil yang akhirnya berkembang sesuai kehendak jaman, lihatlah di Chow
Kit - Kuala Lumpur, Malaysia, saya menemukan komunitas besar yang
tadinya berasal dari Imigran Tenaga Kerja Indonesia yang mayoritasnya
dari suku Madura, orang2 yang sensitiv pencinta kebersihan dan
keindahan semacam anda tentu juga akan mengomel panjang lebar seperti
jika anda melewati Chinatown nya NY.
Mengenai ornamen dan bau, menurut saya ini sudah sangat privacy sekali,
saya sudah terbiasa dengan bebauan khas pasar seperti yang saya jumpai
di Chow Kit, tetapi tidak demikian dengan beberapa warga disana, jadi
amatlah tidak bijak jika kesemuanya itu di kait-kaitkan dengan
eksklusifistik segala.
Marilah kita bersama-sama membahas saran-saran anda agar kita bisa hidup
berdampingan dan harmoni di negeri tercinta Indonesia ini bersama para "
Keturunan Pribumi ( Gus Dur mengaku begitu) " :
1. Hilangkan kesan adanya " China Town " di setiap kota,
Saya sih setuju saja, malah bukan China saja yang harus di
hilangkan, tetapi yang berbau suku yang lain, seperti kampung Jawa,
arab, kampung Madura, Ambon , Banjar, Batak dll, apakah mungkin?,
kenapa kita tidak membiarkan dan melestarikan, asal kerukunan dan
sikap2 toleransi diterapkan dengan tulus dan benar ?
2. Saya setuju bila kita harus membaur dan membuat rumah didaerah
banyak " Pribumi " tinggal, tetapi contohnya didaerah Podok Indah
Jakarta, disana benar-benar telah membaur antara rumah Tionghoa dan
Pribumi, tetapi tetap saja rumahnya besar-besar, megah dan indah dan
berkesan sangat eklusif, nah yang jelas adalah , jurang perbedaan
antara yang kaya dan si miskin itu terlalu parah di Indonesia, ini yang
harus diperjuangkan untuk di rubah, dan ini tidak melihat apakah yang
kaya itu Tionghoa ataupun Pribumi, seseorang yang mempunyai kekayaan
dan setatus tentunya tidak akan mau untuk tinggal atau beli rumah di
perkampungan yang kumuh hanya untuk membuktikan kalau dirinya itu mau
menghormati si miskin.
3. Tidak perlu makan daging Babi bila anda tinggal di pemukiman
Pribumi...?
Wah, kalau ini sudah menyimpang dari Rel etika bersosial dan
bermasyarakat. Urusan agama adalah sangat sakral dan pribadi sekali,
pemeluk ajaran agama yang baik dan bijak adalah orang yang mau saling
menghargai dan menghormati ajaran agama lain, apakah dengan makan
daging babi terus seluruh kampung tercemar dan mengganggu ? ( rupanya
sdr YR ini amat sensitiv sekali hidungnya, tapi ini karunia Tuhan yang
harus digunakan untuk kebaikan lho, ), Sekali lagi ini menyangkut hal
toleransi.
contohnya, saya tetap memberikan waktu kepada staf saya untuk bersolat
meskipun masih dalam jam kerja, coba anda rasakan bila anda bekerja di
negara barat, apakah ada hal toleransi semacam itu ?
4. Saya setuju 100 % kalau anjuran ini, saya banyak menemui juga
beberapa contoh yaitu warga Tionghoa yang mengambil anak asuh warga
Pribumi, hanya memang hal2 serupa jarang di ekspos karena biasanya
hal-hal seperti itu jarang ada yang mau di tonjolkan.
Seperti halnya dalam pembangunan mesjid, banyak sudah saudara-saudara
kita yang Tionghoa yang ikut berpartisipasi, tetapi mereka tidak mau
menonjolkan sedikitpun, karena suatu keiklasan itu bagi saya cukup
Tuhan yang tahu.
5. Yang ini saya juga 100 % setuju, mencari keuntungan dengan serakah
itu memang prilaku manusia yang tidak ber " Iman ", Tuhan hanya akan
memberikan rejeki kepada manusia itu sebatas telapak tangan kita di
tengadahkan, lebih dari itu akan ditarik kembali, seperti yang
sekarang di alami oleh pelaku-pelaku Rezim Orba beserta kacung
kampretnya yang sebagian adalah keturunan Tionghoa, jadi anjuran anda
ini bukan hanya untuk suku Tionghoa saja, seharusnya untuk general,
jangan sampai timbul kesan Tionghoa dilarang tapi kalau pribumi boleh,
kan repot…
6. Jangan mau menjadi " kasir " para pejabat tinggi, wah ini lagi-lagi
betul 100 % ! tetapi, kalau kasirnya saja dipecat tetapi Boss-Bossnya
atau penadahnya didiamkan saja, jangan-jangan dia akan mencari "
kasir-kasir " baru dari suku Arab atau Jawa !
Semestinya kalau mau dibasmi ya jangan setengah-setengah, yaitu
hapuslah pemerintahan dan para pejabatnya yang korup ! dan laksanakan
hukum dengan benar, bukan bisa dibeli dengan uang.
7. Membagi ilmu bisnis, saya juga setuju 100 %, saya masih ingat
dulu ada kiat- kiat bisnis model Ali-Baba, yaitu Ali didepan dan Baba
dibelakangnya, tetapi kemudian berkembang terbalik menjadi Baba _Ali,
yaitu Baba model Prayogo Pangestu dan Eddy Tanzil didepan,
dibelakangnya ada Ali model Tutut dan Tommy, yang sekarang lain lagi,
ekonomi kerakyatan di populerkan, tetapi ya tetap saja yang menikmati
ya kroni2 sang Pelopor sebagai Babanya dan koperasi2 sebagai Alinya,
jadi yang betul mestinya berilah kesempatan yang sama buat berusaha,
buatlah aturan2 yang berimbang dan dilaksanakan seperti tetangga kita si
“ Jiran “ itu, nistaya akan berhasil.
8. Hidup bersosial itu memang harus, bukan hanya sosial saja, tetapi
harus mempunyai rasa keterpedulian yang tinggi, ini yang menurut saya
belum dihayati oleh kebanyakan dari suku Tionghoa.
9. Jangan mau diperalat oleh pejabat untuk mendapatkan proyek, kembali
lagi seperti yang saya ulas di point 6 & 7, yang harus di berantas
adalah pejabat-pejabat yang bermental bobrok dan bermoral bejat, nah
ini baru berhasil jika Rakyat yang " Berdaulat " menciptakan
pemerintahan yang bersih, adil, dan berwibawa.
10. Sekolahkan anak Tionghoa di sekolah negeri, ini memangnya
seharusnya begitu, tetapi pemerintah sendiri yang mempersulit dan
membuat aturan2 yang diskriminatif, contohnya dibatasinya penerimaan
mahasiswa suku Tionghoa di UMPTN yang hanya 2 %, serta ketakutan
akibat perlakuan diskriminasi terhadap anak2 suku Tionghoa yang
dialaminya ketika sekolah di sekolah negeri, hal-hal semacam ini yang
harus ditata kembali, tentunya setelah pemerintahan yang adil dan
bersih dibentuk.
Saya yakin, kalau 10 unsur diatas di baca rame-rame dan di ikuti oleh
segenap komponen bangsa di negeri ini, percayalah, tidak akan ada lagi
masalah2 rasial antara berbagai kelompok bangsa.
Kalau anda merasa berat mengikuti hal-hal diatas, lebih baik cepatlah
berdoa kepada Tuhan YME, semoga pikiran dan hati bisa dibersihkan dari
pengaruh-pengaruh ilmu hitam dan sesat yang nantinya akan merugikan
negara dan bangsa Indonesia yang tercinta.
salam,
Kasno Tanuji