Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Wed Feb 10 21:13:23 1999
Date: Wed, 10 Feb 1999 19:12:55 -0700 (MST)
Message-Id: <199902110212.TAA26267@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] DETIK - Profil Romo Mangunwijaya
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
X-URL: http://www.detik.com/berita/199902/990210-1843.html
Rabu, 10 Februari 1999 [Peta Situs..]
Profil Romo Mangunwijaya
detikcom, Jakarta - Wong Cilik Indonesia hari ini berduka. Seorang
tokoh yang selama ini selalu konsisten membela nasib mereka
meninggal dunia. Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya hari ini, Rabu
(10/02/1999) pukul 14.15 WIB meninggal dunia.
Romo Mangun lahir di Ambarawa, Jawa Tengah, pada 6 Mei 1929. Mangun
menamatkan Sekolah Rakyat di Magelang pada tahun 1943. Setelah
menamatkan Sekolah Rakyat, Mangun meneruskan ke Yogyakarta dan
menamatkan SMP pada tahun 1947. Berpindah-pindah kota sepertinya
sudah menjadi kebiasaan untuk Mangun. Setelah menamatkan SMP,
Mangun pindah ke Malang dan menamatkan SMA di kota itu pada tahun
1951. Setelah itu, Mangun kembali ke Yogyakarta dan menempuh
pendidikan di Sekolah Filsafat Teologi Sandi Pauli pada tahun 1959.
Romo Mangun merupakan anak tertua dari mantan ketua DPRD Magelang
pada masa revolusi fisik. Mungkin darah wakil rakyat dari ayahnya
inilah yang menyebabkan Romo Mangun mempunyai "hobby" membela
rakyat kecil.
Keberanian Mangun mulai terlihat ketika dia bergabung dengan
Tentara Pelajar pada masa perang kemerdekaan itu. Sebagai anak
tertua dari 12 bersaudara, Mangun dituntut untuk memiliki rasa
tanggung jawab yang besar.
Keberanian Romo Mangun membela rakyat kecil tampak menonjol ketika
memperjuangkan nasib rakyat yang menjadi korban pembangunan waduk
Kedungombo. Walaupun beberapa pihak saat itu menuduh Romo Mangun
memanfaatkan kasus Kedungombo untuk kepentingan penyebaran agama
Katolik, namun Romo Mangun tetap konsisten dengan perjuangannya.
Warga Kedungombo yang mayoritas beragama Islam dibelanya
mati-matian.
Romo Mangun memang dekat dengan semua golongan agama. Perbedaan
agama baginya bukan suatu persoalan yang besar. "Bagi saya yang
nomor satu bukan agama, melainkan iman dan takwa. Banyak orang yang
beragama tapi tidak beriman," ungkap Romo Mangun dalam berbagai
kesempatan.
Kedekatannya dengan agama lain juga terlihat pada keikutsertaannya
sebagai wakil Indonesia pada Dewan Agama sedunia. Romo Mangun duduk
di dewan ini bersama dengan ketua PBNU, K.H. Abdurrahman Wahid.
Romo Mangun secara pribadi juga dekat dengan Gus Dur. Keduanya
dianggap sebagai tokoh-tokoh agama yang tetap menonjolkan
nasionalisme.
Keputusan Romo Mangun untuk menjadi pastor didukung penuh oleh
keluarganya. Kalau toh akhirnya Romo Mangun mengenyam pendidikan
Arsitektur di Auchen, Jerman, hal itu semata karena tugas yang
diamanatkan oleh gereja. Mangun menyelesaikan studi di Jerman pada
tahun 1966. Namun Romo Mangun tidak main-main di bidang tersebut.
Aga Khan Award yang merupakan penghargaan tertinggi di bidang
Arsitektur diraihnya untuk konsep penataan lingkungan di Kali Code,
Yogyakarta. Pendidikan di bidang Humanistic Studies yang
diselesaikan Mangun pada tahun 1978 di Colorado nampaknya makin
membuat Mangun menjadi seorang Humanis. Konsep penataan lingkungan
ini merupakan proyek peremajaan lingkungan kumuh yang sangat
manusiawi.
Romo Mangun tidak hanya membuat konsep tersebut. Rumah Mangun juga
didirikan di lingkungan tersebut, di samping kediaman para pemulung
sampah, tukang becak, anak-anak penyemir sepatu dan 'wong cilik'
lainnya. Rumah panggung yang berdinding gedhek ini tidak pernah
sepi dari pengunjung.
Romo Mangun merupakan penulis yang cukup produktif. Tak terhitung
jumlah tulisannya yang diterbitkan oleh harian Kompas dan Indonesia
Raya. Burung-Burung Manyar dan Roro Mendut adalah dua dari beberapa
novelnya yang menjadi best seller saat diterbitkan.