[INDONESIA-L] FORUM - Yang Roboh di

From: apakabar@Radix.Net
Date: Wed Jan 20 1999 - 15:46:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Wed Jan 20 19:39:03 1999
Date: Wed, 20 Jan 1999 17:39:20 -0700 (MST)
Message-Id: <199901210039.RAA04116@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] FORUM - Yang Roboh di Tanah Rencong
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

X-URL: http://www.forum.co.id/EDISI/21071999/forum_9.html

      Mon, 11 Jan 1999 03:03:17 GMT
      
   YANG ROBOH DI TANAH RENCONG
   
   SRI RAHARTI DAN ARIF RUSLI (ACEH)
     _________________________________________________________________
   
   SEJAK GAM BERAKSI DAN OPERASI JARING MERAH DIGELAR ABRI, RIBUAN ORANG
   TEWAS DI TANAH ACEH. RATUSAN KASUS PEMERKOSAAN TERJADI. SEMENTARA,
   TERDAPAT PERBEDAAN DATA ANTARA PENGUMUMAN RESMI PIHAK ABRI DAN PIHAK
   LAINNYA IHWAL JUMLAH KORBAN.
   
   Pekan silam, darah mengalir dalam bentrokan terbesar di Aceh semenjak
   status Daerah Operasi Militer (DOM) dicabut pada 7 Agustus 1998. Belum
   pasti benar jumlah korban dalam kontak bersenjata aparat keamanan
   versus kelompok yang diduga Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu. Kolonel
   Johnny Wahab, Komandan Korem 011/ Lilawangsa, mengatakan bahwa korban
   tewas 9 orang dan 17 luka. Beberapa di antaranya adalah wanita dan
   anak-anak. Selain itu, kata Johnny, tak semuanya akibat senjata
   tentara. "Tiga ditembak mereka sendiri. Saya punya buktinya," katanya.
   
   Harian International Herald Tribune memiliki angka berbeda. Korban
   yang tewas 15 orang dan lebih dari 42 cedera. Angka ini boleh jadi
   paling dekat dengan kenyataan. Sebab, menurut beberapa saksi mata,
   banyak korban tewas yang langsung dikuburkan keluarganya tanpa sempat
   diidentifikasi aparat keamanan.
   
   Peristiwa terakhir ini menunjukkan bahwa pencabutan status DOM
   ternyata tidak menjadi akhir mimpi buruk rakyat Aceh. Pergolakan demi
   pergolakan silih-berganti. Setelah gerakan DII/TII bisa diredam pada
   1962, giliran Gerakan Aceh Merdeka yang membuat tanah Serambi Mekah
   ini tetap membara.
   
   Dalam aksi GAM pada 1973, jatuh korban pertama dalam perseteruan
   panjangnya dengan tentara pemerintah RI: seorang warga negara Amerika
   Serikat bernama George Pernicone. Ia tewas tertembak di ladang gas
   alam Arun, Aceh Utara. Pasukan RPKAD (kini Kopassus) pun diterjunkan
   di pusat-pusat GAM dan membuat gerakan ini kocar kacir. Hasan kabur ke
   Malaysia.
   
   Setelah beberapa waktu tiarap, GAM unjuk gigi lagi dengan taktik
   gerilya: hit-and-run (serang, lalu lari). Puncaknya, pada 1989,
   kelompok ini malang-melintang merampas senjata anggota ABRI. Korban
   dari militer mulai berjatuhan. Komandan Rayon Militer Tiro, Letnan
   Satu Zakaria, dan seorang anak buahnya tewas diberondong peluru.
   
   Pada Mei-Juni 1990, GAM menebar teror. Mereka tidak saja menyerang
   posko bakti ABRI atau kantor polisi, tapi juga menyerang rakyat biasa.
   Terutama warga transmigran asal Jawa.
   
   Memanasnya situasi Aceh waktu itu mendorong Gubernur Ibrahim Hasan
   meminta bantuan pasukan keamanan. Pasukan ABRI--terutama Kopassus--pun
   diterjunkan ke Aceh dan menggelar operasi yang diberi nama manis,
   Operasi Jaring Merah, di tiga sentra GAM: Aceh Utara, Aceh Timur, dan
   Pidie.
   
   Inilah awal mimpi buruk rakyat Aceh yang baru terungkap sembilan tahun
   kemudian, saat sejumlah ladang pembantaian (killing field) ditemukan
   di Aceh Utara dan janda-janda mengadukan nasibnya ke Komnas HAM.
   
   Berapa angka pasti korban DOM Aceh, lagi-lagi tak jelas. Amnesti
   Internasional mencatat, dari 1989 hingga 1992, dua ribu warga sipil
   dan pendukung GAM dibunuh, ribuan lainnya ditangkap. Sementara itu,
   Forum Peduli Hak Asasi Manusia (FPHAM) Aceh mencatat 1.321 orang
   tewas, 1.958 orang hilang, dan 3.430 orang disiksa. Sebuah angka yang
   luar biasa, memang, mengingat anggota GAM diperkirakan hanya sekitar
   200 orang.
   
   Yang lebih mengenaskan, kaum wanita dan anak-anak pun jadi korban.
   FPHAM mencatat, selama DOM diberlakukan, terjadi 128 kasus pemerkosaan
   dan 81 kasus pelecehan seksual. Sementara itu, menurut mantan Danrem
   Lilawangsa, Kolonel Dasiri Musnas, sampai status DOM dicabut, tak
   kurang dari 60 anggota ABRI jadi korban GAM.
   
   Kendati sudah jelas terjadi pelanggaran HAM di sana, belum tampak
   langkah nyata pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini lewat jalur
   hukum. Penderitaan rakyat Aceh selama hampir 10 tahun itu tentu tak
   cukup terbayar dengan ucapan maaf dari Pangab Jenderal Wiranto dan
   Presiden Habibie. Maka, tak mengherankan bila kemudian rasa tueng
   balah (balas dendam) masih terus membara di dada rakyat Aceh. Termasuk
   balas dendam terhadap cuak (informan) yang selama ini digunakan aparat
   untuk mencari orang-orang yang disebut anggota GAM. "Rakyat Aceh saat
   ini dalam keadaan marah karena tidak ada follow up dari pasca DOM,"
   kata Ahmad Humam Hamid, Wakil Koordinator FPHAM. Jangankan proses
   pengadilan bagi pelanggar HAM, program rehabilitasi untuk menyembuhkan
   luka akibat DOM pun tak ada.
   
   Prof. Safwan Idris, Rektor IAIN Ar Raniri, Banda Aceh, melihat
   peristiwa terakhir juga termasuk letupan kekecewaan lantaran masalah
   DOM tidak ditanggulangi tuntas. Para janda dan anak-anaknya tidak
   disantuni pemerintah. Akibatnya, "Rakyat mudah terhasut," katanya.
   
   Untuk mencegah kerusuhan berulang, menurut Dr. Bachtiar Aly, pengamat
   politik dari FISIP UI, harus lewat pendekatan agamis dan kultural,
   dengan melihat sifat-sifat orang Aceh. "Kalau orang Aceh marah, jangan
   dihadapi dengan kekerasan juga," katanya.
     _________________________________________________________________
   
   Kembali Ke Index