[INDONESIA-L] Notonogoro: Sudah Tid

From: apakabar@Radix.Net
Date: Mon Dec 21 1998 - 13:39:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Mon Dec 21 17:38:04 1998
Date: Mon, 21 Dec 1998 15:37:59 -0700 (MST)
Message-Id: <199812212237.PAA17841@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] Notonogoro: Sudah Tidak Cocok Lagi?
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

From: HSUPANGKAT@aol.com
Date: Mon, 21 Dec 1998 17:29:10 EST
To: apakabar@saltmine.radix.net
Subject: NOTONOGORO: SUDAH TIDAK COCOK LAGI?

       NOTONOGORO: GUS DUR, AMIEN RAIS, SULTAN HAMENGKUBUWONO?

Kalau menurut basa Jawa Kawi NOTONOGORO itu berarti Aktor Negara,
maka kita terpaksa ingat kepada Gus Dur yang sejak semula main dagelan
politik yang kurang lucu: zigzag, politik Togog (sesudah mengatakan Suharto
"bodoh" mohon seribu ma'af seperti Togog}.

Mula mula merangkul Megawati, sesudah Mega digebug Suharto, lalu merang-
kul Tutut yang kemudian "berbulan madu" dengan jendral Hartono, musuh be-
buyutannya sehingga kembali Gus Dur mundur teratur dan menggandeng Mega
kembali.

Waktu kita berjuang mati matian untuk menggulingkan Suharto, Gus Dur
bungkam seribu bahasa, kemudian dapat stroke. Aksi mahasiswa yang
mendapat bantuan moral warga non-KKN dan golongan reformis akhirnya
berhasil menggulingkan Suharto.

Sesudah Suharto terguling dan economic crime, crime against humanity-
nya tidak bisa dituntut karena KUHP kolonial kita masih ketinggalan 782
dalam era pra-Magna Carta, semua pihak yang masih mempunyai hati-
nurani tetap mengutuk Suharto, tiba tiba Gus Dur "sowan" ke istana Cen-
dana dengan alasan mengadakan dialog.

Menurut Rahmat Witular, bekas Sekjen Golkar, Gus Dur bukan sowan, ma-
lah ia dalam keadaan "marah" memperingatkan Suharto supaya jangan macam
macam. Mengapa hal ini keluar dari mulut Rahmat, orang Golkar yang sudah
tobat, bukan dari mulut Gus Dur sendiri?

Gus Dur mengakui kembali kekuasaan de facto Suharto dan mau menga-
dakan dialog nasional mengikut sertakannya dengan para pemimpin lain-
nya yang mau digaetnya seperti Wiranto, Benny Moerdani, dll.
Presiden Habibie sendiri yang merupakan "protege" Suharto tidak mau
berdialog, sowan biasa katanya mau saja.

Semua pihak yang mempunyai hatinurani bersih seperti Amien Rais, bah-
kan jendral purnawirawan Ahmad Tirtosudiro sebagai pemimpin tertinggi
ICMI, menolak gagasan dialog nasional Gus Dur yang mengundang kem-
bali Suharto. Megawati dengan kewanitaan Jawanya, bungkam saja.

Memang harus diakui bahwa setelah berkuasa mutlak seperti Kaisar se-
lama 32 tahun, Suharto masih mempunyai kekuasaan politik de facto,
kekuasaan keuangan yang dahsyat dengan dana hasil pencolengannya
sampai US$ 43 milyar, namun kita tidak boleh silau oleh kesemuanya
itu karena justru diktatur militer fasisme a la Jepang dan KKN-nya itu-
lah yang kita tentang!

Maka manuver politik Gus Dur cukup membuktikan bahwa dia ini "aktor"
(NOTO) politik negara (NOGORO). Kalau mau dicocokkan memang
cocok betul dia akan menggantikan Suharto sebagai NOTONOGORO
karena Habibie hanya presiden transisi.

Dengan umat NU, dll., NU dan PKB ia bisa merebut suara mayoritas da-
lam pemilu yad yang kita sangsikan kejujuran dan keadilan UU-nya
dan pelaksanaannya.

Memang Gus Dur jauh dari tanah kelangit dengan Ronald Reagan. Jauh
juga dengan Presiden Filipina Estrada, tapi apa yang mau dikata kalau
dia memenangkan pemilu dengan 40 juta umatnya bantuan moral Suharto
dan sisa sisa pengikutnya dalam KKN yang menurut Sparingga berjumlah
20.000 orang itu?

Kalau bantuan moral Suharto bisa diperolehnya, maka tidak mustahil pula
ia akan dapat bantuan finansial di mana bekas presiden yang kejam dan sera-
kah seperti Czar Nikolas itu mempunyai dana yang berkelimpahan, US$ 40
milyar.

Namun NOTONOGORO sebagai Aktor Negara atau politikus (semua politikus
adalah aktor), Noto bisa juga diartikan nata, penataan. Penataan Negara =
political science atau political scientist. Walaupun ada puluhan ribu
political
scientist Indonesia, hanya ada satu yang sudah menjadi calon Presiden: Amien
Rais.

Walhasil ramalan Joyoboyo sudah tidak cocok diartikan secara harafiah (Sukar-
NO, SuharTO = NOTO) karena Presiden ketiga Baharuddin Jusuf Habibie tidak
bisa lagi dicocokkan dengan Nogoro.

Tafsiran kita Aktor Negara dan Penata Negara terasa terlalu dipaksakan untuk
dicocokan.

Dalam basa Sunda kuno, Natanagara berarti Rajanagara, semua orang bisa
jadi Rajanagara, kecuali Sultan Hamengku Buwono. Masalahnya Djojobojo
ditulis dalam basa Jawa Kawi bukan dalam basa Sunda kuno...............

Saya pribadi tidak percaya kepada ramalan ramalan, namun sebagai hiburan
boleh juga mengasyikinya sebagai intermezo utek yang sudah butek.

H.S. Hidayat Supangkat
New York.